Anda di halaman 1dari 27

Etika Profesi Kedokteran

Melisa Andriana / 102012170


Kelompok : B8
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Email : melisa.andriana@civitas.ukrida.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

I.

Identifikasi Istilah
Kalus
Jaringan penyambung tulang yang tidak teratur, terbentuk pada ujung-ujung tulang yang
patah, yang diabsorpsi setelah pemulihan sempurna, dan akhirnya diganti kan dengan tulang
asli.1

Gambar 1. Kalus 2

BAB II
ISI

II.1 Prinsip-prinsip Etika Kedokteran


Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu
sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian
baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang
cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah
teori deontologi dan teleologi. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa, Deontologi
mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya sendiri (I
Kant), sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat
hasilnya atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Milis). Deontologi lebih mendasarkan
kepada ajaran agama, tradisi, dan budaya sedangakan teleologi lebih ke arah penalaran
(reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian).3
Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan
etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) yakni:3

Beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke


kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbutan untuk kebaikan saja,
melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya.

Non-malaficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk


keadaan pasien.

Justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap
maupun dalam mendistribusikan sumber daya.

Autonomy, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak-hak
ototnomi pasien *the right to self determination).

Sedangkan

rules

derivatnya

adalah veracity (berbicara

benar,

jujur

dan

terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan


pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).3

Di dalam praktek, peran profesional kesehatan khususnya dokter dapat terbagi ke dalam 3
model penjaga gawang, yaitu peran tradisional, peran negative gatekeeper dan peran positive
gatekeeper.3
Dalam peran tradisionalnya, dokter memikul beban moral sebagai penjaga gawang
penyelenggaraan layanan kesehatan dan medis. Mereka harus menggunakan pengetahuan
mereka untuk berpraktek secara kompeten dan rasional ilmiah. Petunjuknya harus diagnostic
elegance (termasuk menggunakan cara yang memiliki tingkat ekonomi yang sesuai dalam
mendiagnosis) dan therapeutic parsinomy (memberikan terapi hanya yang secara nyata
bermanfaat dan efektif). Mereka harus mencegah adanya risiko yag tidak diperlukan kepada
pasien yang berasal dari terapi yang meragukan dan menjaga sumber daya finansial pasien.
Dalam peran negative gatekeeper, yaitu pada sistem kesehatan pra-bayar atau kapitasi, dokter
diharapkan untuk membatasi akses pasien ke layanan medis. Pada peran ini jelas terjadi
konflik moral pada dokter dengan tanggungjawab tradisionalnya dalam membela kepentingan
pasien (prinsip beneficence) dengan tanggungjawab barunya sebagai pengawal sumberdaya
masyarakat/komunitas. Meskipun demikian, peran negative gatekeeper ini secara moral
mungkin masih dapat dijustifikasi.
Tidak seperti peran negatif yang banyak dideskripsikan secara terbuka, peran positive
gatekeeper dokter sangat tertutup dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
Dalam peran ini dokter diberdayakan untuk menggunakan fasilitas medis dan jenis pelayanan
hi-tech demi kepentingan profit. Bagi mereka yang mampu membayar disediakan fasilitas
diagnostik dan terapi yang paling mahal dan mutakhir, layanan didasarkan kepada keinginan
pasar dan bukan kepada kebutuhan medis. Upaya meningkatkan demand atas layanan yang
sophisticated dijadikan tujuan yang impilisit, dan dokter menjadi salesmannya. Mereka
berbagi profit secara langsung apabila mereka pemilik atau investor layanan tersebut, atau
mereka memperoleh penghargaan berupa kenaikan honorarium atau tunjangan apabila
mereka hanya berstatus pegawai atau pelaksana.
Dalam hubungan antara dokter dan pasien sangat dipengaruhi oleh etika profesi kedokteran
yang di dalamnya tertuang prinsip-prinsip moral profesi, yaitu beneficence, autonomi, non
malaficence, dan justice yang disebut sebagi prinsip utama; dan veracity (kebenaran =
truthfull information), fidelity (kesetiaan), privacy, dan confidentiality (menjaga kerahasiaan)
sebagai prinsip keturunannya.4
3

Prinsip-prinsip etika profesi

Tanggung jawab
Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada

umumnya.
Keadilan untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
Otonomi menuntut agar setiap kaum profesional diberi kebebasan menjalankan
profesinya.5

Peranan etika dalam profesi


Suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan bersama
karena nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang saja,
tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu keluarga
sampai pada suatu bangsa.
Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan dalam
pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan sesama
anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat perhatian
karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi)
dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.
Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para
anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati
bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada
masyarakat profesi tersebut.6
Tujuan kode etik profesi
1
2
3
4
5
6
7

Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.


Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
Untuk meningkatkan mutu profesi.
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.7

Prinsip-prinsip moral

Praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip


moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai
baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi
moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika
biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat
keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di
bidang medis.
Kode Etik Kedokteran Indonesia
KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.

Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi yang tertinggi.

Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi
oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.

Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.

Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun
fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh
persetujuan pasien.

Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan
setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan halhal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya.

Pasal 7a
5

Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis
yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih
sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki
kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan, dalam menangani pasien

Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak
tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien

Pasal 7d
Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk
insani.

Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta
berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.

Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.7

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN

Pasal 10
Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk
pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam
masalah lainnya.

Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

Pasal 13
Setiap

dokter

wajib

melakukan

pertolongan

darurat

sebagai

suatu

tugas

perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu
memberikannya.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.

Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI

Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.

Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi kedokteran/kesehatan.

II.2 Hubungan Dokter


Hubungan Dokter-Pasien
Hubungan dokter-pasien merupakan tunjang praktek kedokteran dan asas kepada etika
kedokteran. Deklarasi Geneva menyatakan bahwa seorang dokter harus meletakkan
7

kesehatan pasiennya sebagai perkara yang paling utama. Kode Etik Medis Internasional pula
menyatakan bahwa seorang dokter wajib memberikan pelayanan terbaik sesuai sarana yang
tersedia atas kepercayaan yang telah diberikan pasien kepadanya. Prinsip utama moral profesi
adalah autonomy, beneficence, non maleficence dan justice. Prinsip turunannya pula adalah
veracity (memberikan keterangan yang benar),

fidelity (kesetiaan), privacy, dan

confidentiality (menjaga kerahasiaan).


Hubungan dokter-pasien pada awalnya merupakan hubungan paternalistic dengan
memegang prinsip beneficence sebagai prinsip utama. Namun cara ini dikatakan
mengabaikan hak autonomy pasien sehingga sekarang lebih merujuk kepada teori social
contract dengan dokter dan pasien sebagai pihak bebas yang saling menghargai dalam
membuat keputusan. Dokter bertanggungjawab atas segala keputusan teknis sedangkan
pasien memegang kendali keputusan penting terutama yang terkait dengan nilai moral dan
gaya hidup pasien.
Hubungan dokter-pasien yang baik memerlukan kepercayaan. Maka, dengan
memegang pada dasar kepercayaan pasien terhadap dokter yang merawatnya, seorang dokter
tidak boleh menjalin hubungan di luar bidang profesinya dengan pasien yang sedang
dirawat.5
MENGHORMATI DAN PELAYANAN SAMA RATA
Isu hak sama rata merupakan suatu hal yang rumit buat dokter. Menuruk Deklarasi Geneva,
dokter tidak boleh mendiskriminasi pasien baik secara umur, penyakit, ras, jenis kelamin,
kewarganegaraan, orientasi seksual, maupun status social. Tetapi pada masa yang sama
dokter juga dibenarkan untuk menolak pasien yang datang kepadanya kecuali pada kasus
gawat darurat dengan alasan kurang kemahiran dan penyakit pasien bukan di dalam bidang
kompetensi nya.
Dokter juga harus menyadari bahwa perilaku terhadap pasien turut berpengaruh dalam
hubungan dokter-pasien untuk mewujudkan kepercayaan dalam diri pasien kepada dokternya.
Dokter juga tidak boleh meninggalkan pasien di bawah jagaannya sehingga Kode Etika
Medis Internasional dari World Medical Association(WMA) menyatakan bahwa dokter hanya
boleh meninggalkan pasiennya dengan cara merujuk pasien ke dokter lain apabila tindakan
lanjut yang diperlukan adalah di luar bidang kompetensinya.

Selain itu, dokter juga tidak dibenarkan untuk menolak pelayanan kesehatan terhadap pasien
dengan HIV/AIDS. Ini karena menurut WMA, pasien dengan HIV/AIDS harus diperlakukan
seperti pasien lain dan dokter hanya boleh melepaskan tanggungjawabnya melalui rujukan ke
dokter lain yang lebih kompeten.5
KOMUNIKASI DAN CONSENT
Informed consent merupakan alat paling penting dalam hubungan dokter-pasien pada masa
kini. Informed consent yang benar harus disertai dengan komunikasi baik antara dokter dan
pasien. Keterangan yang dapat diberikan kepada pasien sebelum mendapatkan informed
consent termasuklah menerangkan diagnosis penyakit, prognosis dan pilihan pengobatan
penyakit. Perlu juga kebaikan dan keburukan masing-masing tindakan yang bakal dilakukan.
Informed consent harus memuatkan pilihan untuk pasien menerima atau menolak tindakan
medic yang bakal dilakukan dokter selain mencantumkan pilihan terapi lain. Pasien yang
kompeten boleh memilih untuk menolak tindakan medik walaupun tanpa tindakan ini dapat
mengancam nyawa pasien. Terdapat dua kondisi di mana informed consent dikecualikan
yaitu:
1

Pasien menyerahkan sepenuhnya keputusan tindakan medik terhadap dirinya kepada


dokter. Apabila pasien menyerahkan semua keputusan kepada dokter yang
merawatnya, dokter tetap harus menerangkan secara lengkap tindakan yang bakal

dilakukan.
Keadaan apabila pemberitahuan tentang kondisi penyakit pasien dapat berdampak
besar terhadap pasien secara fisik, psikologis dan emosional. Contohnya adalah
apabila pasien cenderung untuk membunuh diri apabila mengetahui tentang
penyakitnya. Namun, dokter pada awalnya harus menganggap bahwa semua pasien
dapat menerima berita tentang penyakitnya dan memberikan informasi selengkapnya
sesuai dengan hak pasien.7

Informed consent atau persetujuan tindakan medik adalah suatu cara bagi pasien untuk
menunjukan prefensi dan pilihannya. Informed consent adalah aplikasi praktis dari salah satu
kaidah moral dalam praktek kedokteran yaitu, autonomi. Secara harafiah, informed consent
memiliki dua unsur yaitu: (1) informed yang dapat diartikan informasi yang telah diberikan
dokter dan (2) consent yang diartikan sebagi persetujuan oleh pasien setelah memahami
informasi yang diberikan oleh sang dokter.saat seorang dokter memulai hubungan dokter-

pasien, maka tugasnya adalah memeriksa pasien, membuat diagnosa, memberi informasi
yang jujur dan tepat sasaran serta mengajurkan pengobatan. Dokter diharapkan untuk dapat
menjelaskan

tahapan-tahapan

dalam

pengobatan,

memberikan

alasan

diberikannya

pengobatan yang ia anjurkan, daqn menunjukkan alternatif pengobatan dari sisi keuntungan
dan kerugiannya. Di lain pihak, pasien diharapkan untuk dapar memahami penjelasan dokter,
menilai pilihan pengobatan yang ditawarkan dokter, kemudian memilih pilihan-pilihan
pengobatan yang ditawarkan.3,8
Persetujuan tindak medik secara praktis dalam praktek kedokteran dapat dibedakan atas 2
bentuk, yaitu:
1

Implied consent atau persetujuan tersirat, yakni pasien tidak menyatakan persetujuan
baik secara tertulis maupun lisan, namun dari tingkah lakunya menunjukan
persetujuaanya.

Expressed consent atau persetujuan yang dinyatakan, yakni persetujuan dinyatakan


secara lisan dan tertulis.

Sesuai dengan sifat hukum yang memiliki daya paksa, maka tidak dilaksanakan informed
consent atau persetujuan tindakan medik dalam praktek kedokteran akan dikenakan sanksi,
yakni:
Sanksi administratif
Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien
atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan surat izin
prakteknya (Pasal 13 Permenkes 585 tahun 1989)
Sanksi perdata
Tindakan medik tanpa persetujuan dari pasien, adalah perbuatan melanggar hukum. Bila
perbuatan itu menimbulkan kerugian, maka dokter yang melakukan dan institusi
penyelengara pelayanan kedokteran yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi perdata
dengan acuan pasal 1365 KUHP.
Sanksi pidana
Kelalaian menjalankan persaetujuan tindakan medik dapat dikenai delik penganiaan
dalam

KUHP.

Kesengajaan

penyimpangan

dalam

praktek

kedokteran

yang

mengakibatkjan kerugian bagi pasien dengan delik yang sesuai.

10

INFORMED CONSENT UNTUK PASIEN INKOMPETEN


Pasien inkompeten adalah mereka yang tidak mampu membuat keputusan untuk diri mereka
sendiri seperti anak, individu dengan gangguan psikologi atau neurologi berat dan pasien
yang tidak sadar. Mengikut WMA Declaration on the Rights of the Patients, apabila pasien
tidak mampu membuat keputusan untuk dirinya sendiri, perlulah mendapat kebenaran dari
wakilnya. Apabila tidak dapat ditemukan wakil dan pasien memerlukan tindak medis segera,
dokter perlulah memikirkan bahwa pasien sudah bersetuju dengan tindakan yang bakal
dilakukan melainkan telah tercatat bahwa pasien tidak bersetuju dengan tindakan tersebut
sebelumnya.7
Apabila pasien adalah anak, hak diberikan kepada mereka yang bertanggungjawab
terhadapnya. Namun, pasien harus ikut serta dalam pembuatan keputusan dan memahami
tindakan yang bakal dilakukan.
KERAHASIAAN PASIEN
Dasar dari kerahasiaan pasien adalah autonomy, rasa hormat dan kepercayaan pasien.
Kepercayaan adalah bagian paling penting dalam hubungan dokter-pasien sehingga seorang
dokter tidak dibenarkan untuk membuka rahasia pasien tanpa kebenaran dari pasien itu
sendiri kecuali diminta oleh hukum. Dokter juga dibenarkan untuk membuka rahasia pasien
apabila pasien tidak mampu untuk mengambil keputusan sendiri.
Dalam keadaan di mana pasien dapat menimbulkan bahaya kepada orang sekitarnya, dokter
dapatlah memberitahu mereka yang mungkin beresiko terhadap penyakit pasien tersebut.
Contohnya adalah memberitahu pasangan pasien dengan HIV/AIDS tentang penyakitnya
apabila pasien enggan untuk melakukan seks dengan perlindungan.7
Hak Pasien
WMA telah mengeluarkan Declaration of Lisbon on the Rights of the Patient (1991) yang
menyatakan hak pasien adalah sebagai berikut7:
1
2

Hak memilih dokter secara bebas


Hak klinis dan etis
11

Hak untuk menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi yang

4
5
6

adekuat
Hak untuk dihormati kerahasiaan dirinya
Hak untuk mati secara bermartabat
Hak untuk menerima atau menolak dukungan spiritual atau moral.

UU Kesehatan pula menyebutkan beberapa hak pasien yaitu:


1
2
3
4
5
6

Hak atas informasi


Hak atas second opinion
Hak untuk memberi persetujuan atau menolak suatu tindakan medis
Hak untuk kerahasiaan
Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan
Hak untuk memperoleh ganti rugi apabila ia dirugikan akibat kesalahan tenaga
kesehatan.

Selain itu, UU Praktik Kedokteran menyatakan hak pasien sebagai berikut:


1

Hak untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis (Pasal 45
ayat (3)). Penjelasan sekurang-kurangnya meliputi diagnosis, tatacara tindakan, tujuan
tindakan medis yang bakal dilakukan, alternative tindakan lain dan risikonya, risiko
dan komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis terhadap tindakan yang akan

2
3
4
5

dilakukan.
Hak untuk meminta pendapat dokter lain
Hak mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan medis
Hak untuk menolak tindakan medis
Hak untuk mendapatkan isi rekam medis

Hubungan Dokter Teman Sejawat


Profesi kedokteran merupakan profesi yang berjalan di bawah satu sistem hirarki baik secara
internal maupun eksternal. Hirarki internal dapat dibagi kepada tiga yaitu perbedaan
kedudukan dokter berdasarkan kepakaran, perbedaan berdasarkan pencapaian akademik, dan
perbedaan kompetensi dan pengalaman dalam menangani pasien. Secara eksternal pula,
dokter sering diletakkan di bagian tertinggi dibanding petugas kesehatan lain.6
Dalam perkembangan ilmu kedokteran, seorang dokter harus menyadari bahwa dia tidak
mampu menangani semua penyakit dan memerlukan kerjasama baik antara tenaga kesehatan
lain seperti perawat, pharmacist, ahli fisioterapi, teknisi laboratorium, dan lain-lain.

12

HUBUNGAN TEMAN SEJAWAT


Hubungan antara dokter dan teman sejawat dinyatakan dalam Declaration of Geneva yang
menyatakan hubungan antara petugas kesehatan adalah seperti saudara. Menurut Kode Etik
Medik Internasional pula, terdapat dua larangan dalam hubungan sesama dokter yaitu:
1
2

Membayar atau menerima bayaran dari dokter lain dalam menangani pasien
Mengambil alih tugas perawatan pasien dari dokter lain tanpa rujukan dokter tersebut.

Sering dalam praktek sehari-hari, akan timbul perbedaan pendapat antara dokter tentang
penanganan yang tepat untuk seorang pasien.6 Dengan menganggap isu yang timbul hanya
untuk kebaikan pasien dan tidak ada penyimpangan dari etika kedokteran, hal ini dapat
diselesaikan dengan cara:
1

Dilakukan secara informal yaitu melalui rundingan dan perbincangan antara pihak
yang terlibat. Perbincangan hanya akan dilakukan secara formal apabila cara informal

2
3

tidak member hasil.


Opini semua pihak yang terlibat perlu didengarkan dan dipertimbangkan.
Pasien berhak menentukan tindakan medis untuk dirinya dan pilihan pasien ini akan

menjadi penunjang utama dalam pengambilan keputusan isu terkait.


Apabila semua rundingan tidak disepakati, maka penyelesaian isu dapat melibatkan
pihak wewenang dan hukum.

HUBUNGAN GURU DAN MAHASISWA KEDOKTERAN


Hubungan antara tenaga pengajar dan mahasiswa kedokteran juga penting dalam etika
kedokteran. Mahasiswa kedokteran harus menghormati dan memanfaatkan ilumu yang
diperoleh sebaiknya. Tenaga pengajar fakultas kedokteran juga harus menghormati
mahasiswa dan membimbing mahasiswa sebaiknya sesuai etika profesi kedokteran.7
PELAPORAN MALPRAKTEK
Kewajiban melaporkan malpraktek dan praktek tidak kompeten dinyatakan dalam Kode Etik
Medis Internasional yaitu A physician shall report to the appropriate authorities those
physicians who practice unethically or incompetently or who engage in fraud or deception.
Dokter sering kali sulit untuk membuat pelaporan tentang tindakan malpraktek dokter lain
atas dasar simpati atau persahabatan tetapi perlu diingatkan bahwa pelaporan adalah salah
satu tugas professional seorang dokter.7

13

Namun, tindakan pelaporan ke pihak wewenang harus menjadi pilihan terakhir apabila
metode lain seperti menegur dan memberi peringatan kepada dokter yang bersangkutan tidak
dapat menyelesaikan tindakan malprakteknya.
HUBUNGAN DOKTER DAN TENAGA PELAYANAN KESEHATAN LAIN
Dokter seharusnya mempunyai hubungan non diskriminasi dan saling hormat-menghormati
sesama tenaga pelayanan kesehatan lain. Perlu diingatkan bahwa semua tenaga pelayanan
kesehatan, walaupun berbeda dari tingkat pendidikan, berpegang pada prinsip yang sama
yaitu memberikan pelayanan terbaik untuk kesehatan pasien7.

II.3 Aspek Hukum


Aspek Hukum Malpraktek
1
2
3

Penyimpangan dari Standar Profesi Medis


Kesalahan yang dilakukan dokter, baik berupa kesengajaan ataupun kelalaian
Akibat yang terjadi disebabkan oleh tindakan medis yang menimbulkan kerugian materiil
atau non materiil maupun fisik atau mental9.

Sanksi Hukum Pidana

Pasal 267 KUHP (surat keterangan palsu)


1 Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang ada
atau tidaknya penyakit , kelemahan atau cacat, diancam dengan dengan pidana
2

penjara paling lama empat tahun.


Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang kedalam
rumah sakit gila atau menahannya disitu , dijatuhkan pidana paling lama delapan

tahun enam bulan.


Di ancam dengan pidana yang sama ,barangsiapa dengan sengaja memakai surat
keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran

Pasal 268 KUHP


1 Barang siapa membuat secara palsu atau memalsu surat keterangan dokter tentang ada
atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat , dengan maksud untuk menyesatkan
penguasa umum atau penanggung (verzekeraar), diancam dengan pidana penjara
2

paling lama empat tahun.


Diancam dengan pidana yang sama ,barangsiapa dengan maksud yang sama memakai
surat keterangan yang tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah surat itu benar dan
tidak dipalsu
14

Pasal 359 KUHP


Barangsiapa karena kelalainnya menyebabkan matinya orang lain , diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun

Pasal 360 KUHP


1 Barangsiapa karena

kelalainnyamenyebabkan

orang

lain

menderita

luka

berat,diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan
2

paling lama satu tahun


Barangsiapa karena kelalaiannya menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa
sehingga menderita sakit untuk sementara waktu atau tidak dapat menjalankan jabatan
atau perkejaannya selama waktu tertenu diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana kurungan enam bulan atau denda paling tinggi empat ribu
lima ratus rupiah3,8

Sanksi Hukum Perdata

Pasal 1338 KUH Perdata ( wan prestasi )


1 Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
2

mereka yang membuatnya.


Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah
pihak, atau karena alas an-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup

untuk itu.
Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik

Pasal 1365 KUH Perdata


Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang
lain,mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
kerugian tersebut.

Pasal 1366 KUH Perdata( Kelalaian )


Setiap orang bertanggung jawab tidak saja atas kerugian yang disebabkan karena
perbuatannya , tetapi juga atas kerugian yang disebabkan karena kelalainnnya atau
kurang hati hatinya

Pasal 1370 KUH Perdata

15

Dalam hal pembunuhan (menyebabkan matinya orang lain ) dengan sengaja atau kurang
hati hatinya seeorang, maka suami dan istri yang ditinggalkan, anak atau korban orang
tua yang biasanya mendapat nafkah dari pekerjaan korban mempunyai hak untuk
menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai menurut kedudukanya dan kekayaan kedua
belah pihak serta menurut keadaan .

Pasal 55 UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan


1 Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan
2

tenaga kesehatan .
Ganti rugi sebagaimana diatur dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan peraturan yang berlaku3,8

Dampak Hukum
A Perlidungan hukum terhadap dokter yang diduga melakukan tindakan malpraktek
medik
Perlindungan hukum terhadap dokter yang diduga melakukan tindakan malpraktek medik
menggunakan Pasal 48, Pasal 50, Pasal 51 Ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP), Pasal 50 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran,
Pasal 53 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Pasal 24
Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. Seorang
dokter dapat memperoleh perlindungan hukum sepanjang ia melaksanakan tugas sesuai
dengan standar profesi dan Standar Operating Procedure (SOP), serta dikarenakan adanya
dua dasar peniadaan kesalahan dokter, yaitu alasan pembenar dan alasan pemaaf yang
ditetapkan di dalam KUHP.
Hubungan dokter dengan pasien haruslah berupa mitra. Dokter tidak dapat disalahkan bila
pasien tidak bersikap jujur. Sehingga rekam medik (medical record) dan informed consent
(persetujuan) yang baik dan benar harus terpenuhi. Cara dan tahapan mekanisme
perlindungan hukum terhadap dokter yang diduga melakukan tindakan malpraktek medis
adalah dengan dibentuknya Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
(MKDKI) yang bekerja sama dengan pihak Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) atas
dasar hubungan lintas sektoral dan saling menghargai komunitas profesi. Dalam tahapan
mekanisme penanganan pelanggaran disiplin kedokteran, MKDKI menentukan tiga jenis
pelanggarannya yaitu pelanggaran etik, disiplin dan pidana. Untuk pelanggaran etik
16

dilimpahkan kepada Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK), pelanggaran disiplin


dilimpahkan kepada Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), dan pelanggaran pidana
dilimpahkan kepada pihak pasien untuk dapat kemudian dilimpahkan kepada pihak
kepolisian atau ke pengadilan negeri. Apabila kasus dilimpahkan kepada pihak kepolisian
maka pada tingkat penyelidikannya dokter yang diduga telah melakukan tindakan
malpraktek medik tetap mendapatkan haknya dalam hukum yang ditetapkan dalam Pasal
52, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 57 Ayat 1, Pasal 65, Pasal 68, dan Pasal 70 Ayat 1 Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dan apabila kasus dilimpahkan kepada
tingkat pengadilan maka pembuktian dugaan malpraktek dapat menggunakan rekam
medik (medical record) sebagai alat bukti berupa surat yang sah (Pasal 184 Ayat 1
KUHAP).
B Hukum kedokteran akibat kelalaian
Akhir-akhir ini tuntutan hukum yang diajukan oleh pasien atau keluarganya kepada pihak
rumah sakit dan atau dokternya semakin meningkat kekerapannya. Tuntutan hukum
tersebut dapat berupa tuntutan pidana maupun perdata, dengan hampir selalu
mendasarkan kepada teori hukum kelalaian. Dalam bahasa sehari-hari, perilaku yang
dituntut adalah malpraktik medis, yang merupakan sebutan genus (kumpulan) dari
kelompok perilaku profesional medis yang menyimpang dan mengakibatkan cedera,
kematian atau kerugian bagi pasiennya.
Gugatan perdata dalam bentuk permintaan ganti rugi dapat diajukan dengan mendasarkan
kepada salah satu dari 3 teori di bawah ini, yaitu :

Kelalaian sebagaimana pengertian di atas dan akan diuraikan kemudian

Perbuatan melanggar hukum, yaitu misalnya melakukan tindakan medis tanpa


memperoleh persetujuan, membuka rahasia kedokteran tentang orang tertentu,
penyerangan privacy seseorang, dan lain-lain.

Wanprestasi, yaitu pelanggaran atas janji atau jaminan. Gugatan ini sukar
dilakukan karena umumnya dokter tidak menjanjikan hasil dan perjanjian tersebut,
seandainya ada, umumnya sukar dibuktikan karena tidak tertulis.9

II.4 Fisiologi Persalinan

17

Kehamilan secara umum ditandai dengan aktiviti otot polos miometrium yang relatif tenang
yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin sampai dengan
kehamilan aterm. Menjelang persalinan, otot polos uterus mulai menunjukkan aktivitas
kontraksi secara terkoordinasi, diselingi dengan suatu periode relaksasi, dan mencapai
puncaknya menjelang persalinan, serta secara berangsur menghilang pada periode
postpartum. Mekanisme regulasi yang mengatur aktivitas kontraksi miometrium selama
kehamilan, persalinan, dan kelahiran, sampai saat ini maaih belum jelas.
Proses fisiologi kehamilan pada manusia yang menimbulkan inisiasi partus dan awitan
persalinan belum diketahui secara pasti. Sampai sekrang, pendapat umum diterima bahwa
keberhasilan kehamilan pada semua spesies mamalia bergantung pada aktivitas progesteron
untuk mempertahankan ketenangan uterus sampai mendekati akhir kehamilan.
Posisi atau letak janin sangat erat kaitannya dengan penentuan tehnik persalinan dan
keberhasilan proses persalinan.
Ada tiga posisi atau letak janin yang kita kenal dalam kebidanan,yakni :

Posisi Kepala

Posisi Sungsang

Posisi Melintang

Diantara ketiga posisi tersebut, posisi janin dengan letak kepala merupakan posisi terbaik
untuk prestasi keberhasilan persalinan spontan, yaitu proses alamiah melalui jalan lahir.
Posisi ini memungkinkan janin dengan mudah melewati pintu panggul ibu dan hampir
sebagian besar harapan untuk lahir secara spontan alami dapat terpenuhi.
Pada kehamilan Trimester ke tiga, pemeriksaan Antenatal Care sangat penting. Karena pada
saat ini, dokter kandungan maupun bidan akan melakukan pemeriksaan letak janin yang
berada dalam rongga panggul.
Pemeriksaan ini berkaitan dengan sikap bidan dalam penentuan tehnik persalinan yang akan
dilakukan pada ibu, apakah bisa spontan alami ataukah memerlukan tindakan rujukan ke
rumah sakit.

18

Ada tiga syarat yang perlu dipenuhi untuk persalinan spontan:


1

Passage/jalan lahir
Tulang panggul ibu cukup luas untuk dilewati janin. Leher rahim membuka lengkap,

sampai pembukaan 10 cm.


Power/tenaga mengejan
Kontraksi atau rasa mulas terjadi dengan sendirinya, tanpa obat. Ibu cukup kuat mengejan

saat pembukaan telah lengkap.


Passenger/bayi
Kepala bayi ada di bawah, dengan presentasi belakang kepala. Taksiran berat janin
normal (2.500-3.500 gram). Detak jantung janin normal(120-160 bpm).

II.5 Fraktur Klavikula


Trauma persalinan salah satunya terjadi akibat lamanya persalinan berlangsung, sehingga ibu
merasakan sakit yang lama pula. Normalnya persa linan berjalan kurang lebih 8-10 jam mulai
fase awal, pembukaan satu sampai dengan fase akhir, pembukaan sepuluh, dan tahap
mengejan. Tapi karena berbagai hal, ada ibu yang harus melalui persalinan cukup lama,
hingga tiga hari bahkan berminggu-minggu dari fase awal hingga fase akhir. Itu artinya, ibu
akan merasakan his atau mulas lebih lama.
Kemungkinan perlamaan ini disebabkan berbagai faktor. Faktor pertama hambatan fisik,
meliputi kecilnya lingkar panggul ibu sehingga bayi sulit keluar. Kedua, penebalan rahim,
sehingga pembukaan berjalan sangat lambat. Ketiga, ketegangan vagina, sehingga vagina
menjadi keras dan otot-otot saluran jalan rahim tidak lentur. Keempat, pembukaan
terhambat karena posisi janin sungsang.
Tanda dan Gejala Fraktur Klavikula
Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi
tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan
ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak
adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang
disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.
Bayi dapat memperlihatkan pseudoparalisis. Pseudoparalisis yaitu suatu kondisi di mana
seseorang tampaknya tidak mampu untuk memindahkan lengan atau kaki tetapi tidak lumpuh.

19

Pada pemeriksaan didapatkan krepitasi, perabaan tulang yang ireguler, dan spasme otot
sternokleidomastodius.
Jenis fraktur pada trauma lahir ini umumnya jenis fraktur greenstick, yaitu fraktur dimana
salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok. Secara klinis fraktur jenis
greenstick sering tidak diketahui segera setelah bayi lahir, tetapi baru ditemukan 1 2
minggu kemudian setelah teraba adanya pembentukan kalus.
Beberapa gejala klinis fraktur klavikula greenstick:
1.
2.
3.
4.
5.

Gerakan tangan kiri dan kanan tidak sama


Refleks moro asimetris
Bayi akan menangis pada perabaan klavikula
Gerakan pasif pada tangan yang sakit
Riwayat persalinan yang sukar.

Jenis fraktur klavikula yang sakit:


1. Adanya crepitasi
Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik
tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
2. Deformitas (kelainan) pada tulang klavikula yang sakit.
Jika dilakukan pemeriksaan, maka akan menunjukkan:
1
2
3
4

Adanya pembengkakan pada sektor daerah fraktur


Krepitasi
Pergerakan lengan kurang
Irritable selama pergerakan lengan.

Pemeriksaan Luar
a. Inspeksi deformitas : angulasi, pemendekan, pemanjangan, bengkak
b. Palpasi status neurologis dan vaskuler dibagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan
palpitasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan
dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri, efusi dan krepitasi. Neurovaskularisasi
bagian distal fraktur meliputi : pulsasi asteri, warna kulit, pengembalian cairan kapiler
sensasi
c. Gerakan
d. Pemeriksaan trauma tempat lain : kepala, toraksm abdomen, pelvis
Pemeriksaan Penunjang

20

1. Laboratorium : darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah, cross-test dan
urinalisa
2. Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two terdiri dari :
a. 2 gambaran, anterioposterior (AP) dan lateral
b. Memuatkan dua sendi di proksimal dan distal fraktur
Memuat gambaran foto dua ekstrimitas, yaitu ekstrimitas yang cedera dan yang tidak terkena
cedera ( pada anak); dan du kali yaitu sebelum dan sesudah tindakan
Penatalaksanaan
Prinsip 4R
-

Recognition
Reduction
Retention
Rehabilitation

Penatalaksaan awal fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint. Status
neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah
reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi
awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan penatalaksanaan
definitive fraktur adalah dengan menggunakan gips atau dilakukan operasi dengan ORIF
maupun OREF.
Tujuan pengobatan fraktur :
1. Reposisi dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi.
Tertutup : fiksasi eksterna, traksi
Terbuka : indikasi
o Reposisi tertutup gagal
o Fragmen bergeser dari apa yang diharapkan
o Memobilisasi dini
o Fraktur multiple
o Fraktur patologis
2. Imobilisasi/ Fiksasi
Tujuan mempertahankan posisi fragmen post reposisi sampai Union.
Jenis fiksasi :
a) Eksternal / OREF
- Gips (plester cast)
- Traksi
Indikasi :
21

o Pemendekan
o Fraktur unstabel : oblique, spiral
o Kerusakan hebat pada kulit dan jaringan sekitar
Traksi gravitasi : U-slab pada fraktur humerus
Skin traksi : untuk menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan
kembali ke posisi semua. Beban maksimal 4-5kg karena bila kelebihan kulit akan

lepas.
- Skeletal traksi : K-wire, Steinmann pin, atau Denham pin
- Komplikasi traksi
o Gangguan sirkulasi darah akibat beban >12kg
o Trauma saraf peroneus (kruris) akibat droop foot
o Sindroma kompartemen
o Infeksi akibat tempat masuknya pin
b) Internal / ORIF : k-wire, plating, screw, k-nail
3.Union
4.Rehabilitasi

II.6 Prosedur Medis


Informasi dalam lingkup medis sangat penting bagi memberi peluang kepada pasien untuk
mengetahui tentang status sebenar kesehatan diri dan tindakan yang akan dilakukan terhadap
pasien. Para professional dalam pelayanan kesehatan perlu meningkatkan perhatian terhadap
pentingnya informed consent sebagai sebagian dari prosedur pengobatan atau clinical trial.
Informed Consent adalah suatu persetujuan mengenai tindakan kedokteran yang akan
dilakukan oleh dokter terhadap pasien. Persetujuan boleh dalam bentuk lisan maupun tertulis.
Informed consent ini juga merupakan sebagian dari prosese komunikasi antara dokter-pasien
tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan. Formulir informed consent
merupakan tanda bukti yang disimpan dalam arsip rekam medis pasien.11
Dalam Undang-Undang Republika Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran, telah diatur tentang Informed Consent ini pada Pasal 45 tentang Persetujuan
Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi yang isinya antara lain:
1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter
atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien
mendapat penjelasan secara lengkap.
22

3. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup:


diagnosis dan tata cara tindakan medis.
tujuan tindakan medis yang dilakukan.
alternative tindakan lain dan resikonya.
risikonya dan komplikasi yang mungkin terjadi.
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
4. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara
tertulis maupun lisan.
5. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi
harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak
memberikan persetujuan.
Dalam penjelasan atas UU Nomor 29 Tahun 2004 tersebut disebutkan bahwa pada prinsipnya
yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis adalah pasien yang
bersangkutan. Namun, apabila pasien yang bersangkutan berada di bawah pengampuan,
persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat diberikan oleh keluarga terdekat antara lain
suami/istri/ibu kandung, anak-anak kandung atau saudara-saudara kandung.
Jika sesuatu tindakan medis dilakukan tanpa izin pasien, ia digolongkan sebagai tindakan
penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351 ( trespass, battery, bodily assault ). Menurut
Pasal 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008, sebelum dimulai tindakan (1),
persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan oleh yang memberi persetujuan dan
pembatalan tersebut harus secara bertulis oleh yang memberi persetujuaan (2).
Elemen-elemen yang terdapat dalam informed consent adalah penjelasan mengenai:

penyakit dan atau tindakan yang akan dilakukan.


Harapan dari tindakan dan prognosisnya.
Alternative tindakan dan tingkat harapan serta keberhasilannya.
Resiko, komplikasi dan biaya.

Dokter hanya boleh bertindak melebihi yang telah disepakati apabila gawat-darurat dan butuh
Pada kasus ini, ditemukan bahwa ibu pasien melahirkan untuk pertama kali sehingga ingin sekali
waktu yang singkat.
mengalami persalinan normal. Pada kenyataannya, letak bayi sungsang, tapi pasien bersikeras
untuk melahirkan normal. Ibu mengaku tidak diberitahu mengenai risiko dari persalinan normal
dengan letak sungsang. Dari hasil komunikasi dengan dokter C juga diketahui bahwa dokter B
tidak berkomunikasi tentang dokter C mengenai riwayat ibu dan posisi janin. Dalam kasus ini
Dokter B Lalai dalam tugasnya karena tidak melakukan informed consent.
Fraktur klavikula sendiri sulit untuk diketahui saat bayi baru lahir, hanya dapat diketahui sesaat
kalus sudah muncul.

23

II.7 Solusi
Dokter A wajib untuk menengahi permasalahan ini, dengan tidak ikut menjelekkan kedua
dokter. Dokter A harus memberitahu ibu mengenai sulitnya mendeteksi fraktur pada neonates
sehingga ibu tidak mudah menuduh dokter C lalai dalam tugasnya, beritahu ibu juga
mengenai Undang-undang Pencemaran Nama Baik Pasal 310 ayat (1) KUHP
Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan
menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam
karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Mengenai dokter B yang ternyata tidak melakukan informed consent menurut pengakuan ibu,
alangkah baik bila dokter A juga menganjurkan ibu untuk berkomunikasi dengan dokter B
terlebih dahulu sebelum melayangkan tuduhan malpraktek. Sesuai dengan Pasal 310 ayat (1)
KUHP, apabila ibu menuduh dokter B tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu maka ibu
pun dapat dikenakan pasal tersebut.
Peran dokter A disini, selain mengobati dan merujuk pasien ke dokter spesialis ortopedi,
dokter A juga harus memberikan saran agar ibu tidak gegabah dalam tindakannya. Mengenai
perihal ibu ingin pindah dokter dari dokter C ke dokter A, semua keputusan berada dalam
tangan pasien, karena pasien berhak untuk mendapatkan second opinion.
Mengenai dokter B, hal ini dianggap sebagai kelalaian dokter dalam melakukan sesuatu yang
mestinya ia lakukan contohnya saat dokter lalai dalam menjalankan tugas yang akhirnya
menyebabkan kerugian pada pasien. Hal ini merupakan dasar dan alasan yang penting dalam
kaitan terhadap standar praktik kedokteran yang berlaku namun jika ia benar terbukti
kesalahannya, maka dokter tersebut dapat dikenakan tindak pidana.
Elemen kelalaian medis:

tugas yang mestinya dikerjakan


tugas yang dilalaikan
24

kerugian yang ditimbulkan


Penyebabnya
Antisipasi yang dilakukan

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Dalam praktek sehari-hari seorang dokter tidak boleh lupa akan etika profesi dan
semua aspek yang terkait. Salah satunya adalah menjalin hubungan yang baik dengan pasien
dimana dokter menghargai semua hak-hak pasien, seperti informed conset. Informed consent
sendiri adalah suatu bentuk komunikasi antara dokter dengan pasien. Apabila dokter tidak
melakukan informed consent maka kedepannya dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
bagi dokter maupun pasien sendiri. Kelalaian medis seperti ini harus dibuktikan dengan
benar, apabila tidak dibuktikan dengan benar dapat merugikansalah satu pihak.

25

26

Daftar Pustaka
1. Dorland, W.A Newman. Kamus kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC; 2002.
2. Callus. Diunduh dari http://pathol.med.stu.edu.cn/pathol/listEngContent2.aspx?ContentID=500, 11
Januari 2016
3. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi mahasiswa
kedokteran dan hukum. Jakarta:Pustaka Dwipa; 2005.h.8-9, 30-5, 77-86.
4. Mardi Santoso. Pemeriksaan fisik diagnostik. Jakarta: Bidang Penerbitan Yayasan Diabetes Indonesia;
2004.h.2-3.
5. Etika

Kedokteran

Indonesia.

2008.

http://www.freewebs.com/etikakedokteranindonesia/, 11 Januari 2016.


6. Kode
Etik
Kedokteran.
2009.

Diunduh
Diunduh

dari
dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/652/1/Kode%20Etik%20Kedokteran.pdf, 11 Januari
2016.
7. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja, Bioetik dan Hukum Kedokteran,
Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum, Penerbit Pustaka Dwipar, Oktober 2005.
8. Williams J. World medical association. Medical Ethics Manual 2 nd Edition; 2009.
9. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses penyidikan. Jakarta:
Sagung Seto; 2008.h.244-51.
10. Rizaldy Pinzon. Strategi 4s untuk pelayanan medik berbasis bukti. Cermin dunia kedokteran 163:Vol
36;2009;208.
11. Penerangan

informed

consent

dalam

pelayanan

kesehatan.

2009.

http://eprints.undip.ac.id/1133/1/A_1_Informed_Consent_Journal__RS.pdf, 11 Januari 2016.

27