Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

(Individu)
KULIAH KERJA NYATA
PEMBELAJARAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
TAHUN : 2015
SUB UNIT

: 01

UNIT

: JTG-01

KECAMATAN

: TINGKIR

KOTA

: SALATIGA

PROVINSI

: JAWA TENGAH

Disusun Oleh

Nama Mahasiswa : Jayanti Ayu Kusumastuti, S.Ked


Nomor Mahasiswa : 14/381512/KU/17979

SUBDIREKTORAT KKN
DIREKTORAT PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

A. Pendahuluan
Secara administratif desa Tingkir Lor termasuk dalam kelurahan Tingkir
Lor, kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Kali pertama mendengar kata Tingkir Lor
yang ada dalam ingatan saya adalah Joko Tingkir. Legenda Joko Tingkir sudah
tidak asing bagi saya, namun Tingkir Lor adalah sesuatu yang baru bagi saya.
Oleh karenanya sebelum saya melakukan plotting lokasi KKN terlebih dahulu
saya pertama-tama melakukan pencarian lewat google. Rupa-rupanya Tingkir
Lor merupakan desa wisata, yang terkenal dengan usaha konveksinya. Daya
tarik wisata lain yang saya ketahui dari google adalah gazebo dengan
pemandangan sawah dan pegunungan. Gambaran tersebut menarik hati saya
untuk memilih Tingkir Lor sebagai lokasi KKN yang akan saya jalani selama 2
bulan ke depan.
Pada tanggal 2 November 2015 dari kampus UGM bersama Unit JTG-01
diberangkatkan ke Salatiga. Kedatangan Tim KKN disambut dengan hangat oleh
Ibu Camat di kecamatan. Dengan penuh semangat ibu camat bercerita
mengenai seluk beluk desa Tingkir Lor dan keramahan masyarakatnya. Setelah
penyambutan di kecamatan, tibalah saya di lokasi KKN di desa Tingkir Lor. Tim
KKN disambut dengan baik oleh Lurah Tingkir Lor dan pengurus desa wisata.
Dengan penyambutan Tim KKN di kelurahan, secara resmi mahasiswa
mahasiswi KKN-PPM UGM Periode Gasal 2015 diterima untuk melaksanan
kegiatan dan program-program di Tingkir Lor.
Program tema yang diangkat adalah Mewujudkan Tingkir Lor sebagai
desa Wisata dengan Sapta Pesona. Kali pertama melihat secara langsung di
lapangan, Tingkir Lor tidak seperti desa wisata seperti bayangan saya, meskipun
di kelurahan terdapat plank Desa Wisata Tingkir Lor. Di depan kelurahan terdapat
kamar mandi umum dalam kondisi tidak terawat. Bahkan toko-toko di kanan dan
kiri yang saya lihat agaknya sepi. Kegiatan pariwisata juga tidak terlalu tampak
disana. Pada awalnya saya belum melihat objek yang menarik untuk dapat
menjadi daya tarik wisata.
Selama beberapa hari awal di Tingkir Lor bersama rekan-rekan, saya
banyak melakukan survey dan observasi lapangan, dan tentu saja bersosialisasi
dengan masyarakat. Tidak sulit bagi mahasiswa KKN memperkenalkan diri
karena mereka masih terkenang dengan Tim KKN-PPM UGM yang bertugas di
Tingkir Lor sebelumnya. Tim KKN kali ini pun mendapat sambutan positif dari

masyarakat, dan mereka berharap dapat menjadikan Tingkir Lor seperti rumah
sendiri. Banyak hal baru dan menarik yang saya dapatkan dari masyarakat di
Tingkir Lor. Seperti diketahui mayoritas warga di Tingkir Lor bermata pencaharian
dengan membuka usaha konveksi. Selain itu suasana religius sangat terasa
disini, dimana hampir seluruh warga Tingkir Lor memeluk Islam. Keberadaan
masjid, musholla, langgar, pesantren dan madrasah membuat suasana di Tingkir
Lor seperti kota santri.
Selama kurang lebih 2 bulan di Tingkir Lor, saya dengan teman-teman
satu Subunit 1 tinggal di TPUS. TPUS sendiri merupakan singkatan dari Tempat
Pelatihan Usaha Santri, yang berada di lantai 2, sementara di lantai 1 digunakan
sebagai madrasah pada siang sampai sore hari. Tidak jauh dari TPUS terdapat
sebuah masjid, yang konon menurut tokoh masyarakat dulunya disitu terdapat
langgar Jaka Tingkir. Sayang sekali bangunan masjid sudah terbilang modern,
tidak tampak kekunaannya lagi. Dari informasi yang tercantum masjid tersebut
telah berdiri sejak tahun 1800-an.
Hal menarik lain yang saya jumpai disini adalah rumah papan kayu, atau
biasa disebut sebagai gebyok. Berbeda dengan gebyok yang ada di Solo, Jogja,
ataupun seperti di daerah pesisir (Kudus, Jepara), gebyok yang ada di Tingkir Lor
pada umumnya memiliki ornamen hias yang sederhana. Meskipun demikian
saya sangat tertarik dengan rumah-rumah gebyok di Tingkir Lor.
Tidak hanya gebyok, saya mendapatkan banyak mendengar cerita dari
warga mengenai cerita kali Cengek, maupun cerita tokoh-tokoh yang kini
makamnya berada di Tingkir Lor. Cerita-cerita tersebut sangatlah menarik bagi
saya. Terlebih ketika mendengar cerita tersebut langsung dari sesepuh. Sangat
disayangkan kini semakin banyak generasi muda yang tidak mengetahui ceritacerita tersebut. Meskipun cerita-cerita tersebut belum tentu benar terjadi di masa
lalu, namun sebagai bagian dari tradisi cerita-cerita semacam itu merupakan
salah satu budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat. Karenanya ceritacerita tersebut perlu sekali untuk dilestarikan.

1. LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

1.1.

Pengayaan Batin dan Petualangan Kemanusian

Dalam pengumpulan data mengenai folklore maupun gebyok yang ada di


Tingkir Lor, saya banyak menggali informasi dari masyarakat. Sebagian besar
orang yang saya jumpai kurang mengetahui dengan jelas folklore yang ada.
Pada umumnya mereka yang mengetahui mengenai cerita-cerita tentang sejarah
Tingkir Lor telah berusia lanjut. Selain menggali informasi dari masyarakat, saya
banyak menggali informasi dari sesepuh dan tokoh masyarakat di Tingkir Lor.
Dari beliau-beliau inilah saya mendengar banyak cerita baru yang belum pernah
saya dengar sebelumnya. Jika selama ini daerah yang bernama Tingkir sangat
melekat dengan legenda Joko Tingkir, di Tingkir Lor rupa-rupanya tidak hanya
Joko Tingkir saja terdapat beberapa folklore terkait dengan tokoh-tokoh
bersejarah yang menarik untuk digali lebih lanjut.
Selama proses pengumpulan data saya bertemu dan berdialog dengan
banyak orang. Banyak hal menarik yang saya lihat selama saya melakukan
perjalanan menyusuri jalan-jalan. Keramah tamahan dan kehangatan warga
Tingkir Lor sangat terasa, terlebih ketika mereka tahu bahwa saya adalah
mahasiswa yang sedang KKN. Mereka tidak segan untuk diajak mengobrol dan
menjawab pertanyaan. Saya tidak hanya mendapat informasi, tidak jarang
mereka bercerita tentang kehidupan mereka, serta memberi nasehat dan
pelajaran hidup.
1.2.

Keterlibatan dalam Masyarakat

Selama dua bulan berada di lokasi KKN tentu saja sebagai bagian dari
masyarakat Tingkir Lor, saya tidak hanya melaksanakan kewajiban saya sebagai
mahasiswa KKN. Keterlibatan mahasiswa KKN sangat diharapkan oleh
masyarakat tidak saja secara formal namun juga secara informal. Justru dari
kegiatan informal ini yang lebih mendekatkan mmahasiswa dengan warga
masyarakat. Kegiatan seperti kerja bakti rutin yang dilakukan setiap minggu,
meskipun secara tenaga ataupun mahasiswa KKN tidak terlalu banyak bekerja
namun masyarakat sangat menghargai kedatangan mahasiswa KKN. Sebaliknya
mahasiswa KKN juga banyak dilibatkan dalam kegiatan di desa, seperti
dilibatkan dalam pembuatan desain dan beberapa kegiatan-kegiatan di sekitar
lingkungan.

1.3.

Hambatan/Tantangan

Hambatan yang tidak dapat dihindari adalah dalam menghadapi cuaca.


Pada minggu-minggu kedua dan seterusnya ketika memasuki musim penghujan,
seringkali ketika akan melakukan kegiatan, hujan tiba-tiba turun. Hal ini sangat
menyulitkan ketika sedang mengambil gambar rumah gebyok. Hambatan lain
yang ada terkadang muncul dalam masyarakat sendiri. Dalam penyebutan desa
Tingkir Lor sebagai desa wisata, banyak memunculkan pro dan kontra, terlebih
ketika melaksanakan program unit yang berkaitan dengan pariwisata. Meskipun
demikian hal ini justru menjadi tantangan untuk memberi pembuktian kepada
masyarakat. Tantangan lain adalah ketika mencari potensi wisata baru yang
dapat dikembangkan. Hal ini cukup menarik karena sebenarnya selain wisata
yang sudah ada, masih banyak potensi-potensi yang belum dikembangkan.
1.4.

Jejaring Kemitraan dan Peran Serta Masyarakat

Dalam melaksanakan program-program KKN, tentu saja mahasiswa KKN


tidak dapat berjalan sendiri. Pihak kelurahan telah banyak membantu dalam
pelaksanaan program seperti perijinan, dalam beberapa kegiatan kelurahan juga
melibatkan mahasiswa KKN seperti dalam mengikuti lomba antar kelurahan.
Bersama Warga Peduli Aids (WPA) Tingkir Lor dengan kerjasama dengan
mahasiswa KKN berhasil meraih juara satu dalam lomba poster Peringatan Hari
Aids se-Salatiga. Peran masyarakat juga sangat membantu dalam pelaksanaan
program-program. Ketika melaksanakan program me-mural kali Cengek,
mahasiswa KKN melibatkan para pemuda Tingkir Lor.
1.5.

Hasil Kegiatan
1.5.1.

Penyuluhan Kesehatan Reproduksi

No. Sektor

: 4.2.05

Status

: Terselesaikan

Jenis Kegiatan

: Pokok Non Tema

Setelah mengobservasi permasalahan kesehatan di lapangan, yaitu


dengan bertanya langsung dengan warga setempat dan juga puskesmas, kami

mengetahui bahwa angka penderita HIV/AIDS di Salatiga cukup tinggi. Selain


itu, warga juga menyatakan keingintahuan soal bagaimana menjaga kesehatan
reproduksi.
Oleh karena itu, kami mahasiswa kluster Kesehatan membuat program
penyuluhan kesehatan reproduksi. Penulis dan rekan mengadakan penyuluhan
kesehatan reproduksi di PKK RW 05, PKK RT 01, RT 02, dan SD Tingkir 02.
Saya juga membuat beberapa poster kesehatan terkait hari AIDS yang
jatuh pada 1 Desember 2015. Poster tersebut akan dipajang di kelurahan dan
UKK (Unit Kesehatan Kerja). Sebelumnya, poster tersebut diikutkan dalam lomba
jalan sehat dalam meperingati hari AIDS yang diselenggarakan pemeritah Kota
Salatiga.
1.5.2.

Pelatihan Bisnis Online

No. Sektor

: 3.1.05

Status

: Terselesaikan

Jenis Kegiatan

: Pokok Tema

Target masyarakat berubah, semula ibu ibu menjadi pemuda dan


pemudi. Hal ini disebabkan, ibu ibu RW 5 sudah sibuk dengan keseharian dan
belum mahir pengoperasian internet, sehingga materi dirasa kurang optimal.
Pemuda dan pemudi dipilih karena internet lebih dekat dengan
keseharian sehingga dalam penguasaan materi diharap lebih mampu.
Saya melakukan pelatihan di SMP Bina Madani, pemudi RW 5, dan santri
Pondok Pesantren Masyithoh. Kegiatan di SMP Bina Mandani dibagi menjadi
dua sesi. Sesi pertama mepelajari marketing secara umum, sesi kedua
mempelajari teknik berjualan pada social media. Materi yang diajarkan antara
lain: xxx, yyy. Kegiatan ini mendapat respon baik, yaitu beberapa siswi meminta
sesi tambahan dalam mepelajari marketing via Instagram.
Penyuluhan di RW 5 dan Pondok Pesantren Masyithoh satu sesi untuk
materi keseluruhan. Hasil dari program ini, warga menjadi semangat dan

tercerahkan dalam melihat peluang usaha, terutama marketing hasil konveksi


dan UKM desa wisata Tingkir Lor.
1.5.3. Senam Sehat Ibu - Ibu
Kode Subsektor

: 4.2.15

Status

: Terselesaikan

Jenis Kegiatan

: Pokok Non Tema

Aktivitas sebagai ibu rumah tangga, buruh jahit, dan lainnya menimbulkan
kekakuan otot dan dalam jangka panjang mengganggu kesehatan.
Saya dan rekan Subnit 1 membuat gerakan senam yang mudah diikuti
dengan lagu popular yang enerjik. Senam tersebut dilakukan setelah kegiatan
kerja bakti setiap MInggu pagi di RT 01 dan 02 RW 5. Senam ini mendapat
respon baik, dilihat dari antusiasme warga.
Bahkan, warga merasa durasi kurang lama, sehingga satu siklus senam
dapat diulang hingga tiga kali. Program ini juga mendapat dukungan positif
dengan pengadaan speaker besar yang digagas oleh warga.
Respon warga setelah rutin senam setiap MInggu yaitu badan lebih
enerjik dan sangat menghibur.
Kami melakukan pemberdayaan keberlanjutan kegiatan dengan melatih
pemudi RW 5 untuk menajdi instruktur senam, supaya setelah KKN berakhir,
kegiatan senam masih dapat rutin dilakukan. Ada empat pemudi yang kami latih,
kami juga memberi CD senam, dan buku gerakan senam.
1.5.4.

Pelatihan Pidato Bahasa Asing untuk Siswa SD

Sektor

: 3.4.02

Status

: Terselesaikan

Jenis Kegiatan

: Pokok Tema

Saya mengajar pidato Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di Madrasah


Ibtidaiyah Maarif kelas 3 dan 4. Kegiatan dibagi menjadi 3 sesi yang dipecah 1

hari 1 sesi. Sesi pertama berisi materi singkat tentang pidato baik itu ciri maupun
cara membawakan pidato secara menarik serta Bahasa Inggris praktis yang
digunakan dalam pidato. Kemudian pada akhir sesi, siswa diberi tugas yaitu
membuat pidato singkat dalam Bahasa Indonesia.
Sesi kedua, materi Bahasa Inggris dan membacakan tugas pidato sesi 1 di
depan

kelas.

Tugas

pidato

dikumpulkan,

kemudian

saya

dan

rekan

menerjemahkan pidato tersebut dalam Bahasa Inggris. Dalam teks pidato yang
sudah diterjemahkan, ada kamus kecil untuk diisi oleh siswa.
Pada sesi ketiga, siswa mengisi kamus kecil pidato dan membacakan pidato
Bahasa Inggris di depan kelas. Siswa sangat antusias. Walaupun pengucapan
dan gaya pidato belum sempurna, kepercayaan diri siswa patut diapresiasi.
Di akhir sesi, siswa merasa Bahasa Inggris ternyata mudah, dan tertarik untuk
lebih jauh mempelajari.
.
1.5.5.

Eksplorasi Objek Wisata Alam

Kode Sektor

: 3.2.01

Status

: Terselesaikan

Jenis Kegiatan

: Pokok Tema

Pesona alam desa wisata belum dikemas dengan baik, akibatnya


wisatawan bingung dengan rute wisata.
Kegiatan yang dilakukan yaitu tracking objek wisata baru bersama warga
yang ingin direkrut menjadi tour guide desa wisata, pembuatan mural sebagai
ikon wisata, dan desain layout atlas wisata.
Tracking objek wisata bersama tour guide baru menghasilkan rute jalan
santai melewati gazebo, rumah warga kabupaten Semarang, sungai kecil, kebun,
hutan, dan persawahan. Wisata ini memakan waktu kurang lebih satu jam.

1.5.6.

Pembuatan Konsep Landmark Desa Wisata Berupa


Mural

Kode Subsektor

: 3.2.04

Status

: Terselesaikan

Sifat Program

: Pokok Tema

Selama ini promosi tergantung pemerintah. Tidak adanya landmark untuk


berfoto membuat viral melalui social media kurang berkembang.
Pembuatan mural melibatkan seluruh unit dan pemuda Tingkir Lor, dimulai dari
desain mural, pemilhan cat, hingga eksekusi pembuatan mural. Hasilnya, warga
sekitar merasa terhibur dan pemandangan menjadi lebih menarik. Beberapa
warga pun berfoto di mural dan mengupload di social media. Hal ini sangat
diharapkan sebagai bentuk promosi viral desa wisata.
1.5.7.

Desain Layout Atlas Pariwisata

Kode Subsektor

: 3.2.02

Status

: Terselesaikan

Sifat Program

: Pokok Tema

Wisatawan dan tour guide kesulitan dalam menemukan objek wisata di


desa ini. Atlas pariwisata akan memudahkan wisatawan dalam menjelajahi desa.
Layout atlas dibuat menarik dan dipisahkan antar bagian. Bagian wisata
belanja, kuliner, mebel, kesehatan, dan religi.

1.6.

Temuan Baru dan Unik

Temuan yang saya dapatkan di Tingkir Lor diantaranya adalah cerita


folklore. Salah satunya cerita mengenai Kali Cengek, dimana diceritakan ada
seorang wali yang berjalan dari Senjoyo kemudian berjalan sampai di Tingkir

sambil menyeret tongkatnya, sesampainya di Tingkir ia mendengar suara


tangisan bayi, adapun kemudian kali tersebut diberi nama Kali Cengek.
Penyebutan Kali Cengek sendiri hanya digunakan untuk menyebut kali yang
berada di pinggir jalan sampai menuju kelurahan. Terkait dengan tinggalan
arkeologis berupa makam di Tingkir Lor, rupa-rupanya banyak berkaitan dengan
cerita-cerita folklore, seperti cerita Kyai Sandang.
1.7.

Potensi dan Pengembangan

Potensi wisata yang dimiliki Tingkir Lor sebagai desa wisata masih
banyak dapat dikembangkan. Terlebih masyarakat Tingkir Lor sendiri pada
dasarnya adalah masyarakat yang ramah dan rajin bekerja. Namun sayang
sekali dalam pengembangan desa wisata, pengelola desa wisata saat ini
agaknya kurang memanfaatkan SDM yang ada di Tingkir Lor.
Pengembangan sebagai desa wisata selama ini hanya dikenal di sekitar
kelurahan dan sawah gazebo. Wisata melihat kehidupan masyarakat desa tentu
akan sangat menarik bagi wisatawan asing maupun dalam negeri, apalagi hidup
ditengah-tengah masyarakat Tingkir Lor. Suasana yang religius juga sangat
menarik dengan adanya beberapa pondok pesantren, dan acara-acara
keagamaan, seperti pengajian rutin untuk mengembangkan Tingkir Lor tidak
hanya sebagai desa wisata konveksi, namun juga desa wisata religi.

2. KESIMPULAN
Mendengar cerita lebih banyak membuka wawasan penulis tentang
Tingkir Lor yang tidak hanya sebuah desa di Salatiga yang terkenal dengan
industri konveksinya. Kegiatan sudah dilakukan dan mendapat respon positif
warga. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi meningkat, keinginan
hidup sehat dan aktif melalui senam mulai terbentuk, siswa SD lebih tergerak
mempelajari Bahasa Inggris serta kepercayaan diri dalam tampil di depan kelas,
pemuda dan pemudi lebih giat mencari peluang usaha lewat internet, dan
promosi desa wisata serta perekrutan SDM tour guide lebih tertata.

3. SARAN
Penyuluhan lebih lanjut dengan tema lain. Tema yang disukai dan
diperlukan masyarakat. Untuk ke depan, masyarakat ingin tema parenting.
Sementara itu, kegiatan senam harus terus dilanjutkan, ditambah modifikasi
gerakan,
Pelatihan bisnis online dengan trik dan materi baru serta merekrut lebih
banyak audiens pelatihan.

4. LAMPIRAN
Foto 1. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi

Penyuluhan di RT02 RW 5
Foto 2. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi

Pemasangan poster penyuluhan di UKK Kelurahan


Foto 3. Pelatihan Bisnis Online

Pelatihan di SMP Bumi Madania. Peserta tampak khidmat mencatat materi.


Foto 4. Pelatihan Bisnis Online

Pelatihan tambahan yang diminta oleh siswi SMP Bumi Madania


Foto 5. Pelatihan Bisnis Online

Pelatihan ke pemudi RW 5

Foto 6. Senam Sehat Ibu Ibu

Kegiatan senam diadakan setelah kerja bakti setiap Minggu pagi.


Foto 7. Senam Sehat Ibu Ibu

Dukungan warga dengan menyediakan speaker besar. Sebelumnya, speaker


yang digunakan milik mahasiswa dan berukuran kecil.

Foto 8. Pelatihan Pidato Bahasa Asing untuk Siswa SD

Suasaana mengajar di kelas 3 MI Maarif


Foto 9. Pelatihan Pidato Bahasa Asing untuk Siswa SD

Menyalin vocab dari papan tulis


Foto 10. Pelatihan Pidato Bahasa Asing untuk Siswa SD

Pidato di depan kelas


Foto 11. Eksplorasi Objek Wisata Alam

Kegiatan tracking menyusuri sawah, sungai, dan pedesaan untuk mencari


rute wisata tracking.
Foto 12. Eksplorasi Objek Wisata Alam

Hail dari kegiatanini adalah diteukannya rute tracking untuk wisata alam.
Foto 13. Pembuatan Konsep Landmark Desa Wisata Berupa Mural

Konsep desain mural yang digagas bersama pemuda Tingkir Lor


Foto 14. Pembuatan Konsep Landmark Desa Wisata Berupa Mural

Mengecek kondisi tembok


Foto 15. Desain Layout Atlas Pariwisata

Desain menggunakan Corel Draw.


Foto 16. Desain Layout Atlas Pariwisata

Siang dan malam mengerjakan desain layout.


Foto 17. Desain Layout Atlas Pariwisata

Hasil layout atlas yang sudah dicetak