Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KDM II

CAIRAN, ELEKTROLIT, DARAH


Disusun untuk memenuhi tugas KDM II
Dosen pengampu : Bapak Sudiarto, MN

Disusun oleh :
Kelompok VI

4.
5.

1. Chandyka O.S
P.17420113046
2. Nur Ainiah
P.17420113064
3. Sholihatul Izmi
P.17420113070
Wanda Dwisetia A
P.17420113077
Widya Habsari
P.17420113078

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG


TAHUN AJARAN 2013/2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Cairan, Elektrolit, dan Darah.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah KDM (Kebutuhan Dasar
Manusia) dengan dosen pengampu Bapak Sudiarto, MN.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Sudiarto, MN selaku dosen pembimbing mata kuliah KDM yang telah
membimbing penulisan ini.
2. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Dengan segala keterbatasan, kemampuan dan pengetahuan penulis, kritik dan saran
untuk penulis diharapkan dari semua pihak yang membaca makalah ini. Besar harapan
penulis, semoga penulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Semarang, 28 Januari 2014

Tim penulis

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar
(milieu exterior) dan sel selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah
dan cairan tubuh lainnya.
Air merupakan komponen terbesar dari tubuh, sekitar 45- 75% total berat
badan, nya merupakan cairan intrasel dan sisanya ekstrasel dengan nya tardapat
pada intravaskuler dan sisanya merupakan intertisial. Lemak tubuh bebas air,
sehingga yang kurus memiliki jumlah air lebih banyak dibanding yang gemuk.
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada dalam bentuk ion
bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis
yaitu kation dan anion.Di dalam tubuh manusia, kesetimbangan antara air (H O)elektrolit diatur secara ketat agar sel-sel 2 dan organ tubuh dapat berfungsi dengan
baik.
Manusia tidak bisa hidup tanpa darah. Tanpa darah, organ tubuh tidak bisa
mendapatkan oksigen dan nutrisi yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup, kita
tidak bisa tetap hangat atau sejuk, melawan infeksi, atau menyingkirkan produk
limbah kita sendiri. Tanpa darah yang cukup, kita akan melemah dan mati.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.

Apakah pengertian dari cairan, elektrolit dan darah ?


Apa sajakah gangguan kebutuhan cairan, elektrolit dan darah ?
Apakah data penunjang dari gangguan kebutuhan tersebut ?
Apa sajakah faktor resiko gangguan kebutuhan caira elektrolit dan darah ?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian cairan, elektrolit dan darah
2. Untuk mengetahui gangguan cairan, elektrolit dan darah.
3. Untuk mengetahui data penunjang dari gangguan kebutuhan cairan, elektrolit,
dan darah.
4. Untuk mengetahui faktor resiko gangguan kebutuhan cairan, elektrolit, dan
darah.
D. MANFAAT
1. Agar mahasiswa mengetahui pengertian dari cairan , elektrolit dan darah.
2. Agar mahasiswa mengetahui gangguan cairan, elektrolit dan darah.
3. Agar mahasiswa mengetahui data penunjang dari gangguan kebutuhan cairan,
elektrolit, dan darah.

4. Agar mahasiswa mengetahui faktor resiko gangguan kebutuhan cairan, elektrolit,


dan darah.
5. Agar mahasiswa dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan , elektrolit dan
darah pada klien.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
1. Cairan tubuh
Cairan tubuh adalah air beserta unsur-unsur di dalamnya yang diperlukan
untuk kesehatan sel. Jumlah cairan tubuh 60% dari berat badan. Cairan tubuh
terdapat di berada di luar sel (ekstra selular) dan sebagian lagi di dalam sel (intra
selular).
Cairan tubuh terdiri dari sebagai berikut :
a. Cairan ekstra sel sebanyak: 20%
b. Cairan interstisial : 15%. Cairan tubuh merupakan medium di tengah-tengah
sel hidup, sel menerima garam, makanan serta oksigen dan melepaskan
semua hasil buangannya ke dalam cairan itu juga.

c. Plasma darah = 5%, Merupakan sistem transport yang melayani semua sel
melalui medium cairan ekstraselular
d. Cairan intra sel : 60%, Mengandung elektrolit, kalium, fosfat dan bahan
makanan seperti glukosa dan asam amino.
Kerja enzim dalam sel adalah konstan memecahkan dan membangun kembali
sebagaimana dalam semua metabolisme untuk mempertahanklan keseimbangan
cairan.
Fungsi Cairan Tubuh :
a.
b.
c.
d.
e.

Sebagai sarana transportasi


Sebagai pelarut elektrolit dan non elektrolit
Sebagai bahan dalam metabolisme
Untuk membentuk Struktur tubuh
Memelihara suhu tubuh

2. Elektrolit
Elektrolit adalah garam yang terionisasi (terurai menjadi ion positif dan
negatif) dalam cairan tubuh. Elektrolit utama dalam tubuh
termasuk natrium, kalium,magnesium, kalsium, klorida, bikarbonat dan fosfat.
elektrolit merupakan sebah unsur atau senyawa, yan jika melebur atau larut di
dalam air atau pelarut lain, akan pecah menjadi ion dan mampu membawa
muatan listrik. Elektrolit yang memiliki muatan positif disebut kation.
Sedangkan elektrolit yang memiliki muatan negatif disebut anion. Konsentrasi
setiap elektrolit didalam cairan intrasel dan ekstrasel berbeda. Namun, jumlah
total anion dan kation didalam setiap kompartemen cairan harus sama.
3. Darah
Darah adalah jaringan cairan yang bersirkulasi melalui tubuh oleh aksi
pemompaan jantung. Darah adalah media transportasi dimana oksigen dan nutrisi
yang dibawa ke sel-sel tubuh dan produk limbah yang dijemput untuk ekskresi.
Darah terdiri dari plasma di mana sel-sel darah merah, sel darah putih, dan
trombosit tersuspensi
B. Data Penunjang pada Gangguan Kebutuhan Cairan, Elektrolit dan Darah
1. Riwayat Keperawatan
a. Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral, parenteral).
b. Tanda umum masalah elektrolit.
c. Tanda kekurangan cairan.
d. Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan
elektrolit.

e. Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu status cairan.


f. Status perkembangan seperti usia atau situasi sosial.
g. Faktor psikologis seperti perilaku emosional yang mengganggu
pengobatan.
2. Pengukuran klinik.
a. Berat badan
Kehilangan berat badan menunjukkan adanya masalah keseimbangan cairan
2% : ringan
5% : sedang
10% : berat
Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari pada waktu yang sama.
b. Keadaan umum
1. Pengukuran tanda vital seperti suhu, tekanan darah, nadi, dan
pernapasan.
2. Tingkat kesadaran.
c. Pengukuran pemasukan cairan
1. Cairan oral : NGT dan oral.
2. Cairan parenteral termasuk obat-obatan IV.
3. Makanan yang cenderung mengandung air.
4. Irigasi kateter atau NGT.
d. Pengukuran pengeluaran cairan
1. Urin : volume, kejernihan /kepekatan.
2. Feses : jumlah dan konsistensi
3. Muntah
4. Tube drainase
5. IWL
e. Ukur keseimbangan cairan dengan akurat : normalnya sekitar 200 cc.
3. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada kebutuhan cairan dan elektrolit difokuskan pada :
a. Integumen : keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan otot,
tetani, dan sensasi rasa.
b. Kardiovaskuler : distensi vena jugularis, tekanan darah, hemoglobin,
dan bunyi jantung.
c. Mata : cekung, air mata kering.
d. Neurologi : refleks, gangguan motorik dan sensorik, tingkat
kesadaran.
e. Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntahmuntah, dan bising usus.
4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan elektrolit, darah lengkap, PH, berat jenis urin, dan analisa gas darah.

4. Faktor yang memengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit


1. Usia
Asupan cairan individu bervariasi berdasarkan usia. Dalam hal ini, usia
berpengaruh terhadap proporsi tubuh, luas permukaan tubuh, kebutuhan
metabolik, serta berat badan. Bayi dan anak di masa pertunbuhan memiliki
proporsi cairan tubuh yang lebih besar dibandingkan orang dewasa.Karenanya,
jumlah cairan yang diperlukan dan jumlah cairan yang hilang juga lebih besar
dibandingkan orang dewasa. Besarnya kebutuhan cairan pada bayi dan anakanak juga dipengaruhi oleh laju metabolik yang tinggi serta kondisi ginjal
mereka yang belum atur dibandingkan ginjal orang dewasa. Kehilangan cairan
dapat

terjadi

akibat

pengeluaran

cairan

yang

besar

dari

kulit

dan

pernapasan. Pada individu lansia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit


sering disebabkan oleh masalah jantung atau gangguan ginjal
2. Aktivitas
Aktivitas hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan cairan dan
elektrolit. Aktivitas menyebabkan peningkatan proses metabolisme dalam tubuh.
Hal ini mengakibatkan penigkatan haluaran cairan melalui keringat. Dengan
demikian, jumlah cairan yang dibutuhkan juga meningkat. Selain itu,kehilangan
cairan yang tidak disadari (insensible water loss) juga mengalami peningkatan
laju pernapasan dan aktivasi kelenjar keringat.
3. Iklim
Normalnya,individu yang tinggal di lingkungan yang iklimnya tidak terlalu
panas tidak akan mengalami pengeluaran cairan yang ekstrem melalui kulit
dan pernapasan. Dalam situasi ini, cairan yang keluar umumnya tidak dapat
disadari (insensible water loss, IWL). Besarnya IWL pada tiap individu
bervariasi, dipengaruhi oleh suhu lingkungan, tingkat metabolisme,dan usia.
Individu yang tinggal di lingkungan yang bertsuhu tinggi atau di dearah deangan
kelembapan yang rendah akan lebih sering mengalami kehilangan cairandan
elektrolit. Demikian pula pada orang yang bekerja berat di lingkungan yang
bersuhu tinggi,mereka dapat kehilangan cairan sebanyak lima litet sehaei melalui

keringat.

Umumnya,

orang

yang

biasa

berada

di

lingkungan

panas

akan kehilangan cairan sebanyak 700 ml per jam saat berada ditempat yang
panas, sedangkan orang yang tidak biasa berada di lingkungan panas dapat
kehilangan cairan hingga dua liter per jam.
4. Diet
Diet seseorang berpengaruh juga terhadap asupan cairan dan elektrolit. Jika
asupan

maknan tidak seimbang, tubuh berusaha memcah simpanan protein

dengan terlebih dahulu memecah simpanan lemak dan glikogen. Kondisi ini
menyebabkan penurunan kadar albumin.
5. Stress
Kondisi stress berpengaruh pada kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Saat
stress,

tubuh

mengalami

peningkatan

metabolism

seluler, peningkatan

konsentrasi glukosa darah, dan glikolisis otot. Mekanisme ini mengakibatkan


retensi air dan natrium.Disamping itu, stress juga menyebabkan peningkatan
produksi hormone anti deuritik yang dapat mengurangi produksi urine.
6. Penyakit
Trauma pada jaringan dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit
dasar sel atau jaringan yang rusak (mis.Luka robek, atau luka bakar). Pasien
yang menderita

diare juga dapat mengalami peningkatan kebutuhan cairan

akibat kehilangan cairan melalui saluran gastro intestinal. Gangguan jantung dan
ginjal juga dapat menyebabkan

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

Saat aliran darah ke ginjal menurun karena kemampuan pompajantung menurun,


tubuh akanmelakukan penimbunan cairan dan natrium sehingga terjadi
retensi cairan dan kelebihan beban cairan (hipervelomia).

Lebih lajut, kondisi

inidapat menyebabkan edema paru. Normalnya, urine akan dikeluarkan dalam


jumlah

yang

cukup untuk

menyeimbangkan

cairan

dan

elektrolit serta kadar asam dan basa dalam tubuh.


Apabila asupan cairan banyak, ginjal akan memfiltrasi cairan lebih banyak
dan menahan ADH sehingga produksi urine akan meningkat. Sebaliknya, dalam
keadaan kekurangan cairan, ginjal akan menurunkan

produksi urine dengan

berbagi cara. Diantaranya peningkatan reapsorpsi tubulus, retensi natrium dan


pelepasan renin. Apabila ginjal mengalami kerusakan, kemampuan ginjal untuk

melakukan regulasi akan menurun. Karenanya, saat terjadi gangguan ginjal


(mis., gagal ginjal) individu dapat mengalami oliguria (produksi urine kurang
dari 40ml/ 24 jam) sehingga anuria (produksi urine kurang dari 200 ml/ 24
jam).
7. Tindakan Medis
Beberapa tindakan medis menimbulkan efek sekunder terhadap kebutuhan
cairan dan elektrolit tubuh. Tindakan pengisapan cairan lambung dapat
menyebabkan penurunan kadar kalsium dan kalium.
8. Pengobatan
Penggunaan beberapa obat seperti Diuretik maupun laksatif secara berlebihan
dapat menyebabkan peningkatan kehilangan cairan dalam tubuh.Akibatnya,
terjadi defist cairan tubuh. Selain itu, penggunan diuretic menyebabkan
kehilangan natrium sehingga

kadar kalium akan meningkat. Penggunaan

kortikostreroid dapat pula menyebabkan retensi natrium dan air dalam tubuh.
9. Pembedahan
Klien yang

menjalani

pembedahan

beresiko tinggi

mengalami

ketidakseimbangan cairan. Beberapa klien dapat kehilangan banyak darah


selama perode operasi, sedangkan

beberapa klien lainya justru mengalami

kelebihan beban cairan akibat asupan cairan berlebih melalui intravena selama
pembedahan atau sekresi hormon ADH selama masa stress akibat obat- obat
anastesia.
5. Faktor Resiko/Gangguan pada Kebutuhan Cairan, Elektrolit dan Darah
1. Ketidakseimbangan cairan
Ketidakseimbangan cairan meliputi dua kelompok dasar, yaitu gangguan
keseimbangan isotonis dan osmolar. Ketidakseimbangan isotonis terjadi ketika
sejumlah cairan dan elektrolit hilang bersamaan dalam proporsi yang seimbang.
Sedangkan ketidakseimbangan osmolar

terjadi ketika kehilangan cairan tidak

diimbangi dengan perubahan kadar elektrolit dalam proporsi yang seimbang


sehingga menyebabkan perubahan pada konsentrasi dan osmolalitas
Berdasarkan hal tersebut,

terdapat

empat kategori ketidak

cairan, yaitu :
a. Kehilangan cairan dan elektrolit isotonik
b. Kehilangan cairan (hanya air yang berkurang)

serum.

seimbangan

c. Penigkatan cairan dan elektrolit isotonis


d. Penigkatan osmolal (hanya air yang meningkat)
2. Defisit Volume Cairan
Defisit volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit
ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini
disebut juga hipovolemia.Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan
cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler menuju
intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler.Untuk untuk
mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler.
Secara umum, defisit volumecairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu
kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan
dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak
mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi cairan
ekstraseluler

istirahat).

Cairan

dapat

berpindah

dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium,


perikardium,

atau

rongga

sendi.

Selain

itu, kondisitertentu,

seperti

terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat obstruksi


saluran pencernaan.
3. Defisit Cairan
Faktor Resiko
a. Kehilangan cairan berlebih (muntah, diare,dan pengisapan lambung)
tanda klinis : kehilangan berat badan
b. Ketidakcukupan asupan cairan (anoreksia, mual muntah, tidak ada
cairan dan depresi konfusi). Tanda klinis : penurunan tekanan darah
4. Dehidrasi
Dehidrasi disebut juga ketidakseimbangan hiiper osmolar, terjadi akibat
kehilangan

cairan yang tidak diimbangi dengan kehilangan elektrolit dalam

jumlah proporsional,

terutama natrium.Kehilangan cairan menyebabkan

peningkatan kadarnatrium, peningkatan osmolalitas, serta dehidrasi intraseluler.


Air berpindah dari sel dan kompartemen interstitial menuju ruang vascular.
Kondisi ini menybabkan gangguan fungsi sel da kolaps sirkulasi. Orang yang
beresiko mengalami dehidrasi salah satunya adalah individu lansia.Mereka
mengalami penurunan respons haus atau pemekatan urine.Di samping itu lansia
memiliki proporsi lemak yang lebih besar sehingga beresiko tunggi mengalami

dehidrasi akibat cadangan air yang sedikit dalam tubuh.Klien dengan diabetes
insipidus akibat penurunan hormon diuretik sering mengalami kehilangan cairan
tupe hiperosmolar. Pemberian cairan hipertonik juga meningkatkan jumlah
solute dalam aliran darah.
5. Kelebihan Volume Cairan (Hipervolemia)
Kelebihan

volume

cairan terjadi apabila tubuh menyimpan cairan dan elektrolit

dalam

kompartemen ekstraseluler dalam proporsi yang seimbang. Karena adanya


retensi cairan isotonik, konsentrasi natrium dalam serum masih normal.
Kelebihan

cairan

tubuh

hampir selalu disebabkan oleh penungkatan jumlah natrium dalam serum.


Kelebihan cairan terjadi akibat overload cairan/adanya gangguan mekanisme
homeostatispada proses regulasi keseimbangan cairan. Penyebab spesifik
kelebihan cairan, antara lain :
a. Asupan natrium yang berlebihan
b. Pemberian infus berisi natrium terlalu cepat dan banyak, terutama
pada klien dengan gangguan mekanisme regulasi cairan.
c. Penyakit yang mengubah mekanisme regulasi, seperti gangguan
jantung (gagal ginjal kongestif), gagal ginjal, sirosis hati, sindrom
Cushing
d. Kelebihan steroid.
Faktor resiko :
a. Kelebihan cairan yang mengandung natrium dari terapi intravena
Tanda klinis : penambahan berat badan.
b. Asupan cairan yang mengandung natrium dari diet atau obat-obatan.
Tanda klinis : edema perifer dan nadi kuat
6. Edema
Pada kasus kelebihan cairan, jumlah cairan dan natrium yang berlebihan
dalam kompartemen ekstraselulermeningkatkan tekanan osmotik. Akibatnya,
cairan keluar dari sel sehingga menimbulkan penumpukan cairan dalm ruang
interstitial (Edema). Edema yang sering terlihat disekitar mata, kaki dan tangan.
Edema dapat bersifat local atau menyeluruh,
yang

terjadi.

Edema

dapat

terjadi

tergantung pada kelebihan cairan


ketika

adapeningkatan produksi

cairan interstisial/gangguan perpindahan cairan interstisial. Hal ini dapat terjadi


ketika:
a. Permeabilitas kapiler meningkat (mis: karena luka bakar, alergi yang
menyebabkan perpindahan cairan dari kapiler menuju ruang interstisial).

b. Peningkatan

hidrostatik

kapiler

meningkat

(mis:

hipervolemia,

obstruksisirkulasi vena) yang menyebabkan cairann dalam pembuluh


darah terdorong ke ruang interstisial.
c. Perpindahan cairan dari ruangan interstisial terhambat (mis: pada blokade
limfatik)
Edema pitting adalah edema yang meninggalkan sedikit depresi atau
cekungan setelah dilakukan penekanan pada area yang bengkak. Cekungan
unu terjadiakibat pergerakan cairan dari daerah yang ditekan menuju jaringan
sekitar (menjauhi lokasi tekanan). Umumnya, edema jenis ini adalah edema yang
disebabkan oleh gangguan natrium. Adapun edema yang disebabkan oleh retensi
cairan hanya menimbulkan edema non pitting.

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Cairan, elektrolit, dan darah merupakan komponen penting bagi tubuh kita. Pengaturan
keseimbangan cairan perlu memperhatikan beberapa hal yaitu volume cairan ekstrasel dan
osmolaritas dari cairan tersebut. Pengaturan keseimbangan cairan, elektrolit, dan darah melibatkan
organ jantung, otak, dan ginjal.
Dalam tubuh, sering terjadi gangguan akibat kekurangan cairan dan elektrolit yang terjadi
secara bersamaan namun dapat juga terjadi gangguan akibat kekurangan atau ketidak seimbangan
dari salah satunya ataupun kekurangan air murni meskipun jarang terjadi. Tubuh dapat kehilangan
cairan bukan hanya dalam keadaan sakit tetapi bisa kehilangan cairan dalam keadaan tubuh sehat,
namun kehilangan cairan ini dalam batas-batas normal dan masih dapat di toleransi serta sesuai
dengan jumlah cairan yang masuk, cairan yangdibutuhkan dan cairan yang dikeluarkan oleh tubuh.

B. SARAN

Perawat harus menguasai ilmu mengenai cairan, elektrolit, dan darah agar
nantinya perawat dapat mengetahui sampai dimana dan mengapa gangguan yang disebabkan oleh
cairan dan elektrolit ini sehingga kita dapat menentukan dan merencanakan tindakan keperawatan
apa yang akan kita lakukan atau kita berikan kepada pasien dengan gangguan yang disebabkan atau
gangguan yang menyebabkan cairan dan elektolit tidak dalam keadaan yang normal.

DAFTAR PUSTAKA
Allimul Hidayat, Azis. 2005. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC
Potter & Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Jakarta: EGC
Syaifudin, Drs. 2012. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi Edisi 4. Jakarta:
EGC
Tamsuri, Anas. 2009. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Keseimbangan
Cairan & Elektrolit . Jakarta: ECG
http://www.scribd.com/doc/106059569/Makalah-Cairan-Dan-Elektrolit (28 Januari 2014)
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/2011/08/makalah-pemenuhan-kebutuhan-cairandan.html (28 Januari 2014)