Anda di halaman 1dari 5

Kaidah Rafu Al-Haraj: Menghalalkan yang Haram?

Di antara kaidah ushul yang sering digunakan secara tidak proporsional adalah kaidah Rafu alHaraj (menghilangkan kesempitan). Tidak jarang kaidah ini dipakai sebagai justifikasi untuk
menghalalkan sesuatu yang haram, seperti beberapa kaidah lain semisal: Akhafu ad-Dhararayn,
Ahwanu asy-Syarrayn atau Mashlih al-Mursalah. Penggunaan kaidah-kaidah ini secara keliru
boleh jadi akibat kekurangpahaman dalam memahami implementasi kaidah ini; bisa juga karena
kedangkalan dalam memahami realitas/obyek hukumnya; boleh jadi pula karena faktor
kesengajaan dari pihak-pihak yang memang punya niat yang tidak baik untuk semakin
menguatkan realitas buruk yang ada.
Berikut ini adalah telaah kritis atas penggunaan kaidah Rafu al-Haraj yang juga dibahas dalam
Kitab Syakhshiyyah al-Islamiyyah Jilid III halaman [483-485] karya Syaikh Taqiyuddin anNabhani.
Asal-usul Kaidah Rafu al-Haraj
Pada dasarnya, kaidah rafu al-haraj (menghilangkan kesukaran) adalah derivasi (turunan) dari
kaidah malt al-afl. Malt al-afl bermakna sumber atau tempat merujuknya perbuatanperbuatan manusia. Kata mal berasal dari kata la yang bermakna rajaa. Kata al-mal
bermakna al-marja (tempat kembali), an-ntijah (kesimpulan atau inti).
Yang dimaksud dengan malt al-afl adalah sumber, inti atau tempat merujuknya perbuatan
manusia. Dalam konteks ushul fikih, kaidah malt al-afl diterapkan pada perbuatanperbuatan yang telah ditetapkan kehalalannya oleh syariah. Namun, tatkala perbuatan itu
menimbulkan mafsadat, perbuatan itu akhirnya dilarang. Sebaliknya, ada perbuatan yang konteks
asalnya dilarang oleh syariah, tetapi larangan itu akhirnya ditinggalkan tatkala ada mashlahat di
dalamnya. Menurut orang yang menggunakan kaidah ini, hukum syariah itu diturunkan untuk
mewujudkan kemaslahatan dan menolak mafsadat (jalbu al-mashlih wa daru al-mafsid). Jika
ketetapan syariah justru menimbulkan mafsadat maka hukum syariah itu harus ditinggalkan.
Sebaliknya, jika ada larangan syariah yang berseberangan dengan kemaslahatan maka larangan
itu harus diganti dengan kebolehan. Pasalnya, asal dari penetapan hukum syariah adalah jalbu almashlih wa daru al-mafsid (meraih maslahat dan menolak mafsadat).
Dari kaidah malt al-afl ini dibangunlah beberapa kaidah lain, semacam kaidah rafu alharaj, sadd al-dzari, al-hayl, dan lain sebagainya. Bahkan penganut kaidah ini menetapkan
bahwa maltu al-afl adalah asal-muasal dari istinbth hukum syariah, dan penetapan hukum
syariah harus selalu mengacu pada kaidah ini.
Berkaitan dengan kaidah rafu al-haraj, maksud dari kaidah ini adalah, ada perbuatan-perbuatan
yang pada konteks awalnya ghayru masyruu (bertentangan dengan hukum syariah), namun jika
perbuatan-perbuatan tersebut ditinggalkan akan menyebabkan kesukaran dan kesulitan pada
manusia, maka dalam kondisi semacam ini, seseorang dibolehkan melakukan perbuatan ghayru
masyr tersebut demi menghindarkan dirinya dari kesulitan dan kesukaran. Begitu pula

sebaliknya. Jika perintah syariah justru berpotensi menyebabkan kesulitan dan kesukaran, maka
perintah tersebut boleh dianulir demi apa yang disebut dengan rafu al-haraj. Alasannya, syariah
itu ditetapkan untuk mempermudah manusia, bukan untuk menyulitkan.
Dalil Kaidah Rafu al-Haraj
Sebagian orang yang mengamalkan kaidah ini berhujjah dengan firman Allah Swt.:

Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran atas kalian (QS
al-Baqarah [2]:185).

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan (QS al-Hajj [22]:
78).
Mereka juga mengetengahkan hadis riwayat Imam Ahmad, yakni sabda Rasulullah saw.:

Hanya saja, aku diutus dengan kelurusan yang lapang (toleran) (HR Ahmad).
Menurut mereka, nash-nash di atas menunjukkan bahwa Allah Swt. tidak menghendaki adanya
kesulitan dan kesukaran pada syariah-Nya. Sebaliknya, syariah Allah diturunkan untuk
merealisasikan kemudahan dan kelapangan bagi umat manusia. Atas dasar itu, jika ada ketetapan
syariah yang justru menimbulkan kesulitan atau kesukaran pada manusia, maka ketetapan
syariah itu harus ditinggalkan. Sebab, hal ini tentu akan bertentangan dengan maksud yang ingin
diraih dalam pensyariatan hukum Islam, yakni mempermudah manusia dalam mewujudkan
maslahat dan menolak mafsadat.
Argumentasi-argumentasi di atas jelas-jelas keliru dan bertentangan dengan maksud dan
kandungan nash-nash yang mereka jadikan sebagai hujjah. Kekeliruan tersebut tampak pada halhal berikut ini:
Pertama, firman Allah Swt. dalam surat al-Baqarah ayat 185 di atas khusus berbicara pada
konteks rukhshah (keringanan) yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kaum Muslim, yakni
bolehnya seorang Muslim berbuka puasa ketika tengah berada dalam perjalanan (safar) atau
sakit, dan sama sekali tidak berhubungan dengan kaidah rafu al-haraj. Pasalnya, penetapan
rukhshah atas suatu perbuatan merupakan hak prerogatif dari Asy-Syri (Pembuat Hukum).
Penetapan apakah suatu perbuatan mengandung rukhshah atau tidak harus didukung oleh dalil.
Tidak ada hak bagi akal manusia untuk menetapkan keringanan (rukhshah) pada perintah Allah
Swt. dan Rasul-Nya. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa menjadikan kaidah rafu al-haraj

sebagai dalil sama artinya dengan telah menempatkan manusia sejajar dengan Allah Swt.
Nadzu billhi min dzlik.
Kedua, firman Allah Swt. surah al-Hajj (22) ayat 78 hanya berhubungan masalah taklif yang
dibebankan Allah kepada manusia, yakni Allah tidak membebani manusia dengan suatu perintah
(taklif syariah) yang tidak sanggup dipikul oleh manusia. Ayat di atas juga tidak berhubungan
dengan kaidah rafu al-haraj. Jika kita memperhatikan ayat sebelumnya, makna ayat tersebut
akan tersingkap dengan jelas.


Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Tuhan kalian dan
perbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan; dan berjihadlah kalian di jalan
Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak
menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan (QS al-Hajj [22]: 77-78).
Makna haraj pada ayat ini adalah adh-dhayq (kesulitan). Dengan demikian, pengertian ayat di
atas adalah, sesungguhnya Allah tidak membebani manusia untuk melaksanakan ibadah dan
perbuatan-perbuatan baik lainnya, kecuali sekadar dengan kesanggupan manusia. Ayat ini tidak
mengandung pengertian bahwa sebab pensyariatan hukum adalah kemudahan sehingga
dinyatakan jika ketetapan Allah Swt. dirasa memberatkan maka hukum itu bisa diganti menurut
keinginan manusia. Pasalnya, ayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan adanya illat atas
sebuah hukum. Surah al-Hajj ayat 78 hanya menunjukkan pengertian bahwa Allah Swt. tidak
membebani manusia dengan taklif yang tidak sanggup dipikul oleh manusia. Pengertian ayat ini
sejalan dengan firman Allah Swt.:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS al-Baqarah
[2]: 286).
Ketiga, terkait dengan makna hadis riwayat Imam Ahmad di atas adalah, sesungguhnya Nabi saw
diutus oleh Allah Swt. dengan membawa agama lurus yang bisa dilaksanakan oleh manusia.
Beliau tidak datang dengan agama yang ditujukan untuk memberatkan manusia. Dengan
demikian, makna al-hanifiyyah as-samhah pada hadis di atas adalah lurus dan bisa dilaksanakan
oleh manusia. Kata samhah di sini selalu terkait dengan kata al-hanifiyyah (lurus), dan tidak
berdiri sendiri. Susunan semacam ini menunjukkan bahwa toleransi dan kelapangan dalam
hukum Islam harus selalu dikaitkan dan disandarkan dengan dalil syariah, bukan toleransi dan
kelapangan yang didasarkan pada hawa nafsu dan kecenderungan akal. Dengan kata lain, hadis
di atas sama sekali tidak menganjurkan umat Islam untuk toleran dengan apa yang diharamkan
Allah Swt., apalagi sampai mengubah yang haram menjadi halal, dan yang halal menjadi haram,
dengan dilandaskan pada kaidah malt al-afl dan derivatnya, di antaranya kaidah rafu alharaj.

Orang yang mengamalkan kaidah rafu al-haraj telah terbiasa meninggalkan sejumlah taklif
syariah dengan alasan menghilangkan kesulitan dan kesukaran. Lalu mengapa mereka tidak
meninggalkan keseluruhan taklif syariah dengan alasan yang sama? Bukankah pada dasarnya
seluruh taklif syariah itu sulit dan berat? Bukankah kata taklifyang berasal dari kata alkallafahbermakna al-masyaqqah (kesulitan)? Jika demikian kenyataannya, maka seluruh taklif
yang dibebankan Allah kepada manusia pasti mengandung unsur kesulitan dan berat. Jika kaidah
rafu al-haraj diakui kebenarannya, maka seluruh taklif syariah harus ditinggalkan karena di
dalamnya terkandung unsur kesulitan dan kesukaran. Padahal meninggalkan taklif berat dan sulit
yang telah ditetapkan oleh syariat jelas-jelas bertentangan dengan tujuan asal dari taklif syariah.
Sebab, taklif dibebankan oleh Allah kepada umat manusia untuk dilaksanakan, bukan untuk
ditinggalkan. Meninggalkan taklif dari Allah Swt. sama artinya dengan telah menentang dan
melanggar perintah-perintah-Nya. Untuk itu, mengambil kaidah rafu al-haraj sebagai dalil
syariah sama artinya dengan telah mewajibkan seseorang untuk meninggalkan taklif yang
dibebankan Allah kepada manusia. Perbuatan ini jelas-jelas bertentangan dengan nash-nash
qathi tsubt dan dillah. Dari sini dapat dipahami, bahwa seorang Muslim tidak boleh
mendasarkan amal perbuatannya berdasarkan kaidah ini. Ia harus tetap berpegang teguh dan
mencukupkan diri pada batas dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil syariah yang
terperinci tanpa memperhatikan lagi faktor kesulitan dan kesukaran. Ia tidak boleh
mengembalikan amal perbuatannya pada kaidah ini seraya meninggalkan ketentuan dan batas
yang telah dijelaskan oleh nash-nash yang bersifat rinci. Misalnya, ketika dalil yang rinci
menyatakan haramnya mengangkat wanita sebagai kepala negara dan memilih pemimpin
sekular, maka ia dituntut untuk tetap berpegang teguh pada batas dan ketetapan tersebut. Ia tidak
boleh meninggalkan ketentuan ini dengan alasan, kesulitan dan kesukaran. Bahkan hukum ini
tetap harus diberlakukan di tengah kondisi sulit maupun sukar, kecuali ada nash syariah yang
menjelaskan adanya rukhshah (keringanan) atas hukum tersebut.
Keempat, kesalahan mendasar lain adalah, mereka telah memposisikan kesulitan (al-haraj)
sebagai illat syariyyah untuk keseluruhan hukum syariah. Oleh karena itu, ada-tidaknya hukum
syariah ditentukan berdasarkan ada tidaknya al-haraj (kesulitan). Jika hukum syariah tidak
sesuai dan sejalan dengan prinsip kemudahan, maka tidak ada lagi hukum syariah. Artinya,
hukum syariah bisa diubah dan tidak diterapkan jika justru menimbulkan kesulitan atau tidak
bisa mewujudkan kemudahan bagi manusia. Padahal al-haraj (kesulitan) bukanlah illat untuk
keseluruhan hukum syariah. Penetapan ada-tidak adanya illat harus selalu mengacu pada dalil
itu sendiri. Jika sebuah dalil khusus tidak mengandung illat maka seorang Muslim wajib terikat
dan tunduk dengan ketetapan yang ada di dalam dalil khusus tersebut. Ia tidak diperkenankan
mencari-cari illat-nya, atau mengembalikan ketentuan hukumnya pada dalil-dalil umum.
Kelima, penggunaan kaidah ini secara langsung telah mengubah struktur berpikir kaum Muslim
dari struktur berpikir yang berpatokan pada nash-nash syariah menjadi struktur berpikir
pragmatis. Penetapan halal-haram tidak lagi mengacu kepada nash-nash syariah, tetapi mengacu
pada kecenderungan akal dan hawa nafsu. Lebih dari itu, kaidah ini telah menggiring kaum
Muslim untuk mengubah-ubah hukum syariah jika dianggap tidak lagi bisa mewujudkan
kemudahan bagi manusia. Dengan demikian, penggunaan kaidah ini telah memperkokoh realitas
rusak, serta meminggirkan hukum syariah dari tengah-tengah masyarakat. Akhirnya, tidak bisa
lagi dibedakan mana hukum syariah dan mana hawa nafsu. Jika hukum syariah ditetapkan

berdasarkan kecenderungan akal dan hawa nafsu, niscaya binasalah kehidupan yang ada di muka
bumi ini.
Wallhu alam bi ash-shawb. []