Anda di halaman 1dari 38

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM

BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN


KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI
PROGRAM LINEAR KELAS XI

DOSEN PENGAMPU

Prof. Dr. Bornok Sinaga, M.Pd

Oleh Kelompok 7
NAMA

: Ammamiarihta
Anggi Paramita Daulay

NIM.8156172003
NIM.8156172004

KELAS

: B-2

PRODI

: PENDIDIKAN MATEMATIKA

PENDIDIKAN MATEMATIKA PASCA SARJANA


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2015
1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan keadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
berkatNya yang memberikan kesehatan dan hikmat kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa Pada Materi
Program Linear Kelas XI.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Bornok Sinaga, M.Pd,
selaku dosen pembimbing matakuliah Metodologi Pembelajaran Matematika yang telah
membimbing dalam mata kuliah ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada temanteman angkatan yang telah membantu.
Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam menyelesaikan maklah
ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun tata
bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Kiranya makalah ini dapat bermanfaat dalam
memperkaya khasanah ilmu pendidikan. Dan, semoga Allah SWT senantiasa
mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.

Medan,

September 2015

Tim Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii
BAB I

PENDAHULUAN..............................................................................................1

1.1................................................................................................................ Latar Belakang


.......................................................................................................................................1
1.2........................................................................................................... Rumusan Masalah
.......................................................................................................................................2
1.3............................................................................................................. Tujuan Penulisan
.......................................................................................................................................3
BAB II

PEMBAHASAN.................................................................................................4

2.1.....................Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


.......................................................................................................................................4
2.2.........Teori Belajar yang Melandasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem
Based Learning)............................................................................................................6
2.3..........................Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
.......................................................................................................................................8
2.4..........Pendekatan dalam Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem
Based Learning)..........................................................................................................10
2.5...............Strategi dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
.....................................................................................................................................12
2.6..........................................................................................Kemampuan Berpikir Kreatif
.....................................................................................................................................15
BAB III PENERAPAN PBLDALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA.........................17
3.1................................Penerapan Model Pembelajaran PBL Pada Materi Program Linear
.....................................................................................................................................17
3.2................................................................................Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
.....................................................................................................................................19
3.3....................................................................................................Lembar Aktifitas Siswa
.....................................................................................................................................26

3.4...........................................................................................................................Penilaian
.....................................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................33

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Melihat perkembangan zaman yang semakin pesat dengan didukung oleh
kemajuan teknologi mau tidak mau menstimulus pendidikan untuk dapat beradaptasi
sesuai dengan tuntutan zaman. Model pembelajaran merupakan salah satu metodologi
yang diciptakan dunia pendidikan dalam rangka menuju ke tercapainya suatu perubahan.
Pada pelaksanaan model pembelajaran tentunya melibatkan pembelajar (guru) dan
peserta didik (siswa). Seorang guru adalah seorang yang profesionalis dalam menjalankan
fungsi-fungsinya dengan menggunakan metodologi untuk membelajarkan peserta didik
dengan cara yang tidak konstan, artinya seorang guru itu harus berinovasi dan
menciptakan perubahan baik pada dirinya serta pada peserta didiknya.
Menurut Arends (Trianto, 2011:90): it is strange that we expect students to
learn yet seldom teach then about learning, we expect student to slove problems yet
seldom teach then about problem solving, yang berarti dalam mengajar guru selalu
menuntut siswa untuk belajar dan jarang memberikan pelajaran tentang bagaimana siswa
untuk belajar, guru juga menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, tapi jarang
mengajarkan bagaimana siswa seharusnya menyelesaikan masalah.
Guru dituntut untuk dapat memilih model pembelajaran yang dapat memacu
semangat siswa untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya,
menemukan cara terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan sehingga
siswa dapat menggunakan dan mengingat lebih lama konsep tersebut serta
mengaitkannya dalam kehidupan nyata. Salah satu alternatif model pembelajaran yang
memenuhi tuntutan tersebut dan memungkinkan dikembangkannya keterampilan berfikir
kreativitas siswa dalam pemecahan masalah adalah problem based learning (PBL) atau
dalam bahasa Indonesia disebut pembelajaran berbasis masalah (PBM).
Menurut Tan (Rusman, 2011:229), Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem
Based Learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena pada model ini
kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok
atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan
mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Serta siswa dapat
berfikir kreatif, berfikir kreatif adalah kemampuan kognitif orisinil dan proses pemecahan
5

masalah, kemampuan berfikir kreatif siswa yang dimaksud adalah kemampuan berpikir
kreatif matematis. Sing (Mann, 2005) mendefinisikan kreativitas matematis sebagai
proses merumuskan hipotesis yang mengenai penyebab dan pengaruh di dalam situasi
matematis, pengujian, pengujian kembali hipotesis, membuat modifikasi dan akhirnya
mengkomunukasikan hasil. Aspek-aspek kemampuan berpikir kreatif matematis, yaitu
kelancaran, keluwesan, keaslian, elaborasi, dan sensitivitas (Munandar, 2009).
Maka guru haruslah memahami konsep dari Model Pembelajaran Berbasis
Masalah (Problem Based Learning) terlebih dahulu agar dapat mengasah kemampuan
berpikir kreatif siswa. Karena dengan model Problem Based Learning dinyatakan mampu
meningkatkan kreativitas siswa menurut penelitian di Jurnal Online Universitas Negeri
Surabaya, oleh Dian Utami Wati dan Arifin Rahman. Sehingga makalah ini akan
memperlihatkan Problem Based Learning akan meningkatkan kemampuan berpikir
kreatif siswa dengan materi program linear di kelas xi pada pelajaran matematika wajib.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu kiranya ada sebuah bahan kajian yang
mendalam tentang apa dan bagaimana Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem
Based Learning) ini untuk selanjutnya diterapkan dalam sebuah proses pembelajaran agar
meningkatkan kreatif siswa, sehingga dapat memberi masukan, khususnya kepada para
guru tentang model pembelajaran ini. Dimana, menurut Tan (Rusman, 2011:230),
Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan pembelajaran yang
relevan dengan tuntutan

abad ke-21 dan umumnya kepada para ahli dan prkatisi

pendidikan yang memusatkan perhatiannya pada pengembangan dan inovasi sistem


pembelajaran. Berikut uraian secara rinci dari Model Pembelajaran Berbasis Masalah
(Problem Based Learning) serta akan dibahas contoh penerapannya dalam pembelajaran
matematika.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan dari latar belakang yang telah dikemukakan tadi maka adapun
rumusan masalahnya adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) ?
2. Teori-teori apa sajakah yang melandasi model pembelajaran berbasis masalah
(problem based learning) ?
6

3. Bagaimanakah sintaks dari model pembelajaran berbasis masalah (problem based


learning) ?
4. Bagaimana pendekatan saintifik (Scientific) dalam model pembelajaran berbasis
masalah (problem based learning) ?
5. Bagaimana strategi STAD dalam model pembelajaran berbasis masalah (problem
based learning) ?
6. Bagaimana penerapan model pembelajaran pembelajaran berbasis masalah (problem
based learning) pada salah satu materi matematika yaitu Program Linear ?
7. Bagaimana penerapan model pembelajaran pembelajaran berbasis masalah (problem
based learning) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa?
1.3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka
yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Sebagai bahan bacaan bagi pembaca tentang Model Pembelajaran Berbasis Masalah
(Problem Based Learning).
2. Menambah wawasan pembaca mengenai Model Pembelajaran Berbasis Masalah
(Problem Based Learning) dengan pendekatan saintifik.
3. Sebagai referensi tambahan bagi pembaca terutama guru tentang Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dapat meningkatkan
kemamapuan berpikir kreatif siswa dan penerapannya pada pembelajaran
matematika.
1.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah

(Problem Based

Learning)
Pendidikan pada abad ke-21 berhubungan dengan permasalahan baru yang ada
di dunia nyata. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
berkaitan dengan penggunaan inteligensi dari dalam diri individu yang berada dalam
sebuah kelompok orang, atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna,
relevan, dan kontekstual.
Hasil pendidikan yang diharapkan meliputi pola kompetensi dan inteligensi yang
dibutuhkan untuk berkiprah pada abad ke-21. Pendidikan bukan hanya menyiapkan masa
depan, tetapi juga bagaimana menciptakan masa depan. Nah, apakah sebenarnya Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) itu ?. Berikut akan dibahas
defenisi dari medel ini berdasarkan pendapat dari beberapa ahli.
Menurut Dewey (Trianto, 2011:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi
antara stimulus dengan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan
lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah,
sedangkan otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang
dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya dengan baik.
Boud dan Feletti (Rusman, 2011:230) mengemukakan bahwa Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah inovasi yang paling
signifikan dalam pendidikan. Margetson (Rusman, 2011:230) mengatakan bahwa Model
Pembelajaran

Berbasis

Masalah

(Problem

Based

Learning)

membantu

untuk

meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang
terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif, serta memfasilitasi keberhasilan memecahkan
masalah, komunikasi, kerja kelompok, dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik
dibanding model lain.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menyajikan
masalah pada awal pembelajaran. Pembelajaran ini efektif untuk diterapkan pada
pembelajaran matematika untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam mencapai
standar kemampuan matematika. Pembelajaran berbasis masalah sebagai suatu
8

pendekatan pembelajaran yang diawali dengan penyajian masalah yang dirancang dalam
konteks yang relevan dengan materi yang akan dipelajari untuk mendorong siswa:
memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep, mencapai berpikir kritis, memiliki
kemandirian belajar, keterampilan berpartisipasi dalam kerja kelompok, dan kemampuan
pemecahan masalah (Permana dan Sumarmo dalam Hoiriyah, 2014).
Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu pembelajaran yang berpusat
pada siswa dan guru sebagai fasilitator. Savery (2006:12) menyatakan bahwa : PBL is
an instructional (and curricular) learner-centered approach that empowers learners to
conduct research, integrate theory and practice, and apply knowledge and skills to
develop a viable solution to a defined problem.
Dalam pembalajaran

berbasis

masalah ini

siswa juga dikembangkan

kemampuannya dalam berfikir tingkat tinggi yang dibutuhkan dalam pembelajaran


matematika. Hal ini sejalan dengan pendapat Arends (Trianto, 2011:92) bahwa
pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa
mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyususn pengetahuan
mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi,
mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri. Manfaat dari pembelajaran berbasis
masalah (problem based learning) ini juga dijelaskan oleh Ibrahim dan Nur (Trianto,
2011:96) yaitu pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa
mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual;
belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata
atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah model pembelajaran
yang diawali dengan pemberian masalah nyata kepada peserta didik dimana masalah
tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta didik. Selanjutnya
peserta didik menyelesaikan masalah tersebut untuk menemukan konsep dan pengetahuan
baru. Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan menyajikan kepada peserta didik suatu
situasi masalah yang autentik dan bermakna serta menuntun kepada mereka untuk
melakukan penyelidikan dan inkuiri dalam menenukan solusi dari masalah yang
diberikan.

2.2. Teori Belajar yang Melandasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah


(Problem Based Learning)
Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana
terjadinya belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam pikiran peserta didik. Ada
beberapa teori belajar yang melandasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem
Based Learning) sebagai berikut :
1. Teori Belajar Konstruktivisme
Dari segi pedagogis, Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning) didasarkan pada teori konstruktivisme dengan ciri (Rusman, 2011:231):
a. Pemahaman diperoleh dari interaksi dengan skenario permasalahan dan lingkungan
belajar.
b. Pergulatan dengan masalah dan proses inquiry masalah menciptakan disonansi
kognitif yang menstimulasi belajar.
c. Pengetahuan terjadi melalui proses kolaborasi negoisasi sosial dan evaluasi terhadap
keberadaan sebuah sudut pandang.
2. Teori Belajar dari Piaget
Piaget menegaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara
terus menerus berusaha ingin memahami dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahu ini,
menurut Piaget dapat memotivasi mereka untuk secara aktif membangun tampilan dalam
otak mereka mengenai lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh
semakin dewasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan bahasa dan memori, tampilan
mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Sementara itu, pada
semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka dan
memotivasinya untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan
lingkungan itu.
3. Teori Belajar Bermakna dari David Ausubel
Suparno (Rusman, 2011:244) mengatakan bahwa Ausubel membedakan antara
belajar bermakna (meaningfull learning) dengan belajar menghafal (rote learning).
Belajar bermakna merupakan proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan
struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar. Belajar
10

menghafal, diperlukan bila seseorang memperoleh informasi baru dalam pengetahuan


yang sama sekali tidak berhubungan dengan yang telah diketahuinya. Kaitannya dengan
model pmbelajaran berbasis masalah dalam hal mengaitkan informasi baru dengan
struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.
4. Teori Belajar Vigotsky
Perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan
pengalaman baru dan menantang serta ketika mereka berusaha untuk memecahkan
masalah yang dimunculkan. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu berusaha
mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya kemudian
kemudian membangun pengertian baru. Ibrahim dan Nur dalam Rusman (2011:244)
Vigotsky meyakini bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide
baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Kaitannya dengan model
pembelajaran berbasis masalah (PBL) dalam hal mengaitkan informasi baru dengan
struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa melalui kegiatan belajar dalam interkasi
sosial dengan teman lain.
5. Teori Belajar Jerome S. Bruner
Metode penemuan merupakan metode dimana siswa menemukan kembali,
bukan menemukan yang sama sekali benar-benar baru. Belajar penemuan sesuai dengan
pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dengan sendirinya memberikan hasil
yang lebih baik, berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta didukung oleh
pengetahuan yang menyertainya, serta menghasilkan pengetahuan yang benar-benar
bermakna (Dahar dalam Rusman, 2011:245).
Bruner juga menggunakan konsep scaffolding dan interaksi sosial di kelas
maupun di luar kelas. Scaffolding adalah suatu proses untuk membantu siswa
menuntaskan masalah tertentu melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan
guru, teman atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.
Kaitan intelektual antara pembelajaran penemuan dan belajar berbasis masalah
sangat jelas. Pada kedua model ini, guru menekankan keterlibatan siswa secara aktif,
orientasi induktif lebih ditekankan dari pada deduktif, dan siswa menentukan atau
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pada belajar berbasis masalah atau penemuan,
guru mengajukan pertanyaan atau masalah kepada siswa dan memperbolehkan siswa
untuk menemukan ide dan teori mereka sendiri.
11

2.3. Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


Sintaks suatu pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan
oleh guru dan siswa dalam suatu kegiatan belajar mengajar. Menurut Ibrahim (Trianto,
2011:97), di dalam kelas yang melaksanakan pembelajaran berbasis masalah (PBL),
peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas PBL antara lain
sebagai berikut:
a. Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu
masalah kehidupan nyata sehari-hari,
b. Menfasilitasi/ membimbing penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau
melakukan eksperimen/percobaan,
c. Memfasilitasi dialog siswa, dan
d. Mendukung belajar siswa.
Pada pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 (lima) langkah utama yang
dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan
penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Kelima langkah tersebut dijelaskan oleh Samosir
dan Siahaan (2014) dalam tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1. Lima Langkah Pokok Pembelajaran Berdasarkan Masalah
No
.

Langkah

Orientasi siswa
pada masalah

Mengorganisasikan
siswa belajar

Membantu
penyelidikan
individual dan
kelompok

Kegiatan Guru
1.Menginformasikan kompetensi dasar
2.Menciptakan lingkungan kelas yang menungkinkan
terjadi pertukaran ide secara terbuka
3.Mengarahkan siswa pada pertanyaan atau masalah
4.Mendorong siswa mengekspresikan ide-ide secara
terbuka
1.Membantu siswa menemukan konsep berdasarkan
masalah
2.Mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi
3.Menguji pemahaman siswa atas konsep yang
ditemukan
1.Memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam
memecahkan masalah
2.Memberikan scaffolding
3.Mendorong kerja sama menyelesaikan tugas-tugas
4.Mendorong dialog berdiskusi dengan teman-teman
5.Membantu siswa mendefenisikan dan
mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang
berkaitan dengan masalah
12

6.Membantu siswa dalam menemukan hipotesis


7.Membantu siswa dalam memberikan solusi
4

Mengembangkan dan
1.Membimbing siswa mengerjakan LKS
menampilkan hasil
2.Membimbing siswa menyajikan hasil kerja
kerja
1.Membantu siswa mengkaji ulang hasil pemecahan
Menganalisis dan
masalah
mengevaluasi proses 2.Memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan
pemecahan masalah
masalah
3.Mengevaluasi materi akademik
Dalam pembelajaran PBL, Kegiatan pembelajaran dimulai dengan pemberian

masalah yang autentik. Kriteria dari masalah autentik tersebut yaitu merupakan masalah
yang berangkat dari lingkungan budaya siswa, bermanfaat, terkait materi, dan
mengundang ketertarikan siswa. Langkah-angkah yang akan dilalui oleh siswa dalam
sebuah proses PBL (Rusman, 2011:243) adalah : (1) menemukan masalah, (2) mendefinisikan masalah, (3) mengumpulkan fakta, (4) membuat hipotesis, (5) penelitian, (6)
repharsing masalah, (7) menyuguhkan alternatif, dan (8) mengusulkan solusi.
Sistem sosial yang perlu disiapkan dalam proses PBL adalah sistem sosial yang
terbuka dan flexible (luar atau dalam kelas), menggunakan proses demokrasi, komunikasi
transaksional dalam kompetensi/ penagihan tugas, dapat berupa kelompok kolaboratif dan
kooperatif, dan toleransi terhadap keberagaman. Lingkungan belajar PBL menekankan
pada peran sentral siswa bukan pada guru.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) memiliki
beberapa keunggulan dan kelemahan sebagai berikut : (Ahsan, Arfiyadi,2012)
Keunggulan
a. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untukmenemukan
pengetahuan baru bagi siswa.
c. Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Dapat membantu siswa bagaimana mentranfer pengetahuan mereka untukmemahami
masalah dalam kehidupan nyata.
e. Dapat membantu siswa untuk

mengembangkan

pengetahuan

barunya

dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.


f. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
g. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir lebih kritis dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan.
13

h. Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang


mereka miliki dalam dunia nyata.
i. Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajarsekalipun
belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
j. Dapat membentuk siswa untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi,yang
dibarengi dengan kemampuan inovatif dan sikap kreatif akan tumbuhdan
berkembang.
k. Dengan
model

pembelajaran

berbasis

masalah,

kemandirian

siswa

dalam belajar akan mudah terbentuk, yang pada akhirnya akan menjadi kebiasaandal
am menyelesaikan berbagai permasalahan yang ditemuinya dalamaktivitas
kehidupan nyata sehari-hari ditengah-tengah masyarakat.

Kelemahan
a. Manakala

siswa

tidak

memiliki

minat

atau

tidak

mempunyai

kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka ak
anmerasa enggan untuk mencoba.
b. Keberhasilan model pembelajaran

PBL

ini

membutuhkan

cukup

waktu

untuk persiapan dan pelaksanaannya.


c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalahyang
sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang merekaingin pelajari

2.4. Pendekatan dalam Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah


(Problem Based Learning)
Pendekatan yang di sarankan dalam pelaksanaan kurikulum 2013 saat ini adalah
pendekatan Scientific (Saintifik). Model pembelajaran berbasis masalah (problem based
learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan
saintifik.
Langkah-langkah pada pendekatan saintifik merupakan bentuk adaptasi dari
langkah-langkah ilmiah pada sains. Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu
proses ilmiah, karenanya Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan saintifik
dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan
pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan
atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan
14

pelararan induktif (inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif


(deductiv reasoning).
Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan
yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik
untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif
menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi ide yang lebih luas. Metode ilmiah
umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk
kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik
investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru,
atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya.
Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis
pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsipprinsip penalaran yang spesifik. Metode ilmiah pada umumnya memuat serangkaian
aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau
data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.
Ada lima kegiatan utama di dalam proses pembelajaran menggunakan
pendekatan saintifik, yaitu:
1. Mengamati
Mengamati merupakan metode yang mengutamakan kebermaknaan proses
pembelajaran (meaningfull learning). Kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses
mengamati adalah membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat).
Kompetensi yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, mencari
informasi
2. Menanya
Menanya merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan cara
mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau
pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai
dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Kompetensi yang
dikembangkan adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan
merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
15

3. Mengumpulkan Informasi/Eksperimen
Mengumpulkan informasi/eksperimen merupakan kegiatan pembelajaran yang
berupa

eksperimen,

membaca

sumber

lain

selain

buku

teks,

mengamati

objek/kejadian/aktivitas, dan wawancara dengan narasumber. Kompetensi yang


dikembangkan

dalam

proses

mengumpulkan

informasi/

eksperimen

adalah

mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan
berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara
yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
4. Mengasosiasikan/Mengolah Informasi
Mengasosiasikan/mengolah informasi merupakan kegiatan pembelajaran yang
berupa pengolahan informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan
mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan
mengumpulkan

informasi.

Kompetensi

yang

dikembangkan

dalam

proses

mengasosiasi/mengolah informasi adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat


aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif
serta deduktif dalam menyimpulkan.
5. Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan

merupakan

kegiatan

pembelajaran

yang

berupa

menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan,


tertulis, atau media lainnya.

Kompetesi yang dikembangkan dalam tahapan

mengkomunikasikan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan


berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan
mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

2.5. Strategi dalam Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based


Learning)
Untuk mengajarkan kecakapan berpikir kritis siswa khususnya dalam mata
pelajaran matematika sangat perlu di cari model maupun strategi pembelajaran yang
16

sesuai untuk itu. Model Belajar Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning/PBL)
dan strategi pada pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) tampaknya dapat
diterapkan dalam pembelajaran matematika untuk mencapai tujuan belajar siswa dan
melatih kecakapan berpikir kritis siswa.
Model PBL memiliki ciri siswa bekerja sama antara satu dengan lainnya dalam
bentuk berpasangan atau berkelompok untuk bersama-sama memecahkan masalah yang
dihadapi. Dalam belajar berkelompok, siswa akan termotivasi secara berkelanjutan
terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan berpeluang untuk berdialog dalam
mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir. Model PBL sangat baik
dipasangkan dengan startegi kooperatif. Hal ini mendukung Hereid (2000); Gilbert and
Driscooll (2002); Rindell (1999) dalam Bagus (2006) mengemukakan bahwa PBL sangat
penting dipasangkan dengan strategi pembelajaran kooperatif karena dapat memacu
kecepatan peningkatan kemampuan berpikir siswa.
Strategi pembelajaran kooperatif menyediakan situasi agar siswa bekerja sama
antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Oleh karena itu pembelajaran
kooperatif dapat melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah secara bersamasama. Tejada (2002) mengemukakan pembelajaran kooperatif dapat memberikan
dukungan agar siswa belatih berpikir dengan bantuan orang lain. Dumas (2003)
mengemukakan pembelajaran kooperatif memberikan jalan bagi semua anggota
kelompok untuk meningkatkan kecakapan berpikir tingkat tinggi, seperti kecakapan
analistis, sintesis, elaborasi, memecahkan masalah, berpikir alternatif, dan kecakapan
berbahasa.
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang
dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin
(dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan
merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai
menggunakan pembelajaran kooperatif. Student Team Achievement Divisions (STAD)
adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan
dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat
kinerjanya, jenis kelamin dan suku.
Guru menyajikan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam tim untuk
memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya
seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh
saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran
17

matematika. Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan


Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk
saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna
mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan
informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau
teks.
Tahap Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD ini didasarkan pada
langkah-langkah kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase dalam
pembelajaran tipe STAD disajikan oleh Ibrahim (Trianto, 2011:71) dalam tabel berikut:
Tabel 2.2. Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Fase

Kegiatan Guru

Fase 1

Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin

Menyampaikan tujuan

dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi

dan memotivasi siswa


Fase 2

siswa belajar
Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan

Menyajikan/

mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan

menyampaikan informasi
Fase 3

Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya

Mengorganisasikan siswa

membentuk kelompok belajar dan membantu setiap

dalam kelompok-

kelompok agar melakukan transisi secara efisien

kelompok belajar
Fase 4

Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat

Membimbing kelompok

mereka mengerjakan tugas mereka

bekerja dan belajar


Fase 5

Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah

Evaluasi

diajarkan atau masing-masing kelompok

Fase 6

mempresentasikan hasil kerjanya


Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya

Memberikan

maupun hasil belajar individu dan kelompok

penghargaan

18

Materi Matematika yang Relevan dengan STAD. Materi-materi matematika yang


relevan dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions
(STAD) adalah materi-materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep
dasar dan tidak memerlukan penalaran yang tinggi dan juga hapalan. Dengan penyajian
materi yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe
STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa.

2.6. Kemampuan Berpikir Kreatif


Berpikir kreatif adalah suatu proses berpikir yang menghasilkan bermacammacam kemungkinan jawaban. Dalam pemecahan masalah apabila menerapkan berpikir
kreatif, akan menghasilkan banyak ide-ide yang berguna dalam menemukan penyelesaian
masalah.
Pehkonen (1997: 65) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai kombinasi antara
berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tapi masih dalam
kesadaran. Ketika seseorang menerapkan berpikir kreatif dalam suatu praktek pemecahan
masalah, pemikiran divergen menghasilkan banyak ide yang berguna dalam
menyelesaikan masalah. Dalam berpikir kreatif dua bagian otak akan sangat diperlukan.
Keseimbangan antara logika dan kreativitas sangat penting. Jika salah satu menempatkan
deduksi logis terlalu banyak, maka kreativitas akan terabaikan. Dengan demikian untuk
memunculkan kreativitas diperlukan kebebasan berpikir tidak di bawah kontrol dan
tekanan.
Silver (1997: 76) menjelaskan bahwa menggunakan masalah terbuka dapat
memberi siswa banyak sumber pengalaman dalam menafsirkan masalah, dan mungkin
pembangkitan solusi berbeda dihubungkan dengan penafsiran yang berbeda. Siswa tidak
hanya dapat menjadi fasih dalam membangkitkan banyak masalah dari sebuah situasi,
tetapi mereka dapat juga mengembangkan fleksibilitas dengan mereka membangkitkan
banyak solusi pada sebuah masalah. Melalui cara ini siswa juga dapat dikembangkan
dalam menghasilkan pemecahan yang baru.

19

Silver (1997: 76) menjelaskan komponen berpikir kreatif dalam pemecahan


masalah pada tabel berikut :
Tabel 2.3. Komponen Berpikir Kreatif dan Pemecahan Masalah Pemecahan Masalah
Siswa

Pemecahan Masalah
menyelesaikan
masalah

Komponen Berpikir Kreatif


dengan

bermacam-macam solusi dan jawaban.


Siswa menyelesaikan (menyatakan) dalam satu
cara kemudian dalam cara lain.
Siswa memeriksa jawaban dengan berbagai
metode penyelesaian dan kemudian membuat

Kefasihan (fluency)
Fleksibilitas (flexibility)

Kebaruan (novelty)

metode yang baru yang berbeda.


Berpikir kreatif dalam hal ini adalah kemampuan siswa dalam menghasilkan
banyak kemungkinan jawaban dan cara dalam memecahkan masalah. Kemampuan
berpikir kreatif dapat diukur dengan fleksibilitas, kebaruan, dan kefasihan. Fleksibilitas
yaitu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda.
Kebaruan yaitu kemampuan siswa dalam membuat berbagai jawaban yang berbeda dan
benar dalam memecahkan masalah. Jawaban yang berbeda yaitu jawaban-jawaban yang
diperoleh tidak sama dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Kefasihan yaitu
kemampuan siswa dalam membuat jawaban yang beragam dan benar dalam memecahkan
masalah. Jawaban yang beragam yaitu jawaban yang diperoleh tidak sama dan
membentuk pola tertentu. Contoh Tentukan dua bilangan yang jumlahnya 5. Jika
jawaban siswa berpola 1+4, 2+3, 3+2, 4+1, dan seterusnya, maka jawaban tersebut

memenuhi kefasihan tetapi tidak memenuhi kebaruan. Jika jawaban siswa

1
1
+4
2
2

8 +(-3), 0,25 + 4,25, dan seterusnya, maka jawaban tersebut tidak berpola dan memenuhi
kebaruan sekaligus kefasihan.

20

BAB III
PENERAPAN PBL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

3.1. Penerapan Model Pembelajaran PBL Pada Materi Program Linier


Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan
Pendekatan Saintifik dan Strategi Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division
(STAD) Pada Proses Pembelajaran.
Dari teori yang telah di uraikan pada BAB II mengenai langkah-langkah untuk
masing-masing model, pendekatan, dan strategi, maka proses pembelajaran yang
menggunakan model pembelajaran PBL dengan pendekatan saintifik dan strategi STAD
dapat disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Proses
Pembelajara
n
Pendahuluan

Kegiatan Inti

Model
Problem Based
Learning (PBL)

Orientasi siswa
pada masalah
Mengorganisasikan
siswa belajar

Membantu
penyelidikan
individual dan
kelompok
Mengembangkan
dan
menampilkan hasil
kerja
Menganalisis dan
mengevaluasi proses
pemecahan masalah
Penutup

Strategi
Kooperatif Tipe
STAD
Fase 1 : Menyampaikan
tujuan dan memotivasi
siswa
Fase 2 : Menyajikan/
menyampaikan
informasi
Fase 3 : Mengorganisasikan siswa dalam
kelompok-kelompok
belajar
Fase 4 : Membimbing
kelompok bekerja dan
belajar
Fase 5 : Evaluasi

Pendekatan
Saintifik

Mengamati

Menanya

Mengumpulkan
Informasi

Mengasosiasi/
Mengolah
Informasi
Mengkomunikasikan

Fase 6 : Memberikan
penghargaan
21

Materi Program Linear


1. Dalam permasalahan program linear dikenal dua istilah , yaitu :
a. Fungsi Kendala/ pembatas, berupa pertidaksamaan pertidaksamaan linear
ax by 0;ax by p;ax by 0;ax by 0
b. Fungsi/ bentuk objektif, berupa fungsi linear z ax by
2. Terkait bentuk objektif, biasanya yang dicari adalah memaksimalkan atau
meminimalkan nilai z ax by yang secara singkat disebut mengoptimalkan.
3. Langkah dalam menentukan nilai optimum adalah:
a. Gambar garis dari semua fungsi kendala yang ada (jika persamaan garis belum
ada maka harus dicari dahulu)
Cara Menentukan Persamaan garis :
Jika titik potong dg sb-Xnya (p, 0) dan titik potong dg sb-Ynya (0, q); maka
persamaan garisnya adalah q x + p y = p.q
(untuk ruas kiri hanya saling tukar saja, dan untuk ruas kanan kalikan saja)
b. Tentukan daerah penyelesaian yang memenuhi syarat fungsi kendala (jika belum
ada).
c. Tentukan titik titik fisible, yaitu titik sudut dari daerah penyelesaian (jika belum
ada).
d. Periksa nilai bentuk objektif z ax by pada titik titik fisible tersebut
Catatan :

Untuk memeriksa nilai Z pada titik titik fisible, jangan diperiksa semua, pilih saja
sesuai permintaan, dengan asumsi :
i.

Jika pada z ax by nilai a b dan masalahnya adalah memaksimalkan, maka


periksa saja titik titik yang nilai x-nya besar, dan sebaliknya jika masalahnya

ii.

meminimalkan maka periksa saja nilai Z dari titik titik yang nilai x-nya kecil.
Jika pada z ax by nilai a b dan masalahnya adalah memaksimalkan, maka
periksa saja titik-titik yang nilai y-nya besar, dan sebaliknya jika masalahnya
meminimalkan maka periksa saja nilai Z dari titik titik yang nilai y-nya kecil

e. Pilih nilai Z yang sesuai dengan permintaan (yang paling besar/ maksimal atau
yang paling kecil/ minimal).

3.2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
22

Satuan Pendidikan
Kelas/ Semester
Mata Pelajaran
Materi Pokok
Alokasi Waktu

: SMA NEGERI
: XI / I
: Metematika
: Program Linear
: 2 x 45 menit (1 kali pertemuan)

A. Kompetensi Inti
KI.1.
KI.2.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya


Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,

peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan
alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.
KI.3.
Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
procedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4.
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri,
dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
1.1.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

2.1. Memiliki motivasi internal, kemampuan bekerja sama, konsisten, sikap disiplin,
rasa percaya diri, dan sikap toleransi dalam perbedaan strategi berfikir dalam
memilih dan menerapkan strategi menyelesaikan masalah.
2.1.1 Kerjasama, kritis dalam proses pemecahan masalah sehari-hari yang
berkaitan dengan sistem persamaan dan pertidaksamaan linier dua
variabel.
2.3. Menunjukan sikap tanggung jawab, rasa ingin tahu, jujur dan prilaku peduli
lingkungan.
23

3.1. Mendiskripsikan konsep sistim persamaan dan pertidaksamaan linear dua


variabel dan menerapkannya dalam pemecahan masalah program linear.
3.1.1 Mengingatkan kembali pertidaksamaan linear dua variabel
3.1.2 Mengarahkan bagaimana membentuk Model Matematika dari masalah nyata
3.1.3 Menentukan nilai optimum dari suatu fungsi objektif.
4.1

Merancang dan mengajukan masalah nyata berupa masalah program linear, dan
menerapkan berbagai konsep dan aturan penyelesaian sistim pertidaksamaan
linear dan menentukan nilai optimum dengan menggunakan fungsi selidik yang
ditetapkan.
4.1.1 Menggambarkan model matematika (sistim Pertidaksamaan linear dua
variabel) pada diagram Cartesius

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui

proses

pengamatan,

bertanya,

mengumpulkan

informasi,

bernalar/

mengasosiasi dan diskusi, peserta didik dapat:


2.1.1.1 Mengembangkan sikap kerjasama dan kritis dalam kegiatan kelompok
maupun individu selama proses pembelajaran.
3.1.1.1 Mengingat dan memahami tentang pertidaksamaan linear dua variabel.
3.1.2.1 Memahami dan menjelaskan bagaimana membuat model matematika dari
masalah nyata.
3.1.3.1 Mengetahui bagaimana menentukan nilai optimum dari suatu fungsi.
4.1.1.1 Menggambarkan model matematika (sistim Pertidaksamaan linear dua
variabel) pada diagram Cartesius.
D. Materi Pembelajaran
Program Linear
Sistim persamaan dan pertidaksamaan linear dua variabel
Membuat model matematika dari sebuah kasus nyata
Menggambarkan grafik dari sistim pertidaksamaan
Menentukan nilai optimum dari suatu fungsi

E. Metode Pembelajaran
1. Pendekatan

: Saintifik

2. Model Pembelajaran
3. Strategi

: Problem Based Learning (PBL)


: STAD
24

F. Alat/Media/Sumber Belajar
1. Alat/Bahan

: Penggaris

2. Media

: Kertas milimeter blok, laptop dan LCD

3. Sumber Belajar :
a. Matematika : Buku Siswa Kelas XI, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2014
b. Matematika : Buku Guru Kelas XI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2014
c. Internet
G. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Pendahuluan

Mengamati

Alokasi
waktu
1. Memimpin doa (Meminta seorang siswa untuk 15 menit
memimpin doa)
2. Mengecek kehadiran siswa dan meminta siswa
untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan
yang diperlukan, misalnya buku siswa.
3. Mengingatkan kembali cara menyelesaikan
pertidaksamaan linear dengan metode gerafik.
4. Siswa menerima informasi tentang pembelajaran
yang akan dilaksanakan dengan materi yang
memiliki keterkaitan dengan materi sebelumnya.
5. Siswa menerima informasi tentang kompetensi,
ruang lingkup materi, tujuan, manfaat, dan langkah
pembelajaran
serta metode yang akan
dilaksanakan
Kegiatan Inti
55 Menit
Fase 1
Orientasi siswa pada masalah
Deskripsi Kegiatan

Pada awal pembelajaran, guru memberikan satu


masalah kehidupan sehari-hari kepada siswa yang
berkaitan dengan materi program linear dan
menentukan nilai optimum dari suatu fungsi objektif.
Masalah:
Seorang penjahit membuat 2 jenis pakaian untuk
dijual, pakaian jenis I memerlukan 2 m katun dan 4
25

Kegiatan

Menanya

Mengumpulkan
informasi

Deskripsi Kegiatan

Alokasi
waktu

m sutera, dan pakaian jenis II memerlukan 5 m katun


dan 3 m sutera. Bahan katun yang tersedia adalah 70
m dan sutera yang tersedia 84 m. Pakaian jenis I
dijual dengan laba Rp.25.000,- dan pakaian jenis II
dijual dengan laba Rp. 50.000,-. Buatlah model
matematika dari soal diatas dan berapakah
keuntungan maksimum yang dapat diperoleh penjahit
tersebut?
Fase II
Mengorganisasikan siswa belajar
1. Melalui pengamatan siswa diminta mengamati
dan menalar masalah di atas.
2. Siswa diminta mendiskusikan batasan-batasan dan
tujuan dari masalah tersebut.
3. Memfasilitasi siswa untuk menanyakan hal-hal
yang belum dipahami terkait dengan masalah
yang diberikan
4. Memancing peserta didik untuk bertanya terkait
dengan masalah di atas, kaitannya degan
pertidaksamaan linier. misalnya:
a. Apakah dari permasalahan di atas dapat
dituangkan dalam bentuk tabel?
b. Apakah dari data pada tabel tersebut dapat
dibetuk pertidaksamannya?
c. Ada berapa buah pertidaksaman yang
terbentuk?
Fase III
Membantu penyelidikan individual dan kelompok
1. Guru membagi siswa dalam kelompok belajar dan
membagikan LAS.
2. Kelompok yang dibentuk merupakan kelompok
heterogen yang beranggotakan 4-6 orang.
3. Secara berkelompok siswa mendiskusikan
pertidaksamaan yang dibuat dari masalah awal
yang diiberikan.
4. Secara berkelompok siswa mendiskusikan tedapat
berapa varibel dan berapa pertidaksamaan.
5. Guru memberikan scaffolding kepada siswa
dengan memberikan pertanyaan :
a. Apakah mungkin panjang kain itu dalam
bentuk negatif?
26

Kegiatan

Mengasosiasi/
Mengolah
Informasi

Mengkomunikasikan

Deskripsi Kegiatan

Alokasi
waktu

b. Syarat apa yang harus ada untuk masingmasing variabelnya?


Fase IV
Mengembangkan dan menampilkan hasil kerja
1. Secara kelompok siswa mediskusikan cara
menggambarkan model matematika yang mereka
temukan ke dalam bentuk grafik.
2. Guru memfasilitasi siswa untuk mengarahkan
siswa kepada kesimpulan untuk simbol
pertidaksamaan pada target maksimum atau
minimum.
3. Siswa bersama kelompoknya saling berdiskusi
dalam menyelesaikan masalah pada LAS yang
diberikan.
4. Setelah siswa selesai mengerjakan LAS yang
diberikan, guru meminta satu kelompok untuk
menyajikan hasil diskusi mereka terhadap
masalah awal yang diberikan.
5. Satu kelompok menjadi penyaji dan kelompok
lainnya memberikan tanggapan terhadap hasil
diskusi dari kelompok penyaji.
Fase V
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan
masalah

Penutup

1. Setelah persentasi kelompok dan tanya jawab


antar siswa selesai. Guru bersama siswa
menganalisis jawaban apakah sudah sesuai dengan
yang ditanyakan.
2. Guru bersama dengan siswa memeriksa proses
penyelesaian masalah yang disajikan.
1. Siswa merefleksi penguasaan materi yang telah 20 menit
dipelajari dengan membuat catatan penguasaan
materi.
2. Siswa bersama dengan guru menyimpulkan
materi yang dipelajari pada proses pembelajaran.
3. Guru memberikan penghargaan berupa nilai plus
dan applause kepada individu dan kelompok yang
berperan aktif dalam pembelajaran.
4. Guru memberikan arahan kepada siswa untuk
27

Kegiatan

Alokasi
waktu

Deskripsi Kegiatan
materi pada pertemuan berikutnya

H. Penilaian Hasil Belajar


a. Teknik dan Instrumen Penilaian:
Penilaian Sikap : observasi terhadap perilaku siswa
Penilaian Pengetahuan : tes tertulis dan tes lisan
Penilaian Keterampilan : unjuk kerja
b. Prosedur Penilaian:
Aspek yang dinilai
Sikap

Teknik
Penilaian
Observasi

a.
b.

Waktu Penilaian
Selama proses

Disiplin dalam kegiatan pembelajaran


Bekerjasama dalam kegiatan diskusi
kelompok dan presentase
c. Bertanggung jawab dalam kegiatan
pembelajaran dan melaksanakan tugas yang
diberikan
d. Toleransi terhadap perbedaan dalam
kegiatan diskusi kelompok, persentase, dan
tanya jawab,
Pengetahuan

pembelajaran

Tes lisan dan

Saat proses

a. Memahami pertidaksamaan linear dua

Tes tertulis

pembelajaran

berlangsung

variabel
b. Membuat model matematika dari masalah

berlangsung dan
Tes tertulis pada

nyata
c. Menentukan nilai optimum dari suatu fungsi

akhir proses

Keterampilan

Penilaian

pembelajaran.
Presentase

a. Keterampilan siswa dalam menyajikan hasil

Unjuk kerja

penyajian hasil

diskusi dalam bentuk presentase di kelas.


b. Kemampuan siswa menggambarkan model

dan Tugas

kerja dan

menggambar-

tugas tertulis

kan diagram

siswa.

matematika pada diagram cartesius

cartesius
28

Medan,

September 2015

Mengetahui
Kepala SMA Negeri,

Guru Mata Pelajaran,

______________________

______________________

NIP. .................................

NIP. ..................................

29

3.3. Lembar Aktivitas Siswa


LEMBAR AKTIFITAS SISWA (LAS)
Satuan Pendidikan
Mata Pelajaran
Kelas/ Semester
Pokok Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Alokasi Waktu

: SMA
: Matematika
: XI/ Ganjil
: Program Linear
: Menentukan Nilai Optimum dari Fungsi Objektif
: 2 x 45 menit

Kelompok
Nama

:
: 1.
2.
3.
4.
5.
Kelas
:
Petunjuk
:
1. Bacalah dengan teliti perintah yang akan dilaksanakan
2. Menyelesaikan soal dengan minimal 2 cara sesuai permintaan soal untuk
mendapatkan jawaban yang benar.
3. Isilah LAS sesuai hasil diskusi kelompokmu.
4. Menyelesaikan soal dengan proses yang benar.
5. Memunculkan ide baru dalam menyelesaikan soal.
SOAL
Seorang penjahit membuat 2 jenis pakaian untuk dijual, pakaian jenis I memerlukan 2 m
katun dan 4 m sutera, dan pakaian jenis II memerlukan 5 m katun dan 3 m sutera. Bahan
katun yang tersedia adalah 70 m dan sutera yang tersedia 84 m. Pakaian jenis I dijual
dengan laba Rp.25.000,00 dan pakaian jenis II dijual dengan laba Rp.50.000,00.
a. Tentukan model matematikanya
b. Gambarkan sistem pertidaksamaan linearnya dengan dua cara
c. Berapakah keuntungan maksimum yang diperoleh.
Jawab :

Jawab :
Cara 1.

Cara 2.

30

3.4. Penilaian
Instrumen Penilaian Tes Tertulis
INSTRUMENT TES TERTULIS
Satuan Pendidikan
: SMA
Kelas / Semester
: XI / 1
2
45
Alokasi Waktu:
menit
A. Tujuan
: Untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif siswa
B. Petunjuk :
1. Meminta siswa menyelesaikan soal minimal 2 cara sesuai permintaan soal untuk
mendapatkan jawaban yang benar.
2. Meminta siswa menyelesaikan soal dengan caranya sendiri.
3. Meminta siswa menyelesaikan soal dengan proses yang benar.
4. Meminta siswa memunculkan ide baru dalam menyelesaikan soal.
C. Soal

Perhatikan gambar berikut!


a. Buatlah sistem pertidaksamaan linearnya dengan dua
cara!
b. Buatlah soal ceritanya dan berapa keuntungan
minimumnya untuk jenis I labanya Rp.15.000 dan
jenis II labanya Rp.17.500.

Soal a
Jawab :

Cara 1.

Cara 2.

Soal b
Jawab :

31

Alternatif Penyelesaian Test Dan Rubrik Skor Kemampuan Berpikir Kreatif


KUNCI JAWABAN

SKOR

Diketahui : grafik pertidaksamaan linear


Ditnya
: a. sistem pertidaksamaan linear dengan dua cara
b. soal cerita dan keuntungan maksimum dengan fungsi
objektif f(x,y) = 15.000x + 17.500y

Elaborasi (4)

Penyelesaian
a. Sistem pertidaksamaan linear dengan dua cara
Cara 1
Persamaan garis melalui titik (a, 0) dan (0, b) dapat menggunakan rumus
bx + ay = ab, sehingga garis I mempunyai persamaan 4x+2y=8 karena
daerah arsiran dibawah garis maka persamaan menjadi pertidaksamaan
4 x +2 y 8 , untuk garis II mempunyai persamaan 3x+6y=18 karena
daerah

yang

diarsir dibawah garis maka


3 x+6 y 18 ,
pertidaksamaan
sehingga
pertidaksamaannya 4 x +2 y 8 , 3 x+6 y 18 ,

persamaan

menjadi

diperoleh

sistem

x 0, y 0

Cara 2
Menggunakan persamaan garis pada dua titik
yaitu
y y 1 x x1
=
y 2 y 1 x 2x 1

Kefasihan (8)

(x 1 , y 1) ,

( x 2 , y 2)

sehingga dari garis I diperoleh

Originalitas
(4)

x 1=2 ;

x 2=0
y 1=0

y 2=4

Maka persaman menjadi

y 0 x2
=
40 02
y x2
=
4 2

-2y = 4(x-2)
32

4x + 2y = 8
Karena garis diarsir kebawah maka persamaan menjadi
pertidaksamaan 4 x +2 y 8
Pada garis ke II diperoleh

x 1=6

x 2=0

y 1=0

y 2=3

Maka persamaan menjadi

y 0 x6
=
30 06
3=

sehingga -6y = 3(x-6)

3 x+6 y 18

Diperoleh
Sehingga

x6
6

sistem

3 x+6 y 18 ,

pertidaksamaan

yang

diperoleh

4 x +2 y 8 ,

x 0, y 0

Kefleksibelan
(4)

b. soal cerita dan keuntungan maksimum dengan fungsi objektif


f(x,y) = 15.000x + 17.500y
Ibu ingin membuat bakso dan empek-empek, untuk membuat bakso
memerlukan 4kg tepung roti dan 3kg tepung kanji, sedangkan empekempek memerlukan 2kg tepung roti dan 6kg tepung kanji. Tepung roti
yaitu tersedia hanya 8kg dan tepung kanji hanya 18kg.
Maka banyak bakso dan empek-empek yang dibuat ibu agar penghasilan
minimum, dilakukan dengan melihat titik-titik pojok, sebelumnya dicari
titik potong kedua garis tersebut dengan cara eliminasi.
4 x +2 y=8

12 x +6 y=24

3 x+6 y =18

12 x +24 y =72

-18y = -48
y=2

2
3

; x=

2
3

33

2
8
Titik-titik yang diperoleh (2, 0), ( 3 , 3 ), (0, 3) dapat dilihat

dari soal yang diketahui grafiknya.


Fungsi objektif f(x,y) = 15.000x + 17.500y
Untuk (2, 0)

f(2, 0) = 15.000(2) + 17.500(0) = 30.000

2
8
Untuk ( 3 , 3 )

2
8
2
8
f( 3 , 3 ) = 15.000( 3 ) + 17.500( 3 ) =

57.000 (sudah dibulatkan)


Untuk (0, 3)

f(0, 3) = 15.000(0) + 17.500(3) = 52.500

Jadi ibu memperoleh penghasilan minimum adalah Rp.30.000,00


Nilai = skor yang diperoleh x 5
Misalkan nilai penuh, maka skor 20 x 5 = 100

34

Instrumen Penilaian Sikap


INSTRUMEN PENGAMATAN SIKAP SISWA
Tujuan :
Tujuan instrumen ini adalah untuk mengetahui sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran
matematika. Sikap yang diamati dalam kegiatan pembelajaran matematika adalah :
Disiplin, Kerjasama, Tanggung Jawab dan Toleransi Terhadap Perbedaan.
Indikator :
a. Menunjukkan sikap disiplin dalam kegiatan pembelajaran
b. Menunjukkan sikap bekerjasama dalam kegiatan diskusi kelompok
c. Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran dan
melaksanakan tugas yang diberikan
d. Menunjukkan sikap toleransi dalam kegiatan diskusi kelompok, persentase, dan
tanya jawab.
Rubrik:
Keterangan

: Skor 1 artinya kurang baik untuk sikap yang diamati


Skor 2 artinya cukup baik untuk sikap yang diamati
Skor 3 artinya baik untuk sikap yang diamati
Skor 4 artinya sangat baik untuk sikap yang diamati

Sikap
1
Disiplin

Cabut pada jam


pelajaran
matematika

Dengan sengaja
melanggar tata
tertib atau aturan
di sekolah

Bekerja
sama

Tidak pernah
mengikuti tugas
belajar dalam
kelompok
Tidak pernah
mengajukan ide
yanng baik dalam
pemecahan
masalah dalam
kelompok
Tidak pernah
membantu teman

Kriteria Penilaian Sikap


SKOR
2
3

Dengan sengaja
masuk terlambat
pada jam
pelajaran
matematika
Beberapa
peraturan sekolah
dilanggar.

Masuk ke kelas
sedikit terlambat

Berada di kelas

Mematuhi tata

Patuh pada tata


tertib atau aturan
di sekolah

Jarang mengikuti
tugas belajar dalam
kelompok,

Pernah tidak ikut


menyelesaikan
tugas belajar dalam
kelompok

Pernah sekali

Beberapa kali

mengajukan ide
yang baik dalam
pemecahan
masalah dalam
kelompok
Jarang membantu
teman dalam

mengajukan ide
yang baik dalam
pemecahan
masalah dalam
kelompok
Sering membantu
teman dalam

tertib atau aturan di


sekolah dan
melaksanakannya
dengan terpaksa

tepat waktu

dengan
melaksanakann
ya sepenuh hati
Menyelesaikan
tugas belajar
dalam kelompok
dengan benar
Sering
mengajukan ide
yang baik dalam
pemecahan
masalah dalam
kelompok
Selalu membantu
teman dalam

35

Tanggung
jawab

dalam
menyelesaikan
masalah
Tidak pernah
mengerjakan/men
gumpulkan tugas
sesuai dengan
waktu yang
ditentukan
Menyalahkan
orang lain atas
kesalahan yang
dilakukannya

menyelesaikan
masalah

menyelesaikan
masalah

menyelesaikan
masalah

Jarang
mengerjakan/meng
umpulkan tugas
sesuai dengan
waktu yang

Sering
mengerjakan/meng
umpulkan tugas
sesuai dengan
waktu yang

Siap menanggung
resiko atas
kesalahan yang
dilakukan, jika
guru telah
mengiterogasinya
Jarang menempati
janji

Siap menanggung
resiko atas
kesalahan yang
dilakukan dengan
terpaksa

Selalu
mengerjakan/men
gumpulkan tugas
sesuai dengan
waktu yang
ditentukan
Siap menanggung
resiko atas
kesalahan yang
dilakukan

Pernah
mengingkari janji

Selalu menepati
janji

Pendapat, saran
atau ide yang
diajukan
didasarkan atas
alasan-alasan yang
didengar dari
temannya
Bercerita dengan
temannya yang
lain, saat temannya
yang lain
menggajukan
pendapat

Pendapat, saran
atau ide yang
diajukan
didasarkan atas
alasan-alasan yang
dibuat-buat sendiri

Pendapat, saran
atau ide yang
diajukan
didasarkan atas
alasan-alasan
yang benar

Mendengarkan
teman saat
mengajukan
pendapat,
kemudian
menyorakinya

Mendengarkan
teman saat
mengajukan
pendapat

Sengaja
membuat
keributan saat
diskusi
kelas
sedang
berlangsung

Membuat
keributan karena
urusannya
dengan temannya
yang lain saat
diskusi
kelas
sedang
berlangsung

Sibuk
sendiri
walaupun tidak
membuat
keributan
saat
diskusi
kelas
sedang
berlangsung

Memberikan
perhatian penuh
saat
diskusi
kelas
sedang
berlangsung

Mengannggap
pendapat semua
temannya yang
lain sebagai bahan
tertawaan

Tidak mau
mendengarkan
pendapat temannya
yang lain

Menerima
pendapat teman
yang membangun
dengan terpaksa

Mampu
menerima
pendapat teman
yang membangun

Tidak pernah
menempati janji
dan sering
berbohong
Pendapat, saran
atau ide diajukan
asal ada saja

Toleransi
terhadap
perbedaan

Mengajak
temannya yang
lain untuk
membuat
keributan saat
temannya sedang
mengajukan
pendapat

36

LEMBAR PENGAMATAN SIKAP SISWA


Kelas

: XI

Hari, Tanggal

: Senin, 21 September 2015

Materi Pokok

: Program Linear

Petunjuk :
Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai sikap yang ditampilkan oleh peserta didik,
dengan kriteria yang diuraikan pada tabel rubrik penilaian sikap.

NO

Sikap

Nama
Siswa

Disiplin
1

1
2
3
4
5
6
7

Ana
Ani

Kerja Sama
4

Toleransi

Tanggung Jawab

Medan, 21 September 2015


Mengetahui
Kepala SMA Negeri,

Guru Mata Pelajaran,

______________________

______________________

NIP. ..............................

NIP. ...............................

37

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Ida Putu A., (2006), Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Inovatif Pada
Pelajaran Biologi Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMA. Jurnal
Pendidikan Dan Pengajaran Ikip Negeri Singaraja, No. 3 Th. xxxix Juli 2006.
ISSN 0215 8250. Hal 496-515
Hoiriyah, Diyah dkk, (2014), Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik
dan Self-Efficacy Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah Di MAN 1
Padangsidimpuan, Jurnal PARADIKMA, Vol. 7 Nomor 2, Hal. 40-45.
Rusman, (2011). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Rajawali Pers, Jakarta.
Saomsir, Katrina dan Sahat Siahaan, (2014), Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAP yang Berorientasi Pada Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pada
Matematika Diskrit 2, Jurnal PARADIKMA, Vol.7 Nomor 1. Hal. 12-23.
Savery, J. R, (2006), Overview of Problem-based Learning: Denitions and Distinctions,
Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning, Volume.1 Issue 1.
http://docs.lib.purdue.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1002&context=ijpbl
Trianto, (2011), Mendesain Model-Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Kencana
Prenada Media Group, Jakarta.

38