Anda di halaman 1dari 4

JOURNAL READING

Multiple Organ Dysfunction Syndrome, an


unusual complication of heroin intoxication: a
case report and review literature

Kelompok A-1 :
Ketua
Sekretaris
Anggota

: Rizky Agustian Hadi


: Nabillah
: Faiz Amali
Alif Caesar Rizqi Pratama
Jelsa Meida
Khalida Handayacita
Moch. Barliansyah Praja
Nindya Arafah Tiawan
Rizki Fitrianto
Ratih Laura Sabrina

(1102011238)
(1102010198)
(1102011094)
(1102012015)
(1102012137)
(1102012140)
(1102012165)
(1102012195)
(1102012251)
(1102012227)

Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi
2015-2016
Sindrom Disfungsi Multi Organ, Komplikasi yang jarang terjadi dari keracunan
Heroin : sebuah laporan kasus dan literatur review

Abstrak
Disini Dilaporkan kasus yang jarang terjadi yakni MODS melibatkan 6 organ yang
disebabkan oleh keracunan heroin . Pasien adalah seorang cina berumur 32 tahun dengan
komplikasi dari keracunan heroin berat yakni Edema Paru akut dan pernafasan yang
melambat, syok, kerusakan otot jantung dan jantung melambat, rhambdomiolisis dan gagal
ginjal akut, cedere liver akut, dan kerja hati menurun, Leukoencephalopathy Toxic, dan
hipoglikemia. Pasien ini berhasil diselamatkan dan dipulangkan setelah 10 minggu di rawat
secara intesif. Dugaan patogenesis dan langkah-langkah terapi pada MODS yang diinduksi
karena keracunan Heroin , berdasarkan Bukti kejadian dan literatur yang terkait ,
didiskusikan di laporan ini.

Presentasi kasus
Seorang Pria Cina berumur 32 Tahun ditemukan tidak sadarkan diri dan dibawa ke bagian
emergensi 3 jam setelahnya. Saat masuk, pasien terlihat sesak, ortopnea, pucat/sianosis,
berkeringat, dan keluar busa yang banyak, sputum bercampur darah. Pernafasan nya lambat
dengan RR: 6x/menit, suhu 37,1 , denyut nadi 114 per menit, tekanan darah 65/46
mmHg, bilateral pupil miosis (1.5mm) dan bereaksi lambat pada cahaya. Dia berada dalam
kondisi Koma dengan Glasgow Coma Score 3 poin. Ditemukan suara bubbling ralesdi kedua
lapang parunya pada pemeriksaan dada.
Dari hasil pemeriksaan Lab didapatkan pasien mengalami leukositosis, hipoglikemia, dan
elevasi dari myoglobin, troponin-l, NT-proBNP, CK, CK-MB, LDH, Serum cr, BUN, AST
dan ALT level pada darah (Tabel 1). Juga di observasi terdapat Myoglobinuria 3+ pada
pemeriksaan urinalisa. Pada pemeriksaan analisa gas darah mengalami asidosis berat (pH:
CO2
CO2
O
6.99), retensi
(Pa
: 70 mmHg), hipoksemia berat (Pa 2 : 35 mmHg), Sa
O2

: 61%(Tabel 2). Monoacetilmorphine dan morphine juga terdeteksi pada pemeriksaan

analisa Toxicological melalui urin.


Berdasarkan Hasil CT-Scan dada, terdapat infiltrat halus dan eksudat pada kedua paru,
kongesti interstitial, edema dan efusi pleura(Gambar 1A). Pada CT-Scan kepala, didapatkan
ekstensif simetric low attenuation melibatkan cerebellum, brain stem, ganglia basalisdan
white matter cerebral (Gambar 1B,1C). Sinus takikardi pada EKG. Dan tekanan vena sentral
12mmHg.

Pasien ini didiagnosis Keracunan Heroin berat dengan komplikasi yakni , Edema Paru akut
dan pernafasan yang melambat, syok, kerusakan otot jantung dan jantung melambat,
rhambdomiolisis dan gagal ginjal akut, cedere liver akut, dan kerja hati menurun,
Leukoencephalopathy Toxic, dan hipoglikemia.
Tindakan yang dilakukan pada pasien yakni dipasang ventilasi mekanik untuk mendukung
pernafasan dan endotracheal intubasi untuk nutrisi pasien. Untuk mengobati Hipoglikemia
pasien diberi sediaan bolus Glukosa 50% ( 50ml), dipasang pula infus berisi naloxone untuk
detoksifikasi, dopamin untuk memulihkan syok, serta sodium bikarbonat untuk membasakan
urin. Pasien juga diberi glicerol fruktosa dan albumin darah untuk mengobati edema cerebral
dan terapi hipotermi Mild. Terapi suportif dilakukan untuk menunjang fungsi organ seperti
hati, jantung, paru, ginjal dan otak.
Hari ke -2 berdasarkan (Tabel 2) Pernafasan dan sirkulasi pasien membaik dan vital sign
mulai stabil. Pada hari ke 7 level serum Myoglobin dan spektrum enzim myocardial kembali
normal. Dilakukan follow up pada dada tampak hasil bersih pada kedua lapang dada (gambar
1D).pada hari ke 14 Kadar Serum Cr, BUN, AST,ALT pasien kembali normal. Akhirnya GCS
pasien meningkatkan menjadi 10 poin. Kekuatan otot pada ke 4 anggota geraknya meningkat,
kekuatan tahanan pada tangan dan kakinya masing-masing 2/5 dan 3/5. Dilakukan
tracheotomy pada pasien karena pasien masih lebih lama membutuhkan ventilator mekanik. 3
minggu kemudian pasien semakin membaik dan fungsi respirasi nya kembali normal.
Akhirnya , ventilator mekanik dilepas. 10 minggu kemudian dilakukan follow up CT-scan
pada kepala, leukoencephalopathy membaik dan pasien boleh pulang.
Diskusi
MODS yang diinduksi oleh keracunan heroin yang mengakibatkan disfungsi pada 6 organ
jarang sekali dilaporkan. Ada bermacam hipotesis untuk patogenesis dari komplikasi ini,
termasuk Efek Utama dari heroin itu tersebut, hipoksia, cedera iskemia reperfusi, reaksi
anaphylactic. Diduga sebab terjadinya MODS pada kasus ini disebabkan depresi pernafasan
dan sirkulasi yang disebabkan karena keracunan heroin. Penyebab ini mengakibatkan edema
dan disfungsi karena iskemia dan hipoksia yang berefek langsung pada sintesis ATP di sel
yang mengakibatkan kerusakan membran sel, mitokondria, lisosom dan pada saat yang
bersamaan mengakibatkan sel mengalami kematian dan nekrosis. Hipoglikemia
mengakibatkan penurunan glikolisis anaerob dan mempercepat penurunan sintesis ATP pada
Hipoksia yang kemudian mengakibatkan kerusakan jaringan dan organ yang akhirnya
memicu MODS.
Kesimpulan
Komplikasi dari keracunan Heroin yang mengakibatkan MODS sangat jarang. Patogenesis
nya diduga disebabkan oleh efek utama dari heroin itu tersebut, hipoksi, cedera iskemmia
reperfusi. Menangani kegagalan sirkulasi dan pernafasan tepat waktu dan efektif untuk segera
memperbaiki keadaan iskemia dan hipoksia , support serta menjaga fungsi organ adalah kunci
terapi pendekatan untuk mencegah dan sukses mengobati pasien MODS akibat keracunan
heroin ini.