Anda di halaman 1dari 39

REFERAT

TUBERCULOSIS PADA ANAK

Disusun oleh:
Hana Christyanti (11-2011-209)
Pembimbing :
Dr. Afaf Susilawati, SpA

KEPANITERAAN KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

Penatalaksanaan TB pada anak


ILMU KESEHATAN ANAK RSUD KOJA
PERIODE 8 JUNI 2015- 15 AGUSTUS 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis.Umumnya TB menyerang paru-paru, sehingga disebut dengan TB paru. Tetapi
kuman TB juga bias menyebar ke bagian atau organ lain dalam tubuh, dan TB jenis ini lebih
berbahaya dari TB paru. Tuberkulosis anak mempunyai permasalahan khusus yang berbeda
dengan orang dewasa.Pada TB anak, permasalahan yang dihadapi adalah masalah diagnosis,
pengobatan pencegahan serta TB dengan keadaan khusus.
Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan di dunia.Berdasarkan laporan WHO,
Indonesia menempati urutan ketiga terbesar angka kejadian TB Cina dan India.Tuberkulosis
pada kehamilan merupakan masalah tersendiri karena selain mengenai ibu, juga dapat
menulari bayi yang dikandung atau dilahirkannya. Infeksi TB pada neonates dapat terjadi
melalui intrauterni, selama persalinan, maupun pasca natal oleh ibu pengidap TB aktif.
Kejadian TB congenital sangat jarang.Di seluruh dunia kasus TB congenital hanya tercatat
329 kasus. Gejala klinis TB pada neonates sulit dibedakan dengan sepsis bacterial umumnya,
dan hamper semua kasus meninggal karena keterlambatan diagnosis. Deteksi dini TB pada
neonates dan penanganan yang baik pada ibu dengan TB aktif akan memperkecil
kemungkinan terjadinya TB congenital atau TB pada neonates di kemudian hari.
Akhir tahun 1990-an, Wold Health Organization memperkirakan bahwa sepertiga
penduduk dunia (2 miliar orang) telah terinfeksi M.tuberculosis, dengan angka tertinggi di
Afrika, Asia, dan Amerika Latin.Tuberkulosis, terutama TB paru merupakan masalah yang
timbul tidak hanya di Negara berkembang tetapi juga di Negara maj8u.Tuberkulosis tetap
merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian.

Page 2

Penatalaksanaan TB pada anak


Bebeda dengan TB dewasa, gejala TB pada anak seringkali tidak khas.Diagnosis pasti
ditegakkan dengan menemukan kuman TB.Pada anak, sulit didapatkan specimen diagnostic
yang dapat dipercaya.Karena sulitnya mendiagnosis TB pada nanak, sering terjadi
overdiagnosis dan undertreatment. Hal tersebut terjadi karena sumber penyebaran TB
umumnya adalah orang dewasa dengan sputum basil tahab asan positif sehingga
penanggulangan TB ditekankan pada pengobatan TB dewasa. Akibatnya penanganan TB
anak kurang diperhatikan.1
1.2 Batasan Masalah
Referat ini membahas mengenai pathogenesis, diagnosis, dan penatalaksanaan TB pada
anak.
1.3 Tujuan Penulisan
Mengetahui pathogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan TB pada anak
1.4 Metode Penulisan
Referat ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang merujuk dari
berbagai literatur

Page 3

Penatalaksanaan TB pada anak

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang umum dan sering mematikan yang

disebabkan

oleh

mikobakterium,

biasanya

Mycobacterium

tuberculosis pada

manusia.Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru tetapi juga dapat mempengaruhi bagian


lain dari tubuh.Hal ini menyebar melalui udara, ketika orang yang memiliki penyakit batuk,
bersin, atau meludah. Kebanyakan infeksi pada manusia dalam hasil infeksi, asimtomatik laten,
dan sekitar satu dari sepuluh infeksi laten pada akhirnya berkembang menjadi penyakit aktif,
yang jika dibiarkan tidak diobati membunuh lebih dari setengah dari korban.3
Tatalaksana TB pada anak merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan antara
pemberian medikamentosa, penataan gizi, dan linkungan sekitarnya. Pemberian medikamentosa
tidak terlepas dari penyuluhan kesehatan kepada masyarakat atau kepada orang tua penderita
tentang pentingnya minum obat secara teratur dalam jangka waktu yang cukup lama, serta
pengawasan terhadap jadwal pemberian obat, keykinan bahwa obat di minum, dan sebagainya.
2.2

Epidemiologi
Sejak akhir tahun 1990-an, dilakukan deteksi terhadap beberapa penyakit yang kembali

muncul dan menjadi masalah, terutama di Negara maju, salah satunya adalah TB. WHO
memperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia (2 miliar orang), telah terinfeksi oleh M.
tuberkulosis, dengan angka tertinggi di Afrika, Asia, dan Amerika latin.1
Tuberkulosis masih merupakan penyebab utama kematian di Negara berkembang . Data
memperlihatkan bahwa penyakit ini paling terkonsentrasi di pusat-pusat kota metropolitan, disini

Page 4

Penatalaksanaan TB pada anak


presentase bermakna penduduk yang tinggal di lingkungan miskin yang memudahkan penularan
penyakit ini.4

2.2.1 Morbiditas dan Mortalitas.2


Laporan mengenai TB anak jarang didapatkan. Diperkirakan jumlah kasus TB anak
per tahun adalah 5 % sampai 6 % dari total kasus TB. Di negara berkembang, tuberkulosis
pada anak berusia <15 tahun adalah 15 % dari seluruh kasus TB, sedangkan di negara maju,
angkanya lebih kecil yaitu 5-7 %.
Peningkatan jumlah kasus TB di berbagai tempat pada saat ini diduga disebabkan
oleh beberapa hal, yaitu :
1. Diagnosis yang tidak tepat
2. Pengobatan yang tidak adekuat
3. Program penanggulangan tidak dilaksanakan dengan tepat
4. Infeksi endemik virus HIV
5. Migrasi penduduk
6. Pengobatan sendiri
7. Meningkatnya kemiskinan
8. Pelayanan kesehatan kurang memadai
Tuberkulosis anak merupakan faktor penting di negara-negara berkembang karena
jumlah anak berusia dibawah 15 tahun adalah 40-50 % dari jumlah populasi.
Menurut perkiraan WHO tahun 1999, jumlah kasus TB baru di Indonesia adalah
583.000 orang per tahun dan menyebabkan kematian sekitar 140.000 orang per tahun. WHO
memperkirakan bahwa TB merupakan penyakit infeksi yang paling banyak menyebabkan
kematian anak dan dewasa.
Karena sulitnya menegakkan diagnosis TB pada anak, data TB sangat terbatas
termasuk di Indonesia. Untuk mengatasinya WHO sedang membuat konsensus diagnosis di
berbagai negara. Dengan adanya konsensus ini diharapkan tidak terjadi lagi overdiagnosos
atau underdiagnosis.
Page 5

Penatalaksanaan TB pada anak


.2.2.2 Prevalensi tuberkulin positif
Uji tuberkulin adalah uji yang di lakukan untuk mendeteksi infeksi M. Tuberkulosis,
dapat juga dipergunakan untuk mengukur prevalens infeksi. Dari prevalens infeksi dapat di
ketahui annual risk of tuberculosis infections (ARTI) dengan metode konversi. ARTI
merupakan salah satu parameter epidemiologi untuk menentukan beban penyakit TB (burden
of tuberculosis).2
2.2.3 Faktor resiko.1
Terbagi atas faktor resiko infeksi dan faktor resiko progresi infeksi menjadi penyakit
( resiko penyakit ).
Resiko Infeksi TB
Faktor resiko terjadinya infeksi TB antara lain adalah : anak yang memiliki kontak
dengan orang dewasa dengan TB aktif, daerah endemis, penggunaan obat-obat intravena,
kemiskinan, serta lingkungan yang tidak sehat.Faktor resiko infeksi TB pada anak yang
terpenting adalah pajanan terhadap orang dewasa yang infeksius. Berarti, bayi dari seorang
ibu dengan BTA sputum positif memiliki resiko tinggi terinfeksi TB. Semakin dekat bayi
tersebut dengan ibunya, makin besar pula kemungkinan bayi tersebut terpajan percik renik (
droplet nuclei ) yang infeksius.Resiko timbulnya transmisi kuman dari orang dewasa ke
anak-anak akan lebih tinggi jika pasien dewasa tersebut mempunyai BTA sputum yang
positif, terdapat infiltrat luas pada lobus atas atau kavitas, produksi sputum banyak dan encer,
batuk produktif dan kuat, serta terdapat faktor lingkungan yang kurang sehat, terutama
sirkulasi udara yang tidak baik.
Resiko Penyakit TB
Orang yang telah terinfeksi kuman TB, tidak selalu akan mengalami sakit TB.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan progresi infeksi TB menjadi sakit
TB.Faktor Resiko pertama adalah usia. Anak 5 tahun mempunyai resiko lebih besar untuk
mengalami progresi infeksi menjadi sakit TB, mingkin karena imunitas selulernya belum
berkembang sempurna. Resiko sakit TB ini akan berkurang sesuai dengan bertambahnya
usia.
Page 6

Penatalaksanaan TB pada anak

Tabel1. Resiko sakit tuberculosis pada anak yang terinfeksi Tuberkulosis


Faktor resiko

Umur saat infeksi

Tidak sakit

TB paru

Primer (tahun)
<1

50%

30-40%

1-2

75-80%

10-20%

2-5

95%

5%

5-1

98%

2%

>10

80-90%

TB diseminata
(milier,meningitis)
10-20%
2-5%
0,5%
<0,5

10-20%

<0,5%

Faktor resiko yang lain adalah konversi tes tuberkulin dalam 1-2 tahun terakhir,
malnutrisi, keadaan imunokompromais, keganasan, transplantasi organ, pengobatan
immunosupresi, diabetes mellitus, gagal ginjal kronik, dan silikosis.Faktor yang tidak kalah
penting pada epidemiologi TB adalah status ekonomi yang rendah, penghasilan yang kurang,
kepadatan hunian, pengangguran, dan pendidikan yang rendah.
2.3

Etiologi
Agen

tuberculosis,

Mycobacterium

tuberculosis,

Mycobacterium

tuberculosis,

Mycobacterium bovis dan Mycobacterium africanum. Basil tuberkel adalah batang lengkung,
gram positif lemah, pleomorfik, tidak bergerak, tidak membentuk spora, panjang sekitar 2-4 m.
Mereka dapat tampak sendiri-sendiri atau dalam kelompok pada spesimen klinis yang diwarnai
atau media biakan. Mereka merupakan aerob obligat yang tumbuh pada media sintetis yang
mengandung gliserol sebagai sumber karbon dan garam amonium sebagai sumber nitrogen.
Mikobakteria ini tumbuh paling baik pada suhu 37-41C, menghasilkan niasin dan tidak ada
pigmentasi.

Page 7

Penatalaksanaan TB pada anak


Mikobakterium tumbuh lambat, waktu pembentukkannya adalah 12-24 jam. Isolasi dari
spesimen klinis pada media sintetik padat biasanya memerlukan waktu 3-6 minggu dan uji
kerentanan obat memerlukan 4 minggu tambahan. Namun pertumbuhan dapat dideteksi dalam 13 minggu pada medium cairan selektif.
Gambar 1. Etiologi TB

2.4

Patogenesis.1,2
Paru merupakan port dentree lebih dari 98 % kasus infeksi TB. Karena ukurannya yang

sangat kecil, kuman TB dalam percik renik ( droplet nuclei ) yang terhirup, dapat mencapai
alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi oleh mekanisme immunologik
nonspesifik. Makrofag alveolus akan memfagosit kuman TB dan biasanya sanggup
menghancurkan sebagian besar kuman TB. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag
tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman
TB dalam makrofag yang terus berkembang-biak, akhirnya akan menyebabkan makrofag
mengalami lisis, dan kuman TB membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni
kuman TB di jaringan paru disebut fokus primer Ghon.
Page 8

Penatalaksanaan TB pada anak


Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju ke kelenjar limfe
regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi fokus primer. Penyebaran
ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe
(limfadenitis) yang terkena. Kompleks primer merupakan gabungan antara fokus primer,
kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang
(limfangitis). Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks
primer secara lengkap disebut masa inkubasi. Hal ini berbeda dengan pengertian masa inkubasi
pada penyakit lain yaitu waktu yang diperlukan mulai dari masuknya kuman hingga timbulnya
gejala. Masa inkubasi TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu
antara 2-12 minggu. Dalam masa inkubasi tersebut kuman tumbuh hingga mencapai jumla 10 3104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respon imunitas seluler. Selama minggu-minggu
awal infeksi, terjadi pertumbuhan logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya
belum tersensitisasi terhadap tuberkulin, mengalami perkembangan sensitivitas. Pada saat
terbentuknya kompleks primer inilah, infeksi TB dinyatakan telah terjadi. Hal tersebut ditandai
ditandai dengan terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu timbulnya respon
positif terhadap uji tuberkulin. Selama masa inkubasi, uji tuberkulin masih negatif. Setelah
kompleks primer terbentuk, imunitas seluler tubuh terhadap TB telah terbentuk. Bila imunitas
seluler telah terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan.
Setelah imunitas seluler terbentuk, fokus primer di jarinagn paru biasanya mengalami
resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis
perkijuan dan encapsulasi. Kelenjar limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan
enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan paru.
Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini.
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat terjadi penyebaran
limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman menyebar ke kelenjar limfe
regional membentuk kompleks primer. Sedangkan pada penyebaran hematogen, kuman TB
masuk ke dalam sirkulasi darah dan meyebar ke seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen
inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik. Penyebaran hematogen yang
paling sering terjadi adlah dalam bentuk penyebaran hematogenik tersamar (occult hematogenis
spread). Melalui cara ini, kuman TB menyebar secara sporadik dan sedikit demi sedikit sehingga
Page 9

Penatalaksanaan TB pada anak


tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh
tubuh. Organ yang biasanya dituju adalah organ yang memiliki vaskularisasi baik, misalnya otak,
tulang, ginjal, dan paru sendiri. Di berbagai lokasi tersebut kuman TB akan bereplikasi dan
membentuk kolini kuman sebelum terbentuknya imunitas seluler yang akan membatasi
pertumbuhannya. Setelah dibatasi oleh imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk
dorman. Fokus ini tidak langsung berlanjut menjadi penyakit tetapi berpotensi menjadi fokus
reaktivasi. Fokus potensial ini disebut sebagai fokus Simon.
Bentuk penyebaran hematogen lain adalah penyebarab hematogenik generalisata akut (
acute generalized hematogenic spread ). Pada bentuk ini, sejumlah besar kuman TB masuk dan
beredar dalam darah menuju ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya manifestasi
klinis penyakit TB secara akut, yang disebut TB diseminata yang timbul 2-6 bulan setelah terjadi
infeksi. Bentuk penyebaran hematogen yang jarang terjadi adalah protracted hematogenic spread.
Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu fokus perkijuan menyebar ke saluran vaskuler di
dekatnya sehingga sejumlah kuman TB akan masuk dan beredar dalam darah
Gambar 2.Patogenesis pada TB

Page 10

Penatalaksanaan TB pada anak

Gambar 3. Penyebaran hematogen

2.5.Manifestasi klinik.3,5
Faktor yang berperan adalah kuman TB, penamu, serta interaksi antara keduanya.
Faktor kuman bergantung pada jumlah kuman dan virulensi, sedangkan factor penjamu
bergantung pada usia dan kompetensi imun serta kerentanan penjamupada awal
terjadinya infeksi. Anak kecil sering kali tidak menimbulkan gejala walaupun sudah
tampak pembesaran kelenjar hilus pada foto thoraks.Manifestasi klinis terbagi dua, yaitu
manifestasi sistemik dan manifestasi spesifik organ/local.
Manifestasi klinis TB dapat muncul secara berurut sehimgga dari studi wallgreen
dan peniliti lain, dapat disusun suatu timetable terjadinya TB di berbagai organ. Proses
infeksi TB tidak langsung memberikan gejala. Uji tuberculin biasanya positif dalam 4-8
minggu setelah kontak awal dengan kuman TB. Pada awal terjadinya infeksi TB, dapat
dijumpai demam yang tidak tinggi dan eritema nodosum, tetapi kelainan kulit ini jarang
di jumpai pada anak.Sakit TB dapat terjadi kapan saja dalam tahap ini.TB millier dapat
Page 11

Penatalaksanaan TB pada anak


terjadi setiap saat, tetapi biasanya berlangsung dalam 3-6 bulan pertama setelah infeksi
TB, begitu juga meningitis TB.TB pleura terjadi dalam 3-6 bulan pertama setelah infeksi
TB.TB tulang dan sendi terjadi dalam tahun pertama walaupun dapat terjadi dalam tahun
kedua dan ketiga.Tb ginjal biasanya terjadi lebih lama, yaitu 5-25 tahun
kemudian.Sebagian besar manifestasi klinis sakit TB terjadi dalam 5 tahun petama,
terutama pada 1 tahun pertama, dan 90% kematian karena TB terjadi dalam tahun
pertama setelah diagnosis TB.
Gambar 4.Timetable munurut wallgreen

Manifestasi sistemik.
Adalah gejala yang bersifat umum dan tidak spesifik karena dapat di sebabkan
berbagai penyakit atau keadaan lain. Sebagaian besar anak yang terkena TB tidam
menunjukan gejala dan tanda selama beberapa waktu. Sesuai dengan kuman TB yang
lambat membelah, manifestasi klinis TB umumnya berlangsung lambat dan perlahan.
Salah satu gejala yang sering teerjadi adalah demam.

Page 12

Penatalaksanaan TB pada anak

Manifestasi spesifik organ/local


Manifestasi klinis spesifik bergantung pada organ yang terkena , misalnya kelenjar
limfe, susnan saraf pusat, tulang dan kulit.
TB tulang dan sendi
- Tulang punggung (spondilitis): gibbus
- Tulang panggul (koksitis):pincang
- Tulang lutut:pincang
- Tulang kaki dan tangan dengan gejala pembengkakan sendi, gibbus, pincang,
sulit membungkuk.
TB otak dan susunan saraf pusat :
- Menigitis.Dengan gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran
menurun.
TB paru
- Tidak khas
- Tidak selalu ada batuk dan produksi sputum seperti pada orang dewasa
- Tanda cairan di dada
- Dada sakit
TB abdomen/usus
- Diare persisten tidak sembuh dengan pengobatan diare
- Benjolan-benjolan dalam abdomen
- Tanda cairan di abdomen
TB Mata
- Konjungtivitis fliktenularis
- Tuberkel koroid(hanya terlihat dengan funduskopi)
TB Diseminasi
Mengenai banyak organ tubuh dengan gejala demam lama, mual, muntah, diare,
biru, sesak napas dll.

2.6 Pemeriksaan penunjang.3,4


Uji tuberkulin
Nilai diagnostik tinggi, sensitivitas dan spesifisitas >90%

Page 13

Penatalaksanaan TB pada anak


- Cara mantoux, IK 0,1 ml PPD RT-23 2 TU atau PPD S 5TU di volar lengan bawah.
- Pembacaan 48-72 jam setelah pnyuntikkan
- Diukur Indurasi yang timbul, bukan hiperemi
- Dilaporkan dalam millimeter. Bila tidak timbul indurasi sama sekali, hasilnya
dilaporkan 0 mm, jangan negative
- Interpretasi :
Diameter 0-4 mmuji tuberkulin negative
Diameter 5-9 mmpositif meragukan (M.atipik dan BCG, atau memang
infeksi TBC)

Diameter 10 mmpositif
Gambar 5.Uji tuberkulin (Mantoux tes)

Pada balita yang telah mendapat BCG, diameter indurasi 10-15 mm masih mungkin
karena BCG-nya selain karena infeksi TB alamiah. Bila ukuran 15 mm, lebih mungkin
karena infeksi TB alamiah.
Uji tuberkulin positif pada:
1.Infeksi alamiah TB

infeksi TB tanpa sakit

Infeksi TB dan sakit TB

Pasca terapi TB
2.Imunisasi BCG
Page 14

Penatalaksanaan TB pada anak


3.Infeksi M.atipik/M.leprae
Uji tuberkulin negatif pada:
1.Tidak ada infeksi TB
2.Masa inkubasi infeksi TB
3.Anergi/penekanan sistem imun
Tabel 2. Klasifikasi indivindu berdasarkan status tuberkulosis
Kelas

Pajanan

Infeksi

Sakit

(kontak dengan

(uji tuberculin

(uji tuberculin,

Pasien tb aktif)

positif)

klinis dan

penunjang positif)
-

Tabel 3. Sebab-sebab hasil positif palsu dan negatif palsu pada uji tuberkulin mantoux
Positif palsu
Penyuntikan salah
Interpretasi tidak betul
Reaksi silang dengan Mycobacterium atipik
Negatif palsu
Masa inkubasi
Penyimpanan tidak baik dan penyuntikan salah
Interpretasi tidak beul
Menderita tuberkulosis luas dan berat
Disertai infeksi virus ( campak, rubella, cacar air, influenza, HIV)
Demam
Malnutrisi
Sarkoidosis
Psoriasis
uremia
kekurangan komplemen
Page 15

Penatalaksanaan TB pada anak


Uji Interferon
Secara garis besar, pemeriksaan penunjang untuk mencari bukti adanya penyakit
infeksi dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar. Pertama adalah pemeriksaan untuk
menemukan kuman patogen didalam spesimen, misalnya dengan pemeriksaan
langsung, pemeriksaan biakan, atau polimerasi chain reaction/PCR. Kedua adalah
pemeriksaan untuk mendeteksi respon imun terhadap kuman tersebut. Pemeriksaan
untuk respon imun terhadap penyakit infeksi terdiri dari pemeriksaan respon imun
humoral (enzim linked imunoassorbent assay, ELISA) dan pemeriksaan respon imun
selular, pada penyakit infeksi non TB, yang banyak dipakai adalah pemeriksaan
respon imun humoral yaitu pemeriksaan serologi. Pada infeksi TB, respon imun
seluler lebih memegang peranan, sehingga pemeriksaan diagnostik yang lebih
respresentatif adalah uji tuberkulin.
Uji tuberkulin dianggap tidak praktis karena pasien harus datang minimal dua kali
untuk diagnostik, yaitu saat penyuntikan dan saat pembacaan. Disamping itu,
pemeriksaan imunitas seluler yang ada biasanya tidak dapat membedakan antara
infeksi TB dan sakit TB. Oleh karena itu, telah dikembangkan suatu pemeriksaan
imunitas seluler yang lebih praktis yaitu dengan memeriksa spesimen darah, dan
diharapkan dapat membedakan infeksi TB dan sakit TB. Pemeriksaan yang dimaksud
adalah uji interferon (interferon gamma release assay, IGRA). Terdapat dua jenis
IGRA, pertama adalah inkubasi darah dengan early secretory antigenic target 6
(ESAT-6) dan culture filtrate protein-10 (CFP-10) dengan nama dagang QFT/QFT-G
(Quantiferon TB dan Quatiferon TB Gold). Kedua adalah pemeriksaan enzim linked
imunospot dengan nama dagang T-spot TB.
Prinsip yang digunakan adalah merangsang limfosit T dengan antigen tertentu,
diantaranya antigen dari kuman TB. Bila sebelumya limfosit T tersebut telah
tersensitasi dengan antigen TB (pasien telah mengalami infeksi TB), maka limfosit T
akan menghasilkan interferon gamma, yang kemudian dikalkulasi. Dari hasil
kalkulasi tadi diharapkan dapat dilakukan penentuan cut off point yang membedakan
antar infeksi dengan sakit TB. Antigen spesifik yang digunakan untuk uji ini adalah
ESAT-6 dan CFP-10. Akan tetapi, uji klinis menunjukkan bahwa QFT TB memiliki
sensitifitas dan spesifitas yang tidak terlalu baik, terlebih untuk pasien anak.
Kemudian dikembangkanlah uji QFT-G, hanya saja jumlah penelitian yang
Page 16

Penatalaksanaan TB pada anak


menyatakan efektifitas pemeriksaan ini pada anak usia <17 tahun masih terbatas.
Sejauh ini hasilnya juga belum menggembirakan, sehingga haraoan untuk dapat
membedakan infeksi TB dengan sakit TB belum dapat dicapai.
Selain itu pemeriksaan imunitas seluler lain dengan spesimen darah, yaitu enzimlinked imunospot interferon gamma untuk TB (ELISpoT TB). Cara kerjanya adalah
dengan kalkulasi interferon gamma yang dihasilkan oleh sel T CD4 dan CD8 yang
tersensitisasi oleh M. tuberculosis. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara hasil
positif yang disebabkan oleh infeksi M. tuberculosis, oleh BCG, dan oleh infeksi M.
atipic. Akan tetapi pemeriksaan tersebut hingga saat ini belum dapat membedakan
antara infeksi TB dan sakit TB.

Page 17

Penatalaksanaan TB pada anak

Radiologis
-Gambaran rontgen paru pada TB tidak khas
-Rontgen paru normal (tidak terdeteksi)tidak menyingkirkan diagnosis TB jika klinis
dan pemeriksaan penunjang lain mendukung
-Pemeriksaan rontgen paru saja tidak dapat digunakan untuk mendianosis tubekulosis

Page 18

Penatalaksanaan TB pada anak


Secara umum gambaran rontgen sugestif TB:(sebaiknya PA dan lateral)

Pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan atau tanpa infiltrate


Konsolidasi segmental/lobar
milier
kalsifikasi,atelektasis,kavitas
Efusi pleura

Bila ditemukan gambaran klinis ringan, namun gambaran radiologis berat, harus dicurigai
TB.
Serologis
Pada anak, terutama anak kecil, sulit mendapatkan specimen untuk untuk
pemeriksaan basil TB.Karena sulitnya maka dicari alternatif yang mudah pelaksanaanya
yaitu pemeriksaan serologis (pemeriksaan imunitas humoral).Selain itu pada awalnya
dengan pemeriksaan serologis diharapkan dapat membedakan antara infeksi dan sakit
TB.Namun sampai saat ini belum ada satupun pemeriksaan serologis yang dapat
memenuhi harapan itu. Beberapa pemeriksaan serologis yang ada diantaranya PAP TB,
mycobat, ICT dan lain-lain. Semua pemeriksaan ini masih dalam taraf penelitian untuk
pemakaian klinis praktis.

1.
2.
3.

Patologi anatomik
Gambaran granuloma; perkijuan atau area nekrosis kaseosa ditengah granuloma.
Sel datia langhans
Spesimen: limfadenopati kolli, dengan biopsy aspirasi jarum halus/FNAB.Namun

sulit dibedakan dengan infeksi M.atipik dan limfadenitis BCG (nelson edisi 15)
Mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi yang dilakukan terdiri dari pemeriksaan mikroskopik apusan
langsung untuk menemukan BTA, pemeriksaan biakan kuman M. Tuberkulosis dan
pemeriksaan PCR.
Pada anak pemeriksaan mikroskopik langsung sulit dilakukan karena sulit mendapatkan
sputum sehingga harus dilakukan bilas lambung. Dari hasil bilas lambung didapatkan
hanya 10 % anak yang memberikan hasil positif. Pada kultur hasil dinyatakan positif jika
terdapat minimal 10 basil per milliliter spesimen. Saat ini PCR masih digunakan untuk
keperluan penelitian dan belum digunakan untuk pemeriksaan klinis rutin. Dalam
pemeriksaan PCR harus diperhatikan aspek pemilihan spesimen. Seperi kita ketahui,
kuman TB ada didalam darah hanya dalam waktu singkat selama dalam masa inkubasi,
Page 19

Penatalaksanaan TB pada anak


sehingga pemeriksaan PCR dengan spesimen darah tidak bermanfaat. Spesimen yang
dapat digunakan adalah sputum, bilas lambung, cairan pleura, atau CSS.
Bakteriologis
Diagnosis kerja TB biasanya dibuat berdasarkan gambaran klinis, uji tuberculin
dan gambaran radiologis paru.Diagnosis pasti kalau ditemukan kuman tuberculosis pada
pemeriksaan mikrobiologis.Pemeriksaan mikrobiologis yang dilakukan terdiri dari 2
macam yaitu pemeriksaan mikroskopis hapusan langsung untuk menemukan basil tahan
asam (BTA) dan pemeriksaan biakan kuman M.tuberkulosis.
2.7

Penegakan diagnosis.1
Pada uraian diatas terlihat bahwa tidak ada satupun data klinis maupun penunjang selain

pemeriksaan bakteriologis yang dapat memastikan diagnosis TB perlu analisis kritis terhadap
sebanyak mungkin fakta. Diagnosis TB tidak dapat ditegakkan hanya dari anamnesis,
pemeriksaan fisis atau pemeriksaan penunjang tunggal misalnya hanya dari pemeriksaan
radiologis. Karena sulitnya menegakkan diagnosis TB pada anak, banyak usaha membuat
pedoman diagnosis TB dengan sistem skoring dan alur diagnostik.Misalnya pedoman yang
dibuat oleh WHO,Stegen and jones, dan UKK Pulmonologi PP IDAI.
Jika dijumpai pasien dengan gambaran milier, kavitas atau efusi pleura pada foto rontgen,
terdapat tanda-tanda bahaya, seperti kejang, kaku kuduk dan penurunan kesadaran, serta tanda
kegawatan lain, misalnya sesak napas; pasien harus dirawat inap di rumah sakit. Sedangkan bila
dijumpai gibbus dan koksitis, pasien harus dikonsultasikan ke bedah ortopedi dan neurologi
anak.Tatalaksana yang lebih lengkap pada keadaan-keadaan khusus diatas, dapat dilihat pada
Bab Tuberkulosis dengan keadaan khusus.
Untuk mendiagnosis TB di sarana yang memadai, sistem skoring digunakan sebagai uji
tapis. Setelah itu dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang lainnya, seperti bilasan lambung
(BTA dan kultur M.tuberkulosis), patologik anatomi, pungsi pleura, pungsi lumbal,CT-scan,
funduskopi, serta foto Rontgen tulang dan sendi.

Page 20

Penatalaksanaan TB pada anak

Tabel 4. Sistem nilai diagnosis TB anak

Sistem skoring :
Penurunan BB merupakan gejala umum yg sering ditemui, yg disebut penurunan
BB adalah apabila terjadi penurunan 2 bulan berturut-turut.Demam lama: >/= 2 minggu,
tanpa sebab yang jelas.

Page 21

Parameter

2
3
Penatalaksanaan TB pada anak

Kontak TB

Tidak jelas

Laporan

BTA(+)

keluarga (BTA
negatif

atau

tidak jelas)
Uji Tuberkulin

Negatif

Positif ( 10 mm
atau 5 mm pada
keadaan
imunosupresi)

Berat

badan

/ -

Status Gizi

BB/TB < 90%

Klinis

gizi -

atau

buruk

BB/U < 80%

atau BB/TB <


70%
atau BB/U <
60%

Demam

tanpa -

2 minggu

sebab yang jelas


Batuk

3 minggu

Pembesaran

1 cm, jumlah

kelenjar

koli,
> 1, tidak nyeri

aksila, inguinal
Pembengkakan
tulang

sendi

panggul,

Ada
pembengkakan

lutut,

falang
Page 22

Foto Thorak

Normal/kelainan Gambaran
tidak jelas

sugestif TB

Penatalaksanaan TB pada anak


Catatan:

Diagnosis dengan sistem skor ditegakkan oleh dokter.

Jika dijumpai skrofuloderma, langsung didiagnosis tuberkulosis.

Berat badan dinilai saat datang.

Demam dan batuk tidak ada respon terhadap terapi sesuai baku.

Gambaran sugestif TB, berupa; pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa
infiltrat;

konsolidasi

segmental/lobar;

kalsifikasi

dengan

infiltrat;

atelektasis;

tuberkuloma. Gambaran milier tidak dihitung dalam skor karena diperlakukan secara
khusus.

Mengingat pentingnya peran uji tuberkulin dalam mendiagnosis TB anak, maka


sebaiknya disediakan tuberkulin di tempat pelayanan kesehatan.

Pada anak yang diberi imunisasi BCG, bila terjadi reaksi cepat BCG ( 7 hari) harus
dievaluasi dengan sistim skoring TB anak, BCG bukan merupakan alat diagnostik.

Didiagnosis TB Anak ditegakkan bila jumlah skor 6, (skor maksimal 13).

Jika ditemukan gambaran milier, kavitas atau efusi pleura pada foto toraks, dan/atau terdapat
tanda-tanda bahaya, seperti kejang, kaku kuduk dan penurunan kesadaran serta tanda kegawatan
lain seperti sesak napas, pasien harus di rawat inap di RS
2.8

Tata laksana.1,2,3
Tatalaksana TB pada anak merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan antara

pemberian medikamentosa, penataan gizi, dan linkungan sekitarnya. Pemberian medikamentosa


tidak terlepas dari penyuluhan kesehatan kepada masyarakat atau kepada orang tua penderita
tentang pentingnya minum obat secara teratur dalam jangka waktu yang cukup lama, serta
pengawasan terhadap jadwal pemberian obat, keykinan bahwa obat di minum, dsb.

Page 23

Penatalaksanaan TB pada anak


2.8.1. Medikamentosa
Obat TB yang digunakan
Obat TB utama ( first line) saat ini adalah rifampisisn, INH, pirazinamid,
etambutol, dan streptomisin. Obat TB lain (second line) adalah PAS, viomisisn,
sikloserin, etionamid, kanamisin, dan kpriomisisn, yang digunakan jika terjdi
multridrug resistance (MDR). Rifampisisn dan INH merupakan obat pilihan utama
dan di tambah dengan pirazinamid.Etambutol dan streptomisin.
Isoniozid (INH)
- Bakterisid dan bakterostatik
- Efektif pada intrasel dan ekstrael kuman
- Dapat melalui LCS, cairan pleura, asites, ASI
- Dosis 5-15 mg/kg/hari, maks 300 mg/hari, 1x pemberian bila diberikan
-

bersama rifampisin dosis maks 10 mg/kg/hari


Efek toksik:hepatotoksik dan neuritis perifer.INH tidak dilanjutkan bila kadar
SGOT/SGPT > 3x normal atau manifestasi klinis hepatitis(kuning, mual,

muntah, sakit perut)


- INH di metabolisme malalui asetilasi di hati.
Pirazinamid
- Bakterisid intrasel pada suasana asam
- Dapat melalui LCS, cairan dan jaringan tubuh
- efek samping; hepatotoksik, anoreksia, iritasi saluran cerna
- Dosis 15-30 mg/kg/hari, maks 2 gram/hari
Etambutol
- Jarang diberikan pada anak, karena toksik pada mata
- EMB tidak diberikan pada anak yang belum dapat dilakukan pemeriksaan
penglihatan
- EMB dapat diberikan pada anak dengan TB berat dan resisten obat lain
- dosis 15-20 mg/kg/hari, maks 1,25 gram/hari, dosis tunggal
Streptomisin
- Bakterisid dan bakterostatik kuman ekstrasel pada keadaan basa atau netral
- Jarang digunakan, namun penting pada resisten obat
- Dosis 15-40 mg/kg/hari, maks 1 gram/hari,IM
- Sangat baik melewati selaput otak yang meradang, namun tidak dapat
-

melewati selaput otak yang tidak meradang


Efek toksik:gangguan tinitus dan pusing.KI pada wanita hamil

Tabel 5. Obat antituberkulosis (OAT) yang biasa dipakai dan dosisnya

Page 24

Penatalaksanaan TB pada anak


Nama obat
Isoniazid

Dosis harian
(mg)kg)hr)
5-15

Dosis maksimal
(mg)kg)hr)
300

Rifampisin

10-20

600

Pirazinamid

Etambutol

15-30

15-20

2000

1250

steptomicin
15-40

1000

Efek samping
Hepatitis,neuritis
perifer,hipersensit
ifitas.
Gastrointestinal,
reaksi kulit,
hepatitis,
trombositopeni,
peningkatan
enzim hati, cairan
tubuh berwarna
merah oranye
kemerahan.
Toksisitas hepar,
atralgia,
gastrointestinal.
Neuritis optic,
ketajaman mata
berkurang, buta
warna merah
hijau,
hipersensitivitas,
gastrointestinal.
Ototoksik,
nfrotoksik.

* Bila INH dikombinasi dengan rifampisin, dosisnya tidak boleh melebihi 10mg/kgBB/hari.
** rifampisisn tidak boleh diracik dalam satu puyer dengan OAT lain karena dapat mengganggu
bioavaibilitas rifampisin
Panduan obat TB
- Prinsip dasar pengobatan TB : minimal 2 macam obat, 6-12 bulan
- Pengobatan dibagi dalam 2 fase :
- Fase intensif (2 bulan pertama); RHZ
- Fase lanjutan;RH
Page 25

Penatalaksanaan TB pada anak


-

Pada TB berat (pulmonal/ekstrapulmonal);TB milier, Meningitis TB, TB tulang

dan lain-lain:
Fase intensif minimal 4 macam obat; (RHZE/S)
Fase lanjutan; RH selama 10 bulan
Diberikan kortikosteroid (prednison) 1-2 mg/kg/hari, dibagi 3 dosis selama 2-4
minggu dosis penuh, dilanjutkan tappering off 1-2 mgg.

Fixed Dose Combination (FDC)


Untuk megatasi masalah ketidakpatuhan pasien untuk meminum obat maka dibuat
suatu sediaan obat kombinasi dalam dosis yang telah ditentukan.
Keuntungan penggunaan FDC dalam pengobatan adalah sebagai berikut :

Meyederhanakan pengobatan dan mengurangi kesalahan penulisan resep

Meningkatkan penerimaan dan kepatuhan pasien

Memungkinkan petugas kesehatan memberikan pengobatan standar dengan tepat

Mempermudah pengelolaan obat

Mengurangi kesalahan penggunaan obat TB

Mengurangi kemungkinan kegagalan pengobatan dan terjadinya kekambuhan

Pengawasan minum obat menjadi lebih mudah dan cepat

Mempermudah penentuan dosis berdasarkan berat badan.


Tabel 6. Dosis kombinasi TB pada anak

Berat badan
(kg)
5-9

2 bulan
RHZ (75/50/150 mg)
1 tablet

4 bulan
RH (75/50 mg)
1 tablet

10-19

2 tablet

2 tablet

20-32

4 tablet

4 tablet
Catatan

Bila BB > 33 kg dosis disesuaikan dengan tabel 5 (perhatikan dosis maksimal)


Bila BB < 5 kg sebaikny di rujuk ke RS
Obat harus diberikan secara utuh.
Page 26

Penatalaksanaan TB pada anak


Evaluasi Hasil Pengobatan
- Dilakukan setelah 2 bulan
- Apabila respons baik; gejala klinis hilang, BB naik, obat diteruskan
- Apabila respons kurang baik; gejala masih ada, BB tetap, OAT terus sambil
merujuk ke sarana yang lebih tinggi atau konsulen paru anak
Evaluasi Efek samping pengobatan
- Efek samping jarang terjadi bial dosis INH tidak > 10 mg/kg/hari dan rifampisin
-

tidak > 15 mg/kg/hari


Hepatotoksisitas; SGOT/SGPT 5X normal
Bilirubin total > 1,5 mg/dl
Peningkatan SGOT/SGPT berapapun, disertai anoreksia, ikterus, nausea, muntah
Bila peningkatan enzim transaminase >5x, OAT stop
Cek ulang setelah 1 minggu penghentian

OAT Nilai laboratorium normal

Multi-Drug Resistant (MDR-TB)


- MDR-TB:M.tbc yang resisten terhadap 2 atau lebih OAT biasanya INH dan
-

Rifampisin
Penyebab:
Pemakaian obat tunggal
Pencampuran obat yang tidak dilakukan secara benar
Kurangnya kepatuhan minum obat

2.8.2. Non-medikamentosa.1
Pendekatan DOTS
Hal yang paling penting pada tata laksana tuberculosis adalah keteraturan minum
obat.Pasien TB biasanya telah menunjukkan perbaikan beberapa minggu setelah
pengobatan

sehingga

merasa

telah

sembuh

dan

tidak

melanjutkan

pengobatan.Lingkungan social dan pengertian yang kurang mengenai tuberculosis dari


pasien serta keluarganya tidak menunjang keteraturan pasien untuk minum obat.
Kepatuhan pasien dikatakan baik bila pasien minum obat sesuai dengan dosis
yang ditentukan dalam paduan pengobatan.Kepatuhan pasien ini menjamin keberhasilan
pengobatan dan mencegah resistensi.Salah satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan
pasien adalah dengan melakukan pengawasan langsung.
Gambar 6. Strategi DOTS

Page 27

Penatalaksanaan TB pada anak

Sumber penularan dan case finding


Apabila kita menemukan seorang anak dengan TB, maka harus dicari sumber
penularan yang menyebabkan anak tersebut tertular TB.Sumber penularan adalah orang
dewasa yang menderita TB aktif dan melakukan kontak erat dengan anak
tersebut.Pelacakkan

dilakukan

dengan

cara

pemeriksaan

radiologis

dan

BTA

sputum.Selain itu perlu dicari pula anak lain disekitarnya yang mungkin tertular dengan
cara uji tuberculin.
Sebaliknya jika ditemukan pasien TB dewasa aktif maka anak di sekitarnya atau
yang kontak erat harus ditelusuri ada atau tidaknya infeksi tuberkulosis. Pelacakkan
tersebut dilakukan dengan cara anamnestik, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yaitu uji tuberculin.
Aspek Sosial Ekonomi
Keterkaitan TB dengan masalah sosial ekonomi sangatlah erat. Pengobatan TB
secara adekuat memerlukan biaya yang cukup besar. Selain itu diperlukan penanganan
gizi yang baik.

Page 28

Penatalaksanaan TB pada anak


Edukasi ditujukan kepada pasien dan keluarganya agar mengetahui tentang
tuberkulosis. Pasien TB anak tidak perlu diisolasi karena sebagian besar TB pada anak
tidak ditularkan pada anak yang lain.
Pencegahan
1. BCG
Imunisasi BCG diberikan pada usia sebelum 2 bulan.Dosis untuk bayi sebesar
0.05 ml dan untuk anak 0,10 ml diberikan intrakutan di daerah insersi otot deltoid
kanan .Bila BCG diberikan pada usia lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji
tuberculin lebih dulu.Insidens TB anak yang mendapat BCG berhubungan dengan
kualitas vaksin yang digunakan, pemberian vaksin, jarak pemberian vaksin dan
intensitas pemaparan infeksi.BCG efektif untuk mencegah milier, meningitis dan
spondilitis TB pada anak.BCG memberikan perlindugan terhadap milier TB, meningitis
TB, TB tulang dan sendi dan kavitas sedikitnya 75%.BCG ulangan tidak dianjurkan
mengingat efektivitas perlindungannya hanya 40%.BCG relative aman, jarang ada efek
samping serius, yang sering ditemukan ulserasi local dan limfadenitis.Kontraindikasi
pemberian imunisasi BCG:defisiensi imun, infeksi berat, luka bakar
2.Kemoprofilaksis
Kemoprofilaksis primer bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi TB pada
anak, sedangkan kemoprofilaksis sekunder mencegah aktifnya infeksi sehingga anak
tidak

sakit.Pada

kemoprofilaksis

primer

diberikan

INH

dengan

dosis

5-10

mg/kg/bb/hari, dosis tunggal, pada anak yang kontak dengan TB menular, terutama
dengan BTA sputum positif, tetapi belum terinfeksi(uji tuberkulin negative).Obat
dihentikan bila sumber kontak sudah tidak menular lagi dan anak ternyata tetap tidak
infeksi(setelah uji tuberkulin ulangan).
Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak yang telah terinfeksi, tetapi belum
sakit, ditandai dengan uji tuberculin positif, klinis, dan radiologis normal.Anak yang
mendapat kemoprofilaksis sekunder adalah usia balita, menderita morbili, varisela dan
pertusis mendapat obat imunosupresif yang lama(sitostatik dan kortikosteroid), usia
remaja dan infeksi TB paru, konversi uji tuberculin dalam waktu kurang dari 12 bulan.
Page 29

Penatalaksanaan TB pada anak


2.9

Tata laksana dengan keadaan khusus.1,3


Pada bagian ini akan di bahas beberapa keadaan khusus serta penatalaksanan pada TB

anak seperti TB pulmonal, TB pada perinatal, dan TB dengan HIV.


2.9.1. Tuberculosis milier
Tyberkulosis milier termasuk salah satu bentuk TB yang berat dan merupakan 37% dari seluruh kasus TB dengan angka kematian yang tinggi ( dapat mencapai 255 pada
bayi). Terjadinya TB miier dipengangurhi oleh 3 faktor, yaitu kuman M TB (jumlah dan
virulensi), status imunologis penderta(nonspesifik dan spesifik) dan faktor lingkungan
(kurangnya paparan sinar matahari, perumahan yang padat, polusi udara, merokok dan
penggunaan alcohol, obat bius serta sosio ekonomi).
TB milier diawali dengan serangan akut berupa demam tinggi yang hilang timbul,
pasien tampak sakit berta dalam beberapa hari, tetapi tanda dan gejala dari saluran
pernafasan belum ada. Demam kemudian bertambah tinggi dan berlangsung terus
menerus tanpa di serati gangguan saluran pernafasa. Beberapa minggu kemudian pada
hamper di semua organ akan terbentuk tuberkel difus multiple, terutama di paru, limpa
harti dan sumsum tulang.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan TB milier adalah pemberian 4-5 macam OAT selama 2 bulan
pertama, dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisisn selam 2 bulan pertama, dilnjutkan
dengan iosniazid selama 4-6 bulan sesuai dengan perkembangan kloinis.
Kortikosteroid (prednisone) diberikan pada TB milier , meningitis TB, perikarditis
TB, efusi pleura dan peritonitis TB. Prednisone diberikan dengan dosis 1-2 mg/kg BB/
hari selama 4-8 minggu kemudian diturunkan perlahan-lahan hingga 2-6 minggu
kemudian.
2.9.2. Tuberculosis ekstarapulmonal
1. Tuberculosis kelenjar
Infeksi tuberculosis pada kelenjar limfe superfisialis yang di sebut dengan
scrofula, merupakan bentuk TB ekstrapulmonal yang sering terjadi .Gejala dan tanda

Page 30

Penatalaksanaan TB pada anak


sistemik yang muncul biasanya hanya demam yang tidak terlalu tinggi.Tes tuberculin
kulit biasanya menunjukan hasil yang positif.
Penatalaksanaan
Pengobatan limfadenitis TB adalah dengan obat antituberkulosis 3 macam
(rifampisisn, INH, pirazinamid). INH, rifampisisn dan pirazinamid di berikan selam 2
bulan pertama, sedangkan rifamposisn dan INH dilanjutkan sampai 6 bulan pertama.
Selainn itu penanganan supoerif seperti perbaikan gizi perlu diperhatikan.
2. Tuberculosis pleura
Efusi pleura adalah penumpikan abnormal cairan dalam rongga pleura.Salah satu
etiologi yang perlu di pikirkan bila menjumpai kasus efusi pleura adalah tuberculosis.
Bermanifestasi sebagai demam akut diserati batuk nonproduktif (94%) dan nyeri
dada (78%) tanpa peningkatan lekosit darah tepi. Penurunan berat badan dan malaise
dapat dijumpaidemikian juga dengan menggigil
Penatalaksanaan
Terapi pleuritis TB sama dengan terapi TB paru, bila respon terhadap terapi baik,
suhu turun dalam 2 minggu terapi, serta cairan pleura diserap dalam 6 minggu.
Steroid dapat memperpendek fase demam dan mempercepat penyerapan cairan serta
mencegah perlekatan, walaupun rasio manfaat dan resiko penggunaannya belum
diketahui pasti.
3. Tuberculosis tulang/sendi
Tuberculosis tulang atau sendi merupakan suatu bentuk infeksi tuberculosis
ekstrapulmonal yang mengenai tulang atau sendi.Manifestasi klinis yang tarjadi tidak
khas dan biasanya lambat sehingga lambat untuk didiagnosis sudah dalam keadaan
lanjut.Selain dijumpai gejala umum TB pada anak, dapat dijumpai gejala spesifik
berupa bengkak, kaku, kemerahan dan nyeri pada pergerakan. Tidak jarang hanya
gejala pembengkakan saja yang dikeluhkan..
Penatalaksanaan
Tatalaksana TB tulang dan sendi adalah dengan obat antituberkulosis rifampisisn,
INH, PZA, dan etambutol.Rifampisisn dan INH diberikan selama 12 bulan,
sedangkan

PZA dan

etambutol

diberiakn

selam

medikamentosa terapi suportif juga dapat diberikan.

Page 31

bulan

pertama.Selain

Penatalaksanaan TB pada anak


4. Tuberkulosa sistem saraf pusat.
Tuberculosis pada system saraf pusat ditemukan dalam 3 bentuk; meningitis,
tuberkuloma, araknoiditis spinalis, gejala dan tanda meningitis TB dapat dibagi
menjadi 3 fase.Fase prodormal berlangsung 2-3 minggu, ditandai dengan malaise,
sefalgia, demam tidak tinggi, dan dapat dijumpai perubahan kepribadian. Fase
meningitik sebagai fase berikutnya dengan tanda neurologis yang lebih nyata seperti
meningismus, sefalgia hebat, muntah, kebingungan, dan nyata kelainan saraf kranialis
dalam berbagai derajat, fase paralitik merupakan fase percepatan penyakit, gejala
kebingungan berlanjut ke stupor dan koma, kejang, dan hemiparesis.
Penatalaksaan
Terapi segera di berikan tanpa ditunda lagi bila ada kecurigaan klinis ke arah
meningitis TB. Terapi sesuai dengan konsep baku yaitu 2 bulan fase intensif dengan 4
obat, INH, dan rifampisisn dan PZA, serta etambutol. Dilanjutkan dengan 2 obat,
INH dan rifampisisn hinngga 12 bulan.Bukti klinis kloinis mendukung penggunaan
stroid pada meningitis TB sebagai terapi ajuntivitus.Steroid yang dipakao prednoson
dengan dosis 1-2 mg/kg BB/hari, 4 minggu dosis penuh dan 4 minggu penurunan
dosis bertahap (tapering off).
5. Tuberculosis kulit
Tuberculosis kulit dapat melalui dua mekanisme, pertama infeksi primer atau
inokulasi langsung kuman TB di kulit, dan yang kedua TB pasca primer salah satunya
adalash limfadaenitis TB yang pecah ke kulit.Di antar TB kulit, secara klinis
skrofuloderma merupakan yang paling khas dan merupakan manifestasi TB dui kulit
yang paling sering di jumpai pada anak. Skrofuloderma terjadi akibat penjalaran
perkontinuitum dari kelenjar getah bening yang terkena TB
Penatalaksanaan
Tatalaksana skrofuloderma sama dengan sama dengan tatalaksana TB paru pada
anak yaitu dengan pemberian OAT berupa rifampisisn, INH, dan pirazinamid. Lama
pemberian OAT pada skrofuloderma berbeda dengan TB paru yaitu pemberian
rifampisisn dan INH selama 6 bulan sedangkan pirazinamid tetap 2 bulan. Untuk
tatalkasana local/topical tidak ada yang khusus, cukup dengan kompres atau hygiene
yang baik
6. Tuberkulosa mata

Page 32

Penatalaksanaan TB pada anak


Pada mata umunya mengenai konjungtiva dan kornea shingga sering disebut
konjungtifitis fliktenularis (KF) adalah penyakit pada konjungtifitis dan kornea yang
ditandai terbentuknya satu atau lebih nodul infalmasi yang disebut flikten pada
daerah limbus.
Manifestasi klinisKF dapat berupa iritasi, nyeri, lakrimasi, dan fotofobia serta dapat
mengeluarkan sekret mata.Gambaran khas KF adalah berupa nodus kecil berwarna
putih/merah muda pada konjungtiva disertai hiperemis di sekitarnya.
Penatalaksaan
Tatalaksana KF tidak terlepas dari tatalaksana TB pada anak secara
keseluruhananya yaitu pemberian obat anti tuberculosis yaitu rifampisin, INH, dan
pirazinamid. Dosis dan lama pemberian obat sama dengan pengobatan TB paru,
pemberian kortikosteroid topical mempinyai efek yang baik.tindakan keratoplasti
dilakukan apabila telah terjadi komplikasi parut pada kornea.
2.9.3. Tuberculosis perinatal
infeksi TB pada neonatus dapat terjadi secara congenital (prenatal) selama proses
kelahiran (natal) maupun transmisi pascanatal ooleh ibu pengidap TB aktif. Manifestasi
klinis TB congenital dapat timbul segera setelah lahir atau pada minggu ke-2-3
kehidupan. Gejala TB congenital sulit dibedakan dengan sepsis neonatal sehingga sering
terjadi keterlambatan dalam mendiagnosis..gejala yang sering timbul adalah distress
pernafasan, hepatosplenomegali, dan demam. Gejala lain yang dapat ditemukan antara
lain prematuritas, berat lahir rendah, sulit minum, letargi, dan kejang. Bias didapatkan
abortus/kematian bayi.
penatalaksanaan
Tatalksana TB pada neonatus mempunyai cirri tersendiri yaitu melibatkan beberapa
aspek seperti aspek ibu, bayi, dan lingkungan.Ibu harus ditatalaksana dengan baik untuk
menghindari penularan selanjutnya. Selain itu harus dicari sumber lain dalam
lingkunganya serta memperbaiki kondisi lingkungan. Tatalksana pada bayi adlah dengan
membeerikan obat OAT berupa rifampisisn dan INH selama 9-12 bulan,sedangkan
pirazinamid selam 2 bulan. ASI tetap diberikan dan tidak perlu kuatir akan kelebihan
dosis OAT karena kandungan OAT dalam ASI sanagat kecil.
2.9.4. Tuberculosis dengan HIV

Page 33

Penatalaksanaan TB pada anak


Meningkatnya prevalensi HIV membawa dampak peningkatan insidens TB serta
masalah TB lainya, misalnya TB diseminata (milier) TB ekstrapulmonal, serta-multi
drugs resistance
HIV menyebabkan imunokompromais pada anak sehingga diagnosis dan tata laksana TB
pada anak menjadi lebih sulit karena faktor-faktor berikut:
beberapa penyakit yang erta kaitanya dengan HIV, termasuk TB banyak

mempunyai kemiripan gejala.


Intrepertasi uji tuberculin kurang dapat di percaya.anak yang menderita
imunikopromais mungkin menunjukan

hasil yang negative meskipun

sebernanya telah terinfeksi TB.


Anak yang kontak dengan orang tua pengidap HIV dengan sputum BTA
positif mempunyai kemungkinan terinfeksi TB maupun HIV. Jika hal iini
terjadi,

dapat

terjadi

kesulitan

dalam

piata

laksanaan

dan

mempertahankan kepatuhan pengobatan.


penatalaksanaan
Pengobatan TB pad anak HIV belum di tetapkan secara pasti sampai saat ini.
Kebanyakan ahli berpendapat untuk memberikan paling sediklit 3 macam obat, misalnya
rifampisisn, INH, dan pirazinamid pada bulan pertama, diikuti dengan pemberian
rifampisin dan INH. Totallama pemberian OAT adalah 9 bulan.Obat keempat yaitu
etambutol atau streptomisin diberikan pada TB diseminata atau jika terdapat resistensi.
Tatalaksana TB pada anak denagn HIV yang sedang atau yang akan mrndapatkan
pengobatan antiretroviral harus dilakukan lebih hati-hati dan memperhatikan interaksi
antara obat-obat yang diberikan. Interaksi antara obat TB dan antiretroviral dapat
menyebabkan pengobatan HIV ataupun TB menjadi tidak efektif, serta bertambahnya
resiko toksisitas.
2.10

Tata laksana tuberculosis pada sarana terbatas.1


Berdasarkan keterangan sebelumnya bahewa mendiagnosis TB anak sulit dilakukan

karena gejalanya tidak khas, dibuatlah suatu kesepakatan penanggulangan TB anak oleh
beberapa pakar. UKK pulmonologi PP IDAI telah membuat consensus Nasional Diagnosis dan
Tatalaksana TB pada

aanak yang telah tersebar luas dan telah diadopsi oleh Departemen

Kesehatan menjadi prigram pemberrantasan TB secara nasional.


Page 34

Penatalaksanaan TB pada anak


Penurunan berat badan merupakan gejala umum yang sering dijumpai pada TB
anak.Umumnya penderita TB anak mempunyai berat badan dibawah garis merah atau bahkan
gizi buruk. Dengan alasan tesebut, kriteria penurunan berat badanmenjadi lebih penting. Yang
dimaksud penurunan berat badan dalam hal ini adalah apabila terjadi penurunan dalam dua bulan
berturut-turut.
Table 7.system scoring diagnosis tuberkolis anak di sarana kesehatan terbatas
Parameter
0
1
2
3
+
laporankeluarga , BTA Kavitas
Kontak TB
Ttidak jelas
Jika ditemukan keadaan di bawah ini, rujuk ke RS
BTA
(+) BTA
(-) atau tidak tahu
tidak
jelas
Foto rontgen menunjukan gambaran millier, kavitas,
efusi
pleura
negatif
10 mm atau>5 mm pada keadaan
Uji
tuberculin
Gibbus, koksitis
positif
Tanda bahaya:
Kejang, kaku kuduk
imunosupresi
Penurunan kesadarn
garis merah
Berat
Klinis
Kegawatn lain, misalnyabawah
sesak nafas
badan/keadaa
gizi buruk
BB
( KMS ) atau
<
n gizi
(BB/U<6
U
0)
Demam tanpa
>2 minggu
sebab jelas
Batuk

>3 minggu

Pembesaran
kelenjar limfe
kolli, aksilla,
inguinal

>1cm, jumlah >1,


Tidak nyeri

Pembengkak
an
tulang/sendi
panggul,
lutut, falang

Ada pembengkakan

Foto rontgen
thoraks

Normal/tida
k jelas

infiltrat
Pembesaran
kelenjar
Konsolidasi
segmental/lob
Page 35
a
atelektasis

Kalsifikasi +
infiltrate
Pembesaran
kelenjar +
infiltrat

Penatalaksanaan TB pada anak


Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
mka dilakukan pembobotan dengan system scoring. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau
sama dengan6 (>6), harus di tatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti
tuberculosis). Alur tatalaksana pasien TB anak dapat dilihat pada gambar 7.
Gambar 7. Alur diagnosis dan tatalaksana TB anakdi puskesmas

Paduan pengobatan
Prisip dasar pengobatan TB adalah minimal 2 macam obat dan diberikan dalam
waktu relatif lama (6-12 bulan). Tujuanya adalah untuk mencegah resistensi.
Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai
fase lanjutan. OAT pada anak diberikan setiap hari bukan 3 kali dalam seminggu.
Susunan paduan OAT pada anak adalah 2RHZ/4RH yaitu fase intensif terdiri dari
rifampisisn, INH, dan pirazinamid yang diberikan setiap hari selama 2 bulan
(2RHZ), dan fase lanjutan terdiri dari rifampisin dan INH yang diberikan setiap hari
selam 4 bulan.
Unutk mempermudah pemberian OAT sehingga meningkatkan keteraturan minum
obat, paduan OAT di sediakan dalam bentuk paket kombipak. Satu paket kombipak
dibuat untuk satu pasien untuk satu masa pengobatan. Kombipak untuk anak berisi
obat fase intensuf, yaitu rifampisisn (R) 75 mg, INH (H) 50 mg dan pirazinamid (Z)
150mg, serta obat fase lanjutan, yaitu R 75mg dan H 50 mg daklam satu paket.
Di tempat dengan sarana kesehatan yang lebih memadai untuk meningkatkan
kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang relatif lama dengan jumlah obat
yang

banyak,

telah

di

buat

suatu

Page 36

FDC

(fixed

dose

combination

Penatalaksanaan TB pada anak


), yaitu kombinasi beberapa OAT di dalam satu tablet. FDC ini dubuat dengfan
beberapa

kmposisi

rifampisin,

INH,

dan

pirazinamid,

masing-masing

75mg/50mg/150mg untuk 2 bulan pertama, sedangkan untuk fase 4 bulan berikutnya


terdiri dari rifampisin dan INH masing-masing 75mg dan 50mg.dosis yang
dianjurkan dapat dilihat dalam tabel 5.

Page 37

Penatalaksanaan TB pada anak

BAB III
KESIMPULAN

Masalah TB pada ank adalah masalah diagnosis karena belum adanya prosedur diagnostic
yang menjadi true gold standart. Hal ini juga akan berdampak juga dalam terapi, yaitu dalam
menentukan kriteria sembuh atau penghentian terapi. Kekeliruan, kesalahan, ketidaktepatan yang
lazim terjadi pada TB anak, dapat ditemukan dalam diagnosis dan terapi.Pada diagnosis yaitu
terhadap gejala kliis dan pemeriksaan penunjang, sedangkan pada terapi yaitu regimen dan
evaluasi terapi. Selayaknya kita harus menelaah secara kritis terhadap hal-hal tersebut, sehingga
pifak pada TB anak dapat kita hilangkan atau paling tidak diminimalkan

Page 38

Penatalaksanaan TB pada anak

DAFTAR PUSTAKA

1. Nastiti N Rahajoe, Darfioes Basir, Makmuri MS, Cissy B Kartasasmita: Pedoman


Nasional Tuberkulosis Anak 2007, Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi IDAI.
2. Nastiti N Rahardjo,Bambang,Darmawan, Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-2.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI 2011.
3. Behrman, Kliegman, Arvin : Ilmu Kesehatan Anak 2 edisi 15, Nelson, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC.
4. Depkes RI. Pedoman nasional penanggulangan tuberculosis. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia2002. Diakses tanggal 25 des 2011. Di
www.slideshare.net/mbagiansah

Page 39

kutip

dari