Anda di halaman 1dari 4

Analisis Jurnal

STUDENTS UNDERSTANDING OF ACID/BASES IN ORGANIC


CHEMISTRY CONTEXTS
(David P. Cartrette and Provi M. Mayo, 2011, Chem. Educ. Res. Pract. 12, hlm. 29-39)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas


Kimia Organik Fisik

Dosen :
Dr. Iqbal Musthapa, M.Si

Oleh:
Hidayati Oktarina
1402037

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014

A. Latar Belakang
Pelajaran kimia merupakan pelajaran yang sulit dipelajari (Scudder, 1997; Markow
and Lonning, 1998). Taber (2001) berpendapat bahwa, tidak seperti fisika dan biologi, kimia
tidak memungkinkan untuk membentuk pemikiran naif tentang fenomena dunia nyata. Dalam
fisika, siswa dapat menghubungkan konsep gaya dan benda bergerak, dan dalam biologi
siswa dapat memahami bahwa tanaman tumbuh dengan mengambil nutrisi dari tanah dan
energi dari matahari. Oleh karena itu, pemahaman konseptual yang berkaitan dengan
mengajar ilmu pengetahuan dan pembelajaran menjadi fokus intens dalam penelitian. adanya
kesalahpahaman dalam struktur kognitif siswa menyebabkan kesulitan siswa dalam
menerapkan konsep ilmiah yang telah dipelajari.
Yang menarik dalam penelitian ini adalah bentuk dari kesalahan konsep dalam
pemahaman asam basa. Beberapa penelitian telah dilakukan, umumnya kesalahpahaman
diidentifikasi oleh peneliti terhadap kesulitan dalam memanipulasi matematika selama
perhitungan pH. Pemahaman ambigu dari disosiasi dan ionisasi asam, derajat ionisasi, dan
larutan penyangga. Kesalahpahaman asam basa mempunyai pengaruh yang besar dalam
konsep pembelajaran yang benar, serta pengetahuan dalam memecahkan masalah atau situasi
laboratorium. Kebanyakan kesalahpahaman yang telah diidentifikasi sejalan dengan
pengetahuan deklaratif. Namun, perlu pengetahuan yang digunakan dalam hal prosedur,
seperti keterampilan laboratorium berkembang atau kemampuan memecahkan masalah.
Drechsler dan Van Driel (2008) berpendapat bahwa tiga model asam atau basa yang
digunakan dalam kurikulum kimia tingkat 2 yaitu model kuno, model Arrhenius, dan model
Brnsted. Beberapa peneliti (Wilson, 1998; Drechsler dan Schmidt, 2005; Furio-Mas et
al., 2005; Gericke dan Drechsler, 2006) telah menunjukkan bahwa buku teks sering
menggambarkan model dalam rangka berturut-turut, tidak menggambar hubungan antara
model atau menjelaskan di bawah keadaan apakah satu model bisa lebih baik dibanding
model yang lain. Akibatnya, guru sangat bergantung pada buku pelajaran dalam
mempersiapkan pembelajaran, dapat menimbulkan kebingungan saat penggunaan model di
luar buku pelajaran dan ke dalam kelas. Shaffer menunjukkan bahwa menggunakan teori
Lewis dalam kelas kimia umum untuk memperkenalkan konsep elektrofil dan nukleofil, dan
bagaimana itu berinteraksi dalam reaksi, cara bagi siswa untuk a) mengubah konsep dan
bahasa yang mereka perlukan untuk kimia organik, dan b) mendapatkan latihan dengan
penerapan teori. Shaffer menyimpulkan bahwa, akan lebih mudah memahami mekanisme
reaksi dan prediksi produk di kelas kimia organik jika teori Lewis yang lebih menekankan
pada pelatihan kimia umum. Hal ini tidak berarti bahwa teori asam basa Brnsted-Lowry
tidak berguna untuk kimia organik, namun teori Lewis lebih berguna dalam hal pemecahan
masalah (dalam bentuk prediksi mekanisme) dalam kimia organik. Mengingat bahwa
sebagian besar pemahaman konseptual dan penelitian pemecahan masalah mengenai asam
basa telah difokuskan pada sekolah tinggi dan kursus kimia umum, peneliti berusaha untuk
memperluas pengetahuan kita tentang bagaimana siswa menggambarkan dan menggunakan
teori asam dalam memecahkan non-matematis berbasis masalah.

B. Metodologi dan Hasil Penelitian


- Metodologi
Penelitian ini adalah salah satu penelitian mengenai enam topik yang terkait bidang
konseptual dan pemecahan masalah kimia organik. Penelitian ini dilakukan di sebuah
Lembaga Universitas Menengah di pedesaan yang meliputi dua jurusan, yaitu jurusan
pra-profesional yang terdiri atas 500 mahasiswa dan jurusan biokimia sebanyak 40
mahasiswa. Peserta untuk subjek penelitian dipilih secara purposive sampling, yang
berjumlah sebanyak 9 mahasiswa dari jurusan pra-profesional dan 5 mahasiswa dari
jurusan biokimia. Data penelitian diambil dengan metode wawancara dengan
menggunakan teknik berpikir kritis untuk memecahkan masalah pada saat wawancara.
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan komparatif konstans.
- Hasil Penelitian
Kesimpulan dari hasil wawancara peserta adalah sebagai berikut:
1. Semua peserta mendefinisikan dan memberi contoh Asam Basa Brnsted-Lowry
dengan benar, namun kurang dari setengah mendefinisikan asam basa Lewis
dengan benar.
2. Sebelas orang peserta mendefinisikan istilah elektrofil dan nukleofil dengan benar,
tetapi hanya empat orang yang menghubungkan istilah tersebut dengan teori asam
basa.
3. Ada sedikit perbedaan definisi yang benar dari istilah neuklofil dan elektrofil di
atas berdasarkan pada apakah peserta dari jurusan kimia atau tidak
4. peserta menjelaskan istilah tersebut berdasarkan pada analisis struktural atau fisik,
atau kombinasi keduanya. Dalam kebanyakan kasus, penjelasan ini benar.
5. Karakteristik pemecahan masalah tidak banyak perbedaan pada kedua jurusan
6. Sebagian besar peserta sangat bergantung pada definisi Brnsted-Lowry, bahkan
ketika tidak berlaku untuk masalah yang dihadapi, 'dipaksa' jawaban berdasarkan
definisi itu.
Sebuah hasil positif dari penelitian ini berdasarkan penjelasan siswa dari bentuk
struktur atau fisik dari asam basa. Penilaian dari struktur merupakan salah satu prinsip
dasar dari reaksi kimia. Kebanyakan siswa benar mengidentifikasi struktural seperti
kepolaran ikatan dan kerapatan elektron untuk memprediksi reaksi kimia. Ketika
membandingkan kekuatan asam, sebagian besar siswa benar menilai kestabilan basa
konjugat dalam resonansi, efek induksi, dan keelektronegatifan. Semua contoh-contoh ini
adalah pernyataan fakta, yang jatuh ke dalam bidang pengetahuan deklaratif. Namun, ada
masalah bagi sebagian besar siswa ketika bergerak di luar definisi ke aplikasi. Berulang
kali, para peserta dalam penelitian ini menjelaskan reaksi asam Lewis ke dalam prinsip
Brnsted-Lowry, reaksi ini merupakan bukti yang jelas bahwa siswa tidak membuat
hubungan antara skema yang berkaitan dengan asam atau basa, sehingga mereka tidak
dapat memecahkan masalah dengan menggunakan pengetahuan deklaratif yang siswa
miliki.

C. Implementasi pembelajaran di sekolah

Pengaplikasian materi asam basa telah lama dilakukan pada Sekolah Menengah.
Namun materi asam basa yang diajarkan di sekolah biasanya hanya sekedar pengelompokkan
asam basa menurut Arhenius, Bronsted-Lowry, dan Lewis, serta perhitungan pH, dan larutan
penyangga. Berdasarkan jurnal yang telah dianalisis, materi yang digunakan yaitu asam basa
juga, namun asam basa dalam konteks kimia organik dengan teori Bronsted-Lowry dan lewis
ditekankan untuk mempermudah siswa pada pembelajaran kesetimbangan dan kinetika kimia.
Tetapi penerapan itu dilakukan pada siswa tingkat universitas.
Pengaplikasian materi asam basa dalam konteks kimia organik tersebut juga cocok
diterapkan pada Sekolah Menengah, karena kurikulum dan metode pembelajaran yang
digunakan guru dapat meningkatkan pemahaman siswa. Pengaplikasian materi tersebut dalam
konteks kimia organik menjadi nilai tambah untuk konsep yang dimiliki siswa. Salah satu
metode yang digunakan guru untuk mengaplikasikan materi tersebut adalah dengan model
pembelajaran problem solving seperti yang dijelaskan dalam jurnal. Problem solving
merupakan model pembelajaran yang menghadapkan siswa dengan persoalan yang harus
dipecahkan. Pada pembelajaran problem solving peserta didik dilibatkan secara aktif dalam
proses pembelajaran dalam artian siswa lebih mendominasi dari pada guru sehingga siswa
dapat mengembangkan ide-ide atau daya pikir yang mereka miliki dalam memecahkan suatu
masalah. Adapun tahapan dalam model problem solving yaitu:
1. tahap satu mengorientasikan masalah. Pada tahap ini, guru mengajukan fenomena
untuk memunculkan masalah dan mengembangkan rasa ingin tahu siswa dalam
rangka memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah tersebut. Seperti,
siswa diberikan mekanisme reaksi asam basa yang meliputi pKa, kemudian guru
menyuruh siswa untuk mengidentifikasikan reaksi neuklofilik, elektrofilik, dan
menentukan manakah reaksi yang tergolong teori Bronsted-Lowry dan Teori Lewis.
2. Tahap yang kedua, siswa diminta mencari sumber yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah. Pada tahap ini siswa mengumpulkan data sebanyakbanyaknya untuk menjawab permasalah yang diperoleh dari tahap pertama.
3. Pada tahap tiga siswa diminta menetapkan jawaban sementara dari masalah yang telah
dirumuskan pada tahap pertama. Setelah memperoleh berbagai data dari tahap kedua,
siswa dapat menuliskan jawaban sementara dari permasalah tersebut.
4. tahap empat siswa diminta menguji kebenaran jawaban sementara salah satunya
dengan menganalisa struktur-struktur dari senyawa mekanisme reaksi tersebut
5. Pada tahap kelima, siswa diminta untuk menarik kesimpulan dari pemecahan masalah
tersebut. Dari hasil diskusi yang telah dilakukan siswa dapat menyimpulkan
pemecahan masalah dari rumusan masalah pada tahap pertama dan mengetahui
jawaban sementara yang ditulis pada tahap ketiga sesuai atau tidak. Setelah siswa
dapat menyimpulkan maka siswa dilatih untuk memprediksi sesuatu yang akan terjadi
dengan menggunakan pola-pola yang diperoleh dari permasalahan.