Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang berbentuk
pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu,
keluarga, masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencankup seluruh siklus kehidupan
manusia. Pelayanan keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan,
pencegahan penyakit, penyembuhan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan serta
pemeliharaan kesehatan khususnya pada klien. (perry, Potter. 2005).
Filariasis atau yang dikenal dengan penyakit kaki gajah mulai ramai diberitakan sejak
akhir tahun 2009, akibat terjadinya kematian pada beberapa orang. Sebenarnya penyakit ini
sudah mulai dikenal sejak 1500 tahun oleh masyarakat, dan mulai diselidik lebih mendalam
ditahun 1800 untuk mengetahui penyebaran, gejala serta upaya mengatasinya. Baru ditahun
1970, obat yang lebih tepat untuk mengobati filarial ditemukan. Rubrik ini berusaha
menjelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi dan mengapa penanggulangan Penyakit Kaki
Gajah harus segera dilaksanakan. Penyakit filaria yang disebabkan oleh cacing khusus cukup
banyak ditemui di negeri ini dan cacing yang paling ganas ialah Wuchereria bancrofti,
Brugia, malayi, Brugia timori, Penelitian di Indonesia menemukan bahwa cacing jenis Brugia
dan Wuchereria merupakan jenis terbanyak yang ditemukan di Indonesia, sementara cacing
jenis Brugia timori hanya didapatkan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di pulau Timor. Di
dunia, penyakit ini diperkirakan mengenai sekitar 115 juta manusia, terutama di Asia Pasifik,
Afrika, Amerika Selatan dan kepulauan Karibia. Penularan cacing Filaria terjadi melalui
nyamuk dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi) ditemukan di
Indonesia sebagian besar lainnya memiliki periodisitas nokturnal dengan nyamuk Culex,
nyamuk Aedes dan pada jenis nyamuk Anopheles. Nyamuk Culex juga biasanya ditemukan
di daerah-daerah urban, sedangkan Nyamuk Aedes dan Anopheles dapat ditemukan di
daerah-daerah rural. (Riyanto,harun.2010)
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan penyakit filariasis adalah penyakit endemis
yang apabila tidak ditangani secara cepat akan memperluas penyebaran dan penularannya
kepada manusia. Oleh karena itu kita perlu mengetahui apa itu filariasis, serta hal-hal yang
terkait dengannya. Berdasarkan paparan dari fakta inilah maka saya selaku penulis tertarik
untuk membahas kasus mengenai penyakit filariasis. (Riyanto, harun.2005)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teoritis
2.1.1 Definisi
Filariasis ialah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria
yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk pada kelenjar getah bening, Penyakit ini bersifat
menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap
berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.
(Witagama,dedi.2009)

2.1.2 Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi,
Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia
terutama dalam kelenjar getah bening dan darah. infeksi cacing ini menyerang
jaringan viscera, parasit ini termasuk kedalam superfamili Filaroidea, family onchorcercidae.
Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4 - 6 tahun dan
dalam tubuh manusia cacing dewasa betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria)
yang beredar dalam darah terutama malam hari.
Ciri-ci
ri cacing dewasa atau makrofilaria :
a.

Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe.

b.

Ukuran 55 100 mm x 0,16 mm

c.
d.

Cacing jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm


Berkembang secara ovovivipar

Mikrofilaria :
a.

Merupakan larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu

b.

Mempunyai sarung. 200 600 X 8 um

Faktor yang mempengaruhi perkembangan makrofilaria:


a.

Lingkungan fisik : Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,

b.

Lingkungan biologic : lingkungan Hayati yang mempengaruhi penularan; hutan,


reservoir, vector

c.

Lingkungan sosial ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat Istiadat,
Kebiasaan dsb,

e.

Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Getah Dsb

2.1.3 Patofisiologi

Parasit

Menuju pemb. Limfa

Perubahan dari larva


Stadium3

Parasit Dewasa

Berkembang biak

Menyebabkan antigen
Meyebabkan dilatasi

Kumpulan

Parasit

Pemb. Limfa

Cacing filaria
Pembengkakan pemb. Limfa

Mengaktifkan Sel T Dewasa Penyebab

Penyumbatan Pemb. Limfa

NYERI

Kerusakan struktur

KERUSAKAN INTEGRITAS

IgE berikatan

Mediator Inflamasi

KULIT

Kelenjar getah bening

Adanya inflamasi pada kulit

HIPERTERMI

HARGA DIRI RENDAH

2.1.4 Manifestasi klinis


Manifestasi gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik
dengan konsekuensi limfangitis dan limfadenitis. Selain itu, juga oleh reaksi hipersensitivitas
dengan gejala klinis yang disebut occult filariasis.
Dalam proses perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan limfangitis dan
limfadenitis akut berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem
limfatik. Perjalanan penyakit berbatas kurang jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya,
tetapi bila diurutkan dari masa inkubasi dapat dibagi menjadi:
1.

Masa prepaten

Merupakan masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia yang
memerlukan waktu kira-kira 37 bulan. Hanya sebagian tdari penduduk di daerah endemik
yang menjadi mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua
kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang
asimtomatik baik mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.
2.

Masa inkubasi

Merupakan masa antara masuknya larva infektif hingga munculnya gejala klinis yang
biasanya berkisar antara 8-16 bulan.
3.

Gejala klinik akut

Gejala klinik akut menunjukkan limfadenitis dan limfangitis yang disertai panas dan malaise.
Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. Penderita dengan gejala klinis akut dapat
mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.
4.

Gejala menahun

Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Mikrofilaria jarang
ditemukan pada stadium ini, sedangkan limfadenitis masih dapat terjadi. Gejala kronis ini
menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani
keluarganya.

2.1.4 Komplikasi
a.

Cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena

b.

Elephantiasis tungkai

c.

Limfedema : Infeksi Wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis,vulva


vagina dan payudara,

d.

Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfangitis pada saluran limfe testis berulang:


pecahnya tunika vaginalisHidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di
antaralapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan
yang berada di dalam rongga itu memang adadan berada dalam keseimbangan antara
produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.

e.

Kiluria : kencing seperti susu karena bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing
dewasa yang menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.

2.1.5 Pemeriksaan diagnostic


a.

Diagnosis Klinik

Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Diagnosis


klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic
Disease Rate).
Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis
filariasis adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala
menahun.
b.

Diagnosis Parasitologik

Diagnosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria pada


pemeriksaan darah kapiler jari pada malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan siang hari, 30
menit setelah diberi DEC 100 mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan
species cacing filaria.
c.

Radiodiagnosis

Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar limfe inguinal
penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign).
Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang dilabel dengan
radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik, sekalipun pada penderita
yang mikrofilaremia asimtomatik.

d.

Diagnosis Immunologi

Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten, inkubasi,


amikrofilaremia dengan gejala menahun, occult filariasis, maka deteksi antibodi dan/atau
antigen dengan cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis.
Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremia, tidak
membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit,
ekskresi dan sekresi parasit tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik. Gib
13, antibodi monoklonal terhadap O. gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan
mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea.

2.1.6 Penatalaksanaan
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh, baik untuk
filariasis bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini
ampuh, aman dan murah, tidak ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi samping
sistemik dan lokal yang bersifat sementara. Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam,
berupa sakit kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian, pusing, anoreksia,
kelemahan, hematuria transien, alergi, muntah dan serangan asma. Reaksi lokal dengan atau
tanpa demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi, limfedema transien, hidrokel, funikulitis
dan epididimitis. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang
spontan setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. Reaksi
samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis pertama, hilang spontan setelah
beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering ditemukan pada penderita dengan gejala
klinis. Reaksi sampingan ini dapat diatasi dengan obat simtomatik.

Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:


1.

Pemberantasan nyamuk dewasa


a.

Anopheles : residual indoor spraying

b.

Aedes : aerial spraying

2.

Pemberantasan jentik nyamuk


a.

Anopheles : Abate 1%

b.

Culex : minyak tanah


c.
Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan, mengeringkan
rawa dan saluran air

3.

Mencegah gigitan nyamuk


a.

Menggunakan kawat nyamuk/kelambu

b.

Menggunakan repellent

Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan


sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang penanggulangan filariasis.
Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk
daerah endemis, dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera
mmeriksakan diri ke Puskesmas, bersedia diperiksa darah kapiler jari dan minum obat DEC
secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.. Evaluasi hasil
pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan melakukan pemeriksaan vektor dan
pmeriksaan darah tepi untuk deteksi mikrofilaria.

2.2 Landasan Teoritis Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
a.

Riwayat kesehatan

Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Cacing
filariasis menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva
stadium III. Gejala yang timbul berupa demam berulang-ulang 3-5 hari, demam ini dapat
hilang pada saat istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat.
b.

Aktifitas / Istirahat

Gejala

: Mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan pola tidur.

Tanda
: Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktivitas ( Perubahan
TD, frekuensi jantung)
c.

Sirkulasi

Tanda
d.

: Perubahan TD, menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan pengisian kapiler.

Integritas dan Ego

Gejala
: Stress berhubungan dengan perubahan fisik, mengkuatirkan penampilan, putus
asa, da sebagainya.
Tanda
e.

: Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah.

Integumen

Tanda

: Kering, gatal, lesi, bernanah, bengkak, turgor jelek.

f.

Makanan / Cairan

Gejala

: Anoreksia, permeabilitas cairan

Tanda

: Turgor kulit buruk, edema.

g.

Hygiene

Gejala

: Tidak dapat menyelesaikan AKS

Tanda

: Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.

h.

Neurosensoris

Gejala
otot.
Tanda
i

: Pusing, perubahan status mental, kerusakan status indera peraba, kelemahan


: Ansietas, refleks tidak normal.

Nyeri / Kenyamanan

Gejala

: Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala.

Tanda

: Bengkak, penurunan rentang gerak.

j.

Keamanan

Gejala
: Riwayat jatuh, panas dan perih, luka, penyakit defisiensi imun, demam berulang,
berkeringat malam.
Tanda
k.

: Perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe.

Seksualitas

Gejala

: Menurunnya libi

Tanda

: Pembengkakan daerah skrotalis

l.

Interaksi Sosial

Gejala

: Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.

Tanda

: Perubahan interaksi, harga diri rendah, menarik diri.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1.

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening

2.

Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe

3.

Kurang pengetahuan berhubungan inefektif informasi

4.

Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh

5.

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit

2.2.3 Intervensi
1.
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah
bening.
a. Berikan kompres pada daerah frontalis dan axial
Rasional : Mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus, mengurangi panas tubuh
yang mengakibatkan darah vasokonstriksi sehingga pengeluaran panas secara konduksi.
b. Monitor vital sign, terutama suhu tubuh
Rasional : Untuk mengetahui kemungkinan perubahan tanda-tanda vital.
c. Pantau suhu lingkungan dan modifikasi lingkungan sesuai kebutuhan, misalnya
sediakan selimut yang tipis
Rasional : Dapat membantu dalam mempertahankan / menstabilkan suhu tubuh pasien.
d. Anjurkan kien untuk banyak minum air putih
Rasional : Diharapkan keseimbangan cairan tubuh dapat terpenuhi.
e. .Anjurkan klien memakai pakaian tipis dan menyerap keringat jika panas tinggi
Dengan pakaian tipis dan menyerap keringat maka akan mengurangi penguapan.
f. .Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (anti piretik).
Rasional : Diharapkan dapat menurunkan panas dan mengurangi infeksi.

2.

Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe

Intervensi
a. .Berikan tindakan kenyamanan (pijatan / atur posisi), ajarkan teknik relaksasi.
Rasional : Meningkatkan
meningkatkan koping.

relaksasi,

memfokuskan

kembali

perhatian

b. .Observasi nyeri (kualitas, intensitas, durasi dan frekuensi nyeri).


Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya dalam mengatasi nyeri

dapat

c. .Anjurkan pasien untuk melaporkan dengan segera apabila ada nyeri


Rasional : Nyeri berat dapat menyebabkan syok dengan merangsang sistem syaraf simpatis,
mengakibatkan kerusakan lanjutan
d. .Alihkan perhatian klien dari nyeri yang dialami
Rasional : ntuk Mengatasi nyeri
e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (obat anelgetik).
Diberikan untuk menghilangkan nyeri.

3.

Kurang pengetahuan berhubungan inefektif informasi

Intervensi
a. .Kaji apakah klien memahami dan mengerti tentang penyakitnya
Rasional : Klien memperoleh informasi untuk dapat melakukan pengobatan secara mandiri
b. Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan
konsepsi/informasi
Rasional : Klien dapat informasi yang benar dari perawat untuk dapat merasakan manfaat
penanganannya lebih baik
c. Nasehati klien agar selalu menjaga hygiene pribadi juga lingkungan
Rasional : Dengan terjaganya hygiene, tidak memperparah komplikasi yang timbul

4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh


Intervensi
a. Lakukan Retang Pergerakan Sendi (RPS)
Rasoinal : Meningkatkan kekuatan otot dan mencegah kekakuan sendi
b. .Tingkatkan tirah baring / duduk
Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan enegi untuk penyembuhan
c. .Berikan lingkungan yang tenang
Rasional : tirah baring lama dapat meningkatkan kemampuan
d. .Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi

Rasional : Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi


e. Observasi ukuran diameter pada tungkai kaki klien
Rasional : untuk mengetahui perubahan ukuran pada tungkai kaki klien

5.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada
kulit
Intervensi
a. .Ubah posisi tempat tidur dan kursi sesering mungkin
Rasional : Mengurangi resiko abrasi kulit dan penurunan tekanan yang dapat menyebabkan
kerusakan aliran darah seluler
b. Gunakan pelindungan kaki, bantalan busa atau air pada waktu berada di tempat tidur
dan pada waktu duduk dikursi
Rasional : Tingkatkan sirkulasi darah pada permukaan kulit untuk mengurangi panas atau
kelembaban
c. .Periksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin
Rasional : Kerusakan kulit dapat terjadi dengan cepat pada daerah yang bereksiko yang
terinfeksi dan nekrotik
d. Anjurkan pasien untuk melakukan rentang gerak
Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan meningkatkan partisipasi pasien
e. Kolaborasi: Rujuk pada ahli kulit. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah terjadinya
decubitus
Rasional :Mungkin membutuhkan perawatan professional untuk masalah yang dialami

DAFTAR PUSTAKA

http://v3aza.blogspot.com/2011/05/askep-filariasis.html

http://yaya-ryuta.blogspot.com/2011/04/makalah-asuhan-keperawatan-pada-klien.html

Widoyono. Penyakit TropisEpidemiologi, penularan pencegahan dan


pemberantasannya.Edisi kedua.Jakarta: Penerbit Erlangga.
Muttaqin,Arif dan Kumala Sari.2010.Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Integumen. Jakarta:Salemba Medika