Anda di halaman 1dari 17

Kebolehan Melakukan Jima setelah Haid sebelum Melaksanakan

Mandi Wajib (Studi Analisis Pendapat Mazhab Hanafi)


Nama: Ramadhani
NIM: 10821002872
Dosen Pembimbing: Drs. Yusran Sabili, MA
Jurusan: Ahwal Al-Syakhsiyah
Alamat: Pondokan Tiga Saudara, Jln. Swakarya, Gg. AMD,
Rt/Rw: 03/09, Kel: Tuah Karya, Kec: Tampan, Pekanbaru.
Hp: 085263576952. email: danesta030806@gmail.com
ABSTRAK
Jumhur ulama mengatakan bahwa perempuan yang telah selesai haid
atau darah haidnya telah berhenti, haram melakukan hubungan badan (jima)
sampai perempuan tersebut melaksanakan mandi wajib. Jumhur ulama
berpendapat seperti ini, berlandasakan kepada Firman Allah SWT di dalam
Surat Al-Baqarah ayat 222. Namun Abu Hanifah dan para pengikutnya
mengatakan bahwa boleh melakukan jima setelah haid sebelum melaksanakan
mandi wajib. Dengan demikian dalam skripsi ini penulis menelusuri dan
menganalisa bagaimana konsep tentang kebolehan jima setelah haid sebelum
melaksanakan mandi wajib menurut Imam Abu Hanifah beserta pengikutnya.
Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah, Imam Abu Hanifah
dan para pengikutnya mengatakan bahwa boleh melakukan jima setelah haid
sebelum melaksanakan mandi wajib, apabila darah haid perempuan telah
berhenti setelah masa maksimal haid, yaitu sepuluh hari, apabila kurang dari
sepuluh hari lalu darah haid tersebut berhenti, maka tetap haram melakukan
hubungan badan sampai perempuan tersebut melaksanakan mandi terlebih
dahulu. Imam Abu Hanifah mengqiyaskan status perempuan yang telah
berhenti darah haidnya kepada status perempuan dalam keadaan junub namun
juga belum melasanakan mandi, dengan illat bahwa perempuan yang dimaksud
dalam keadaan sama-sama berhadas namun boleh untuk digauli.
Kata Kunci: Kebolehan Jima setelah Haid sebelum Melaksanakan
Mandi Wajib oleh Imam Abu Hanifah dan Pengikutnya.
ABSTRAC
The scholars argue illegitimate sexual intercourse after menstruation before
have to shower, this argument based on the firman Allah SWT in the Al-Quran
Al-Baqarah 222. But Imam Abu Hanifah and with his followers says might to
doing sexual intercourse after menstruation before implementing mandatory
shower, with conditions if menstruation stop after 10 days.

A. Pendahuluan
Dalam melakukan hubungan suami istri (jima) suatu hal yang
sangat perlu diperhatikan adalah kesiapan antara suami dan istri. Istri selaku
wanita secara fisik akan mengalami dua masa setiap bulannya. Masa yang di
maksud adalah masa suci dan masa kotor. Saat mengalami masa kotor adalah
ketika ia haid, sedangkan masa sucinya adalah saat-saat selain haid atau
menstruasi.
Masalah haid akan makin menarik bila dihubungkan dengan
seksualitas seorang suami, karena terkadang ada seorang suami yang
melakukan senggama dengan istrinya yang telah suci dari haid namun belum
melaksanakan mandi wajib. Sekilas memang tidak ada kejanggalan dari apa
yang dilakukan oleh suami-istri tersebut, karena merupakan suatu hal yang
wajar bagi sepasang suami-istri untuk melakukan hubungan intim. Namun,
meskipun suami-istri itu mempunyai kebebasan dalam melakukan
persenggamaan, tetapi keduanya tidak diperbolehkan melampaui ramburambu yang telah digariskan oleh hukum Islam.
Yang menjadi masalah adalah, ada seorang suami yang melakukan
jima dengan istrinya yang baru suci dari haid, namun sang istri belum mandi
atau bersuci dari haidnya. Persoalan yang muncul, ditinjau dari hukum Islam,
bolehkah seorang suami melakukan jima dengan istri yang demikian?
Jumhur ulama berpendapat berdasarkan kepada nash Al-Quran dan
hadis bahwa haram melakukan jima setelah haid sebelum melakukan mandi
wajib. Namun Imam Abu Hanifah beserta pengikutnya berpendapat bahwa
boleh melakukan jima setelah haid sebelum melakukan mandi wajib.
Pendapat Imam Abu Hanifah ini terdapat di dalam kitab Al-mabsut :



1

1 Syamsuddin Abu Bakar Muhammad bin Abi Sahal alSarkhasi, 2000, al-Mabsut lil Sarkhasi, Berirut: Daar Fikr,
hal. 27

Beranjak dari permasalahan di atas, maka penulis


sangat tertarik untuk mengkajinya lebih dalam lagi dalam
bentuk tulisan ilmiah yang berjudul Kebolehan
Melakukan Jima setelah Haid sebelum Melaksanakan
Mandi Wajib (Studi Analisis Pendapat Mazhab Hanafi)
B. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penulis menggunakan
metode penelitian kepustakaan (library research),yakni suatu kajian yang
menggunakan literatur kepustakaan dengan cara mempelajari buku-buku,
kitab-kitab maupun informasi lainnya yang ada relevansinya dengan ruang
lingkup pembahasan.
1. Sumber data
Karena penelitian ini merupakan penelitian pustaka sumber data
diperoleh dari literatur, yaitu :
a. Data Primer
Adapun yang menjadi sumber data primer untuk membahas
penelitian ini adalah :
1) Kitab al-Mabsut, karya Syamsuddin Abu Bakar Muhammad
bin Abi Sahal al-Sarkasi
2 ) Kitab Raddul Mukhtar, karya Ibnu Abidin
3 ) Kitab Hadis Kutubu as-Sittah
b. Data Sekunder
Sebagai data sekunder (pelengkap) diperoleh dari berbagai literatur
yang berkaitan dengan pembahasan ini, seperti : Bidayatul Mujtahid,
Fiqh Islami Adillatuhu, Fiqh Sunnah, Tafsir al-Maraghy, Tafsir alQurtuby, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ayat Ahkam, Kitab Al-Umm, Kitab
Mazahib al-Arbaah serta buku-buku pendukung lainnya yang sangat
membantu dalam pengembangan wawasan penulis terhadap
permasalahan ini.
2. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penulis mengumpulkan semua literatur


yang ada yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan rujukan penulis
untuk menyajikan tulisan atau karya ilmiah ini.
3. Dalam menganalisa data, penulis menggunakan teknik sebagai berikut :
a. Induktif yaitu berangkat dari fakta yang bersifat khusus kemudian
dari fakta-fakta yang bersifat khusus itu ditarik suatu kesimpulan
yang bersifat umum.
b. Deduktif yaitu berangkat dari pengetahuan yang sifatnya umum dan
bertitik tolak dari pengetahuan yang umum untuk menarik
kesimpulan yang bersifat khusus. Menurut Sutrisno Hadi, prinsip
deduktif ini adalah : Apa yang dipandang benar dalam suatu ketika
atau jenis, berlaku juga sebagai hal yang benar dalam semua
peristiwa yang termasuk dalam kelas atau jenis itu.
C. Pembahasan
1. Pendapat Mazhab Hanafi tentang Kebolehan
Melakukan Jima setelah Haid sebelum Melaksanakan
Mandi Wajib
Jumhur fuqaha berpendapat tidak boleh bagi seorang
suami menggauli istrinya yang sedang haid kecuali dia telah
mandi, yakni membersihkan kepala dan semua anggota
tubuhnya dengan air.2 Mereka mendasarkan ini kepada firman
Allah; Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati
mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci,
maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan
Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang taubat dan menyukai orang-orang yang membersihkan
diri. (QS: Al-Baqarah: 222).
2 DR. Yusuf Al-Qaradhawi, 2007, Fikih Thaharah, alih
bahasa oleh Samson Rahman MA, Jakarta: Pustaka AlKautsar, Cet. Ke-3, hal. 367

Berbeda dengan pendapat jumhur Ulama, Mazhab


Hanafi berpendapat bahwa menyetubuhi (menggauli) istri
yang sudah selesai haid, tapi belum melakukan mandi
dibolehkan. Sebagaimana yang tertuang dalam kitab AlMabsut :

Artinya : bahwa berhenti darah haid disertai yakin


perempuan itu sudah berhenti haidnya dan dilarang
berhubungan badan ketika haid, tidaklah wajib mandi
terlebih dahulu atas wata. Tidakkah engkau
perhatikan, bahwasanya perempuan suci apabila dia
dalam keadaan junub, boleh bagi suaminya untuk
mendatanginya (menggauli). Maka sama halnya
disini, setelah diyakini dengan berhentinya darah
haid boleh bagi suaminya untuk mendatangi istrinya.
Apabila masa haidnya kurang 10 hari dan darah haid
3 Syamsuddin Abu Bakar Muhammad bin Abi Sahal alSarkhasi, 2000, al-Mabsut lil Sarkhasi, Berirut: Daar Fikr, Juz
II, hal. 27

sudah berhenti, tidak boleh bagi suami mendatangi


istri untuk berhubungan badan sebelum ia
melakukan mandi. Jika telah berlalu waktu sholat
boleh bagi suami mendatangi istrinya untuk
berhubungan badan menurut kami.
Salah satu ulama pemuka golongan Hanafiyah yakni
Ibnu Abidin juga menuliskan pendapat Mazhab Hanafi dalam
kitabnya yang bernama Radd al Mukhtar Syarah Tanwir al
Absar yang berbunyi :

4
Artinya :Dan halal melakukan wata (hubungan badan)
apabila telah berhentinya darah haid perempuan
(istri) dengan telah melewati batas maksimal tanpa
mandi wajib terlebih dahulu.
Pendapat Imam Hanafi ini juga bisa di temukan dalam Kitab
Bidayatul Mujtahid :

Artinya :dan telah berpendapat Abu Hanifah beserta pengikutnya


bahwasanya demikian hukum (kebolehan jima dengan istri yang
telah berhenti darah haid namun belum mandi) adalah boleh
apabila telah melewati batas maksimal haid yaitu setelah
menjalani haid selama 10 hari.

4 Ibnu Abidin, 2000, Hasyiyah Raddul Mukhtar, Beirut:


Da ar Al-Fikr, Juz I, hal. 294
5 Ibnu Rusd, , [th] Bidayatul Mujtahid, Surabaya:Toko
Kitab Hidayah, hal. 41

Mazhab Hanafi berkata; Jika darah telah putus dalam jangka waktu
kurang dari sepuluh hari dan ini adalah waktu terlama masa haidh, tidak boleh
bagi suami menggauli istrinya hingga dia mandi, atau berlalu baginya waktu
shalat. Jika darah itu putus sepuluh hari, maka boleh bagi seorang suami
menggaulinya sebelum ia mandi. Sesuai dengan firman Allah; sebelum
mereka suci (hatta yathhurna) yakni darah putus. Ini mereka tafsirkan
setelah sepuluh hari. Sedangkan bacaan dengan tasydid mereka artikan
dengan sebelum masa sepuluh hari, sesuai dengan dua cara membaca itu.
Demikianlah yang mereka katakan. Sebab yang dibawah sepuluh hari tidak
dianggap sebagai selesainya haidh karena ada kemungkinan darah keluar
kembali sehingga darah yang keluar itu masih disebut haidh. Jika dia mandi
dan telah berlalu waktu shalat, maka dia masuk dalam golongan orang-orang
yang telah suci. Dan setelah sepuluh hari kami anggap darah haid telah putus.
Sebab jika dia melihat darah maka itu bukanlah haidh. Dengan demikian
maka halal untuk digauli.6
Pendapat di atas menjelaskan bahwa dalam pandangan Imam Hanafi
dan pengikutnya (Mazhab Hanafi), seorang suami itu boleh menggauli
istrinya yang telah suci dari haid tapi belum melaksanakan mandi, atau
seorang wanita yang telah suci dari haid boleh digauli oleh suaminya
sebelum wanita tersebut mandi besar, dengan syarat istri tersebut telah
melewatai batas maksimal masa haidnya, yaitu 10 hari. Jika si istri haidnya
kurang dari 10 hari maka tetap haram digauli oleh suaminya sebelum ia
melaksanakan mandi wajib.
2. Tinjauan Hukum Islam terhadap kebolehan jima
setelah haid sebelum melaksanakan mandi wajib
menurut Pendapat Mazhab Hanafi

6 DR. Yusuf Al-Qaradhawi, op.cit., hal. 368

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah,


haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah
kalian menjauhkan diri dari istri di waktu haid. (QS. AlBaqarah : 222)
Imam Syafii R.a berkata, Allah SWT pun menerangkan
bahwa yang dimaksud adalah perempuan haid, bukan
perempuan suci, dan memerintahkan agar seorang
perempuan yang sedang haid tidak didekati sebelum dia suci,
juga setelah suci sebelum dia mandi, dan termasuk
perempuan yang dibolehkan untuk mendirikan shalat.
Seorang suami tidak boleh mencampuri istrinya sebelum dia
bersuci.7
Jelaslah dalam firman Allah SWT (hatta yathurna)
sebelum mereka suci bahwa para istri itu sedang haid,
bukan dalam keadaan suci. Dia pun melarang orang yang
sedang junub untuk mendirikan shalat sebelum mandi. Jelas
pula bahwa jangka waktu junub hanyalah sampai mandi,
sementara jangka waktu haid adalah sampai haidnya selesai
lalu mandi.8
Kemudian dalam salah satu Sunah Rasulullah SAW
menjelaskan bahwa bersuci dengan air adalah mandi. Dalam
hadis Hamnah binti Jahsy r.a pun disebutkan beliau
memerintahnya untuk mandi apabila dia tahu kalau dirinya
telah suci. Beliau kemudian memerintahkan shalat (dalam
hadis Hamnah). Dengan demikian hal itu menunjukkan bahwa
suami boleh mencampurinya karena Allah SWT
7 Syaikh Ahmad Musthafa al-Farran, 2007, Tafsir alImam asy-Syafii, alih bahasa oleh Ali Sutan, dkk, Jakarta:
Almahira, Jilid I, hal. 357-358
8 Ibid, h.358

memerintahkannya untuk menjauhi isti saat sedang haid dan


mengizinkannya untuk mencampurinya saat dia suci.9
Imam Syafii berkata : perkara yang jelas dalam kitab
Allah adalah, menghindari mendatangi wanita pada
kemaluannya karena kotoran yang ada padanya. Adapun
firman-NYA, hingga mereka suci, yakni mereka melihat
kesucian setelah darah haid berhenti. hendaklah kamu
menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, mengandung
dua makna; pertama, menjauhi kemaluan mereka. Kedua,
menjauhi kemaluan dan seluruh badan mereka, atau
kemaluan mereka dan sebagian dari badan mereka.
Sementara sunnah Rasulullah dan nash Kitab Allah
menunjukkan bahwa yang mesti dijauhi adalah kemaluan.
Lafadz sunnah serta Kitab Allah telah menunjukkan agar
menjauhi wanita haid pada apa yang ada dibalik sarungnya
(yakni kemaluan), dan boleh mencumbui apa saja yang dia
sukai dari atas sarungnya. Jika suami bercampur (jima)
dengan istrinya saat haid, maka hendaklah dia memohon
ampunan kepada Allah.10
Imam Syafii berkata: Apabila suami hendak bercumbu
dengan istrinya yang sedang haid, maka ia tidak boleh
mencumbuinya hingga mengikatkan kain pada bagian
kemaluannya kemudian mencumbuinya dari atas kain seraya
menikmatinya sebagaimana yang ia sukai, akan tetapi ia
tidak boleh menikmati apa yang ada dibalik kain dan tidak
9 Ibid, h.359
10 Imam Syafii Abu Abdullah Muhammad bin Idris,
2007, Mukhtashar Kitab Al Umm fi Al Fiqh, alih bahasa oleh
Muhammad Yasir Abd. Muthalib, Jakarta: Pustaka Azzam,
edisi II, hal. 472

boleh mencumbuinya tanpa ada kain dikemaluannya. Adapun


pusar termasuk bagian yang ada di ats kain.11
Pendapat tersebut dipegang juga oleh: Ibnu Qudamah,
Malik, Zuhri, Lais, Rabiah, Ahmad, dan Wahbah Zuhaili, atau
oleh kebanyakan Ulama.
Ibnu Qudamah adalah salah seorang fuqaha dari
kalangan Hanabalah dalam kitabnya al-Mughni, berpendapat
bahwa jima dengan istri setelah haid sebelum mandi
hukumnya adalah haram.12
Ketidak bolehan jima setelah haid sebelum
melaksanaan mandi juga menjadi keyainan Ulama Malikiyah.
Pernyataan ini dapat dipahami dari pendapat Ulama di
kalangan mereka, yang diantaranya apa yang dikatakan oleh
al-Qurthuby, salah seorang Mufassir dari kalangan Malikiyah
dalam kitabnya al-Jami li Ahkamil Quran, yaitu diharamkan
bagi seorang laki-laki untuk mendekati (menggauli) istrinya
setelah haid tapi belum bersuci (mandi).13
Menurut pendapat Malik, Zuhri, Lais, Rabiah, Ahmad,
Ishaq, dan Abu Tsur, menyebutkan bahwa kebolehan
melakukan jima setelah haid adalah berhentinya darah haid
dan setelah mandi sebagaimana mandi junub.14
Sedangkan Mazhab Zahiriyah mereka memiliki
pandangan sendiri yang dikatakan oleh Abu Muhammad Ibnu
Hazm dalam kitabnya Muhalla bahwa wanita haid dan melihat
11 Ibid,
12 Ibnu Qudamah, al-Mughni, (Makkah: Maktabah
Tijariyah, [t.th]), juz III. hal. 387
13 Al-Qurthuby, al-Jami li Ahkamil Quran, ([tt], [th])
juz III, hal. 88
14 Ali As-Sais, Tafsir Ayat Ahkam, ([tt], [th]) juz I, hal.
129

darah sudah bersih dan darah telah terputus darinya boleh


bagi suaminya untuk menggaulinya jika istrinya itu telah
melakukan salah satu dari tiga hal berikut ini.15
1. Mandi. Yakni mengguyur semua kepada dan
badannya dengan air, atau dia bertayamum jika
dibolehkan baginya untuk bertayamum. Ini adalah
pendapat yang disepakati.
2. Wudhu. Hendaknya dia mengambil wudhu
sebagimana saat ia aan melakukan shalat, atau
bertayamum jika diblehkan baginya bertayamum.
3. Atau mencuci kemaluannya dengan air. Dann ini
harus (tidak boleh tidak).
Jika salah satu dari ketiga hal ini dia lakukan maka halal
bagi suaminya untuk menggaulinya.
Ibnu Hazm berkata: dalilnya adalah Firman Allah: Oleh
sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di
waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka,
sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka
campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah
kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
taubat dan menyukai orang-orang yang membersihkan diri.
(QS: Al-Baqarah: 222). Firmannya; hatta yathhurna sampai
mereka suci, yakni tidak ada lagi darah haidh. Sedangkan
firmanNYA; faidza Tathahharna sifat dari apa yang mereka
lakukan. Semua yang telah kami sebutkan (dari wudhu,
mencuci kemaluan dan tayammum) dalam syariat Islam dan
dalam bahasa disebut dengan tathahhur thahur dan
thuhran. Maka apapun yang mereka lakukan dari salah satu

15 DR. Yusuf Al-Qaradhawi, op.cit., hal. 368

dari tiga hal yang telah kami sebutkan maka dia telah
bersuci.16
Allah berfirman; Di dalamnya ada orang-orang yang
ingin membersihkan diri (At-Taubah: 108). Ada nash dan
ijma bahwa yang disebut dengan membersihkan diri dalam
ayat di atas adalah mencuci kemaluan dan dubur dengan air.
Rasulullah bersabda; Bumi dijadikan masjid dan suci
bagiku. Artinya adalah bahwa tayammum sah untuk bersuci
dari junub dan hadast kecil. Allah berfirman; Dan jika kamu
junub maka mandilah. Rasulullah bersabda; Allah tidak
akan menerima shalat tanpa bersuci. Yakni wudhu.
Maka barang siapa yang membatasi makna Faidza
Tathatharna hanya pada membasuh kepala dan semua
badan secara keseluruhan dan tidak memasukkan wudhu
didalamnya, tida pula tayammum, tidak juga mencuci
kemaluannya dengan air maka sesungguhnya dia telah
melakukan sesuatu yang tidak ada pengetahuannya
tentangnnya dan dia menyatakan bahwa Allah menghendaki
apa yang dia katakan tanpa adanya keterangan dari Allah.17
Menurut Imam Ibnu Ali anak Abu Talhah, dari Ibnu Jarir
Al-Thabari, menjelaskan bahwa kalimat faidza thathahharna
maknanya adalah, apabila wanita-wanita yang selesai
haidnya itu telah mandi wajib, sebagaimana yang telah
disyariatkan oleh Islam terhadap mereka. Menurut Ibnu Jarir
juga, ulama telah ijmak bahwa yang dimaksud suci didalam
ayat tersebut adalah suci yang menghalalkan wanita itu
untuk shalat. Dengan demikian, jika wanita tersebut belum
mandi, tetaplah dihukum haram atas suaminya untuk
melakukan hubungan suami istri. Sedangkan kata
16 Ibid, h.369
17 Ibid.

faktuhunna yang artinya. maka datangilah mereka,


tidaklah mengandung arti bahwa perintah tersebut wajib,
tetapi dalam makna irsyad (petunjuk-tuntunan) untuk
menegaskan kebolehannya.18
Masalah lainnya ialah, apakah harus mandi atau cukup
hanya dengan wudhu saja. Berkata Mujahid dan Ikrimah, jika
telah putus haidnya, lalu dia mengambil wudhu maka halallah
dia bagi suaminya. Syaukani dalam Fath Al-Qadir telah
memilih pendapat yang pertama, yaitu, hendaknya
perempuan itu lebih dahulu mandi atau melakukan
tayammum jika tidak ada air, karena Allah telah menjadikan
dua batas, yaitu putus dari darah dan batas mandi. Batas
yang kedua ini adalah tambahan bagi batas yang pertama,
karena itu wajib di ambil batas tambahan itu.19
Dalam pandangan Ibnu Hazm bahwa sesungguhnya
alasan pelarangan untuk mendekati wanita yang sedang
haidh adalah arena adanya penyait, sebagaimana hal
tersebut disebutkan di dalam Al-Quran. Oleh sebab itulah
dalam perintah itu diperintahkan untuk menjauhinya dengan
menggunakan huruf fa oleh sebeb itu hendaklah kamu
menjauhan diri dari wanita di waktu haidh, jika haidnya telah
habis, maka lenyap pula penyakit itu yang merupakan sebeb
pelarangan. Dan hukum itu ada dan tidaknya tergantung
pada sebab (illat).20
Dan cukup bagi seorang wanita untuk mencuci
kemaluannya dari bekas darah untuk disebut sebagai bersuci.
Sebab bersuci itu sebgaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm
18 Syekh, H. Abdul Halim Hasan, 2011, Tafsir alAhkam, Jakarta: Kecana, Ed. I, hal. 93
19 Ibid,.
20 DR. Yusuf Al-Qaradhawi, op.cit., hal. 370

bisa saja dengan mandi, dengan wudhu dan bisa pula dengan
hanya mencuci kemaluan. Sebagaimana disebutkan di dalam
ayat; Di dalamnya ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. Sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh
sebab turunnya ayat ini. Dan inilah yang paling sesuai
dengan makna bersuci dalam hubungan dengan perempuan
yang sedang haidh.21
Sebuah hadis dari Aisyah r.a tentang larangan
menggauli istri yang sedang haid, namun boleh bersenangsenang (istimta) :

:

.
Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah radhiyaAllahu anha, dia
telah berkata: Rasulullah SAW pernah
memerintahkan kepada salah seorang kami yang
sedang haid (menstruasi) agar memakai pakaian
sebagai alas untuk kemudian digaulinya.22
Hal yang penting dari Hadits di atas adalah:
1. Badan, keringat, dan pakaian orang yang haid adalah
suci. Karenanya boleh berinteraksi dan
menyentuhnya, serta boleh menjalankan aktifitas
rumah tangga, mulai dari menyediakan makanan,
minuman dan lain sebagainya.
2. Hadits di atas menyalahi kebiasaan kaum Yahudi yang
mendiskriminasi wanita haid.

21 Ibid,.
22 KH. Ahmad Mujab Mahalli, 2004, Hadis-hadis
Muttafaq Alaih, Jakarta: Kencana, Cet ke-2, hal. 192

3. Wanita haid boleh diperlakukan apa saja selain jima


(berhubungan intim). Bila seorang suami hendak
bercumbu dengan istrinya yang sedang haid,
sebaiknya suami menyuruh istri agar memamai kain
atau celana pendek atau panjang, lalu mencumbuinya
dibagian tubuh mana saja selain bagian kemaluan.
Istimta (bersenang-senang) dengan wanita haid di
baian atas pusar dan di bawah lutut, menurut ahli fiqh
diperbolehkan.23
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian kepustakaan yang telah penulis lakukan
berhubungan dengan permasalahan dalam skripsi ini, maka dapatlah ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Menurut Mazhab Imam Hanafi bahwa jima setelah haid sebelum
melaksanakan mandi adalah boleh, dengan syarat apabila si istri
telah melewati batas maksimal masa haidnya yakni sepuluh hari,
jika kurang masa haidnya dari sepuluh hari dan berhenti darah
haidnya, maka Imam Hanafi dan pengikutnya tetap mengharamkan
untuk melakukan jima sebelum melaksanakan mandi.
2. Imam Hanafi dan pengikutnya, menggunakan qiyas dalam
mengistinbathkan permasalahan tentang kebolehan jima setelah
haid sebelum melaksanakan mandi wajib. Imam Hanafi
mengqiaskan bahwa status antara perempuan (istri) yang telah
berhenti darah haidnya namun belum melaksanakan mandi wajib
sama halnya dengan perempuan (istri) yang dalam keadaan junub,
kedudukannya adalah sama-sama bersih dan boleh untuk digauli
(jima) dengan artian bahwa dengan berhentinya darah haid
walaupun belum melakukan mandi wajib sudah menunjukkan
23 Al Bassam, Abdullah bin Abdurrahman, Syarah
Bulughul Maram, Alih bahasa oleh: Thahirin Suparta, dkk,
(Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), hal. 459

bahwa perempuan tersebut bersih dan boleh digauli, seperti halnya


perempuan yang dalam keadaan junub yang boleh digauli oleh
suaminya. Metode qiyas yang dipakai oleh Imam Hanafi adalah
qiyas maal fariq.
3. Jumhur Ulama berpendapat bahwa haram melakukan jima setelah
haid sebelum melaksanakan mandi wajib. Adapun dalil yang di
gunakan oleh jumhur ulama adalah surat Al-baqarah ayat 222, dan
hadis Nabi dari Aisyah yang diriwayatkan oleh Muttafaq Alaih.

E. Daftar Pustaka
Abdul Halim Hasan, 2011, Tafsir al-Ahkam, Jakarta: Kecana, Ed. I,
hal. 93
Ahmad Mujab Mahalli, 2004, Hadis-hadis Muttafaq Alaih, Jakarta:
Kencana, Cet ke-2, hal. 192

Ahmad Musthafa al-Farran, 2007, Tafsir al-Imam asy-Syafii, alih


bahasa oleh Ali Sutan, dkk, Jakarta: Almahira, Jilid I, hal. 357358
Al Bassam, Abdullah bin Abdurrahman, Syarah Bulughul Maram,
Alih bahasa oleh: Thahirin Suparta, dkk, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2006), hal.459
Ali As-Sais, Tafsir Ayat Ahkam, ([tt], [th]) juz I, hal. 129
Al-Qurthuby, al-Jami li Ahkamil Quran, ([tt], [th]) juz III, hal. 88
Ibnu Abidin, 2000, Hasyiyah Raddul Mukhtar, Beirut: Da ar AlFikr, Juz I,
hal. 294
Ibnu Rusd, [th] Bidayatul Mujtahid, Surabaya:Toko Kitab Hidayah,
hal. 41
Ibnu Qudamah, al-Mughni, (Makkah: Maktabah Tijariyah, [t.th]),
juz III. hal. 387
Syafii Abu Abdullah Muhammad bin Idris, 2007, Mukhtashar
Kitab Al Umm fi Al Fiqh, alih bahasa oleh Muhammad Yasir
Abd. Muthalib, Jakarta: Pustaka Azzam, edisi II, hal. 472
Syamsuddin Abu Bakar Muhammad bin Abi Sahal al-Sarkhasi,
2000, al Mabsut lil Sarkhasi, Berirut: Daar Fikr, hal. 27
Yusuf Al-Qaradhawi, 2007, Fikih Thaharah, alih bahasa oleh
Samson Rahman MA, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. Ke-3,
hal. 367