Anda di halaman 1dari 8

HEMOTHORAX

December 20, 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
a. Anatomi
Dinding Thorax
Dinding thorax terdiri atas kulit, fascia, saraf, otot, dan tulang. Kerangka dinding
thorax membentuk sangkar dada osteokartilaginous yang melindungi jantung, paru-paru,
dan beberapa organ rongga abdomen. Kerangka thorax terdiri dari vertebra thoracica dan
discus intervertebralis, costae dan cartilago costalis, serta sternum.

Beberapa
a.

otot

pernafasan

yang

melekat

pada

dinding

dada

antara

lain:

Otot-otot inspirasi
M. intercostalis externus, M. levator costae, M. serratus posterior superior, dan M
scalenus

b.

Otot-otot ekspirasi
M. intercostalis internus, M. transversus thoracis, M. serratus posterior inferior,
M. subcostalis.

Traktus Respiratorius
Traktus respiratorius dibedakan menjadi dua, yaitu traktus respiratorius bagian atas dan
bagian bawah. Traktus respiratorius bagian atas terdiri dari cavum nasi, nasofaring,
hingga orofaring. Sementara itu, traktus respiratorius bagian bawah terdiri atas laring,
trachea, bronchus (primarius, sekundus, dan tertius), bronchiolus, bronchiolus
respiratorius,

ductus

alveolaris,

dan

alveolus.

Paru-paru kanan terdiri atas 3 lobus (superior, anterior, inferior), sementara paru-paru kiri
terdiri atas 2 lobus (superior dan inferior). Masing-masing paru diliputi oleh sebuah
kantung pleura yang terdiri dari dua selaput serosa yang disebut pleura, yaitu pleura

KEGAWAT DARURATAN

Page 1

December 20, 2011

HEMOTHORAX

parietalis dan visceralis. Pleura visceralis meliputi paru-paru termasuk permukaannya


dalam fisuran sementara pleura parietalis melekat pada dinding thorax, mediastinum dan
diafragma. Kavum pleura merupakan ruang potensial antara kedua lapis pleura dan berisi
sedikit

cairan

pleura

yang

berfungsi

melumasi

permukaan

pleura

sehingga

memungkinkan gesekan kedua lapisan tersebut pada saat pernafasan.


b. Fisiologi
Proses inspirasi jika tekanan paru lebih kecil dari tekanan atmosfer. Tekanan paru dapat
lebih kecil jika volumenya diperbesar. Membesarnya volume paru diakibatkan oleh
pembesaran rongga dada. Pembesaran rongga dada terjadi akibat 2 faktor, yaitu faktor
thoracal dan abdominal. Faktor thoracal (gerakan otot-otot pernafasan pada dinding dada)
akan memperbesar rongga dada ke arah transversal dan anterosuperior, sementara faktor
abdominal (kontraksi diafragma) akan memperbesar diameter vertikal rongga dada.
Akibat membesarnya rongga dada dan tekanan negatif pada kavum pleura, paru-paru
menjadi

terhisap

sehingga

mengembang

dan

volumenya

membesar,

tekanan

intrapulmoner pun menurun. Oleh karena itu, udara yang kaya O2 akan bergerak dari
lingkungan luar ke alveolus. Di alveolus, O2 akan berdifusi masuk ke kapiler sementara
CO2

akan

berdifusi

dari

kapiler

ke

alveolus.

Sebaliknya, proses ekspirasi terjadi bila tekanan intrapulmonal lebih besar dari tekanan
atmosfer. Kerja otot-otot ekspirasi dan relaksasi diafragma akan mengakibatkan rongga
dada kembali ke ukuran semula sehingga tekanan pada kavum pleura menjadi lebih
positif dan mendesak paru-paru. Akibatnya, tekanan intrapulmoner akan meningkat
sehingga udara yang kaya CO2 akan keluar dari peru-paru ke atmosfer.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1- Hemothorax

KEGAWAT DARURATAN

Page 2

December 20, 2011

HEMOTHORAX

Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah
interkostal atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh trauma tajam atau trauma tumpul.
Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya hemotoraks. Biasanya
perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. Hemotoraks akut yang
cukup banyak sehingga terlihat pada foto toraks, sebaiknya diterapi dengan selang dada kaliber
besar. Selang dada tersebut akan mengeluarkan darah dari rongga pleura, mengurangi resiko
terbentuknya bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat dipakai dalam memonitor
kehilangan darah selanjutnya. Evakuasi darah atau cairan juga memungkinkan dilakukannya
penilaian terhadap kemungkinan terjadinya ruptur diafragma traumatik. Walaupun banyak faktor
yang berperan dalam memutuskan perlunya indikasi operasi pada penderita hemotoraks, status
fisiologi dan volume darah yang kelura dari selang dada merupakan faktor utama. Sebagai
patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat dari selang dada sebanyak 1.500 ml, atau bila
darah yang keluar lebih dari 200 ml tiap jamuntuk 2 sampai 4 jam, atau jika membutuhkan
transfusi darah terus menerus, eksplorasi bedah herus dipertimbangkan.
- Hemotoraks masif
yaitu terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1.500 cc di dalam rongga pleura. Hal ini sering
disebabkan oleh luka tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada
hilus paru. Hal ini juga dapat disebabkan trauma tumpul. Kehilangan darah menyebabkan
hipoksia. Vena leher dapat kolaps (flat) akibat adanya hipovolemia berat, tetapi kadang dapat
ditemukan distensi vena leher, jika disertai tension pneumothorax. Jarang terjadi efek mekanik
dari adarah yang terkumpul di intratoraks lalu mendorong mesdiastinum sehingga menyebabkan
distensi dari pembuluh vena leher. Diagnosis hemotoraks ditegakkan dengan adanya syok yang
disertai suara nafas menghilang dan perkusi pekak pada sisi dada yang mengalami trauma. Terapi
awal hemotoraks masif adalah dengan penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan
dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan
jarum besar dan kemudian pmeberian darah dengan golongan spesifik secepatnya. Darah dari
rongga pleura dapat dikumpulkan dalam penampungan yang cocok untuk autotransfusi.
Bersamaan dengan pemberian infus, sebuah selang dada (chest tube) no. 38 French dipasang
setinggi puting susu, anteriordari garis midaksilaris lalu dekompresi rongga pleura selengkapnya.

KEGAWAT DARURATAN

Page 3

December 20, 2011

HEMOTHORAX

Ketika kita mencurigai hemotoraks masif pertimbangkan untuk melakukan autotransfusi. Jika
pada awalnya sudah keluar 1.500 ml, kemungkinan besar penderita tersebut membutuhkan
torakotomi segera. Beberapa penderita yang pada awalnya darah yang keluar kurang dari 1.500
ml, tetapi pendarahan tetap berlangsung. Ini juga mamebutuhkan torakotomi. Keputusan
torakotomi diambil bila didapatkan kehilangan darah terus menerus sebanyak 200 cc/jam dalam
waktu 2 sampai 4 jam, tetapi status fisiologi penderita tetap lebih diutamakan. Transfusi darah
diperlukan selama ada indikasi untuk toraktomi. Selama penderita dilakukan resusitasi, volume
darah awal yang dikeluarkan dengan selang dada (chest tube) dan kehilangan darah selanjutnya
harus ditambahkan ke dalam cairan pengganti yang akan diberikan. Warna darah (arteri atau
vena) bukan merupakan indikator yang baik untuk dipakai sebagai dasar dilakukannya
torakotomi. Luka tembus toraks di daerah anterior medial dari garis puting susu dan luka di
daerah posterior, medial dari skapula harus disadari oleh dokter bahwa kemungkinan dibutuhkan
torakotomi, oleh karena kemungkinan melukai pembuluh darah besar, struktur hilus dan jantung
yang potensial menjadi tamponade jantung. Torakotomi harus dilakukan oleh ahli bedah, atau
dokter yang sudah berpengalaman dan sudah mendapat latihan.

2.4

PATOFISIOLOGI
Hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis sering disebabkan oleh trauma thorax. Hipokasia

jaringan merupakan akibat dari tidak adekuatnya pengangkutan oksigen ke jaringan oleh karena
hipivolemia ( kehilangan darah ), pulmonary ventilation/perfusion mismatch ( contoh kontusio,
hematoma, kolaps alveolus ) dan perubahan dalam tekanan intratthorax ( contoh : tension
pneumothorax, pneumothorax terbuka ).
Hiperkarbia lebih sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi akibat perubahan tekanan
intrathorax atau penurunan tingkat kesadaran. Asidosis metabolik disebabkan oleh hipoperfusi
dari jaringan ( syok ).

2.5

GEJALA KLINIS

KEGAWAT DARURATAN

Page 4

HEMOTHORAX

December 20, 2011

Gejalanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara yang masuk ke dalam
rongga

pleura

dan

luasnya

paru-paru

yang

mengalami

kolaps

(mengempis).

Gejalanya bisa berupa:


Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika penderita menarik nafas
dalam atau terbatuk

Sesak nafas

Dada terasa sempit

Mudah lelah

Denyut jantung yang cepat

Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.

Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur.


Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
Hidung tampak kemerahan
-

Cemas, stres, tegang

Tekanan darah rendah (hipotensi).

2.6

DIAGNOSIS
Pemeriksaan fisik dengan bantuan stetoskop menunjukkan adanya penurunan suara

pernafasan pada sisi yang terkena.Trakea (saluran udara besar yang melewati bagian depan leher)
bisa

terdorong

ke

salah

satu

sisi

karena

terjadinya

pengempisan

paru-paru.

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:


#

Rontgen

dada

Gas darah arteri.

2.7

PENATALAKSANAAN

KEGAWAT DARURATAN

(untuk

Page 5

menunjukkan

adanya

udara

diluar

paru-paru)

December 20, 2011

HEMOTHORAX

Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan udara dari rongga pleura, sehingga paru-paru bisa
kembali mengembang.Pada pneumotoraks yang kecil biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan,
karena tidak menyebabkan masalah pernafasan yang serius dan dalam beberapa hari udara akan
diserap.
Penyerapan total dari pneumotoraks yang besar memerlukan waktu sekitar 2-4 minggu.
Jika pneumotoraksnya sangat besar sehingga menggangu pernafasan, maka dilakukan
pemasangan sebuah selang kecil pada sela iga yang memungkinkan pengeluaran udara dari
rongga pleura. Selang dipasang selama beberapa hari agar paru-paru bisa kembali mengembang.
Untuk menjamin perawatan selang tersebut, sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit.
Untuk

mencegah

serangan

ulang,

mungkin

perlu

dilakukan

pembedahan.

Hampir 50% penderita mengalami kekambuhan, tetapi jika pengobatannya berhasil, maka tidak
akan

terjadi

komplikasi

jangka

panjang.

Pada orang dengan resiko tinggi (misalnya penyelam dan pilot pesawat terbang), setelah
mengalami serangan pneumotoraks yang pertama, dianjurkan untuk menjalani pemedahan.
Pada penderita yang pneumotoraksnya tidak sembuh atau terjadi 2 kali pada sisi yang sama,
dilakukan

pembedahan

untuk

menghilangkan

penyebabnya.

Pembedahan sangat berbahaya jika dilakukan pada penderita pneumotoraks spontan dengan
komplikasi atau penderita pneumotoraks berulang. Oleh karena itu seringkali dilakukan
penutupan rongga pleura dengan memasukkan doxycycline melalui selang yang digunakan untuk
mengalirkan

udara

keluar.

Untuk mencegah kematian pada pneumotoraks karena tekanan, dilakukan pengeluaran udara
sesegera mungkin dengan menggunakan alat suntik besar yang dimasukkan melalui dada dan
pemasangan selang untuk mengalirkan udara.
2.8

PROGNOSIS
Hasil dari pneumothorax tergantung pada luasnya dan tipe dari pneumothorax.

Spontaneous pneumothorax akan umumnya hilang dengan sendirinya tanpa perawatan.


Secondary pneumothorax yang berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya, bahkan ketika

KEGAWAT DARURATAN

Page 6

December 20, 2011

HEMOTHORAX

kecil, adalah jauh lebih serius dan membawa angka kematian sebesar 15%. Secondary
pneumothorax memerlukan perawatan darurat dan segera. Mempunyai satu pneumothorax
meningkatkan risiko mengembangkan kondisi ini kembali. Angka kekambuhan untuk keduanya
primary dan secondary pneumothorax adalah kira-kira 40%; kebanyakan kekambuhan terjadi
dalam waktu 1.5 sampai dua tahun.

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN
Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara pada rongga pleura (berasal dari

perlukaan paru atau traktus trakheobronkhial, atau berasal dari perlukaan dinding dada), yang
mengakibatkan hilang atau meningkatnya tekanan negatif dalam rongga pleura.1Pneumotoraks
dapat dibagi spontan atau traumatik.

KEGAWAT DARURATAN

Page 7

December 20, 2011

HEMOTHORAX

DAFTAR PUSTAKA
Guyton & Hall,2009,Buku Ajar Fisiologi Kedokteran,EGC: Jakarta
Robbins, et al. 2007. Buku Ajar Patologi. Jakarta : EGC.
Price, S. A., et al : Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4, Buku I,
Penerbit EGC, Jakarta, 2000.
Amin. Zulkifli. Dan Bahar Asril., 2009, Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid III, ed. V. Hal.
2230-2238. Jakarta : Interna Publishing.
Rab, Tabrani. 2010. Penyakit Pleura. Jakarta : TIM

KEGAWAT DARURATAN

Page 8