Anda di halaman 1dari 29

TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK

Perubahan komposisi penduduk (menurut usia, jenis kelamin atau yang lain) dari suatu wilayah akan
berpengaruh timbal balik dengan kemampuan sosial ekonomi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan
hidup mereka. Masyarakat wilayah tersebut dapat saja pindah ketempat lain bila mereka merasakan
beberapa hal yang mendorong untuk melakukan hal itu, misalnya lowongan pekerjaan yang sangat
menyempit dan sumber daya alam yang makin langka, sebaliknya untuk alasan serupa, masyarakat
dari wilayah lain bisa saja masuk kewilayah tersebut.
Zelinsky membagi transisi mobilitas penduduk dalam 5 tahap yang berkaitan dengan karakteristik
pemmbangunan social ekonomi masyarakat. Tahap pertama yaitu tahap masyarakat tradisional, kedua
tahap awal masyarakat dalam transisi, ketiga tahap akhir masyarakat transisi. Keempat tahap
masyarakat maju, kelima tahap masyarakat pasca industri.

Tugas Individu
Transisi Vital Kependudukan
D
I
S
U
S
U
N
Oleh
Sahat Silverius Sijabat
NIM. 7111141018

Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Medan
2015

1.Pengertian Demografi

Pegertian demografi sangat banyak menurut para ahli namun kali ini saya mengutip pendapat ahli M.
Hauser dan Duddly Ducan (1959) menyatakan demografi mempelajari jumlah ,pesebaran
territorial,dan komposisi penduduk serta perubahan perubahannya dan sebab sebabnya yang biasa
timbul karena natalitas ,mortalitas ,gerak territorial dan mobilitas social.
2.Transisi Demografi
Kata transisi mempunyai arti perubahan atau perpindahaan, sedang demografi yang berasal dari
bahasa Yunani, yaitu demos yang berarti penduduk dan grafien yang berarti tulisan, atau dapat
diartikan sebagai tulisan tentang kependudukan.
Transisi demografi adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh para demografer terdahulu untuk
melakukan pendekatan atau melakukan analisis terhadap fenomena pertumbuhan penduduk yang
memang sangat menarik sekali untuk dikaji. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu faktor alami dan faktor dari luar. Faktor alamiah terjadinya suatu perubahan jumlah penduduk
adalah kelahiran (fertilitas), dan kematian (mortalitas), sedagkan faktor-faktor lain yang mungkin
mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah faktor yang berasal dari luar seperti perpindahan
penduduk (mobilitas), pertumbuhan ekonomi, gaya hidup, bencana alam dan lain-lain. Dikatakan
sebuah hal yang menarik untuk dipelajari karena pertumbuhan penduduk memberikan suatu pola
tertentu yaitu dari awal tahun masehi sampai saat ini. Mungkin itu yang menimbulkan suatu
kegelisahan pada pikiran demografer-demografer pada masa lalu untuk meneliti apakah yang
menyebabkan perubahan karakteristik penduduk dari waktu ke waktu. Transisi demografi meneliti
apakah hal-hal yang mempngaruhi fenomena pertumbuhan penduduk tersebut.
Yang menarik adalah pola yang tidak linear pada pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Hingga pada
akhirnya Malthus menyimpulkan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk itu dianalogikan seperti deret
ukur, sedangkan pertambahan bahan pangan berkembang menurut deret hitung. Para ahli demografi
pada awalnya memproyeksikan bahwa pertumbuhan penduduk akan terjadi terus-menerus sehingga
akan ada waktunya ketika manusia jumlahnya akan mencapai tigkat puncak sehingga sudah tidak ada
ruang untuk bergerak lagi. Higga pada akhirnya disadari bahwa kesalahan dari pandangan tersebut
adalah mereka tidak memperkirakan adanya perkembangan ekonomi modern yang bisa
menanggulangi hal buruk tersebut terjadi.
Pendekatan trasisi demografi terus dikembangkan oleh para demografer-demografer pada masa itu.
Beberapa dari mereka yang akan dibahas teorinya pada kesempatan penulisan essay ini adalah
Notestein (1945-1953), Blacker (1947), Coale (1976-1989), Teitelbum (1975), dan Caldwell (1976).
Masing-masing dari mereka melakukan dengan pendekatan dan sudut pandang berbeda.

3.Teori Transisi Demografi


-

Teori Malthus.

Thomas Malthus merupakan orang pertama yang menulis secara sistematis tentang bahaya dari
pertumbuhan. Ia merupakan ahli politik ekonomi Inggris. Pendapat Malthus dikenal dengan
naturalaw atau hukum alamiah yang mempengaruhi atauu menentukan pertumbuhann penduduk.
Menurunya, penduduk akan terus bertambah lebihh cepat dibanding dengan pertambahan bahan
makan. Kecuali terhambat oleh penyakit atau malapetaka
-

Warren Thompson

Teori ini muncul sebagai dampak dari fenomena pertumbuhan yang terus berlangsung hingga abad ke20 hingga perang dunia pertama, yang merupakan akibat dari revolusi industri, beberapa diantara
negara-negara itu seperti Perancis, Inggris dan Skandinavia menunjukkan bahwa pertumbuhannya
telah terhenti atau adanya gejala akan berhenti.
Teori hasil dari observasi Thompson dan kawan-kawan pada 1929 ini diberi nama hipotesis transisi
demografi, dan sekarang teori yang telah diperbaiki ini dikenal dengan nama theory of the
demographic transition atau teori transisi demografi. Teorii ini menggambarkan empat prooporsi
yang saing berhubungan yang diinnyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan
berubahnya keadaan penduduk..
Teori ini menggambarkan empat proporsi yang saling berhubungan yang dinyatakan menurut tahaptahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk.
Tahap 1 : Jika Angka kematian tinggi sebanding dengan angka kelahiran, menghasilkan angka
pertumbuhan nol (zero)
Tahap 2 : Jika Angka kematian menurun tidak disertai dengan penurunan angka kelahiran, maka akan
menghasilkan angka pertumbuhan yang positif dan meningkat terus
Tahap 3 : Jika Angka kematian terus menerus dan disertai dengan menurunnya angka kelahiran, maka
akan menghasilkan pertumbuhan yang positif akan tetapi menurun.
Tahap 4 : Jika Angka kematian dan angka kelahiran juga rendah, maka hasilnya adalah pertumbuhan
yang semakin berkurang yang pada akhir akan mencapai nol (zero)
-

Teori Transisi Demografi Blacker (1948)

Blacker membagi transisi demografi dalam 5 tahap :


1.

Stationer tinggi

Tingkat kelahiran yang tinggi, tingkat kematian yang tinggi dan pertambahan alami yang nol.
Contohnya : Eropa pada abad ke 14
2.

Awal perkembangan

Tingkat kelahiran yang tinggi, tingkat kematian menurun dan pertambahan alami lambat. Contohnya :
India sebelum tahun PD II
3.

Akhir perkembangan

Tingkat kelahiran menurun, tingkat kematian lebih cepat dari pada tingkat kelahiran dan pertambahan
alami cepat. Contohnya :India setelah PD II
4.

Stationer rendah

Tingkat kelahiran yang rendah, tingkat kematian yang rendah, dan pertambahan alami nol/ sangat
rendah. Contohnya : Amerika Serikat pada tahun 1930-an.
5.

Menurun

Tingkat kelahiran yang rendah, tingkat kematian yang lebih tinggi dari pada tingkat kelahiran,
pertambahan alami negatif. Contohnya ; Perancis sebelum PD II.
-

Transisi Demografi menurut Bogue (1965)

Tahap transisi sebagai berikut :


1.

Pratransisi (Pre- Transitional)

Ditunjukkan dengan tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi.


2.

Tahap Transisi (Transitional)

Ditunjukkan dengan tingkat fertilitas tinggi dan tingkat mortalitas rendah.


3.

Tahap Pasca Transisi (Past Transitional)

Dinyatakan dengan tingkat fertilitas dan mortalitas sudah rendah.


Teori transisi demografi menggambarkan berubahnya tingkat pertumbuhan penduduk dari tingkat
yang tinggi menuju tingkat yang rendah yang dapat dilihat melalui tiga tahapan.
1.
Pada tahap pertama, mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggii karena berada pada tingkat
kelahiran dan kematian yang tinggi, sehingga berlangsung lama. Tingginya tingkat kematian saat itu
dikarenakan belum ditemukanya obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Ppada saat ini tingkat
kelahiran yang tinggi juga disebabbkann oleh perseppsi masyarakat yang menganut paham banyak
anak banyak rejeki, selain itu juga belum ditemukanya alat kontrasepsi.
2.
Pada tahap kedua, masuk pada tahap dimana tingkat kematian sudah mulai turun, hal ini
disebabkan oleh ditemukanya penicilin. Namun tingkat kelahiran masih tetap tingi sebagai akibat
dari penemuan penicilin yang secara tidak langsung membendung tingkat kematian yang tinggi/
menurunkann tingkat kematian
3.
Pada tahap ketiga, tingkat kelahiran sudah dapat dikendalikan, karena pada saat ini telah ada
sistem pengobatan yang baik, serta telah ditemukanya slat kontrasepsi. Pada tahap ini di Indonesia
sedang gencar-gencarnya program Keluarga Berencana. Selain itu pada tahap ini juga telah ada
campur tangan dari pemerintah dan meningkatnya kesejahteraan keluarga dan pendidikan. Tingkat
kematian dan tingkat kelahiran sudah mulai dapat seimbang.

4. Konsep Transisi Demografi


Konsep transisi demografi pada dasarnya meneliti tentang sebab mengapa hampir setiap negara baik
negara berkembang maupun negara maju sama-sama melewati fase yang hampir sama yaitu:
1.

Kelahiran dan kematian tinggi

2.

Kelahiran masih tinggi, dan angka kematian turun

3.
Angka kematian dan angka kelahiran sama-sama turun dan mencapai pada angka yang rendah,
dan kemudian stabil.
Walaupu Blacker mengajukan bahwa tahapan ini dibagi menjadi 5 tahap, tetapi pada dasarnya sama.

Sebelum membahas tentang teori transisi demografi seperti di atas, dibahas dahulu tentang sedikit
sejarah tentang riwayatperkembangan jumlah penduduk di duia dari masa ke masa. Pada awalnya,
yaitu pada awal tahun masehi jumlah penduduk di dunia diperkirakan sekitar 250 juta penduduk
dengan angka pertumbuhan penduduk hanya sekitar 0,04% per tahun. Kehidupan pada zaman ini
masih terbilang sangat sederhana. Belum tercipta dunia perindustrian dan pola hidup juga masih
sangat sederhana dilihat dari segi kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Angka
kelahiran pada saat itu tinggi dibarengi dengan tingginya angka kematian. Laju pertumbuhan
penduduk yang sangat rendah ini bertahan hingga berabad-abad lamanya. Hingga terjadi revolusi
industri yang terjadi sekitar tahun 1750 yang menyebabkan lonjakan jumlah peduduk yang cukup
signifikan. Jumlah penduduk saat itu mencapai sekitar angka 790 juta jiwa penduduk.
Pada abad berikutnya dampak dari revolusi industri mulai terasa. Revolusi industri tentu sangat
berhubungan erat dengan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang yang mendukukung terjadinya
perbaikan kualitas taraf hidup manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa
melahirkan inovasi-inovasi baru dalam sejarah hidup manusia. Pada abad 19 ditemukannya obatobatan seperti penicilin dan ditemukannya inovasi-inovasi dalam dunia kesehatan yang secara
simultan akan mempengaruhi angka kematian manusia pada waktu itu. Angka kematian turun drastis
tetapi tidak dibarengi dengan turunnya angka kelahiran atau fertilitas. Akibatnya adalah terjadi
lonjakan jumlah penduduk dunia yang lebih signifikan pada waktu tersebut. Terlebih dengan
berkembangnya sarana transportasi yang awalnya hanya untuk keperluan dagang beralih fungsi
menjadi sarana transportasi untuk melakukan perpindahan penduduk dan untuk dilakukannya
distribusi barang-barang dari suatu penjuru dunia ke tempat lainya. Dunia semakin maju, semakin
terasa sempit dengan dibarengi dengan jumlah penduduk dunia yang kian membanyak dari waktu ke
waktu. Pada tahun 1900an jumlah penduduk dunia sudah mencapai angka sekitar 1,7 milyar jiwa.
Bukan hanya jumlah penduduk yang meningkat secara terus menerus tetapi juga laju pertumbuhanya
juga terus meningkat. Jadi jika dilihat pertumbuhan penduduk mengalami kenaikan menyerupai deret
ukur bukan deret hitung. Bukan hanya semakin bertambah, tetapi juga semakin cepat bertambahnya.
Dari 1,7 milyar, jumlah penduduk dunia melonjak menjadi 2 milyar pada tahun 1930. Dengan
semakin berkembangya teknologi kesehatan, angka harapan hidup juga semakin bertambah baik. Itu
terbukti dengan meningkatnya jumlah penduduk tua yang masih hidup dibandingkan dengan waktu
sebelum ditemukannya teknologi kesehatan yang semakin membaik. Jumlah penduduk dunia pada
tahun 1950 naik lagi menjadi 2,5 milyar. Tetapi peningkatan mutu pelayanan kesehatan tidak
dibarengi dengan dipikirkannya masalah kelahiran. Jadi angka kelahiran tetap saja tinggi dengan
angka kematianyang semakin turun. Akibat nyata dari hal tersebut adalah jumlah penduduk yang
semakin banyak.
Lonjakan jumlah penduduk cukup berarti pada tahun 1999 yaitu menjadi 6 milyar. Selang satu tahun
saja yaitu pada tahun 2000 jumlah penduduk sudah bertambah sebesar 55 juta jiwa. Higga saat ini
penduduk dunia sudah sekitar 7 milyar jiwa. Upaya untuk menngotnrol atau menekan angka kelahiran
sudah dilakukan sejak beberapa puluh tahun lalu. Antara lain dengan program KB yang dilakukan di
Indonesia. Bukan hanya di Indonesia program semacam ini juga dilakukan di berbagai negara lain.
Upaya-upaya yang dilakukan antara lain dengan penggunaan alat kontrasepsi. Upaya lain adalah
dengan berubahnya gaya hidup orang yang semakin berubah ke arah modern, pada gaya hidup ini
orang lebih mementigkan karir ketimbang menikah dan memiliki anak. Sehingga banyak pemudapemudi yang menikah pada usia lumaya tua. Biasanya hal seperti ini terjadi di negara maju,
sedangkan untuk negara berkembang atau negara miskin masih banyak adat yang membuat mereka
memiliki anak banyak. Itu mungkin disebabkan karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang
memadaiuntuk ibu-ibu rumah tangga dan juga karena adanya paham bahwa jika banyak anak maka

semkin banyak kesempatan untuk menggantikan tenaga kerja orang tuanya. Akibat dari hal-hal ini
adalah berhasil ditekannya angka kelahiran. Hal ini bisa disadari sebagai fenomena transisi demografi
pada tahap kedua.
Objek penelitian para demografer meneliti transisi demografi sama, yaitu fenomena
pertumbuhan penduduk dari masa ke masa. Beberapa demografer adalah sebagai berikut
1.

Notestein (1945-1953)

Notestein berpendapat bahwa walaupun faktor utama dari pertumbuhan penduduk adalah kelahiran,
kematian, dan perpindahan penduduk, hanya kelahiran dan kematian yang mempengaruhi
pertumbuhan penduduk. Jadi konsep transisi demografi hanya memandang pengaruh dari faktor
alamiah kelahiran dan kematian. Fertilitas yang tinggi diperlukan untuk mempertahankan
keluarga. Transisi demografi bergerak dari suatu kondisi stabil dengan laju pertumbuhan penduduk
nok ke kondisi stabil lainya, yaitu setelah melalui beberapa tahap.
2.

Caldwell (1976)

Caldwell berpendapat bahwa tingginya kelahiran tidak berpengaruh pada kematian, tidak juga
berpegaruh pada adat istiadat, tetapi semata-mata karea pergeseran keutungan ekonomi. Jadi yang
mempengaruhi transisi demografi adalah karena pergeseran sistem ekonomi yang berlaku, sebagai
contoh karena sistem ekonomi menjadi modern maka keinginan untuk memiliki anak banyak akan
terkurangi dan lebih memilih untuk konsenterasi pada karir pekerjaan. Hal itu dapat dilihat pada
perbedaan sistem keluarga di negara berkembang dan negara maju. Pada negara berkembang, jumlah
anak itu sedikit dan usia produktif banyak sedangakan pada negara berkembang jumlah anak banyak
dengan pelayanan kesehatan tidak sebaik negara maju. Orang tua memperoleh keuntunungan
ekonomis dari anak-anaknya dan penurunan fertilitas hanya akan terjadi ketika aliran kekayaan dari
anak ke orang tua dibalik menjadi dari orang tua ke anak.
3.

Blacker (1947)

Blacker berpendapat bahwa transisi demografi terbagi menjadi 5 tahap, yaitu:


a.

High stationary

b.

Early expanding

c.

Late expanding

d.

Low stationary

e.

Declining

4.

Coale (1976-1989)

Pendapat Coale adalah perubahan spesifik terhadap perilaku reproduktivitas penduduk yang terjadi
pada tranformasi penduduk tradisional menjadi modern.
5.

Teitelbum

Dia berpendapat bahwa angka kematian menurun lebih cepat disaat angka kelahiran masih tetap
tinggi. Itu karena angka kematian lebih berhubungan erat dengan sosial ekonomi.

Berikut dijelaskan transisi demografi yang dijelaskan oleh Blackeryang membagi transisi demografi
menjadi 5 tahapan. Secara grafik dapat digambarkan sebagai berikut

1.

Tahap 1 High stationary

Pada tahap ini angka kelahiran dan kematian sangat tinggi. Hal yang menyebabkan adalah karen pola
hidup yang masih sederhana, belum ditemukannya obat-obatan dan alat-alat medis yang canggih.
Wabah penyakit tidak dapat kdikendalikan seperti angka kematian dan kelahiran yang juga tidak
terkendali tiap tahunya. Jadi pertumbuhan penduduk lambat dikarenakan angka kematian hampir
sama dengan angka kelahiran. Contoh dari tahap ini adalah Eropa pada abad 14.

2.

Tahap 2 Early Expanding

Jumlah penduduk naik dengan pesat karena angka kelahiran masih saja tetap tinggi karena masih ada
pandangan bahwa semakin banyak anak maka akan semakin banyak keuntungan yang didapat.
Tingginya angka kelahiran dibarengi dengan dilaksanakannya revolusi industri yang menemukan
obat-obatan dan alat-alat medis yang sudah lebih canggih sehingga berhasil menekan angka kematian.
Pada awalnya, obat-obatan seperti penicili diciptakan untuk keperluan perang, tetapi selanjutnya
dikonsumsi untuk umum. Dengan ditemukanya obat-obatan modern, dan pelayanan kesehatan yang
lebih baik, maka angka harapan hidup pun meningkat. Hasilnya, jumlah penduduk dunia naik pesat.
Contoh pada tahap ini adalah India sebelum perang dunia 2, dan Indonesia pada tahun 1980an angka
pertumbuhan sebesar 2,32% per tahun.
3.

Tahap 3 Late Expanding

Pada tahap ini angka kelahiran sudah berhasil ditekan dengan ditemukannya alat kontrasepsi yang
berhasil menekan angka kelahiran. Sementara itu, angka kematian menunjukkan penurunan yang
lebih signifikan dikarenakan pelayanan medis sudah lebih bagus dan sistem ekonomi juga
menunjukkan kondisi yang lebih baik. Dengan demikian gaya hidup manusia juga sedikit berubah
menjadi manusia modern. Industri membaik dan banyak tenaga kerja terserap, sehingga angka
kelahiran berhasil ditekan. Contoh dari tahap ini adalah India sesudah perang dunia 2.
4.

Tahap 4 Low Stationary

Angka kelahiran semakin bisa ditekan hasilnya angka kelahiran pada tahap ini berada pada angka
yang rendah. Begitu juga dengan angka kematian yang sudah lebih dahulu berhasil ditekan
sebelumnya. Selisih antara keduanya tidak begitu jauh yaitu pada angka yang relativ rendah. Contoh :
Australia, Selandia Baru, Amerika pada tahun 1930.
5.

Tahap 5 Declining

Pada tahap ini terjadi kebalikan yaitu angka kematian malah lebih tinggi daripada angka kelahiran.
Hal ini bisa terjadi karena semakin berhasil ditekannya angka kelahiran dengan alat kontrasepsi
ataupun karena gaya hidup masyarakat terkait memang sudah berubah. Contoh Jerman tahun 1975.
Transisi demografi sebenarnya menganalisis dan kemudian mengeneralisir gejala-gejala yang terjadi
pada pertumbuhan penduduk masyarakat dunia per wilayah mereka tinggal, walaupu pada akhirnya
juga ditemukan bahwa sebenanya tidak tepat juga teori itu digeneralisir di detiap wilayah. Ada

wilayah atau negara atau suatu peradaban yang jika dikatakan itu melenceng dari teori yang telah
dikemukakan. Pada umumnya teori transisi demografi menjelaskan perubahan kehidupan masyarakat
dari agraris menjadi industrial. Tetapi pada kenyataanya ada negara yang sudah bisa menekan angka
kelahiran walaupun proses industrialisasi masih dalam proses awal. Fenomena ini dapat ditemui di
negara-negara di Eropa timur yang masih menjalankan sistem agraris. Kesimpulan yang didapatkan
adalah bahwa tidak hanya proses menuju industrialisasi yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk
tetapi juga kesamaan budaya dan kultur bahasa. Negara-negara di Eropa Timur dekat sekali dengan
negara-negara Eropa yang sudah lebih awal beralih ke industri sebagai sektor utamanya dan sudah
berhasil menekan angka kelahiran.
Faktor lain yang menyebabkan teori transisi demografi tidak dapat digeneralisir secara global adalah
bahwa pembangunan dan kesejahteraan masing-masing wilayah itu berbeda. Itu menyebabkan
kebudayaan dan proses sosialisasi atau gaya hidup berbeda. Contohnya saja pada negara berkembang
atau negara miskin masih menganut banyak anak banyak rejeki, dan pada saat yang sama pada negara
maju gaya hidup sudah lebih maju.
Proses transisi demografi juga tidak menunjukkan kecepatan yang sama antara negara maju dan
negara berkembang. Di inggris proses transisi demografi memerlukan waktu antara 200 tahun,
sedangkan di Indonesia hanya perlu waktu sekitar 30 tahun.
Pada intiya teori transisi demografi dapat digeneralisir di setiap negara itu tidak benar tetapi
kenyataan bahwa setiap negara melalui tahapan-tahapan transisi demografi itu benar adanya, tetapi
dengan keadaan dan kondisi yang berbeda sesuai adat, budaya, dan keadaan negara tersebut.
Transisi demografi yang terjadi di Indonesia terjadi sama seperti pada teori yang disepakati. Hanya
saja pada tahap tertentu ada sedikit perbedaan dalam proses pertumbuhan penduduknya. Mungkin
Indonesia juga termasuk yang tadi disebutkan sebagai Negara dengan proses transisi demografi
berbeda, yaitu Indonesia mengalami penurunan angka kelahiran sebelum Indonesia menjalani proses
industrialisasi. Seperti kita tahu Indonesia adalah Negara agraris jadi sampai saat ini Indonesia masih
menjadi Negara agraris. Penurunan angka kelahiran Indonesia dilakukan dengan cara menjalankan
program KB atau keluarga berencana. Dalam menjalankan program KB digalakkan juga pemakaian
alat kontrasepsi sehingga angka kelahiran bisa ditekan. Indonesia adalah Negara dengan jumlah
penduduk terbesar ke empat di dunia. Dengan luas wilayah yang seperti ini, semakin terlihat jelas
bahwa Indonesia adalah masih menjadi Negara berkembang. Biasanya cirri-ciri Negara berkembang
adalah memiliki penduduk yang masih mempunyai anak banyak. Seperti kita tahu, masyarakat jawa
pada beberapa generasi lalu adalah masyarakat dengan jumlah anak yang bisa dibilang banyak.
Jumlah anak 10 atau lebih itu menjadi lumrah. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih
belum mempunyai kebudayaan atau gaya hidup sebagai masyarakat modern. Jadi menurut saya
Indonesia masih menjalani proses menuju kondisi yang stabil sesuai alur yang disepakati di teori
transisi domografi. Semakin berkembangnya jaman kebiasaan memiliki anak banyak juga sudah
mulai ditinggalkan, proses industrialisasi sudah semakin membaik, dan angka kelahiran sudah cukup
berhasil ditekan. Tidak khayal, beberapa waktu yang akan datang Indonesia akan mencapai keadaan
yang stabil dan menyelesaikan transisi demografi.
Beberapa hal yang menghalangi Indonesia dalam menyelesaikan trasnsisi demografinya adalah
sebagai berikut:
1.
Tidak meratanya pembangunan di Indonesia sehingga jurang pemisah semakin jelas. Seperti kita
tahu, di Indonesia masih ada masyarakat primitive dengan gaya hidup yang masih sangat sederhana,
sedangakan di sisi lain pembangunan dan proses industrialisasi terus berkembang.

2.
Pendidikan Indonesia masih perlu ditngkatkan dan diratakan. Salah satu faktor penentu
pertumbuhan penduduk adalah pendidikan wanita. Pendidikan masyarakat yang tinggi juga akan
merangsang pemikiran masyarakat untuk mempunyai gaya hidup modern.
3.
Indonesia adalah Negara agraris. Mungkin ini salah satu penyebab sulitnya Indonesia berubah
menjadi Negara industri karena sebagian masyarakat Indonesia adalah petani.

5.Transisi Vital
Transisi vital adalah perubahan-perubahan tingkat kelahiran dan tingkat kematian yang berpengaruh
pada pertumbuhan dan mobilitas penduduk.
Tahapan transisi vital (Bogue, 1969):
1. tahapan pratransisi (pre transitional), dari A hingga B dengan cirri-ciri tingkat kelahiran dan
kematian sama.
2.
Transisi (transitional), dari B ke E, dicirikan dengan penurunan tingkat kelahiran dan tinkat
kematian
3.
Pasca transisi (post transitional), dari E ke F, dicirikan oleh tingkat kematian rendah dan tingkat
kelahiran sedang.

TRANSISI VITAL DAN TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK


TRANSISI VITAL

TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK

MASYARAKAT MAJU
FASE D
FERTILITAS MENURUN
MORTALITAS=STABIL
pertumbuhan penduduk mendekati nol (0)

FASE IV
MIGRASI DESA-KOTA=MENINGKAT
terjadi arus tenaga kerja tidak terlatih dari desa
mobilitas sirkuler tenaga kerja terampil dan
professional meningkat dalam berbagai variasi

MASYARAKAT SANGAT MAJU


FASE E
perilaku fertilitas tidak dapat di prediksi= karena
kelahiran dapat dikontrol oleh individu maupun
lembaga sosial

FASE V
Mobilitas turun= sarana komunikasi sempurna
mobilitas sirkuler meningkat=akibat kemampuan
telekomunikasi dan informasi
bentuk-bentuk mobilitas sirkuler variatif

Angka Fertilitas Total menurut Provinsi 1971, 1980, 1985, 1990, 1991, 1994, 1997, 1998, 1999, 2000,
2002, 2007, 2010 dan 2012

Provinsi

1971

1980

1990

1991

1994

1997

2000

2002

2007

2010

2012

Aceh

6.27

5.24

4.37

3.76

3.30

2.81

2.44

3.10

2.79

2.80

Sumatera Utara

7.20

5.94

4.29

4.17

3.88

3.10

2.84

3.00

3.80

3.01

3.00

Sumatera Barat

6.18

5.76

3.89

3.60

3.19

3.06

2.95

3.20

3.40

2.91

2.80

Riau

5.94

5.44

4.09

3.10

2.77

2.45

3.20

2.70

2.82

2.90

Jambi

6.39

5.57

3.76

2.97

2.67

2.37

2.70

2.80

2.51

2.30

Sumatera Selatan

6.33

5.59

4.22

3.43

2.87

2.88

2.33

2.30

2.70

2.56

2.80

Bengkulu

6.72

6.20

3.97

3.45

2.68

2.49

3.00

2.40

2.51

2.20

Lampung

6.36

5.75

4.05

3.20

3.45

2.65

2.42

2.70

2.50

2.45

2.70

Bangka Belitung

2.60

2.53

2.40

2.50

2.54

2.60

Kepulauan Riau

3.10

2.38

2.60

DKI Jakarta

5.18

3.99

2.33

2.14

1.90

1.63

1.66

2.20

2.10

1.82

2.30

Jawa Barat

6.34

5.07

3.47

3.00

3.17

2.51

2.28

2.80

2.60

2.43

2.50

Jawa Tengah

5.33

4.37

3.05

2.85

2.77

2.06

2.14

2.10

2.30

2.20

2.50

DI Yogyakarta

4.76

3.42

2.08

2.04

1.79

1.44

1.79

1.90

1.80

1.94

2.10

Jawa Timur

4.72

3.56

2.46

2.00

2.22

1.71

1.87

2.10

2.10

2.00

2.30

Banten

2.72

2.37

2.60

2.60

2.35

2.50

Bali

5.96

3.97

2.28

2.00

2.14

1.89

2.03

2.10

2.10

2.13

2.30

Nusa Tenggara Barat

6.66

6.49

4.98

3.82

3.64

2.92

2.69

2.40

2.80

2.59

2.80

Nusa Tenggara Timur

5.96

5.54

4.61

3.87

3.37

3.46

4.10

4.20

3.82

3.30

Kalimantan Barat

6.27

5.52

4.44

3.94

3.34

2.99

2.62

2.90

2.80

2.64

3.10

Kalimantan Tengah

6.83

5.87

4.03

2.31

2.74

2.21

3.20

3.00

2.56

2.80

Kalimantan Selatan

5.43

4.60

3.24

2.70

2.33

2.33

2.30

3.00

2.60

2.35

2.50

Kalimantan Timur

5.41

4.99

3.28

3.21

2.50

2.32

2.80

2.70

2.61

2.80

Sulawesi Utara

6.79

4.91

2.69

2.25

2.62

2.12

2.10

2.60

2.80

2.43

2.60

Sulawesi Tengah

6.53

5.90

3.85

3.08

2.75

2.81

3.20

3.30

2.94

3.20

Sulawesi Selatan

5.71

4.88

3.54

3.01

2.92

2.56

2.55

2.60

2.80

2.55

2.60

Sulawesi Tenggara

6.45

5.82

4.91

3.50

3.31

3.14

3.60

3.30

3.20

3.00

Gorontalo

2.70

2.63

2.80

2.60

2.76

2.60

Sulawesi Barat

3.50

3.33

3.60

Maluku

6.89

6.16

4.59

3.70

3.39

3.29

3.90

3.56

3.20

Maluku Utara

3.17

3.04

3.20

3.35

3.10

Papua Barat

3.40

3.18

3.70

Papua

7.20

5.35

4.70

3.15

3.28

2.38

2.90

2.87

3.70

INDONESIA

5.61

4.68

3.33

3.00

2.85

2.34

2.27

2.60

2.41

2.60

Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000, 2010, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 1991, 1994, 1997, 2002, 2007 dan 2012

Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010

Provinsi

Penduduk
1971

1980

1990

1995

2000

2010

Aceh

2008595

2611271

3416156

3847583

3930905

4494410

Sumatera Utara

6621831

8360894

10256027

11114667

11649655

12982204

Sumatera Barat

2793196

3406816

4000207

4323170

4248931

4846909

Riau

1641545

2168535

3303976

3900534

4957627

5538367

Jambi

1006084

1445994

2020568

2369959

2413846

3092265

Sumatera Selatan

3440573

4629801

6313074

7207545

6899675

7450394

Bengkulu

519316

768064

1179122

1409117

1567432

1715518

Lampung

2777008

4624785

6017573

6657759

6741439

7608405

Kepulauan Bangka
Belitung

900197

1223296

Kepulauan Riau

1679163

DKI Jakarta

4579303

6503449

8259266

9112652

8389443

9607787

Jawa Barat

21623529

27453525

35384352

39206787

35729537

43053732

Jawa Tengah

21877136

25372889

28520643

29653266

31228940

32382657

DI Yogyakarta

2489360

2750813

2913054

2916779

3122268

3457491

Jawa Timur

25516999

29188852

32503991

33844002

34783640

37476757

Banten

8098780

10632166

Bali

2120322

2469930

2777811

2895649

3151162

3890757

Nusa Tenggara Barat

2203465

2724664

3369649

3645713

4009261

4500212

Nusa Tenggara Timur

2295287

2737166

3268644

3577472

3952279

4683827

Kalimantan Barat

2019936

2486068

3229153

3635730

4034198

4395983

Kalimantan Tengah

701936

954353

1396486

1627453

1857000

2212089

Kalimantan Selatan

1699105

2064649

2597572

2893477

2985240

3626616

Kalimantan Timur

733797

1218016

1876663

2314183

2455120

3553143

Sulawesi Utara

1718543

2115384

2478119

2649093

2012098

2270596

Sulawesi Tengah

913662

1289635

1711327

1938071

2218435

2635009

Sulawesi Selatan

5180576

6062212

6981646

7558368

8059627

8034776

Sulawesi Tenggara

714120

942302

1349619

1586917

1821284

2232586

Gorontalo

835044

1040164

Sulawesi Barat

1158651

Maluku

1089565

1411006

1857790

2086516

1205539

1533506

Maluku Utara

785059

1038087

Papua Barat

760422

Papua

923440

1173875

1648708

1942627

2220934

2833381

INDONESIA

11920822
9

14749029
8

17937894
6

19475480
8

20626459
5

23764132
6

Catatan : Termasuk Penghuni Tidak Tetap (Tuna Wisma, Pelaut, Rumah Perahu, dan
Penduduk Ulang-alik/Ngelaju)
Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000 dan Survei Penduduk Antar Sensus
(SUPAS) 1995

Referensi

Hutasuhut,S.2015. Diktat Ekonomi kependudukan.Unimed


Diktat Ekonomi kependudukan
http://rosellytarigan.blogspot.com/
http://nitaoktami.blogspot.com/2012/04/kependudukan.html
http://sumut.bps.go.id/
PERKEMBANGAN PENDUDUK DUNIA TRANSISI VITAL DAN TRANSISI MOBILITAS
PENDUDUK

1.PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA


Perkembangan jumlah penduduk dunia sangat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban
manusia dalam berinteraksi dengan alam sekitarnya. Ada tiga tahap perkembangan peradaban
manusia hingga kini. Pertama, jaman ketika manusia mulai mempergunakan alat-alat untuk
menanggulangi kehidupan. Kedua, jaman ketika manusia mulai mengembangkan usaha pertanian
menetap. Ketiga, jaman era dimulainya industrialisasi, yaitu sekitar pertengahan abad ke-17 sesudah
masehi.
Dalam kerangka kerja perkembangan kebudayaan manusia itulah, beberapa tahapan atau periode
sejarah pertumbuhan penduduk dunia dirumuskan oleh para ahli. Angka pertama yang dikemukakan
mengenai jumlah penduduk dunia adalah 125.000 orang, yang hidup kira-kira satu juta tahun yang
lalu (Devey dalam Bland dan Dwight E.Lee, 1976). Angka ini baru berkembang kira-kira satu juta
orang setelah mengalami proses pertumbuhan selama 700.000 tahun kemudian. Tingkat pertumbuhan
penduduk setiap tahun dalam era ini nyaris tidak berarti sama sekali, yakni 0,000041 persen.
Lambatnya pertumbuhan penduduk pada era ini disebabkan karena tingginya tingkat kematian.
Pertumbuhan penduduk terlihat meningkat pada kira-kira 6000-9000 tahun yang lampau,ketika teknik
bertani sudah dikenal dan mulai menyebar dibeberapa bagian dunia.
Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang menjadi masalah sosial ekonomi pada
umumnya karena dengan bertambahnya penduduk maka otomatis harus bertambah pula persediaan
sandang pangan, kesempatan kerja, serta fasilitas
umum, selain itu pertambahan penduduk akan menimbulkan berbagai masalah seerti bertmbahnya
tingkat penganguran,kemiskinan, anak putus sekolah yang dapat pula menimbulkan berbagai
kejahatan (kriminalitas).
Perkembangan jumlah penduduk sejak tahun 1839 sampai
sekarang dan perkiraan sampai tahun 2006 adalah sebagai
berikut :
Perkembangan Penduduk Dunia
Tahun 1830-2006

Sumber : Iskandar N, Doews Sampurno Masalah Pertambahan Penduduk di Indinesia.


Bertambah cepatnya penggandaan penduduk (double population) dapat dilihat pada tabel berikut :
Penggandaan Penduduk Dunia

Sumber : Ehrlich, Paul, R, et al, Human Ecology W.H. Freeman and Co San franscisco.
Berdasarkan estimasi yang diterbitkan oleh Biro Sensus Amerika Serikat, penduduk dunia mencapai
6,5 miliar jiwa pada tanggal 26 Februari 2006 pukul 07.16 WIB. Dari sekitar 6,5 miliar penduduk
dunia, 4 miliar diantaranya tinggal di Asia. Tujuh dari sepuluh negara berpenduduk terbanyak di dunia
berada di Asia (meski Rusia juga terletak di Eropa).
Sejalan dengan proyeksi populasi, angka ini terus bertambah dengan kecepatan yang belum ada dalam
sejarah. Diperkirakan seperlima dari seluruh manusia yang pernah hidup pada enam ribu tahun
terakhir, hidup pada saat ini.
Pada tanggal 19 Oktober 2012 pukul 03.36 WIB, jumlah penduduk dunia akan mencapai 7 miliar
jiwa. Badan Kependudukan PBB menetapkan tanggal 12 Oktober 1999 sebagai tanggal dimana
penduduk dunia mencapai 6 miliar jiwa, sekitar 12 tahun setelah penduduk dunia mencapai 5 miliar
jiwa.

Berikut adalah peringkat negara-negara di dunia berdasarkan jumlah penduduk (2005):


1. Republik Rakyat Tiongkok (1.306.313.812 jiwa)
2. India (1.103.600.000 jiwa)
3. Amerika Serikat (298.186.698 jiwa)
4. Indonesia (241.973.879 jiwa)
5. Brasil (186.112.794 jiwa)
6. Pakistan (162.419.946 jiwa)
7. Bangladesh (144.319.628 jiwa)
8. Rusia (143.420.309 jiwa)
9. Nigeria (128.771.988 jiwa)
10. Jepang (127.417.244 jiwa)
Dengan pertambahan jumlah penduduk yang besar inilah kesadaran akan penurunan tingkat kelahiran
sebagai usaha-usaha menekan laju pertimbuhan penduduk, menjadi program internasional yang
mencakup hampir semua negara di dunia.

2.TRANSISI VITAL
Transisi vital adalah perubahan-perubahan tingkat kelahiran dan tingkat kematian yang
berpengaruh pada pertumbuhan dan mobilitas penduduk.
Tahapan transisi vital (Bogue, 1969):
1.
tahapan pratransisi (pre transitional), dari A hingga B dengan cirri-ciri tingkat kelahiran dan
kematian sama.
2.
Transisi (transitional), dari B ke E, dicirikan dengan penurunan tingkat kelahiran dan tinkat
kematian
3.
Pasca transisi (post transitional), dari E ke F, dicirikan oleh tingkat kematian rendah dan tingkat
kelahiran sedang.

Model transisi vital

3.TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK


A. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Penduduk
Mobilitas penduduk mempunyai pengertian pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain.
Baik untuk sementara maupun untuk jangka waktu yang lama atau menetap seperti mobilitas ulangalik (komunitas) dan migrasi. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke
tempat yang lain atau dari suatu daerah ke daerah lain.
Penduduk yang melakukan mobilisasi tidaklah semata mata untuk berpindah tempat saja, tetapi hal itu
dilakukan oleh karena dorongan dari tiga faktor yaitu:
1. Penarik.
2. Pendorong.
3. Kendala.
Pada tahun 1885 E.G. Ravenstin ( Bogue, 1969: 755, dalam Suhardi, 2007) mempublikasikan yang
dia sebut sebagai 7 hukum-hukum perpindahan penduduk (migrasi), yang terdiri dari:
1. Migrasi dan jarak, kebanyakan migran melakukan perpindahan dalam jarak dekat. Bila jaraknya
bertambah maka jumlah migrant yang berpindah menurun.
2. Migrasi bertahap, penduduk semula pindah dari daerah pedesaan ke tepi kota besar sebelum masuk
ke dalam kota besar tersebut.
3. Arus dan arus balik, tiap adanya arus migrasi akan terjadi juga migrasi arus balik.
4. Daerah urban (perkotaan) dan rural (pedesaan), penduduk perkotaan kurang melakukan migrasi
dibandingkan dengan penduduk daerah pedesaan.

5. Dominasi wanita pindah jarak dekat, dalam jarak dekat wanita pindah lebih banyak daripada lakilaki.
6. Teknologi dan migrasi, perkembangan teknologi cenderung meningkatkan migrasi.
7. Dominasi motif ekonomi, walaupun berbagai jenis faktor dapat mendorong terjadinya perpindahan
akan tetapi keinginan untuk meningkatkan keadaan ekonomi merupakan kekuatan yang paling
potensial.
Faktor pendorong (push) yang bersifat sentrifugal dan penarik (pull) yang bersifat sentripetal. Ardy
(2008) mngungkapkan perpindahan dari daerah asal (area of origin) dimungkinkan oleh karena
adanya beberap faktor pendorong yaitu:
1. Turunnya sumber daya alam.
2. Hilangnya mata pencaharian.
3. Diskriminasi yang bersifat penekanan atau penyisihan
4. Memudarnya rasa ketertarikan oleh karena kesamaan kepercayaan, kebiasaan atau kebersamaan
perilaku baik antar anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.
5. Menjauhkan diri dari masyarakat oleh karena tidak lagi kesempatan untuk pengembangan diri,
pekerjaan atau perkawinan.
6. Menjauhkan diri dari masyarakat oleh karena bencana alam seperti banjir, kebakaran, kekeringan,
gempa bumi, atau epidemic penyakit.
Perpindahan ke daerah tujuan (area of destination) dimungkinkan oleh karena adanya beberapa faktor
penarik yaitu:
1. Kesempatan yang melebihi untuk bekerja sesuai dengan latar belakang profesinya dibandingkan di
daerah asal.
2. Kesempatan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.
3. Kesempatan yang lebih tinggi memperoleh pendidikan atau pelatihan sesuai dengan spesialisasi
yang dikehendaki.
4. Keadaan lingkungan yang menyenangkan, seperti cuaca perumahan, sekolah, da fasilitas umum
lainnya.
5. Ketergantungan, seperti dari seorang isteri terhadap suaminya yang tinggal di tempat yang dituju.
6. Penyediaan untuk melakukan berbagai kegiatan yang berbeda atau yang baru dilihat dari berbagai
sisi lingkungan, penduduk atau budaya masyarakat sekitar.
Faktor pendorong dan penarik perpindahan penduduk ada yang negatif dan ada yang positif
(Abidin, 2010). Faktor pendorong yang positif yaitu para migran ingin mencari atau menambah
pengalaman di daerah lain. Sedangkan faktor pendorong yang negatif yaitu fasilitas untuk memenuhi
kebutuhan hidup terbatas dan lapangan pekerjaan terbatas pada pertanian. Faktor penarik yang positif
yaitu daerah tujuan mempunyai sarana pendidikan yang memadai dan lebih lengkap. Faktor penarik

yang negatif adalah adanya lapangan pekerjaan yang lebih bervariasi, kehidupan yang lebih mewah,
sehingga apa saja yang diperlukan akan mudah didapat dikota.
Pada masing-masing daerah terdapat faktor-faktor yang menahan seseorang untuk tidak meninggalkan
daerahnya atau menarik orang untuk pindah ke daerah tersebut (faktor +), dan ada pula faktor-faktor
yang memaksa mereka untuk meninggalkan daerah tersebut (faktor -). Selain itu ada pula faktorfaktor yang tidak mempengaruhi penduduk untuk melakukan migrasi (faktor o). Diantara keempat
faktor tersebut, faktor individu merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pengambilan
keputusan untuk migrasi. Penilaian positif atau negatif terhadap suatu daerah tergantung kepada
individu itu sendiri.
Besarnya jumlah pendatang untuk menetap pada suatu daerah dipengaruhi besarnya faktor penarik
(pull factor) daerah tersebut bagi pendatang. Semakin maju kondisi sosial ekonomi suatu daerah akan
menciptakan berbagai faktor penarik, seperti perkembangan industri, perdagangan, pendidikan,
perumahan, dan transportasi. Kondisi ini diminati oleh penduduk daerah lain yang berharap dapat
memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Pada sisi lain, setiap daerah mempunyai faktor pendorong
(push factor) yang menyebabkan sejumlah penduduk migrasi ke luar daerahnya. Faktor pendorong itu
antara lain kesempatan kerja yang terbatas jumlah dan jenisnya, sarana dan prasarana pendidikan yang
kurang memadai,fasilitas perumahan dan kondisi lingkungan yang kurang baik.
Everet S. Lee (1996, dalam Chotib, ___) menambahkan bahwa selain kedua faktor pendorong dan
penarik tersebut terdapat juga faktor kendala antar daerah asal dengan daerah tujuan, yang kemudian
dikenal dengan faktor-faktor penarik kebutuhan (demand pull) pendorong penyediaan (supply push)
dan jejaring (network).

B. Perubahan Mobilitas Penduduk Selama Transisi Demografi


Pada masa pretransisi, menurut Sutomo (2010:7) merupakan fase yang memiliki ciri-ciri adanya
tingkat kelahiran yang tinggi, tetai diikuti pula dengan tingkat kematian yang tinggi. Dengan
demikian, tidak terjadi perrtumbuhan penduduk. Pada fase ini sumber daya manusia masih sangat
rendah. pendidikan yang diteriama oleh setiap orang sangat terbatas. Hal ini menyebabkan
pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang pada saat itu sangat rendah. Pengetahuan yang rendah ini
sangat berdampak pada cara hidup mereka. Dalam memenuhi kebutuhannya orang-orang pada masa
itu sangat bergantung pada alam. Terutama masalah kebutuhan pokok yaitu pangan, orang-orang pada
masa itu melakukan kegiatan hunting and gathering yaitu berburu dan mengumpulkan makanan.
Demikian pula dengan kebutuhan-kebutuhan yang lainnya, mereka memenuhinya dengan cara yang
paling sederhana. Karena ketersediaan sumber daya alam di suatu daerah terbatas jika di pakai terusmenerus suatu saat pasti akan habis juga. Jika hal ini terjadi maka terjadilah perpidahan penduduk.
Mereka mencari tempat baru yang menurut mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah yang
bisa dipakai dalam beberapa waktu yang lama. Perpidahan ini relatif sering dilakukan oleh
masyarakat pada saat itu sehingga mobilitasnya sangat tinggi.
Fase transisi dibagi menjadi 3 yaitu awal transisi, pertengahan transisi, dan akhir transisi (Sutomo,
2010:7). Awal transisi memiliki ciri-ciri tingkat kematian mulai menurun, tetapi tidak diikuti oleh
penurunan tingkat kematian. Pertengahan transisi ditandai menurunnya tingkat kelahihan, sementara
tingkat kematian juga terus menurun. Sedangkan akhir transisi dicirikan menurunnya tingkat kematian
dengan cepat, sementara laju penurunan tingkat kematian sudah melambat.

Sedangkan pada masa transisi, pendidikan sudah mulai berkembang. Masyarakat pada masa ini sudah
memiliki cukup pengetahuan untuk memenuhi kebutuhannya dan tidak terlalu bergantung dengan
alam. Penemuan-penemuan mulai bermunculan, baik dalam bidang kesehatan maupun yang lainnya.
Hal ini berdampak besar bagi kualitas kehidupan manusia pada saat itu. Suatu perubahan yang paling
besar adalah masyarakat pada saat itu sudah dapat menernakkan dan membudidayakan
tanaman(domestikasi). Dengan berubahnya sistem hidup mereka dari hunting and gathering menjadi
system yang lebih efisien yaitu domestikasi maka masyarakat pada saat itu mulai tingal menetap di
suatu daerah. kebutuhan-kebutuhan mereka mulai dapat dipenuhi sendiri, ketergantungan pada alam
pun mulai berkurang. Maka mobilitas masyarakat pun berkurang.
Fase terakhir yaitu fase posttransisi, menurut Sutomo (2010:7) mempunyai ciri-ciri baik tingkat
kelahiran maupun tingkat kematian keduanya berada pada tingkat yang rendah. Dengan demikian,
laju pertumbuhan penduduk menjadi sangat kecil, bahkan dapat terjadi tidak ada lagi pertumbuhan
penduduk.
Pada fase terakhir yaitu fase posttransisi, dimana pendidikan yang didapatkan oleh setiap masyarakat
sudah sangat tinggi, pengetahuan yang dimiliki pun bertambah dengan pesat. Banyak penemuan
penemuan baru di segala bidang. Kualitas kesehatan dan bidang-bidang lainnya sangat meningkat.
Peningkatan teknologi menyebabkan semua kebutuhan yang diperlukan tersedia dalam suau tempat.
Orang-orang idak perlu lagi bepergian ke tempat-tempat yang jauh untuk memenuhi kebutuhannya.
Hal ini menyebabkan mobilitas penduduk pada masa itu sangat rendah.

TRANSISI VITAL DAN TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK


TRANSISI VITAL

TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK

MASYARAKAT MAJU
FASE D
FERTILITAS MENURUN
MORTALITAS=STABIL
pertumbuhan penduduk mendekati nol (0)

MASYARAKAT SANGAT MAJU

FASE IV
MIGRASI DESA-KOTA=MENINGKAT
terjadi arus tenaga kerja tidak terlatih dari desa
mobilitas sirkuler tenaga kerja terampil dan
professional meningkat dalam berbagai variasi

FASE E
perilaku fertilitas tidak dapat di prediksi= karena
kelahiran dapat dikontrol oleh individu maupun
lembaga sosial

FASE V
Mobilitas turun= sarana komunikasi sempurna
mobilitas sirkuler meningkat=akibat kemampuan
telekomunikasi dan informasi
bentuk-bentuk mobilitas sirkuler variatif

Diposkan 9th September 2014 oleh Rosellly Srininta


Perubahan Mobilitas Penduduk Pada Masa Transisi Demografi
Published on 19 August 2014 by Candra Wiguna
Penduduk merupakan salah satu modal dasar pembangunan nasional. Sebagai modal dasar atau aset
pembangunan, penduduk tidak hanya sebagai sasaran pembangunan, tetapi juga merupakan pelaku
pembangunan. Sementara itu jumlah penduduk yang besar bukan jaminan keberhasilan suatu
pembangunan. Peningkatan jumlah penduduk yang besar tanpa adanya peningkatan kesejahteraan
justru bisa menjadi bencana, yang pada gilirannya dapat menimbulkan gangguan terhadap programprogram pembangunan yang sedang dilaksanakan. Selain itu juga akan dapat menimbulkan berbagai
kesulitan bagi generasi yang akan datang.
Pemenuhan kebutuhan merupakan salah satu indikator pencapaian kesejahteraan penduduk, namun di
dalam perjalanan pemenuhan kebutuhan ini penduduk mengalami kesulitan karena pada daerahdaerah tertentu, peningkatan jumlah penduduk yang tinggi tidak diiringi dengan peningkatan sumber
daya manusia sehingga menimbulkan peningkatan angka pengangguran, atau dengan kata lain di
tempat yang jumlah penduduknya tinggi akan lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Maka dari itu
pencapaian kesejahteraan harus diikuti dengan pemerataan persebaran penduduk, karena dengan
pemerataan persebaran penduduk dapat mempermudah seseorang untuk memperoleh peluang kerja
yang lebih memadai. Maka dari itu peningkatan jumlah penduduk harus dibarengi dengan pemerataan
jumlah penduduk di daerah-daerah dimana salah satu yang dapat merealisasikan hal tersebut adalah
program transmigrasi.

Sejarah Transmigrasi di Indonesia


Dalam perjalanan sejarah transmigrasi di Indonesia yang sudah mencapai satu abad, sejak mulai
dilaksanakan pada jaman pemerintahan kolonial Belanda tahun 1905 hingga saat ini, telah melalui
berbagai masa pemerintahan dan kekuasaan yang berbeda. Walaupun secara demografis pengertian
umum dari transmigrasi ini tetap sama dari masa ke masa, yaitu memindahkan penduduk dari wilayah
yang padat ke wilayah yang kurang atau jarang penduduknya, tetapi dalam pelaksanaannya
didasarkan pada latar belakang, tujuan, dan kebijakan yang berbeda-beda, baik yang tertulis secara
resmi maupun terselubung (Nugraha Setiawan, Peneliti pada Pusat Penelitian Kependudukan dan
Pengajar pada Jurusan Sosial Ekonomi Fapet Unpad.)
1. Masa Percobaan Kolonisasi
Sejarah transmigrasi di Indonesia dimulai sejak dilaksanakannya kolonisasi oleh pemerintah kolonial
Belanda tahun 1905. Kebijakan kolonisasi penduduk dari pulau Jawa ke luar Jawa dilatarbelakangi
oleh:
1. Pelaksanaan salah satu program politik etis, yaitu emigrasi untuk mengurangi jumlah
penduduk pulau Jawa dan memperbaiki taraf kehidupan yang masih rendah.
2. Pemilikan tanah yang makin sempit di pulau Jawa akibat pertambahan penduduk yang cepat
telah menyebabkan taraf hidup masyarakat di pulau Jawa semakin menurun.
3. Adanya kebutuhan pemerintah kolonial Belanda dan perusahaan swasta akan tenaga kerja di
daerah-daerah perkebunan dan pertambangan di luar Pulau Jawa.
Politik etis yang mulai diterapkan pada tahun 1900 bertujuan menyejahterakan masyarakat petani
yang telah dieksploitasi selama dilaksanakannya culture stelsel(sistem tanam paksa). Sebab sistem
tanam paksa tersebut telah menyebabkan orang-orang Indonesia semakin menderita. Dari sisi
ekonomi, telah menyebabkan pula berubahnya sistem perekonomian tradisional ke arah pola
perekonomian baru (dualisme ekonomi) dan bertambah miskinnya penduduk terutama masyarakat
petani.
2. Periode Lampongsche Volksbanks
Catatan akurat mengenai berapa banyak jumlah penduduk yang dipindahkan pada periode ini masih
perlu dicari. Data yang berasal dari beberapa dokumen antara lain memperlihatkan antara tahun 19121922 jumlah penduduk yang diberangkatkan ke daerah kolonisasi sebanyak 16.838 orang. Kemudian
pada tahun 1922 dibuka lagi pemukiman kolonisasi baru yang lebih besar yang diberi nama
Wonosobo di dekat Kota Agung Lampung Selatan serta pemukiman kolonisasi dekat Sukadana di
Lampung Tengah. Pemukiman yang lebih kecil dibuka di Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan,
dan Sulawesi. Data yang lain menunjukkan sampai akhir tahun 1921 jumlah penduduk asal Jawa di
desa-desa kolonisasi Gedongtataan telah mencapai jumlah 19.572 orang. Ada juga yang menulis,
antara tahun 1905-1929 jumlah orang Jawa yang dipindahkan ke luar Jawa sudah mencapai angka
24.300 orang. Dengan demikian jika dihitung berdasarkan jumlah orang yang diberangkatkan antara
tahun 1905-1911 sebanyak 4.800 orang, berarti antara tahun 1911-1929 pemerintah kolonial Belanda
telah memindahkan penduduk melalui program kolonisasi sekitar 19.500 orang.
Pada periode Lampongsche volksbank, pelaksanaan kolonisasi belum dapat dikatakan berhasil,
penyebabnya adalah perencanaan yang kurang matang dan implementasi yang banyak menyimpang.
Masalah tempat pemukiman, pengairan, dan yang lainnya tidak direncanakan secara matang, sehingga

menyebabkan kerugian secara finansial. Kesehatan pemukim baru pun menjadi terabaikan yang
berdampak pada tingkat mortalitas penduduk di pemukiman kolonisasi menjadi tinggi. Walaupun
pemerintah kolonial Belanda memiliki konsep, bahwa daerah tujuan kolonisasi harus memiliki
suasana sosial budaya dan sistem pertanian yang hampir sama dengan daerah asal. Namun faktanya
daerah yang telah dipersiapkan tersebut tidak memenuhi kriteria. Sistem irigasi yang dibuat tidak
memadai, demikian juga prasarana transportasi, sehingga banyak pemukim baru yang tidak betah, dan
kembali ke Jawa. Dalam perekrutan calon peserta kolonisasi, pemerintah member instruksi kepada
lurah-lurah yang diberi target untuk mengirimkan sejumlah orang ke daerah kolonisasi. Sistem seleksi
yang diatur oleh lurah menjadikan mereka mudah mengatur untuk menyingkirkan orang-orang tidak
disukai karena dianggap saingan atau lawan politik lurah. Cara rekruitmen demikian menyebabkan
orang tidak siap untuk memulai kehidupan di daerah tujuan kolonisasi.
Seirama dengan pencanangan kolonisasi, perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur mengalami
kemajuan. Hal ini berdampak pada pelaksanaan kolonisasi, karena ada persaingan antara calo tenaga
kerja dengan petugas kolonisasi yang diberi target untuk mencari orang sebagai peserta kolonisasi. Isu
yang dikembangkan oleh calo tenaga kerja adalah hal-hal negatif tentang kolonisasi, agar penduduk
Jawa lebih tertarik untuk menjadi kuli kontrak di perkebunan Sumatera. Pada akhirnya orang-orang di
pulau Jawa sendiri lebih tertarik menjadi kuli kontrak ketimbang ikut kolonisasi, sebab dianggap lebih
menguntungkan secara ekonomi. Ada dugaan pemerintah kolonial Belanda menjadi tidak terlalu
serius menangani kolonisasi, setelah melihat fenomena banyaknya orang Jawa yang tertarik untuk
menjadi kuli kontrak pada perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur. Sebab pemerintah kolonial
Belanda sendiri, dalam melaksanakan kolonisasi ini memiliki tujuan yang terselubung yaitu untuk
mendukung penyediaan tenaga kerja murah bagi perkebunan-perkebunan tanaman ekspor dalam
rangka mendukung perkembangan ekonominya. Artinya program kolonisasi ini dianggap menjadi
tidak penting, manakala sudah banyak penduduk Jawa yang tertarik untuk menjadi kuli kontrak di
Sumatera.
3. Zaman Depresi Ekonomi Dunia
Terjadinya arus migrasi penduduk yang deras dari pulau Jawa untuk menjadi kuli kontrak di Sumatera
berlangsung menjelang terjadinya depresi ekonomi dunia. Himpitan kesulitan hidup di Jawa telah
mendorong mereka secara mandiri dan sukarela bermigrasi ke Sumatera. Hal ini, pada akhirnya
menyebabkan pemerintah kolonial Belanda mengubah kebijakan kolonisasi.
Pada masa peralihan antara tahun 1927- 1930 pemerintah hanya menyediakan biaya transportasi
untuk mereka yang mengikuti program kolonisasi. Depresi ekonomi yang terus berlanjut telah
berpengaruh terhadap perekonomian pemerintah kolonial Belanda. Permintaan tenaga kerja dari
perkebunan-perkebunan di Sumatera menjadi kurang, bahkan sebagian mengurangi tenaga kerjanya,
sehingga banyak kuli kontrak yang kembali ke pulau Jawa. Pemerintah Belanda mulai merasa perlu
mengintensifkan kembali kolonisasi. Pemerintah pun memperketat persyaratan untuk mengikuti
kolonisasi yaitu:
1. peserta harus benar-benar petani, sebab jika bukan dapat menyebabkan ketidak-berhasilan di
lokasi kolonisasi,
2. fisik harus kuat agar bisa bekerja keras,
3. harus muda untuk menurunkan fertilitas di Pulau Jawa,
4. sudah berkeluarga untuk menjamin ketertiban di lokasi baru,

5. tidak memiliki anak kecil dan banyak anak karena akan menjadi beban,
6. bukan bekas kuli kontrak karena dianggap sebagai propokator yang akan menimbulkan
keresahan di pemukiman baru,
7. harus waspada terhadap perkawinan koloniasai sebagai sumber keributan,
8. jika wanita tidak sedang hamil karena diperlukan tenaganya pada tahun-tahun pertama
bermukim di tempat baru,
9. jika bujangan harus menikah terlebih dahulu di Jawa karena dikhawatirkan mengganggu istri
orang lain,
10. peraturan tersebut tidak berlaku jika seluruh masyarakat desa ikut kolonisasi.
Sejalan dengan kesulitan ekonomi yang dialami oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai dampak
depresi ekonomi dunia sementara minat masyarakat Jawa untuk ikut kolonisasi cukup tinggi,
pemerintah akhirnya merubah pola kolonisasi untuk menekan biaya dengan sistem bawon. Pemukim
kolonisasi terdahulu diharapkan memakai tenaga kerja pemukim baru dengan prinsip tolongmenolong dan gotong-royong. Pemekaran daerah kolonisasi baru dibuat tidak jauh dari kolonisasi
lama. Penempatan pemukim baru dilakukan pada bulan Februari-Maret saat menjelang musim panen
padi di pemukiman lama, sehingga mereka bisa ikut bawon. Bagian hasil bawon pemukim baru di
Lampung dibuat lebih besar dengan perbandingan 1:7 atau 1:5, artinya buruh mendapatkan satu
bagian setiap tujuh atau lima bagian pemilik. Pada saat itu sistem bawon di pulau Jawa umumnya
menggunakan perbandingan 1:10. Peserta kolonisasi mandiri pada periode ini boleh dikatakan lebih
berhasil dibandingkan dengan peserta sebelumnya, walaupun masih ada beberapa yang kembali ke
pulau Jawa. Kondisi demikian, memberikan daya tarik pada masyarakat Jawa untuk ikut kolonisasi.
Akhirnya dikembangkan daerah kolonisasi baru di Palembang, Bengkulu, Jambi, Sumatera Utara,
Sulawesi, dan Kalimantan.
Walaupun pada pelaksanaan kolonisasi periode ini jumlah penduduk yang dipindahkan dari pulau
Jawa ke daerah kolonisasi cukup banyak dibandingkan dengan periode sebelumnya, namun kalau
dilihat dari aspek pengendalian penduduk pulau Jawa belum bisa disebut berhasil. Pendapat ahli
kependudukan Belanda pada saat itu, jika ingin mengendalikan penduduk Jawa, penduduk yang
dipindahkan harus mencapai 80.000 keluarga per tahun. Pemerintah kolonial Belanda sampai
menjelang akhir masa kekuasaannya, hanya mampu memindahkan penduduk pulau Jawa kurang dari
seperlima dari target yang diharapkan per tahunnya. Data lain menunjukkan antara tahun 1905-1941
penduduk yang berhasil dipindahkan hanya berjumlah 189.938 orang. Akan tetapi jika dilihat dari
aspek peningkatan kesejahteraan peserta kolonisasi, mereka mungkin dapat disebut lebih baik tingkat
kehidupannya dibandingkan pada saat berada di daerah asalnya.
4. Transmigrasi Masa Pendudukan Jepang
Sejak tahun 1942 susunan pemerintahan di Lampung mengalami perubahan dengan perginya pejabatpejabat kolonial Belanda dari Binnenlands Bestuur. Ketika tentara Jepang masuk ke Indonesia,
kegiatan transmigrasi tetap dilaksanakan. Akan tetapi karena sibuk dengan peperangan, rupanya
penguasa Jepang tidak sempat melakukan pengadministrasian kegiatan transmigrasi seperti halnya
pada jaman pemerintah kolonial Belanda, sehingga sangat sedikit dokumentasi mengenai transmigrasi
yang bisa ditemukan. Diperkirakan selama kekuasaan Jepang, penduduk pulau Jawa yang berhasil
dipindahkan ke luar Jawa melalui transmigrasi sekitar 2.000 orang. Tidak hanya di bidang
transmigrasi, kondisi kependudukan yang parah dimulai ketika tentara Jepang mengambil alih

kekuasaan dari pemerintahan Belanda. Pada periode ini kondisi perekonomian di Indonesia sangat
buruk. Beberapa komoditi seperti tekstil, alat-alat pertanian, bahan pangan menghilang dari pasaran.
Terjadi pula mobilisasi tenaga kerja (romusha) untuk dipekerjakan di perkebunanperkebunan dan
proyek-proyek pertahanan Jepang, baik di dalam maupun di luar negeri.
5. Transmigrasi Setelah Kemerdekaan
A. Masa Orde Lama
Ketika baru merdeka dari penjajahan Jepang, di Indonesia masih terjadi gejolak politik, sehingga
permasalahan kepadatan penduduk masih terabaikan. Baru tahun 1948 pemerintah Republik Indonesia
membentuk panitia untuk mempelajari program serta pelaksanaan transmigrasi yang diketuai oleh A.
H. D. Tambunan. Walaupun telah terbentuk kepanitiaan, keputusan yang menyangkut masalah
transmigrasi baru diambil pada tahun 1950.
Bulan Desember 1950 merupakan awal mula pemberangkatan transmigran di jaman kemerdekaan ke
Sumatera Selatan. Pelaksananya ditangani oleh Jawatan Transmigrasi yang berada di bawah
Kementrian Sosial. Baru tahun 1960 Jawatan Transmigrasi menjadi departemen yang digabung
dengan urusan perkoperasian dengan nama Departemen Transmigrasi dan Koperasi. Pada masa ini,
selain tujuan demografis, tujuan lainnya tidak jelas. Namun Presiden Soekarno sendiri tidak fokus
pada kelebihan penduduk Jawa, tetapi hanya melihat adanya ketimpangan kepadatan penduduk pulau
Jawa dan luar Jawa. Akan tetapi di kemudian hari yaitu seperti tercantum pada Undang-undang No.
20/1960 jelas terbaca, bahwa tujuan transmigrasi adalah untuk meningkatkan keamanan,
kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat, serta mempererat rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
Target pemindahan penduduk pada jaman orde lama dinilai sangat ambisius dan tidak realistis,
dimana sasaran Rencana 35 Tahun Tambunan adalah mengurangi penduduk pulau Jawa agar
mencapai angka 31 juta jiwa pada tahun 1987 dari jumlah penduduk sebanyak 54 juta jiwa pada tahun
1952. Pada kenyataannya antara tahun 1950-1959 pemerintah hanya berhasil memindahkan
transmigran sebanyak 227.360 orang. Revisi target transmigran sebenarnya telah dilakukan dengan
yang lebih realistis. Selama lima tahun, antara tahun 1956-1960 direncanakan pemindahan penduduk
Jawa sebanyak 2 juta orang, atau rata-rata 400 ribu orang per tahun. Pada rencana delapan tahun
selanjutnya, yaitu antara tahun 1961-1968, Jawatan Transmigrasi menurunkan lagi targetnya menjadi
1,56 juta orang, atau rata-rata 195 ribu orang per tahun.
Pada periode rencana delapan tahun, muncul kebijakan Transmigrasi Gaya Baru pada musyawarah
nasional gerakan transmigrasi yang diselenggarakan pada bulan Desember 1964. Konsepnya
memindahkan kelebihan fertilitas total yang diperkirakan mencapai angka 1,5 juta orang per tahun.
Pada kebijakan ini, muncul pula ide untuk melaksanakan transmigrasi swakarya, artinya transmigran
baru ditampung oleh transmigran lama seperti yang pernah dilakukan pada jaman Belanda dengan
sistem bawon, kemudian membuka hutan, membangun rumah, dan membuat jalan sendiri, sehingga
tanggungan pemerintah tidak terlampau besar. Minat penduduk pulau Jawa untuk ikut transmigrasi
pada periode ini cukup tinggi. Bahkan mereka mau berangkat ke daerah transmigran atas biaya sendiri
tanpa bantuan pemerintah. Di tempat tujuan mereka cukup melapor untuk memperoleh sebidang lahan
dan bantuan material lainnya.
Pada jaman orde lama, ada pengkategorian transmigrasi, sehingga dikenal istilah transmigrasi umum,
transmigrasi keluarga, transmigrasi biaya sendiri, dan transmigrasi spontan. Dalam sistem
transmigrasi umum segala keperluan transmigran, sejak pendaftaran sampai di lokasi menjadi
tanggungan pemerintah. Pemerintah juga menanggung biaya hidup selama delapan bulan pertama,

bibit tanaman, serta alat-alat pertanian. Transmigrasi keluarga merupakan merupakan sistem
transmigrasi beruntun, artinya jika ada keluarga transmigran ingin mengajak keluarganya yang masih
tinggal di pulau Jawa untuk tinggal di daerah transmigrasi, maka transmigran lama harus menanggung
biaya hidup dan perumahan transmigran baru. Sistem ini tidak jalan, karena terlalumemberatkan
peserta transmigrasi, sehingga tidak dilaksanakan lagi sejak 1959. Transmigrasi biaya sendiri,
mengharuskan calon transmigran mendaftar di tempat asal, kemudian berangkat ke lokasi dengan
ongkos sendiri, setelah sampai di lokasi mereka mendapatkan lahan dan subsidi seperti transmigran
umum. Sedangkan transmigrasi spontan selain menanggung sendiri ongkos ke lokasi, mereka pun
harus mengurus sendiri keberangkatannya. Di tempat tujuan baru mereka lapor untuk mendapatkan
lahan di daerah yang telah ditentukan.
B. Masa Orde Baru
Pada jaman orde baru, tujuan utama transmigrasi tidak semata-mata memindahkan penduduk dari
pulau Jawa ke luar Jawa, namun ada penekanan pada tujuan memproduksi beras dalam kaitan
pencapaian swasembada pangan. Pembukaan daerah transmigrasi diperluas ke wilayah Kalimantan
Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi, bahkan sampai ke Papua.
Tahun 1965-1969, belum ditentukan target jumlah transmigran yang harus dipindahkan. Bahkan
terkesan belum begitu perhatian terhadap program transmigrasi. Daerah transmigran seperti Lampung,
Jambi, Sumatera Selatan yang pada awalnya banyak sekali menerima transmigran, pada periode ini
hanya menerima sekitar 52 persen dari total transmigran yang diberangkatkan. Jumlah yang dikirim
ke Sulawesi sekitar 25 persen, sisanya ke pulau-pulau lain seperti Kalimantan dan Papua.
Jika pada masa orde lama dikenal empat kategori transmigrasi, pada periode ini hanya dikenal dua
kategori yaitu transmigrasi umum dan transmigrasi spontan. Pada transmigrasi spontan pemerintah
hanya mengorganisir perjalanan dari daerah asal ke tempat tujuan, ongkos ongkos semua ditanggung
peserta. Sementara transmigrasi spontan, semua ongkos ditanggung pemerintah, dan di lokasi
memperoleh lahan seluah dua hektar, rumah, dan alat-alat pertanian, serta biaya selama 12
bulan pertama untuk di daerah tegalan, dan 8 bulan pertama di daerah pesawahan menjadi tanggungan
pemerintah. Jumlah seluruh transmigran yang berhasil dipindahkan pada periode ini sebanyak
182.414 orang atau sekitar 52.421 keluarga.
Masih pada jaman orde baru, tepatnya tahun 1974 ketika Gunung Merapi meletus, ada kejadian
seluruh warga desa diikutsertakan dalam program transmigrasi, di lokasi baru mereka menempati
daerah yang sama. Dari kejadian inilah kemudian muncul istilah transmigrasi bedol desa. Pada
periode rencana pembangunan lima tahun (repelita) ke-2 antara tahun 1974-1979, konsep transmigrasi
diintegrasikan ke dalam pembangunan nasional. Dalam kerangka pembangunan nasional tersebut,
transmigrasi diharapkan dapat meningkatkan ketahanan nasional, baik di bidang ekonomi, sosial,
maupun budaya, serta meningkatkan produksi pangan dan komoditi ekspor. Produksi pertanian
diharapkan dapat mendukung sektor industri sebagai cita-cita pembangunan. Selain itu mulai tercetus
pemikiran untuk mengembangkan daerah tujuan semenarik mungkin, sehingga akan banyak penduduk
yang tertarik untuk pindah dari pulau Jawa dengan biaya mandiri tanpa tergantung pada pemerintah.
Target transmigrasi pada repelita ke-2 adalah memberangkatkan 50 ribu keluarga atau 250 ribu orang
per tahun, atau jika dihitung selama selama lima tahun, transmigran yang harus diberangkatan
sebanyak 1,25 juta orang. Target yang tidak realistis tersebut pada tahun 1976 dikurangi menjadi 108
ribu keluarga selama lima tahun, sedangkan realisasinya pemerintah hanya mampu memberangkatkan
sebanyak 204 ribu orang atau sekitar 16 persen dari target yang dicanangkan.

Masa selanjutnya, pada repelita ke-3 (1979-1983) ada penekanan yang lebih mendalam terhadap
kepentingan pertahanan dan keamanan. Pelaksanaan transmigrasi spontan lebih didorong lagi dengan
mengembangkan kegiatan ekonomi di luar pulau Jawa guna menarik minat calon transmigran. Target
pemindahan transmigran sebanyak 250 ribu keluarga dapat dicapai, bahkan terlampaui sebanyak dua
kali lipat. Pemerintah berhasil memberangkatkan sebanyak 500 ribu keluarga. Mengingat
keberhasilan pada repelita ke-3, maka pada repelita ke-4 target transmigran ditingkatkan lagi menjadi
750 ribu keluarga atau 3,75 juta orang. Pada akhir bulan Oktober 1985 telah berhasil diberangkatkan
sebanyak 350.606 keluarga atau 1.163.771 orang. Pada periode ini diintroduksi konsep tentang
pelestarian lingkungan, sehingga transmigrasi juga diberi misi agar bisa memulihkan sumber daya
alam yang sudah tereksploitasi dan memelihara lingkungan hidup.
C. Masa Reformasi
Jumlah penduduk yang berhasil dipindahkan dalam program transmigrasi, terus meningkat dari tahun
ke tahun. Walaupun demikian tetap tidak bisa mengejar bertambahnya jumlah penduduk di pulau
Jawa. Sebab fertilitas di pulau Jawa jauh melebihi angka penduduk yang dapat dipindahkan ke luar
pulau Jawa. Dengan demikian, jika dilihat dari aspek demografis yang dikaitkan dengan pengurangan
penduduk di pulau Jawa, program transmigrasi ini tidak mencapai sasarannya. Diakui pula oleh
Departemen Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, bahwa pelaksanaan transmigrasi yang
telah dilaksanakan hingga jaman orde baru belum memberikan pengaruh yang merata, baik ditinjau
dari sisi mikro yaitu tingkat perkembangan UPT/Desa, maupun makro yaitu pada percepatan
pertumbuhan wilayah. Pembangunan transmigrasi pun belum berhasil menjadi pendorong
pembangunan, karena belum dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam pembangunan
wilayah.
Mengingat kondisi seperti di atas, perlu dicari paradigma baru dalam pembangunan transmigrasi.
Paradigma baru yang sudah jauh berbeda dengan paradigma lama, terjadi dengan dikeluarkannya
Undang-undang No. 5/1997. Pelaksanaan transmigrasi tidak lagi difokuskan pada pemecahan masalah
persebaran penduduk, yang selama 90 tahun terakhir memang tidak berhasil dipecahkan, namun
bergeser pada pengembangan ekonomi dan pembangunan daerah. Dalam Undang-undang tersebut
dinyatakan, bahwa tujuan transmigrasi adalah:
1. untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitar,
2. meningkatkan pemerataan pembangunan daerah, dan
3. memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Melalui tujuannya itu diharapkan rakyat Indonesia yang berada di luar the circular flow of
income dalam sistem ekonomi nasional bisa lebih cepat mencapai tingkat kesejahteraannya.
Terjadinya ketimpangan akibat strategi industrialisasi yang terlalu bertumpu di pulau Jawa yang telah
menyebabkan ketimpangan antar daerah dapat dikurangi. Gejala disintegrasi dan separatis
memerlukan strategi dan kebijakan yang tepat termasuk dari pihak Departemen Transmigrasi dan
PPH. Penyempurnaan pelaksanaan transmigrasi yang diperlukan antara lain, agar transmigrasi
diupayakan secara merata di wilayah tanah air, dan pemukiman transmigran tidak
merupakanenclave serta memiliki keterkaitan fungsional dengan kawasan di sekitarnya. Berbagai
kelompok etnis harus berbaur dalam kebhinekaan, penduduk setempat juga harus mendapat perhatian
yang sama, dengan tujuan untuk meredam potensi konflik antara pendatang dan penduduk asli.
Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka pemerintah daerah akan memiliki tanggung jawab
dan wewenang yang lebih besar dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di

daerahnya masing-masing. Sehingga, pembangunan transmigrasi harus diletakkan pada kerangka


pembangunan daerah yang selanjutnya harus dapat dijabarkan dalam program-program transmigrasi.
Berdasarkan pada penjelasan di atas visi transmigrasi ke depan adalah Mewujudkan komunitas baru
yang merupakan hasil integrasi harmonis antara penduduk setempat dan masyarakat pendatang,
yang sejahtera serta dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. Adapun
misinya adalah Mengisi pembangunan di daerah sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat dan
pendatang, serta sesuai dengan rencana pembangunan daerah dan rencana pembangunan nasional.
Misi di atas dilakukan melalui konsep pengembangan wilayah dan pengembangan masyarakat, antara
lain dengan upaya peningkatan pembangunan daerah dalam rangka mengembangkan pusat-pusat
pertumbuhan ekonomi yang ada, dan mewujudkan agropolitan baru sebagi pusat pertumbuhan
ekonomi. Selain itu, dilakukan pendekatan kultural dengan memperhatikan sistem nilai dan perilaku
serta adatistiadat masyarakat setempat, sehingga pembangunan transmigrasi tidak lagi bersifat
eksklusif dalam kehidupan siklis, melainkan melalui berbagai teknik pembauran.
Konsep manajemen pembangunan transmigrasi yang dijalankan antara lain, pembangunan
transmigrasi yang reformis tidak lagi menekankan pada target pemindahan transmigran, melainkan
pada pencapaian pertumbuhan kesejahteraan transmigran yang dikaitkan dengan kemampuan daya
beli dari transmigran yang paling miskin dengan ukuran keberhasilan minimal transmigran terhadap
kebutuhan dasarnya. Selain itu, menjadikan transmigrasi sebagai suatu kebutuhan yang diminta oleh
masyarakat setempat, dunia usaha, dan pemerintah daerah.
Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Penduduk.
Untuk bisa memahami motif atau alasan mengapa suatu penduduk melakukan perpindahan, maka pola
perpindahan penduduk tersebut harus diketahui terlebih dahulu. Pada tahun 1885 E.G. Ravenstin
(Bogue, 1969: 755) mempublikasikan 7 hukum perpindahan penduduk (migrasi), yang terdiri dari:
1. Migrasi dan jarak, kebanyakan migran melakukan perpindahan dalam jarak dekat. Bila
jaraknya bertambah maka jumlah migran yang berpindah menurun.
2. Migrasi bertahap, penduduk semula pindah dari daerah pedesaan ke tepi kota besar sebelum
masuk ke dalam kota besar tersebut.
3. Arus dan arus balik, tiap adanya arus migrasi akan terjadi juga migrasi arus balik.
4. Daerah urban (perkotaan) dan rural (pedesaan), penduduk perkotaan kurang melakukan
migrasi dibandingkan dengan penduduk daerah pedesaan.
5. Dominasi wanita pindah jarak dekat, dalam jarak dekat wanita pindah lebih banyak daripada
laki-laki.
6. Teknologi dan migrasi, perkembangan teknologi cenderung meningkatkan migrasi.
7. Dominasi motif ekonomi, walaupun berbagai jenis faktor dapat mendorong terjadinya
perpindahan akan tetapi keinginan untuk meningkatkan keadaan ekonomi merupakan
kekuatan yang paling potensial.
Penduduk yang melakukan mobilisasi tidaklah semata mata untuk berpindah tempat saja, tetapi hal itu
dilakukan oleh karena dorongan dari tiga faktor yaitu faktor penarik, pendorong, dan faktor kendala.
Faktor pendorong (push) yang bersifat sentrifugal dan penarik (pull) yang bersifat sentripetal.

Perpindahan dari daerah asal (area of origin) dimungkinkan oleh karena adanya beberapa faktor
pendorong diantaranya:
1. Turunnya sumber daya alam.
2. Hilangnya mata pencaharian.
3. Diskriminasi yang bersifat penekanan atau penyisihan
4. Memudarnya rasa ketertarikan oleh karena kesamaan kepercayaan, kebiasaan atau
kebersamaan perilaku baik antar anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.
5. Menjauhkan diri dari masyarakat oleh karena tidak lagi kesempatan untuk pengembangan
diri, pekerjaan atau perkawinan.
6. Menjauhkan diri dari masyarakat oleh karena bencana alam seperti banjir, kebakaran,
kekeringan, gempa bumi, atau epidemik penyakit.
Perpindahan ke daerah tujuan (area of destination) dimungkinkan oleh karena adanya beberapa faktor
penarik yaitu:
1. Kesempatan yang melebihi untuk bekerja sesuai dengan latar belakang profesinya
dibandingkan di daerah asal.
2. Kesempatan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.
3. Kesempatan yang lebih tinggi memperoleh pendidikan atau pelatihan sesuai dengan
spesialisasi yang dikehendaki.
4. Keadaan lingkungan yang menyenangkan, seperti cuaca perumahan, sekolah, da fasilitas
umum lainnya.
5. Ketergantungan, seperti dari seorang istri terhadap suaminya yang tinggal di tempat yang
dituju.
6. Penyediaan untuk melakukan berbagai kegiatan yang berbeda atau yang baru dilihat dari
berbagai sisi lingkungan, penduduk atau budaya masyarakat sekitar.
Everet S. Lee (1996) menambahkan bahwa selain kedua faktor pendorong dan penarik tersebut
terdapat juga faktor kendala antar daerah asal dengan daerah tujuan, yang kemudian dikenal dengan
faktor-faktor penarik kebutuhan (demand pull) pendorong penyediaan (supply push) dan jejaring
(network).
Perubahan Mobilitas Penduduk Selama Transisi Demografi
Pada masa pretransisi, sumber daya manusia masih sangat rendah. pendidikan yang diterima oleh
setiap orang sangat terbatas. Hal ini menyebabkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang pada
saat itu sangat rendah. Pengetahuan yang rendah ini sangat berdampak pada cara hidup mereka.
Dalam memenuhi kebutuhannya orang-orang pada masa itu sangat bergantung pada alam. Terutama
masalah kebutuhan pokok yaitu pangan, orang-orang pada masa itu melakukan kegiatan hunting and
gathering yaitu berburu dan mengumpulkan makanan. Demikian pula dengan kebutuhan-kebutuhan
yang lainnya, mereka memenuhinya dengan cara yang paling sederhana. Karena ketersediaan sumber
daya alam di suatu daerah terbatas jika di pakai terus-menerus suatu saat pasti akan habis juga. Jika

hal ini terjadi maka terjadilah perpindahan penduduk. Mereka mencari tempat baru yang menurut
mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah yang bisa dipakai dalam beberapa waktu yang
lama. Perpindahan ini relatif sering dilakukan oleh masyarakat pada saat itu sehingga mobilitasnya
sangat tinggi.
Sedangkan pada masa transisi pendidikan sudah mulai berkembang. Masyarakat pada masa ini sudah
memiliki cukup pengetahuan untuk memenuhi kebutuhannya dan tidak terlalu bergantung dengan
alam. Penemuan-penemuan mulai bermunculan, baik dalam bidang kesehatan maupun yang lainnya.
Hal ini berdampak besar bagi kualitas kehidupan manusia pada saat itu. Suatu perubahan yang paling
besar adalah masyarakat pada saat itu sudah dapat menernakkan dan membudidayakan
tanaman(domestikasi). Dengan berubahnya sistem hidup mereka dari hunting and gathering menjadi
sistem yang lebih efisien yaitu domestikasi maka masyarakat pada saat itu mulai tinggal menetap di
suatu daerah. kebutuhan-kebutuhan mereka mulai dapat dipenuhi sendiri, ketergantungan pada alam
pun mulai berkurang. Maka mobilitas masyarakat pun berkurang.
Pada fase terakhir yaitu fase posttransisi, dimana pendidikan yang didapatkan oleh setip masyarakat
sudah sangat tinggi, pengetahuan yang dimiliki pun bertambah dengan pesat. Banyak penemuan
penemuan baru di segala bidang. Kualitas kesehatan dan bidang-bidang lainnya sangat meningkat.
Peningkatan teknologi menyebabkan semua kebutuhan yang diperlukan tersedia dalam suatu tempat.
Orang-orang idak perlu lagi bepergian ke tempat-tempat yang jauh untuk memenuhi kebutuhannya.
Hal ini menyebabkan mobilitas penduduk pada masa itu sangat rendah.
Simpulan
Sejarah transmigrasi di Indonesia telah berjalan selama lebih dari 100 tahun. Hal ini dimulai sejak
diberlakukannya kolonisasi oleh pemerintah Belanda. Pada awal pelaksanaannya transmigasi di
Indonesia dilatarbelakangi oleh pelaksanaan salah satu program politik etis, pemilikan tanah yang
makin sempit di pulau Jawa akibat pertambahan penduduk yang cepat, adanya kebutuhan pemerintah
kolonial Belanda dan perusahaan swasta akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan dan
pertambangan.
Pada perjalananya transmigrasi yang pada awalnya sulit untuk dilaksanakan berangsur-angsur
menjadi mudah untuk dilaksanakan. Masyarakat secara sukarela pindah ke daerah-daerah yang lebih
terpencil. Seiring dengan hal tersebut maka tujuan-tujuan transmigrasi pun semakin bertambah
banyak, yaitu untuk meningkatkan keamanan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat, serta
mempererat rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Perubahan orde atau jaman juga sangat berpengaruh
pada penambahan tujuan transmigrasi. Secara umum dari awal dilaksanakannya transmigrasi di
Indonesia,jumah penduduk yang berhasil dipindahkan semakin meningkat walaupun pada jaman
penjajahan Jepang sempat mengalami penurunan karena terjadi perang dunia.
Jika kita tinjau lebih dalam maka kita akan menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas
penduduk. Namun secara umum terdapat tiga faktor, yaitu faktor penarik, pendorong dan kendala.
Dilihat dari sisi transisi demografi maka mobilitas penduduk dari jaman pretransisi, transisi dan
posttransisi secara umum mengalami penurunan. Peningkatan kulitas pendidikan, kemajuan teknologi
membuat kesejahteraan penduduk dapat dicapai tanpa melalui mobilitas. Seperti pada saat ini, dimana
segala kebutuhan yang kita perlukan sudah tersedia di satu tempat sehingga kita tidak perlu
melakukan perpindahan.