Anda di halaman 1dari 16

SISTEM KLASIFIKASI BARU UNTUK RESESI GINGIVA DAN PALATAL

(A New Classification System for Gingival and Palatal Recession)


Ashish Kumar, Sujata Surendra Masamatti

ABSTRAK :
Berbagai klasifikasi telah diusulkan untuk mengklasifikasikan resesi gingiva. Klasifikasi Miller
dari resesi gingiva yang paling banyak diikuti. Dengan beragam kasus dalam praktek klinis
sehari-hari, seringkali sulit untuk mengklasifikasikan banyak kasus resesi gingiva sesuai dengan
kriteria yang ditetapkan sistem klasifikasi ini. untuk mengusulkan system klasifikasi baru yang
memberikan gambaran komprehensif dari defek resesi yang dapat digunakan untuk memasukkan
kasus yang tidak dapat diklasifikasikan menurut klasifikasi ini. Sebuah sistem klasifikasi terpisah
untuk resesi palatal (PR) juga diusulkan. Artikel ini menguraikan keterbatasan sistem klasifikasi
saat ini dan juga ketidakmampuan untuk mengklasifikasikan PR. Sebuah sistem klasifikasi baru
yang komprehensif diusulkan untuk mengklasifikasikan resesi pada dasar posisi papilla
interdental dan resesi bukal / lingual / palatal.

KATA KUNCI : Cemento-enamel junction, klasifikasi, resesi gingival, papilla interdental,


mucogingival junction.
PENDAHULUAN
Resesi gingiva didefinisikan sebagai pergeseran jaringan marginal apikal ke cemento-enamel
junction (CEJ). "[1] Istilah "resesi jaringan marginal" dianggap lebih akurat daripada "resesi
gingiva," karena jaringan marginal mungkin telah mencapai mukosa alveolar. [2,3] Resesi gingiva
terjadi pada sebagian besar usia, mulai

usia awal pada

beberapa populasi.

[4]

Loe et al.

menyatakan sebuah hipotesis bahwa ada lebih dari satu jenis resesi gingiva dan mungkin
beberapa faktor yang menentukan inisiasi dan pengembangan lesi ini atas dasar terjadinya dan
1

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

tingkat resesi gingiva dalam dua kohort individual yang berpartisipasi dalam studi longitudinal
paralel di Norwegia (1969-1988) dan Sri Lanka (1970-1990), meliputi rentang usia dari 15 tahun
menjadi 50 tahun.

[5]

Dalam studi lain dari 1.003 anak, usia 15 tahun, ditemukan bahwa tingkat

tertinggi asosiasi dengan faktor-faktor etiologi lokal adalah bahwa antara resesi dan lebar
gingival berkeratin [6].
Sebagian besar klasifikasi resesi gingiva tidak dapat menyampaikan semua informasi yang
relevan terkait dengan resesi jaringan marginal. Informasi ini penting untuk membentuk
diagnosis, prognosis, rencana perawatan, dan juga komunikasi antara klinisi. Selain itu, dengan
berbagai macam kasus dengan presentasi klinis berbeda, tidak selalu memungkinkan untuk
mengklasifikasikan semua defek resesi gingival berdasarkan system klasifikasi saat ini. Resesi
palatal (PR) belum terklasifikasikan.

KLASIFIKASI RESESI GINGIVAL


Salah satu klasifikasi pertama diusulkan ialah oleh Sullivan dan Atkins. [7] Dasar untuk klasifikasi
resesi gingiva adalah kedalaman dan lebar defek. Empat kategori ialah: Dalam lebar, dangkal
luas, dalam sempit, dan dangkal sempit.
Miller mengusulkan sistem klasifikasi pada tahun 1985 [Tabel 1] dan kemungkinan merupakan
yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan resesi gingival. [8]
Kelas I: Jaringan resesi marginal tidak meluas hingga mucogingival junction (MGJ). Tidak
terdapat kehilangan tulang interdental atau jaringan lunak.
Kelas II: Resesi marginal meluas hingga atau diluar MGJ. Tidak terdapat kehilangan tulang
interdental atau jaringan lunak.
Kelas III: Resesi jaringan marginal meluas hingga atau diluar MGJ. Kehilangan tulang
interdental atau jaringan lunak ialah dari apikal ke CEJ, tetapi koronal hingga apikal perluasan
dari resesi jaringan marginal.
Kelas IV : Resesi jaringan marginal meluas hingga atau diluar MGJ. Kehilangan tulang
interdental meluas hingga level apikal hingga perluasan dari resesi jaringan marginal.
2

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Indeks untuk resesi gingiva

[9]

dan modifikasi klasifikasi Miller

[10]

juga telah diusulkan

sebelumnya.
[11]

Pada tahun 1998 Nordland dan Tarnow

mengusulkan sistem klasifikasi mengenai ketingian

papiler berdasarkan tiga anatomi landmark (a) titik kontak interdental, (b) perluasan apikal dari
facial CEJ dan (c) perluasan koronal dari proksimal CEJ.

Table 1: Tabel perbandingan dari klasifikasi Miller dengan klasifikasi yang diusulkan
Klasifikasi Miller
Klas

Resesi

Klasifikasi yang Diusulkan


jaringan Klas

Tidak

Klasifikasi

Palatal

yang

Diusulkan
terdapat PR-I: Tidak ada kehilangan

marginal tidak meluas hingga kehilangan tulang interdental tulang interdental atau
MGJ. Tidak ada kehilangan atau jaringan lunak:
tulang

interdental

jaringan lunak.

atau

jaringan lunak.

Klas I-A : Gingival margin PR-I-A:


pada

aspek

terletak
tetapi

resesi

jaringan

fasial/lingual Marginal 3 mm dari CEJ

pada

apikal

koronal

dari

dengan

kehadiran

gingiva

diantara

CEJ [Gambar 5a].


MGJ PR-I-B:

resesi

jaringan

attached Marginal> 3 mm
marginal dari CEJ [Gambar 5b].

gingival dan MGJ [Gambar


Klas II : Resesi

2b].
marginal Kelas

II:

Ujung

papilla PR-II:

Ujung

papilla

meluas hingga atau di luar interdental berada antara titik interdental terletak antara titik
MGJ. Tidak ada kehilangan kontak interdental dan tingkat
tulang

interdental

jaringan lunak

atau CEJ

mid-bucally

lingual.

Kehilangan

kontak interdental dan level

mid- CEJ mid palatally:


tulang PR-II-A:

Resesi

jaringan

interproksimal terlihat pada marginal 3 mm dari CEJ


radiograf.

[Gambar 6a].

Kelas II-A: Tidak ada resesi PR-II-B:

Resesi

jaringan

jaringan marginal pada aspek marginal >3 mm dari CEJ


fasial / lingual [Gambar 3a].
3

[Gambar 6b].

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Kelas II-B: Margin gingiva


pada

aspek

fasial/lingual

terletak apikal dari CEJ tetapi


koronal hingga MGJ dengan
kehadiran

attach

gingival

diantara gingival margin dan


MGJ [Gambar 3b].
Kelas II-C: Margin gingiva
pada aspek fasial / lingual
terletak pada apikal ke MGJ
dengan tidak adanya attach
gingiva antara gingival margin
dan MGJ [Gambar 3c].
Kelas III: Resesi jaringan Kelas III: Ujung papilla PR-III:
marginal meluas hingga atau interdental terletak pada atau
diluar

MGJ.

Ujung

papilla

interdental terletak pada apikal

Kehilangan Apikal hingga level CEJ mid- ke tingkat CEJ mid-palatal:

tulang

interdental

atau bucally

jaringan

lunak

dari Kehilangan

ialah

mid-lingual. PR-III-A:

resesi

jaringan

tulang Marginal 3 mm dari CEJ

apikal ke CEJ, tetapi koronal interproksimal terlihat pada [Gambar 7a].


hingga apikal perluasan dari radiograf:
resesi jaringan marginal.

PR-III-B:

resesi

Kelas III-A: Margin gingiva Marginal > 3 mm dari CEJ


pada aspek fasial / lingual [Gambar 7b].
terletak apikal ke CEJ tapi
koronal hingga MGJ dengan
attached gingiva hadir antara
gingiva marginal dan MGJ
[Gambar 4a].
Kelas III-B: Margin gingiva
pada

aspek

fasial/lingual

terletak pada apikal ke MGJ


dengan tidak adanya attached
4

jaringan

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

gingiva

antara

gingiva

marginal dan MGJ [Gambar


4b]
Kelas IV : Resesi jaringan
marginal meluas hingga atau
diluar

MGJ.

Kehilangan

tulang

interdental

meluas

hingga level apikal hingga


perluasan dari resesi jaringan
marginal.
MGJ Mucogingival junction; CEJ Cemento-enamel junction; PR Palatal recession
BATASAN
Klasifikasi Miller menggunakan kriteria diagnosis dan prognosis untuk klasifikasi

[12]

.Meskipun

klasifikasi Miller telah digunakan secara luas, ada keterbatasan yang perlu diperhatikan:
1. Titik acuan untuk klasifikasi adalah MGJ.

[12]

Kesulitan dalam mengidentifikasi MGJ

menciptakan kesulitan dalam mennentukan klasifikasi antara Kelas I dan II.

[12]

Tidak

disebutkan kehadiran jaringan berkeratin. Sejumlah tertentu gingival berkeratin (dalam


bentuk free gingival) akan menjadi bukti pada gigi yang mengalami resesi gingiv; resesi
jaringan marginal tidak dapat meluas hingga atau di luar MGJ. Pada kasus seperti itu,
kelas II tidak dapat menjadi kelas yang berbeda dan kelas I dan II akan mewakili satu
kelompok. [12]
2. Pada resesi klas III dan IV Miller, kehilangan tulang interdental dan jaringan lunak
merupakan kriteria yang penting untuk mengkategorikan resesi.

Jumlah dan tipe

kehilangan tulang belum ditetapkan. Disebutkan klas III dan IV Miller tidak menejlaskan
dengan persis level dari papilla interdental dan jumlah kehilangan. Gambaran yang jelas
dari keparahan resesi sulit untuk dilihat.
3. Kategori klas III dan IV klasifikasi Miller menyatakan resesi jaringan marginal meluas
hingga atau di luar MGJ dengan kehilangan tulang interdental atau jaringan lunak di
apikal hingga CEJ. Pada kasus, yang memiliki kehilangan tulang inter-proksimal dan
resesi marginal tidak meluas hingga ke MGJ tidak dapat diklasifikasikan baik di klas I
karena tulang inter-proksimal atau pada klas III karena margin gingival tidak meluas
5

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

hingga ke MGJ.[12] Dua kasus tersebut telah ditampilkan pada gambar 1a dan b. kasus ini
menunjukkan tulang interdental / kehilangan jaringan lunak, tetapi resesi facial tidak
meluas atau di luar MGJ. Kasus ini dalam arti sebenarnya tidak dapat diklasifikasikan
sebagai Miller Klas III.
4. Klasifikasi Miller tidak menjelaskan keterlibatan fasial (F) atau lingual (L) dari jaringan
marginal.
5. Resesi dari papilla interdental sendiri tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi
Miller. Ia membutuhkan penggunaan system klasifikasi tambahan.
6. Klasifikasi dari resesi pada aspek palatal merupakan area perhatian yang berbeda.
Kesulitan aplikasi dari kriteria Miller pada aspek palatal dari rahang atas beralasan bahwa
tidak terdapat MGJ pada aspek palatal. Oleh karena itu, klasifikasi dibutuhkan, dimana
tipe spesifik dari resesi dan juga mengukur jumlah kehilangan. Klasifikaasi harus mampu
menyampaikan status resesi gingiva dan tingkat keparahan dari kondisi aspek palatal.
Resesi pada aspek palatal mengubah diagnosis secara keseluruhan dan prognosis kasus.
Perawatan mukogingival dari
7.

estetika.
Klasifikasi Miller

[8]

resesi mungkin diperlukan untuk alasan lain selain

memperkirakan prognosis dari penutupan akar yang mengikuti

prosedur grafting. Miller menyatakan bahwa 100% penutupan akar dapat diantisipasi
pada resesi klas I dan II, penutupan akar parsial pada klas III dan tidak ada penutupan
akar pada klas IV.[8] Pini-Prato menyatakan bahwa antisipasi dari 100% penutupan akar
tidak berarti bahwa hal itu akan terjadi.[12] Persentase penutupan akar berkisar dari 9%
hingga 90% telah dilaporkan oleh penulis lain pada resesi klas I dan II dengan
menggunakan teknik yang berbeda.[12-15] Hasil dari perawatan bisa bergantung pada faktor
prognosis lain dan kategorisasi untuk memprediksi hasil dari penutupan akar pada klas I
dan II ialah tidak tepat.[12]
Selain itu, klasifikasi yang telah diusulkan berdasarkan penilaian dari level perlekatan klinis pada
titi bukan dan interproksimal.[16]
Mengingat keterbatasan di atas, sistem klasifikasi baru diusulkan dengan lebih rinci, informatif
dan jernih. Sistem klasifikasi ini didasarkan pada penggabungan kriteria tertentu dari klasifikasi
Miller

[8]

dengan fitur tertentu dari klasifikasi Nordland dan Tamow. Klasifikasi yang berbeda

dari resesi gingival pada aspek palatal juga telah ditawarkan.

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

KLASIFIKASI RESESI GINGIVA YANG DIUSULKAN


Klasifikasi dapat di aplikasikan untuk permukaan facial dan lingual gigi mandibular. Resesi
papilla interdental juga dapat diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi baru ini. Klas I sesuai
dengan resesi jaringan marginal dengan tidak ada kehilangan tulang interdental atau jaringan
lunak. Klas II dan III setara dengan kehilangan tulang interdental / jaringan lunak dengan / tanpa
resesi jaringan marginal [Tabel 1].

Klas I : Tidak terdapat kehilangan tulang interdental atau jaringan lunak. Sub-klasifikasi
dibagi menjadi dua kategori.
o Klas I-A : Margin gingival pada aspek F/L terdapat pada apikal pada CEJ, tetapa
coronal hingga MGI dengan attached gingival yang ada di gingival margin dan
MGJ [Gambar 2a].
o Klas I-B : Margin gingival pada aspek F/L pada atau apikal ke MGJ dengan
ketidakhadiran attached gingival diantara marginal gingival dan MGJ [Gambar
2b].

Salah satu subdivisi bisa pada aspek F atau L atau keduanya (F dan L):

Kelas II: Ujung papilla interdental terletak di antara titik kontak interdental dan tingkat
CEJ midbuccally / mid-lingual. Kehilangan tulang interproksimal terlihat pada radiografi.
Ini adalah sub-diklasifikasikan ke dalam tiga kategori:
o Kelas II-A: Tidak ada resesi jaringan marginal pada aspek F / L [Gambar 3a]
o Kelas II-B: Margin gingiva pada aspek F / L terletak apikal ke CEJ tetapi koronal
ke MGJ dengan adanya attached gingival diantara marginal gingival dan MGJ
[Gambar 3b].
o Kelas II-C: Margin gingiva pada aspek F / L aspek terletak pada atau apikal ke
MGJ dengan tidak adanya attached gingival antara gingiva marginal dan MGJ
[Gambar 3c].

Salah satu subdivisi bisa pada aspek F atau L atau keduanya `(F dan L).

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Kelas III: Ujung papilla interdental terletak pada atau apikal ke tingkat CEJ mid-bukal /
mid-lingual. Kehilangan tulang interproksimal terlihat pada radiograf. Sub-klasifikasi
dibagi menjadi dua kategori:
o Kelas III-A: Margin gingiva pada aspek F / L terletak apikal ke CEJ, tapi koronal
hingga MGJ dengan adanya attached gingival antara marginal gingiva dan MGJ
[Gambar 4a].
o Klas III-B : gingival margin pada aspek F/L terletak pada atau apikal hingga MGJ
dengan ketidak hadiran attached gingival diantara marginal gingival dan MGJ
[Gambar 4b].
Salah satu subdivisi bisa pada aspek F atau L atau keduanya (F dan L).

MENANDAI PEDOMAN / MARKING GUIDELINES


Jika gigi menunjukkan resesi jaringan marginal hanya pada aspek fasial (F) atau lingual (L), klas
dari resesi harus diikuti dengan huruf F atau L. Ketika gingival margin adalah koronal CEJ,
klinisi harus mendeteksi CEJ melalui eksplorasi taktil dengan ujung probe. Ujung probe
diposisikan pada sudut 45 ke gigi dan bergerak perlahan di bawah margin gingiva untuk
mendeteksi CEJ dengan sensasi sentuhan. Sebagai contoh, jika mandibula gigi insisivus sentralis
menunjukkan resesi hanya jaringan marginal pada aspek fasial tidak meluas ke MGJ dan tidak
ada kehilangan tulang interdental, ini harus diklasifikasikan sebagai Klas I-A (F). Jika resesi
jaringan marginal serupa juga muncul pada aspek lingual pada gigi yang sama, ia harus ditandai
sebagai Klas I-A (F,L). Semakin apikal tingkat dari interdental papilla pada aspek interproksimal
(mesial atau distal) akan menentukan kategori dengan resesi yang akan diklasifikasikan pada
sebuah kasus dimana tingkat yang berbeda dari resesi diamati pada aspek mesial dan distal dari
gigi yang sama. Penggunaan level apikal dari interdental papilla untuk klasifikasi memberikan
ide yang tepat untuk keparahan dari situasi.
Berdasarkan klasifikasi yang baru, gambaran foto pada gambar 1a akan mengklasifikasikannya
sebagai Klas II-B (F) pada insisivius sentralis dan lateral rahang atas kanan.
Klasifikasi Resesi Gingival Palatal

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Posisi dari interdental papilla tetap mengklasifikasikan resesi gingiva pada aspek palatal. Kriteria
dari sub-klasifikasi telah dimodifikasi dan dikompensasi pada ketidakhadiran dari MGJ [Tabel
1].
PR-I sesuai dengan resesi jaringan marginal pada aspek palatal dengan tidak adanya kehilangan
dari tulang interdental atau jaringan lunak.
PR-II dan PR-III sesuai dengan kehilangan dari tulang interdental / jaringan lunak dengan resesi
jaringan marginal pada aspek palatal.
Palatal Recession 1 (Resesi Palatal-1)
Tidak ada kehilangan dari tulang interdental atau jaringan lunak. Sub-klasifikasi ini dibagi
menjadi dua kategori:
PR-I-A : Resesi jaringan marginal 3mm dari CEJ [Gambar 5a].
PR-I-B : Resesi jaringan marginal >3mm dari CEJ [Gambar 5b].
Palatal Recession-II (Resesi Palatal II)
Ujung papilla interdental terletak diantara titik kontak interdental dan level dari CEJ midpalatally. Kehilangan tulang interproksimal dapat dilihat pada radiograf. Sub-klasifikasi ini
dibagi menjadi dua kategori:
PR-II-A : Resesi jaringan marginal 3 mm dari CEJ [Gambar 6a].
PR-II-B : Resesi jaringan marginal > 3 mm dari CEJ [Gambar 6b].
Palatal Recession-III (Resesi Palatal III)
Ujung dari interdental papilla terletak pada atau apikal gingga level dari CEJ mid-palatally.
Kehilangan tulang interproksimal dapat diamati pada radiografi. Sub-klasifikasi ini dibagi
menjadi dua kategori.
PR-III-A : Resesi jaringan marginal 3 mm dari CEJ [Gambar 7a].
PR-III-B : Resesi jaringan marginal > 3 mm dari CEJ [Gambar 7b].
9

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Gambar 1: (a dan b) Gambaran klinis dengan resesi jaringan interdental dan marginal. Resesi
jaringan marginal tidak meluas ke mucogingival junction.

Gambar 2 (a) Representasi skematik dari klas I-A. (b) Representasi skematik dari klas I-B

10

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Gambar 3: (a) Represantasi skematik dari klas II-A. (b) Representasi skematik dari klas II-B. (c)
Representasi skematik dari Klas II-C

11

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

MENANDAI PEDOMAN (MARKING GUIDELINES)


Jika resesi jaringan margina; 4 mm dengan tidak ada kehilangan dari tulang interdental hadir
pada aspek palatal dari insisivus sentralis rahang atas, ditandai sebagai PR-I-B. Jika resesi
jaringan marginal pada aspek fasial dari insisivus sentralis maksilaris disepakati sebagai Klas IA dan aspek palatal disepakati sebagai PR-I-B, setelah itu ditandai sebagai Klas I-A (F) dan PRI-B terhadap gigi tersebut. Semakin ke apikal level dari interdental papilla pada aspek
interproksimal (mesial atau distal) akan menentukan kategori di mana resesi harus
diklasifikasikan pada kasus dengan level berbeda dari resesi diamati pada aspek mesial dan distal
pada gigi yang sama. Penggunaan yang lebih dari level apikal

papilla interdental untuk

klasifikasi memberikan ide yang lebih tepat terhadap keparahan dari situasi tersebut.
Diagram Status Resesi
Grafik yang ditunjukkan pada Tabel 2 dapat digunakan untuk menandai kategori resesi.
Tanda panah di tengah gigi pada papilla yang terlibat dapat menandai papilla.

PEMBAHASAN
Tujuan dari klasifikasi ini adalah untuk menjawab kesalahan yang terjadi pada system klasifikasi
yang biasa digunakan untuk resesi dan termasuk membantu klinisi untuk mengklasifikasikan
kasus tersebut, di mana ia tidak dapat mengkategorikannya pada kelas tertentu dengan beberapa
klasifikasi berulang. Pembatasan dari klasifikasi Miller menghasilkan penggambaran yang cukup
dari kondisi klinis. Gambaran parsial mengacu pada kesalahan diagnosis, prognosis dan rencana
pengobatan.

12

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Gambar 4: (a) Representasi skematik dari klas III-A. (b) Representasi skematik dari Klas III-B.

Gambar 5: (a) Representasi skematik pada resesi palatal (PR I-A). (b) Representasi skematik
dari PR-I-B

Gambar 6: (a) Representasi skematik dari resesi palatal (PR-II-A). (b) Representasi skematik
dari PR-II-B
13

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Gambar 7: (a)Representasi skematik dari resesi palatal (PR-III-A).

(b) Representasi dari

PR-III-B
Kriteria yang disarankan dalam klasifikasi baru membantu untuk mengklasifikasikan sejumlah
besar kasus yang tidak dapat jelas ditempatkan ke kategori yang sesuai dengan sistem klasifikasi
saat ini. Sistem klasifikasi yang diusulkan akan memberikan penggambaran resesi yang lebih
luas. Hanya dengan menyebut kategori akan menjelaskan posisi papilla interdental dan wajah /
lingual / keterlibatan palatal. Kasus-kasus dengan gambaran klinis bervariasi dapat dengan
mudah diklasifikasikan, dan temuan dapat direkam dengan terperinci dengan cara yang tepat.
Kategorisasi resesi ke dalam kelompok tidak dapat memprediksi rencana pengobatan dan jumlah
penutupan akar akhir.
Tabel 3 : Diagram status resesi

Meskipun Artikel landmark Miller tidak hanya menyarankan prognosis, tetapi juga menyatakan
bahwa '' jumlah penutupan akar dapat ditentukan pra-operasi menggunakan probe periodontal. ''[8]
Hipotesis ini merupakan pernyataan oleh Miller yang belum divalidasi.

[12]

Miller berasumsi

dalam klasifikasi, bahwa penutupan akar 100% bisa diantisipasi pada Kelas I dan II hanya
spekulatif dan tidak berarti bahwa penutupan 100% akan terjadi.
14

[12]

Hasil dari berbagai studi

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

untuk Kelas I dan II perawatan resesi memiliki kisaran dari 9% menjadi 90% dari penutupan
akar. [13,14] Prediksi hasil dari penutupan akar di Kelas I dan II tidak benar dan tidak praktis.
Menurut Miller,

[8]

penutupan akar parsial diharapkan dalam resesi Kelas III, meskipun

penutupan akar lengkap telah dicapai di resesi Kelas III .

[17]

Hasil berbagai penelitian, banyak

yang bertentangan dengan asumsi Miller, menunjukkan bahwa kategorisasi dalam kelompok
tertentu tidak bisa menentukan prognosis dan rencana perawatan.
Pini-Prato menyatakan, "Antisipasi prognostik tertentu terhadap jumlah penutupan akar adalah
proses yang kompleks yang harus mempertimbangkan data dari studi yang dapat diandalkan dan
tidak dapat ditarik dari pertimbangan teoritis. "[12] Kesulitan dalam menentukan prognosis dan
rencana perawatan berdasarkan klasifikasi kategori, berasal dari kenyataan bahwa prognosis
tergantung pada banyak faktor selain gambaran klinis dari penyakit ini. Rencana pengobatan dan
jumlah penutupan akar tidak hanya tergantung pada kondisi klinis jaringan, tetapi juga pada
pasien terkait faktor (misalnya, kebiasaan), gigi / titik yang terkait (misalnya, kedalaman resesi,
lebar), dan teknik yang berhubungan (misalnya, ada tidaknya insisi) faktor prognosis.

[12]

Terapi

mukogingiva merupsksn teknik yang sangat sensitif dan ketangkasan dokter bedah juga dapat
mempengaruhi tingkat penutupan akar. [12]
Banyaknya interaksi dan faktor prognostik mempengaruhi persentase keseluruhan penutupan
akar. Klasifikasi didasarkan pada ada / tidaknya gambaran klinis yang spesifik dan tidak dapat
menentukan sendiri jumlah penutupan akar. Keragaman faktor prognostik mencegah antisipasi
dari presentase yang memungkinkan pada penutupan akar pada klasifikasi baru.
Diagnosis periodontal dan pemantauan mengandalkan parameter klinis pada sebagian besar.[18]
Klasifikasi penyakit harus dapat memberikan perbedaan klinis menguntungkan antara kondisi
yang memiliki presentasi klinis yang sebanding. Penerapan klasifikasi yang lebih deskriptif dan
rinci membutuhkan pencatatan parameter tambahan yang mungkin memerlukan waktu
tambahan, tetapi gambaran klinis yang disajikan oleh rincian akan memiliki penafsiran yang
lebih luas dari resesi yang akan lebih bermanfaat dan informatif bagi dokter untuk komunikasi
dan untuk sampai pada diagnosis yang tepat. Waktu tambahan yang dibutuhkan untuk
melaksanakan klasifikasi ini juga akan membantu dalam mengklasifikasikan kasus yang tidak
dapat diklasifikasikan dan memberikan perbedaan klinis menguntungkan.

15

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession

Tujuan dari metode statistik adalah untuk memberikan penjelasan bukti ilmiah.

[19]

Analisis

statistik adalah model matematika berdasarkan pengujian hipotesis dan literature yang
memberikan konfirmasi bahwa kesimpulan yang ditarik oleh penulis tidak dijelaskan dengan
baik.

[20]

Pemodelan data statistik dari penelitian periodontal membutuhkan perhatian khusus

karena beberapa pengukuran yang dilakukan untuk masing-masing subjek. [21] Berbagai metode
statistik untuk analisis data tersebut tersedia.
terbukti berarti dalam penelitian medis.

[21]
[22]

Penggunaan metode statistik canggih telah


Secara komputasi metode intensif telah

dikembangkan untuk efektifitas pemodelan kompleks set data biomedis, eksplorasi data set
untuk menemukan keterkaitan variabel dan pilih model yang sesuai statistik untuk analisis. [22]
Penerapan klasifikasi baru ini selama pemeriksaan, diagnosis, dan komunikasi antara dokter pasti
akan lebih informatif, ekspresif dan akan memiliki nilai lebih klinis dan relevan.
KESIMPULAN
Meskipun, berbagai sistem klasifikasi sedang digunakan dan masing-masing sistem memiliki
keuntungan tersendiri. Tidak ada sistem klasifikasi bisa lengkap dan bertahan selamanya; dengan
waktu dan yang terus-menerus gunakan maka akan disadari kelebihan dan kekurangan masingmasing sistem. Klasifikasi ini merupakan langkah menuju menyempurnakan kelemahan yang
ada klasifikasi saat ini. Sebuah usaha telah dibuat sehingga sistem baru dapat diterapkan pada
lebih banyak jenis kasus untuk memberikan gambaran klinis yang lebih akurat dan rinci.

16

A New Classification System for Gingival and Palatal Recession