Anda di halaman 1dari 12

Asuhan Keperawatan pada Klien

dengan Perdarahan Post Partum / Post


Partum Haemoragic (PPH)
joe blackhole
Add Comment
Senin, 02 Maret 2015

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Perdarahan


Post Partum / Post Partum Haemoragic (PPH)

Disusun Oleh :

Nama

: Jofan Arya Pratama

NIM

: 2011011193

Kelompok : 1 (in partu)


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CENDEKIA UTAMA KUDUS
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perdarahan setelah melahirkan atau post partum hemorrhagic (PPH) adalah
konsekuensi perdarahan berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus
genitalia dan struktur sekitarnya, atau keduanya.
Diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan setiap tahunnya
paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Sebagian
besar kematian tersebut terjadi dalam waktu 4 jam setelah melahirkan. Di Inggris
(2000), separuh kematian ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh perdarahan
post partum.
Di Indonesia, Sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit, sehingga
sering pasien yang bersalin di luar kemudian terjadi perdarahan post partum terlambat
sampai ke rumah sakit, saat datang keadaan umum/hemodinamiknya sudah
memburuk, akibatnya mortalitas tinggi. Menurut Depkes RI, kematian ibu di
Indonesia (2002) adalah 650 ibu tiap 100.000 kelahiran hidup dan 43% dari angka
tersebut disebabkan oleh perdarahan post partum.
Apabila terjadi perdarahan yang berlebihan pasca persalinan harus dicari
etiologi yang spesifik. Atonia uteri, retensio plasenta (termasuk plasenta akreta dan
variannya), sisa plasenta, dan laserasi traktus genitalia merupakan penyebab sebagian
besar perdarahan post partum. Dalam 20 tahun terakhir, plasenta akreta mengalahkan
atonia uteri sebagai penyebab tersering perdarahan post partum yang keparahannya
mengharuskan dilakukan tindakan histerektomi. Laserasi traktus genitalia yang dapat
terjadi sebagai penyebab perdarahan post partum antara lain laserasi perineum,
laserasi vagina, cedera levator ani dan cedera pada serviks uteri.

B.

Tujuan penulisan

1.

Tujuan Umum

2.
a.
b.
c.
d.

Mampu menerapkan asuhan keperawatan klien dengan pendarahan post partum.


Tujuan Khusus
Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada klien pendarahan post partum.
Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada klien
pendarahan post partum.
Dapat membuat perencanaan pada klien pendarahan post partum.
Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan
yang telah dilakukan pada klien pendarahan post partum.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Dasar Penyakit
1.

Definisi
Pendarahan pasca persalinan (post partum) adalah pendarahan pervaginam
500 ml atau lebih sesudah anak lahir. Perdarahan merupakan penyebab kematian
nomor satu (40%-60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Pendarahan pasca
persalinan dapat disebabkan oleh atonia uteri, sisa plasenta, retensio plasenta, inversio
uteri dan laserasi jalan lahir .
Perdarahan postpartum adalah sebab penting kematian ibu; dari kematian
ibu yang disebabkan oleh perdarahan (perdarahan postpartum, plasenta previa,
solution plaentae, kehamilan ektopik, abortus dan ruptura uteri) disebabkan oleh
perdarahan postpartum. Perdarahan postpartum sangat mempengaruhi morbiditas
nifas karena anemia mengurangkan daya tahan tubuh. Perdarahan postpartum
diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :
a. Perdarahan Pasca Persalinan Dini (Early Postpartum Haemorrhage, atau Perdarahan
Postpartum Primer, atau Perdarahan Pasca Persalinan Segera). Perdarahan pasca
persalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pasca
persalinan primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan
lahir dan inversio uteri. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
b. Perdarahan Masa Nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau
Perdarahan Pasca Persalinan Lambat, atau Late PPH). Perdarahan pascapersalinan
sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan pasca persalinan sekunder sering
diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang
tertinggal.
Menurut Wiknjisastro H. (1960) post partum merupakan salah satu dari sebab
utama kematian ibu dalam persalinan, maka harus diperhatikan dalam menolong
persalinan dengan komplikasi perdarahan post partum yaitu :
a. Penghentian perdarahan
b. Jaga jangan sampai timbul syok
c. Penggantian darah yang hilang
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik
maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah bersalin

sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan


sebelum hamil (6 minggu). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate
post partum dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan
Late post partum period (minggu kedua sampai minggu ke enam). Potensial bahaya
yang sering terjadi adalah pada immediate dan early post partum period sedangkan
perubahan secara bertahap kebanyakan terjadi pada late post partum period. Bahaya
yang paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska persalinan atau HPP
(Haemorrhage Post Partum).
Menurut Willams & Wilkins (1988) perdarahan paska persalinan adalah
perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang lebih dari 500 cc segera setelah
bayi lahir. Tetapi menentukan jumlah perdarahan pada saat persalinan sulit karena
bercampurnya darah dengan air ketuban serta rembesan dikain pada alas tidur. POGI,
tahun 2000 mendefinisikan perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang
terjadi pada masa post partum yang menyebabkan perubahan tanda vital seperti klien
mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, dalam pemeriksaan fisik hiperpnea,
sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar Hb < 8 gr %.
2.
Etiologi
Adapun hal-hal yang dapat menyebabkan perdarahan post partum adalah sebagai
berikut :
a. Atonia uteri
Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah
persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh, melebar, lembek dan tidak
mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Akibat dari atonia uteri ini adalah
terjadinya pendarahan. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah
yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas
keseluruhan. Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan
bagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan pendarahan pasca
persalinan. Miometrum lapisan tengah tersusun sebagai anyaman dan ditembus oeh
pembuluh darah. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan sehingga
tiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan. Setelah partus, dengan
adanya susunan otot seperti tersebut diatas, jika otot berkontraksi akan menjepit
pembuluh darah. Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akan
menyebabkan terjadinya pendarahan pasca persalinan.
b. Robekan jalan lahir
Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan
pascapersalinan. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan
pasca persalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh
robekan serviks atau vagina.
c. Retensio plasenta
Keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi
lahir. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta, antara lain :
Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan dan
tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta
pembentukan constriction ring.

Kelainan dari plasenta dan sifat perlekatan placenta pada uterus.


Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari uterus yang tidak
perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak
ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktu dapat menyebabkan serviks
kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan
kontraksi uterus.
d. Inversio uteri
Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau
seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. Uterus dikatakan mengalami inverse jika
bagian dalam menjadi diluar saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya segera
dilakukan dengan berjalannya waktu, lingkaran konstriksi sekitar uterus yang
terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah. Inversio uteri dapat
menyebabkan pendarahan pasca persalinan segera, akan tetapi kasus inversio uteri ini
jarang sekali ditemukan. Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum
uteri, sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. Inversio
uteri terjadi tiba-tiba dalam kala III atau segera setelah plasenta keluar.
Inversio uteri bisa terjadi spontan atau sebagai akibat tindakan. Pada wanita
dengan atonia uteri kenaikan tekanan intraabdominal dengan mendadak karena batuk
atau meneran, dapat menyebabkan masuknya fundus ke dalam kavum uteri yang
merupakan permulaan inversio uteri. Tindakan yang dapat menyebabkan inversio
uteri adalah perasat Crede pada korpus uteri yang tidak berkontraksi baik dan tarikan
pada tali pusat dengan plasenta yang belum lepas dari dinding uterus.
3.

Patofisiologi
Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus
masih terbuka. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum
spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis ditempat insersinya plasenta terbuka.
Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut akan
menutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga
perdarahan akan terhenti. Adanya gangguan retraksi dan kontraksi otot uterus, akan
menghambat penutupan pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan yang banyak.
Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab perdarahan paska persalinan.
Perlukaan yang luas akan menambah perdarahan seperti robekan serviks, vagina dan
perineum.
4.
Pathway
TERLAMPIR
5.

Gejala klinik
Untuk memperkirakan kemungkinan penyebab perdarahan paska persalinan
sehingga pengelolaannya tepat, perlu dibenahi gejala dan tanda sebagai berikut :
a. Uterus tidak berkontraksi dan lembek
b. Perdarahan segera setelah bayi lahir
c. Syok

d. Bekuan darah pada serviks atau pada posisi terlentang akan menghambat aliran darah
keluar
e. Atonia uteri
f. Darah segar mengalir segera setelah anak lahir
g. Uterus berkontraksi dan keras
h. Plasenta lengkap
i. Pucat
j. Lemah
k. Mengigil
l. Robekan jalan lahir
m. Plasenta belum lahir setelah 30 menit
n. Perdarahan segera, uterus berkontraksi dan keras
o. Tali pusat putus
p. Inversio uteri
q. Perdarahan lanjutan
r. Retensio plasenta
s. Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap
t. Perdarahan segera
u. Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus uteri tidak berkurang
v. Tertinggalnya sebagian plasenta
w. Uterus tidak teraba
x. Lumen vagina terisi massa
y. Neurogenik syok, pucat dan limbung
z. Inversio uteri
6.
Komplikasi
Perdarahan postpartum yang tidak ditangani dapat mengakibatkan :
a. Syok hemoragie
Akibat terjadinya perdarahan, ibu akan mengalami syok dan menurunnya
kesadaran akibat banyaknya darah yang keluar. Hal ini menyebabkan gangguan
sirkulasi darah ke seluruh tubuh dan dapat menyebabkan hipovolemia berat. Apabila
hal ini tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka akan menyebabkan kerusakan
atau nekrosis tubulus renal dan selanjutnya merusak bagian korteks renal yang
dipenuhi 90% darah di ginjal. Bila hal ini terus terjadi maka akan menyebabkan ibu
tidak terselamatkan.
b. Anemia
Anemia terjadi akibat banyaknya darah yang keluar dan menyebabkan
perubahan hemostasis dalam darah, juga termasuk hematokrit darah. Anemia dapat
berlanjut menjadi masalah apabila tidak ditangani, yaitu pusing dan tidak bergairah
dan juga akan berdampak juga pada asupan ASI bayi.
c. Sindrom Sheehan
Hal ini terjadi karena, akibat jangka panjang dari perdarahan postpartum
sampai syok. Sindrom ini disebabkan karena hipovolemia yang dapat menyebabkan
nekrosis kelenjar hipofisis. Nekrosis kelenjar hipofisi dapat mempengaruhi sistem
endokrin.

a.
b.
c.
d.
e.

7.
Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan :
Pemeriksaan Laboratorium
Kadar Hb, Ht, Masa perdarahan dan masa pembekuan.
Pemeriksaan USG
Hal ini dilakukan bila perlu untuk menentukan adanya sisa jaringan konsepsi
intrauterine.
Kultur uterus dan vaginal
Menentukan efek samping apakah ada infeksi yang terjadi.
Urinalisis
Memastikan kerusakan kandung kemih.
Profil Koagulasi
Menentukan peningkatan degradasi kadar produk fibrin, penurunan fibrinogen,
aktivasi masa tromboplastin dan masa tromboplastin parsial.

8.
Penatalaksanaan
a.
Pencegahan
Obati anemia dalam masa kehamilan.
Pada pasien yang mempunyai riwayat perdarahan sebelumnya, agar dianjurkan untuk
menjalani persalinan di RS.
Jangan memijat dan mendorong uterus sebelum plasenta lepas.
b. Penanganan
Tentukan CGS atau tingkat kesadaran.
Bila syok dan koma maka kolaborasikan terapi intravena berupa cairan pengganti atau
tranfusi darah.
Kontrol perdarahan dengan pemberian O2 3lt/menit.
c. Penatalaksanaan secara umum saat terjadinya perdarahan
Hentikan perdarahan.
Cegah terjadinya syok.
Ganti darah yang hilang.
d. Penatalaksanaan khusus:
Tahap I (perdarahan yang tidak terlalu banyak) : Berikan uterotonika, urut / massage
pada rahim, pasang gurita.
Tahap II (perdarahan lebih banyak) : Lakukan penggantian cairan (transfusi atau
infus), prasat atau manuver (Zangemeister, frits), kompresi bimanual, kompresi aorta,
tamponade uterovaginal, menjepit arteri uterina.
Bila semua tindakan di atas tidak menolong : Ligasi arteria hipogastrika,
histerekstomi.

B.
a.
b.
c.

d.
e.

Konsep Asuhan Keperawatan

1.
Pengkajian
Identitas : Sering terjadi pada ibu usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun.
Keluhan utama : Perdarahan dari jalan lahir, badan lemah, limbung, keluar keringat
dingin, kesulitan nafas, pusing, pandangan berkunang-kunang.
Riwayat kehamilan dan persalinan : Riwayat hipertensi dalam kehamilan, preeklamsi
/ eklamsia, bayi besar, gamelli, hidroamnion, grandmulti gravida, primimuda, anemia,
perdarahan saat hamil. Persalinan dengan tindakan, robekan jalan lahir, partus
precipitatus, partus lama / kasep, chorioamnionitis, induksi persalinan, manipulasi
kala II dan III.
Riwayat kesehatan : Kelainan darah dan hipertensi
Pengkajian fisik :
Tanda vital :
Tekanan darah : Normal / turun (110/70-120/80 mmHg)
Nadi : Normal / meningkat (60-100x/menit)
Pernafasan : Normal / meningkat (16-24x/menit)
Suhu : Normal / meningkat (36-37,50 C)
Kesadaran : Normal / turun
Fundus uteri / abdomen : lembek / keras, subinvolusi
Kulit : Dingin, berkeringat, kering, hangat, pucat, capilary refill time memanjang
Pervaginam : Keluar darah, robekan, lochea (jumlah dan jenis)
Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun / berkurang.

2.
Diagnosa Keperawatan
a) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b/d penurunan jumlah haemoglobin dalam
darah, perdarahan pasca persalinan.
b) Resiko syok hipovolemik b/d perdarahan aktif pasca persalinan, berkurangnya
jumlah cairan intravaskuler.
c) Nyeri akut b/d terputusnya kontinuitas jaringan, luka pasca operasi.
d) Resiko infeksi b/d porte de entre, luka pasca operasi.
3.
Intervensi Keperawatan
a) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b/d penurunan jumlah haemoglobin dalam
darah, perdarahan pasca persalinan.
NOC : perfusi jaringan adekuat / efektif
NIC :
Monitor keadaan umum, dan TTV
Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul
Monitor adanya paretese.
Monitor adanya tanda-tanda hipoksia.
Batasi aktivitas / anjurkan untuk bedrest.
Berikan cairan parenteral : infuse.
Kolaborasi pemberian obat sesuai advis.

b) Resiko syok hipovolemik b/d perdarahan aktif pasca persalinan, berkurangnya


jumlah cairan intravaskuler.
NOC : tidak terjadi syok
NIC :
Monitor keadaan umum, dan TTV
Monitor tanda-tanda awal syok.
Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan.
Monitor nilai input dan output (balance cairan).
Monitor adanya tanda-tanda hipoksia.
Pantau nilai laborat : Hb. Ht, AGD, elektrolit.
Pertahankan kepatenan jalan napas.
Batasi aktivitas / anjurkan untuk bedrest.
Berikan cairan parenteral : infuse.
Kolaborasi pemberian obat sesuai advis.
c) Nyeri akut b/d terputusnya kontinuitas jaringan, luka pasca operasi.
NOC : nyeri berkurang / hilang
NIC :
Lakukan pengkajian nyeri dengan PQRST.
Monitor keadaan umum, dan TTV.
Monitor skala nyeri.
Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
Kolaborasi pemberian obat analgetik sesuai advis.
d) Resiko infeksi b/d porte de entre, luka pasca operasi.
NOC : tidak terjadi infeksi
NIC :
Monitor keadaan umum, dan TTV
Pantau tanda-tanda infeksi.
Lakukan hecting luka.
Melakukan perawatan luka (ganti balut).
Lakukan tindakan dengan prosedur aseptic.
Gunakan alat pelindung diri (APD).
Batasi pengunjung yang datang.
Kolaborasi pemberian antibiotic sesuai advis.
4.

Pelaksanaan
Penanganan perdarahan pasca persalinan pada prinsipnya adalah hentikan
perdarahan, cegah/atasi syok, ganti darah yang hilang dengan diberi infus cairan
(larutan garam fisiologis, plasma ekspander, Dextran-L, dan sebagainya), transfusi
darah, kalau perlu oksigen. Walaupun demikian, terapi terbaik adalah pencegahan.
Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus kasus yang disangka
akan terjadi perdarahan adalah penting. Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan
sewaktu bersalin, namun sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan "antenatal
care" yang baik. Ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan post
partum sangat dianjurkan untuk bersalin di Rumah Sakit. Di Rumah Sakit, diperiksa

kadar fisik, keadaan umum, kadar Hb, golongan darah, dan bila mungkin tersedia
donor darah. Sambil mengawasi persalianan, dipersiapkan keperluan untuk infus dan
obat-obatan penguat rahim.
Anemia dalam kehamilan, harus diobati karena perdarahan dalam batas batas
normal dapat membahayakan penderita yang sudah menderita anemia. Apabila
sebelumnya penderita sudah pernah mengalami perdarahan post partum, persalinan
harus berlangsung di rumah sakit. Kadar fibrinogen perlu diperiksa pada perdarahan
banyak, kematian janin dalam uterus, dan solutio plasenta.
Dalam kala III, uterus jangan dipijat dan didorong kebawah sebelum plasenta
lepas dari dindingnya. Penggunaan oksitosin sangat penting untuk mencegah
perdarahan pascapersalinan. Sepuluh satuan oksitosin diberikan intramuskular segera
setelah anak lahir untuk mempercepat pelepasan plasenta. Sesudah plasenta lahir,
hendaknya diberikan 0,2 mg ergometrin, intramuskular. Kadang-kadang pemberian
ergometrin setelah bahu depan bayi lahir pada presentasi kepala menyebabkan
plasenta terlepas segera setelah bayi seluruhnya lahir; dengan tekanan pada fundus
uteri, plasenta dapat dikeluarkan dengan segera tanpa banyak perdarahan. Namun
salah satu kerugian dari pemberian ergometrin setelah bahu bayi lahir adalah
terjadinya jepitan (trapping) terhadap bayi kedua pada persalinan gameli yang tidak
diketahui sebelumnya.
Pada perdarahan yang timbul setelah anak lahir, ada dua hal yang harus segera
dilakukan, yaitu menghentikan perdarahan secepat mungkin dan mengatasi akibat
perdarahan. Tetapi apabila plasenta sudah lahir, perlu ditentukan apakah disini
dihadapi perdarahan karena atonia uteri atau karena perlukaan jalan lahir. Pada
perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri, dengan segera dilakukan massage
uterus dan suntikan 0,2 mg ergometrin intravena.
5.
Evaluasi
Semua tindakan yang dilakukan diharapkan memberikan hasil :
a. Tanda vital dalam batas normal :
Tekanan darah : 110/70-120/80 mmHg
Denyut nadi : 60-100 x/menit
Pernafasan : 16-24 x/menit
Suhu : 36-37,50 C
b. Kadar Hb : 12-16 gr%.
c. Gas darah dalam batas normal.
d. Klien dan keluarganya mengekspresikan bahwa dia mengerti tentang komplikasi dan
pengobatan yang dilakukan.
e. Klien dan keluarganya menunjukkan kemampuannya dalam mengungkapkan
perasaan psikologis dan emosinya.
f. Klien dapat melakukan aktifitasnya sehari-hari.
g. Klien tidak merasa nyeri.
h. Klien dapat mengungkapkan secara verbal perasaan cemasnya.
6.

Penkes

Cara yang terbaik untuk mencegah terjadinya Perdarahan Post Partum adalah
memimpin kala II dan kala III persalinan secara legeartis. Apabila persalinan diawasi
oleh dokter spesialis obstetric-ginekologi ada yang menganjurkan untuk memberikan
suntikan ergometrik secara IV setelah anak lahir, dengan tujuan untuk mengurangi
perdarahan yang terjadi.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik
maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah bersalin
sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan
sebelum hamil (6 minggu). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate
post partum dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan
Late post partum period (minggu kedua sampai minggu ke enam). Potensial bahaya
yang sering terjadi adalah pada immediate dan early post partum period sedangkan
perubahan secara bertahap kebanyakan terjadi pada late post partum period. Bahaya
yang paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska persalinan atau HPP
(Haemorrhage Post Partum).
B. Saran
Diharapkan askep ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam
memberikan pelayanan keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dan untuk para tim medis agar dapat meningkatkan pelayanan kesehatan
khususnya dalam bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk
memberikan health education dalam perawatan perdarahan postpartum.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart,s (1996), Textbook of Medical Surgical Nursing 2, JB. Lippincot
Company, Philadelpia.
Klein. S (1997), A Book Midwives; The Hesperien Foundation, Berkeley, CA.
Lowdermilk. Perry. Bobak (1995), Maternity Nuring , Fifth Edition, Mosby Year Book,
Philadelpia.
Prawirohardjo Sarwono ; EdiWiknjosastro H (1997), Ilmu Kandungan, Gramedia, Jakarta.
RSUD Dr. Soetomo (2001), Perawatan Kegawat daruratan Pada Ibu Hamil, FK. UNAIR,
Surabaya
Subowo (1993), Imunologi Klinik, Angkasa, Bandung.

Tabrani Rab 9 1998), Agenda Gawat Darurat, Alumni, Bandung

Anda mungkin juga menyukai