Anda di halaman 1dari 5

RESORPSI RESIDUAL RIDGE: SEBUAH ULASAN

PENDAHULUAN
Residual ridge adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bentuk klinis
alveolar ridge setelah penyembuhan tulang dan jaringan lunak setelah pencabutan
gigi. Setelah ekstraksi gigi, kaskade reaksi inflamasi segera diaktifasi, dan soket
ekstraksi sementara disegel oleh pembekuan darah. Jaringan epitel memulai
proliferasinya dan migrasi dalam minggu pertama dan integritas jaringan yang
terganggu dipulihkan dengan cepat. Bukti histologis pembentukan tulang aktif di
bagian bawah soket terlihat pada 2 minggu awal setelah ekstraksi dan soket terisi
dengan cepat oleh tulang yang baru terbentuk sekitar 6 bulan. Fitur yang paling
mencolok dari penyembuhan luka ekstraksi ialah bahwa bahkan setelah
penyembuhan luka, ridge residual tulang alveolar mengalami remodeling katabolik
seumur hidup.
Ukuran residual ridge berkurang paling cepat dalam enam bulan pertama, tetapi
aktivitas resorpsi tulang dari residual ridge berlanjut selama hidup pada tingkat
yang lebih lambat, menghasilkan penghapusan struktur rahang dalam ukuran yang
besar. Fenomena yang unik ini telah dideskripsikan sebagai reduksi residual ridge.
Rerata dari RRR berbeda diantara satu orang dan yang lainnya dab bahkan pada
waktu dan titik yang berbeda pada orang yang sama. Remodeling dari residual
ridge mempengaruhi fungsi dari portesa lepasan, yang sangat berhantung pada
kuantitas dan arsitektur tulang rahang. oleh karena itu perawatan dari pasien
edentulous membutuhkan fase pemeliharaan yang harus dilakukan pasien selama
masa hidupnya. Biaya dalam ekonomi dan kehidupan manusia membuat RRR
sebagai penyakit mulut utama.1
KONSEKUENSI RRR
Ada kehilangan yang jelas dari lebar dan kedalaman sulkus. Perlekatan otot
bergeser lebih dekat dari residual ridge. Karena kehilangan DVO ketinggian wajah
bawah berkurang dan mandibula berotasi ke anterior. Pasien bisa mengembangkan
tampilan kebiasaan prognatik. Hubungan ridge inter-alveolar berubah. Perubahan
morfologis pada residual ridge bisa saja tampak tajam, berduri, residual ridge yang
menonjol. Resorpsi dari dinding kanal mandibula dan eksposur dari saraf
mandibular. Lokasi dari foramen mentale dekat dari puncak residual ridge
mandibula. Hal ini membuktikan masalah serius dari klinis untuk membentuk
dukungan yang adekuat, stabilitas dan retensi dari gigitiruan. 1

PATHOLOGI dari RRR


Gross Pathology : Ekspresi awam umumnya untuk RRR adalah "Gusi saya telah
menyusut". Sebenarnya perubahan mendasar dalam RRR adalah pengurangan ukuran
tonjolan tulang di bawah mucoperiosteum. Hal ini terutama struktur tulang terlokalisir.
Terkadang bisa meninggalkan mukoperiosteum berlebih diatasnya. Ada berbagai
macam bentuk dan ukuran dari residual ridge. Mereka dikategorikan ke dalam
konfigurasi residual ridge umumpada system enam tahap yang diberikan oleh Atwood. 2

Tahap I Pre-ekstraksi
Tahap II Post-ekstraksi
Tahap III Tinggi, bulat
Tahap IV Knife-edge
Tahap V Rendah, bulat.
Tahap VI - Tertekan
RRR tidak menghentikan residual ridge, namun mungkin berjalan dengan baik di area
bawah apeks gigi, kadang-kadang hanya menyisakan lempeng kortikal tipis di inferior
border mandibula atau hampir tidak ada prosesus alveolar rahang rahang atas.
Dalam pemeriksaan klinis biasanya dapat dinilai bentuk sisa ridge. Namun, terkadang
knife edge ridge bisa diselubungi jaringan lunak berlebih atau terinflamasi.
Patologi Mikroskopik : Penelitian mikroskopik telah mengungkapkan aktivitas
osteoklastik pada permukaan eksternal dari crest residual ridges. Margin berbentuk
scallop dari Howships lacunae terkadang mengandung visible osteoklas yang
menyebabkan resorpsi tulang. Terdapat berbagai variasi pada konfigurasinya, kadangkadang disertai dengan bukti osteoporosis. Penelitian menunjukkan adanya kehadiran
tulang baru dan garis reversal du dalam residual ridge dan area minute dari perbaikan
tulang pada sisi periosteal di beberapa specimen. Mukoperiosteum menunjukkan
derajat yang berbeda dari keratinisasi, akantosis, edema dan pola arsitektural pada
mukosa epitelium pada mulut yang sama di antara subjek. Hampir serupa, derajat yang
berbeda dari sel inflamatori ditemukan pada area yang muncul pasien edentuluous
yang secara klinis normal hingga yang jelas terinflamasi atau pada pengguna gigi tiruan
dan non-pengguna gigitiruan. Sel inflamatori termasuk limfosit dan sel plasma. Ada
kedekatan dari pembuluh darah kecil terhadap area resorpsi tulang.2

Pathogenesis RRR
Segera setelah ekstraksi (tahap II), semua sisi tajam yang rersisa di bundarkan oleh
resorpsi eksternal osteoklas, meninggalkan residual yang bulat baik (tahap III).
Resorpsi berlanjut dari aspek labial dan lingual, crest dari ridges menjadi semakin
sempit hingga berbentuk knife-edged (tahap IV). Seiring dengan proses berlanjut, knifeedge menjadi semakin pendek dan bahkan akhirnya menghilang, meninggalkan ridge
yang datar dengan bulat rendah (tahap V). Bahkan, ridge ini juga terserobsi,
meninggalkan ridge yang tertekan (tahap VI).
RRR kronis, progresif, ireversibel dan kumulatif. Biasanya, proses RRR berlangsung
perlahan lebih dari satu periode waktu, dari satu tahap tanpa disadari ke tahap lainnya.
Pertumbuhan otonom kembali belum pernah dilaporkan. Peningkatan kehilangan tulang
setiap tahunnya memiliki efek kumulatif, meninggalkan semakin sedikti residual ridge.3
Tallgren 4 telah menunjukkan grafik yang menarik dari tingkat rerata RRR dari pasien
yang di teliti pada periode waktu post esktraksi yang bervariasi selama lebih dari 25

periode. Pada penelitian yang terpisah di bagian dunia yang berbeda, Tallgren, Atwood
dan Coy menemukan bahwa rasio rata-rata dari RRR anterior rahang atas terhadap
RRR anterior rahang bawah ialah 1:4. Oleh karena itu, benar bahwa, rata-rata, RRR
lebih besar lebih besar pada rahang bawah dibanding pada rahang atas, sebaliknya
mungkin benar pada setiap pasien yang datang untuk pengobatan. Salah satu harus
merawat pasien khusus, bukan pasien rata-rata.

Etiologi RRR :
RRR terjadi multifactorial, penyakit biomekanikal yang dihasilkan dari kombinasi
determinan anatomis, metabolic, dan mekanikal. Mengingat bahwa semua factor ini
bervariasi dari satu pasien ke yang lainnya, ko-faktor yang berbeda ini bisa
berkombinasi dalam berbagai cara yang tidak terbatas, sehingga menjelaskan variasi
dari RRR diantara pasien.1

Faktor Anatomis :
Faktor Anatomis RRR
Jumlah tulang dan kualitas tulang.

Jumlah tulang : Hal ini bukan merupakan factor prognostic yang baik untuk rerata RRR,
karena telah terlihat beberapa linggir besar teresorbsi dengan cepat dan beberapa
knife edge ridges masih tersisa dengan perubahan kecil untuk periode waktu yang
lama. Meskipun ridge yang luas memiliki potensi kehilangan tulang yang lebih besar,
rerata kehilangan tulang vertical bisa lebih lambat dibandingkan ridge yang kecil karena
lebih banyak tulang yang tersorbsia per unit waktu dan juga rerata resorpsi juga
bergantung pada kepadatan tulang.
Kualitas tulang : Pada dasar teoritik, kepadatan tulang, semakin rendah rerata resorpsi
sebab lebih banyak tulang yang teresorbsi per unit waktu.5
Faktor metabolic :
Faktor resorbsi tulang RRR.
Faktor pembentukan tulang RRR.

Metabolisme seluruh tubuh merupakan sejumlah jejaring terhadap seluruh


pembentukan (anabolisme) dan penghancuran (katabolisme) yang terjadi di dalam
tubuh, pada equilibrium dua aksi antagonis (dari osteoblast dan osteoklas) dalam
keadaan seimbang. Pada pertumbuhan, meskipun resorpsi secara konstan mengambil

peran dalam remodeling tulang seiring dengan pertumbuhannya, peningkatan aktivitas


osteoblastik lebih dari membuat kerusakan tulang. Dimana pada osteoporosis,
osteoblast
hipoaktif,
dan,
pada
resorpsi
yang
berhubungan
dengan
hyperparathyroidsme, peningkatan aktifitas osteoblastik tidak dapat terjaga dengan
peningkatan aktivitas osteoklastik. Equilibrium normal dapat terganggu dan kehilangan
tulang patologis bisa terjadi dengan peningkatan resorpsi tulang atau pembentukan
tulang yang berkurang, atau keduanya terjadi. Mengingat metabolism tulang
bergantung pada metabolisme sel, semua yang mempengaruhi metabolism sel dari
osteoblast dan osteoklas penting.

Hormon tiroid mempengaruhi laju metabolism sel secara umum dan oleh karena
itu aktivitas keduanya, osteoblast dan osteoklas.
Hormon paratiroid mempengaruhi ekskresi fosfor dalam ginjal dan juga secara
langsung mempengaruhi osteoklas.
Tingkat penyerapan Ca, P dan protein menentukan jumlah blok pembentukan
yang tersedia untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang.
Vit C membantu dalam pembentukan matriks tulang.
Vit D bertindak melalui pengaruhnya terhadap tingkat penyerapan kalsium di
usus dan pada kandungan asam sitrat tulang.
Berbagai vitamin B kompleks diperlukan untuk metabolism sel tulang.

Dalam bentuk umum, anabolisme melebihi katabolisme selama pertumbuhan dan


pemulihan, tingkat tidak aktif selama kebanyakan masa dewasa dan terlampau pada
katabolisme selama sakit atau usia tua. Tulang memiliki metabolisme spesifik sendiri
dan mengalami perubahan sama. Tidak pernah ada waktu selama hidup tulang berada
dalam keadaan statis, melainkan terus melakukan pembentukan kembali, resorbsi dan
remodeling terhadap tekanan fungsional dan metabolik.
Osteoporosis dan Modeling Residual Ridge
Pandangan klinis dan pathophysicologic osteoporosis telah disempurnakan baru-baru
ini dengan konsep Tipe I dan II osteoporosis.
Tipe I osteoporosis didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu kekurangan estrogen
menopause, dan ciri khasnya menunjukkan hilangnya massa tulang, terutama pada
tulang trabekular.
Tipe II osteoporosis mencerminkan gabungan dari usia terkait dengan perubahan di
dalam usus, fungsi ginjal dan hormonal. Baik tulang kortikal dan trabecular terpengaruh
pada Type II osteoporosis.

Faktor Fungsional
Faktor fungsional meliputi frekuensi, intensitas, durasi dan arah gaya yang bekerja pada
tulang yang diterjemahkan ke dalam aktivitas selular, sehingga baik pembentukan

tulang atau resorpsi tulang, tergantung pada ketahanan individu pasien terhadap
kekuatan-kekuatan ini.
Ketika kekuatan dalam batas fisiologis tertentu diterapkan pada tulang hidup, kekuatan
tersebut, baik tekan, tarik geser, membawa beberapa mekanisme yang tidak diketahui
pada remodeling tulang melalui kombinasi resorpsi tulang dan pembentukan tulang.
Kekuatan mastikatori dan non-matiscatory ini biasanya ditransmisikan ke tulang dentoalveolar melalui ligamen periodontal. Setelah gigi diangkat, residual ridge akan terkena
jenis gaya yang berbeda. Beberapa postulat bahwa RRR adalah atrofi disuse tak
terelakkan ". Lainnya mendalilkan bahwa RRR adalah "penyalahgunaan" resorpsi
tulang karena tekanan berlebihan yang ditransmisikan melalui gigitiruanKemungkinan
kebenarannya ada pada kedua hipotesis.1

Faktor Prostetik
Resorpsi ridge mungkin atau mungkin tidak terjadi pada pasien yang tidak
menggunakan gigitiruan. Jika resorpsi terjadi, hal itu disebabkan baik disuse atrophy
atau Lammie suggests, mukosa atrophy yang ditunjukkan berkurang, sehingga
menyebabkan resorpsi tekanan dari linggir. Jika resorpsi tidak terjadi, hal ini disebabkan
baik pasien yang mampu melakukan gum makanan karena spasi inter-ridge atau
factor yang tidak diketahui. Faktor prostetik sangat sulit untuk di evaluasi karena jumlah
variable yang luar biasa, termasuk anatomi, metabolisme dan faktor fungsional. Desain
tradisional gigi tiruan mencakup banyak fitur yang tujuannya adalah untuk mengurangi
jumlah kekuatan untuk ridge dan dengan demikian mengurangi RRR.7 Faktor prostetik
ini termasuk