Anda di halaman 1dari 6

1.

Pengertian Agency Theory


Agency theory (teori keagenan) merupakan mengasumsikan bahwa semua individu
bertindak untuk kepentingannya sendiri. Pemegang saham sebagai diasumsikan hanya
bertindak terhadap hasil keuangan perusahaan sebagai peningkat investasi, sedangkan agen
diasumsikan sebagai penerima kepuasan yang berupa kompensasi keuangan beserta syaratsyaratnya.
Pengertian agency theory menurut para ahli. Watts & Zimmerman, (1990) menyatakan
laporan keuangan sebagai angka-angka akuntansi yang diharapkan dapat meminimalkan
konflik diantara pihak-pihak yang berkepentingan. Manajemen laba pada akuisisi dapat
ditelusuri dari pengembangan agency theory yang mencoba menjelaskan bagaimana pihakpihak yang terlibat dalam perusahaan akan bersikap karena pada dasarnya mereka memiliki
kepentingan yang berbeda-beda.
Menurut Anthony dan Govindrajan (2005) teori agensi merupakan suatu hubungan atau
kontrak antara principal dan agent. Teori agensi diasumsikan kepentingan dari tiap-tiap
individu sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.

2. Konsep Teori Keagenan


Konsep agency theory sendiri merupakan suatu hubungan antara principal sebagai
pemilik atau pemegang saham dengan manajemen yang bertindak sebagai agen. Principal
merupakan pihak yang memberikan mandat kepada agen untuk bertindak atas nama principal,
sedangkan agen merupakan pihak yang diberi amanat oleh principal untuk menjalankan
perusahaan. Pengaplikasian agency theory dapat terwujud dalam sebuah kontrak kerja yang
mengatur

proporsi

hak

dan

kewajiban

dari

masing-masing

pihak

dengan

tetap

memperhitungkan manfaatan secara keseluruhan. Kontrak kerja merupakan seperangkat aturan


yang mengatur mekanisme bagi hasil, baik berupa keuntungan, return maupun resiko-resiko
yang telah disetujui oleh prinsipal dan agen. Kontrak kerja menjadi optimal apabila dalam
pelaksanaan kontrak dapat fairness (mencapai keadilan) antara principal dan agen yang
memperlihatkan pelaksanaan kewajiban yang optimal oleh agen dan pemberian insentif
imbalan khusus yang memuaskan dari principal ke agen.

Eisenhard (1989), menyatakan bahwa teori keagenan dilandasi oleh 3 asumsi yaitu:
a. Asumsi tentang sifat manusia. Asumsi tentang manusia yang memiliki sifat
mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded
rationality), dan tidak menyukai resiko (risk aversion).
b. Asumsi tentang keorganisasian. Asumsi tentang adanya konflik antar anggota
organisasi, efisiensi sebagai kriteria produktivitas, serta adanya Asymmetric Information
(AI) antara prinsipal dengan agen.
c. Asumsi tentang informasi. Asumsi tentang informasi yang dipandang sebagai barang
komoditi yang dapat diperjualbelikan.
Baik prinsipal maupun agen, keduanya mempunyai bargaining position. Principal
sebagai pemilik modal memiliki hak atas akses terhadap informasi internal perusahaan,
sedangkan agen yang bertugas menjalankan operasional perusahaan memiliki informasi
terhadap kegiatan operasi dan kinerja perusahaan secara riil dan menyeluruh, namun agen tidak
memiliki wewenang mutlak dalam pengambilan keputusan dikarenakan pengambilan
keputusan merupakan wewenang dari principal selaku pemilik perusahaan.

3. Agency theory dalam Praktik Akuntansi dan Aplikasinya pada Pengelolaan Perusahaan
Teori keagenan berperanan penting terhadap akuntansi dalam menyediakan informasi
setelah terjadinya suatu kejadian yang disebut sebagai peranan pasca keputusan. Peranan
tersebut seringkali diasosiasikan dengan peran pengurusan (stewardship) akuntansi, dimana
seorang agen melaporkan kejadian-kejadian di masa lalu kepada prinsipal. Hal tersebut akan
memberikan akuntansi nilai umpan balik selain nilai prediktifnya.
Dalam memotivasi agen prinsipal perlu merancang suatu kontrak sehingga dapat
mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak keagenan. Kontrak
dikatakan efisien apabila memenuhi faktor berikut :
a. Agen dan pinsipal memiliki informasi dengan kualitas dan jumlah yang sama sehingga
tidak terdapat informasi tersembunyi yang dapat digunakan untuk kepentingan pribadi.
b. Risiko yang dipikul agen berkaitan dengan imbal jasanya kecil, artinya agen
mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan yang diterimanya.
Namun pada kenyataannya informasi simetris itu tidak pernah terjadi, karena manajer
berada di dalam perusahaan sehingga manajer mempunyai banyak informasi mengenai
perusahaan, sedangkan prinsipal sangat jarang atau bahkan tidak pernah datang ke perusahaan
sehingga informasi yang diperoleh sangat sedikit. Akibatnya kontrak efisien tersebut tidak
2

pernah terlaksana sehingga hubungan agen dan prinsipal selalu dilandasi oleh asimetri
informasi.
3.1 Konflik antara pemegang saham dengan kreditur
Pihak kreditur memiliki klaim atas sebagian dari arus kas perusahaan yang berkaitan
dengan pembayaran bunga dan pokok utang. Klaim atas aset perusahaan terjadi ketika
perusahaan mengalami kebangkrutan. Ketika hal ini terjadi, perusahaan harus segera
mengambil keputusan apakah akan melikuidasi perusahaan dengan menjual seluruh aset atau
melakukan reorganisasi dengan tujuan mempertahankan pekerjaannya. Keputusan yang dambil
manajer akan berdampak terhadap pemegang saham atau kreditur atau kedua belah pihak.
Kreditur pada umumnya menghendaki likuidasi perusahaan sehingga mereka dapat segera
menarik dananya. Dilain sisi, manajemen tentunya menginginkan perusahaan tetap eksis
sehingga memilih mereorganisasi perusahaan. Namun pada saat bersamaan, pemegang saham
kemungkinan mencoba mencari pengganti manajer lama yang mau dibayar lebih rendah
meskipun proses tersebut membutuhkan waktu yang lama.
3.2 Konflik antara pemegang saham dengan pihak manajemen
Konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen dapat terjadi karena adanya kelebihan
aliran kas (excess cash flow). Kelebihan arus kas tersebut cenderung diinvestasikan untuk halhal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan utama perusahaan. Hal ini menyebabkan
terjadinya perbedaan kepentingan karena pemegang saham lebih menyukai investasi yang
berisiko tinggi yang juga menghasilkan return tinggi, sementara manajemen lebih memilih
investasi dengan risiko yang lebih rendah.
Agency theory menunjukkan manajer akan berusaha untuk memaksimalkan utilitasnya
dengan mengorbankan para pemegang saham perusahaan. Agen memiliki kemampuan untuk
beroperasi sendiri dan mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan perusahaan.
Hal ini disebabkan oleh informasi yang bersifat asimetris.

4. Masalah Keagenan
Menurut Lins (2003) permasalahan keagenan yang terjadi antara pemegang saham
dengan manajer akan menimbulkan biaya keagenan ekuitas. Menurut Jesen dan Meckling
(1976) terdapat tiga macam biaya keagenan, yaitu monitoring oleh prinsipal, biaya bonding
oleh agen, dan residual loss. Biaya monitoring yang dikeluarkan oleh prinsipal bertujuan untuk
membatasi aktivitas agen yang berbeda dengan kepentingan prinsipal, selain itu agen juga akan
mengeluarkan sumber daya (bonding cost) untuk memberikan kepastian pada prinsipan bahwa
3

agen tidak akan melakukan tindakan yang akan merugikan investor. Masalah keagenan
potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas saham perusahaan kurang dari seratus
persen (Masdupi, 2005). Dengan proporsi kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan
membuat manajer cenderung bertindak untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk
memaksimumkan perusahaan, sehingga nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency
cost). Hampir mustahil sebuah perusahaan memiliki zero agency cost yang dapat menjamin
manajer dalam mengambil keputusan yang optimal dari pandangan shareholders akibat adanya
perbedaan kepentingan diantara mereka. Terkadang untuk mencapai kepentingannya,
manajemen dapat bertindak menggunakan akuntansi sebagai alat untuk melakukan rekayasa.
Perbedaan kepentingan diantara principal dan agen atau yang sering disebut Agency Problem,
salah satunya disebabkan oleh adanya Asimmetric Information.
Menurut Jensen dan Meckling (1976) masalahan keagenan dibagi menjadi :
a. Moral Hazard yaitu permasalahan yang muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal
yang telah disepakati bersama dalam kontrak kerja.
b. Adverse Selection yaitu keadaan dimana principal tidak dapat mengetahui apakah
keputusan yang diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas informasi yang telah
diperolehnya atau dari kelalaian tugas.
Jensen dan Meckling (1976) menambahakan pendapatnya mengenai :
a. The monitoring expenditures by the principle merupakan biaya monitoring yang
dikeluarkan oleh prinsipal untuk memonitor prilaku agen melalui budget restriction,
compensation policies.
b. The bonding expenditures by the agent dikeluarkan oleh agen untuk menjamin bahwa
agen tidak akan menggunakan tindakan tertentu yang akan merugikan prinsipal atau
untuk menjamin bahwa prinsipal akan diberi kompensasi jika ia tidak mengambil
banyak tindakan.
c. The residual loss merupakan penurunan tingkat kesejahteraan prinsipal maupun agen
setelah adanya agency relationship.

5. Cara Untuk Mengatasi Masalah Keagenan


Pada suatu keadaan yang ekstrim, manajer perusahaan dapat bertindak sepenuhnya
berdasarkan perubahan harga saham sehingga mengakibatkan biaya agen amenjadi rendah
karena manajer memiliki insentif besar untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham,
4

dalam keadaan ini menyewa manajer berbakat di bawah ikatan kontrak dapat mengakibatkan
pendapatan perusahaan akan dipengaruhi oleh peristiwa ekonomi yang tidak berada di bawah
kendali manajerial.
Didalam memotivasi manajer dan pemegang saham agar berperilaku untuk memajukan
tujuan perusahaan, Burdett dapat memberikan rekomendasi kepada dewan direksi berupa :
a. Penilaian terhadap kinerja manajer dibuat dengan kontrak yang jelas sehingga agen
termotivasi untuk bekerja dengan kepentingan terbaik principal
b. Principal memberikan pilihan rencana insentif jangka pendek dan jangka panjang
sedangkan agen diberikan keleluasan dengan batasan yang menguntungkan
kepentingan para pemegang saham.
Untuk mencegah terjadinya konflik dapat dilakukan beberapa cara berikut :
a. Menyusun standar yang jelas mengenai jabatan fungsional maupun struktural
ataupun posisi tertentu yang dianggap strategis dan kritis serta diiringi dengan
sosialisasi dan implementasi tanpa ada pengecualian yang tidak masuk akal.
b. Diadakan tes kompetensi dan kemampuan untuk mencapai suatu jabatan tertentu
dengan adil dan terbuka.
c. Akuntabilitas dan transparansi dalam setiap proses bisnis agar memungkinkan
monitoring dari setiap pihak sehingga adanya penyimpangan dapat diketahui dan
diberikan sanksi tanpa kompromi.

DAFTAR PUSTAKA

Sukartha, I Made. 2007. Pengaruh Manajemen Laba, Kepemilikan Manajerial, dan Ukuran
Perusahaan Pada Kesejahteraan Pemegang Saham Perusahaan Target Akuisisi. Disertasi
5

Untuk Memperoleh derajat Doktor dalam Ilmu Ekonomi, Program Pascasarjana UGM,
Yogyakarta
Scott, William R. 2012. Financial Accounting Theory Sixth Edition. Pearson.
https://www.scribd.com/doc/269711099/Makalah-Teori-Keagenan