Anda di halaman 1dari 19

1.

DEFINISI
Distribusi kanker kolorektal menurut lokasinya dapat dilihat pada gambar di bawah
ini:

Sigmoid

Kanker colon adalah suatu kanker yang yang berada di colon.


Kanker
kolon
adalah
suatu
bentuk
keganasan

dari

masa

abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari colon (Brooker,


2001 : 72)
Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di
dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 : 805).
Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh
pada

kolon

dan

menginvasi

jaringan

sekitarnya (Tambayong, 2000 :

143).
Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon, kira-kira pada bagian :

26 % pada caecum dan ascending colon

10 % pada transfersum colon

15 % pada desending colon

20 % pada sigmoid colon

30 % pada rectum

2. STADIUM
Stadium dan faktor prognostis kanker kolorektal dapat dilihat pada tabel dan
gambar di bawah ini:
Duke
s
A

Stadium
TNM
T1N0M0

Deskripsi histopatologi
Derajat
I

Bertahan 5
tahun (%)

Kanker terbatas pada


mukosa/submukosa

>90

B1
B2

T2N0M0
T3N0M0

TxN1M0

D
TxN2M1
(sumber : Abdullah, 2006).

II
III

Kanker mencapai muskularis


Kanker cenderung

85
70-80

IV

masuk/melewati mukosa
Tumor melibatkan KGB

35-65

regional
Metastasis

Klasifikasi kanker kolorektal menurut Dukes-turnbull dapat dilihat pada gambar di


bawah ini:

3. ETIOLOGI & FAKTOR RESIKO


Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor
risiko telah teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga,
riwayat penyakit usus, diet tinggi lemak protein serta rendah serat (Antony W. 2006).
-

Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding


dalam kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke

atas. Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip
(adenoma) dapat menjadi kanker.
Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang

menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau


penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar
Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal

dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan
riwayat kanker di indung telur, uterus (endometrium) mempunyai tingkat risiko
yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.
(Antony W, 2006)
Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat

kanker colorectal pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini
-

lebih besar, khususnya jika saudara Anda terkena kanker pada usia muda.
Faktor gaya hidup: pola makan yang tinggi lemak dan sedikit buah-buahan

dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker colorectal.
Usia di atas 50: Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia
lebih tua. Lebih dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis

setelah usia 50 tahun ke atas.


(Carpernito, 2000)
4. PATOFISIOLOGI (TERLAMPIR)
5. MANIFESTASI KLINIS
Gejala gejala yang sering terjadi pada Kanker di kolon sigmoid:
Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit/konstipasi)
Nyeri timbul sering dengan nyeri kolik (mulas mendadak) di bagian abdomen
kiri bawah
Ada darah (baik merah terang atau kehitaman) di kotoran
Sering kembung atau keram perut, atau merasa kekenyangan (obstruksi)
Mual atau muntah-muntah.
(Alberta, 2006)
6. PEMERIKSAAN FISIK DAN DIAGNOSTIK

a. Pemeriksaan Fisik
Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah adanya perubahan pola buang air
besar (change of bowel habits), bisa diare bisa juga konstipasi. Semakin distal
letak tumor semakin jelas gejala yang ditimbulkan karena semakin ke distal
feses semakin keras dan sulit dikeluarkan akibat lumen yang menyempit,
bahkan bisa disertai nyeri dan perdarahan, bisa jelas atau samar. Warna
perdarahan sangat bervariasi, merah terang, purple, mahogany, dan kadang
kala merah kehitaman. Makin ke distal letak tumor warna merah makin pudar.
Perdarahan sering disertai dengan lendir, kombinasi keduanya harus dicurigai
adanya proses patologis pada colorectal. Selain itu, pemeriksaan fisik lainnya
yaitu adanya massa yang teraba pada fossa iliaca dextra dan secara perlahan

makin lama makin membesar. Penurunan berat badan sering terjadi pada fase
lanjut, dan 5% kasus sudah metastasis jauh ke hepar.
Pemeriksaan Digital Rectal Examination (DRE) bisa ditemukan massa maligna
(massa berbenjol-benjol dengan striktura) direktum dan rektosigmoid teraba
keras kenyal dan lendir darah pada sarung tangan.
Kolon Kanan :
- Anemia dan kelemahan
- Darah okul di feses
- Dispepsia
- Perasaan kurang enak di perut kanan bawah
- Massa di perut kanan bawah
Kolon Kiri :
- Perubahan pola defekasi
- Darah di feses
- Gejala dan tanda obstruksi
Rektum :
- Perdarahan rektum
- Darah di feses
- Perubahan pola defekasi
- Pasca defekasi perasaan tidak puas atau rasa
penuh
- Penemuan tumor pada colok dubur
- Penemuan tumor rektosigmoid
(Sabiston, 2014).
Colok dubur
Pemeriksaan colok dubur dilakukan pada setiap penderita dengan tujuan
untuk menentukan keutuhan spinkter ani, ukuran dan derajat fiksasi tumor
pada rectum 1/3 tengah dan distal. Pada pemeriksaan colok dubur yang
harus dinilai adalah pertama, keadaan tumor: ekstensi lesi pada dinding
rectum.

Kedua,

mobilitas

tumor

untuk

mengetahui

prospek

terapi

pembedahan. Ketiga, ekstensi penjalaran yang diukur dari ukuran tumor dan
karakteristik pertumbuhan primer, mobilitas atau fiksasi lesi (Sabiston, 2014).
b. Pemeriksaan Laboratorium
Meliputi pemeriksaan tinja apakah ada darah secara makroskopis/mikroskopis
atau ada darah samar (occult blood) serta pemeriksaan CEA (carcino
embryonic antigen). Kadar yang dianggap normal adalah 2,5-5 ngr/ml. Kadar
CEA dapat meninggi pada tumor epitelial dan mesenkimal, emfisema paru,
sirhosis hepatis, hepatitis, perlemakan hati, pankreatitis, colitis ulserosa,
penyakit crohn, tukak peptik, serta pada orang sehat yang merokok. Peranan
penting dari CEA adalah bila diagnosis karsinoma colorectal sudah ditegakkan
dan ternyata CEA meninggi yang kemudian menurun setelah operasi maka
CEA penting untuk tindak lanjut. CEA dapat meningkat pada 60-90% pasien

dengan carcinoma colorectal. Namun CEA bukan merupakan tes skrining


yang efektif untuk keganasan. CEA tidak spesifik karena dapat meningkat juga
pada pasien dengan carcinoma selain carcinoma colorectal (Soeripto et al.,
2003).
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Flexible Sigmoidoscopy (FS)
Flexible Sigmoidoscopy (FS) merupakan bagian dari endoskopi yang
dapat dilakukan pada rectum dan bagian bawah dari colon sampai jarak
60 cm (sigmoid) tanpa dilakukan sedasi. Prosedur ini sekaligus dapat
melakukan biopsi. Hasilnya terbukti dapat mengurangi mortalitas akibat
karsinoma colorectal hingga 60%-80% dan memiliki sensistivitas yang
hampir sama dengan colonoscopy 60%-70% untuk mendeteksi karsinoma
colorectal. Walaupun jarang, FS juga mengandung resiko terjadinya
perforasi 1/20.000 pemeriksaan.
Intepretasi hasil biopsi dapat menentukan apakah jaringan normal,
prekarsinoma, atau jaringan karsinoma. American Cancer Society (ACS)
merekomendasikan untuk dilakukan colonoscopy apabila ditemukan
jaringan adenoma pada pemeriksaan FS. Sedangkan hasil yang negatif
pada pemeriksaan FS, dilakukan pemeriksaan ulang setelah 5 tahun
(Soeripto et al., 2003).
2) Penyinaran Enema barium
Pemeriksaan sinar-x enema barium (BE) mempunyai manfaat cost
effective dan memeriksa keseluruhan kolon. Pemeriksaan dengan barium
enema dapat dilakukan dengan Single contras procedure (barium saja)
atau Double contras procedure (udara dan barium). Kombinasi udara dan
barium menghasilkan visualisasi mukosa yang lebih detail. Akan tetapi
barium enema hanya bisa mendeteksi lesi yang signifikan (lebih dari 1
cm).42 DCBE memiliki spesifisitas untuk adenoma yang besar 96%
dengan nilai prediksi negatif 98%. Metode ini kurang efektif untuk
mendeteksi polips di rectosigmoid-colon. Barium enema sebaiknya
menggunakan kontras ganda dan usahakan melakukan pemotretan pada
berbagai posisi bila ditemukan kelainan. Pada foto kolnon dapat terlihat
suatu filling defect pada suatu tempat atau suatu striktura. Selain itu dapat
ditemukan lokasi tempat kelainan tersebut (Soeripto et al., 2003).

Gambar : Pemeriksaan kontras barium enema radiograf


3) Endoscopy dan biopsi
Endoscopy dapat dikerjakan dengan rigid endoscope untuk kelainankelainan sampai 25 cm 30 cm, dengan fibrescope untuk semua kelainan
dari rectum sampai caecum. Biopsi diperlukan untuk menentukan secara
patologis anatomis jenis tumor (Soeripto et al., 2003).
4) Kolonoskopi
Colonoscopy adalah prosedur dengan menggunakan tabung fleksibel yang
panjang dengan tujuan memeriksa seluruh bagian rectum dan usus besar.
Colonoscopy umumnya dianggap lebih akurat daripada barium enema,
terutama dalam mendeteksi polip kecil. Jika ditemukan polip pada usus
besar, maka biasanya diangkat dengan menggunakan colonoscope dan
dikirim ke ahli patologi untuk kemudian diperiksa jenis kankernya.
Tingkat sensitivitas colonoscopy dalam mendiagnosis adenokarsinoma
atau

polip

colorectal

kesempurnaan

adalah

prosedur

95%.

Namun

pemeriksaannya

tingkat

sangat

kualitas

tergantung

dan
pada

persiapan colon, sedasi, dan kompetensi operator. Colonoskopi memiliki


resiko dan komplikasi yang lebih besar dibandingkan FS. Angka kejadian
perforasi

pada

pemeriksaan,

skrining

dan

angka

karsinoma

colorectal

kejadian

perdarahan

antara

3-61/10.000

sebesar

2-3/1.000

pemeriksaan (Soeripto et al., 2003).


5) Pemeriksaan penunjang lainnya
-Radiografi thorak : digunakan untuk mendeteksi kanker yang telah
metastase ke paru-paru.
-Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi sangat sulit untuk mendeteksi kanker kolorektal. Alat ini
baru bermanfaat untuk mendeteksi ada tidaknya metastase kanker ke
kelenjar getah bening di abdomen dan di hati. Jika ada pembesaran
kelenjar getah bening para-aortal patut dicurigai suatu metastase dari
kanker.

-CT-Scan
Digunakan untuk mendeteksi metastase ke nodus limfatikus, hati atau paruparu (Sabiston, 2014).

Gambar : CT Scan abdomen bagian atas menunjukkan multipel tumor dalam limpa
dan hati yang sudah menyebar (metastase) berasal dari kanker usus (karsinoma).
7. PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi pada Kanker Kolon
a. Farmakologi
Penelitian di Eropa dan Amertika Serikat melaporkan bahwa respon
terhadap kombinasi dari 5-fluorouracil (5-FU), leucovorin, dan irinotecan (CPT11)
lebih baik bila dibandingkan dengan 5-FU/leucovorin atau CPT11 secara tunggal.
Terapi standar untuk carsinoma kolon yang telah bermetastase adalah CPT11
dengan kombinasi 5-FU/LV dikenal sebagai Saltz Regimen. Obat ini digunakan
secara kombinasi dalam pengobatan carsinoma colorektal.
Terapi dasar 5-FU diberikan secara infuse setiap hari selama 5 hari dalam
4 minggu (mayo klinik regimen) dan diteruskan secara infuse setiap minggu
untuk 6 minggu dengan 2 minggu off ( Roswell Park regimen).
Kategori obat: Antineoplastic agents, merupakan standar terapi dalam
pengobatan ca kolon termasuk terapi kombinasi. Diare merupakan efek samping
yang biasa terjadi dalam pengobatan ini. Efek samping lain termasuk mucositis,
neutropenia, kerontokan rambut, dan reaksi hipersensitivitas (Robbins, 2012).
Nama Obat

Fluorouracil (Adrucil)
Digunakan terutama dalam pengobatan carsinoma kolon pada
penderita yang berusia lebih dari 40 tahun. Dapat digunakan sebagai
agen tunggal atau kombinasi untuk terapi jangka panjang dengan
leucovorin sebagai modulator biokimia.
Sebagai antimetabolit (obat anti kanker dengan struktur kimia yang
hampir sama dengan faktor endogen intermediate atau memblok

sintesis DNA atau RNA). 5-FU menghambat pertumbuhan sel tumor


melalui tiga mekanisme berbeda yang berhubungan dengan aktivitas
sintesis DNA atau kemampuan selular. Efek ini tergantung pada
konversi intraseluler dari 5-FU menjadi 5-FdUMP, 5-FUTP, dan 5FdUTP. 5-FdUMP menghambat thymidylate synthase (enzim kunci
dalam sintesis DNA) . 5-FUTP dihubungkan dengan proses sintesis
Dosis Dewasa

RNA dan 5-FdUTP berhubungan dengan DNA.


Standar pengobatan: 500 mg/m2 IV setiap minggu selama 4-6
minggu.
Terapi tambahan:
Regimen Mayo Klinik: 425 mg/m2/d IV bolus pada hari ke 1-5 setelah
pemberian

LV

untuk

hari

setiap

minggu.

Roswell Park regimen: infuse dilanjutkan setiap minggu selama 6


Kontraindikasi

minggu
Hipersensitivitas; supresi sumsum tulang belakang, infeksi berat,

Interaksi

adenokarsinoma unresponsive atau progressive, kehamilan


Meningkatkan resiko perdarahan dengan antikoagulan, NSAIDs,
platelet inhibitor, agen trombolitik, agen imunosupresif; leucovorin
menurunkan kadar folat. Kombinasi dengan 5-FU lebih efektif dalam

Kehamilan
Precautions

memblok sintesis thymidylate (meningkatkan respon terapi).


Tidak aman untuk kehamilan
Mual, oral dan GI ulcers, depresi system imun, kegagalan

Nama obat

hematopoiesis (supresi sumsum tulang belakang)


Irinotecan (Camptosar)
Menghambat topoisomerase I, menghambat replikasi

DNA. Efektif

dalam pengobatan carsinoma colorektal. Standar terapi untuk


carsinoma kolon yang mengalami metastase termasuk kombinasi
kemoterapi 5-FU/LV/CPT11 karena terjadinya toksisitas dihubungkan
dengan Saltz Regimen (5-FU/LV/CPT11), saat ini standar terapi ca
kolon yang mengalami metastase maksimal 5-FU 400 mg/m2 dan
Dosis dewasa
Kontraindikasi

CPT11 100 mg/m2 sebagai dosis awal.


125 mg/m2 IV > 90 minimal setiap minggu dalam 4-6 minggu.
Hipersensitifitas; diarrhea akut; demam, neutropenia; adenokarsinoma

Interaksi

anresponsif atau progresif.


Pemberian dengan antineoplastik
neutropenia

Kehamilan

memanjang

dan

lain

dapat

trombositpenia

meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas.


Tidak aman untuk kehamilan

menyebabkan
yang

dapat

Perhatian

Efek samping termasuk myelosuppresi, alopecia, mual, muntah, dan

Nama obat

diare, awasi fungsi sumsum tulang belakang.


Leucovorin (Wellcovorin)
Standard therapy untuk ca kolon dan termasuk dalam terapi

Dosis dewasa

kiombinasi
Standard therapy: 20 mg/m2 IV setiap minggu untuk 4-6 minggu
Terapi tambahan: 20 mg/m2 IV sebelum pemberian 5-FU pada hari ke

Kontraindikasi
Nama obat

1-5 selama 4 minggu (Mayo Clinic regimen).


hypersensitivity; anemia pernisiosa; anemias megaloblastic
Oxaliplatin (Eloxatin)
Agent antineoplastik yang digunakan sebagai kombinasi dengan 5-FU
dan leucovorin untuk pengobatan ca kolon dengan metastasis yang

Dosis dewasa

mengalami kekambuhan atau progressi.


Hari 1: 85 mg/m2 IV > 2 jam; diberikan secara simultan dengan
leucovorin 200 mg/m2; diikuti 5-FU 400 mg/m2 IV bolus > 2-4 min,
kemudian 5-FU 600 mg/m2 IV dalam larutan D5W 500 ml > 22 jam.
Hari 2: Leucovorin 200 mg/m2 IV > 2 jam, diikuti 5-FU 400 mg/m 2 IV
bolus > 2-4 min, kemudian 5-FU 600 mg/m 2 IV dalam larutan D5W

Interaksi
Kehamilan
Perhatian

500 Ml > 22 jam.


Meningkatkan konsentrasi 5-FU dalam serum hampir 20%
Tidak aman untuk kehamilan
Reaksi Anaphylaxis, neuropati, fibrosis pulmoner, supresi sumsum
tulang belakang, gejala system gastrointestinal (mual, muntah,

Nama obat

stomatitis), toksisitas ren atau hepar, tromboembolisme


Cetuximab (Erbitux)
Rekombinan antibody moniklonal dari manusia/tikus yang secara
spesifik berikatan dengan komponen ekstraseluler dari reseptor factor
pertumbuhan

epidermal

Cetuximab-bound

EGF

(EGFR,

HER1,

menghambat

c-ErbB-1).

aktivasi

Reseptor

reseptor

kinase,

sehingga menghambat pertumbuhan sel, menginduksi apoptosis, dan


menurunkan
endothelial

produksi
growth

matriks

factor

metalloproteinase

(VEGF).

dan

Diindikasikan

vascular

untuk

terapi

irinotecan-refractory, EGFR-expressed, colorectal carcinoma yang


telah mengalami metastase. Terapi lebih baik dengan kombinasi
Dosis dewasa

irinotecan
Dosis
awal:

Kontraindikasi
Perhatian

dosis pemeliharaan setiap minggu: 250 mg/m2 IV (infus > 1 jam).


Karsinoma kolorectal tanpa metastasis
Hipersensitifitas, termasuk alergi terhadap protein murine; hipotensi,

400

mg/m2

IV

(infuse

>

distress jalan nafas ( bronkospasme, stridor, hoarseness),

jam)

Nama obat

Bevacizumab (Avastin)
Diindikasikan sebagai terapi lini pertama pada metastatic colorectal
cancer.

Murine-derived

monoclonal

antibody

menghambat

angiogenesis. Menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang


mengangkut

oksigen

dan

nutrisis

yang

dibutuhkan

dalam

Dosis dewasa
Interaksi

pertumbuhan sel tumor.


5 mg/kg IV 4 kali dalam 2 minggu
Pemberian dengan 5-fluorouracil dapat meningkatkan terjadinya

Perhatian

kejadian tromboembolik yang serius dan fatal (CVA, MI, TIAs, angina)
Hipertensi, fatigue, thrombosis, diarrhea, leukopenia, proteinuria, sakit
kepala, anorexia, dan stomatitis; mungkin menyebabkan keadaan
serius atau fatal tetapi hal ini jarang terjadi, yaitu perforasi
gastrointestinal, infeksi intraabdominal, kegagalan penyembuhan luka,
hemoptysis (secara partikuler berhubungan dengan ca pulmo), dan
perdarahan internal, meningkatkan resiko yang serius maupun fatal
terhadap

terjadinya

trombotik

arterial

dengan

pemberian

5-

fluorouracil.
(Robbins, 2013).
b. Kemoterapi
Kemoterapi Intrahepatic untuk carcinoma colon dengan metastase ke hepar
adalah intraarterial floxuridine (FUDR).

Diikuti reseksi karsinoma kolon primer dan nodus limfatikus, dengan pilihan
kemoterapi:

kemoterapi

sistemik

menggunakan

regimen

5-

FU/leucovorin/CPT11 atau kemoterapi intrahepatic (intraarterial) dengan


FUDR.

Pilihan kedua untuk pasien dengan lesi hepar yang luas atau multiple
sehingga membutuhkan kemoterap dosis yang lebih tinggi. Prinsip terapi ini
adalah metastase ke hepar menerima suplai darah terutama melalui
sirkulasi arteri hepatica, dinama hepar secara normal menerima darah
melalui vena porta. Efek samping utama pada intraarterial FUDR adalah
kolangitis sclerosis.

Terapi FUDR intraarterial biasanya diberikan melalui pompa yang ditanam di


daerah subcutan, yang diganti secara periodik. Efek samping utama yang
bisa terjadi adalah sclerosing cholangitis (Robbins, 2013).

c. Pembedahan
Pengobatan utama pada kanker kolorektal adalah pengangkatan bagian
usus yang terkena dan sistem getah beningnya. 30% penderita tidak dapat

mentoleransi pembedahan karena kesehatan yang buruk, sehingga beberapa


tumor diangkat melalui elektrokoagulasi. Cara ini bisa meringankan gejala dan
memperpanjang usia, tapi tidak menyembuhkan tumornya. Pada kebanyakan
kasus kanker kolon, bagian usus yang ganas diangkat dengan pembedahan dan
bagian yang tersisa disambungkan lagi (Kastomo, 2005).
Untuk kanker rektum, jenis operasinya tergantung pada seberapa jauh
jarak kanker ini dari anus dan seberapa dalam tumbuh ke dalam dinding rektum.
Pengangkatan seluruh rektum dan anus mengharuskan penderita menjalani
kolostomi menetap (pembuatan hubungan antara dinding perut dengan kolon).
Dengan kolostomi, isi usus besar dikosongkan melalui lubang di dinding perut ke
dalam suatu kantung, yang disebut kantong kolostomi. Bila memungkinkan,
rektum yang diangkat hanya sebagian, dan menyisakan ujung rektum dan anus.
Kemudian ujung rektum disambungkan ke bagian akhir dari kolon (Kastomo,
2005).

Gambar : Colostomy
Prosedur pembedahan klasik untuk carcinoma kolon adalah reseksi anterior.
Abdomen dieksplorasi untuk menentukan letak tumor yang akan direseksi, dan
kemudian reseksi dilakukan secara segmental (hemikolectomy kanan atau kiri)
dengan end-to-end anastomosis. Reseksi kolon total dilakukan terhadap pasien
dengan polyposis familial dan polip colon multiple.

Laparoscopic colon resection: menggunakan teknik laparoscopic untuk


melakukan reseksi kolon.

Penggantian

sphincter

secara

elektrik

untuk

menstimulasi

musculus

neosphincter dan penambahan anal sphincter untuk pasien dengan


inkontinensia fecal stadium akhir.

Hepatectomy partial untuk carcinoma kolon yang terbatas pada hepar


merupakan terapi pilihan untuk pasien dengan carsinoma colorektal

berulang. Factor yang ikut menentukan keberhasilan terapi ini termasuk


metastase tunggal, kadar CEA lebih dari 200 ng/mL, diameter tumor < 5 cm,
dan penanda negative setelah reseksi. Deteksi dini terhadap carsinoma
colorektal recuren termasuk dengan menggunakan CT atau MRI. Kadar CEA
juga penting untuk mendeteksi rekurensi, walaupun positive palsu dan negativ
palsu bisa saja terjadi.

Terapi lain pada metastasis liver adalah termasuk cryoablation (tekhnik


tertentu dalam bedah abdomen) dan hepatic arterial infusion (HAI) dari agent
chemotherapi seperti FUDR. HAI FUDR adjuvant biasanya diikuti dengan
hepatectomy parsial (Kastomo, 2005)

d. Radiasi onkologi
Pasien dengan carsinoma rektal perlu dilakukam radiasi onkologi. Radiasi
bertujuan untuk mengurangi resiko kekambuhan dari carsinoma rektal. Radiasi
bermanfaat juga sebagai terapi paliatif (mengurangi pertumbuhan tumor pada
lokasi spesifik yang merupakan hasil metastase dari carsinoma colorektal). Terapi
ini juga bisa untuk meningkatkan kualitas hidup (membantu mengontrol nyeri
atau kompresi medula spinalis atau sindrom vena cava. Terapi penyinaran
setelah pengangkatan tumor, bisa membantu mengendalikan pertumbuhan tumor
yang tersisa, memperlambat kekambuhan dan meningkatkan harapan hidup.
Pengangkatan tumor dan terapi penyinaran, efektif untuk penderita kanker
rektum yang disertai 1-4 kanker kelenjar getah bening. Tetapi kurang efektif pada
penderita kanker rektum yang memiliki lebih dari 4 kanker kelenjar getah bening
(Robbins, 2013).

8. KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang terjadi akibat kanker kolon diantaranya:
a. Perdarahan pada usus besar sehingga menimbulkan anemia
b. Ileus obstruksi yang menyebabkan mual dan muntah sehingga terjadi
ketidakseimbangan elektolit dan cairan
c. Peritonitis akibat penyebaran kuman dari kolon dan iritasi dari cairan kolon
yang menyebar pada rongga perut
d. Perforasi atau perlobangan
Perforasi dari dinding usus oleh tumor, diikuti kontaminasi dari rongga
e.

peritoneal oleh isi usus


Syok
Syok merupakan keadaan gagalnya sirkulasi darah secara tiba-tiba akibat

f.

gangguan peredaran darah atau hilangnya cairan tubuh secara berlebihan.


Sepsis yang tidak tertolong sehingga menyebabkan kematian
(Mansjoer, 2000)

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.

PENGKAJIAN
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) hal-hal yang perlu dikaji adalah:
1

Aktivitas/istirahat:
Gejala:

Kelemahan, kelelahan/keletihan

Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang


mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.

Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat


stres tinggi.

Sirkulasi:
Gejala:

Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas

Tanda:

Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.


Integritas ego:

Gejala:

Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi


stres (merokok, minum
religius/spiritual)

alkohol, menunda pengobatan, keyakinan

Masalah

terhadap

perubahan

penampilan

(alopesia,

lesi

cacat,

pembedahan)

Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu,


tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.

Tanda:

Menyangkal, menarik diri, marah.

Eliminasi:
Gejala:

Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi

Tanda:

Perubahan bising usus, distensi abdomen

Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah

Makanan/cairan:
Gejala:

Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat
aditif dan bahan pengawet)

Anoreksia, mual, muntah

toleransi makanan

Tanda:

Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot


Nyeri/ketidaknyamanan:

Gejala:

Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung
proses penyakit

Keamanan:
Gejala:

Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.

Tanda:

Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia

Interaksi sosial
Gejala:

Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)

Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan


status kesehatan.

B.

Penyuluhan/pembelajaran:

Riwayat kanker dalam keluarga

Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya

Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.

Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1

Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen
usus sekunder terhadap proses keganasan usus.
Ditandai dengan:

Peningkatan bunyi usus/peristaltik

Peningkatan defekasi cair

Perubahan warna feses

Nyeri/kram abdomen

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien,
status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.
Ditandai dengan:

Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus


otot buruk

1)

Peningkatan bunyi usus

Konjungtiva dan membran mukosa pucat

Mual, muntah, diare

Koping individu tak efektif b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui
ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri
hebat, sistem pendukung tak adekuat)
Ditandai dengan:

C.

Menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah, putus asa, ansietas

Menyatakan diri tidak berharga

Depresi dan ketergantungan

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

DX Kep 1

: Diare b/d inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan


parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.

Intervensi
1

Rasional

Bantu kebutuhan defekasi (bila 1

Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa

tirah baring siapkan alat yang

tanda

diperlukan dekat tempat tidur,

dengan menyiapkan keperluan klien.

sehingga

perlu

diantisipasi

pasang tirai dan segera buang


feses setelah defekasi).
2
2

Tingkatkan/pertahankan

asupan

cairan per oral.


3

Ajarkan
minuman

memperburuk/

Membantu klien menghindari agen

dapat

mencetus-kan

diare.
4

maslah

pencetus diare.

makanan-

yang

timbulnya

kekurangan cairan.
3

tentang

Mencegah

Menilai perkembangan maslah.

Observasi dan catat frekuensi


defekasi, volume dan karakteristik 5

Mengantisipasi tanda-tanda bahaya

feses.

perforasi

dan

peritonitis

yang

memerlukan tindakan kedaruratan.


5

Observasi

demam,

takikardia,

letargi, leukositosis, penurunan 6

Antibiotika

protein

menghambat

serum,

ansietas

dan

kelesuan.
6

Kolaborasi

untuk

membunuh/

pertumbuhan

agen

patogen biologik, antikolinergik untuk


pemberian

obat-

obatan sesuai program terapi


(antibiotika,

antikolinergik,

menurunkan

peristaltik

menurunkan

sekresi

kortikosteroid

untuk

usus

dan

digestif,
menurunkan

proses inflamasi.

kortikosteroid).

DX Kep 2: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi
nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan
usus.
Intervensi

Rasional

Pertahankan tirah baring selama

fase akut/pasca terapi

Menurunkan

kebutuhan

metabolik

untuk mencegah penurunan kalori


dan simpanan energi.

Bantu

perawatan

kebersihan

rongga mulut (oral hygiene).

Meningkatkan

kenyamanan

dan

selera makan.
3

Berikan diet TKTP, sajikan dalam


bentuk

yang

sesuai

Asupan kalori dan protein tinggi perlu

perkembangan kesehatan klien

diberikan untuk mengimbangi status

(lunak, bubur kasar, nasi biasa)

hipermetabolisme klien keganasan.

Kolaborasi

pemberian

obat-

obatan sesuai indikasi

Pemberian preparat zat besi dan


vitamin B12 dapat mencegah anemia;
pemberian asam folat mungkin perlu

Bila perlu, kolaborasi pemberian

untuk mengatasi defisiensi karena

nutrisi parenteral.

malbasorbsi.
5

Pemberian

peroral

dihentikan

sementara

mungkin
untuk

mengistirahatkan saluran cerna.

Dx Kep 3 : Koping individu tak efektif (koping menyangkal/defensif/depresi/agresi)


b/d intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis,
ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak
adekuat).
Intervensi
1 Bantu klien mengembangkan strategi
pemecahan

masalah

yang

sesuai

survive

dengan

didasarkan pada kekuatan pribadi dan

terapi

yang

pengalamannya.

pengaturan diet dan aktivitas yang

Mobilisasi dukungan emosional dari

sesuai

orang lain (keluarga, teman, tokoh


3

Rasional
1 Penderita kanker tahap dini dapat hidup

Dukungan

mengikuti
tepat

meningkatkan

Kolaborasi terapi medis/ keperawatan

mengikuti program terapi.

psikiatri bila klien mengalami depresi/


agresi yang ekstrim.

Terapi

psikiatri

dan

dapat

agama, penderita kanker lainnya)

spirit

program
dengan

membantu
klien

mungkin

untuk

diperlukan

pada keadaan depresi yang berat dan

Kaji fase penolakan-penerimaan klien

lama sehingga dapat memperburuk

terhadap penyakitnya.

keadaan kesehatan klien.


4

Menilai perkembangan masalah klien.

DAFTAR PUSTAKA
Deiry,

Depkes.

El-Wafik S. 2006. E-Medicine: Colon Carcinoma. Diakses dari:


http://emedicine.medscape.com/article/277496 tanggal 27 September
2015 Pukul 20.00 WIB.
2006. Deteksi
Dini
Kanker
Usus
Besar,
(Online),
(http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/KankerUsus011106.htm,
diakses 01 Oktober 2015).

Jong, De Wim. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi II. Jakarta: EGC.
Kastomo DR, Soemardi A. 2005. Tindakan Bedah pada Keganasan Kolorektal
Stadium Lanjut. Majalah Kedokteran Indonesia; Vol 55 No 7, p 499-500.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jilid II. Jakarta: EGC.
Robbins, S.L., M.D. dan Kumar, V., M.D. 2012. Traktus Gastrointestinal dalam Buku
Ajar Patologi II, ed. 4. Jakarta: EGC.
Sabiston, D.C.Jr., M.D. 2014. Buku Ajar Bedah Jilid 2. Jakarta: EGC.
Soeripto et al. 2003. Gastro-intestinal Cancer in Indonesia. Asian Pacific Journal of
Cancer
Prevention,
(Online);
Vol.
4,
No.
4,
(http://www.apocp.org/ cancer_download/Vol4_No4/Soeripto.pdf, diakses
01 Oktober 2015).