Anda di halaman 1dari 17

Biografi Kabinet Natsir

A.

Terbentuknya Pemerintah berdasarkan UUDS 1950


Dalam kurun waktu 9 tahun tepatnya pada tahun 1950-1959 setelah negara Indonesia
menjadi sebuah negara kesatuan banyak hal yang terjadi di tubuh pemerintahan Indonesia.
Pada tahun 1950 UUDS (undang-undang sementara) mulai di berlakukan sebagai pengganti
Undang-undang yang sebebulmnya yaitu Undang-undang berdasarkan konstitusi
RIS. Selama 9 tahun telah terjadi pergantian kabinet, sehingga dapat dikatakan kabinet itu
belum bisa untuk melakukan progaram kerjanya karena waktu yang dimiliki sangat relatif
pendek. Dalam pemerintahan berdasarkan UUDS tahun 1950 adalah pemerintahan dengan
bentuk parlementer yang dalam menjalankan kabinetnya di pemerintahan posisinya
tergantung parlemen sehingga jatuh bangunnya kabinet tergantung oleh Parlemen.[1]
Pada tabggal 27 Desember 1949, negeri Belanda secara resmi menyerahkan
kedaulatan atas Indonesia, tidak termasuk Papua, kepada RIS, sebuah negara federal yang
hanya bertahan secara utuh selama beberapa minggu saja. Ada beberapa sentimen prorepublik di negara-negara federal yang didirikan oleh Belanda.[2]
Tanggal 23 Januari 1950 Westerling dan sekitar 800 orang serdadunya merebut
tempat-tempat penting di Bandung, tetapi komisaris tingginya mendesak agar mundur pada
hari itu juga.[3] Hari berikutnya, Westerling merencanakan untuk menyerang kabinet RIS.
Serdadu-serdadu Westerling memasuki Jakarta, namun dapat dipukul mundur. Pada bulan
Februari, Westerling meninggalkan Indonesia.
Setelah ditangkapnya beberapa pemimpin Pasundan yang dicurigai sebagai bagian
dari komplotan Westerling mendorong parlemen negara bagian meminta pada tanggal 27

Januari 1950 agar Pasundan dibubarkan. Sampai akhir bulan Maret sebagian besar negara
federal yang kecil telah memutuskan untuk membubarkan diri dan bergabung dengan
republik. Kabinet Hatta merasa dibawa oleh suatu gelombang persatuan dan dipaksa
melakukan persiapan-persiapan legislatif.
Pada bulan Mei dibentuklah suatu kabinet baru Indonesia Timur dengan tujuan
membubarkan negara itu dan melebur diri kedalam sebuah negara kesatuan Indonesia.
Akhirnya pada saat peringatan ulang tahun proklamasi kemerdekaan yang kelima pada
tanggal 17 Agustus 1950 semua struktur konstitusional semasa tahun-tahun revolusi secara
resmi dihapuskan. Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Republik Indonesia, serta di
dalamnya terdapat negara-negara Sumatra Timur serta Indonesia Timur digantikan oleh suatu
Republik Indonesia yang baru, yang memiliki konstitusi kesatuan (namun bersifat
sementara).
Setelah dibubarkannya RIS, sejak tahun 1950 RI Melaksanakan demokrasi
parlementer yang bersifat Liberal. Demokrasi liberal yang dilakasanakan oleh bangsa
Indonesia menganut sistem parlementer barat. Indonesia dibagi manjadi 10 Provinsi yang
mempunyai otonomi dan berdasarkan Undang - Undang Dasar Sementara (UUDS) tahun
1950. Pemerintahan RI dijalankan oleh suatu dewan mentri ( kabinet ) yang dipimpin oleh
seorang perdana menteri dan bertanggung jawab kepada parlemen ( DPR ). Perdana Mentri
merupakan kepala negara, serta kebinet bertanggung jawab kepada perdana mentri.
Sistem politik pada masa demokrasi liberal yang bebas telah mendorong lahirnya
partai-partai politik, karena dalam sistem kepartaian menganut sistem multi partai.
Konsekuensi logis dari pelaksanaan sistem politik demokrasi liberal parlementer barat dengan
sistem multi partai yang dianut, maka partai-partai inilah yang menjalankan pemerintahan
melalui perimbangan kekuasaan dalam parlemen dalam tahun 1950 1959, PNI dan
Masyumi merupakan partai yang terkuat dalam DPR, dan dalam waktu lima tahun ( 1950
-1955 ) PNI dan Masyumi silih berganti memegang kekuasaan dalam empat kabinet.
B.
1.

Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Kabinet Natsir


Pembentukan Kabinet Natsir
Dalam kurun waktu lima tahun dari tahun 1950 sampai 1955 terdapat empat kabinet
yang bergantian memerintah pemerintahan Indonesia. Mulai dari kabinet Natsir, lalu berturutturut kabinet Sukiman, kabinet Wilopo, dan kabinet Ali Sastroamidjojo. Dan dari kabinetkabinet tersebut tidak ada kabinet yang dapat melaksakan progamnya karena adanya
kelompok oposisi yang saling menjatuhkan. Dalam setiap kabinet, kebanyakan menterinya
merupakan orang yang ahli dalam bidangnya, dan didukung dengan koalisi partai.
Kabinet Natsir memerintah dari tanggal 6 September 1950 sampai tanggal 21 Maret
1951 adalah kabinet koalisi dengan berintikan partai Masyumi. Akan tetapi PNI tidak
mendapat kedudukan dalam kabinet ini, kebanyakan dari kabinet ini adalah orang-orang dari
partai Masyumi, walaupun didalam menterinya terdapat orang-orang non partai.
Impian dari Natsir sendiri adalah kabinet yang dipimpinnya bersifat nasionalisme
dengan koalisi dari berbegai partai. Namun hal ini tidak dapat terlaksanakan karena adanaya
perebutan kursi didalam susunan menteri didalam kabinet antana PNI dan Masyumi.
Sehingga terjadi ketidak senangan dari pihak PNI sehingga adanya kesulitan untuk mengajak
PNI masuk kedalam kabinetnya.

2.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dalam hal ini Natsir berpendapat bahwa partainya mempunyai lebih banyak hak
dibanding partai lainnya. Namun PNI tidak setuju dengan hal tersebut karena baginya semua
partai juga berhak atas kedudukan didalam pemerintah. Tuntutan dari pihak PNI yaitu agar
orang-orang yang menduduki jabatan sebagai menteri dalam negeri, menteri luar negeri dan
menteri pendidikan. Dalam hasil dari perundingan PNI bersetia melepas menteri luar negri
diisi oleh orang Masyumi dan menteri pendidikan untuk partai lain. Namun keinginan PNI
untuk mendapat kursi jabatan dalam negri harus pupus setelah ditentukkan menteri dalam
negri harus diserahkan kepada partai Masyumi. Hal ini dianggap dari pihak PNI tidak adil,
karna perdana menteri sendiri sudah dipegang oleh partai Masyumi.
Selain mendapat kecaman dari pihak partai lain, kabinet Natsir juga mendapat
kencaman dari partai sendiri yaitu Masyumi. Kencaman itu ditujukan untuk keputusan
konggres Desember 1949 yang melarang ketua umum partai untuk menjadi menteri.
Sebenarnya maksud dari isi konggres ini adalah adanya pengkonsolodasi partai, namun
diubah oleh Dewan Partai di Bogor tanggal 3 sampai 6 Juni 1950 banha sistem federal tidak
dapat dipertahankan lagi. Supaya keputusan konggres ini tidak terlalu dilanggar, maka Natsir
dinonaktifkan dari ketua umum partai Masyumi.dan digantikan oleh Jusuf Wibisono.
Pelaksanaan Kabinet Natsir
Progam-progam kerja dari kabinet Natsir yang penting ialah :
menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman;
mencapai konsolidasi dan menyempurnakan sususnan pemerintahan;
menyempurnakan organisasi Angkatan Perang dan pemulihan bekas anggota-anggota
tentara dan gerilya kedalam masyarakat;
memperjuangkan penyelesaian soal Irian Barat secepatnya;
mengembangkan dan memperkuat kekuatan ekonomi rakyat sebagai dasar untuk
melaksanakan ekonomi nasional yang sehat.
Mempersiapkan dan menyelenggarakan pemilihan umum untuk Konstituante dalam waktu
yang singkat,
Mebantu pembangunan perumahan rakyat serta memperluas usaha-usaha meninggikan
derajat kesehatan dan kecerdasan rakyat.
Adapun susunan menteri dalam kabinet Natsir yaitu :

No.

Jabatan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Perdana Menteri
Wakil Perdana Menteri
Menteri Luar Negri
Menteri Dalam Negeri
Menteri Pertahanan
Menteri Kehakiman
Menteri Penerangan
Menteri Keuangan

9.
10.

Menteri Pertanian
Menteri Perdagangan dan
Perindustrian
Menteri Perhubungan
Menteri Pekerjaan Umum dan
Perindustrian
Menteri Perburuhan
Menteri Sosial
Menteri Pendidikan, Pengjaran dan
Kebudayaan
Menteri Agama
Menteri Kesehatan
Menteri Negara

12.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Nama Menteri

Partai Politik

Mohammad Natsir
Hamengkubuwono IX
Mr. Mohammad Roem
Mr. Assaat
Dr. Abdul Halim
Wongsonegoro
Pellaupessy
Syifruddin
Prawiranegara
Tandiono Manu
Dr. Sumitro
Djojohadikusumo
Ir. Djuanda
Ir. H. Johannes

Masyumi
Masyumi
PIR
Demokrat
Masyumi
PSI
PSI
PIR

R. P. Suroso
F. S. Harjadi
Dr. Bahser Djohan

Parindra
Katholik
-

K.K. A. Wahis Hasyim


Dr. Johannes Leimena
Harsono
Tjokroaminoto

Masyumi
Parkindo
PSII

Catatan:
1.
2.

Pada tanggal 8 Desember 1950 Abdul Halim mundur karena alasan kesehatan,
perannya digantikan oleh Hamengku Buwono IX
Pada tanggal 18 Desember 1950 mundur karena partainya (PSII) keluar dari kabinet

Kebijakan luar negeri dari kabinet Natsir ini adalah bebas dan netral, walaupun dalam
kenyataanya masih bisa dibilang condong ke negara-negara Barat. Pada bulan September
1950, Indonesia diterima sebagai anggota PBB. Pemerintahan Natsir mengalami keuntungan
ekonomi yang terjadi karena perang Korea,yaitu naiknya harga komoditi. Hal ini membuat
adanya pendapat tentang ekspor dan bea ekspor dari para politisi yang berkuasa
dipemerintahan. Namun menteri perekonomian pada saat itu yaitu Syaffrudin Prawinegara
menolak menggunakan hal-hal semacam itu untuk mendapatkan keuntungan. Kabinet Natsir
lebih berkonsentrasi pada pemulihan kembali perekonomian dan pemuliahan keamanan
negara.
Kabinet Natsir sering disebut dengan Kabinet dagang sapi dengan sifat tawar
menawar. Dalam hal ini yang dimaksud politik dagang sapi ini mencari yang ideal dalam
membentuk kabinet koalisi. Natsir mendapat kesulitan dari partai-partai yang mempunyai
wakil didalam kabinetnya karena ada pula kencaman dari dalam parlemen terhadap kabinet.

Diantara beberapa tuntutan dari partai itu sendiri seperti diadakannya tindak lanjut terhadap
kabinet dan bahkan ada yang meminta untuk membubahkan kabinet Natsir ini.
Sifat tawar-menawar dari pembentukan kabinet Natsir ini hanya akan memperpanjang
waktu dan memperlambat pembentukan kabinet. Sehingga terkadang banyak parti yang
belum siap dengan calon menterinya. Selain itu pemilihan menteri juga didasarkan pada sifat
suka tidak suka yang lebih bersifat keindividualan. Sehinggal hal ini membuat banyak
diantara menteri yang menjadi menteri dulu baru memperdalam bidang yang bersangkutan
yang diberikan kepada menteri ini.
Sukiman berpendapat terhadap kabinet Natsir merupakan zaken kabinet, karena bukan
kabinet yang terdiri dari berbagai partai politik. Sehingga membuat sifat koalisi yang diminta
oleh Presiden dalam kabinet tidak terlaksana dengan baik, dan sistem koalisi juga tidak dapat
dipertahankan.
Adanya campur tangan Presiden dan Tentara dalam kabinet Natsir. Walaupun peran
Presiden tidak terlalu menonjol, namun beliau sering melakukan pembicaraan dengan wakiwakil partai didalam forum. Sedangkan keikut sertaan tentara dalam kabinet ini, seperti
tuntutan dari tentara yang menginginkan adanya pergantian menteri pertahanan yang diganti
oleh otrang nonpartai. Sehingga Natsir tidak mampu untuk menolak masalah itu.
Permasalahan yang sangat penting didalam kabinet Natsir yaitu tentang Irian Barat.
Perundingan yang dilakuakan antara Indonesia dan Belanda pada tanggal 4 Desember 1950
tidak berjalan dengan baik. Dan hal ini membuat opsi tidak percaya dari pihak lain. Krisis
ditambah lagi ketika Hadikusumo dari partai PNI sekitar pencabutan PP No. 39/1950 tentang
pemilihan anggota perwakilan daerah supaya lebih demokratis.
C.

Penyebab Runtuhnya Kabinet Natsir


Dalam sebuah negeri yang masih menunjukkan adanya kemiskinan, rendahnya
tingkat pendidikan, dan tradisi- tradisi otoriter, maka banyak hal bergantung pada kearifan
dan nasib baik kepemimpinan negeri itu. Akan tetapi, sebagian sejarah bangsa Indonesia
sejak tahun 1950 merupakan kisah tentang kegagalan rentetan pimpinan untuk memenuhi
harapan- harapan tinggi yang ditimbulkan oleh keberhasilan mencapai kemerdekaan. Akan
tetapi, pada tahun 1957, percobaan demokrasi pertama ini telah mengalami kegagalan,
korupsi tersebar luas, kesatuan wilayah negara terancam, keadilan sosial belum tercapai,
masalah- masalah ekonomi belum terpecahkan, dan banyak harapan yang ditimbulkan oleh
Revolusi tidak terwujud.
Suatu ketidakefisienan dalam suatu pemerintahan pastilah terjadi. Program- program
yang telah direncanakan oleh pemerintah dan disusun dengan sebaik- baiknya, bisa saja
dalam pelaksanaannya terjadi suatu ketimpangan. Atau bisa juga semua persiapan,
perencanaan, dan pelaksanaan sudah sangat demikian baiknya, namun masih adanya
ketidakpuasan yang dialami oleh masyarakat.
Sistem pemerintahan yang pernah ada di Indonesia tentunya pernah mengalami suatu
masa kejayaan. Akan tetapi, setelah kejayaan tersebut diraih sesuai dengan siklus sejarah
maka suatu pemerintahan akan mengalami suatu penurunan hingga tibalah saat- saat
keruntuhannya. Begitu pula dengan kabinet Natsir, setelah berhasil memimpin dan menata
Indonesia, ada beberapa hal yang menjadi penyebab runtuhnya kabinet Natsir.

Penyebab jatuhnya kabinet Natsir dikarenakan kegagalan kabinet ini dalam


menyelesaikan masalah Irian Barat dan adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut
pencabutan peraturan pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS.
Kabinet natsir didimisioner sejak 21 Maret 1951 dan mengundurkan diri setelah DPR
menerima mosi S. Hadikusumo tentang pencabutan PP Nomor 39/1950 tentang pembekuan
DPRD. Menteri Asaat ( Menteri Dalam Negeri) tidak menyetujui mosi tersebut dan kabinet
sependapat dengan Asaat, maka kemudian mengundurkan diri. Kabinet Natsir mengundurkan
diri karena tidak mau menerima mosi DPR, walaupun Kabinet belum di jatuhi Mosi Tidak
Percaya dari DPR ini menjadi sifat dari Kabinet-kabinet pada masa UUDS 1950, walaupun
sistem yang dianut oleh UUDS 1950 adalah perlementer, dimana parlemen dapat
menggulingkan Kabinet, tetapi sepanjang 1950-1959 kabinet tidak hanya mosi tidak percaya ,
tetapi suara-suara luar kabinet sudah menyebabkan Kabinet mengundurkan diri.

Biografi Kabinet Wilopo

Biografi dan Sekilas Tentang Wilopo


Nama
: Wilopo
Gender
: Laki-laki
Tempat Lahir : Purworejo, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : 1908
Riwayat Karir :
Menteri muda perburuhan kabinet Amir Syarifudin 1 dan kabinet Amir Syarifudin II (1947-1948)
Menteri Perburuhan Kabinet Republik Indonesia Serikat (1949-1950)
Menteri Perdagangan dan Perindustrian kabinet Sukirman-Suwiryo (1951-1952)
Menteri Luar Negeri Kabinet Wilopo (1952)
Perdana Menteri Kabinet Wilopo (1952-1953)
Ketua Konstituante (1955-1959)
Ketua Dewan Pertimbangan Agung Indonesia (1968-1978)
Anggota Komite Empat Tim Pemberantasan Korupsi (1970)
Jabatan dalam kabinet :

Menteri Muda Perburuhan dalam kabinet Amir Syarifudin I masa kerja 3 Juli 1947-11 November
1947
Menteri Muda Perburuhan dalam kabinet Amir Syarifudin II masa kerja 11 November 1947-29
Januari 1948
Menteri Perburuhan dalam kabinet RIS masa kerja 20 Desember 1949-6 Septembern1950
Menteri Luar Negeri dalam kabinet Wilopo masa kerja 3 April 1952-29 April 1952
Sebelum menjadi Perdana Menteri, Wilopo juga pernah menggantikan Ahmad Soebardjo
menjadi menteri Luar Negeri pada tahun 1952. Wilopo merupakan seorang politikus yang berasal dari
partai PNI. Menjadi Perdana Menteri didalam Kabinet ke-3 menggantikan posisi Sukiman
Wiryosanjoyo yang dianggap gagal dalam pemerintahan dikarenakan akibat ditandatanganinya
persetujuan bantuan ekonomi dan persenjataan dari Amerika Serikat kepada Indonesia atas dasar
Mutual Security Act ( MSA ). Peretujuan ini menimbulkan tafsiran bahwa Indonesia telah menyalahi
atauran politik bebas-aktif dan cenderung memasuki Blok Barat. Muncul pertentangan dari partai
lainnya yaitu Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada
kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan
mandatnya kepada presiden. Didalam Kabinet Sukiman ini, hasil kerja yang didapat juga merupakan
hasil kerja lanjutan Kabinet sebelumnya yaitu kabinet Natsir.
Sedikit menyinggung tentang kabinet Sukiman sebelum kita lebih lanjut membahas mengenai
Kabinet Wilopo yang merupakan inti dari makalah ini. Dilihat dari rancangan kerja pada Kabinet
Sukiman, kabinet ini memiliki beberapa program kerja dari beberapa sektor yaitu ekonomi
kemakmuran rakyat yaitu dengan memperbarui Hukum Agraria sesuai dengan kepentingan dan
kebutuhan para petani. Di bidang sosial meliputi persiapan undang-undang tentang pengakuan serikat
buruh, perjanjian kerja sama, penetapan upah minimum dan penyelesaian pertikaian perburuhan.
Sedangkan dibidang pertahanan keamanan menjalankan Negara yang tegas hukum, melindungi
keamanan dan ketentraman warga masyarakat. Dan juga mengenai Pemilu, untuk membentuk
konstituante dan dalam tempo yang singkat. Menjalankan politik luar negri yang bebas dan aktif yang
menuju perdamaian. Menyelenggarakan hubungan Indonesia dan Belanda atas dasar Unie-Statuut,
mempercepat peninjauan kembali hasil-hasil dari KMB. Sedangkan masalah sengketa Irian Barat juga
tidak ketinggalan dimasukkan kedalam program kerja pada kabinet ini, ini merupakan suatu program
kerja yang sulit diselesaikan, terbukti kabinet pertama yaitu kabinet Natsir tidak mampu
menyelesaikan, dan di kabinet Sukiman sendiri terpaksa angkat tangan untuk kasus ini. Tidak hanya
itu, karena sengketa Irian Barat pula lah, Sukiman harus menyerahkan mandatnya kepada Presiden
Sukarno. Di masa Kabinet Sukiman, perselisihan antara Presiden Soekarno dengan pemerintahan
tetap terjadi. Perselisihan itu terjadi karena ketidaksetujuan
Soekarno terhadap persetujan damai dengan Amerika Serikat, begitupun Sukiman yang tetap
mencoba membereskan anggota-anggota PKI. Soekarno sendiri sering dianggap berkoalisi dengan
PKI karena kesamaan ideology antara Soekarno dan PKI yaitu yang sangat membenci neokolin,
imperalisme dan lain sebagainya. Kabinet ini berakhir jatuh pada tanggal 3 April 1952, setelah kurang
lebih 1 tahun bertahan didalam demokrasi liberal.

Ketika Wilopo yang notabene merupakan seorang anggota parlemen dari PNI menjadi
perdana menteri (3 April 1952- 3 Juni 1953). Merupakan koalisi antara PNI dan Partai Masyumi.
Akan tetapi, kedua partai itu pada awalnya kurang respect antar sesama partai untuk bekerjasama.
Yang akhirnya menimbulkan penyusunan kembali kekuatan-kekuatan politik secara besar-besaran.
PNI makin mencurigai motivasi-motivasi keagamaan dari beberapa pimpinan Masyumi dan mencari
sekutu untuk membantunya menunda pemilihan umum, karena merasa takut bahwa Masyumi
mungkin akan meraih kemenangan yang sangat besar.
Proses Terbentuknya Kabinet Wilopo
Kemudian, pada tanggal 1 Maret 1952, Soekarno menunjuk Sidik Joyosukarto dari Partai PNI
dan Prawoto Mangkusasmito dari Partai Masyumi menjadi formatur[1]. Presiden Sukarno meminta
kepada para formatur untuk menyusun kabinet yang kuat dan mendapatkan dukungan cukup dari
parlemen. Usaha ini mengalami kegagalan, karena tidak ditemukannya kesepakatan tentang siapa saja
calon yang akan didudukan didalam kabinet yang baru menggantikan Kabinet Sukiman yang
dianggap telah gagal dalam menjalankan amanatnya.
Terjadi banyak permasalahan dalam kabinet ini, mulai dari adanya krisis moral yang ditandai
dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap lembaga pemerintahan dan sikap hedonisme.
Kemudian masalah Irian barat belum juga teratasi dari saat pemerintahan kabinet Natsir. Ditambah
lagi dengan hubungan Sukiman dengan militer kurang baik tampak dengan kurang tegasnya tindakan
pemerintah menghadapi pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan.
Kejatuhan Kabinet Sukiman merupakan akibat dari ditandatanganinya persetujuan bantuan
ekonomi dan persenjataan dari Amerika Serikat kepada Indonesia atas dasar Mutual Security Act
( MSA ). Peretujuan ini menimbulkan tafsiran bahwa Indonesia telah memasuki Blok Barat, yang
berarti bertentangan dengan prinsip dasar politik luar negri Indonesia yang bebas aktif. Muncul
pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya
pada kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus
mengembalikan mandatnya kepada presiden.
Tanggal 19 Maret, kedua formatur ini mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno.
Presiden pun akhirnya menunjuk Mr. Wilopo (PNI) sebagai seorang formatur yang baru. Pada tanggal
30 Maret Mr. Wilopo mengajukan susunan kabinetnya yang terdiri dari : PNI dan Masyumi masingmasing mendapat jatah 4 orang, PSI 2 orang, PKRI (Partai Katholik Republik Indonesia), Parkindo
(Partai Kristen Indonesia), Parindra (Partai Indonesia Raya). Partai Buruh dan PSII masing-masing
1orang dan golongan orang tak berpartai 3 orang. Dalam menentukan tim di kabinetnya, Wilopo
mengusahakan adanya suatu tim yang dianggapnya sebagai Zaken Kabinet. Zaken Kabinet adalah
kabinet yang ahli didalam bidangnya yang bukan merupakan wakil tunjukan representative dari partai
politiknya sehingga dapat secara bulat mendukung kebijaksanaan pemerintah. Dalam konstelasi
politik saat itu kehadiran partai-partai kecil tetap diperhitungkan agar dapat mencapai mayoritas
dalam parlemen.
Sikap dan posisi partai-partai menjadi lebih jelas lagi selama berlangsungnya perdebatan
dalam DPR mengenai Keterangan Pemerintah Program Kabinet. Pada sidang itu pemerintah tidak

meminta kepercayaan, melainkan hanya memberitahu kepada DPR bahwa pemerintah akan
melanjutkan pekerjaannya kecuali apabila DPR menghendaki lain. Suara yang setuju memberikan
dukungan bekerja kepada kabinet ada 125 suara melawan 5 suara yang tidak setuju, terdiri dari Partai
Murba dan SKI (Sarekat Kerakyatan Indonesia) mengatakan tidak setuju, sedang Fraksi Progresif,
PRN,PIR, Fraksi Demokrat dan beberapa anggota tak berpartai disamping satu dua orang dari
Masyumi abstein. Berdasarkan surat Keputusan Presiden No. 99 Tahun 1952, tanggal 3 April 1952
terbentuk kabinet dengan Perdana Menteri Wilopo dan Wakil Perdana Menteri dijabat oleh Mr.
Prawoto Mangkusasmito dari Partai Masyumi [2].
Keanggotaan Kabinet Wilopo
Di dalam Kabinet Wilopo ini, semua anggotanya merupakan orang-orang yang ahli didalam
bidangnya masing-masing (zaken kabinet).Disini, Wilopo berperan ganda yaitu sebagai Perdana
Menteri dan juga Menteri Luar Negri. Sebelum menjadi seorang Perdana Menteri, mulanya Wilopo
mengawali karir di dalam wilayah perpolitikan adalah pada masa Kabinet Amir Syarifudin 1 dan
kabinet Amir Syarifudin II pada tahun 1947-1948 beliau menjabat sebagai Menteri Muda Perburuhan.
Dan dilanjutkan menjabat sebagai Menteri Perburuhan Kabinet Republik Indonesia Serikat pada tahun
jabatan 1949-1950. Sedangkan didalam Kabinet Sukirman tahun 1951-1952 Wilopo menjabat sebagai
Menteri Perdagangan dan Perindustrian.
Sedangkan Wilopo menunjuk Prawoto Mangkusasmito dari Partai Masyumi sebagai wakil
dalam Kabinetnya. Prawoto juga bukanlah tipe orang yang mementingkan dirinya sendiri. Prawoto
langsung terjun ke dunia politik ketika masih disekolah Menengah, AMS, di Yogyakarta. Ia memasuki
Jong Java sampai menjadi Indonesia Muda. Ia aktif di JIB (Jong Islamiten Bond). Dalam Partai Islam
Indonesia (PII) yang diketuai oleh Dr. Sukiman Wirjosandjojo ia duduk dalam Pengurus Besarnya.
Ketika partai politik Masyumi dibentuk tahun 1945 ia duduk dalam Pimpinan Pusat, kemudian
menjadi Sekretaris Umum dan terakhir tahun1959 sebagai Ketua Umum sebelum Masyumi
dibubarkan oleh Sukarno. Dalam politik pemerintahan, dia menjadi anggota KNIP (1946-1949), dan
di zaman RIS (1949-1950) menjadi ketuanya.
Sebagai Menteri Luar Negeri peranan Wilopo digantikan oleh Mukarto pada 29 April 1952.
Untuk Menteri Dalam Negrinya sendiri, Wilopo mempercayakan kepada Mohamad Roem untuk
menangani. Sebelumnya, Roem juga pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada masa
Kabinet Syahrir (2 Oktober 1946-27 Juni 1947), kemudian beliau juga sukses mewakili atau sebagai
dilegasi Indonesia dalam perundingan Roem-Royen tahun 1949. Di dalam Kabinet Natsir, beliau
menjabat sebagai Menteri Luar Negri (6September 1950-20 Maret 1951).
Menteri Pertahanan diampu oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, kerja sama yang erat
dengan kelompok-kelompok professional dalam pimpinan pusat tentara pulih lagi. Namun,
beliau mengundurkan diri pada tanggal 2 Juni 1953 dan untuk mengisi kekosongannya ini, maka
dijabat oleh Wilopo.Padahal, di Kabinet yang terdahulu atau Kabinet Natsir, beliau menjabat sebagai
Wakil Perdana Menteri. Lukman Wiradinata ditunjuk Wilopo sebagai Menteri Kehakiman. Lukman
Wiradinata juga berjasa atas, Bursa Efek di Jakarta yang diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar
Modal 1952, dan Menteri keuangan (Prof.DR. Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang
diperdagangkan: Obligasi Pemerintah RI (1950) Sedangkan Arnold Mononutu dipercaya sebagai

Menteri Penerangan. Beliau juga pernah menjabat sebagai sebagai Ketua Parlemen Negara Indonesia
Timur. Mononutu begitu beliau lebih dikenal, merupakan anak Minahasa yang memiliki pendirian
kuat untuk tetap teguh pada nasionalisme Indonesia, beliau merupakan anggota dari Perhimpunan
Indonesia, kemudian beliau juga tergabung dalam PNI. Tidak hanya itu, beliau juga mewakili sidang
Konstituante untuk mempertahankan Pancasila khusunya sila pertama. Namun, tak banyak orang yang
mengenal Mononutu. Di Sulawesi Utara,nama beliau digunakan sebgai salah satu nama jalan.
Beralih ke Menteri Keuangan, pada masa Kabinet Wilopo ini yang bertugas sebagai Menteri
adalah Sumitro Joyohadikusumo, merupakan ahli ekonomi di Indonesia. Beliau ini anak dari pendiri
BNI 1946 yaitu Margono Joyohadikusumo makanya tidak salah apabila Wilopo menempatkan beliau
menjadi Menteri Keuangan. Di Indonesia, siapa yang tidak mengenal Prabowo Subianto? Sumitro
Joyohadikusumo merupakan ayah dari Calon Presiden RI tahun 2014 ini, tak salah jika buah jatuh
tidak jauh dari pohonnya. Ayahnya salah satu kontibutor politik di Indonesia dan anaknya pun
mengikuti jejak sang ayah untuk berpartisipasi dalam kancah perpolitikan di Indonesia.
Mohammad Sardjan, Mentri Pertanian. Merupakan salah satu anggota dari Partai
Masyumi daerah Jawa Timur. Untuk Menteri Perdagangan sendiri ditangani oleh Sumanang. Mentri
Perhubungan diamanatkan untuk Djuanda, hal ini cocok disematkan untuk Djuanda karena Djuanda
memimpin para pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari Jepang. Disusul pengambil-alihan
Jawatan Pertambangan, Kotapraja, Keresidenan dan obyek-obyek militer di Gudang Utara Bandung. .
Tidak hanya itu, Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki menteri marathon karena karirnya sejak
awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi
Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa
Demokrasi Terpimpin (1959-1963).
Mentri P.U dan Tenaga dipercayakan kepada Suwarto, dalam Kabinet sebelumnya Kabinet
Sukiman beliau menjabat sebagai Menteri Pertanian. Mentri Perburuhan dikomandani oleh Iskandar
Tedjasukmana, beliau sudah sangat berpengalaman didalam bidang perburuhan. Pada masa Kabinet
Natsir beliau juga dipercaya untuk mengambil alih hingga cabinet selanjutnya pun Iskandar
Tedjakusuma tetap dipercaya untuk menjadi Mentri Perburuhan. Untuk Mentri Sosial sendiri, Wilopo
menunjuk Anwar Tjokroaminoto. Dalam Mentri kabinet Amir Syarifudin II pun beliau berkontribusi
menjadi Menteri Negara. Sayangnya, pada tanggal 9 Mei 1953 putra dari HOS Tjokroaminoto ini
digantikan posisinya oleh Panji Suroso karena Anwar Tjokroaminoto lebih memilih untuk
mengundurkan diri.
Bahder Johan adalah nama salah satu mentri yang ada didalam Kabinet Wilopo, beliau
menjabat sebagai Mentri Pendidikan dan Kebudayaan. Pemuda asal Padang, Sumatera Barat ini
memang layak menjadi menteri, ditilik dari masa mudanya yang aktif terlibat dalam Kongres Pemuda
dan juga salah satu pimpinan Jong Sumatranan Bond, pidatonya yang menyangkut tentang kedudukan
wanita dilarang keras oleh pihak Hindia Belanda. Beliau ini juga mendapat kedudukan yang sama
sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Kabinet Natsir. Sedangkan Menteri Agama
diamantkan kepada Fakih Usman, Fakih Usman sendiri merupakan seorang aktivis Islam di Indonesia
dan politikus dari Partai Masyumi, jabatan sebagai Menteri Keagamaan pernah ia jalani pada masa
Kabinet Halim semasa Republik Indonesia Serikat. Fakih menjadi bendahara. Selama pendudukan

Jepang dan Revolusi Nasional Indonesia, Fakih terus mendalami bidang tersebut. Sekaligus menjalani
dua periode sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, Fakih menjadi lebih berpengaruh di
Muhammadiyah.
Ia berjasa sebagai wakil ketua di bawah beberapa pemimpin sebelum dijadikan Ketua Umum
Muhammadiyah pada akhir tahun 1968. Selama menjabat didalam kabinet Wilopo, Fakih mulai
program dengan reformasi dalam Kementerian Agama, meresmikan tujuan kementerian: untuk
menyediakan guru agama, menjelaskan hubungan menghargai antar-agama yang baik, dan
menentukan tanggal hari raya. Ia juga berusaha untuk meninjau ulang struktur kementerian.
Kementerian juga melanjutkan peningkatan mutu pendidikan agama agar generasi muda pada saat itu
tidak hanya tumbuh akan nasionalisme saja namun diimbangi dengan pendidikan agama yang baik
dan memberangkatkan ribuan jemaah haji yang berangkat dari Indonesia ke Mekkah setiap tahun.
J. Leimena, dipercaya menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada masa Kabinet Wilopo ini.
Dr. Johannes Leimena atau yang sering disebut dengan Leimena , merupakan seorang tokoh nasional
yang berasal dari Indonesia bagian timur yaitu Ambon. Leimena adalah lulusan dari kedokteran
STOVIA Surabaya. Beliau juga merupakan seorang pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
atau GMKI tahun 1950 . Tidak hany itu, Leimena juga aktif dalam bidang politik yaitu Partai Kristen
Indonesia (Parkindo) yang terbentuk di tahun 1945 dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua
umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan
dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di
lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara. Beliau
ini, merupakan satu-satunya menteri di Indonesia yang mampu menjabat selam 21 tahun berturut-turut
tanpa putus. Didalam kabinet-kabinet sebelumnya, Leimena juga diangkat sebagai Menteri Kesehatan,
kemudian kabient-kabinet setelahnya juga mempercayakan Leimena sebagai Menteri Kesehatan yaitu
pada masa Kabinet Burhanudin Harahap dan Menteri Sosial pada masa Kabinet Juanda.

Untuk Menteri Negara (Menteri Urusan Pegawai) sendiri, Wilopo mempercayakan Panji
Suroso. Panji Suroso juga pernah menjabat sebagai gubernur di Jawa Tengah yang pertama yaitu pada
tahun 1945. Sedangkan per tanggal 11 Mei 1953 Menteri Urusan Pegawai ditiadakan dan Pandji
Suroso menggantikan Anwar Tjokroaminoto yang mengundurkan diri pada tanggal 9 Mei 1953
sebagai Menteri Sosial. Pada masa Kabinet Natsir, beliau pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi.
Program Kerja Kabinet Wilopo
Didalam sebuah pemerintahan pastilah dibutuhkan program-program kerja yang telah
dicanangkan dan akan dilakukan. Program-program kerja ini diharapkan mampu untuk menjadikan
Indonesia kearah yang lebih baik daripada kabinet-kabinet sebelumnya. Berikut merupakan susunan
rencana program kerja yang dicanangkan oleh Wilopo selama kabinetnya berlangsung :
Organisasi Negara
Kemakmuran
Keamanan
Perburuhan
Pendidikan dan pengajaran
Luar negeri.

Sebenarnya program-program kabinet Wilopo ini tidak berbeda jauh dengan program yang
dicanangkan oleh kabinet Natsir dan Sukiman.
1.
Organisasi Negara
Melaksanakan pemilu untuk konstituante dan dewan-dewan daerah,

Namun, pemilu konstituante yang demokratis baru ada pada pemilahan umum tahun 1955.
Pelaksanaan pemilu dalam kabinet Wilopo ini sama seperti kabinet sebelumnya, tetap mengalami
kegagalan. Kegagalan ini adalah akibat dari tidak matangnya kegiatan perencanaan sebelum
pelaksanaan pemilu untuk konstituante.

Menyelesaikan penyelenggaraan dan mengisi otonomi daerah. Dalam menyelenggarakan dan


mengisi otonomi daerah ini Kabinet Wilopo bertujuan agar kondisi pemerintahan yang cukup kacau di
daerah-daerah dapat membaik. Serta meningkatkan tingkat kestabilan daerah akibat perekonomian
yang kian menurun.

Menyederhanakan organisasi pemerintah pusat. Hal ini bertujuan agar pengaturan organisasi oleh
kabinet mudah dilakukan. Karena jika organisasi terlalu banyak kontrol akan sulit dilakukan.

Kabinet juga merencanakan untuk memperkecil jumlah birokrasi dan militer. Namun,disini timbul
pertentangan dari PNI yang merasa tidak senang terhadap setiap usaha untuk mengurangi birokrasi,
sedangkan pengurangan-pengurangan yang direncanakan di kalangan militer menimbulkan suatu
konflik yang gawat dalam tubuh tentara.
2.
Kemakmuran
Memajukan tingkat penghidupan rakyat dengan mempertinggi produksi nasional, terutama
bahan makanan rakyat. Tujuan ini berkaitan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat
dibidang ekonomi. Paling tidak rakyat dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya, yaitu
kebutuhan bahan makanan pokok. Melalui usaha peningkatan kemakmuran, rakyat
diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup agar lebih layak yang tentunya akan membantu
meningkatkan upaya pembangunan negara.
Melanjutkan usaha perubahan agraria. Masyarakat Indonesia kala itu mayoritas merupakan
penduduk yang bermata pencahariannya sebagai petani. Dengan melakukan perubahan di
bidang agraria diharapkan rakyat mampu memnuhi kebutuhan hidupnya bahkan dapat
menjual hasil pertaniannya sebagai barang ekspor. Hal ini dibuktikan dengan beberapa
munculnya Undang-Undang ,mengenai ke agrarian antara lain: Undang-Undang Darurat
Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1952 Tentang Pemindahan dan Pemakaian Tanah-Tanah
dan Barang-Barang Tetap Yang Lainnya Yang Mempunyai Titel Menurut Hukum
Eropa.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1952 Tentang Penetapan UndangUndang Nr 6 Tahun 1951 Untuk Mengubah "Grondhuur Ordonantie" (Stbl 1918 Nr 88) dan
"Vorstenlandsch Grondhuurreglement" (Stbl. 1918 Nr 20) Sebagai Undang-Undang.UndangUndang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1953 Tentang Pernyataan Perlunya Beberapa
Tanah Partikelir Dikembalikan Menjadi Tanah Negeri.

Program ekonomi benteng juga diteruskan pada masa kabinet Soekiman (1951-1952) dan kabinet
Wilopo (1952-1953) sekitar 700 pengusaha pribumi mendapat bantuan Kredit akan tetapi tidak
satupun pengusaha pribumi yang berhasil tumbuhmenjadi pengusaha mandiri.
Berusaha mengembalikan kedaulatan Irian Barat kedalam pangkuan Republik Indonesia.
Usaha ini sudah dilakukan dari terbentuknya kebinet pertama, namun selalu mengalami
kegagalan, begitu juga dengan usaha dari Kabinet Wilopo ini. Hal ini juga dampak dari

3.

4.

5.

6.

keagaglan-kegagalan perjanjian-perjanjian yang dilakukan antara Indonesia dengan Belanda.


Indoneis baru berhasil merebut kembali Irian Barat pada tahun 1969.
Keamanan
Menjalankan segala sesuatu untuk mengatasi masalah keamanan dengan kebijaksanaan
sebagai Negara hukum dan menyempurnakan organisasi alat-alat kekuasaan Negara serta.
Hukum menjadi alat utama untuk menstabilkan keamanan negara dari segala bentuk ancaman
baik dari luar maupun dari dalam tubuh negara sendiri, seiring terjadinya berbagai
pemberontakan dari daerah-daerah.
Memperkembangkan tenaga masyarakat untuk menjamin keamanan dan ketentraman.
Masyarakat merupakan komponen penting dalam membentuk sebuah keamanan. Masyarakat
yang tentram dan sadar akan pentinganya kedamaian sangat diperlukan untuk membentuk
sebuah keamanan yang stabil.
Perburuhan
Memperlengkapi perundang-undangan perubahan untuk meninggikan derajat kaum buruh
guna menjamin proses nasional. Profesi buruh sudah menjamur di Indonesia di berbagai
daerah. Banyaknya penduduk yang berprofesi sebagai buruh ini menuntut adanya aturan
formal yang jelas untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Perserikatan buruh juga banyak
terbentuk. Fenomena ini tentunya dapat mengancam kestabilan sistem negara jika tuntutan
buruh tidak terpenuhi.
Pendidikan dan pengajaran
Mempercepat usaha-usaha perbaikan untuk pembaharuan pendidikan dan pengajaran. Sejak
zaman kolonial, kondisi pendidikan dan pengajaran di Indonesia terbilang sangat buruk.
Apalagi sebelum kemerdekaan pendidikan hanya terbatas pada kaum laki-laki dan para
priyayi. Hal ini tentu harus dibenahi, mulai dari sistemnya hingga pada tenaga-tenaga
pendidik yang bersangkutan. Kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang masih sangat
kurang, harus segera di perbaiki, karena sumber daya manusia yang unggul akan mendukung
juga bagi pembangunan nasional.
Luar Negeri
Mengisi politik luar negri yang bebas dengan aktivitas yang sesuai dengan kewajiban kita
dalam kekeluargaan bangsa-bangsa dan dengan kepentingan nasional menuju perdamaian
dunia. Cita-cita Indonesia dalam kancah internasional adalah terciptanya politik luar negeri
yang bebas aktif. Bebas disini berarti tidak memihak pada salah satu blok manapun dalam
menempuh cara sendiri dalam menangani masalah internasional. Kemudian aktif, Indonesia
sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 aktif dalam tujuan melaksanakan
perdamaian dunia dan berpartisipasi meredeka ketegangan internasional. Penyimpangan
politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif muncul pada waktu berlangsungnya Kabinet
Sukiman, yang pada akhirnya menyebabkan kabinet Sukiman mengalami kegagalan. Dari
Kabinet Natsir, Kabinet Sukiman, sampai Kabinet Wilopo menerangkan kepada parlemen
tentang bebas dalam perhubungan luar negeri sebagai kenyataan brhadapan dengan kedua
blok yaitu blok barat dan blok timur. Dasar politik bebas aktif dengan mengingat: (a) paham
tentang niat dan tujuan yang ikhlas dalam keanggotaan PBB. (b) pandangannya tentang
kepentingan negara lain yang menyangkut kepentingan masa pendek atau panjang.

2.5. Kegagalan Program Kerja Kabinet Wilopo


Kegagagalan program kerja dalam kabinet Wilopo disebabkan oleh beberpa
faktor.Pertama, masa kerja kabinet Wilopo terbilang cukup singkat yakini mulai 3 April 1952 hingga
3 Juni 1953, sehingga waktu yang yang ada untuk merealisasikan semua program kerja yang cukup
banyak seperti disebutkan diatas tidak mencukupi. Sebuah program kerja tentunya tidak bisa langsung
terlaksana, melainkan harus melalui beberapa tahapan yang membutuhkan waktu yang cukup lama,
sedangkan masalah-masalah yang terjadi selama kabinet Wilopo berlangsung mengakibatkan kabinet
ini harus mengakhiri masa kerjanya dalam waktu kurang lebih satu tahun. Kedua, musuh yang
dihadapi bangsa Indonesia kala berlangsungnya kabinet ini cukup berat, baik dari dalam negeri
maupun dari luar negeri. Dari dalam negeri, dari dalam kabinet juga muncul pertentangan antara
petinggi-petinggi partai politik, ditambah lagi dengan munculnya pemberontakan dari daerah-daerah
yang merasa tidak mendapatkan haknya dari pemerintah pusat. Sedangkan dari luar negeri, pertikaian
dengan negeri Belanda atas masalah Irian Barat juga menyulitkan Indonesia meraih kembali
kedaulatan atas Irian Barat agar masuk wilayah Indonesia. Sengketa ini berlangsung dalam jangka
waktu yang lama, karena kekuatan dari pihak Belanda yang sangat kuat, bahkan berbagai perjanjian
yang pernah diupayakan tidak mampu menyelesaikan kasus Irian Barat.
Ketiga, dalam tujuan mencapai kemakmuran rakyat, agaknya juga menemui hambatan karena
kondisi perekonomian negara sendiri saat itu juga tengah mengalami penurunan, terjadi banyak kasus
korupsi, serta terjadinya inflasi karena tingginya harga barang import dan rendahnya barang produksi
untuk eksport, yang menyebabkan defisit kas negara.
Keempat, masalah ekonomi dan sosial yang dihadapi bangsa Indonesia setalh kependudukan
Jepang dan Revolusi sangatlah besar. Perkebunan-perkebunan dan isntalasi industry diseluruh penjuru
negeri rusak berat. Mungkin yang paling penting ialah bahwa jumlah penduduk meningkat tajam.
Produksi pangan meningkat namun tidak mencukupi kebutuhan yang ada. Terjadinya berbagai kasus
ledakan penduduk yang signifikan membuat keadaan semakin kacau. Di Jawa, produksi beras
perkapita sedikit menurun dari Tahun 1950-1960.
Maka sejumlah besar import makanan masih diperlukan. Pertanian banyak menyerap tenaga kerja
baru dengan membagi pekerjaan kepada sejumlah buruh yang jumlahnya semakin hari smeakin
meningkat. Tetapi, dengan menurunnya jumlah lahan yang dimiliki banyak keluarga petani tidak lagi
memiliki lahan yang cukup untuk menafkahi hidup mereka dan harus mencari pendapatan mereka
dengan menjadi buruh upahan. Karena didearah desa tanah sudah menjadi sempit, maka terjadilah
urbanisasi untuk mencari penghidupan yang lebih layak.
Keadaan ekonomi menjadi semakin memburuk dengan berakhirnya Perang Korea. Antara bulan
Februari 1951 dan September 1952, harga karet, ekspor nasional yang terpenting turun 71%. Hal ini
juga mengakibatkan pemasukan bagi uang pemerintah merosot tajam. Upaya untuk memperbaiki
neraca perdagangan yang dianggap tidak menguntungkan serta keluarnya cadangan emas dan devisa
maka pemerintah mengankan bea tambahan sebesar 100-200% terhadap impor barang-barang mewah
dan mengurangi pengeluaran. Langkah tersebut memperbaiki dampak yang paling buruk dari krisis
ekonomi, tetapi menimbulkan akibat-akibat yang paling buruk terhadap para pendukung utama PNI.
Masyumi mendukung kebijakan itu, sehingga meningkatkan ketegangan anatra PNI dengan Masyumi.

Berakhirnya Kabinet Wilopo


Koalisi PNI dan Masyumi dalam kabinet Wilopo tidak pernah berjalan denagn baik pada
bulan-bulan di tahun 1953 hakikat koalisi yang ada pun tinggal sedikit dari beberapa jumlah koalisi.
Pada masa kabinet ini, NU menarik diri dari Masyumi dan berubah menjadi partai politik. Perpecahan
itu mengakibatkan ketimpangan yang sangat signifikan, NU merasa lebih mudah untuk bekerjasama
dengan PNI dan PKI, daripada denagn Masyumi. PNI dan PKI pun juga merasa senang karena dapat
berhubungan dengan partai Islam kecuali Masyumi.
Pemerintah saat itu dihadapkan pada keadaan ekonomi yang kritis, terutama karena jatuhnya
harga barang-barang ekspor Indonesia seperti, karet, timah dan kopra, sedang kecenderungan impor
terus meningkat. Karena penerimaan negara akan menurun dalam jumlah yang besar dan karena
banyaknya komitmen-komitmen lama yang harus dipenuhi maka adanya defisit tidak dapat
dihindarkan sekalipun diadakan penghematan-penghwmatan yang drastis. Rencana kenaikan gaji para
pegawai negeri sebesar 20% tetap dilaksanakan, tetapi pembagian jatah beras pegawai terpaksa
dihentikan, sedangkan hadiah lebaran tidak diberikan .[3]
Kesulitan lain yang dihadapi ialah masalah panen yang menurun, sehingga perlu disediakan jumlah
devisa yang lebih besar untuk mengimpor beras. Dalam usaha meningkatkan ekspor yang perlu untuk
memperbaiki situasi neraca pembayaran, pemerintah mengambil langkah menurunkan pajak ekspor
serta menghapus sistem sertifikat yang oleh kabinet sebelumnya diadakan untuk meningkatkan
penerimaaan negara dengan mengorbankan barang-barang yang pada waktu itu kuat pasarannya.
Dilain pihak dilakukan pembatasan impor dengan jalan menaikan pajak terhadap barang-barang nonessensial dan mewajibkan para membayar uang muka sebesar 40%.
Mengenai program kabinet Wilopo terutama ditujukan pada persiapan pelaksanaan Pemilihan
umum (untuk konstituante, DPR, dan DPRD), kemakmuran, pendidikan rakyat, dan keamanan.
Sedang program luar negeri terutama ditujukan pada penyelesaian masalah hubungan IndonesiaBelanda dan pengembalian Irian Barat ke Indonesia serta memajukan politik bebas-aktif menuju
perdamaian dunia. Wilopo bersama dengan kabinetnya berusaha untuk melaksanakan program itu
sebaik-baiknya. Akan tetapi, kesukaran-kesukaran yang harus diselesaikan ialah timbulnya
provinsialisme dan bahkan kapitalisme. ejala tersebut dapat mengancam persatuan dan kesatuan
bangsa. Gejala provinsialisme akhirnya berkembang ke separatisme atau usaha memisahkan diri dari
pusat. Gejala tersebut terwujud dalam berbagai macam pemberontakan, misalnya PRRI atau
Permesta.
Dibeberapa tempat di Sumatera dan Sulawesi timbul rasa tidak puas terhadap pusat. Alasan yang
terutama adalah kekecewaan karena tidak seimbangnya alokasi keuangan yang diberikan oleh Pusat
kepada Daerah. Daerah merasa bahwa sumbangan yang mereka berikan kepada pusat dari hasil
ekspor misalnya lebih besar dari yang mereka dikembalikan oleh Pusat kepada Daerah. Mereka juga
menuntut diperluasnya hak otonomi daerah. Timbul pula perkumpulan-perkumpulan yang
berlandaskan semangat kedaerahan seperti Paguyuban Daya Sunda di Bandung Pertama gerakan
kedaerahan Sunda mulai menunjukkan eksistensinya. Gerakan ini sekalipun lebih banyak
menampakan manifestasinya dalam budaya, namun sebetulnya punya latar belakang
politik. Manifestasi gerakan kedaerahan ini antara lain adalah Gerakan Daya Sunda. Kedua, Jawa

Barat adalah basis Masyumi yang mendominasi parlemen daerah Jawa Barat maupun di Kota Besar
Bandung. Tetapi di sisi lain ada gerakan Darul Islam yang kadang merugikan citra politik Islam
karena keganasannya kerap di luar batas. Meskipun di tingkat pusat NU keluar dari Masyumi karena
persoalan Menteri Agama pada 1952, tetapi di tingkat lokal secara ideologis untuk Jawa Barat kedua
partai ini sebetulnya tidak terlalu berseberangan.
Surat kabar mingguan yang dikelola orang Tionghoa di Jakarta Star Weekly mencermati benar
situasi di Jawa Barat, khususnya di Bandung sejak 1953. Menurut sebuah artikel pada 2 Mei 1953
Masyumi disebutkan berhasrat agar Pemilu menggunakan sistem distrik yang menguntungkan partai
ini terutama di Jawa Barat. Sejak 1953 orang Tionghoa juga mengkhawatirkan apa yang disebut
proviancialistis terutama yang digagas Gerakan Daya Sunda menjadi cukup kuat pada tahun 19521953. Munculnya gerakan ini dituding menimbulkan ketegangan. dan Gerakan Pemuda Federal
Republik Indonesia di Ujangpandang. Keadaan ini tentu membahayakan kehidupan negara Kesatuan
dan merupakan langkah mundur dari Sumpah Pemuda 1928.
Selain soal kedaerahan dan kesukuan, pada tanggal 17 Oktober 1952 timbul soal Angkatan
Darat yang terkenal dengan peristiwa 17 Oktober 1952 . Peristiwa ini ditandai dengan perdebatan
sengit di DPR selama berbulan-bulan mengenal masalah pro dan kontra kebijaksanaan Menteri
Pertahanan dan pimpinan Angkatan Darat. Aksi ini dilakukan dengan penangkapan 6 orang anggota
parlemen. Konflik itu berimbas ke parlemen. Parlemen membahas masalah itu yang kemudian
tercetusnya mosi Manai Sophian. Manai mengusulkan supaya diadakan reorganisasi dan mutasi di
lingkungan Angkatan Perang dan kementrian pertahanan. Mosi itu diterima oleh parlemen. Parlemen
terlalu ikut campur dalam urusan internal tentara. Tentara menolak mosi dengan melakukan tekanan
kepada presiden untuk membubarkan parlemen. Tuntutan itu ditolak presiden[4] . Manai Sopian
Partai awalnya ketika masa pergerakan nasional adalah Parindra (Partai Indonesia Raya) dan ketika
masa Revolusi ia berganti partai menjadi PNI (Partai Nasional Indonesia) yang berideologikan
Marhaenisme Bung Karno . Ia pernah menduduki Sekretaris Jenderal PNI .
Menteri Pertahanan, Sekretaris Jenderal Ali Budihardjo dan sejumlah perwira yang merasa
bertanggung jawab atas Peristiwa 17 Oktober 1952 di antaranya KSAP T.B. Simatupang dan KSAD
A.H. Nasution mengundurkan diri dari jabatannya. Kedudukan Nasution digantikan oleh Bambang
Sugeng. Dengan timbulnya, konflik antar kelompok didalam tubuh tentara maka kekuatan emreka
untuk menghadapi para pemberontak-pemberontak menurun. Kabinet Wilopo kehilangan kepercayaan
akibat kegagalan demobilisasinya. Inti peristiwa ini adalah gerakan sejumlah perwira angkatan darat
guna menekan Sukarno agar membubarkan kabinet. Bahkan pada tanggal 17 Oktober 1952 muncul
demonstrasi rakyat terhadap presiden. Para demonstran itu menuntut kepada presiden agar
membubarkan parlemen serta meminta presiden memimpin langsung pemerintahan sampai
diselenggarakannya pemilu. Namun presiden menolak, dengan alasan bahwa ia tidak mau menjadi
diktator, tetapi mungkin pula khawatir apabila tuntutan tentara dipenuhi ia akan ditunggangi oleh
mereka.
Pada masa Natsir dan Sukiman, perselisihan Soekarno dengan masyumi berada disekitar
pemerintahan, berbeda pula pada masa kabinet Wilopo perdebatan antara masyumi dengan Sukarno
menyangkut pada masalah ideologi dan dasar Negara Indonesia. Hal ini pada awalnya ketika Sukarno
berpidato di Amuntai, Kalimantan Selatan pada tanggal 27 Januari 1953. Pernyataan soekarno
mendapat respon dari beberapa kalangan tidak terkecuali masyumi. Bahkan ketua masyumi Jawa
Barat sangat keras menanggapi pidato Soekarno itu. Beliau mengatakan bahwa pernyataan yang

dilontarkan oleh Soekarno itu menimbulkan konflik ideologi dengan umat Islam yang dianut oleh
sebagian besar umat di Indonesia. Namun, Natsir dan Sukiman tidak terlalu ambil pusing dengan
statement Soekarno tersebut, mereka justru berupaya untuk memperkecil persoalan tersebut. Natsir
mengatakan bahwa munculnya perbedaan itu sebagian akibat dari kekacauan dalam memahmi istilah ,
seperti ideologi Islam atau Negara nasional.[5] Untuk menghindari perdebatan yang panjang, Natsir
meminta agar masalah ini dibahas secara internal masyarakat musllim tidak perlu dimuka umum.
Walaupun,pimpinan-pimpinan masyumi sudah berusaha untuk meredakan dan mendinginkan
situasi, Sukarno tetap mengangkat pembicaraan mengenai hubungan antara Islam dengan Pancasila.
Masalah ini disampaikan Soekarno pada saat kuliah umum di UI tanggal 7 Mei 1953.[6] Sukarno
juga menyatakan bahwa Islam sejalan dengan demokrasi , Pemerintahan yang dipimpin Wilopo dari
PNI dan Prawoto dari Masyumi tidak berlangsung lama karena adanya perbedaan pendapat antara
masyumi dengan PNI dalam memecahkan berbagai masalah, terutama cara menyelesaikan masalah
sengketa Tanjung Morawa.
Kedudukan Kabinet ini semakin terguncang karena adanya Perisiwa Tanjung Morawa yang ada di
Sumatera Utara yang diduduki secara ilegal. Peristiwa Tanjung Morawa adalah peristiwa yang terjadi
di Sumatera Utara pada tanggal 16 Maret 1953. Pada tahun 1953 Pemerintah RI karasidenan Sumatera
Timur merencanakan untuk mencetak sawah percontohan di daerah bekas areal perkebunan tembakau
di desa Perdamaian, Tanjung Morawa. Namun sayangnya, banyak penggarap liar sudah berhasil
menduduki daerah tersebut.
Usaha pemerintah untuk memindahkan mereka dengan cara musyawarah pun gagal karena dihalangi
oleh Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi massa PKI. Oleh karena itu pada tanggal 16 Maret
1953, pemerintah terpaksa menghancurkan wilayah itu dengan dijaga ketat oleh para barisan polisi.
Untuk menghindari penghancuran itu BTI mengajak beberapa massa disekitar Tanjung Morawa.
Mereka bersifat brutal sehingga aparat kepolisian pun mengeluarkan tembakan dan menyebabkan
banyak korban luka-luka dan ada pula yang hingga tewas. Akibat peristiwa Tanjung Morawa
muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Sehingga Wilopo
harus mengembalikan mandatnya pada presiden pada tanggal 2 Juni 1953. Setelah Wilopo
menyerahkan mandat, dikalangan partai politik terutama Masyumi dan PSI mengusulkan untuk
membentuk kabinet presidensil dibawah pimpinan M.Hatta, namun Soekarno menolak usul tersebut
dan tetap mencari formatur untuk membentuk kabinet yang baru.