Anda di halaman 1dari 36

RESUME BIOKIMIA

Pengertian

Biokimia merupakan ilmu yang mempelajari berbagai molekul dalam sel hidup
serta organisme hidup, dan dengan reaksi kimianya.
1.

SEL
Sel dapat dikelompokkan menjadi dua kelas besar yaitu prokariot dan eukariot.
Sel Prokariotik adalah organisme kecil bersel tunggal seperti bakteri dan algae biru
kehijau-hijauan. Sebagian besar sel prokariotik mengandung semua perangkat biokimia
yang diperlikan untuk reproduksi diri sendiri dan untuk mengambil dam memanfaatkan
energi dan bahan-bahan yang ada disekelilingnya. Sel eukariotik merupakan sel yang
jauh lebihrumit dari pada prokariot. Eukariot lebih besar dalam ukuran seluruhnya dari
pada prokariot, dan kita dapat mengamati bahwa didalm sel eukariotik terdapat banyak
unsure yang teratur yang mempunyai fungsi-fungsi khusus. Sel eukariotik mencakup
semua sel hewan tingkat tinggi, sel tumbuhan, jamur, sebagian alga dan protozoa.
Sel dapat dikelompokkan berdasarkan cara sel tersebut mengambil energi
dari lingkungannya.
a. Sel ototrofik
Sel ototrfik adalah pemberi makan sendiri dalam arti sel ini dapat
memanfaatkan CO2 sebagai sumber karbon dan sinar matahari sebagai sumber
energi. Semua sel fotosinterik adalah ototrofik karena sel itu dapat mengubah sinar
matahari menjadi energi kimia yang tersimpan dalam molekul organic dengan
ukuran sangat kecil.
b.

Sel heterofilik
Sel elektrofilik memakan yang lain karena sel ini memperoleh energi dari
lingkungan dengan menerima dan memecahkan molekul organik berukuran kecil
dan kaya akan energi. Kebanyakan mikroorganisme dan semua sel hewan adalah
heterofilik.

Bagian-bagian dari sel eukariotik (sel hati manusia) :


a.

Inti sel
Inti sel merupakan pusat pengetur berbagai aktifitas sel. Nukleus mengandung
DNA dalam jumlah yang besar yang disebut Gen. Gen yang terdapat pada
kromosom berfungsi untuk sintesa RNA yang mengatur karateristik dari protein
yang diperlukan untuk berbagai aktifitas enzimatik serta mengatur reproduksi sel.
Inti sel terdiri atas nukleolus, nukleoplasma dan membran inti sel.
Membran dari inti sel terdiri 2 lapis, dimana lapisan luar berhubungan
dengan membran retikulum endoplasma. Pada membran inti sel terdapat porus
yang mempunyai diameter yang cukup besar sehingga dapat dilalui oleh molekul
protein yang disintesa dalam inti sel.
Pada nukleoplasma terdapat nukleoli yang tidak mengandung membran.
Nukleolus mengandung banyak RNA dan protein, dan ukurannya bertambah
besar bila sedang aktif mensintesa protein. Gen mengatur sintesa protein dan
RNA dan menyimpannya dalam nukleolus. RNA dan protein ini akan ditransport
keluar menuju sitoplasma melalui porus yang terdapat pada membran inti sel.
DNA yang terdapat pada kromoson merupakan struktur double stranded yang
terdiri dari :
1. Gugus fosfatbeda ini
2. Gugus pentose (gula) yaitu deoksiribosa
3. Basa nitrogen yaitu purine : adenine, guanine, pirimidine, sitosine dan
thymine.
Gugus posfat dan pentose membentuk struktur fisik DNA, sedangkan 4 basa
yang berbeda ini membawa informasi genetik. Pada DNA, adenin selalu berikatan
dengan thymine dan guanin selalu terikat dengan sitosine.
Karena DNA berlokasi pada inti sel sedang hampir semua aktifitas sel terjadi
pada sitoplasma, maka dibentuklah RNA yang dapat berdifusi menuju sitoplasma
untuk mengatur sintesa protein yang spesifik. Proses pembentukan RNA diatur
oleh DNA melalui proses transkripsi.
Perbedaan struktur RNA dari DNA adalah bahwa pada RNA pentosenya
adalah ribosa dan gugus basa yang berikatan dengan adenin adalah urasil (tidak
ada thymine) Proses pembentukan RNA terjadi di bawah pengaruh enzim RNA
polymerase. Setelah dibentuk RNA akan dilepas ke nukleoplasma. Terdapat 3

jenis RNA yang dibentuk oleh DNA, dimana tiap jenis RNA mempunyai fungsi
yang berbeda yaitu :
1. Messenger RNA (mRNA), berfungsi membawa kode genetik ke sitoplasma
untuk mengatur sintesa protein.
2. Transfer RNA (tRNA) untuk transport asam amino menuju ribosom untuk
digunakan menyusun molekul protein.
3. Ribosomal RNA (rRNA) untuk membentuk ribosom bersama dengan 75
protein lainnya.
Bila molekul mRNA kontak dengan ribosom, maka akan dibentuklah
molekul protein disepanjang ribosom. Proses pembentukan molekul ini
disebut translasi. Jadi pada ribosom terjadi proses kimia penyusunan asam amino
untuk membentuk protein.
b. Retikulum Endoplasma
Retikulum endoplasma merupakan organel yang tersusun oleh membran yang
terbentuk seperti jala. Retikulum sendiri berasal dari kata reticular yang berarti anyaman
benang atau jala. Letaknya memusat pada bagian dalam sitoplasma (endoplasma), sehingga
disebut sebagairetikulum endoplasma (RE). Membran Retikulum Endoplasma merupakan
kelanjutan dari membran nukleus hingga ke membran plasma. Jadi, RE merupakan saluran
penghubung antara nukleus dengan bagian luar sel.
Dalam sel terdapat dua tipe retikulum endoplasma sebagai berikut.

1)

Retikulum Endoplasma Kasar


Permukaan retikulum endoplasmanya diselubungi oleh ribosom yang tampak
berbintil-bintil sehingga disebut Retikulum Endoplasma kasar. Ribosom adalah tempat
sintesis protein. Protein ini akan ditampung oleh RE kasar yaitu dalam rongga RE.

2)

Retikulum Endoplasma Halus


Retikulum Endoplasma halus adalah RE yang tidak ditempeli ribosom sehingga
permukaannya halus.

Fungsi Retikulum Endoplasma

Retikulum

endoplasma

mempunyai

beberapa

fungsi

sebagai

berikut.

Mensintesis lemak dan kolesterol (RE kasar dan RE halus).

Menampung protein yang disintesis oleh ribosom untuk disalurkan ke kompleks


Golgi dan akhirnya dikeluarkan dari sel (RE kasar).
Transportasi molekul-molekul dari bagian sel yang satu ke bagian sel yang lain
(RE kasar dan RE halus).

Menetralkan racun (detoksifikasi), misalnya RE yang ada di dalam sel-sel hati.


c. Membrane sel
Membran sel sering juga disebut membran plasma. Membran sel merupakan bagian
paling luar yang membatasi isi sel dengan sekitarnya (kecuali pada sel tumbuhan, bagian
luarnya masih terdapat dinding sel atau cell wall).
Membran sel berupa lapisan luar biasa tipisnya. Tebalnya kira-kira 8 nm. Dibutuhkan
8000 membran sel untuk menyamai tebal kertas yang biasa kita pakai untuk menulis.
Lipid dan protein merupakan bahan penyusun utama dari membran, meskipun
karbohidrat juga merupakan unsur penting. Gabungan lipid dan protein dinamakan
lipoprotein. Saat ini model yang dapat diterima untuk penyusunan molekul-molekultersebut
dalam membran ialah model mosaik fluida.
Pada 1895, Charles Overton mempostuatkan bahwa membran terbuat dari lipid,
berdasarkan pengamatannya bahwa zat yang larut dalam lipid memasuki sel jauh lebih
cepat dari pada zat yang tidak larut dalam lipid. 20 tahun kemudian, membran yang
diisolasi dari sel darah merah dianalisis secara kimiawi ternyata tersusun atas lipid dan
protein, yang sekaligus membenarkan postulat dari Overton.
Fosfolipid merupakan lipid yang jumlahnya paling melimpah dalam sebagian besar
membran. Kemampuan fosfolipid untuk membentuk membran disebabkan oleh struktur
molekularnya. Fosfolipid merupakan suatu molekul amfipatik, yang berarti bahwa molekul
ini memiliki daerah hidrofilik (menykai air) maupun daerah hidrofobik (takut dengan air).
Berdasar struktur tersebut maka membran sel bersifat semi permeable atau selektif
permeable yang berfungsi mengatur masuk dan keluarnya zat dari sel.
Struktur membran sel yaitu model mozaik fluida yang dikemukakan oleh Singer dan
Nicholson pada tahun 1972. Pada teori mozaik fluida membran merupakan 2 lapisan lemak
dalam bentuk fluida dengan molekul lipid yang dapat berpindah secara lateral di sepanjang
lapisan membran. Protein membran tersusun secara tidak beraturan yang menembus lapisan
lemak. Jadi dapat dikatakan membran sel sebagai struktur yang dinamisdimana komponenkomponennya bebas bergerak dan dapat terikat bersama dalam berbagai bentuk interaksi
semipermanen Komponen penyusun membran sel antara lain adalah fosfolipid, protein,
oligosakarida, glikolipid, dan kolesterol. komponen muchus membran sel semipermanen di
lapisan membran
Dua lapis lipid
Bagian ini membutuhkan pengembangan
Komponen utama membran sel terdiri atas fosfolipid, selain itu terdapat senyawa lipid
seperti sfingomyelin, kolesterol, dan glikolipida. Fosfolipid memiliki dua bagian yaitu bagian
yang bersifat hidrofilik dan bagian yang bersifat hidrofobik. Bagian hidrofobik merupakan
bagian yang terdiri atas asam lemak. Sedangkan bagian hidrofilik terdiri atas gliserol, fosfat, dan
gugus tambahan seperti kolin, serin, dan lain-lain. Penamaan fosfolipid dan sifat masing-masing

akan bergantung pada jenis gugus tambahan yang dimiliki oleh fosfolipid. Jenis-jenis fosfolipid
penyusun membran sel antara lain adalah : fosfokolin (pc), fosfoetanolamin (pe), fosfoserin (ps),
dan fosfoinositol (pi). Secara alami di alam fosfolipid akan membentuk struktur misel (struktur
menyerupai bola) atau membran lipid 2 lapis. Karena strukturnya yang dinamis maka komponen
fosfolipid di membran dapat melakukan pergerakan dan perpindahan posisi. Pergerakan yang
terjadi antara lain adalah pergerakan secara lateral (Pergerakan molekul lipid dengan tetangganya
pada monolayer membran) dan pergerakan secara flip flop (Tipe pergerakan trans bilayer).
Protein integral membran
Bagian ini membutuhkan pengembangan
Protein ini terintegrasi pada lapisan lipid dan menembus 2 lapisan lipid / transmembran.
Protein integral memiliki domain membentang di luar sel dan di sitoplasma. Bersifat amfipatik,
mempunyai sekuen helix protein, hidrofobik, menembus lapisan lipida, dan untaian asam amino
hidrofilik. Banyak diantaranya merupakan glikoprotein, gugus gula pada sebelah luar sel. Di
sintesis di RE, gula dimodifikasi di badan golgi.
Kerangka membran
Kerangka membran atau disebut juga sitoskeleton mempunyai tiga macam jenis yaitu
mikrotubulus, mikrofilamen,dan filamen intermediet.
Sistem transpor membran
Salah satu fungsi dari membran sel adalah sebagai lalu lintas molekul dan ion secara dua
arah. Molekul yang dapat melewati membran sel antara lain ialah molekul hidrofobik (CO2, O2),
dan molekul polar yang sangat kecil (air, etanol). Sementara itu, molekul lainnya seperti molekul
polar dengan ukuran besar (glukosa), ion, dan substansi hidrofilik membutuhkan mekanisme
khusus agar dapat masuk ke dalam sel.
Banyaknya molekul yang masuk dan keluar membran menyebabkan terciptanya lalu lintas
membran. Lalu lintas membran digolongkan menjadi dua cara, yaitu dengan transpor pasif untuk
molekul-molekul yang mampu melalui membran tanpa mekanisme khusus dan transpor aktif
untuk molekul yang membutuhkan mekanisme khusus.
Transpor pasif
Transpor pasif merupakan suatu perpindahan molekul menuruni gradien konsentrasinya.
Transpor pasif ini bersifat spontan. Difusi, osmosis, dan difusi terfasilitasi merupakan contoh
dari transpor pasif. Difusi terjadi akibat gerak termal yang meningkatkan entropi atau
ketidakteraturan sehingga menyebabkan campuran yang lebih acak. Difusi akan berlanjut selama
respirasi seluler yang mengkonsumsi O2 masuk. Osmosis merupakan difusi pelarut melintasi
membran selektif yang arah perpindahannya ditentukan oleh beda konsentrasi zat terlarut total
(dari hipotonis ke hipertonis). Difusi terfasilitasi juga masih dianggap ke dalam transpor pasif
karena zat terlarut berpindah menurut gradien konsentrasinya.

Contoh molekul yang berpindah dengan transpor pasif ialah air dan glukosa. Transpor pasif
air dilakukan lipid bilayer dan transpor pasif glukosa terfasilitasi transporter. Ion polar berdifusi
dengan bantuan protein transpor.
Transpor aktif
Transpor aktif merupakan kebalikan dari transpor pasif dan bersifat tidak spontan. Arah
perpindahan dari transpor ini melawan gradien konsentrasi. Transpor aktif membutuhkan
bantuan dari beberapa protein. Contoh protein yang terlibat dalam transpor aktif ialah channel
protein dan carrier protein, serta ionophore.
Yang termasuk transpor aktif ialah coupled carriers, ATP driven pumps, dan light driven
pumps. Dalam transpor menggunakan coupled carriers dikenal dua istilah, yaitu simporter dan
antiporter. Simporter ialah suatu protein yang mentransportasikan kedua substrat searah,
sedangkan antiporter mentransfer kedua substrat dengan arah berlawanan. ATP driven
pump merupakan suatu siklus transpor Na +/K+ ATPase. Light driven pump umumnya ditemukan
pada sel bakteri. Mekanisme ini membutuhkan energi cahaya dan contohnya terjadi pada
Bakteriorhodopsin.
d. Mitokondria
Pengertian
Pada biologi sel, mitochondrion (jamak mitokondria) merupakan organel. Variannya
sering ditemukan pada sel-sel eukariot. Mitokondria biasanya di deskripsikan sebagai
cellular power plants karena dia menguraikan materi organik menjadi energi berupa ATP
melalui proses fosforilasi oksidatif. Biasanya tiap sel mengandung ratusan atau ribuan
mitokondria, dan menempati 25% sitoplasma.
Struktur mitokondria
Mitokondrion terdiri atas membran luar dan membran dalam yang terdiri atas lipid
bilayer dan protein. Kedua membran tersebut, biasanya mempunyai bagian yang berbeda.
Karena memiliki oganisasi membran ganda, dia memiliki 5 bagian yang berbeda di dalam
mitokondria, yaitu membran luar, ruang intermembran, membran dalam, ruang cristae dan
matrik. Range mitokondria berukuran 1 sampai 10 mikrometer.
Fungsi mitokondria
Walaupun telah diketahui bahwa mitokondria merubah materi organik menjadi energi
sel yang berupa ATP, mitokondria memerankan peranan penting pada proses metaboik,
yaitu:
Apoptosis : proses kematian sel
Glutamate : memediasi exitotoxic neuronal injury
Proliferasi sel
Regulasi sel
Sintesis heme

Sintesis steroid
Adapun fungsi mitokondria hanya untuk tipe sel yang spesifik. Mutasi pada regulasi
gen menghasilkan kerusakan mitokondria.
Pengubah energi
Peran utama dari mitokondria adalah memproduksi ATP yang direfleksikan oelh
membran dalam. Hasil oksidasi dari proses glikolisis berupa piruvat dan NADH dan
diproduksi dalam sitosol. Ini merupakan proses respirasi sel, juga dikenal sebagai respirasi
aerob, yang membutuhkan adanya oksigen.
Energi redok dari NADH dan FADH2 diubah menjadi okasigen dengan beberapa
langkah melalui transfer elektron. Protein komplek pada membran dalam berfungsi
mentransfer dan menghasilkan energi yang digunakan untuk memompa proton (H+) ke
ruang intermembran.
Asal
Mitokondria berisi ribosom dan DNA, dan satu-satunya yang dibentuk oleh divisi
mitokondria yang lain, umumnya disepakati bahwa mitokondria itu merupakan derivat dari
endosimbiosis prokariot.
Replikasi dan pewarisan gen
Mitokondria mereplikasi DNA nya dan membagi sebagian besar respon energi yang
dibutuhkan oleh sel, dengan kata lain, divisi dan pertumbuhannya tidask berhubungan
dengan cell cycle. Ketika energi dibutuhkan oleh sel dalam jumlah yang banyak,
mitokondria akan tumbuh dan selanjutnya memisah. Ketika energi yang dibutuhkan sedikit,
maka mitokondria akan dirusak atau tidak diaktifkan. Pada divisi sel, mitokondria di
distribusikan kepada keturunannya secara acak dalam jumlah sedikit atau banyak.
Mitokondria adalah badan energi sel yang berisi protein dan benar-benar merupakan
gardu tenaga. Gardu tenaga ini mengoksidasi makanan dan mengubah energi menjadi
adenosin trifosfat atau ATP. ATP menjadi agen dalam berbagai reaksi termasuk sistesis
enzim. Mitokondria penuh selaput dalam yang tersusun seperti akordion dan meluaskan
permukaan tempat terjadinya reaksi.
e.

Badan golgi
Hubungannya dengan fungsi pengeluaran sel amat erat, pembuluh mengumpulkan dan
membungkus karbohidrat serta zat-zat lain untuk diangkut ke permukaan sel. Pembuluh itu
juga menyumbang bahan bagi pembentukan dinding sel.
Pengertian lain menyebutkan, Badan golgi adalah sekelompok kantong (vesikula)
pipih yang dikelilingi membran. Organel ini hampir terdapat di semua sel eukariotik. Setiap
sel hewan memiliki 10 hingga 20 badan golgi, Organel ini dihubungkan dengan fungsi
ekskresi sel. Organel ini banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi
ekskresi, misalnya ginjal.

Sedang pada sel tumbuhan memiliki hingga ratusan badan golgi pada setiap selnya.
Golgi pada tumbuhan biasanya disebut diktiosom. Badan golgi dibangun oleh membran
yang berbentuk tubulus dan juga vesikula. Dari tubulus dilepaskan kantung-kantung kecil
yang berisi bahan-bahan yang diperlukan seperti enzimenzim pembentuk dinding sel.
Fungsi badan golgi:
1)

Membentuk kantung (vesikula) untuk sekresi. Terjadi terutama pada sel-sel kelenjar
kantung kecil tersebut, berisi enzim dan bahan-bahan lain.

2)

Membentuk membran plasma. Kantung atau membran golgi sama seperti membran
plasma. Kantung yang dilepaskan dapat menjadi bagian dari membrane plasma.

3)

Membentuk dinding sel tumbuhan.

4)

Fungsi lain ialah dapat membentuk akrosom pada spermatozoa yang berisi enzim untuk
memecah dinding sel telur dan pembentukan lisosom.

f.

Sitoplasma
1) sitoplasma: suatu cairan sel dan segala sesuatu yang larut di dalamnya,
kecuali nukleus (inti sel) dan organela.
2) Sitoplasma yang berada di dalam inti sel disebut nukleoplasma.
3) Sitoplasma bersifat koloid kompleks, yaitu tidak padat dan tidak cair.
4) Sifat koloid sitoplasma ini dapat berubahubah tergantung kandungan air.
Jika konsentrasi air tinggi maka koloid akan bersifat encer yang disebut
dengan sol, sedangkan jika konsentrasi air rendah maka koloid bersifat
padat lembek yang disebut dengan gel.
5) tersusun atas air yang di dalamnya terlarut mikromolekul, makromolekul,
ion-ion dan bahan hidup (organela)
6) Bagian yang merupakan lingkungan dalam sel adalah matrik sitoplasma.
7) terdapat organela,Tiap-tiap organela mempunyai struktur dan fungsi
khusus.

2. METABOLISME KARBOHIDRAT
a.

GLIKOLISIS : glukosa dimetabolisme menjadi piruvat (aerob)menghasilkan energi


(8ATP)atau laktat (anerob)menghasilkan 2 ATP). selanjutnya Asetil-KoA > siklus
Krebs > fosforilasi oksidatif > rantai respirasi > CO2 + H2O (30 ATP)

b. GLIKOGENESIS :proses perubahan glukosa menjadi glikogen. Di Hepar : untuk


mempertahankan kadar gula darah, sedangkan di Otot : kepentingan otot sendiri.
c.

GLIKOGENOLISIS : proses perubahan glikogen menjadi glukosa

d. JALUR PENTOSA FOSFAT : hasil ribosa untuk sintesis nukleotida, asam nukleat
dan equivalent pereduksi (NADPH) (biosintesis asam lemak dll.)
e.

GLUKONEOGENESIS : senyawa non-karbohidrat (piruvat, asam laktat, gliserol,


asam amino glukogenik) > glukosa

f.

TRIOSA FOSFAT : bagian gliseol dari TAG (lemak)

g. PIRUVAT & SENYAWA ANTARA SIKLUS KREBS : untuk sintesis asam amino >
Asetil-KoA > untuk sintesis asam lemak & kolesterol > steroid
3. ASAM LEMAK
Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak
nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup.
Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan
dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena
lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida).
Fungsi lemak dalam tubuh dikenal sebagai :
- Bahan bakar metabolisme seluler
- Merupakan bagian pokok dari membran sel
- Sebagai mediator atau second massenger aktivitas biologis antar sel
- Sebagai isolasi dalam menjaga keseimbangan temperatur tubuh dan melindungi
organ-organ tubuh
- Pelarut vitamin A, D, E, dan K agar dapat diserap tubuh.
Sedangkan asam lemak tak jenuh mempunyai fungsi yang lebih kompleks , antara
lain : sebagai bioregulator endogen, misalnya dalam pengaturan homeostasis ion,
transkripsi gen, signal transduksi hormon, mensintesis lemak, serta mempengaruhi
pembentukan protein.
Berdasarkan struktur kimianya, asam lemak dapat dibedakan menjadi asam lemak
jenuh (saturated fatty acids=SFAs) yaitu asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap.
Sedangkan asam lemak yang memiliki ikatan rangkap disebut sebagai asam lemak tidak
jenuh (unsaturated fatty acids), asam lemak tak jenuh ini masih dibedakan lagi menjadi
dua kelompok besar yaitu Monounsaturated fatty acids (MUFAs), dimana ikatan ikatan
rangkapnya hanya satu, dan Polyunsaturated fatty acids (PUFAs) dimana ikatan
rangkapnya lebih dari satu.

PUFAs dibedakan lagi menjadi dua bagian besar yaitu : asam lemak Omega-6 Cis
dan asam lemak Omega-3 Cis (berdasarkan letak ikatan rangkapnya pada ikatan karbon
nomor berapa dilihat dari gugus omega ).
Penambahan lemak dalam makanan memberikan efek rasa lezat dan tekstur makanan
menjadi lembut serta gurih. Di dalam tubuh, lemak menghasilkan energi dua kali lebih
banyak dibandingkan protein dan karbohidrat, yaitu 9 kkal/gram lemak yang dikonsumsi.
Dalam mengkaji hubungan antara diet lemak dengan penyakit jantung perlu diperhatikan
proporsi energi yang berasal dari lemak serta jenis lemak yang dikonsumsi.
Dianjurkan konsumsi lemak sebesar 30% atau kurang untuk kebutuhan kalori setiap
harinya, yang terdiri dari 10% asam lemak jenuh, 10% asam lemak tak jenuh tunggal dan
10% asam lemak tak jenuh ganda.
Secara umum lemak hewani umumnya banyak mengandung asam lemak jenuh
(SFAs=Saturated fatty acids),sementara lemak nabati lebih banyak mengandung asam
lemak tak jenuh tunggal (MUFAs= Monounsaturated fatty acids) maupun ganda
(PUFAs=Polyunsaturated fatty acids) kecuali minyak kelapa.
4. METABOLISME LIPID
Pengertian Metabolisme Lemak (Lipid)
Metabolisme lipid meliputi oksidasi asam lemak, sintesis asam lemak, sintesis
kolesterol, dan transportasi lipid.
Lemak yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral,
yaitu trigliserid (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari
pencernaan lipid adalah asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa
monogliserid. Karena larut dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju
hati. Asam-asam lemak rantai pendek juga dapat melalui jalur ini. Struktur miselus.
Bagian polar berada di sisi luar, sedangkan bagian non polar berada di sisi dalam.
Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka
diangkut oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel
epitel usus (enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk
menjadi trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron.
Selanjutnya kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena
kava, sehingga bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan
menuju hati dan jaringan adiposa.

Struktur

kilomikron.

trigliserida Simpanan

Perhatikan

trigliserida

fungsi

pada

kilomikron

sitoplasma

sel

sebagai
jaringan

pengangkut
adiposa

Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam
lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali
menjadi simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi.
Sewaktu-waktu jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam
lemak dan gliserol, untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi
energi. Proses pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut
ditransportasikan oleh albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai asam
lemak bebas (free fatty acid/FFA).
Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan
gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak
mengalami esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai
cadangan energi jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari
karbohidrat barulah asam lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus
memecah cadangan trigliserida jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan
lipolisis.
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA.
Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil
KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi.
Di sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami
lipogenesis menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami
kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis
membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi
menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini
dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan
asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.
GAMBAR METABOLISME LEMAK
Metabolisme lipid meliputi oksidasi asam lemak, sintesis asam lemak, sintesis
kolesterol, dan transportasi lipid.
1. Oksidasi Beta Asam Lemak Berlangsung di mitokondria, menghasilkan banyak ATP.
Sebelum dioksidasi, di sitosol, asam lemak diaktifkan dulu menjadi asetil-KoA yaitu
asam lemak + KoA + ATP menjadi asetil-KoA + AMP + PPi. Kemudian asetil-KoA

ditransport masuk ke matriks mitokondria dalam bentuk berikatan dengankarnitin


(asil-karnitin). Di dalam matriks karnitin dilepaskan dan terbentuk asetil-KoA lagi.
Pada oksidasi, tiap kali 2 atom C dibebaskan dalam bentuk asetil-KoA, dimulai dari
ujung karboksil dihasilkan NADH & FADH2. Oksidasi terjadi pada C- beta (atom C
ke-3 dari ujung karboksil) sehingga disebut oksidasi beta. Dari proses oksidasi Beta
Asam Lemak dihasilkan: asetil-KoA, FADH dan NADH.Selanjutnya asetil-KoA
dioksidasi menjadi CO2 di TCA menghasilkan ATP serta NADH dan FADH2 yang
lebih banyak.
2. Sintesis Asam Lemak,
Reaksi utama yang paling berperan adalah transasetilasi terdiri dari proses
kondensasi, reduksi, dehidrasi, dan direduksi kembali. Regulasi sintesis asam lemak,
diregulasi secara Allosterik yakni: distimulasi oleh sitrat, diinhibisi oleh palmitoil
KoA, tingginya proses beta oksidasi atau esterifikasi membatasi jumlah TG. Sintesis
asam lemak diinduksi oleh insulin dan direpresi glukagon.
Insulin dalam proses sintesis ini berfungsi: (1) merangsang LPL dengan
meningkatkan uptake asam lemak dari kilomikron dan VLDL; (2) merangsang
glikolisis dengan meningkatkan sintesis gliserol fosfat; (3) meningkatkan proses
esterifikasi; (4) menginduksi HSL fosfatase untuk menginaktifkan HSL; (5)
penyimpanan TG (net effect). Pada saat kelaparan atau beraktivitas, hormon glukagon
dan epinefrin mengaktivasi adenilil siklase untuk meningkatkan cAMP, mengaktivasi
protein kinase A, aktivasi HSL sehingga terjadi mobilisasi TG (net affect) dan asam
lemak yang meningkat. Sintesis badan keton di lemak terjadi pada saat kelaparan dan
aktivitas yang berat karena makin tingginya produksi asam lemak, aktivitas HSL yang
tinggi. Tingginya asam lemak yang diproduksi di hati dijadikan energy KB dari
oksidasi asam lemak 7 kcal/g. Lipid tidak larut dalam darah sehingga perlu dibentuk
transport khusus. Asam lemak bebas ditransport dalam bentuk berikatan dengan
albumin. TAG, PL dan kolesterol ditransport dalam bentuk partikel bersama dengan
protein yang disebut lipoprotein. Dalam bentuk lipoprotein, kolesterol, dan lipid
lainnya ditransport ke jaringan. Lipid digunakan yaitu dioksidasi, disimpan, atau
untuk proses sintesis. Terdapat 4 jalur transport lipid, yaitu:
a.

asam lemak dari jaringan adiposa ke jaringan lain (dengan albumin)

b. lipid dari makanan dari usus ke jaringan lain (kilomikron)


c.

lipid yang disintesis dalam tubuh (endogen) dari hati ke jaringan lain (VLDL,
LDL)

d. reverse transport kolesterol dari jaringan ekstrahepatik ke hati untuk diekskresikan


melalui empedu (HDL).
Struktur lipoprotein terdiri dari TAG dan kolesterol ester yang bagian tengah/
intinya hidrofobik yang luarnya dilapisi oleh fosfolipid dan kolesterol bebas
bersama protein (disebut apolipoprotein, apoprotein). Semakin banyak kandungan
protein, semakin besar densitas lipoprotein tersebut, berdasarkan densitasnya
dibagi menjadi: HDL, (IDL), LDL, VLDL, dan kilomikron. Destruksi lipoprotein
diawali dengan pengikatannya pada reseptor di permukaan sel (endositosis),
dilanjutkan

hidrolisis

oleh

lisosom

menjadi

komponen-komponennya.

Kilomikron mengangkut lipid yang diabsorbsi dari usus. VLDL (pre- beta
lipoprotein) mengangkut TAG keluar dari hati. LDL (beta lipoprotein) berasal
dari katabolisme VLDL. HDL (alfa lipoprotein) untuk transport kolesterol ke
jaringan ekstrahepatik ke hati. TAG merupakan lipid utama dalam kilomikron dan
VLDL,

sedangkan

kolesterol

dan

fosfolipid

dalam

LDL

dan

HDL.

Kilomikron merupakan lipoprotein terbesar dan paling ringan karena kaya akan
TAG. Kilomikron disintesis dalam sel epitel usus halus, mengangkut lipid dalam
makanan yang diabsorpsi dari usus ke pembuluh limfe, selanjutnya ke sirkulasi
darah. 80-90% TAG dalam kilomikron diambil jaringan dengan bantuan
enzimlipoprotein lipase (LPL) di sel endotel kapiler jaringan. Setelah kehilangan
TAG kilomikron menjadi kilomikron remnant yang kaya kolesterol kemudian
mengikat pada reseptor di hati mengadakan endositosis, degradasi oleh lisosom
menjadi komponenkomponennya. VLDL dibentuk di hati, mengangkut TAG dan
kolesterol hasil sintesis di hati (endogen) ke jaringan lain (otot, adiposa).
Komponen TAG terutama disintesis dari karbohidrat dalam makanan, juga dari
asupan lemak yang berlebih. Selanjutnya TAG dikemas sebagai VLDL bersama
dengan kolesterol, fosfolipid dan protein menuju sirkulasi. Seperti kilomikron,
VLDL dimetabolisme oleh LPL di endotel kapiler. TAG dihidrolisis oleh LPL.
Asam lemak bebas diambil jaringan (otot, adiposa) kemudian dioksidasi untuk
energi/ diesterifikasi kembali untuk disimpan. Pada keadaan sesudah makan,
asam lemak yang berlebih diambil jaringan adiposa untuk disimpan sebagai TAG.
Setelah kehilangan TAG, VLDL berubah menjadi VLDL remnant. 50% diambil
hati dengan cara endositosis melalui pengikatan dengan reseptor. Sisanya menjadi
IDL setelah kehilangan lebih banyak TAG dan fosfolipid, sehingga LDL yang
kaya akan kolesterol bebas dan ester: 60% diambil hati dengan cara endositosis,

40% diambil jaringan ekstrahepatik dengan cara yang sama kemudian didegradasi
oleh enzim lisosom sehingga kolesterol dilepaskan sebagai kolesterol bebas untuk
inkoporasi ke membran, sintesis hormon steroid atau vitamin D, atau
diesterifikasi untuk disimpan. LDL merupakan sumber kolesterol untuk jaringan
ekstrahepatik. Bila LDL sangat berlebih, sistem ambilan LDL akan jenuh
sehingga LDL yang berlebih dapat diambil oleh makrofag karena makrofag
memiliki

reseptor

lipoprotein

yang

disebut

scavenger

receptor.

HDL, fungsi utamanya mengangkut kelebihan kolesterol dari jaringan perifer ke


hati untuk proses disebut reverse cholesterol transport. Kolesterol bebas yang
diperoleh dari jaringan perifer/ lipoprotein lain diubah menjadi kolesterol ester
(enzim lesitin-kolesterol asil transferase, LCAT) kemudian ditransport ke hati dan
diekskresikan ke empedu dalam bentuk kolesterol maupun sebagai asam/ garam
empedu. Kadar HDL yang tinggi dalam darah merupakan vaskuloprotektif.
Kolesterol

tergolong

lipid,

mempunyai

inti

siklopentanohidrofenantren.

Kolesterol terdapat dalam jaringan, antara lain sebagai komponen struktural


membran. Dalam plasma sebagai lipoprotein, dalam bentuk bebas atau diberikan
dengan asam lemak (kolesterol ester). Kolesterol berfungsi sebagai komponen
membran sel dan prekursor hormon steroid (kortikosteroid, hormon seks dll),
asam/ garam empedu, vitamin D. Kolesterol berperan pada patogenesis
aterosklerosis arteri menyebabkan penyakit serebrovaskuler, koroner dan
pembuluh perifer. Kolesterol dalam tubuh dapat berasal dari makanan atau
disintesis dari asetil- KoA.
3. Sintesis kolesterol
Terutama di hati dan di usus. Semua atom C-nya (27) berasal dari asetil-KoA
yang dapat berasal dari oksidasi karbohidrat, lipid, dan asam amino. Proses ini berasal
dari oksidasi karbohidrat, lipid dan asam amino. Sintesis kolesterol berlangsung di
sitosol dalam 4 tahap, dengan enzim HMG-KoA reduktase sebagai (enzim regulator).
(1) Sintesis mevalonat, dari asetil-KoA: 2 mol asetil-KoA berkondensasi menjadi
asetoasetil-KoA kemudian kondensasi dengan asetil-KoA ketiga membentuk betaOH-beta metilglutaril- KoA (HMG KoA) dengan enzim HMG KoA sintase,
tereduksi menjadi mevalonat, enzim HMG KoA reduktase (enzim regulator). (2)
Konversi mevalonat menjadi 2 isopren aktif (5 atom C). (3) Kondensasi 6 isoprene

aktif menjadi skualen (30 atom C). (4) Perubahan skualen, lanosterol, inti steroid yang
mengandung 4 cincin segi enam.
4. Transport kolesterol
Transport kolesterol dalam bentuk lipoprotein, Kilomikron mengangkut kolesterol
dari usus (berasal dari makanan) ke hati. VLDL, LDL, mengangkut kolesterol dari
hati ke jaringan. Kolesterol diekskresikan ke dalam empedu dalam bentuk kolesterol
atau asam/ garam empedu menjadi feses. Sebagian asam/ garam empedu mengalami
sirkulasi enterohepatik. Sel jaringan mendapat kolesterol dengan mensintesis sendiri
(endogen) atau dari LDL (eksogen). Hiperkolesterolemia (peningkatan kolesterol
LDL) merupakan faktor resiko terjadi aterosklerosis dan komplikasinya yaitu penyakit
jantung koroner (CHD), infark miokard akut, stroke, dll. Aterosklerosis koroner
berkaitan dengan rasio kolesterol LDL: HDL plasma yang tinggi.
5. SISTEM PERNAFASAN

Biokimia Sistem Pernafasan, Respirasi


Biokimia Sistem Pernapasan: Pengangkutan O2 & CO2 dalam Darah
O2 yang telah berdifusi dari alveoli ke dalam darah paru akan ditranspor dalam
bentuk gabungan dengan hemoglobin ke kapiler jaringan, dimana O2 dilepaskan untuk
digunakan sel. Dalam jaringan, O2 bereaksi dengan berbagai bahan makanan,
membentuk sejumlah besar CO2, yang masuk ke dalam kapiler jaringan dan ditranspor
kembali ke paru.
Tekanan O2 Dan Co2 Dalam Paru, Darah Dan Jaringan
Gas dapat bergerak dengan cara difusi, yang disebabkan oleh perbedaan tekanan. O2
berdifusi dari alveoli ke dalam darah kapiler paru karena PO2 alveoli > PO2 darah paru.
Lalu di jaringan, PO2 yang tinggi dalam darah kapiler menyebabkan O2 berdifusi ke
dalam sel. Selanjutnya, O2 dimetabolisme membentuk CO2. PCO2 meningkat, sehingga
CO2 berdifusi ke dalam kapiler jaringan. Demikian pula, CO2 berdifusi keluar dari
darah, masuk ke alveoli karena PCO2 darah kapiler paru lebih besar.
Protein Heme
1.

Protein heme berfungsi dalam pengikatan dan pengangkutan O2, serta fotosintesis.
Gugus prostetik heme merupakan senyawa tetrapirol siklik, yang jejaring
ekstensifnya terdiri atas ikatan rangkap terkonjugasi, yang menyerap cahaya pada
ujung bawah spektrum visibel sehingga membuatnya berwarna merah gelap.
Senyawa tetrapirol terdiri atas 4 molekul pirol yang dihubungkan dalam cincin

planar oleh 4 jembatan metilen-. Substituen menentukan bentuk sebagai heme


atau senyawa lain. Terdapat 1 atom besi fero (Fe2+) pada pusat cincin planar, yang
bila teroksidasi, akan menghancurkan aktivitas biologik.
Mioglobin merupakan rantai polipeptida tunggal (monomerik), BM 17.000,
memiliki 153 residu aminoasil. Permukaan luarnya bersifat polar dan bagian
dalamnya nonpolar. Bentuknya sferis, dan ia kaya akan heliks-, yang strukturnya
diberi nama heliks A sampai H. Ketika berikatan dengan O2, ikatan antara 1 molekul
O2 dengan Fe2+ berada tegak lurus dengan bidang heme. Sebenarnya CO
membentuk ikatan dengan 1 heme tunggal 25.000x lebih kuat daripada O2, namun
histidin distal (His E7) merintangi pengikatan CO tegak lurus, sehingga kekuatan
ikatannya menjadi 200x lebih besar daripada O2. Mioglobin otot merah menyimpan
O2, yang dalam keadaan kekurangan akan dilepas ke mitokondria otot untuk sintesis
ATP.
2.

Hemoglobin merupakan protein dalam eritrosit, yang berfungsi untuk:


a) mengikat dan membawa O2 dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh
b) mengikat dan membawa CO2 dari seluruh jaringan tubuh ke paru-paru memberi
warna merah pada darah
c) mempertahankan keseimbangan asam basa dari tubuh.
Hemoglobin merupakan protein tetramer kompak yang setiap monomernya
terikat pada gugus prostetik heme, dengan BM 64.450 Dalton. Tetramernya
terdiri dari 2 subunit, yaitu dan .
PENGANGKUTAN O2
O2 yang diangkut darah terdapat dalam 2 bentuk, yang terlarut dan terikat secara
kimia dengan Hb. Jumlah O2 terlarut plasma darah berbanding lurus dengan tekanan
parsialnya dalam darah. Pada keadaan normal, jumlah O2 terlarut sangat sedikit,
karena kelarutannya dalam cairan tubuh sangat rendah. Pada PO2 darah 100mmHg,
hanya + 3 mL O2 yang terlarut dalam 1 L darah. Dengan demikian, pada keadaan
istirahat, jumlah O2 terlarut yang diangkut hanya + 15 mL/menit. Karena itu,
transpor O2 yang lebih berperan adalah dalam bentuk ikatan dengan Hb.
Hb dapat mengikat 4 atom O2 per tetramer (1 @ subunit heme), atom O2 terikat
pada atom Fe2+, pada ikatan koordinasi ke-5 heme. Hb yang terikat pada O2 disebut
oksihemoglobin (HbO2) dan yang sudah melepaskan O2 disebut deoksihemoglobin.
Hb dapat mengikat CO menjadi karbonmonoksidahemoglobin (HbCO), yang

ikatannya 200x lebih besar daripada dengan O2. Dalam keadaan lain, Fe2+ dapat
teroksidasi menjadi Fe3+ membentuk methemoglobin (MetHb). Yang menyebabkan
O2 terikat pada Hb adalah jika sudah terdapat molekul O2 lain pada tetramer yang
sama. Jika O2 sudah ada, pengikatan O2 berikutnya akan lebih mudah. Sifat ini
disebut kinetika pengikatan komparatif, yaitu sifat yang memungkinkan Hb
mengikat O2 dalam jumlah maksimal pada organ respirasi dan memberikan O2
secara maksimal pada PO2 jaringan perifer. Pengikatan O2 disertai putusnya ikatan
garam antar residu terminal karboksil pada keseluruhan 4 subunit. Pengikatan O2
berikutnya dipermudah karena jumlah ikatan garam yang putus menjadi lebih
sedikit. Perubahan ini mempengaruhi struktur sekunder, tersier dan kuartener Hb,
sehingga afinitas heme terhadap O2 meningkat. Setiap atom Fe mampu mengikat 1
molekul O2 sehingga tiap molekul Hb dapat mengikat 4 molekul O2. Hb dikatakan
tersaturasi penuh dengan O2 bila seluruh Hb dalam tubuh berikatan secara maksimal
dengan O2. Kejenuhan Hb oleh O2 sebanyak 75% bukan berarti 3/4 bagian dari
jumlah molekul Hb teroksigenasi 100%, melainkan rata-rata 3 dari 4 atom Fe dalam
setiap molekul Hb berikatan dengan O2. Faktor terpenting untuk menentukan %
saturasi HbO2 adalah PO2 darah. Menurut hukum kekekalan massa, bila konsentrasi
substansi pada reaksi reversibel rneningkat, reaksi akan berjalan ke arah berlawanan.
Bila diterapkan di reaksi reversibel Hb& O2, maka peningkatan PO2 darah akan
mendorong reaksi kekanan, sehingga pembentukan HbO2 (% saturasi HbO2)
meningkat. Sebaliknya penurunan PO2, menyebabkan reaksi bergeser ke kiri, O2
dilepaskan Hb, sehingga dapat diambil jaringan.
PENGANGKUTAN CO2
CO2 yang dihasilkan metabolisme jaringan akan berdifusi ke dalam darah dan
diangkut dalam 3 bentuk, yaitu:
Daya larut CO2 dalam darah CO2 terlarut > O2, namun pada PCO2 normal,
hanya +10% yang ditranspor berbentuk terlarut.
Ikatan dengan Hb dan protein plasma
+30% CO2 berikatan dengan bagian globin dari Hb, membentuk HbCO2
(karbaminohemoglobin). Deoksihemoglobin memiliki afinitas lebih besar terhadap
CO2 dibandingkan O2. Pelepasan O2 di kapiler jaringan meningkatkan kemampuan
pengikatan Hb dengan CO2. Sejumlah kecil CO2 juga berikatan dengan protein
plasma (ikatan karbamino), namun jumlahnya dapat diabaikan. Kedua ikatan ini
merupakan reaksi longgar dan reversibel.

60-70% total CO2. Ion HCO3 terbentuk dalam eritrosit melalui reaksi: CO2 + H2O
H2CO3 H+ + HCO3
Ion HCO3
Setelah melepas O2, Hb dapat langsung mengikat CO2 dan mengangkutnya dari
paru untuk dihembuskan keluar. CO2 bereaksi dengan gugus -amino terminal
hemoglobin, membentuk karbamat dan melepas proton yang turut menimbulkan
efek Bohr. Konversi ini mendorong pembentukan jembatan garam antara rantai
dan , sebagai ciri khas status deoksi. Pada paru, oksigenasi Hb disertai ekspulsi,
kemudian ekspirasi CO2. Dengan terserapnya CO2 ke dalam darah, enzim karbonik
anhidrase dalam eritrosit akan mengkatalisis pembentukan asam karbonat, yang
langsung berdisosiasi menjadi bikarbonat dan proton. Membran eritrosit relatif
permeabel bagi ion HCO3, namun tidak untuk ion H. Akibatnya, ion HCO3
berdifusi keluar eritrosit mengikuti perbedaan konsentrasi, tanpa disertai difusi ion
H. Untuk mempertahankan pH tetap netral, keluarnya ion HCO3 diimbangi dengan
masuknya ion Cl ke dalam sel, yang dikenal sebagai chloride shift. Ion H di dalam
eritrosit akan berikatan dengan Hb. Karena afinitas deoksihemoglobin terhadap ion
H > O2, sehingga walaupun jumlah ion H dalam darah meningkat, pH relatif tetap
karena ion H berikatan dengan Hb. Fenomena pembebasan O2 dari Hb yang
meningkatkan kemampuan Hb mengikat CO2 dan ion H dikenal sebagai efek
Haldene.Dalam paru, proses tersebut berlangsung terbalik, yaitu seiring terikatnya
Hb dan O2, proton dilepas dan bergabung dengan bikarbonat, sehingga terbentuk
asam karbonat. Dengan bantuan enzim karbonik anhidrase, asam karbonat
membentuk gas CO2 yang dihembuskan keluar. Jadi, pengikatan O2 memaksa
ekspirasi CO2. Fenomena ini dinamakan efek Bohr.
KURVA SATURASI / DISOSIASI
Kurva saturasi melukiskan pengambilan dan pelepasan O2. Kurva untuk mioglobin
bersifat hiperbolik, sedangkan kurva untuk hemoglobin berbentuk sigmoid.
Kurva disosiasi HbO2 Hubungan kejenuhan HbO2 dengan PO2 darah tidak
berbentuk linier, melainkan sigmoid (kurva disosiasi). Proses pengikatan O2 oleh Hb
terjadi dalam 4 tahap, tiap tahap melibatkan 1 atom Fe berbeda. Ikatan O2 dengan 1
atom Fe akan memfasilitasi reaksi pengikatan O2 - Fe berikutnya, akibatnya afinitas
Hb untuk O2 makin meningkat. Tahap reaksi pengikatannya.
Afinitas tertinggi terdapat pada reaksi ke-4. Bentuk kurva disosiasi yang mendatar
pada PO2 yang tinggi disebabkan afinitas yang sangat meningkat pada reaksi ke-4.

Bagian kurva yang datar sesuai untuk kisaran PO2 antara 60-100 mmHg. Pada
kisaran tersebut, peningkatan/penurunan PO2 darah hampir tidak mempengaruhi
kejenuhan HbO2. Sebaliknya, pada kisaran 0-60 mmHg, perubahan kecil pada PO2
akan memberi dampak cukup besar terhadap kemampuan Hb mengikat O2. Bagian
kurva yang datar maupun yang curam memiliki makna fisiologi yang penting.
Darah yang meninggalkan paru mempunyai PO2 +97rnmHg. Dan pada kurva
disosiasi HbO2 tampak bahwa kejenuhan HbO2 mencapai 97,5% (hampir tersaturasi
penuh). Bila terjadi penurunan PO2 sebesar 40% (PO2= 60 mmHg), kadar O2
terlarut dalam darah juga turun 40%. Namun kemampuan Hb mengikat O2 masih
+90%, sehingga kandungan O2 total darah masih cukup tinggi. Sebaliknya, bila PO2
darah meningkat menjadi 760 mmHg (bernapas dengan O2 murni), kejenuhan Hb
dengan O2 dapat mencapai 100%. Dengan demikian, pada kisaran 60-760 mmHg,
perubahan jumlah O2 yang diangkut Hb +10%. Bagian curam kurva disosiasi HbO2
terletak pada kisaran PO2 antara 0-60 mmHg, sesuai keadaan di kapiler pembuluh
sistemik (keseimbangan PO2 dengan cairan jaringan +40 mmHg). Pada tekanan ini,
kemampuan Hb mengikat O2 +75%. Dengan demikian, sekitar 22,5% HbO2 akan
terurai menjadi deoksihemoglobin dan O2. O2 yang dibebaskan ini akan diambil
jaringan untuk kebutuhan metabolismenya. Bila metabolisme jaringan meningkat,
PO2 turun dan saturasi HbO2 +30%, berarti sekitar 45% HbO2 akan terurai lagi.
Dengan demikian, pada kisaran PO2 < 60 mmHg, penurunan PO2 sedikit saja dapat
membebaskan sejumlah besar O2 untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan
yang meningkat. Kurva disosiasi HbO2 standar berlaku pada suhu dan pH tubuh
normal (suhu 37C dan pH 7,4). Afinitas Hb terhadap O2 dipengaruhi beberapa
faktor yang dapat menyebabkan pergeseran kurva disosiasi, yaitu: a. pH dan PCO2
penurunan pH/peningkatan PCO2 darah menyebabkan pergeseran kurva disosiasi
HbO2 ke kanan. Artinya pada PO2 yang sama, lebih banyak O2 yang dibebaskan
(afinitas Hb terhadap O2 menurun). Kedaan ini berlangsung di kapiler pembuluh
sistemik. Difusi CO2 dari jaringan ke darah akan meningkatkan keasaman darah di
kapiler sistemik, sehingga jumlah O2 yang dibebaskan dari Hb lebih besar daripada
bila penurunan % saturasi HbO2 hanya disebabkan berkurangnya PO2 darah kapiler
saja. Pengaruh peningkatan CO2 atau keasaman terhadap peningkatan pelepasan O2
dikenal sebagai efek BOHR. CO2 & ion H mampu membentuk ikatan reversibel
dengan Hb, sehingga menurunkan afinitasnya terhadap O2. Peningkatan
pH/penurunan PCO2 darah menyebabkan kurva disosiasi bergeser ke kiri. Hal ini

terjadi di kapiler paru, dimana sejumlah besar CO2 berdifusi ke dalam alveol.
Afinitas Hb terhadap O2 meningkat, sehingga lebih banyak O2 yang diikat Hb untuk
PO2 yang sama. b. Suhu Efek peningkatan suhu serupa dengan efek peningkatan
keasaman; kurva bergeser ke kanan. Kerja otot atau peningkatan metabolisme sel
menghasilkan panas, sehingga memperbesar pelepasan O2 dari Hb untuk memenuhi
kebutuhan jaringan. c. 2,3-bifosfogliserat (2,3-BPG) 2,3-BPG terdapat dalam
eritrosit, dibentuk dalam metabolismenya. 1 molekul 2,3-BPG terikat per tetramer
Hb di dalam rongga tengah yang dibentuk keempat subunit. Rongga tengah ini
cukup untuk BPG, hanya bila molekul Hb berbentuk T/deoksigenasi. Zat ini
membentuk

ikatan

garam

dengan

subunit

sehingga

menstabilkan

deoksihemoglobin, dan dapat menurunkan afinitas Hb terhadap O2. Peningkatan


2,3-BPG menggeser kurva disosiasi HbO2. Akibatnya kadar 2,3-BPG meningkat
bertahap bila saturasi HbO2 rendah untuk jangka waktu lama. Perubahan fisiologi
yang menyertai pemajanan berkepanjangan terhadap ketinggian mencakup
peningkatan jumlah eritrosit, konsentrasi Hb dan konsentrasi 2,3-BPG. Peningkatan
konsentrasi 2,3-BPG menurunkan afinitas hemoglobin terhadap O2 (menurunkan
P50/ tekanan parsial O2 yang menjadikan Hb separuh tersaturasi), sehingga
meningkatkan kemampuan Hb untuk melepas O2 di jaringan. Kurva disosiasi CO2
Kandungan CO2 total dalarn darah adalah jumlah ketiga bentuk CO2 yang telah
diuraikan sebelumnya, yang nilainya bergantung pada besar PCO2. Hubungan antara
konsentrasi CO2 dan PCO2 dinyatakan sebagai kurva disosiasi CO2. Kurva tersebut
juga dipengaruhi oleh pH darah, sehingga letak kurva ini pada darah arteri (darah
teroksigenasi)

lebih

ke

kanan

dibandingkan

dalam

darah

vena

(darah

terdeoksigenasi). Hal ini disebabkan karena HbO2 bersifat lebih asam daripada
deoksihemoglobin. Maka di dalam darah kapiler sistemik, dimana kandungan HbO2
lebih rendah, kemampuan pengangkutan CO2 untuk PCO2 yang sama akan
meningkat. Perbedaan utama kurva disosiasi CO2 dan HbO2 adalah tidak
terbatasnya kemampuan pengikatan CO2 oleh darah. Makin tinggi PCO2, makin
banyak jumlah pembentukan ion bikarbonat. Oleh sebab itu, kandungan CO2 dalam
darah tidak dinyatakan dalam % saturasi, melainkan dalarn mL C02 / mL darah
(mmol/L).
F. METABOLISME HEME

Heme adalah senyawa besi forfirin yang terdapat dalam Hemoglobin eritrosit

Eritrosit 120 hari mati dikatabolisme dihati

Eritrosit Hemoglobin Heme + Globin (protein, digunakan lagi oleh tubuh)

Heme Forfirin + Besi (digunakan lagi)


METABOLISME HEME
Metabolisme Heme dilaksanakan di sel retikuloendotel pada hati, limpa & sumsum

tulang

Katabolisme heme dilaksanakan oleh enzim komplek yang disebut Oksigenase heme

Heme Forfirin biliverdin bilirubin

Bilirubin yang terbentuk dalam jaringan perifer akan diangkut kedalam hati oleh
albumin plasma

TIGA PROSES METABOLISME HEME


1.

Pengambilan bilirubin oleh sel perenkim hati

2.

Konjugasi bilirubin dalam retikulum endoplasma hati

3.

Ekskresi bilirubin terkonjugasi kedalam empedu


PENGAMBILAN BILIRUBIN OLEH SEL HATI

Bilirubin hasil metabolisme eritrosit oleh hati, limpa & sumsum tulang disebut
Bilirubin Indirex

Sifat Bilirubin Indirex tidak larut air non polar

Agar dapat larut air harus diolah di Hati dikonjugasikan dengan asam glukoronat
KONJUGASI BILIRUBIN (DALAM HATI)

Bilirubin Indirex dibuat larut air dan polar dengan cara direaksikan dengan asam
glukoronat dikonjugasikan

Tempat konjugasi di sel sinusoid hepar Hasil Bilirubin Direx/ Konjugasi

Bilirubin Direx larut air dan bersifat polar

Diekskresikan empedu

EKSKRESI BILIRUBIN (KE EMPEDU)

Bilirubin Direx masuk empedu transport aktif

Bilirubin Direx bersama getah empedu yang lain masuk duodenum

Di duodenum Bilirubin Direx direduksi bakteri usus Urobilinogen (tidak berwarna)


di colon dioksidasi oleh flora colon Urobilin (kuning) memberi warna Feses
(sterkobilinogen)
PERJALANAN BILIRUBIN DALAM USUS HALUS

Sebagian Urobilin diabsorbsi oleh usus halus masuk darah diekskresi lewat
ginjal memberi warna urine
IKTERUS

Kenaikan kadar bilirubin dalam darah (>1mg/dl) disebut hiperbilirubinemia

Hiperbilirubinemia > (2 2,5 mg/dl) akan berdifusi kedalam jaringan kulit


kuning, keadaan ini disebut Jaundice / Ikterus
PENYEBAB IKTERUS

1.

Prehepatik ( misal : anemia hemolitik )

2.

Hepatik ( misal : hepatitis )

3.

Post hepatik ( misal : obstruksi ductus koledukus )


IKTERUS FISIOLOGIK NEONATORUM

Terjadi akibat hemolisis yang lebih cepat serta pengambilan, konjugasi serta sekresi
bilirubin yg belum sempurna (fungsi hati belum sempurna).

Terapi dengan penyinaran belum diketahui mekanismenya, tetapi dengan penyinaran


bilirubin tak terkonjugasi berubah menjadi fragmen maleimida dan isomer geometrik yang
diekskresikan kedalam empedu
ANEMIA HEMOLITIK

Eritrosit banyak rusak/lisis Bilirubin Indirex meningkat di darah


Hiperbilirubinemia Ikterus

Konjugasi di hepar normal Bilirubin Direx normal

Hasil Laboratorium:

Bilirubin Indirex darah meningkat,

Bilirubin urine negative


HEPATITIS

Sel hati rusak konjugasi terganggu bilirubin direx menurun, bilirubin Indirex
menumpuk didarah ikterus

Sel hati rusak Obstruksi ductus hepaticus Bilirubin direx Refluk kedarah
Ginjal Urine

Hasil Laboratorium:

Bilirubin Indirex darah meningkat,

Bilirubin urine positif


OBSTRUKSI DUCTUS KOLEDUKUS

Obstruksi sal empedu Bilirubun Direx tidak dapat masuk duodenum reflux ke
hati ke darah ginjal Urine

Hasil laboratorium:

Bilirubin Direx darah meningkat

Bilirubine urine positif

G. DARAH
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat
tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh,
mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh
terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan
kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
1. Darah Manusia

Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang
diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut
zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan
melalui darah.
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila
kekurangan

oksigen.

Warna

merah

pada

darah

disebabkan

oleh hemoglobin, protein

pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat
terikatnya molekul-molekul oksigen.
Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh
darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan
sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu
dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh
saluran pembuluh darah aorta. Darah mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah
yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava
superiordan vena cava inferior.
Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing
ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.
2. Komposisi

Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari
darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel darah merah yang
dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang lain berupa cairan
kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah.
Korpuskula darah terdiri dari:

Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).


Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel
dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah
merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit
menderita penyakit anemia.

Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%)


Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.

Sel darah putih atau leukosit (0,2%)


Leukosit

bertanggung

jawab

terhadap sistem

imun tubuh

dan

bertugas

untuk

memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau
bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang

kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit
menderita penyakit leukopenia.
Susunan Darah. serum darah atau plasma terdiri atas:
1. Air: 91,0%
2. Protein: 8,0% (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen)
3. Mineral: 0.9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium, fosfor, magnesium
dan zat besi, dll)
Plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung :

albumin

bahan pembeku darah

immunoglobin (antibodi)

hormon

berbagai jenis protein

berbagai jenis garam

H. METABOLISME ASAM AMINO

Asam amino adalah salah satu senyawa yang ada didalam tubuh makhluk hidup yang
diantaranya hewan dan manusia yang berguna untuk sebagai sumber bahan utama
pembentukan

protein

dalam

tubuh.

Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (COOH) dan amina (biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit:
keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau ). Gugus
karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk
larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan
menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi
zwitter-ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena
salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein.
Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus
amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari
residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino
dengan asam amino lainnya.

Atom C pusat tersebut dinamai atom C ("C-alfa") sesuai dengan penamaan senyawa
bergugus karboksil, yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh
karena gugus amina juga terikat pada atom C ini, senyawa tersebut merupakan asam amino.
Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut
menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah,
basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar.
Isomerisme pada asam amino Dua model molekul isomer optis asam amino alanina
Karena atom C pusat mengikat empat gugus yang berbeda, maka asam aminokecuali
glisinamemiliki isomer optik: l dan d. Cara sederhana untuk mengidentifikasi isomeri ini
dari gambaran dua dimensi adalah dengan "mendorong" atom H ke belakang pembaca
(menjauhi pembaca). Jika searah putaran jarum jam (putaran ke kanan) terjadi urutan
karboksil-residu-amina maka ini adalah tipe d. Jika urutan ini terjadi dengan arah putaran
berlawanan jarum jam, maka itu adalah tipe l. (Aturan ini dikenal dalam bahasa Inggris
dengan

nama

CORN,

dari

singkatan

COOH

NH2).

Pada umumnya, asam amino alami yang dihasilkan eukariota merupakan tipe l meskipun
beberapa siput laut menghasilkan tipe d. Dinding sel bakteri banyak mengandung asam
amino

tipe

d. Polimerisasi

asam

amino

Protein merupakan polimer yang tersusun dari asam amino sebagai monomernya. Monomermonomer ini tersambung dengan ikatan peptida, yang mengikat gugus karboksil milik satu
monomer dengan gugus amina milik monomer di sebelahnya. Reaksi penyambungan ini
(disebut translasi) secara alami terjadi di sitoplasma dengan bantuan ribosom dan tRNA.
Pada polimerisasi asam amino, gugus -OH yang merupakan bagian gugus karboksil satu
asam amino dan gugus -H yang merupakan bagian gugus amina asam amino lainnya akan
terlepas dan membentuk air. Oleh sebab itu, reaksi ini termasuk dalam reaksi dehidrasi.
Molekul asam amino yang telah melepaskan molekul air dikatakan disebut dalam bentuk
residu
Asam amino dalam bentuk

asam
tidak

terion

amino.
(kiri) dan

dalam bentuk zwitter-ion.

Karena asam amino memiliki gugus aktif amina dan karboksil sekaligus, zat ini dapat
dianggap sebagai sekaligus asam dan basa (walaupun pH alaminya biasanya dipengaruhi oleh
gugus-R yang dimiliki). Pada pH tertentu yang disebut titik isolistrik, gugus amina pada asam

amino menjadi bermuatan positif (terprotonasi, NH3+), sedangkan gugus karboksilnya


menjadi bermuatan negatif (terdeprotonasi, COO-). Titik isolistrik ini spesifik bergantung
pada jenis asam aminonya. Dalam keadaan demikian, asam amino tersebut dikatakan
berbentuk zwitter-ion. Zwitter-ion dapat diekstrak dari larutan asam amino sebagai struktur
kristal putih yang bertitik lebur tinggi karena sifat dipolarnya. Kebanyakan asam amino bebas
berada dalam bentuk zwitter-ion pada pH netral maupun pH fisiologis yang dekat netral.
I.

SUHU TUBUH
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan
fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan
regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang
diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi
suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik
ini terjadi bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang
disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37C.
apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang untuk melakukan
serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan
meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap.

Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah


1. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :
a. Vasodilatasi
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini
disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan
vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan
pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak.
b. Berkeringat
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis,
yaitu 37C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi.
Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak
sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar.
Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang
kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus
melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf
kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat
mengeluarkan keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.
c. Penurunan pembentukan panas

Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil dihambat
dengan kuat.
2. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun, yaitu :
a. Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh
Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.
b. Piloereksi
Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri.
Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya bulu ini akan
berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.
c. Peningkatan pembentukan panas
Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil, pembentukan
panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.

Penjalaran Sinyal Suhu Pada Sistem Saraf


Sinyal suhu yang dibawa oleh reseptor pada kulit akan diteruskan ke dalam otak melalui jaras
spinotalamikus (mekanismenya hamper sama dengan sensasi nyeri). Ketika sinyal suhu sampai di tingkat
medulla spinalis , sinyal akan menjalar dalam traktus Lissauer beberapa segmen di atas atau di bawah, dan
selanjutnya akan berakhir terutama pada lamina I, II dan III radiks dorsalis.
Setelah mengalami percabangan melalui satu atau lebih neuron dalam medulla spinalis, sinyal suhu
selanjutnya akan dijalarkan ke serabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral sisi
berlawanan, dan akan berakhir di tingkat reticular batang otak dan komplek ventrobasal thalamus.
Beberapa sinyal suhu pada kompleks ventrobasal akan diteruskan ke korteks somatosensorik.

Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh


1. Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang
diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait
dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat.
Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan
untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya,
rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi
epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.
3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme
sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone tiroid

Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga
peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan
normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari
pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh
sekitar 0,3 0,6C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap
peningkatan suhu 10C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 30%. Hal ini terjadi
karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan
demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain
itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak
merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga
kecepatan jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen
otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga
38,3 40,0 C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, daat menyebabkan mekanisme
regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi
dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit
juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau
berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi
suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah
dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung
banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total
curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan
demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.

Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit


1. Radiasi

Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah.
Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20 mikrometer.
Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme
kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas.
Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di
pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit,
suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan
udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.
2. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di
sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan
dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu
kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan
dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara
efektif terus menerus.
3. Evaporasi
Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram
air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada
kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 600 ml/hari.
Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 16 kalori per jam.
Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus
menerus melalui kulit dan system pernafasan.
Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan konduksi.
Namun ketika suuhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dari lingkungan
melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh melepaskan panas adalah melalui
evaporasi.
Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual ( yang dapat
diukur ) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses
kehilangan panas tubuh dari lingkungan.
4. Usia
Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek
tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas
melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil
(non-shivering thermogenesis). Secara umum, proses ini mampu meningkatkan metabolisme hingga lebih
dari 100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini dapat terjadi karena pada neonatus banyak terdapat
lemak coklat. Mekanisme ini sangat penting untuk mencegah hipotermi pada bayi.

J. keseimbangan asam-basa

Keseimbangan asam basa adalah homeostasis dari kadar hidrogen (H+) pada cairan tubuh.
Asam terus menerus diproduksi dalam metabolisme yang normal. Asam adalah suatu subtansi
yang mengandung satu atau lebih ion H+ yang dapat dilepaskan dalam larutan (donor proton).
Salah satu dari asam kuat adalah asam hidroklorida (HCL), hampir terurai sempurna dalam
larutan, sehingga melepaskan lebih banyak ion H+. Asam lemah, seperti asam karbonat
(H2CO3), hanya terurai sebagian dalam larutan sehingga lebih sedikit ion H+ yang dilepaskan.
pH adalah pencerminan rasio antara asam terhadap basa dalam cairan ekstrasel. pH dalam
serum dapat diukur dengan pH meter, atau dihitung dengan mengukur konsentrasi bikarbonat
dan karbondioksida serum dan menempatkan nilai-nilainya ke dalam persamaan Henderson
Hasselbach.
pH = pK + log H- /CO2
Proses metabolisme dalam tubuh menyebabkan terjadinya pembentukan dua jenis asam ,
yaitu mudah menguap (volatil) dan tidak mudah menguap (non volatil). Asam volatil dapat
berubah menjadi bentuk cair maupun gas.
Basa adalah subtansi yang dapat menangkap atau bersenyawa dengan ion hidrogen
sebuah larutan (akseptor proton). Basa kuat, seperti natrium hidroksida (NaOH), terurai
dengan mudah dalam larutan dan bereaksi kuat dengan asam. Basa lemah seperti natrium
bikarbonat (NaHCO3), hanya sebagian yang terurai dalam larutan dan kurang bereaksi kuat
dengan asam.
Pengaturan ion hidrogen yang tepat bersifat penting karena hampir semua aktifitas sistem
enzim dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen. Oleh karena itu perubahan
konsentrasi hidrogen sesungguhnya merubah fungsi seluruh sel dan tubuh. Konsentrasi ion
hidrogen

dalam

cairan

tubuh

normalnya

dipertahankan

pada

tingkat

yang

rendah,dibandingkan dengan ion-ion yang lain,konsentrasi ion hidrogen darah secara normal
dipertahankan dalam batas ketat suatu nilai normal sekitar 0,00004 mEq/liter. Karena
konsentrasi ion hidrogen normalnya adalah rendah dan karena jumlahnya yang kecil ini tidak
praktis, biasanya konsentrasi ion hidrogen disebut dalam skala logaritma dengan
menggunakan satuan pH.
pH = log 1/H+

pH = -log H+
Normal H+ adalah 0,00000004 Eq/liter. Oleh karena itu pH normal adalah:
pH = -log (0,00000004)
pH = 7,4
Dari rumus diatas, bahwa pH berhubungan terbalik dengan konsentrasi ion hidrogen. Oleh
karena itu pH yang rendah berhubungan dengan konsentrasi ion hidrogen yang tinggi dan pH
yang

tinggi

berhubungan

dengan

konsentrasi

ion

hidrogen

yang

rendah

Seseorang dikatakan asidosis saat pH turun dari nilai normal dan dikatakan alkolosis saat pH
diatas nilai normal. Batas rendah nilai pH dimana seseorang dapat hidup beberapa jam adalah
sekitar 6,8 dan batas atas adalah sekitar 8,0.
Pengaturan Perubahan Konsentrasi Ion Hidrogen
Ada 3 sistem utama yang mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam cairan tubuh untuk
mencegah asidosis atau alkalosis:
1. Sistem penyangga asam basa kimiawi cairan tubuh
2. Pusat pernafasan
3. Ginjal
Saat terjadi perubahan dalam konsentrasi ion hidrogen , sistem penyangga cairan tubuh
bekerja dalam waktu singkat untuk menimbulkan perubahan-perubahan ini. Sistem
penyangga tidak mengeliminasi ion-ion hidrogen dari tubuh atau menambahnya kedalam
tubuh tetapi hanya menjaga agar mereka tetep terikat sampai keseimbangan tercapai kembali.
Kemudian sistem pernafasan juga bekerja dalam beberapa menit untuk mengeliminasi
CO2 dan oleh karena itu H2CO3 dari tubuh. Kedua pengaturan ini menjaga konsentrasi ion
hidrogen dai perubahan yang terlalu banyak sampai pengaturan yang ketiga bereaksi lebih
lambat. Ginjal dapat mengeliminasi kelebihan asam dan basa dari tubuh. Walaupun ginjal
relatif lambat memberi respon, dibandingkan sistem penyangga dan pernafasan, ginjal
merupakan sistem pengaturan asam-basa yang paling kuat selama beberapa jam sampai
beberapa hari.
Sistem Penyangga Ion Hidrogen dalam Cairan Tubuh

Penyangga adalah zat apapun yang secara terbalik dapat mengikat ion-ion hidrogen, yang
segera bergabung dengan asam basa untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hidrogen
yang berlebihan. Sistem ini bekerja sangat cepet dan menghasilkan efek dalam hitungan
detik.
Ada 4 sistem penyangga dalam cairan tubuh:
1.

Sistem penyangga bikarbonat-asam karbonat


Sistem penyangga utama dalam tubuh adalah sistem penyangga bikarbonat-asam

karbonat. Sistem ini bekerja dalam darah untuk menyangga pH plasma. Apabila ion-ion
hidrogen bebas ditambahkan ke dalam darah yang mengandung bikarbonat maka ion-ion
bikrbonat akan mengikat ion hidrogen dan berubah menjadi asam karbonat H2CO3. Hal ini
menyebabkan ion hidrogen bebas sedikit dalam larutan sehingga penurunan pH darah dapat
dicegah.
2.

Sistem penyangga fosfat


Asam fosforik H2PO42- adalah suatu asam lemah ,asam ini terurai dalam plasma

menjadi fosfat HPO42- dan ion hydrogen. Fosfat adalah suatu asam lemah sistem penyangga
ini digunakan oleh ginjal untuk menyangga urin sewaktu ginjal mengeksresikan ion hidrogen.
3.

Sistem protein
Sistem penyangga terkuat dalam tubuh. Karena mengandung gugus karboksil yang

berfungsi sebagai asam dan gugus amino yang berfungsi sebagai basa.
4.

Sistem penyangga hemoglobin


Hemoglobin mengikat ionion hidrogen bebas sewaktu beredar melewati sel sel

yang bermetabolisme secara aktif.. Dengan mengikuti ion hydrogen bebas maka peningkatan
konsentrasi ion hidrogen bebas dalam darah dapat diperkecil dan pH darah vena hanya turun
sedikit apabila dibandingkan dengan darah arteri. Sewaktu darah mengalir melalui paru, ion
ion hidrogen terlepas dari hemoglobin dan berikatan dengan bikarbonat untuk menjadi asam
karbonat yang terurai menjadI CO2 dan air. CO2dikeluarkan melalui ekspirasi sehingga ionion hidrogen yang dihasilkan oleh proses metabolisme dapat dieliminasi.
Keseimbangan Asam dan Basa dalam Cairan Tubuh

Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas


dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4, pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35.
Jika pH darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H
terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu
akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
1.

Pembentukan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan

bikarbonat.
2.

Katabolisme zat organik

3.

Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme

lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi
melepaskan ion H.
Gangguan Keseimbangan Asam Basa
Asidosis Respiratorik
Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan
karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan
yang lambat.
Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam
darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan
darah menjadi asam. Penyebabnya seperti Emfisema, Bronkitis kronis, Pneumonia berat,
Edema pulmoner, Asma.
Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat
tidur yang kuat, yang menekan pernafasan Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila
penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme
pernafasan.
Alkalosis Respiratorik
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan
yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi
rendah. Penyebab dari alkalosis respiratorik adalah rasa nyeri, sirosis hati, kadar oksigen
darah yang rendah, demam, overdosis aspirin.

Asidosis Metabolik
Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya
kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH,
darah akan benar-benar menjadi asam.
Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat
sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara
menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi
keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.
Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan
terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma.
Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama adalah:
1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam
atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan yang
menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun.
2. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih

banyak

melalui

metabolisme.Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu


akibat dari beberapa penyakit; salah satu diantaranya adalah diabetes melitus
tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak
dan menghasilkan asam yang disebut keton.
3. Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang
asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normalpun
bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan
fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis, yang bisa terjadi pada
penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi
kemampuan ginjal untuk membuang asam. Penyebab utama dari asidois
metabolik: Gagal ginjal, Asidosis tubulus renalis (kelainan bentuk ginjal),
Ketoasidosis diabetikum, Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat), Bahan
beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat, metanol, paraldehid,
asetazolamid atau amonium klorida, Kehilangan basa (misalnya bikarbonat)
melalui saluran pencernaan karena diare, leostomi atau kolostomi.
Alkalosis Metabolic

Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena
tingginya kadar bikarbonat. Penyebab Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan
terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama
periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung
(seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut).
Penyebab utama akalosis metabolik Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat),
Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung, Kelenjar adrenal yang terlalu
aktif (sindroma Cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid).