Anda di halaman 1dari 4

Sakit Maag - Dispepsia Sindrom

Pendahuluan
Merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa
penuh atau cepat kenyang, dan sendawa. Dispepsia (familiar di masyarakat dengan istilah
maag) didefinisikan sebagai rasa nyeri atau rasa tidak nyaman di sekitar garis tengah abdomen,
tidak termasuk hipokondrium kiri ataupun kanan.

Jenis Yang Dibahas: Dispepsia Fungsional


Dispepsia fungsional adalah dispepsia yang paling sering ditemukan. Kriteria diagnosisnya
terdapat rasa nyeri dan tidak nyaman pada abdomen atas yang dapat menetap maupun hilang
timbul selama setidaknya satu bulan. Tapi tidak ditemukan kelainan organik pada pemeriksaan
klinik, biokimia, ebdoskopi, mapun ultrasonografi.

Berdasarkan gejala yang dominan, dispepsia fungsional dapat diklasifikasi menjadi beberapa
sub grup berdasarkan keluhan/ gejala yang paling dominan.

Pertama, dispepsia dengan gejala seperti ulkus atau ulcer-like dyspepsia. Pasien
memperlihatkan gejala seperti ulkus kronik. Gejala khasnya, nyeri terlokalisasi di
epgastrium, sembuh setelah makan ataupun pemberian antasida, timbul sebelum
makan ataupun ketika lapar. Pasien juga dapat terbangun di malam hari karena
nyerinya. Nyeri ulcer-like dyspepsia timbul periodik dengan relaps dan remisi.
Kedua, dispepsia tipe dismotil. Gejala karakteristiknya, rasa tidak nyaman yang
diperburuk oleh makanan, rasa cepat kenyang, mual, muntah, dan kembung di
abdomen atas.
Ketiga, dispepsia nonspesifik atau campuran. Tipe ini timbul akibat banyaknya
laporan tumpang tindih gejala antar sub grup.

Faktor Penyebab
Perubahan dan gangguan pola makanan, terutama pada pasien usia remaja dengan
penurunan berat badan yang signifikan. Kemudian alkohol dan nikotin rokok, stress,
tumor atau kanker saluran pencernaan, serta pengaruh obat-obatan yang dimakan
secara berlebihan dan dalam waktu lama. Obat-obatan tersebut seperti suplemen
besi atau kalium, digitalis, teofilin, antibiotik oral, terutama eritromisin dan ampisilin.
Diagnosis Banding
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Umumnya, penderita penyakit ini
sering melaporkan nyeri abdomen bagian atas epigastrum/ uluhati yang dapat
ataupun regurgitasi asam.
Irritable bowel syndrome (IBS) yang ditandai dengan nyeri abdomen (perut) yang
rekuren, yang berhubungan dengan buang air besar (defekasi) yang tidak teratur
dan perut kembung. Kurang lebih sepertiga pasien dispepsia fungsional
memperlihatkan gejala yang sama dengan IBS. Sehingga dokter harus selalu
menanyakan pola defekasi kepada pasien untuk mengetahui apakah pasien
menderita dispepsia fungsional atau IBS.
Pankreatitis kronik. Gejalanya berupa nyeri abdomen atas yang hebat dan
konstan. Biasanya menyebar ke belakang.
Penyakit psikiatrik. Juga dapat menjadi penyebab sindrom dispesia. Misalnya pada
pasien gengan keluhan multisistem yang salah satunya adalah gejala di abdomen
ternyata menderita depresi ataupun gangguan somatisasi.
Diabetes Mellitus (DM) dapat menyebabkan gastroparesis yang hebat sehingga
timbul keluhan rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, mual, dan muntah. Lebih
jauh diabetik radikulopati pada akar saraf thoraks dapat menyebabkan nyeri
abdomen bagian atas.
Gangguan metabolisme, seperti hipotiroid dan hiperkalsemia juga dapat
menyebabkan nyeri abdomen bagian atas.
Penyakit jantung iskemik kadang-kadang timbul bersamaan dengan gejala nyeri
abdomen bagian atas yang diinduksi oleh aktivitas fisik.

Nyeri dinding abdomen yang dapat disebabkan oleh otot yang tegang, saraf yang
terjepit. Cirinya terdapat tenderness terlokalisasi yang dengan palpasi akan
menimbulkan rasa nyeri dan kelembekan tersebut tidak dapat dikurangi atau
dihilangkan dengan meregangkan otot-otot abdomen.

Peranan Endoskopi
Melihat banyaknya penyakit dasar yang bermanifestasi dalam bentuk keluhan dispepsia,
diperlukan suatu perhatian pendekatan diagnostik yang baik. Terutama untuk menyingkirkan
atau menegakkan penyebab yang dapat menimbulkan morbiditas yang berat bahkan kematian.
Berbagai sarana penunjang dapat dipakai untuk mencari penyebab dispepsia. Selain keadaan
klinik yang ditunjang pemeriksaan laboratorium dan radiologi, pemeriksaan endoskopi saluran
cerna bagian atas memegang peran yang sangat penting.

Alat endoskopi saat ini dibuat semakin lentur/ fleksibel dan diameter yang lebih kecil. Gambar
yang dihasilkan makin baik memungkinkan pemeriksaan ini berlangsung dengan nyaman dan
komplikasi yang sangat minim.

Penanganan
1. Diit
Makan sedikit-sedikit, banyak mengandung susu. Makanan harus lembek, mudah dicerna, tidak
merangsang, dan kemungkinan dapat menetralisir HCl. Pemberiannya dalam porsi kecil
berulang kali. Dilarang makan pedas, asam dan alkohol.

2. Antasida
Berguna untuk menetralisir HCl, mengurangi rasa nyeri. Dianjurkan dimakan diantara waktu
makan. Sediaan yang suspensi lebih efektif karena kapasitas buffering lebih baik dari yang
tablet.

3. Golongan Antagonis Histamin H2


Seperti Simetidin, Ranitidin, Famotidin. Berfungsi menyetop produksi asam lambung

4. Antikolinergik
Menghambat inervasi saraf kolinergik posrganglionik pada otot polos dan memblokir aksi
asetilkolin pada sel parietal sehingga akan mengurangi sekresi asam lambung.

5. Prokinetik
Yang sering: Metoklopramid, domperidon; yang berfungsi mengurangi rasa mual

6. Sitoprotektif

a. Golongan prostaglandin E, yang juga mempunyai sifat sebagai anti-sekretorik. Prostaglandin


akan merangsang sekresi bikarbonat dan memproduksi lendir dari mukosa gastroduodenal,
meningkatkan aliran darah di mukosa, serta memperbaharui sel epitel yang rusak.

b. Golongan protektif lokal, yang mampu membentuk rintangan mekanik. Mekanisme sitoprotektif
meliputi; membentuk rintangan pada lapisan mukosa, merangsang sekresi bikarbonat oleh sel
epitel, meningkatkan aliran darah yang adekuat. Contohnya sukralfat, adalah garam alumunium
dan sukrose oktosulfat, merupakan zat yang tidak dapat diserap, yang secara klinis sangat
efektif untuk membantu penyembuhan tukak serta mencegah kekambuhan.

Pencegahan
Pola makan yang normal dan teratur. Pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan
jadwal makan yang teratur. Sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang berkadar asam
tinggi, cabe, alkohol dan pantang rokok. Bila harus makan obat karena sesuatu penyakit,
misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.