Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

PERANAN RADIOLOGI DALAM PENEGAKAN DIAGNOSIS


CDH (CONGENITAL DISLOCATION OF THE HIP)

Oleh:
Rifki Eka Amirudin

14710114

Apri Amalia

10700116

Intan Ayu Permatasari

10700187

Pembimbing :
dr. Loedfi Ariesbiantoro ,Sp.Rad

SMF ILMU RADIOLOGI


RSD DR. SOEBANDI JEMBER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas segala nikmat
dan karunia-Nya serta kesempatan yang diberikan kepada penulis sehingga penulis bisa
menyelesaikan referat ini yang berujudul Peranan Radiologi dalam Penegakan Diagnosis
CDH (Congenital Dislocation of the Hip). Shalawat dan salam untuk junjungan mulia
Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Penyusunan makalah ini merupakan salah satu
syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di bagian Radiologi RSD Dr. Soebandi
Jember Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma.
Terima kasih penulis ucapakan kepada dr. Loedfi Ariesbiantoro , Sp.Rad
selaku pembimbing dalam pembuatan tugas referat ini, Penulis menyadari bahwa ini jauh
dari
sempurna, maka dari itu sangat diperlukan saran-saran untuk kesempurnaan referat ini.
Semoga referat ini bermanfaat bagi kita semua.

Jember, Januari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 3
2.1 Definisi ................................................................................................ 3
2.2 Epidemiologi........................................................................................ 3
2.3 Anatomi ............................................................................................... 4
2.4 Etiologi dan Patogenesis...................................................................... 5
2.5 Diagnosis ............................................................................................. 6
2.5.1 Manifestasi Klinis...................................................................... 7
2.5.2 Pemeriksaan Radiologi .............................................................. 9
2.6 Penatalaksanaan ................................................................................. 18
2.7 Komplikasi......................................................................................... 22
BAB 3 PENUTUP ............................................................................................ 24
3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 24

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 26

ii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Persendian Antara Tulang Femur dan Tulang Pelvis...................... 4
Gambar 2.2 Uji Ortolani dan Uji Barlow............................................................ 8
Gambar 2.3 Tanda Galeazzi ................................................................................ 9
Gambar 2.4 Transduser USG Diletakkan Paralel pada Lateral Pinggang Bayi..11
Gambar 2.5 Hasil USG Tampak Koronal Panggul Bayi................................... 11
Gambar 2.6 Sudut Normalnya Lebih Besar dari Sudut .............................. 11
Gambar 2.7 Hasil USG Tampak Koronal pada Panggul Normal ..................... 12
Gambar 2.8 Hasil USG Tampak Koronal pada Displasia Panggul................... 12
Gambar 2.9 Posisi Transduser Tampak Lateral ................................................ 13
Gambar 2.10 Gambaran USG Posisi Lateral .................................................... 13
Gambar 2.11 Rontgen Pelvis pada Panggul Normal dan Panggul Dislokasi.... 14
Gambar 2.12 PFFD pada Kaki Kiri .................................................................. 16
Gambar 2.13 Septic Arthritis pada Panggul Kiri Anak Usia 2 Tahun dengan
Demam. ............................................................................................................. 17
Gambar 2.14 Legg-Calve-Perthes Disesase ...................................................... 17
Gambar 2.15 Slipped Capital Femoral Epiphysis ............................................. 18

iii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Congenital Dislocation of the Hip (CDH) atau dislokasi panggul

kongenital adalah deformitas ortopedik yang didapat segera sebelum atau pada
saat kelahiran. Kelainan bawaan pada sistem muskuloskeletal berbeda dari
kelainan sistem lainnya yakni selama perkembangannya baik pertumbuhan
maupun pematangan dapat mengakibatkan kelainan menetap yang lebih berat,
atau sebaliknya menghasilkan perbaikan. Oleh karena itu pada pendekatan dan
pengelolaan harus dipikirkan kemungkinan efek pertumbuhan dan maturasi
dengan pengaruhnya terhadap anatomi dan faal.7
Insiden penyakit ini cukup tinggi, di Amerika dilaporkan bahwa CDH
terjadi pada 20 anak dari 1000 kelahiran dengan frekuensi kejadian pada bayi
perempuan jauh lebih banyak daripada bayi laki-laki (1:7). Penyebab kelainan ini
hingga saat ini masih belum di ketahui, namun terdapat beberapa faktor risiko
yang diduga berperan terhadap kejadian dislokasi panggul kongenital ini.
Diagnosis pascanatal dini kelainan bawaan menjadi tanggung jawab dokter
keluarga, dokter kebidanan dan dokter anak yang pertama kali memeriksa anak
yang baru lahir. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik yang
spesifik dan pemeriksaan penunjang jika ada keraguan atau kecurigaan. Semakin
dini kelainan ditemukan maka prognosis semakin baik pula. Namun, Congenital
Dislocation of the Hip (CDH) sering tidak segera kelihatan pada waktu lahir dan
hanya dengan pemeriksaan yang cermat dan khusus kelainan ini dapat diketahui.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa diagnosis dini dan pengobatan dini penting
untuk mendapatkan hasil pengobatan yang diinginkan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Congenital Dislocation of the Hip (CDH) atau dislokasi panggul

kongenital adalah deformitas ortopedik yang didapat segera sebelum atau pada
saat kelahiran. Kondisi ini bervariasi dari pergeseran minimal ke lateral sampai
dislokasi komplit dari caput femoris keluar acetabulum.7,9 CDH sekarang lebih
dikenal sebagai DDH (Developmental Dislocation of the Hip), hal ini dikarenakan
patogenesis yang juga dapat terjadi pada masa perkembangan.
Ada tiga pola yang terlihat: (1) subluxation, caput femoris berada di
acetabulum dan dapat mengalami dislokasi parsial saat pemeriksaan; (2)
dislocatable, pinggul dapat dislokasi seluruhnya dengan manipulasi tetapi berada
pada lokasi normal pada saat bayi istirahat; (3) dislocated, pinggul berada dalam
posisi dislokasi (paling parah).8,10

2.2

Epidemiologi
Ketidakstabilan panggul berkisar 5-20% dari 1.000 kelahiran hidup dan

sebagian besar akan menjadi stabil dalam 3 minggu dan hanya 1-2% yang tetap
tidak stabil. Dislokasi panggul kongenital 7 kali lebih banyak pada perempuan
dibandingkan laki-laki, sendi panggul kiri lebih sering terkena dan hanya 1-5%
yang bersifat bilateral. Kelainan ini lebih banyak ditemukan pada orang Amerika
dan Jepang serta jarang ditemukan pada orang Indonesia.8,9,10

2.3

Anatomi
CDH melibatkan anatomi tertentu pada tubuh manusia. Bagian tubuh yang

terlibat terutama tulang, tulang yang terlibat pada CDH adalah sendi panggul (hip
joint) yang merupakan tempat dimana tulang femur (tulang paha) terhubung pada
pinggul (pelvis). Ujung atas dari tulang femur berbentuk seperti bola yang bulat
yang disebut sebagai caput femoris.Caput femoris pada keadaan normal akan
cocok dengan persendian pada pelvis yang bernama acetabulum. Persendian ini
memberika kebebasan manusia untuk bergerak ke segala arah dan merupakan
sendi peluru.12

Gambar 2.1 Persendian Antara Tulang Femur dan Tulang Pelvis.12


Tekanan yang pas dan kontak antara caput femoris dan acetabulum
membuat perkembangan sendi panggul menjadi normal. Sebagian besar
pembentuk acetabulum adalah rawan saat lahir, caput femoris yang berkontak

dengan

acetabulum

membantu

pementukan

sendi

ini

seiring

dengan

perkembangan manusia. Pada CDH biasanya kontak antara caput femoris dan
acetabulum terganggua sehingga perkebangannya tidak terbentuk seperti bentuk
normal persendian ini.12

2.4

Etiologi dan Patogenesis


Ada beberapa faktor penyebab yang diduga berhubungan dengan

terjadinya Congenital Dislocation of the Hip (CDH), antara lain:


1. Faktor genetik
Faktor genetik pasti berperan pada etiologi, karena dislokasi kongenital
cenderung berlangsung dalam keluarga dan bahkan dalam seluruh populasi.
Wynne- Davies (1970) menemukan dua ciri warisan yang dapat mempengaruhi
ketidakstabilan pinggul yakni sendi yang longgar merata, suatu sifat yang
dominan dan displasia acetabulum, suatu sifat poligenik yang ditemukan pada
kelompok yang lebih kecil yang menderita ketidakstabilan yang menetap. Tetapi
ini bukan keterangan satu- satunya karena pada 4 dari 5 kasus hanya 1 yang
mengalami dislokasi.8,9
2. Faktor hormonal
Tingginya kadar estrogen, progesteron dan relaksin pada ibu dalam
beberapa minggu

terakhir kehamilan,

dapat

memperburuk kelonggaran

ligamentum pada bayi. Hal ini dapat menerangkan langkanya ketidakstabilan pada
bayi prematur, yang lahir sebelum hormon-hormon mencapai puncaknya.
Ditambahkan adalah pengamatan bahwa selama periode neonatal, bayi relatif
membawa estrogen dari ibunya. Hal ini menenangkan ligamen di dalam tubuh.

Beberapa bayi sangat sensitif terhadap estrogen, sehingga menyebabkan ligament


panggul menjadi terlalu lemah, dan panggul tidak stabil.8,9
3. Malposisi intrauterin
Malposisi intrauterin yang terutama adalah posisi bokong dengan kaki
yang berekstensi, dapat mempermudah terjadinya dislokasi, ini berhubungan
dengan lebih tingginya insidensi pada bayi yang merupakan anak sulung, dimana
versi spontan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadi. Dislokasi unilateral
biasanya mempengaruhi pinggul kiri, ini sesuai dengan presentasi verteks biasa
(occiput anterior kiri) dimana pinggul kiri agak beradduksi.
4. Faktor pascakelahiran
Dapat membantu menetapnya ketidakstabilan neonatal dan gangguan
perkembangan acetabulum. Dislokasi sering kali ditemukan pada orang Lapps dan
orang Indian Amerika Utara yang membedong bayinya dan menggendongnya
dengan kaki merapat, pinggul dan lutut sepenuhnya berekstensi, dan jarang pada
orang Cina Selatan dan Negro Afrika yang membawa bayi pada punggungnya
dengan kedua kaki berabduksi lebar-lebar. Ada juga bukti dari percobaan bahwa
ekstensi lutut dan pinggul secara serentak mengakibatkan dislokasi panggul
selama perkembangan awal.8

2.5

Diagnosis
Diagnosis Congenital Dislocation of the Hip (CDH) berdasarkan atas

manifestasi klinis dan pemeriksaan radiologi.

2.5.1 Manifestasi Klinis


Keadaan ideal yang masih belum tercapai adalah mendiagnosis setiap
kasus pada saat kelahiran karena alasan ini setiap bayi yang baru lahir harus
diperiksa untuk mencari tanda-tanda ketidakstabilan panggul. Bila terdapat
riwayat dislokasi kongenital dalam keluarga, disertai presentasi bokong, kita harus
sangat berhati-hati dan bayi mungkin terpaksa diperiksa lebih dari sekali. Pada
nenonatus terdapat beberapa cara untuk menguji ketidakstabilan.8
Gambaran klinis dislokasi panggul kongenital adalah asimetri pada lipatan-lipatan
kulit paha. Pemeriksaaan klinik untuk mengetahui dislokasi panggul kongenital
pada bayi baru lahir adalah:
1. Uji Ortolani
Dalam uji Ortolani, bagian medial paha bayi dipegang dengan ibu jari dan
jari-jari diletakkan pada trokanter mayor; pinggul difleksikan sampai 90o dan
diabduksi perlahan-lahan. Biasanya abduksi berjalan lancar sampai hampir 90o.
Pada dislokasi kongenital biasanya gerakan terhalang, tetapi kalau tekanan
diberikan pada trokanter mayor akan terdapat suatu bunyi halus sementara
dislokasi tereduksi, dan kemudian panggul berabduksi sepenuhnya (sentakan ke
dalam). Kalau abduksi berhenti di tengah jalan dan tidak ada sentakan ke dalam,
mungkin ada suatu dislokasi yang tak dapat direduksi. 8
2. Uji Barlow
Uji Barlow dilakukan dengan cara yang sama, tetapi di sini ibu jari
pemeriksa di tempatkan pada lipatan paha dan dengan memegang paha bagian
atas, diusahakan mengungkit caput femoris ke dalam dan keluar acetabulum
selama abduksi dan adduksi. Kalau caput femoris normalnya berada pada posisi

reduksi, tetapi dapat keluar dari sendi dan kembali masuk lagi, panggul itu
digolongkan sebagai dapat mengalami dislokasi (yaitu tak stabil). 8

Gambar 2.2 Uji Ortolani dan Uji Barlow.11


3. Tanda Galeazzi
Pada pemeriksaan ini kedua lutut bayi dilipat penuh dengan panggul dalam
keadaan fleksi 90o serta kedua paha saling dirapatkan. Keempat jari pemeriksa
memegang bagian belakang tungkai bawah dengan ibu jari di depan. Dalam
keadaan normal kedua lutut akan sama tinggi dan bila terdapat dislokasi panggul
kongenital maka tungkai yang mengalami dislokasi, lututnya akan terlihat lebih
rendah dan disebut sebagai tanda Galeazzi/ Allis positif. 8

Gambar 2.3 Tanda Galeazzi.12


2.5.2 Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi dalam mendiagnosis seorang bayi yang dicurigai
CDH sudah digunakan. Selama beberapa bulan pertama kehidupan bagian kaput
femur masih terbentuk dari rawan sehingga pemeriksaan radiologi kurang
berguna. Pemeriksaan radiologi biasanya agak sulit dilakukan karena pusat
ossifikasi sendi baru tampak pada bayi umur 3 bulan atau lebih sehingga
pemeriksaan ini hanya bermanfaat pada umur 6 bulan atau lebih, pada referensi
lain dapat mulai digunakan pada umur 4 bulan.4,8,10
Dislokasi dan instabilitas dari panggul anak susah untuk dideteksi dan
evaluasi dari perkembangan acetabulum dipengaruhi oleh posisi bayi ketika
pemeriksaan radiologi sedang dilakukan. Masalah panggul pada anak relatif
umum terjadi terutama lebih banyak pada anak perempuan daripada laki-laki dan
diagnosis dini kelainan ini sangat penting untuk mencegah morbiditas dan

disabilitas jangka panjang. Di Inggris, pemeriksaan fisik pada panggul neonatus


yang dilakukan oleh dokter spesialis anak sudah rutin dilakukan pada praktik
sehari-hari. Bila pemeriksaan fisik mengarah pada terjadinya kelainan pada
panggul maka USG pasti akan dilakukan untuk memeriksa posisi anatomis dari
tulang rawan caput femuris dengan acetabulum.1
1. USG
Semua modalitas radiologi dapat digunakan dalam mendiagnosis kondisi
panggul pada anak. USG dinyatakan sebagai sebuah metode pemeriksaan yang
akurat untuk pencitraan panggul pada beberapa bulan pertama masa kehidupan.4
USG terutama digunakan dalam mendeteksi awal kelainan yang berhubungan
dengan abnormalitas morfologi acetabulum, lokasi caput femoris, dan stabilitas
sendi. USG merupakan metode yang dianjurkan sebagai pemeriksaan pada
panggul yang masih imatur, dengan USG kita dapat melihat dan menilai secara
langsung kondisi komponen kartilago sendi sehingga fungsi USG semakin
berkurang dengan bertambahnya ossifikasi pada pasien. Oleh karena itu, USG
terutama sekali digunakan pada bayi usia dibawah 6 bulan, pada bayi dengan usia
diatas 6 bulan disarankan penggunaan radiografi.
Pemeriksaan pada CDH dilakukan dalam 2 posisi orthogonal: tampak
koronal pada posisi istirahat dan tampak transversal pada posisi panggul fleksi
dengan atau tanpa tekanan. Pemeriksaan ini dapat menilai posisi, stabilitas dan
morfologi dari sendi panggul.

10

Tampak Koronal
Tampak

koronal

dalam

posisi

standard

dapat

dicapai

dengan

memposisikan panggul bayi pada posisi fisiologisnya (fleksi 15-20 ). Penilaian


dilakukan terhadap posisi caput femoris dan ada atau tidaknya dislokasi.
Kemudian lakukan penilaian terhadap morfologi acetabulum dan nilai sudut alfa
acetabulum (normal 60).

Gambar 2.4 Transduser USG Diletakkan Paralel pada


Lateral Pinggang Bayi

Gambar 2.6 Sudut Normalnya Lebih Besar


dari Sudut . Dimana Sudut 60o dan Sudut
55o. Pada CDH, Sudut <60o.

Gambar 2.5 Hasil USG Tampak Koronal


Panggul Bayi.
C:capsule; G: gluteus muscles; H:
cartilaginous femoral head; IL: ilium; IS:
ischium; TR: triradiate cartilage; GT: greater
trochanter dan L: labrum

11

Gambar 2.7 Hasil USG Tampak Koronal pada Panggul Normal. Sudut Alfa
pada Gambar Di Atas Lebih dari 60 Derajat.16

Gambar 2.8 Hasil USG Tampak Koronal pada Displasia Panggul. Sudut Alfa
pada Gambar Di Atas Sekitar 45 Derajat.16
Tampak Transversal
Pemeriksaan dilakukan dengan posisi panggul fleksi 90. Corpus femur
terlihat di anterior dengan caput femoris bersandar pada ischium. Lakukan tes
posisi pada panggul dengan adduksi dan abdksi pasif, kemudian berikan tahanan
ringan untuk menilai stabilitas dari sendi panggul. Transduser diletakkan secara
lateroposterior sehingga panggul dapat sambil dilakukan abduksi dan adduksi
(prosedur Ortolani dan Barlow). Jika terdapat pergeseran caput femoris dari
acetabulum dengan tahanan ringan, artinya sendi pannggul tidak stabil.

12

Gambar 2.9 Posisi Transduser Tampak Lateral. Panggul Fleksi 90 dengan


Transduser Diletakan Tegak Lurus Terhadap Lateral Panggul Bayi.

Gambar 2.10 Gambaran USG Posisi Lateral.


G: gluteus muscles; H: cartilaginous femoral head; IS: ischium; L: labrum;
M: femoral metaphysis; dan FS: femoral shaft.
2. Rontgen Pelvis
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan indeks acetabuler, garis
horizontal Hilgenreiner, garis vertikal Perkin dan garis arkuata dari Shenton.
Keterangan:
- Garis Hilgenreiner adalah garis horizontal yang melintasi tulang rawan triradiatum.
- Garis Perkin adalah garis vertikal yang berjalan melalui aspek lateral dari
acetabulum. Tepi acetabulum pada bayi masih merupakan tulang rawan sehingga
tidak terlihat pada foto rontgen.

13

- Indeks Asetabular (sudut Hilgenreiner/sudut acetabular) dibentuk oleh


perpotongan antara garis sepanjang atap acetabulum dengan garis hilgenreiner
- Garis Shenton adalah garis yang melewati arkus antara tepi atas foramen
obturator dan bagian medial leher femur. Garis ini akan terpotong bila terdapat
dislokasi panggul.

Hilgenreiner
Line

Shentons Line

Perkin Line

Gambar 2.11 Rontgen Pelvis pada Panggul Normal dan Panggul Dislokasi.13
Tampilan yang dapat dilihat pada rontgen pelvis CDH adalah acetabulum
dangkal, sudut acetabular lebih dari 30o (sama dengan sudut alfa kurang dari 60o),
episifisis caput femoris kecil, ossifikasi terlambat pada caput femoris, sklerosis
acetabular, hilangnya lengkungan pada garis Shenton, lateral caput femoris pada
ke garis Perkin, dan superior caput femoris ke garis Hilgenreiner.
Kesimpulannya pemeriksaan radiologi pada CDH dapat dilakukan dengan
beberapa alat dan cara, akan tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan usia dari
pasien. Diantaranya adalah:

14

USG : dapat digunakan sebagai skrining dan berguna saat masa neonatus
atau <4 bulan.

Radiografi

: dapat digunakan setelah kepala femur mulai mengeras (>4

bulan).

MRI : evaluasi pada kasus-kasus sulit atau sudah terdapat komplikasi


lainnya.

CT : biasanya digunakan saat post-treatment.

Diagnosis Banding CDH Secara Radiologis


1. Various Teratologic Hip Disorders
Dislokasi yang terjadi secara teratologi terjadi pada masa kehamilan
tepatnya ketika janin masih di dalam kandungan. Insiden kelainan ini hanya
terjadi pada 1-2% dislokasi panggul perinatal. Dislokasi panggul teratologi
berhubungan dengan terjadinya arthtogryposis, myelodysplasia, chromosomal
abnormalities, Larsens syndrome, dan lain-lain. Setiap dislokasi panggul
teratologi yang terjadi selalu disertai kelainan lain terutama kelainan
neromuskular.14 Pada dislokasi panggul teratologi terdapat tanda Uji Ortolani
dengan hasil negatif.15
2. Proximal Femoral Focal Deficiency (PFFD) / Congenital Femur Deficiency
(CFD)
PFFD merupakan kelainan bawaan/kongenital yang terdiri dari derajat
hipoplasia atau tidak adanya bagian proximal dari femur. Dalam bentuk yang
paling fatal, bagian proximal femur, caput femur, dan acetabulum mungkin tidak
ada. Pada pasien akan sering datang dengan deformitas varus. Temuan terkait

15

pada pasien dengan PFFD termasuk ipsilateral fibula hemimelia ( fibula tidak ada)
dan kelainan bentuk kaki.17

Gambar 2.12 PFFD pada Kaki Kiri. Radiografi dengan Posisi AP Terlihat
Seorang Bayi Menunjukkan Tulang Paha Kiri Memendek.17

3. Septic Arthritis and Toxic Synovitis / Septic Hip


Septic artritis dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering terjadi
pada bayi dan remaja. Pada masa anak, septik artritis paling sering terjadi
disebabkan oleh ekstensi menular dari metafisis yang saling berdekatan. Bakteri
seperti Staphylococcus aureus adalah agen penyebab paling umum dari septik
artritis. Sebagian besar kasus adalah berupa monokular dan melibatkan sendisendi besar (panggul > lutut).18
Temuan radiografi septik artritis termasuk pelebaran asimetris ruang sendi
panggul oleh >2mm (jarak diukur antara titik teardrop dari acetabulum dan
korteks medial metafisis femur. Temuan lain termasuk perpindahan atau obliterasi
bantalan lemak disekitar panggul (obturator internus, iliopsoas dan gluteus).

16

Sayangnya temuan ini tidak sensitif untuk efusi sendi. Hasil gambar yang normal
bukan berarti tidak termasuk kedalam diagnosis septik artritis.18

Gambar 2.13 Septic Arthritis pada Panggul Kiri Anak Usia 2 Tahun dengan
Demam. Radiografi Posisi AP Memperlihatkan Ruang Sendi Panggul yang
Asimetris, Kiri Lebih Lebar dari Kanan.18
4. Legg-Calve-Perthes Disease
Merupakan penyakit idiopatic avascular necrosis (AVN) pada epifisis femur.
Perbedaannya dengan CDH adalah adanya pelebaran celah sendi dan gambaran
lusen pada subkondral oleh karena fraktur pada tulang yang nekrosis (crescent
sign).19

Gambar 2.14 Legg-Calve-Perthes Disesase. Crescent Sign.19

17

5. Slipped Capital Femoral Epiphysis (SCFE)


Abnormalitas pada bagian proksimal dari femur, biasanya terjadi pada
remaja dan biasanya bilateral. Perbedaan secara radiografis yaitu epifisis pada
SCFE bergeser ke posterior, garis dari tepi lateral caput femur tidak berpotongan
dengan epifisis.20

Gambar 2.15 Slipped Capital Femoral Epiphysis.


Pergeseran Caput Femoris ke Dorsal. Garis dari Tepi Lateral Caput Femur
Tidak Berpotongan dengan Epifisis.20

2.6

Penatalaksanaan

1. 3-6 bulan pertama


Kebijakan yang paling sederhana adalah menganggap semua bayi dengan
latar belakang yang berisiko tinggi (riwayat keluarga atau kelahiran sungsang
dengan ekstensi), atau dengan uji Ortholani atau uji Barlow positif, harus dicurigai
dan merawatnya dengan popok dobel atau suatu bantal abduksi selama 6 minggu
pertama. Pada stadium itu mereka diuji lagi, bayi yang panggulnya stabil
dibiarkan bebas tetapi tetap dalam pengawasan sekurang kurangnya selama 6
bulan hingga panggul itu stabil dan rontgen memperlihatkan bahwa atap
acetabulum berkembang dengan memuaskan (biasanya 3-6 bulan).8

18

Tetapi karena 80 90% panggul yang tak stabil pada saat kelahiran akan
stabil secara spontan dalam 2-3 minggu, tampaknya akan lebih bijaksana bila
tidak memulai pembebatan dengan segera kecuali kalau panggul itu sudah
mengalami dislokasi. Hal ini mengurangi sedikit risiko (tetapi bermakna) akan
terjadinya nekrosis epifisis yang menyertai setiap bentuk pembebatan pembatas
pada neonatus. Karena itu kalau panggul dapat mengalami dislokasi tetapi
biasanya tidak terjadi dislokasi, bayi itu tidak diberi terapi tetapi diuji lagi setiap
minggu, jika setelah 3 minggu pinggul masih tak stabil, pembebatan abduksi
diterapkan. Kalau panggul sudah mengalami dislokasi pada pengujian pertama,
dengan hati hati panggul ditempatkan pada posisi reduksi dan pembebatan
abduksi dilakukan dari permulaan. Reduksi dipertahankan hingga panggul stabil,
ini dapat berlangsung hanya beberapa minggu, tetapi tindakan yang paling aman
adalah mempertahankan pembebatan hingga rontgen memperlihatkan suatu atap
acetabulum yang baik.
Bila ada fasilitas untuk USG, dapat diterapkan protokol yang lebih baik.
Semua bayi baru lahir yang memiliki latar belakang berisiko tinggi atau diduga
memiliki

ketidakstabilan pinggul

diperiksa

dengan

USG.

Kalau

USG

memperlihatkan bahwa panggul dalam reduksi dan mempunyai struktur tulang


rawan yang normal, tidak diperlukan terapi tetapi anak itu tetap dalam
pengawasan selama 3- 6 bulan. Kalau secara anatomis kurang sempurna, panggul
dibebat dalam keadaan abduksi dan setelah 6 minggu USG dilakukan lagi.
Sekarang pada beberapa kasus, panggul akan tampak normal dan tidak
membutuhkan terapi lanjutan, kecuali pemeriksaan rutin selama 3-6 bulan.
Sebagian di antaranya akan memperlihatkan kelainan yang menetap dan untuk

19

kasus ini pembebatan dalam keadaan abduksi dilanjutkan sampai USG berikutnya
dalam 3 bulan atau rontgen dalam 6 bulan memperlihatkan terbentuknya atap
acetabulum yang baik.7,8
Pembebatan.
Tujuan pembebatan adalah mempertahankan panggul agak berfleksi dan
berabduksi, posisi ekstrim dihindari dan sendi sendi harus dimungkinkan untuk
melakukan sedikit gerakan dalam bebat. Untuk bayi yang baru lahir, popok dobel
atau bantal abduksi yang empuk cukup memadai. Bebat Von Rosen adalah suatu
bebat lunak yang berbentuk H yang bermanfaat karena mudah digunakan.
Pengikat pelvic (Pelvic Harness) lebih sulit dipakaikan tetapi lebih banyak
memberi kebebasan kepada anak sementara posisi masih dipertahankan. Cara
yang tidak terlalu rumit dan yang paling tidak disenangi ibu yaitu penggunaan
plaster lutut dengan batang melintang yang mempertahankan pinggul dalam 90o
fleksi dan sekitar 45o abduksi, atau 10o lebih besar dari sudut dimana sentakan ke
dalamnya dapat diraba.7,8 Tiga aturan pembebatan yang terbaik adalah:
1) Pinggul harus direduksi sebagaimana mestinya sebelum dibebat
2) Posisi ekstrim harus dihindari
3) Pinggul harus dapat digerakkan.
Tindak lanjut
Tindakan apapun yang telah diambil, tindak lanjut tetap diteruskan hingga
anak dapat berjalan. Kadang kadang sekalipun dengan terapi yang paling hatihati, panggul dapat memperlihatkan tingkat displasia acetabulum tertentu di
kemudian hari.8,10
2. Dislokasi yang menetap 6 18 bulan

20

Kalau setelah terapi dini, panggul belum seluruhnya direduksi atau kalau
anak itu di belakang hari menunjukkan adanya dislokasi yang tersembunyi,
panggul itu harus direduksi terutama dengan metode tertutup tetapi kalau perlu
dengan operasi

dan tetap direduksi

hingga perkembangan acetabulum

memuaskan.8
Reduksi tertutup
Cara ini ideal tetapi memiliki risiko rusaknya pasokan darah pada caput
femoris dan menyebabkan nekrosis. Untuk memperkecil risiko ini dilakukan
reduksi berangsur- angsur, traksi dilakukan pada kedua kaki secara vertikal dan
secara berangsur- angsur abduksi ditingkatkan hingga dalam 3 minggu, kedua
kaki terentang lebar- lebar. Manuver ini dapat mencapai reduksi konsentrik stabil
dan dicek dengan rontgen pelvis.7,8
Pembebatan panggul yang direduksi secara konsentrik ditahan dalam suatu
spika gips dalam keadaan 60o fleksi, 40o abduksi dan 20o rotasi internal. Setelah 6
minggu spika digantikan dengan bebat yang mencegah adduksi tetapi
memungkinkan gerakan suatu pengikat pelvik atau gips lutut dengan batang
melintang. Bebat ini dipertahankan selama 3-6 bulan lagi dan diperiksa dengan
rontgen untuk memastikan caput femoris tereduksi secara konsentrik dan atap
acetabulum berkembang dengan normal.7,8
Operasi
Kalau setiap tahap reduksi konsentrik belum dicapai, diperlukan operasi
terbuka.

21

3. Dislokasi menetap 18 bulan ke atas.


Pada anak yang lebih tua, reduksi tertutup kemungkinan kurang berhasil,
banyak ahli bedah langsung melakukan atrografi dan reduksi terbuka. Traksi
dilakukan jika reduksi tertutup tidak berhasil. Traksi membantu melonggarkan
jaringan dan menurunkan caput femoris berhadapan dengan acetabulum.
Operasi kapsul sendi dibuka di bagian anteriornya, setiap limbus yang ke
dalam dibuang dan caput femoris ditempatkan pada acetabulum. Biasanya
diperlukan osteotomi derotasi.
Pembebatan dilakukan setelah operasi, panggul ditahan dalam spika gips
selama 3 bulan dan kemudian dengan bebat memungkinkan beberapa gerakan
pinggul selama 1- 3 bulan dan diperiksa dengan rontgen untuk memastikan telah
tereduksi dan sedang berkembang secara memuaskan.7,8,9

2.7

Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin dapat terjadi, termasuk redislocation,

kekakuan panggul, infeksi, kehilangan darah dan kemungkinan nekrosis paling


berat dari caput femuris. Tingkat nekrosis caput femuris bervariasi, pada
penelitian ini rentang tingkat dari 0% sampai 73%. Banyak penelitian
menunjukkan bahwa abduksi ekstrim, khususnya dikombinasikan dengan ekstensi
dan rotasi internal, menghasilkan nekrosis avaskular yang lebih tinggi kecuali
dikoreksi segera setelah lahir, penekanan abnormal menyebabkan malformasi
perkembangan tulang paha dengan gaya berjalan pincang. Jika kasus kelainan
panggul kongenital terlambat diobati, anak akan memiliki kesulitan berjalan yang
dapat mengakibatkan rasa sakit seumur hidup. Selain itu jika kondisi ini tidak

22

diobati posisi pinggul abnormal akan memaksa acetabulum untuk mencari posisi
lain untuk menampung caput femuris.8

23

BAB 3
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Congenital Hip Dysplasia (CDH) adalah deformitas ortopedik yang

didapat segera sebelum atau pada saat kelahiran. Ada tiga pola yang terlihat: (1)
subluxation, caput femoris berada diacetabulum dan dapat mengalami dislokasi
parsial saat pemeriksaan; (2) dislocatable, pinggul dapat dislokasi seluruhnya
dengan manipulasi tetapi berada pada lokasi normal pada saat bayi istirahat; (3)
dislocated, pinggul berada dalam posisi dislokasi. Ada beberapa faktor penyebab
yang diduga berhubungan dengan terjadinya Congenital Dislocation of the Hip
(CDH), antara lain faktor genetik, faktor hormonal, malposisi intrauterine dan
faktor pasca kelahiran. Gambaran klinis dislokasi panggul kongenital adalah
asimetri pada lipatan- lipatan kulit paha. Diagnosis Congenital Dislocation of the
Hip (CDH) ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan radiologis.
Penatalaksanaan CDH bergantung pada usia janin dan tingkat keparahan
abnormalitas, umumnya hanya dengan pembebatan untuk mempertahankan sendi
panggul dalam posisinya dan penderita usia 6-18 bulan, dapat dicoba reduksi
tertutup dan tindakan operasi dipertimbangkan bila reduksi ini tidak berhasil dan
bagi kelainan telah bersifat irreversible sehingga tindakan operasi merupakan satu
satunya alternatif pengobatan untuk mengoreksi kelainan yang ada.
Komplikasi CDH adalah

redislokasi,

kekakuan pinggul, infeksi,

kehilangan darah, dan nekrosis caput femoralis. Prognosis baik jika dideteksi dini

24

dan segera ditangani jika tidak, dapat menyebabkan komplikasi. Merupakan


kompetensi seorang dokter umum untuk dapat mengetahui, mendiagnosis, dan
mengenali pemeriksaan radiologi yang diperlukan untuk menunjang diagnosis
dari CDH.

25

DAFTAR PUSTAKA

1. Hardy M, Boynes S. Paediatric Radiography. UK: Blackwell Science Ltd.


2003.
2. Chen MYM, Pope TL, Ott DJ. Basic Radiology. US: McGraw-Hill
Companies, Inc. 2004.
3. Mettler FA. Essentials of Radiology. 2nd Ed. Philadelphia: Saunders-Elsevier.
2005.
4. American Academy of Pediatrics. 2015. Clinical Practice Guideline: Early
Detection of Developmental Dysplasia of the Hip. Didapat dari : http://
pediatrics.aappublications.org/content/105/4/896.full diakses pada tanggal 28
Januari 2016.
5. Iqbal J. Congenital Dislocation of the Hip. Nishtar Medical Journal. 2009:
1(4): 16-23
6. Scoutt L, et al. 2013. Ultrasound Examination for Detection and Assessment
of Developmental Dysplasia of the Hip. USA. American Institute of
Ultrasound in Medicine
7. Sjamsuhidajat, Dejong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi ke-2. Jakarta:
EGC. 2005
8. Apley Graham dkk. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley Edisi ke-7.
Jakarta: Widya Medika. 1995
9. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Bintang
Lamumpatue. 2003

26

10. Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI. 2008
11. Court S, Giovannoni L. How Stuff Works : Hip Dysplasia Overview. Didapat
dari : http://health.howstuffworks.com/diseases-conditions/musculoskeletal/
hip-dysplasia3.htm diakses pada tanggal 28 Januari 2016.
12. Arab Bones. Developmental Dysplasia of the Hip in Children : A Patients
Guide to Developmental Dysplasia of the Hip in Children. Didapat dari :
http://

arabbones.com/educations/Developmental-Dysplasia-of-the-Hip-in-

Children. htm diakses pada tanggal 28 Januari 2016.


13. ElBeialy MA. Developmental Dysplasia of the Hip. Didapat dari
http://radiopa edia.org/cases/developmental-dysplasia-of-the-hip-5 diakses
pada tanggal 28 Januari 2016.
14. Duke Orthopaedics. Wheeless Textbook of Orhopaedics : Developmental
Dislocation of the Hip. Didapat dari http://www.wheelessonline.com/ortho/
developmental_dislocation_of_the_hip diakses pada tanggal 28 Januari 2016.
15. Moses S. Family Pratice Notebook : Teratologic Congenital Hip Dislocation.
Didapat dari http://www.fpnotebook.com/Ortho/Peds/TrtlgcCngntlHpDslctn.
htm diakses pada tanggal 28 Januari 2016.
16. University of Virginia. Pediatric Radiology : Developmental Dysplasia of the
Hip.

Didapat

dari

https://www.med-ed.virginia.edu/courses/rad/peds/

ms_webpages/ms3bddh.html diakses pada tanggal 28 Januari 2016.


17. University of Virginia. Pediatric Radiology : Developmental Dysplasia of the
Hip.

Didapat

dari

https://www.med-ed.virginia.edu/courses/rad/peds/

ms_webpages/ms3cpffd.html diakses pada tanggal 28 Januari 2016.

27

18. University of Virginia. Pediatric Radiology : Developmental Dysplasia of the


Hip.

Didapat

dari

https://www.med-ed.virginia.edu/courses/rad/peds/

ms_webpages/ ms3dseptic.html diakses pada tanggal 28 Januari 2016.


19. University of Virginia. Pediatric Radiology : Developmental Dysplasia of the
Hip.

Didapat

dari

https://www.med-ed.virginia.edu/courses/rad/peds/

ms_webpages/ms3eleggcalve.html diakses pada tanggal 28 Januari 2016.


20. University of Virginia. Pediatric Radiology : Developmental Dysplasia of the
Hip.

Didapat

dari

https://www.med-ed.virginia.edu/courses/rad/peds/

ms_webpages/ms3fscfe.html diakses pada tanggal 28 Januari 2016.

28