Anda di halaman 1dari 10

BAB I

Pendahuluan
Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) adalah perdarahan dalam lumen saluran
cerna mulai dari esofagus sampai duodenum (dalam batas di ligamentum Treitz). Manifestasi
kliniknya beragam tergantung lama, kecepatan, banyak sedikitnya darah yang hilang, dan
berlangsung terus menerus atau tidak. Manifestasi klinik yang paling sering pada SCBA
adalah adanya hematemesis, yaitu muntah darah segar dan atau berwarna hitam karena sudah
terpapar asam lambung sehingga terbentuk hematin hitam, yang dilanjutkan dengan
timbulnya melena. Hal ini terjadi terutama pada perdarahan di esofagus dan lambung.
Etiologi SCBA di Indonesia biasanya disebabkan oleh varices esofagus akibat hipertensi
portal (lebih kurang 70%), tukak peptik dan gastritis erosif karena pemakaian OAINS,
esofagitis, keganasan SCBA.
OAINS adalah salah satu obat yang sering dijadikan resep oleh dokter. Obat ini
dianggap sebagai first line theraphy untuk arthritis dan digunakan secara luas pada kasus
trauma, nyeri pasca pembedahan, dan nyeri lainnya. Sebagian besar efek OAINS pada
saluran cerna bersifat ringan dan reversible, hanya sebagian kecil saja yang memberi efek
berat pada saluran cerna sehingga dapat berakibat terjadinya tukak peptuk, perdarahan
saluran cerna, dan perforasi.

BAB II
Laporan Kasus
Seorang pasien, Tn.A, 48 tahun datang ke UGD RS Trisakti dengan keluhan muntahmuntah cairan seperti kopi dan BAB berwarna hitam.
Sekitar 2 jam yang lalu Tn. A mengeluh muntah-muntah isi cairan seperti kopi dan
BAB berwarna hitam. Tn. A juga sering mengeluh nyeri di ulu hati, mual, dan kembung
terutama sejak 2 bulan terakhir. Tn. A adalah seorang yang obese, sering mengeluh nyeri pada
kedua lututnya terutama saat dilipat sehingga pasien sering mengkonsumsi obat-obat rematik.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan:
Status Generalis :
Kesadaran compos mentis. Tampak pucat dan lemah, mimik wajah kesakitan di perut bagian
atas. Pasien datang dengan dituntun oleh istrinya.
Tanda vital :
TD : 95/70 mmHg; Nadi : 110x/menit reguler, equal, isi kecil; suhu :36,5 oC; pernapasan :
20x/menit
Kepala: mata: konjungtiva anemis +/+; sklera ikterik -/Thorax: tidak ada kelainan
Abdomen : inspeksi : tidak tampak kolateral; palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium +, hepar
dan lien tidak teraba; perkusi : tympani; auskultasi : BU+n
Ekstremitas : akral dingin dan pucat

DARAH LENGKAP
8 g/dL
21%
6.200/L
56 mm/jam
340.000/L
Basofil
0
eosinofil
1
Ntrofil batang
5
Netrofil
Hitung jenis
51
segmen
Limfosit
39
Monosit
4
Ureum
38 mg/dL
Kreatinin
1,1 mg/dL
Bilirubin total
1,0 mg/dL
Direk
0,6 mg/dL
Indirek
0,4 mg/dL
Gamma GT
36 U/L
SGOT
26 U/L
SGPT
30 U/L
Albumin
3,7 g/dL
Asam urat
7,1 mg/dL
Gula darah
97 mg/dL
puasa
Foto lutut
Gula
darah 2 : Kesan
138 mg/dL
jam
PP
menyempit,
tampak
Kolesterol total
238 mg/dL
HDL
38 mg/dL
EKG
: Dalam
LDL
168 mg/dL
Trigliserida
278 mg/dL
URINANALISA
USG Abdomen
:
Albumin
Negatif
abdomen bagian atas
Reduksi
Negatif
Sedimen
Negatif
Gastroskopi Hari I :
Leukosit
5-6/LPB
Eritrosit
1/LPB
Silinder
Negatif
Epitel
Positif
kopi (sisa perdarahan)
Kristal
Positif
Bakteri
Negatif
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
LED
Trombosit

TINJA
Warna
Benzidin
test
Lain-lain

Hitam
Positif 4
Negatif

osteoatritis kedua genu : Celah sendi


osteofit
batas normal
Tidak ada kelainan pada organ

a. Esofagus tidak ada varices


b. Lambung tampak cairan seperti

c. Erosi berat pada antrum dengan


sisa perdarahan
d. Tukak multipel di antrum dengan sisa perdarahan
e. Bulbus duodeni tidak tampak ulkus atau erosi, masih tampak sisa
darah
Kesan : Gastritis erosif di lambung, ulkus lambung multipel, masih
menunjukan perdarahan.
3

BAB III
Pembahasan Kasus
I.

ANAMNESIS
a. Identitas Pasien
Nama
: Tn. A
Usia
: 48 tahun
b. Keluhan Utama
Muntah-muntah cairan seperti kopi dan BAB berwarna hitam
c. Keluhan Tambahan
Nyeri di ulu hati, mual, dan kembung sejak 2 bulan terakhir. Karena obese,
pasien ini sering mengeluh nyeri di kedua lutunya terutama saat dilipat.
d. Riwayat Penyakit Sekarang
1. Muntah-muntah cairan seperti kopi dan BAB berwarna hitam terjadi sejak
2.
3.
4.
5.

kapan?
Berapa banyak muntah-muntah dan BAB yang terjadi?
Bagaimana sifat nyeri yang dirasakan?
Kapan nyeri paling dirasakan?
Apakah ada penurunan berat badan?

e. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Apakah ada riwayat penyakit hati?
2. Apakah ada riwayat penyakit radang sendi?
f. Riwayat Penyakit Keluarga
1. Apakah di dalam keluarga ada yang memiliki keluhan serupa?
g. Riwayat Pengobatan
1. Obat-obat apa saja yang dikonsumsi?
h. Riwayat Kebiasaan
1. Apakah pasien merokok?
2. Apakah pasien minum alkohol?
3. Apakah sering berolahraga?
4. Bagaimana pola makan pasien?
II.

HIPOTESIS
Beberapa hipotesis yang didapat berdasarkan kasus di atas adalah gastritis
erosif karena OAINS, tukak peptik karena infeksi Helicobacter pylori, varices
esofagus akibat dari hipertensi porta, dan keganasan. Hipotesis varices esofagus
dapat disingkirkan karena tidak ditemukan adanya pembesaran pada hepar.

Hipotesis keganasan juga dapat disingkirkan karena tidak ada pembesaran pada
lien.
III.

DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis kerja pada pasien ini adalah gastritis erosif et causa OAINS.
Diagnosis ini ditegakan berdasarkan keluhan pasien, yaitu adanya hematemesis
dan melena; nyeri di ulu hati, mual, dan kembung; dan nyeri pada kedua lutut
sehingga mengkonsumsi obat-obat rematik. Untuk diagnosis banding pada pasien
ini adalah tukak peptik et causa Helicobacter pylori.
PATOFISIOLOGI1

IV.

OAINS

Kerusakan epitel
Fungsi sawar terganggu
Sintesis PG Perlindungan mukosa

Ulkus

V.

INTERPRETASI HASIL
NORMAL2

DARAH LENGKAP
Hemoglobin

8 g/dL

13-16 g/dL

Hematokrit

21%

40-48 %

Leukosit

6.200/L

LED

56 mm/jam

Trombosit

340.000/L

Hitung jenis

Ureum

Luka/Lesi

Basofil
0
Eosinofil
1
Netrofil
5
batang
Netrofil
51
segmen
Limfosit
39
Monosit
4
38 mg/dL

5.00010.000/L
0-10
mm/jam
150.000
450.000/L
0-1%
1-3%

Normal

Peningkatan LED terjadi karena anemia a


perdarahan hebat yang diderita pasien.
Normal
Normal
Normal

2-6%

Normal

50-70%

Normal

20-40%
2-8%
8-25 mg/dL
5

INTERPRETASI HASIL
Terjadi penurunan kadar Hb karena
perdarahan yang terjadi.
Penurunan kadar Ht terjadi karena perda
yang mengakibatkan kadar eritrosit men
(anemia).

Normal
Normal
Meningkat

Kreatinin

1,1 mg/dL

Bilirubin total

1,0 mg/dL

Direk
Indirek
Gamma GT
SGOT
SGPT
Albumin

0,6 mg/dL
0,4 mg/dL
36 U/L
26 U/L
30 U/L
3,7 g/dL

Asam urat

7,1 mg/dL

Gula Darah
Puasa
Gula Darah 2
jam PP

97 mg/dL
138 mg/dL

Kolesterol total

238 mg/dL

HDL

38 mg/dL

LDL

168 mg/dL

Trigliserid

278 mg/dL

Epitel
Kristal
Bakteri

<36 U/L
<38 U/L
<38 U/L
>3,5 g/dL
<6 mg/dL
70-110
mg/dL
<140
mg/dL
<200
mg/dL
>50 mg/dL
<100
mg/dL
<170
mg/dL

Normal
Normal
Meningkat

Normal
Normal
Normal
Normal
Kadar yang meningkat ini terjadi akibat d
peningkatan katabolisme purin dari asup
makanan tinggi purin.
Normal
Normal
Meningkat
Menurun
Meningkat
Meningkat

Negatif
Negatif

NORMA
L
Negatif
Negatif

Normal
Normal

Negatif

Negatif

Normal

5-6/LPB
1/LPB
Negatif

<8/LPB
<2/LPB
Negatif

Positif

Negatif

Positif
Negatif
TINJA

Negatif
Negatif

Normal
Normal
Normal
Hasil positif dapat merupakan hal yang fisiologis karena
epitel ini dapat berasal dari epitel skuamosa vesika
urinaria yang mudah terlepas
Kristal yang terlihat dapat merupakan kristal asam urat
Normal
INTERPRETASI HASIL
Merupakan hasil dari perdarahan saluran cerna bagian
atas yang sudah tercampur oleh asam lambung
Menandakan kadar hemoglobin dalam tinja sangat
tinggi
Normal

URINANALISIS
Albumin
Reduksi
Sedime
n
Leukosit
Eritrosit
Silinder

0,7-1,5
mg/dL
0,2-1,2
mg/dL
0-0,2 mg/dL

Warna

Hitam

Benzidin test

Positif 4

Lain-lain

Negatif

INTERPRETASI HASIL

Tanda vital :
TD : 95/70 mmHg pasien mengalami hipotensi
6

Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VII


Sistolik

Kategori

(mmHg)

Normal

<120

Pre hipertensi
Hipertensi stage I
Hipertensi stage II

120-139
140-159
>160

Nadi
Suhu
Pernapasan
Kepala
Thorax
Abdomen

Ekstremitas

Foto lutut

Diastolik (mmHg)
<80
80-89
90-99
>100

: 110x/menit reguler, equal, isi kecil meningkat


(normal : 60-100x/menit)
: 36,5oC normal (36,5oC-37,2oC)
: 20x/menit normal (14-20x/menit)
: Mata : Konjungtiva anemis +/+ anemia karena perdarahan
Sklera ikterik -/- normal
: Tidak ada kelainan
: Inspeksi
: Tidak tampak kolateral
Palpasi
: Supel, nyeri tekan epigastrium +, hepar dan
lien tidak teraba tidak ada hepatomegali
dan spleenomegali
Perkusi
: Tympani
Auskultasi : BU (+) normal
: Akral dingin dan pucat Capillary Filling Time menurun
karena pengisisan nadi sedikit
:

Kesan osteoatritis kedua genu : Celah sendi menyempit, tampak osteofit


Menunjukan bahwa pasien menderita osteoartritis. Diagnosis ini juga dapat
didukung dari anamnesis yang menyatakan bahwa pasien sering mengeluh nyeri
pada kedua lututnya. Keadaan pasien yang obesitas juga dapat menjadi faktor
resiko dari penyakit ini.
EKG

: Dalam batas normal

USG Abdomen : Tidak ada kelainan pada organ abdomen bagian atas
Gastroskopi Hari I
a.
b.
c.
d.

Esofagus tidak ada varices


Lambung tampak cairan seperti kopi (sisa perdarahan)
Erosi berat pada antrum dengan sisa perdarahan
Tukak multipel di antrum dengan sisa perdarahan

e. Bulbus duodeni tidak tampak ulkus atau erosi, masih tampak sisa
darah
Kesan : Gastritis erosif di lambung, ulkus lambung multipel, masih
menunjukan perdarahan.
Dari pemeriksaan gastroskopi didapatkan bahwa perdarahan bukan
berasal dari esofagus. Dengan adanya erosi berat juga tukak multipel di bagian
antrum dan dengan terlihatnya cairan seperti kopi, menandakan perdarahan yang
masih berlangsung.

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemasangan Nasogastric Tube (NGT)
Pemasangan NGT dilakukan untuk mengatahui benar atau tidak
adanya perdarahan saluran cerna, aktifnya proses perdarahan atau sudah
berhentinya perdarahan, prakiraan volume darah yang hilang, dan untuk
mengetahui adanya kemungkinan gangguan hemostatis. Disamping itu juga
untuk mengeluarkan asam lambung dan memungkinkan bilas lambung serta
pemberian obat.3

b. Emergency Endoskopi
Tujuan pemeriksaan endoskopi ini adalah untuk menemukan asal
perdarahan, mengidentifikasi lesi atau kelainan yang ada pada SCBA.
Kemungkinan ditemukannya sumber perdarahan yang masih aktif atau tanda
bekas berdarah (stigmata of recent bleeding) akan dipengaruhi oleh waktu atau
kapan pemeriksaan itu dilakukan.3
VII.

PENATALAKSANAAN
MEDIKA MENTOSA
1. Atasi syok yang dialami pasien dengan transfusi darah sampai kadar
hemoglobin optimal.
2. Hentikan perdarahan dengan endoskopi terapeutik. Hal ini dilakukan dengan
cara penyuntikan larutan epinefrin 1:10.000.4 Setelah itu keluarkan sisa-sisa
darah yang masih ada di gaster.
3. Cegah perdarahan sekunder dengan pemberian PPI (Proton Pump Inhibitor).
Diawali dengan bolus omeprazol 80 mg i.v. kemudian dilanjutkan dengan per
infus dosis 8 mg/KgBB/jam selama 72 jam.4
8

4. Berikan sukralfat dosis 4x1 gr/hari untuk meningkatkan daya pertahanan dan
perbaikan mukosa gaster.5
5. Berikan kombinasi misoprostol dosis 2x400 mg dan esomeprazol dosis 20-40
mg/hari untuk mencegah sekresi asam lambung pada pengguna OAINS.5

NON MEDIKA MENTOSA


1. Hindari konsumsi OAINS. Tapi jika memang harus mengkonsumsi obat-obat
tersebut, gunakan OAINS COX2 inhibitor untuk mengurangi resiko terjadinya
tukak peptik.
2. Istirahat yang cukup.
3. Hindari rokok dan alkohol.
4. Hindari makanan yang dapat merangsang sekresi asam lambung dan makanan
yang mengandung purin.
5. Olahraga yang cukup.5

VIII.

KOMPLIKASI
a. Perforasi/Penetrasi
Dari 6-7% insidensi perforasi yang terjadi, hanya 2-3% yang
mengalami perforasi terbuka ke peritoneum, 10% tanpa keluhan, dan 10%
disertai dengan perdarahan tukak dengan mortilitas yang meningkat. Insiden
perforasi meningkat pada usia lanjut dan meningkatnya penggunaan OAINS.
Perforasi tukak peptik biasanya ke hepar lobus kiri, dapat menimbulkan fistula
gastro kolik.
Penetrasi adalah bentuk perforasi yang tidak terbuka/tidak ada
pengeluaran isi lambung karena tertutup oleh omentum/organ abdomen
sekitarnya.5
b. Stenosis pilorik (Gastric Outlet Obstruction)
Kejadian obstruksi bisa temporer dan permanen. Obstruksi temporer
terjadi akibat peradangan daerah peri pilorik timbul edema, spasme. Obstruksi
ini akan membaik jika peradangan yang terjadi sembuh. Sedangkan obstruksi
permanen terjadi akibat fibrosis dari suatu tukak sehingga mekanisme
pergerakan antro duodenal terganggu.
Bila terjadi obstruksi, biasanya pasien akan mengeluh cepat kenyang,
muntah berisi makanan yang tidak tercerna, sakit perut setelah makan, dan
berat badan menurun.5
9

IX.

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

10

Anda mungkin juga menyukai