Anda di halaman 1dari 19

1

A. JUDUL

TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG

BERDASARKAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM


PIDANA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN
2011 TENTANG MATA UANG
B. Latar Belakang Masalah
Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan
berdaulat memiliki simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan
dibanggakan oleh seluruh Warga Negara Indonesia. Salah satu simbol
kedaulatan negara tersebut adalah Mata Uang.
Mata Uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Negara Republik
Indonesia adalah Rupiah. Rupiah dipergunakan sebagai alat pembayaran
yang sah dalam kegiatan perekonomian nasional guna mewujudkan
kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Pasal 23B mengamanatkan
bahwa macam dan harga Mata Uang ditetapkan dengan undang-undang.
Penetapan

dan

pengaturan

tersebut

diperlukan

untuk

memberikan

pelindungan dan kepastian hukum bagi macam dan harga Mata Uang.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terkenal dengan adat istiadat
dan kepribadiannya yang luhur. Pada zaman dahulu, Bangsa Indonesia sangat
disegani oleh bangsa lain karena kepribadiannya dan kesantunannya. Seiring
dengan perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) banyak
orang pandai, akan tetapi kepandaian tersebut tidak diikuti dengan etika dan

moral yang baik sehingga banyak orang yang memanfaatkan kepandaian


tersebut untuk berbuat yang melanggar aturan negara. Maraknya berbagai
macam jenis kejahatan suatu bukti bahwa tingkat moralitas dan akhlak
masyarakat sudah mulai berkurang. Salah satunya adalah kejahatan di bidang
mata uang.
Uang adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Dalam sejarah peradaban manusia, uang telah memainkan peranannya, baik
sebagai alat pembayaran yang sah di dalam suatu negara, maupun sebagai
simbol negara yang menjadi alat pemersatu, atau dapat juga menjadi alat
penguasaan perekonomian atau penjajahan oleh satu negara kepada negara
lainnya. Uang sebagai alat penggerak pertumbuhan perekonomian telah
mendapat kedudukan untuk memaksakan kehendak dari suatu negara kepada
negara lainnya, atau dari suatu badan (politik) untuk menanamkan
pengaruhnya, atau mempengaruhi pelaksanaan wewenang dari orang
perorangan tertentu.
Adanya uang maka perekonomian suatu negara akan berjalan dengan
baik sehingga

mendukung tercapainya tujuan bernegara, yaitu mencapai

masyarakat adil dan makmur. Selain itu, jika dilihat secara khusus dari bidang
moneter, jumlah uang yang beredar dalam suatu negara harus dikelola dengan
baik sesuai dengan kebutuhan perekonomian.
Uang memiliki peranan strategis dalam perekonomian suatu negara.
Walaupun saat ini berkembang penggunaan transaksi secara elektronik,

namun tidak mengurangi pentingnya transaksi tunai. Terlebih lagi dalam


masyarakat Indonesia sebagian besar masyarakat masih menggunakan uang
kartal (uang kertas).
Di era perekonomian yang terpuruk karena krisis ekonomi yang
melanda negara-negara di dunia ini mengakibatkan keadaan hidup dan
kebutuhan hidup manusia dirasa sangat menghimpit. Melalui media massa
dan televisi kita dapat melihat bahwa pelaku tindak pidana di Indonesia
khususnya mengalami peningkatan. Tindak pidana yang dilakukan tidak
hanya tindak pidana dengan kekerasan, akan tetapi juga dalam modus-modus
yang lain seperti pembajakan, penipuan dan pemalsuan. Salah satu tindak
pidana yang banyak terjadi adalah pemalsuan uang. Peran uang yang penting
seperti dikemukakan di atas, telah menumbuhkan keinginan manusia untuk
memiliki

uang

sebanyak-banyaknya,

tidak

sedikit

cara-cara

untuk

memperoleh uang dilakukan dengan cara melawan hukum.


Kejahatan pemalsuan mata uang dewasa ini semakin merajalela dalam
skala yang besar dan sangat merisaukan di mana dampak yang paling utama
yang ditimbulkan oleh kejahatan pemalsuan mata uang ini yaitu dapat
mengancam kondisi moneter dan perekonomian nasional. Dari segi
dampaknya terhadap kepentingan negara, kejahatan pemalsuan uang
menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap mata uang sendiri.
Pengaturan ancaman terhadap tindak pidana pemalsuan uang secara
spesifik diatur dalam KUHP pada pasal 244 dan pasal 245. Perbedaan kedua

pasal tersebut adalah hanya perbedaan unsur saja, jika pada pasal 245
mengancam pelaku yang dengan sengaja mengedarkan atau menyimpan uang
palsu. Sedangkan pada pasal 244 dijelaskan terhadap ancaman pidana
terhadap orang yang dengan sengaja meniru atau membuat uang palsu. Pasal
244 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan tegas melarang seseorang
untuk meniru atau memalsukan uang, yang dengan demikian tiada hak bagi
seseorang untuk melakukannya. Namun bukan hal yang mustahil apabila ada
seseorang karena keahliannya mampu meniru atau memalsukan uang, asal
saja tidak dimaksudkan untuk diedarkan sebagai yang asli. Misal saja untuk
dipertontonkan kepada masyarakat umum tentang bentuk-bentuk uang yang
dipalsukan atau dalam rangka ilmu pengetahuan. Selain itu, pengaturan
ancaman terhadap tindak pidana pemalsuan uang juga diatur di dalam
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
Masalah yang dapat timbul akibat beredarnya uang palsu yakni adanya
alat pembayaran tidak sah yang menyebar di masyarakat, dan selain itu juga
dapat

menimbulkan

permasalahan-permasalahan

baru

di

kalangan

masyarakat seperti membelanjakan dengan mengunakan uang palsu,


disebabkan karena masyarakat masih belum bisa membedakan uang asli
dengan uang palsu. Oleh karena kenyataan tersebut, maka masyarakat
menjadi resah. Dalam rangka penegakan hukum pidana berkaitan dengan
banyaknya pemalsuan uang, maka peranan kepolisian sangat penting. Situasi
dan kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi Kepolisian
Republik Indonesia (Polri) sebagai institusi yang dipercaya masyarakat dalam

melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat, serta menegakkan hukum,


memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Ada beberapa strategi dalam penegakan hukum tindak pidana
pemalsuan uang, diantaranya adalah mensosialisasikan keaslian uang rupiah
kepada seluruh masyarakat, antara lain dengan slogan 3D (Dilihat, Diraba,
Diterawang).
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan pemecahan
terhadap masalah-masalah yang telah terjadi, dengan maksud agar negara dan
masyarakat Indonesia termasuk masyarakat di wilayah hukum Kota Tarakan
tidak selalu dirugikan oleh perbuatan orang-orang atau kelompok-kelompok
pelaku kejahatan pemalsuan uang dan menyelamatkan negara dari ancaman
kerugian perekonomian negara serta mengangkat martabat negara.
Sejalan dengan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas
sebagai bahan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul Tindak Pidana
Pemalsuan Uang berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah di
atas, maka penulis mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Ketentuan hukum terhadap tindak pidana pemalsuan uang berdasarkan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2011 tentang Mata Uang.

2. Sanksi Pidana terhadap pelaku tindak pidana pemalsuan uang berdasarkan


Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2011 tentang Mata Uang.
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan dan kegunaan penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal
sebagai berikut :
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui ketentuan hukum terhadap tindak pidana
pemalsuan uang berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
b. Untuk mengetahui sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana
pemalsuan uang berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
2. Kegunaan Penelitian
a. Dari segi teoritis
- Dapat memberikan informasi, baik kepada kalangan akademis
maupun untuk kalangan masyarakat terutama masyarakat di
wilayah hukum Kota Tarakan tentang pentingnya mengetahui halhal apa yang harus dilakukan apabila menerima uang yang
-

diragukan keasliannya.
Dapat memberikan informasi kepada kita semua, bahwa
pemalsuan terhadap mata uang rupiah merupakan suatu kejahatan
yang sangat merugikan negara dan mengancam stabilitas
perekonomian negara yang harus ditindak dengan tegas oleh para

penegak hukum.
b. Dari segi praktis
- Untuk dapat berperan dalam membantu para penegak hukum
melakukan pemberantasan kejahatan pemalsuan mata uang rupiah,

agar masyarakat termasuk masyarakat di Kota Tarakan menjadi


lebih sadar untuk melaporkan apabila terjadi kejahatan pemalsuan
-

uang kertas rupiah.


Agar pihak kepolisian dan Bank Indonesia semakin meningkatkan
kerjasamanya dalam rangka mengupayakan penegakan hukum
terhadap

kejahatan

pemalsuan

uang

kertas

rupiah

serta

pengedarannya.
Agar para penegak hukum menjalankan fungsinya dengan
semaksimal mungkin terhadap kejahatan pemalsuan uang kertas
rupiah.

E. Metode Penelitian
1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah penelitian hukum normatif (yuridis normatif),
yaitu metode penelitian hukum yang dilakukan dengan meneliti bahan
pustaka atau data sekunder belaka. Dalam kaitannya dengan penelitian
normatif di sini akan digunakan beberapa pendekatan, yaitu :
- Pendekatan perundang-undangan (statute approach) adalah suatu
pendekatan yang dilakukan terhadap berbagai aturan hukum yang
berkaitan dengan Penegakan Hukum Pidana terhadap Kejahatan
-

Pemalsuan Uang Kertas Rupiah dan Pengedarannya di Kota Tarakan.


Pendekatan Konsep (conceptual approach)
Pendekatan konsep (conceptual approach) digunakan untuk
memahami konsep-konsep tentang kejahatan pemalsuan uang dan
pengedarannya.

Dengan

didapatkan konsep yang jelas

maka

diharapkan penormaan dalam aturan hukum ke depan tidak lagi terjadi


pemahaman yang kabur dan ambigu.
2. Sumber Data

a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan yang bersumber dari


peraturan perundang-undangan yang ada kaitannya dengan Tindak
Pidana Pemalsuan Uang yaitu :
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang
-

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia.


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 Tentang

Mata Uang.
Peraturan Bank Indonesia Nomor : 6/14/PBI/2004 Tentang
Pengeluaran, Pengedaran, Pencabutan dan Penarikan serta

Pemusnahan Uang Rupiah.


b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan yang terdiri dari :
1. Buku-buku teks (literatur)
2. Jurnal Hukum
c. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk
atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan sekunder,
seperti kamus hukum, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan
lain-lain.
3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Bahan hukum ini pertama-tama diperoleh dengan melakukan studi
kepustakaan yang meliputi pengumpulan buku-buku yang berkaitan
dengan permasalahan, peraturan perundang-undangan yang berhubungan
dengan apa yang menjadi permasalahan yang dibahas dan pengumpulan
bahan dari berbagai media yang membahas dan mengulas mengenai
permasalahan ini.

4. Analisis Bahan Hukum


Analisis bahan hukum yang dilakukan oleh penulis adalah dilaksanakan
secara deskriptif kualitatif yaitu menerangkan dengan memusatkan pada
masalah tentang tindak pidana pemalsuan uang berdasarkan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun
2011 tentang Mata Uang.
F. Sistematika Penulisan
Dalam rangka memberikan gambaran mengenai pokok-pokok dalam karya
ilmiah ini, maka penulis mengemukakan sistematika penulisan sebagai
berikut :
BAB I

: PENDAHULUAN, merupakan bab awal dalam penulisan ini


yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan
kegunaan penelitian, metode penelitian dan sistematika

BAB II

penulisan.
: TINJAUAN PUSTAKA, dalam bab ini berisikan teori-teori
yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, yaitu
menguraikan tinjauan umum mengenai tindak pidana, tinjauan
umum mengenai pemalsuan, tinjauan umum mengenai uang,
tinjauan umum mengenai Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, tinjauan umum mengenai Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2011 tentang Mata Uang.

BAB III

: PEMBAHASAN, dalam bab ini membahas tentang ketentuan


hukum terhadap tindak pidana pemalsuan uang berdasarkan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang

10

Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dan sanksi pidana


terhadap pelaku tindak pidana pemalsuan uang berdasarkan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
BAB IV

: PENUTUP, merupakan bab terakhir dalam penulisan ini yang


berisi tentang kesimpulan dan saran.

G. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Umum Mengenai Tindak Pidana
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak dijelaskan apa
pengertian tindak pidana itu. Oleh karenanya, pengertian tindak pidana
akan kita dapatkan dari para pakar ilmu hukum pidana. Berikut
merupakan beberapa pendapat tentang tindak pidana yang diberikan oleh
para pakar :
1. Simons, tindak pidana adalah kelakuan (handeling) yang diancam
dengan pidana, yang bersifat melawan hukum, yang berhubungan
dengan kesalahan, dan yang dilakukan oleh orang yang mampu
bertanggung jawab.
2. H.B Vos, tindak pidana adalah suatu kelakuan manusia yang diancam
pidana oleh peraturan undang-undang, jadi suatu kelakuan yang pada
umumnya dilarang dengan ancaman pidana.
3. Van Hamel, tindak pidana adalah kelakuan orang yang dirumuskan
dalam undang-undang, yang bersifat melawan hukum, yang patut
dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.
4. Moeljatno, perbuatan pidana (tindak pidana) adalah perbuatan yang
dilarang oleh suatu aturan hukum, dimana larangan disertai ancaman

11

(sanksi) yang berupa pidana tertentu, barang siapa melanggar


larangan tersebut.
5. Wirjono Prodjodikoro, tindak pidana adalah suatu perbuatan yang
pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana.
6. Andi Hamzah, tindak pidana adalah suatu perbuatan yang melanggar
hukum dan diancam dengan hukuman berdasarkan ketentuan di dalam
KUHP dan ketentuan Undang-Undang lainnya.1
Berdasarkan pengertian tindak pidana yang dikemukakan oleh para
pakar di atas, dapat diketahui bahwa pada tataran teoritis oleh para pakar
tidak ada kesatuan pendapat di antara pakar hukum dalam memberikan
definisi tentang tindak pidana. Pemberian definisi mengenai pengertian
tindak pidana oleh para pakar hukum terbagi
dalam dua (2) pandangan/aliran yang saling bertolak belakang, yaitu :2
1. Pandangan/Aliran Monistis, yaitu pandangan/aliran yang tidak
memisahkan

antara

pengertian

perbuatan

pidana

dengan

pertanggungjawaban pidana.
2. Pandangan/Aliran Dualistis, yaitu pandangan/aliranyang memisahkan
antara dilarangnya suatu perbuatan pidana (criminal act atau actus
reus) dan dapat dipertanggungjawabkan si pembuat (criminal
responsibility atau mens rea).
Unsur-Unsur Tindak Pidana :

1 Tri Andrisman, Asas-Asas dan Dasar Aturan Hukum Pidana Indonesia, Bagian Hukum
Pidana Unila, Lampung , 2009, hlm. 49
2 Ibid, hlm. 71

12

Perbedaan pandangan dalam menentukan definisi tindak pidana diatas


membawa konsekuensi dalam perumusan definisi tindak pidana. Aliran
Monistis dalam merumuskan pengertian tindak pidana dilakukan dengan
melihat : Keseluruhan syarat adanya pidana itu semuanya merupakan
sifat dari perbuatan. Sehingga dalam merumuskan pengertian tindak
pidana para pakar hukum yang menganut aliran ini tidak memisahkan
unsur-unsur tindak pidana mana yang merupakan unsure perbuatan
pidana dan mana yang unsur pertanggungjawaban pidana. Menurut
Simons, seorang penganut Aliran Monistis dalam merumuskan pengertian
tindak pidana, ia memberikan unsur-unsur tindak pidana sebagai
berikut :3
1. Perbuatan manusia (positif atau negatif; berbuat atau tidak berbuat);
2. Diancam dengan pidana;
3. Melawan hukum;
4. Dilakukan dengan kesalahan;
5. Orang yang mampu bertanggungjawab.
Menurut Aliran Monistis, apabila ada orang yang melakukan tindak
pidana, maka sudah dapat dipidana. Sedangkan menurut Aliran Dualistis
belum tentu, karena harus dilihat dan dibuktikan dulu pelaku/orangnya
itu, dapat dipidana tau tidak. Aliran Dualistis dalam memberikan
pengertian tindak pidana memisahkan antara perbuatan pidana dan
pertanggungjawaban pidana. Sehingga berpengaruh dalam merumuskan
3 Sudarto, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto, Semarang, 1990, hlm. 41

13

unsur-unsur tindak pidana. Menurut Moeljatno, seorang penganut Aliran


Dualistis merumuskan unsur-unsur perbuatan pidana/tindak pidana
sebagai berikut :4
1. Perbuatan (manusia);
2. Memenuhi rumusan dalam undang-undang (merupakan syarat
formil);
3. Bersifat melawan hukum (merupakan syarat materiil).
Seseorang untuk dapat dipidana, jika orang itu yang melakukan tindak
pidana

(yang

memenuhi

dipertanggungjawabkan

unsur-unsur

dalam

hukum

di

atas)

pidana.

harus

dapat

Jadi

unsur

pertanggungjawaban pidana ini melekat pada orangnya/pelaku tindak


pidana. Menurut Moeljatno unsur-unsur pertanggungjawaban pidana
meliputi :5
1. kesalahan,
2. kemampuan bertanggungjawab.
Berdasarkan pendapat para pakar hukum di atas bahwa dari 2 (dua)
aliran tersebut, aliran dualistis lebih mudah diterapkan karena secara
sistematis membedakan antara perbuatan pidana (tindak pidana) dengan
pertanggungjawaban pidana. Sehingga memberikan kemudahan dalam
penuntutan dan pembuktian tindak pidana yang dilakukan.
2. Tinjauan Umum Mengenai Pemalsuan Uang
Tindak pidana pemalsuan uang merupakan tindak kejahatan yang
sangat meresahkan masyarakat karena dapat merugikan dan menghambat
4 Ibid, hlm. 43
5 Ibid, hlm. 44

14

perekonomian

individu

maupun

negara.

Tujuan

serta

maksud

dilakukannya pemalsuan pada awalnya untuk memperkaya diri sendiri,


maupun untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan dengan membayar
menggunakan uang palsu tersebut. Namun dalam perkembangannya
mengingat arti dan nilai uang dalam berbagai aspek kehidupan manusia,
uang palsu juga dapat digunakan dengan tujuan untuk melumpuhkan
perekonomian suatu negara. Dalam sistem hukum pidana Indonesia,
kejahatan terhadap mata uang dan uang kertas adalah kejahatan berat.
Pemalsuan berasal dari kata dasar palsu yang dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia artinya adalah tiruan.6 Pemalsuan berasal dari Bahasa
Belanda yaitu Vervalsing atau Bedrog yang artinya proses, cara atau
pebuatan memalsu.7 Sedangkan mata uang adalah alat tukar standart
pengukur nilai (kesatuan hitungan yang sah dikeluarkan oleh pemerintah
suatu Negara yang berupa kertas, emas, perak, logam yang dicetak
dengan bentuk dan gambar tertentu).8 Menurut Dai Bactiar, uang palsu
adalah semua benda hasil tiruan uang baik uang kertas maupun uang
logam atau semacam uang atau uang yang dipalsukan yang dapat dan atau
dengan maksud akan diedarkan serupa yang asli.
Kejahatan meniru atau memalsukan mata uang dan uang kertas, yang
kadang disingkat dengan pemalsuan uang adalah berupa penyerangan
terhadap kepentingan hukum atas kepercayaan terhadap uang sebagai alat
6 Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-3, Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm. 817
7 Kamus Hukum, Pramadya Puspa, Semarang ,1997, hlm. 618
8 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op. Cit., hlm. 1232

15

pembayaran yang sah. Sebagai alat pembayaran, kepercayaan terhadap


uang harus dijamin.
3. Tinjauan Umum Mengenai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
KUHP merupakan singkatan dari Kitab Undang-undang Hukum
Pidana, yang nama aslinya adalah Wetboek van Strafrecht voor
Nederlandsch Indie (WvSNI). KUHP dibentuk sebagai suatu aturan yang
digunakan oleh Negara untuk menyelenggarakan ketertiban umum.
KUHP berlaku di Indonesia saat ini terbentuk sejak tahun 1915
(dalam bentuk kodifikasi) melalui Staatsblad 1915 No. 732. KUHP ini
mulai berlaku sejak 1 Januari 1918 ketika Indonesia masih dalam
penjajahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, KUHP dinyatakan
berlaku melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 (sudah diubah dan
disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia). Kemudian KUHP
dinyatakan berlaku umum (unifikasi hukum pidana) melalui UndangUndang Nomor 1 Tahun 1958 (29 September 1958). Kodifikasi KUHP
adalah selaras dengan WVS negeri Belanda. WVS bersumber dari Code
Penal Perancis, dan Code Penal Perancis bersumber dari Hukum Romawi.
Jadi, sumber KUHP sebenarnya dari Hukum Romawi.9
Sistematika KUHP terdiri atas tiga buku, yaitu :
Buku I:

Mengatur tentang Ketentuan Umum, terdiri atas 9 Bab, tiap


Bab terdiri atas berbagai pasal yang jumlahnya 103 pasal
(Pasal 1-103).

9 http://pakarhukum.site90.net/kuhp.php (Diakses pada hari sabtu tanggal 27 Desember


2014, pukul 13.15 WITA)

16

Buku II

: Mengatur tentang Kejahatan, terdiri dari atas 31 Bab dan 385


pasal (Pasal 104-488).

Buku III : Mengatur tentang Pelanggaran, terdiri atas 10 Bab yang


memuat 81 pasal (Pasal 489-569).
4. Tinjauan Umum Mengenai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang
Mata Uang
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang yaitu suatu
peraturan yang secara garis besar materi muatan yang diatur dalam
Undang-Undang ini meliputi (i) pengaturan mengenai Rupiah secara
fisik, yakni mengenai macam dan harga, ciri, desain, serta bahan baku
Rupiah; (ii) pengaturan mengenai Pengelolaan Rupiah sejak Perencanaan,
Pencetakan, Pengeluaran, Pengedaran, Pencabutan dan Penarikan, serta
Pemusnahan Rupiah; (iii) pengaturan mengenai kewajiban penggunaan
Rupiah, penukaran Rupiah, larangan, dan pemberantasan Rupiah Palsu;
serta (iv) pengaturan mengenai ketentuan pidana terkait masalah
penggunaan, peniruan, perusakan, dan pemalsuan Rupiah.10

10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang,


Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 64, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5223 (Selanjutnya disingkat UU Mata Uang)

17

DAFTAR BACAAN

A. Daftar Buku
Aminah, Jurnal Ilmiah Tindak Pidana Pemalsuan Uang berdasarkan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun
2011 tentang Mata Uang, Fakultas Hukum Universitas Mataram, 2013
Andrisman, Tri, Asas-Asas dan Dasar Aturan Hukum Pidana Indonesia,
Bagian Hukum Pidana Unila, Lampung , 2009, hlm. 49
C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta, 1986
Hamzah, Andi, Hukum Acara Pidana Indonesia Edisi Kedua, Sinar Grafika,
Jakarta, 2010

18

Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-3, Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm.
817
Kamus Hukum, Pramadya Puspa, Semarang ,1997, hlm. 618
Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum Edisi Revisi, Kencana, Jakarta,
2005
P.A.F. Lamintang dan Theo Lamintang, Delik-Delik Khusus KejahatanKejahatan terhadap Harta Kekayaan, Sinar Grafika, Jakarta, 2009
Raharjo, Satjipto, Hukum dan Masyarakat Cetakan Terakhir, Angkasa,
Bandung, 1980
Sudarto, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto, Semarang, 1990, hlm. 41

B. Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3258.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun
1999 Tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4357.

19

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata


Uang, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 64,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5223.
Peraturan Bank Indonesia Nomor : 6/14/PBI/2004 Tentang Pengeluaran,
Pengedaran, Pencabutan dan Penarikan serta Pemusnahan Uang
Rupiah.
C. Website
http://pakarhukum.site90.net/kuhp.php (Diakses pada hari sabtu tanggal 27
Desember 2014, pukul 13.15 WITA)