Anda di halaman 1dari 7

TUGAS SUMBER DAYA MINERAL DAN ENERGI

Dibuat Sebagai Syarat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sumber Daya Mineral
Dan Energi

Oleh :
Aldo Dwi Prastowo
03021281320013

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

PERBEDAAN UU NO 11 TAHUN 1967 DAN UU NO 4 TAHUN 2009

Pada dasarnya UU No 4 Tahun 2009 adalah bentuk pembaruan dari UU No 11


Tahun 1967. Alasan dilakukannya pembaruan terhadap UU No 11 Tahun 1967 karena
dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan politik dan ekonomi serta
kemajuan teknologi dan pengetahuan. Keberadaan mineral dan batubara dapat
menjadi salah satu tolok ukur kemandirian dan kemajuan suatu bangsa. Rata-rata
negara dengan kekayaan mineral dan batubara yang tinggi, cenderung akan menjadi
negara yang maju dan sejahtera. Namun, hal ini harus diiringi dengan pengelolaan
yang baik menyeluruh terhadap kekayaan mineral tersebut.Pengelolaan yang buruk
ataupun lemahnya aturan terkait pengelolan sumber daya mineral ini akan
mengakibatkan negara yang kaya akan mineral dan batubara tersebut hanya sebagai
tamu dinegaranya sendiri, karena hanya akan menjadi sumber eksplorasi bagi pihakpihak asing ataupun ilegal. Dengan karakteristik kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara yang sangat penting dan terkait hajat hidup orang banyak
tersebut maka diperlukan kepastian berusaha dan kepastian hukum di dunia
pertambangan mineral dan batubara. Kepastian hukum di bidang pertambangan
terutama dalam rangka melindungi hasil pertambangan dari upaya pengeksplorasian
secara masif tanpa adanya upaya peningkatan nilai tambah oleh perusahaan
penambangan. Sehingga UU No 4 Tahun 2009 sangat diharapkan dapat mengatur
sektor pertambangan mineral dan batubara agar lebih baik lagi. Adapun hal-hal baru
yang menjadi dasar dan membedakan UU No 11 Tahun 1967 dan UU No 4 Tahun
2009 adalah sebagai berikut :
A. Isi Dari Undang-Undang
UU No 11 Tahun 1967 terdiri atas 37 Pasal dan 12 Bab sedangkan UU No 4
Tahun 2009 terdiri atas 175 Pasal dan 26 Bab.
B. Kandungan Tambang
UU No 11 Tahun 1967 mengatur segala bahan galian seperti unsur-unsur kimia
dan juga batu alam sedangkan UU No 4 Tahun 2009 yang disebut juga sebagai
Undang-Undang Minerba lebih spesifik pada mineral dan batubara.
C. Golongan Bahan Tambang

Menurut UU No 11 Tahun 1967 bahan galian tambang dibagi atas 3 macam yaitu:
1. Golongan bahan galian strategis
2. Golongan bahan galian vital
3. Golongan bahan galian yang non strategis dan non vital
Sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009 bahan galian tambang dibagi atas 5
macam yaitu:
1. Mineral radioaktif
2. Mineral logam
3. Mineral non-logam
4. Batuan
5. Batubara
D. Penguasaan Pertambangan
Menurut UU No 11 Tahun 1967 sektor pertambangan dikuasai sepenuhnya oleh
pemerintah sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009 Dikuasai negara,
diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah setelah pemerintah
berkonsultasi dengan DPR untuk menetapkan kebijakan demi kepentingan dalam
negeri.
E. Kewenangan Pengolahan
Menurut UU No 11 Tahun 1967 kewenangan dalam pengolahan sektor
pertambangan menjadi 2, yaitu:
1. Bahan galian golongan strategis dan vital oleh Menteri
2. Bahan galian golongan Vital dan Non strategis-Non Vital oleh Pemerintah
Daerah Tingkat I
Sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009 kewenangan dalam pengolahan sektor
pertambangan menjadi 3, yaitu:
1. Bupati/Walikota apabila Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) berada
dalam satu wilayah Kabupaten/Kota
2. Gubernur apabila WIUP berada pada lintas Wilayah Kab/Kota
3. Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah Provinsi
F. Pengawasan
Menurut UU No 11 Tahun 1967 pengawasan sektor pertambangan terpusat
kepada menteri sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009 Pembinaan dan
Pengawasan terhadap pemegang IUP dan IUPK dilakukan oleh Menteri,
Gubernur, Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya, sedangkan untuk IPR
merupakan tugas Bupati/Walikota.
G. Bentuk Perizinan
Menurut UU No 11 Tahun perizinan tambang dibagi atas 4 macam yaitu:
1. Kuasa Pertambangan (KP),

2. Surat Ijin Pertambangan Daerah (SIPD),


3. Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPR),
4. Kontrak Karya (KK)/ Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara
(PKP2B)
Sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009 perizinan tambang dibagi atas 3 macam
yaitu:
1. Izin Usaha pertambangan (IUP)
2. Izin Pertambangan Rakyat (IPR)
3. Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK)
H. Pemilik Perizinan
Menurut UU No 11 Tahun perizinan tambang dapat diberikan kepada :
1. Investor domestik (KP, SIPD, PKP2B)
2. Investor asing (KK, PKP2B)
Sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009 perizinan tambang dapat diberikan
kepada :
1. IUP (Izin Usaha Pertambangan) diberikan pada badan usaha, koperasi dan
perseorangan (pasal 38).
2. IPR (Izin Pertambangan Rakyat) diberikan pada penduduk setempat, naik
perseorangan maupun kelompok masyarakat dan atau koperasi (pasal 67),
dengan luas terperinci (pasal 68).
3. IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) diberikan pada badan usaha
berbadan hukum Indonesia, baik BUMN, BUMD, maupun swasta. BUMN
dan BUMD mendapat prioritas (pasal 75).
I. Pelaksana Usaha Pertambangan
Menurut UU No 11 Tahun pelaksana usaha pertambangan adalah :
1. Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri
2. Perusahaan Negara
3. Perusahaan Daerah
4. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara dan Daerah
5. Koperasi
6. Badan atau perseorangan swasta yang memenuhi syarat-syarat yang dimaksud
dalam pasal 12 ayat (1)
7. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara dan/atau Daerah dengan
Koperasi dan/atau Badan/Perseorangan Swasta yang memenuhi syarat-syarat
yang dimaksud dalam pasal 12 ayat (1)
8. Pertambangan Rakyat

Sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009 pelaksana usaha pertambangan adalah :


1.
2.
3.
4.

Pemegang IUP atau IUPK


Badan Usaha
Koperasi
Perseorangan sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan oleh klasifikasi

Menteri.
J. Penggunaan Lahan
Dalam penggunaan lahan Menurut UU No 11 Tahun 1967 dilakukan pembatasan
tanah yang dapat diusahakan sedangkan menurut UU No 4 Tahun 2009
Pembatasan tanah yang dapat diusahakan dan sebelum memasuki tahap operasi
produksi pemegang IUP/IUPK wajib menyelesaikan hak atas tanah dengan
pemegang hak atas tanah.

KELEBIHAN UNDANG-UNDANG NO. 4 TAHUN 2009


1. Ditiadakannya sistem kontrak karya, maka Pemerintah menjadi pihak yang
memberi ijin kepada pelaku usaha di industri pertambangan mineral dan batubara.
2. Undang-Undang ini telah mengatur dan memperhatikan masalah mengenai
pengelolaan dan pelestarian lingkungan akibat kegiatan eksplorasi.
3. Telah diatur distribusi kewenangan yang jelas antara penyelenggaraan kebijakan
pertambangan umum.
4. Adanya kepastian hukum pemberian sanksi bagi pelaku pelanggaran usaha
pertambangan.
5. Pemerintah menetapkan prioritas nasional seperti Domestic Market Obligation
(DMO), nilai tambah hasil tambang, divestasi, dan lain-lain.
6. Telah diatur mekanisme pengusahaan mulai dari sistem pelelangan, luas wilayah,
jangka waktu, dan lain-lain.
7. Hak-hak masyarakat telah dilindungi mulai dari kewajiban pengembangan
masyarakat dan perlindungan lingkungan di sekitar tambang.
8. UU Minerba juga mengakomodasi kepentingan daerah, dengan memberikan
kewenangan kepada pemerintah daerah untuk dapat menjalankan fungsi
perencanaan, pembatasan luas wilayah, dan jangka waktu izin usaha
pertambangan.

9. Terdapat pasal yang mengatur tentang batasan wilayah maksimal operasi


pertambangan
KELEMAHAN UNDANG-UNDANG NO. 4 TAHUN 2009
1. UU ini tidak mengatur secara tegas dan eksplisit perihal kewajiban memasok
kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO).
2. UU Minerba masih belum mengatur secara jelas mengenai divestasi.
3. Tidak jelas dan tegasnya jumlah besaran sesungguhnya penerimaan negara dari
pajak dan non pajak.
4. Kewenangan pemberian IUP diberikan kepada pemerintah daerah, namun belum
disertai dengan kerangka acuan strategi kebijakan pertambangan nasional yang
jelas.
5. UU Minerba juga tidak mampu mengintervensi dan memperbaiki kontrak-kontrak
pertambangan yang telah ada sebelumnya.
6. UU Minerba cenderung masih memuat ketentuan yang bersifat sangat umum.
7. Tidak diakuinya Hak Veto rakyat dan tidak adanya perlindungan masyarakat yang
terkena dampak negatif langsung dari kegiatan usaha pertambangan.
8. Terancamnya kawasan hutan lindung dan hutan adat karena adanya alih fungsi
hutan setelah ada izin dari pemerintah.
9. Adanya kontradiktif dengan UU Lingkungan Hidup yang mengakui legal
standing organisasi lingkungan hidup untuk mengajukan gugatan terhadap
perusahaan yang merusak lingkungan.
10. Beberapa pasal yang dinilai tidak memperhatikan masyarakat yang justru terkena
dampak negatif langsung dari kegiatan usaha pertambangan
11. Kurangnya Transparansi & akuntabilitas

DAFTAR PUSTAKA
Haling, hardiyanti. 2012. Perbedaan pokok Undang-Undang No.11 Tahun 1967 Dan
Undang-Undang No.4 Tahun 2009. http://antitaniic.blogspot.com.tr/2012/11/
perbedaan-pokok-undang-undang-no11.html. ( Diakses pada tanggal 24 Januari
2016)
Putra, Dani. 2014.Perbedaan pokok-Pokok Peraturan Pertambangan Antar UU No. 11
Tahun 1967 dengan UU No. 4 Tahun 2009. http://daniputralaw.blogspot.com.tr/
2014/03/perbedaan-pokok-pokok-peraturan.html. ( Diakses pada tanggal 24
Januari 2016)
Sasongko, Nikka. 2015. Review Perbandingan UU Minerba No. 11 Th. 1967 VS UU
No.4 Th. 2009. http://www.slideshare.net/NikkaSasongko/review-perbandinganuu-pertambangan-no-11-th-1967-vs-uu-no4-th-2009. (Diakses pada tanggal 24
Januari 2016)