Anda di halaman 1dari 7

MASUKAN TERKAIT

PEMBAHASAN

RUU
MIGAS

MASUKAN TERKAIT PEMBAHASAN RUU MIGAS


Oleh:
Muhammad Dahlan Balfas, S.T., M.T.
(Dosen Program Studi S1 Teknik Geologi Universitas Mulawarman)

1. Pengelolaan migas harus semaksimal mungkin untuk sebesar-besar


kemakmuran dan kesejahteraan rakyat karena migas merupakan
sumber daya alam strategis yang tidak terbarukan dan merupakan
komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak.

2. UU No.33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah:
i. Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak Bumi dibagi dengan imbangan
84,5% untuk Pemerintah Pusat dan 15,5% untuk Pemerintah
Daerah
ii. Dana Bagi Hasil (DBH) Gas Bumi dibagi dengan imbangan 69,5%
untuk Pemerintah Pusat dan 30,5% untuk Pemerintah Daerah
Selanjutnya pada Pasal 19 ayat 2 UU No. 33 Tahun 2004 disebutkan
DBH Minyak Bumi yang diterima Pemerintah Daerah sebesar 15,5%
dibagi dengan rincian:
i. 3% untuk Provinsi bersangkutan,
ii. 6% Kabupaten/Kota penghasil,
iii. 6% untuk Kabupaten/Kota lainnya dalam Provinsi yang
bersangkutan, dan
iv. 0,5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.
Sedangkan DBH Gas Bumi sebesar 30,5% pada Pasal 19 ayat 3 UU
No. 33 Tahun 2004 dibagi dengan rincian:
i. 6% untuk Provinsi bersangkutan,
ii. 12% Kabupaten/Kota penghasil,
iii. 12% untuk Kabupaten/Kota lainnya dalam Provinsi yang
bersangkutan, dan
iv. 0,5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar.

Sebagai pembanding UU 21 tahun 2001 tentang Otsus propinsi


Papua: DBH Migas bagi daerah ber-otonomi khusus yakni 70 80%
bagi daerah penghasil dan 20 30% bagi pemerintah pusat.
Apakah hal ini sudah sejalan dengan UUD 1945 Pasal 18A yang
menyatakan pemanfaatan sumber daya alam diatur dan
dilaksanakan secara adil dan selaras?
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 71/PUU-IX/2011 menyatakan
permohonan peninjauan DBH tidak beralasan menurut hukum
dengan beberapa pertimbangan, diantaranya:
i. Pengertian keadilan dan keselarasan harus dimaknai sebagai
keadilan untuk seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia,
ii. minyak dan gas bumi yang terdapat di perut bumi provinsi,
kabupaten, atau kota manapun di dalam wilayah Republik
Indonesia, merupakan cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak yang
harus dikuasai oleh negara untuk didistribusikan kepada seluruh
rakyat Indonesia, dan
iii. Pemahaman tentang keadilan dan keselarasan dalam kaitannya
dengan pembagian yang diterima oleh Provinsi Papua dan
Provinsi Aceh haruslah didasarkan pada affirmative action
program, karena Provinsi Papua yang kini sebagai Daerah
Otonomi Khusus masuk ke dalam pangkuan Negara Kesatuan
Republik Indonesia mengalami keterlambatan dan melalui
perjuangan panjang yang mengakibatkan ketertinggalan dari
provinsi-provinsi lain, sedangkan Provinsi Aceh sebagai Daerah
Istimewa mengalami konflik yang berkepanjangan, sehingga
mengalami keterpurukan.
Rekomendasi:

Revisi UU Migas perlu mencakup perimbangan keuangan pusat


dan daerah yang berazas keadilan.

Jika hasil eksploitasi sumber daya bumi dari suatu daerah dibagi
dengan azas pemerataan ke seluruh daerah di Indonesia,
bagaimana membagi dampak (lingkungan dan sosial) yang

muncul dan dipicu oleh eksploitasi sumber daya bumi pada


Daerah Penghasil ke seluruh daerah di Indonesia?

Siapakah yang bisa menjamin Daerah Penghasil bisa


mendapatkan keadilan dari Praktek Penyelenggaraan Negara
seperti yang berlaku saat ini?
Jakarta dan semua daerah lain di pulau Jawa bisa
memaksimalkan pajak daerahnya dan mendapatkan DBH yang
besar dari PBB karena PBB hanya 10% untuk pusat, 90% bisa
dinikmati oleh daerah tersebut. Dengan keadaan ini daerah
tresebut bisa mendapatkan alokasi dana yang besar dari pusat.
Sementara itu, bagi daerah yang pada umumnya di luar Jawa
PBB tidak terlalu besar karena belum bisa maksimal akan
mendapatkan alokasi DBH yang kecil dari sektor PBB.

Apakah Kalimantan perlu berkonflik dulu untuk mendapat


perhatian pusat?

Hendaknya semua daerah diberlakukan bagi hasil dengan


persentase yang sama untuk seluruh sektor pendapatan,
misalnya 70% untuk daerah dan 30% untuk pusat.

DBH untuk Pemerintah Pusat sebesar 0,5% dialokasikan untuk


anggaran pendidikan dasar dan dikelola oleh Pemerintah Daerah
Penghasil. Dalam konteks ini, Pendidikan Tinggi di Daerah
Penghasil seperti terabaikan karena merupakan instansi
vertikal dibawah Pemerintah Pusat. Untuk itu perlu ditambahkan
lagi 0,5% DBH untuk Pusat dialokasikan untuk pengembangan
Pendidikan Tinggi di Daerah Penghasil.

Pembagian 6% untuk kabupaten/kota penghasil tidak


mempertimbangkan sebaran cekungan geologi (formasi geologi).
Penentuan batas cekungan geologi dilakukan melalui identifikasi
kondisi geologi regional, sehingga batas administrasi suatu
wilayah kabupaten/kota atau provinsi, umumnya tidak berimpit
dengan batas cekungan geologi. Pada sisi lain, eksploitasi minyak
dan gas bumi tentu saja tidak bisa dibatasi hanya mengangkat
endapan sesuai dengan batas-batas administrasi dimana pompa
lifting berada. Memperhatikan hal tersebut, pembagian DBH
3

untuk kabupaten/kota penghasil perlu ditinjau lagi dengan


mempertimbangkan batas-batas cekungan geologi.

3. Kegiatan ekspor energi minyak dan gas bumi dengan berbagai


alasan dan penggunaannya yang terus menerus dengan pola yang
konsumtif/boros, tidak terkendali, dan tidak peduli terhadap
lingkungan, akan menyebabkan penipisan cadangan minyak dan gas
bumi secara cepat.
Konsekuensinya adalah terjadinya krisis energi yang akan berimbas
sangat buruk bagi seluruh sektor kehidupan terutama sektor
perekonomian dan pembangunan dan jika lambat ditanggulangi
akan menjalar menjadi krisis multidimensional yang akhirnya
memperpecah persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu masalah besar lainnya yang berkaitan dengan energi
minyak dan bahan bakar fosil selain penyusutan yang cepat adalah
polusi hasil pembakarannya yang bergerak cepat mencemari udara
dan atmosfer.

Rekomendasi:

Konservasi energi minyak dan gas bumi perlu dilakukan melalui


perlindungan dan penghematan cadangan energi tak terbarukan
secara terencana untuk menjamin ketersediaannya dalam jangka
panjang.

4. Ketahanan energi Indonesia akan semakin melemah jika tidak


segera dilakukan diversifikasi (penganekaragaman) sumber energi
melalui pengembangan energi baru (renewable energy) di luar
energi bahan bakar minyak yang bersumber dari energi fossil yang
tidak dapat diperbarui (unrenewable energy).
Rekomendasi:

UU Migas perlu menjamin tersedianya anggaran untuk


pengembangan energi baru (renewable energy)
4

UU Migas perlu memastikan pengembangan energi baru


(renewable energy) melalui Kemenristek Dikti (perguruan tinggi)

5. Adalah suatu ironi bila di daerah yang kaya akan minyak bumi bisa
terjadi kelangkaan BBM seperti yang sering terjadi di Kalimantan
Timur, baik di daerah perkotaan, apalagi di daerah pelosok. Kemana
minyak yang ada di perut bumi daerah itu? Inikah yang dinamakan
ayam mati dalam lumbung padi? Bandingkan dengan ketersediaan
BBM di Jawa!
Rekomendasi:

UU Migas perlu menjamin tercukupinya pasokan BBM pada


daerah penghasil dengan sistem distribusi yang transparan dan
terkontrol.

6. Perbaikan sistem tata kelola (governance) industri migas di


Indonesia melalui penguatan kelembagaan dan memperjelas peran
masing-masing stakeholder yang mampu menjamin tata kelola
migas nasional yang efektif, efisien, memihak kepentingan nasional.
7. Penguatan Pertamina agar memiliki kemampuan modal, sumber
daya manusia (SDM), dan teknologi untuk mengurus, mengelola,
dan menyelenggarakan kegiatan pertambangan migas, sehingga
layak untuk diprioritaskan sebagai ujung tombak kegiatan eksplorasi
dan eksploitasi di wilayah kerja baru atau melanjutkan pengusaha
atas wilayah kerja yang sudah habis masa konsesinya.
8. Sebagai kesimpulan, maka Ruang lingkup RUU Migas perlu
mengakomodasi:
i. DBH pendapatan kepada daerah penghasil secara adil dan
selaras.
ii. Pengaturan mengenai konservasi energi minyak dan gas bumi
secara nasional.

iii. Adanya jaminan tersedianya anggaran untuk pengembangan


energi baru (renewable energy) melalui kemenristek dikti
(perguruan tinggi)
iv. Adanya jaminan pasokan BBM pada daerah penghasil tercukupi
dengan sistem distribusi yang transparan dan terkontrol.
v. Perbaikan sistem tata kelola industri migas di Indonesia.
vi. Penguatan Pertamina hingga layak diprioritaskan sebagai ujung

tombak kegiatan eksplorasi dan eksploitasi energi minyak dan


gas bumi.