Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

FOBIA SPESIFIK DAN FOBIA SOSIAL

Pembimbing
Dr. Sonny Chandra Sp. KJ

Disusun oleh
NURZANAH C PRIMADANI
1102011203

Kepaniteraan Klinik Ilmu Psikiatri


RSUD Pasar Rebo
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Periode 25 Januari 2016 27 Februari 2016

Bab I

Pendahuluan
Fobia adalah suatu ketakutan irasional yang jelas, menetap dan berlebihan terhadap suatu
objek spesifik, keadaan atau situasi. Berasal dari kata yunani dimana Fobos yang artinya
adalah ketakutan. Sedangkan fobia spesifik adalah ketakutan irasional terhadap objek
tertentu. Fobia sosial adalah ketakutan irasional pada situasi sosial tertentu. Diperikirakan
prevalensi fobia spesifik sekitar 11% dan fobia sosial adalah 3-13%. Walaupun fobia sering
dijumpai namun sebagian besar pasien tidak mencari bantuan untuk mengatasinya atau tidak
terdiagnosis secara medis. Fobia merupakan suatu gangguan jiwa, yang merupakan salah satu
tipe dari gangguan ansietas, dan dibedakan kedalam tiga jenis berdasarkan jenis objek atau
situasi ketakutan. Di DSM-IV fobia dibagi menjadi tiga kategori yaitu (1) Agorafobia tanpa
riwayat panik, (2) Fobia Spesifik, dan (3) Fobia Sosial. Fobia sosial ialah yang paling banyak
ditemukan pada semua tipe fobia, dimana fobia sosial dibagi menjadi dua tipe. Tipe
nongeneralized yang mempunyai gambaran situasi takut di depan publik contohnya bicara di
depan publik. Tipe yang kedua ialah tipe umum atau generalized gambarannya takut akan
semua interaksi sosial.

Bab II
PEMBAHASAN
2

2. 1 DEFINISI FOBIA SPESIFIK


Specific Phobia adalah ketakutan yang signifikan terhadap objek atau situasi yang
menakutkan, dan sering menampilkan perilaku menghindar terhadap objek atau situasi
tertentu . Orang yang mengalami ketakuatan dan reaksi fisiologis yang tinggi bila bertemu
dengan objek fobia akan menimbulkan dorongan kuat untuk menghindar atau melarikan diri
dari situasi atau menghidari stimulus yang menakutkan. Karakteristik specific phobia dengan
kecemasan yang sering terjadi karena disebabkan oleh benda atau situasi tertentu. Selanjutnya
juga dikatakan bahwa ketakutan dan kecemasan ini tetap ada walaupun tidak berhubungan
langsung dengan objek atau situasi yang ditakuti dan dapat mengganggu anak dalam hal
akademis dan interaksi sosialnya. 1,3
Berdasarkan uraian di atas, specific phobia adalah ketakutan dan kecemasan yang
bertahan, berlebihan dan tidak masuk akal terhadap suatu objek atau situasi tertentu, sehingga
menimbulkan dorongan kuat untuk menghindar atau melarikan diri dari objek atau situasi
tersebut, dan dapat mengganggu anak dalam hal akademis dan interaksi sosialnya. 2

KRITERIA DIAGNOSTIK FOBIA SPESIFIK


Kriteria diagnostik specific phobia (dalam APA, 2000) adalah:
1. Ketakutan yang menyolok dan menetap yang berlebihan dan tidak dapat dijelaskan,
disebabkan oleh objek atau situasi yang spesifik (seperti, terbang, ketinggian, hewan,
disuntik, melihat darah).

2. Stimulus fobik hampir selalu menyebabkan respon kecemasan atau serangan panik.
Catatan: pada anak, kecemasan ditunjukkan dengan menangis, tantrum, kaku atau
lengket pada orang lain.
3.

Menyadari ketakutannya berlebihan dan tidak dapat dijelaskan. Catatan: pada anak
mungkin tidak muncul.

4. Situasi fobia dihindari dengan kecemasan atau distres yang kuat.


5. Penghindaran, antisipasi kecemasan atau distres dalam situasi phobik bertentangan
secara signifikan dengan rutinitas orang normal, fungsi pekerjaan
(pendidikan) atau aktivitas/hubungan sosial, atau ditandai distres tentang fobia.
6. Pada individu di bawah 18 tahun, terjadi sekurang-kurangnya 6 bulan.
7. Kecemasan, serangan panik atau menghindari fobia dihubungkan dengan objek
atau situasi spesifik, tidak berkaitan dengan gangguan mental lain, seperti
Obsessive-Compulsive
seseorang),

Disorder

Posttraumatic

Stress

(takut

terkontaminasi

Disorder

(menjauhi

ketidakbersihan
stimulus

yang

menimbulkan stres berat), Separation Anxiety Disorder (menghindari sekolah),


Social Phobia (menghindari situasi sosial yang memalukan), Panic Disorder
With Agoraphobia, atau Agoraphobia Without History of Panic
Disorder.

2. 2 DEFINISI FOBIA SOSIAL

Fobia sosisal adalah ketakutan irasional yang jelas dan menetap terhadap satu atau
lebih situasi sosial atau tampil di depan orang-orang yag belum dikenal atau dengan
kemungkinan dinilai oleh orang lain yang tidak di kenal. Individu merasa takut bahwa ia akan
bertindak dengan cara (atau menunjukkan gejala-gejala kecemasan) yang akan memalukan
atau merendahkan individu. Fobia sosial dapat disertai serangan panik. Pemaparan dengan
situasi sosial yang ditakuti hampir selalu mencetuskan kecemasan, yang dapat berupa panic
attack yang dikaitkan oleh situasi tertentu atau di predisposisikan oleh situasi. 1
2.3 ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Pada penelitian ternyata memperlihatkan adanya keterkaitan faktor genetik. Pada fobia
spesifik jenis cedera-darah-sunikan terutama memiliki kecendrungan familial yang tinggi.
Dua pertiga sampai tiga perempat proband yang terkena sedikitnya emiliki kerabat derajat
pertama yang memiliki fobia spesifik dengan tipe yang sama, namun pada penelitian studi
kembar dan adopsi belum dilakukan untuk menyingkirkan peranan transmisi non-genetik
yang bermakna pada fobia spesifik. Pada fobia sosial generasi pertama mempunya 3 kali
lebih cenderung mengalami fobia sosial. Faktor biologis sebenarnya belum diketahui secara
pasti, namun penelitian terbaru menyatakan jalur dopamin mepunyai peranan terhadap
patofisiologi fobia sosial. Pada pasien memperlihatkan respon monoamine oxidase inhibitor
(MAOIs), yang mempunyai aktifitas dopaminergik. Metabolisme dopamin yang rendah
terlihat di cairan sum-sum tulang pada pasien yang mempunyai fobia sosial. Pada gambaran
otak terlihat penurunan dopamine D2 reseptor di striatal dan ikatan transpor dopamine D2
pada pasien fobia sosial. Perilaku juga memperlihatkan peranan penting pada faktor etiologi,
pada pasien yang pernah mengalami trauma, contohnya pernah jatuh sehingga menyebabkan
fobia spesifik ketinggian. 1,2

2.4 DIAGNOSIS
PEDOMAN DIAGNOSIS FOBIA SPESIFIK DAN FOBIA SOSIAL
2.4.1 Tabel 13.3-1
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Fobia Spesifik
5

A. Rasa takut berlebihan yang nyata, menetap dan tidak beralasan, dicetuskan oleh
adanya atau antisipasi terhadap suatu objek atau situasi spesifik ( contoh : terbang,
ketinggian, hewan, disuntik, melihat darah)
B. Perjalann terhadap stimulus fobik hampir selalu mencetuskan respons ansietas segera,
dapat berupa serangan panik terikat secara situasional atau serangan panik dengan
presdisposisi situasional. Catatan: Pada anak, ansietas dapat ditunjukkan dengan
menangis, tantrum, diam tidak bergerak, atau memegang erat sesuatu/seseorang.
C. Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan tidak beralasan. Catatan:
Pada anak, gambaran ini tidak dapat ditemukan.
D. Situasi fobik dihindari atau dihadapi dengan ansietas maupun penderitaan yang intens.
E. Penghindaran, antisipasi ansietas, atau distres pada situasi yang ditakuti mengganggu
fungsi rutin normal, pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas maupun hubungan
sosial secara bermakna, atau terdapat distres yang nyata karena memeiliki fobia ini.
F. Pada seseorang berusia di bawah 18 tahun, durasinya sedikitnya 6 bulan.
G. Ansietas, serangan panik, atau penghindaran fobik yang berkaitan dengan objek atau
situasi spesifik tidak disebabkan gangguan jiwa lain, seperti gangguan obsesi
kompulsif (contoh : takut akan kotoran pada seseorang dengan obsesi tentang
kontaminasi), gangguan stress pascatrauma (contoh:penghindaran stimulus terkait
stresor yang hebat), atau gangguan ansietas perpisahan (contoh: menghindar sekolah),
fobia sosial (contoh : penghindaran situasi sosial karena takut malu), gangguan panik
dengan agorafobia, atau agorafobia tanpa riwayat gangguan panik.
Tentukan Tipe:
Tipe hewan
Tipe lingkungan alami
Tipe cedera-darah-suntikan
Tipe situasional
Tipe lain
Dari American Psychiatric Association. Diagnostic and Stastical Manual of
Mental Disorder. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric
Association; copyright 2000, dengan izin. 3
2.4.2 Tabel 13.3-2
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR Fobia Sosial
A. Rasa takut yang nyata dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial
atau penampilan saat seorang terpajan dengan orang yang tidak
6

dikenalnya atau terpajan dengan kemungkinan akan diperhatikan secara


seksama oleh orang lain. Individu ini takut jika ia akan bertindak
sedemikian

rupa(atau

menunjukan

gejala

ansietas)

yang

akan

membuatnya dipermalukan di depan publik


B. Pajanan terhadap situasi sosial yang ditakuti hampir selalu mencetuskan
ansietas yang di dapat berupa serangan panik dengan predisposisi
situasional.
C. Orang tersebut menyadari rasa takut berlebihan dan tidak beralasan.
D. Situasi sosial atau penampilan sosial yang takut dihindari atau dihadapi
dengan ansietas maupun penderitaan yang intens.
E.Penghindaran, antisipasi ansietas, atau distress pada situasi sosial atau
penampilan yang ditakuti mengganggu fungsi rutin normal, pekerjaan
maupun akademik, atau aktivitas yang berhubungan dengan sossial secara
bermakna, atau terdapat distress yang karena memiliki fobia ini.
F. Pada seseorang yang berusia di bawah 18 tahun, durasinya sedikitnya 6
bulan.
G. Rasa takut atau penghindaran tidak disebabkan efek fisiologis langsung
suatu zat (contoh: peyalahgunaan obat-obatan) atau keadaan medis umum
dan tidak dapat digolongkan sebagai gangguan jiwa lain( contoh:
gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia)
H. Jika terdapat keadaan medis umum atau gangguan jiwa lain rasa takut
pada kriteria A tidak terkait dengannya (contoh : takut pada perilaku
makan yang tidak normal pada anorexia nervosa atau bulemia nervosa
Tentukan Jika:
Menyeluruh: Jika rasa takut mencakup sebagian besar situasi sosial
(juga pertimbangkan diagnosis tambahan gangguan kepribadian
menghindar)

Dari American Psychiatric Association. Diagnostic and Stastical Manual of


Mental Disorder. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric
7

Association; copyright 2000, dengan izin. 3

2.5 DIAGNOSIS BANDING


Di dalam diagnosis banding fobia spesifik dan fobia sosial, klinisi harus pertimbangkan
gangguan panik, agorafobia, dan gangguan kepribadian menghindar. DSM-IV TR
menyatakan bahwa perbedaan antara gangguan panik, agorafobia, fobia sosial, dan fobia
spesifik dapat sulit ditentukan pada masing-masing kasus, dan klinisi disarankan
menggunakan penilaian klinis. Pada gangguan kepribadian obsesi kompulsif mempunyai
ketakutan yang banyak dan tidak spesifik seperti pada fobia spesifik.Umumnya, seseorang
yang mempunya gangguan kepribadian menghindar tidak takut akan sesuatu yang spesifik
maupun situasi sosial tetapi dia akan merasa takut dengan hubungan sosial dan taku disakiti
oleh orang lain. Pada kepribadian schizoid mempunya sedikit ketertarikan terhadap situasi
sosial, tetapi tidak takut akan di permalukan di depan umum. 2,4

2.6 TATA LAKSANA

Tatalaksana Fobia

Secara umum terapi fobia meliputi:


A. Terapi psikologik
a. Terapi Perilaku merupakan terapi yang efektif. Seperti terapi
desensitisasi yang sering dilakukan, terapi pemaparan (exposure),
imaginal exposure, participent modelling, guided mastery, imaginal
flooding.
b. Psikoterapi bersifat tilikan
c. Terapi lain seperti hypnotherapy, psikoterapi suportif, terapi keluarga
bila diperlukan.
B. Farmakoterapi
Obat-obatan yang dipaki untuk tatalaksana fobia adalah : SSRI (Serotonin
Selective Re-Uptake Inhibitor), khususnya untuk fobia sosial umum
merupakan pilihan utama.

Benzodiazepine, Venlafaxine, Buspirone, MAOI, antagonis b-adrenergik


reseptor dapat diberikan satu jam sebelum terpapar dengan stimulus fobia,
misalnya jika individual hendak bicara di depan umum.
Terapi terhadap fobia spesifik yang terutama adalah terapi perilaku yaitu terapi
pemaparan (Exposure Therapy), yaitu desensitisasi pasien dengan pemaparan
stimulus

fobik

secara

bertahap.

Juga

diajarkan

untuk

menghadapi

kecemasandengan teknik relaksasi, mengontrol pernafasan dan pendekatan


kognitif. Penggunaan anti ansietas yaitu untuk terapi jangka pendek.
Pengobatan fobia sosial terbatas, dapat menggunakan beta blocker seperti
propanolol, anti ansietas dan antidepressan.

Bila keadaan pasien membaik, lorazepam injeksi dapat diganti dengan lorazepam oral atau
golongan benzodiazepin lain. Terapi ini tidak boleh lebih dari 1 minggu untuk mencegah
ketergantungan. Benzodiazepin digunakan hanya untuk meningkatkan kepercayaan diri
pasien. Setelah serangan panik berlalu, pasien harus dijelaskan mengenai pentingnya terapi
jangka panjang seperti CBT dan penggunaan obat jenis SSRI. 3

1. SSRI
Penggunaan SSRI dan follow up keberhasilannya sebaiknya dimulai dalam rentang 2 minggu
sejak serangan panik terjadi karena SSRI dapat memicu serangan panik pada pemberian awal.
Oleh karena itu dosis SSRI dimulai dari yang terkecil lalu ditingkatkan secara perlahan di
setiap kesempatan follow up berikutnya.
Mekanisme Kerja SSRI
SSRI dipercaya dapat meningkatkan kadar serotonin di ekstraselular dengan cara
menghambat pengambilan kembali serotonin ke dalam sel presinaptik sehingga ada lebih
banyak serotonin di celah sinaptik yang dapat berikatan dengan reseptor sel post-sinaptik.
SSRI memiliki tingkat selektivitas yang cukup baik terhadap transporter monoamin yang lain,
seperti pada transporter noradrenaline dan dopamine, SSRI memiliki afinitas yang lemah
terhadap kedua reseptor tersebut sehingga efek sampingnya lebih sedikit.
SSRI merupakan obat psikotropik pertama yang dianggap memiliki desain obat
rasional, karena cara kerjanya benar-benar spesifik pada suatu target biologi tertentu dan
9

memberikan efek berdasarkan target tersebut. Oleh karena itu SSRI digunakan secara luas di
hampir semua negara sebagai lini pertama pengobatan antipanik.
SSRI dapat diberikan selama 2-4 minggu, dan dosisnya dapat ditingkatkan secara
bertahap tergantung pada kebutuhan. Semua jenis SSRI yang dikenal saat ini memiliki
efektifitas yang baik dalam menangani gangguan panik. Salah satunya, fluoksetin dalam salut
memiliki masa paruh waktu yang panjang sehingga cocok digunakan untuk pasien yang
kurang patuh minum obat. Selain itu waktu paruh yang panjang dapat meminimalisir efek
withdrawal yang dapat terjadi ketika pasien lelah atau tiba-tiba menghentikan penggunaan
SSRI.
Contoh Obat Golongan SSRI
Fluoksetin. Fluoksetin secara selektif menghambat reuptake seotonin presinaptik,
dengan efek minimal atau tanpa efek sama sekali terhadap reuptake norepinefrin atau
dopamine.
Paroksetin. Ini merupakan SSRI alternatif yang bersifat sedasi karena cara kerjanya
berupakan inhibitor selektif yang poten terhadap serotonin neuronal dan memiliki efek yang
lemah terhadap reuptake norepinephrine dan dopamine.
Sertralin. Cara kerjanya mirip fluoxetine namun memiliki efek inhibisi yang lemah
pada reuptake norephinephrine dan dopamine neuronal.
Fluvoksamin. Fluvoksamin merupakan inhibitor selektif yang juga poten pada
reuptake serotonin neuronal serta secara signifikan tidak berikatan pada alfa-adrenergik,
histamine atau reseptor kolinergik sehingga efek sampingnya lebih sedikit dibanding obatobatan jenis trisiklik.
Citalopram. Citalopram meningkatkan aktivitas serotonin melalui inhibisi selektif
reuptake serotonin pada membran neuronal. Efek samping antikolinergik obat ini lebih
sedikit.
Escitalopram. Escitalopram merupakan enantiomer citalopram. Mekanisme kerjanya
mirip dengan citalopram.
Efek Samping SSRI
Efek samping SSRI biasanya timbul selama 1-4 minggu pertama ketika tubuh mulai mencoba
beradaptasi dengan obat (kecuali efek samping seksual yang timbul pada fase akhir
pengobatan). Biasanya penggunaan SSRI mencapai 6-8 minggu ketika obat mulai mendekat
potensi terapi yang menyeluruh. Adapun beberapa efek samping SSRI antara lain: anhedonia,
10

insomnia, nyeri kepala, tinitus, apati, retensi urin, perubahan pada perilaku seksual,
penurunan berat badan, mual, muntah dan yang ditakutkan adalah efek sampinng keinginan
bunuh diri dan meningkatkan perasaan depresi pada awal pengobatan.
2. MAO Inhibitor
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) merupakan salah satu jenis antidepresi
yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan panik. Pada masa lalu golongan ini
digunakan untuk mengatasi gangguan panik dan depresi yang sudah resisten terhadap
golongan trisiklik.
Kelebihan MAO adalah tingkat ketergantungan terhadap obat ini rendah dan efek
antikolinergiknya lebih sedikit dibanding obat golongan trisiklik.
Cara Kerja MAOI
MAOI bekerja dengan cara menghambat aktivitas monoamine oxidase, sehingga ini
dapat mencegah pemecahan monoamine neurotransmitter dan meningkatkan avaibilitasnya.
Terdapat 2 jenis monoamine oxidase, MAO-A dan MAO-B. MAO-A berkaitan dengan
deaminasi serotonin, melatonin, epinephrine and norepinephrine. Sedangkan MAO-B
mendeaminasi phenylethylamine dan sisa amina. Dopamine dideaminasi oleh keduanya.
Contoh Obat MAOI
Phenelzine (Nardil). Nardil merupakan obat golongan MAOI yang paling sering
digunakan dalam mengatasi gangguan panik. Hal ini telah dibuktikan melalui superioritas
yang jelas terhadap placebo dalam percobaan double-blind untuk mengatasi gangguan panik.
Obat ini biasanya digunakan untuk pasien yang tidak respon terhadap obat golongan trisklik
atau obat antidepresi golongan kedua.
Tranylcypromine (Parnate). Obat ini juga efektif terhadap gangguan panik karena
berikatan secara ireversibel pada MAO sehingga dapat mengurangi pemecahan monoamin
dan meningkatkan avaibilitas sinaptik.
Efek Samping MAOI
Ketika dikonsumsi peroral, MAOI menghambat katabolisme amine. Sehingga ketika
makanan yang mengandung tiramin dikonsumsi, seseorang dapat menderita krisis hipertensi.
Jika makanan yang mengandung tiptofan dimakan juga, maka hal ini dapat menyebabkan
hiperserotonemia. Jumlah makanan yang dibutuhkan hingga menimbulkan reaksi berbedabeda pada tiap individu.
11

Mekanisme pasti mengapa konsumsi tiramin dapat menyebabkan krisis hipertensi


pada pengguna obat MAOI belum diketahui, tapi diperkirakan tiramin menggantikan
norepinefrin pada penyimpanannya di vesikel, dalam hal ini norepinefrin terdepak oleh
tiramin. Hal ini dapat memicu aliran pengeluaran norepinefrin sehingga dapat menyebabkan
krisis hipertensi. Teori lain menyatakan bahwa proliferasi dan akumulasi katekolamin yang
menyebabkan krisis hipertensi.
Beberapa makanan yang mengandung tiramin antara lain hati, makanan yang
difermentasi dan zat-zat lain yang mengandung levodopa seperti kacang-kacangan. Makananmakanan itu harus dihindarkan dari pengguna MAOI.

Respons dan Durasi Farmakoterapi


Jika pasien gagal memberikan respons terhadap salah satu golongan obat, golongan obat lain
harus dicoba. Data terkini menyokong efektivitas venfalaxine. Kombinasi SSRI atau obat
trisiklik dan benzodiazepin atau SSRI dan litium atau obat trisiklik dapat dicoba. Beberapa
laporan kasus menunjukkan efektivitas karbamazepin, valproat, dan calcium channel blocker
yang mengesankan. Buspiron dapat memiliki peran dalam memperkuat obat lain tetapi
efektivitasnya kecil.
Ketika efektif, terapi farmakologis umumnya harus diteruskan selama 8-12 bulan.
Data menunjukkan bahwa gangguan panik adalah gangguan kronis yang mungkin dapat
terjadi seumur hidup dan akan kambuh jika terapi dihentikan mendadak. Studi melaporkan
bahwa 30-90 % yang mengalami keberhasilan terapi mengalami kekambuhan ketika obatnya
dihentikan. 1, 2

Psikoterapi

Terapi Relaksasi

Diberikan terhadap hampir semua individu yang mengalami gangguan panik, kecuali yang
bersangkutan menolak. Terapi ini bermanfaat meredakan secara relatif cepat serangan panik
dan menenangkan individu, namun itu dapat dicapai bagi yang telah berlatih setiap hari.
Prinsipnya adalah melatih pernapasan; dengan cara menarik napas dalam dan lambat, lalu
mengeluarkannya dengan lambat; mengendurkan seluruh otot tubuh dan mensugesti pikiran
ke arah konstruktif yang diinginkan akan dicapai. Dalam proses terapi, dokter akan
12

membimbing individu melakukan ini secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung selama 2030 menit atau lebih lama lagi. Setelah itu individu diminta untuk melakukannya sendiri di
rumah setiap hari, sehingga apabila serangan panik muncul kembali, tubuh sudah siap
relaksasi.
Selain itu diberikan pula salah satu terapi kognitif perilaku atau psikoterapi dinamik.
Pemilihan jenis ini berdasarkan kondisi pasien saat itu, motivasi individu, kepribadiannya,
serta pertimbangan dokter yang melakukan. Keberhasilan kedua jenis terapi ini bergantung
atas motivasi pasien dan kesediaan bekerja sama dengan terapis. 6

Terapi Kognitif Perilaku/Cognitive-Behavioral Therapy (CBT)

Pasien diajak untuk merekstrukturisasi kognitif, yaitu membentuk kembali pola perilaku dan
pikiran yang lebih rasional. Terapi biasanya berlangsung 30-45 menit. Pasien kemudian diberi
pekerjaan rumah yang harus dibuat setiap hari, antara lain membuat daftar pengalaman harian
dalam menyikapi berbagai peristiwa yang dialami baik mengecewakan, menyedihkan, atau
menyenangkan. Pekerjaan rumah ini akan dibahas pada kunjungan berikutnya. Biasanya
terapi ini memerlukan 10-15 kali pertemuan, bisa kurang namun dapat pula lebih, bergantung
pada kondisi pasien yang mengalaminya. 1, 2

Aplikasi Relaksasi

Tujuan aplikasi relaksasi (misalnya Herbert Benson) adalah memberikan pasien rasa kendali
mengenai tingkat fobia dan relaksasi. Melalui penggunaan teknik standar relaksasi otot dan
membayangkan situasi yang membuat santai, pasien memperlajari teknik yang dapat
membantu mereka melewati serangan panik. 1,

Psikoterapi Berorientasi Tilikan

Terapi berfokus membantu pasien mengerti arti ansietas, situasi yang dihindari, serta
kebutuhan untuk menekan impuls, dan keuntungan apabila berhasil. 1,6

Psikoterapi Kombinasi dan Farmakologi

Ketika farmakoterapi efektif menghilangkan gejala primer gangguan panik, psikoterapi


dibutuhkan untuk mengurangi gejala sekunder. Intervensi psikoterapeutik membantu pasien
menghadapi rasa takut keluar rumah. Di samping itu, intervensi terapeutik dibutuhkan untuk
13

beberapa pasien yang menolak obat dikarenakan stigma sakit jiwa, sehingga pasien dapat
mengerti dan menghilangkan resistensi terhadap farmakoterapi.

2.7 PROGNOSIS
Belum banyak diketahui tentang prognosis fobia, namun kecendrungannta adalah menjadi
kronik dan dapat terjadi komorbiditas dengan gangguan lain seperti depresi, penyalahgunaan
alkohol dan obat bila tidak mendapat terapi. Menurut National Institute of Mental Health,
75% orang dengan fobia spesifik dapat mengatasi ketakutannya dengan terapi kognitif
perilaku, dan 80% fobia sosial membaik dengan farmakoterapi, terapi kognitif perilaku atau
kombinasi. Pada fobia perilaku fobik dapat mengganggu kemampuan seorang berfungsi,
menyebabkan ketergantungan finansial pada orang lain dan timbulnya berbagai gangguan
dalam kehidupan sosial, bidang perkerjaan, dan akademik.

Bab III
KESIMPULAN

Definisi fobia spesifik ketakutan dan kecemasan yang bertahan, berlebihan dan tidak
masuk akal terhadap suatu objek atau situasi tertentu, sehingga menimbulkan dorongan kuat
untuk menghindar atau melarikan diri dari objek atau situasi tersebut, dan dapat mengganggu
anak dalam hal akademis dan interaksi sosialnya. Sedangkan fobia social adalah ketakutan
irasional yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial atau tampil di depan
orang-orang yag belum dikenal atau dengan kemungkinan dinilai oleh orang lain yang tidak
di kenal. Individu merasa takut bahwa ia akan bertindak dengan cara (atau menunjukkan
gejala-gejala kecemasan) yang akan memalukan atau merendahkan individu.
Pedoman diagnosis untuk fobia spesifik dan fobia sosial berdasarkan tabel DSM-IVTR yang menyatakan dari keluhan, awitan, dan perilaku pasien saat terpapar predisposisi
bermakna.

14

Tatalaksana yang dapat diberikan adalah kombinasi psikofarmaka dan psikoterapi,


untuk jangka panjang. Kombinasi dua terapi ini memberikan prognosis yang lebih baik dan
tingkat kekambuhan yang lebih rendah dibandingkan hanya dengan salah satu terapi.
Mengingat terdapatnya faktor psikososial, maka sangat penting untuk melakukan edukasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Saddock BJ & Saddock VA. Panic disorder and agoraphobia. In: Kaplan & Sadock's
Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Ed. USA:
Lippincott Williams & Wilkins; 2007. Sec.16.2. p. 588-97.
2. Donald W & Nancy C. Spesific phobia and social phobia. In:Introductory textbook of
psychiatry, 6th Ed.UK: American psychiatry publishing; 2013. P.197-202
3. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorder. 4th ed. Text rev. Washington DC: APA; copyright 2000.
4. Departemen Kesehatan RI. PPDGJ III. Cetakan Pertama. 1993.h. 173-4, 178-9.
5. Sylvia D & Gitayanti H. Fobia spesifik dan fobia sosial. In: Buku ajar psikiatri, 2nd
Ed.Jakarta: Badan penerbit fakultas kedokteran universitas indonesia. P. 265-70

15