Anda di halaman 1dari 13

4

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Kemacetan


Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu
lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas
jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak
mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak
seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta.
Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta,
Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Makassar, Palembang, Denpasar,
Jogjakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Jika arus lalu lintas
mendekati kapasitas, kemacetan mulai terjadi. Kemacetan semakin meningkat
apabila arus begitu besarnya sehingga kendaraan sangat berdekatan satu sama
lain. Kemacetan total terjadi apabila kendaraan harus berhenti atau bergerak
lambat.
Kemacetan adalah kondisi dimana arus lalu lintas yang lewat pada ruas
jalan yang ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut yang mengakibatkan
kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati atau melebihi 0 km/jam sehingga
menyebabkan terjadinya antrian. Pada saat terjadinya kemacetan, nilai derajat
kejenuhan pada ruas jalan akan ditinjau dimana kemacetan akan terjadi bila nilai
derajat kejenuhan mencapai lebih dari 0,5.
Sudradjat, Tony Sumartono, Asropi (2011) dalam jurnalnya menyebutkan
bahwa kemacetan lalu lintas biasanya meningkat sesuai dengan meningkatnya
mobilitas manusia pengguna transportasi, terutama pada saat-saat sibuk.
Kemacetan terjadi karena berbagai sebab diantaranya disebabkan oleh kelemahan
sistem pengaturan lampu lalu lintas, banyaknya persimpangan jalan, banyaknya
kendaraan yang turun ke jalan, musim, kondisi jalan, dan lain-lain. Berbagai usaha
untuk menanggulangi kemacetan lalu lintas yang dilakukan adalah dengan

Universitas Sumatera Utara

penambahan sarana jalan, pembangunan jalan tol, jalan layang, terowongan,


sistem pengaturan lampu ATCS (Area Traffic Control System), dan lain-lain.
Transportasi sangat erat kaitannya dengan perluasan lahan tanah. Drewe
menggambarkan hubungan antara perkembangan transportasi dengan perluasan
lahan tanah yang digambarkan seperti pada gambar.

Perluasan ruas
jalan

Perjalanan

Kemampuan
menjangkau

Perlu
transportasi
Fasilitas
transportasi
Gambar 2.1 Diagram Siklus Perluasan Ruas Jalan dan Transportasi

2.2 Definisi Transportasi


Menurut Morlok (1991), transportasi adalah memindahkan atau mengangkut
barang atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Transportasi dikatakan
baik, apabila perjalanan cukup cepat, tidak mengalami kemacetan, frekuensi
pelayanan cukup, aman, bebas dari kemungkinan kecelakaan dan kondisi
pelayanan yang nyaman. Untuk mencapai kondisi yang ideal seperti, sangat
ditentukan oleh berbagai faktor yang menjadi komponen transportasi ini, yaitu
kondisi prasarana (jalan), sistem jaringan jalan, kondisi sarana (kendaraan) dan
sikap mental pemakai fasilitas transportasi tersebut (Budi D.Sinulingga, 1999).

Universitas Sumatera Utara

2.3 Teknik Perlalulintasan (Traffic Technique)


Suatu transportasi dikatakan baik, apabila waktu perjalanan cukup cepat tidak
mengalami kemacetan, frekuensi pelayanan cukup, aman bebas dari kemungkinan
kecelakaan dan kondisi pelayanan yang nyaman. Untuk mencapai kondisi yang
ideal seperti itu sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang menjadi komponen
transportasi, yaitu kondisi prasarana (jalan) serta sistem jaringannya dan kondisi
sarana (kendaraan),serta yang tak kalah pentingnya ialah sikap mental pemakai
fasilitas transportasi tersebut.
Untuk mengetahui tentang transportasi kota dalam aspek perencanaan dan
pelaksanaannya,

maka

penting

sekali

untuk

memahami

aspek

teknik

perlalulintasan (traffic technique). Teknik lalu lintas angkutan darat meliputi:


karakteristik volume lalu lintas, kapasitas jalan, satuan mobil penumpang, asal dan
tujuan lalu lintas, dan pembangkit lalu lintas (Sinulingga, 1999).

2.4 Karakteristik Volume Lalu Lintas


Di dalam suatu perlalulintasan dikenal lalu lintas harian atau AADT (Average
Annual Daily Traffic) yaitu jumlah kendaraan yang lewat secara rata-rata dalam
sehari (24 jam) pada suatu ruas jalan tertentu, besarnya lalu lintas harian akan
menentukan dimensi penampang jalan yang akan di bangun. Volume lalu lintas
ini bervariasi besarnya, tidak tetap, tergantung waktu, variasi dalam sehari,
seminggu maupun sebulan dan setahun. Di dalam satu hari biasanya terdapat dua
waktu jam sibuk, yaitu pagi dan sore hari. Tapi ada juga jalan-jalan yang
mempunyai variasi volume lalu lintas agak merata. Volume lalu lintas selama jam
sibuk dapat digunakan untuk merencanakan dimensi untuk menampung lalu
lintas. Semakin tinggi volumenya, semakin besar dimensi yang diperlukan. Suatu
volume yang over estimate akan membuat perencanaan menjadi boros, sedangkan
volume yang under estimate akan membuat jaringan jalan cepat mengalami
kemacetan, sehingga memerlukan pengembangan pula.

Universitas Sumatera Utara

2.5 Teori Graf


Graf adalah suatu diagram yang memuat informasi tertentu jika diinterpretasikan
secara tepat. Dalam kehidupan sehari-hari, graf digunakan untuk menggambarkan
berbagai macam struktur yang ada. Tujuannya adalah sebagai visualisasi objekobjek agar lebih mudah dimengerti.
Teori graf merupakan pokok bahasan yang sudah tua usianya namun
memiliki banyak terapan sampai saat ini. Di ilmu matematika dan komputer teori
graf adalah himpunan benda-benda yang disebut verteks (vertex atau node) yang
terhubung oleh jalur-jalur (edges). Graf digunakan untuk merepresentasikan
objek-objek diskrit dan hubungan antara objek-objek tersebut. Representasi visual
dari graf adalah dengan menyatakan objek sebagai noktah, bulatan atau verteks,
sedangkan hubungan di antara objek dinyatakan dengan garis (jalur).
Banyak sekali struktur yang bisa direpresentasikan dengan graf, dan banyak
masalah yang bisa diselesaikan dengan bantuan graf. Jaringan jalan raya pada
sebuah wilayah bisa direpresentasikan dengan graf. Verteks-verteksnya adalah
kota-kota yang terdapat pada wilayah tersebut dan ada jalur antara kota A dan
kota B dihubungkan oleh sebuah jalan.
Sebuah struktur graf dikembangkan dengan memberi bobot pada tiap jalur.
Graf berbobot dapat digunakan untuk melambangkan berbagai konsep. Sebagai
contoh jika suatu graf melambangkan jaringan jalan maka bobotnya bisa berarti
panjang jalan maupun batas kecepatan tertinggi jalur tertentu. Ekstensi lain pada
graf adalah dengan membuat jalurnnya berarah, yang secara teknis disebut graf
berarah atau digraph (directed graph). Digraf dan jalur berbobot disebut jaringan.
Jaringan banyak digunakan pada cabang praktis teori graf yaitu analisis jaringan.
Pada analisis jaringan, definisi kata jaringan bisa berbeda dan sering berarti graf
sederhana (tanpa bobot dan arah).

Graf G didefinisikan sebagai pasangan terurut (V, E) dan dilambangkan


dengan G = (V, E) dimana:

Universitas Sumatera Utara

1. V = {v1, v2, ... , vn} adalah himpunan tak kosong yang terbatas dan
anggota-anggotanya dinamakan simpul
2. E = {e1, e2, ... , en} adalah himpunan sisi yang menghubungkan sepasang
simpul (Munir, 2003).
Definisi diatas menyatakan bahwa V tidak boleh kosong, sedangkan E
boleh kosong. Jadi sebuah graf dimungkinkan tidak mempunyai sisi satu buah
pun, tetapi simpulnya harus ada minimal satu. Graf yang hanya mempunyai satu
buah simpul tanpa sebuah jalur dinamakan graf trivial. Jumlah simpul pada suatu
graf dinyatakan dengan V dan jumlah sisi dinyatakan dengan E .
Simpul pada graf dapat dinomori dengan huruf, seperti a, b, c, ..., v, w, ...,
dengan bilangan asli 1, 2, 3, ..., 3 atau gabungan keduanya. Sedangkan sisi yang
menghubungkan simpul u dengan simpul v dinyatakan dengan pasangan (u, v)
atau dinyatakan dengan lambang 1 , 2 Dengan kata lain, jika e adalah sisi yang
menghubungkan simpul u dengan simpul v, maka e dapat ditulis sebagai e = (u,
v). Nama suatu jalur dapat dituliskan dengan pasangan simpulnya, misalnya dari
gambar graf dibawah jalur 2 .
b
3

a
2

1
e

Gambar 2.2 Graf G dengan Lima Simpul dan Lima Sisi


Suatu graf dapat disajikan dalam bentuk diagram seperti pada gambar 2.2
di atas. Selain itu graf dapat juga disajikan dalam bentuk matriks yaitu matriks
berelasi dan matriks berisisian seperti berikut ini.
Andaikan G = (V, E) adalah graf sederhana dengan banyak simpul di V
adalah n. Misalkan simpul-simpul dari G adalah v1, v2, ... , vn. Matriks berelasi

Universitas Sumatera Utara

dari suatu graf G adalah matriks nol satu n n dengan 1 sebagai entri dari aij jika
vi dan vj berelasi artinya (vi, vj) E, dan 0 sebagai entri dari aij jika vi dan vj tidak

berelasi artinya vi , v j E . Dengan kata lain jika matriks berdekatan, maka


entrinya adalah:
1, jika vi, vj E
aij =
0, jika vi, vj E
Matriks berdekatan dari graf sederhana adalah simetrik, yaitu aij a ji .
Kedua entri itu sama dengan 1 bila vi dan v j berdekatan dan keduanya sama
dengan 0 bila vi dan v j tidak berdekatan. Selanjutnya karena matriks dari graf
sederhana tidak mempunyai loop, maka setiap entri aij untuk i = j adalah 0.
Matriks berdekatan dapat juga digunakan untuk menyajikan graf tidak berarah
yang mempunya loop dan jalur ganda. Suatu loop pada simpul vi atau v j diwakili
oleh 1 pada posisi vi ke v j dengan i = j sehingga aij = 1 untuk = pada matriks
berdekatan. Untuk jalur ganda bahwa entri aij pada matriks berdekatan adalah
sama dengan banyaknya jalur yang berhubungan vi dengan v j dengan i = . Semua
graf tidak berarah yang mempunyai jalur ganda dan pseudograf mempunyai
matriks berdekatan yang simetris.
Contoh matriks berdekatan untuk menyajikan graf pada gambar 2.2. Kalau
urutan simpul-simpulnya adalah a, b, c, d, e maka dapat dianggap v1 a , v2 b ,

v3 c , v4 d , v5 e . Dari gambar 2.2 diperoleh E = {ac, ae, be, dc, de} berarti
a13 = 1, a15 = 1, a25 = 1, a43 = 1, dan a45 1 , sedang selainnya entrinya 0. Matriks
yang menyajikan graf tersebut adalah sebagai berikut:

0
0
1
0
1

0
0
0
0
1

1
0
0
1
0

0
0
1
0
1

1
1
0
1
0

Universitas Sumatera Utara

10

Jika matriks bersisian digunakan untuk merepresentasikan hubungan antara


simpul-simpul graf, maka untuk menunjukkan hubungan antara simpul-simpul
dan jalur-jalur pada graf digunakan matriks berelasi. Definisi dari matriks berelasi
disajikan sebagai berikut.
Misalkan G = (V, E) adalah graf tidak berarah dengan V v1 , v2 ,, vk dan

E e1 , e2 ,, ek maka matriks bersisian yang berkenaan dengan urutan V dan E


adalah matriks m n, dengan entrinya adalah :
1, jika jalur ei berinsiden dengan vi
0, jika jalur ei tidak berinsiden dengan vi
Selain untuk menyajikan graf sederhana, matriks bersisian dapat juga
digunakan pada jalur-jalur ganda dan loop. Untuk mewakili jalur-jalur ganda pada
matriks bersisian menggunakan kolom sebagai jalur dan baris sebagai simpul.
Kalau jalurnya ganda berarti jalur-jalur ini bersisian dengan pasangan simpul yang
sama. Kalau terdapat loop berarti jalur itu bersisian dengan tepat satu simpul
sehingga entrinya sama dengan 1.
Matriks bersisian dari graf pada gambar 2.2. simpul vi bersisian dengan jalur
e1 dan e1 maka m11 = 1, dan m13 = 1, simpul v2 bersisian dengan jalur e2 maka, m22
= 1, simpul v3 bersisian dengan jalur e3 dan e4 maka m33 = 1, dan e4 =1, simpul v4
bersisian dengan jalur e4 dan e5 maka m44 =1 dan m45 = 1, simpul v5 bersisian
dengan jalur e1, e2, dan e5 maka m51 = 1, m52 = 1, dan m55 = 1. Jadi matriks
bersisian dari graf pada gambar 3.1 tersebut adalah
0
0
1
0
1

0
0
0
0
1

1
0
0
1
0

0
0
1
0
1

1
1
0
1
0

Setiap garis pada graf berhubungan dengan satu atau dua titik. Titik-titik
tersebut dinamakan titik ujung. Garis yang hanya berhubungan dengan satu titik
ujung disebut loop. Dua garis berbeda yang menghubungkan titik yang sama

Universitas Sumatera Utara

11

disebut garis paralel. Perlu diketahui bahwa panjang garis, kelengkungan garis,
dan letak titik tidak berpengaruh dalam suatu graf.
Menurut teori graf, persoalan lintasan terpendek (the shortest path
problem) adalah suatu persoalan untuk mencari lintasan antara dua buah simpul
pada graf berbobot yang memiliki gabungan nilai jumlah bobot pada sisi graf
yang dilalui dengan jumlah yang paling minimum.
2.5.1 Macam-macam Graf
Berdasarkan arah dan bobotnya graf digolongkan atas 4 jenis, yaitu:
1. Graf berarah dan berbobot yaitu graf yang setiap

sisinya memiliki

orientasi arah dan bobot.


2. Graf berarah dan tak berbobot yaitu graf yang sisinya mempunyai arah dan
tidak berbobot.
3. Graf tidak berarah dan berbobot yaitu graf yang setiap sisinya tidak
mempunyai arah tetapi memiliki bobot.
Graf tidak berarah dan tidak berbobot yaitu graf yang setiap sisinya tidak
memiliki arah dan bobot.
2.5.2 Terminologi dalam Graf
Terminologi (istilah) yang berkaitan dengan graf akan sering digunakan. Di
bawah ini didefinisikan beberapa istilah yang sering dipakai dan berhubungan
dengan maximum spanning tree.
1. Walk adalah suatu barisan berhingga dari verteks dan edge secara
bergantian, yang diawali dari verteks dan diakhiri dengan verteks. Bentuk
umum dari walk adalah:

v0e0v1v1 ,, vn1en1vn en
Dalam hal ini 0 merupakan verteks awal dan merupakan verteks akhir.
Jika verteks awal dan verteks akhir dari suatu walk adalah sama, maka walk
disebut close walk (walk tertutup).

Universitas Sumatera Utara

12

2. Trail adalah suatu walk dengan setiap edge-nya berlainan.


3. Path adalah suatu walk dengan setiap verteksnya berbeda.
4. Cycle adalah suatu path yang memiliki verteks awal sama dengan verteks
akhir.
5. Length (panjang) adalah bilangan yang menyatakan banyaknya edge yang
muncul dalam suatu walk.
6. Edge e adalah sebuah jembatan untuk G jika G dengan e tidak terhubung.
Secara umum edge e adalah jembatan untuk suatu graf G jika G dengan e
mempunyai komponen terhubung lebih dari G.
2.5.3 Graf Terhubung, Graf Berbobot, dan Subgraf
1. Graf Terhubung
Misalkan u dan v adalah titik yang berbeda pada graf G. Maka titik u dan v
dapat dikatakan terhubung (connected), jika terdapat lintasan u-v di G.
Sedangkan suatu graf G dapat dikatakan terhubung (connected), jika untuk
setiap titik u dan v di G terhubung. Keterhubungan adalah sifat yang
dimiliki oleh graf. Graf terhubung dapat dilihat atau dibuktikan dari
keterhubungan antara u dan v. Untuk lebih menguatkan kondisi (u, v):
C

D
B

E
Gambar 2.3 Graf Terhubung (Connected Graph)

2. Graf berbobot (weighed graph)


Graf berbobot adalah graf yang setiap sisinya diberi sebuah bobot. Bobot
pada tiap sisi dapat berbeda-beda bergantung pada masalah yang
dimodelkan dengan graf (Munir, 2005). Contohnya,

Universitas Sumatera Utara

13

7
8

C
5

9
6

Gambar 2.4 Graf Berbobot (Weighted Graph)


Graf G pada gambar 2.4 dikatakan berbobot karena pada setiap edge diberi
sebuah bobot.
3. Graf berarah dan berbobot (directed graph)
Graf yang setiap sisinya diberikan orientasi arah disebut sebagai graf
berarah. Secara umum sisi berarah disebut dengan busur (arc). Pada graf
berarah (u,v) dan (v,u) menyatakan dua buah busur yang berbeda, dalam
arti kata bahwa (u,v) (v,u). Jadi untuk busur (u,v) simpul u dinamakan
simpul asal dan simpul v dinamakan simpul terminal atau simpul tujuan.
Graf berarah sering dipakai untuk menggambarkan aliran proses, peta
lintas kota dan lain sebagainya. Sehingga pada graf berarah gelang atau
looping diperbolehkan tetapi sisi ganda tidak diperbolehkan. Contohnya,
8

5
B

1
E

10
3

Gambar 2.5 Graf Berarah dan Berbobot

Universitas Sumatera Utara

14

4. Subgraf
Graf H disebut subgraf jika setiap titik dari graf H juga merupakan titik
dari graf G dan setiap edge pada H juga merupakan edge pada graf G.
Contoh dari subgraf adalah:
1

Graf G

2
1

Gambar 2.6 Graf dan Subgrafnya

Universitas Sumatera Utara

15

2.6 Algoritma Dijkstra


Algoritma Dijkstra untuk menentukan rute terpendek. Algoritma Dijkstra
digunakan pada graf berarah dan berbobot. Jika bobot graf > 0, maka digunakan
Dijkstra dengan level satu, dan bila bobot graf ada yang negatif akan digunakan
level dua. Dalam penelitian ini akan dipakai algoritma Dijkstra yang memakai
bobot > 0, karena bobot graf merepresentasikan jarak antar titik sehingga
bobotnya positif.
Algoritma ini diberi nama sesuai nama penemunya, Edsger Wybe Dijkstra.
Algoritma Dijkstra mencari lintasan terpendek dalam sejumlah langkah.
Algoritma ini menggunakan prinsip Greedy yang menyatakan bahwa pada setiap
langkah kita memilih sisi yang berbobot minimum dan memasukkannya ke dalam
himpunan solusi. Input algoritma ini adalah sebuah graf berarah yang berbobot
(weighted directed graph) G dan sebuah sumber verteks S dalam G dan V adalah
himpunan semua verteks dalam graf G (Munir, 2005).
Ada beberapa versi algoritma Dijkstra, salah satunya adalah sebagai
berikut. Misalkan,
V(G)

: v1 , v2 ,, vn .

: himpunan titik-titik V(G) yang sudah terpilih dalam alur


path (jalur) terpendek.

D(j)

: jumlah bobot path (jalur) terkecil dari vi ke vj.

W(i, j) : bobot garis dari titik vi ke titik vj.


W*(i, j): jumlah bobot path terkecil dari vi ke vj.
Secara formal, algoritma Dijkstra untuk mencari jalur terpendek adalah
sebagai berikut.
1. L
V = v1 , v2 ,, vn .
2. Untuk j = 2, , n, lakukan D( j ) W (1, j )
3. Selama vn L lakukan :
a. Pilih titik vk V - L dengan D(k) terkecil.

Universitas Sumatera Utara

16

L L{vk } .
b. Untuk setiap keadaan v1 mempuyai edge ke vj lakukan :
Jika D( j ) D(k ) W (k , j ) maka ganti D(j) dengan D(k) + W(k, j)
4. Untuk setiap keadaan edge dari v1 ke vj adalah terkecil, maka W*(i, j) =
D(j).
Menurut algoritma tersebut, path (jalur) terpendek dari titik vi ke vn adalah
melalui titik-titik dalam secara berurutan, dan jumlah bobot path (jalur)
terkecilnya adalah D(n).
Dalam jurnalnya, Deiby T. Salaki (2011) mengatakan bahwa salah satu
masalah umum yang dapat diselesaikan dengan menggunakan teori graf adalah
Masalah Lintasan Terpendek (Shortest Path Problem atau SPP) yang mencari
lintasan dengan jumlah bobot paling minimum. Algoritma Dijkstra merupakan
salah satu algoritma untuk menyelesaikan

masalah

ini.

Penelitian

tersebut

ditujukan untuk membuat lintasan terpendek yang dapat dilalui kendaraan roda
empat dari Fakultas MIPA ke Fakultas lainnya di kampus UNSRAT dengan
menggunakan Algoritma Dijkstra. Shortest Path Problem (SPP) adalah suatu
persoalan untuk mencari lintasan antara dua atau lebih simpul pada graf berbobot
yang gabungan bobot sisi graf yang dilalui berjumlah paling minimum. Persoalan
ini juga merupakan suatu persoalan optimasi yang menggunakan graf berbobot,
dimana bobot dapat menyatakan jarak antar kota, waktu pengiriman pesan,
ongkos pembangunan, dan sebagainya (Pradana, 2009).
Algoritma Dijkstra adalah algoritma yang dikhususkan untuk pencarian
jalan terbaik dalam sebuah graf (Willy Setiawan, 2010).

Universitas Sumatera Utara