Anda di halaman 1dari 196

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KELELAHAN KERJA

PADA PEMBUAT TAHU DI WILAYAH KECAMATAN CIPUTAT


DAN CIPUTAT TIMUR TAHUN 2014

SKRIPSI

Oleh:
DIO DIRGAYUDHA
NIM : 109101000057

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014 M / 1436 H.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Skripsi, November 2014
Dio Dirgayudha, NIM: 109101000057
Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kelelahan Kerja pada Pembuat
Tahu di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014
xvi + 147 halaman + 18 tabel + 3 bagan + 3 lampiran
ABSTRAK
Kelelahan kerja merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang
secara umum terjadi pada pekerja, yaitu pekerja tidak sanggup lagi untuk melakukan
pekerjaan sehingga mengakibatkan penurunan produktivitas kerja. Berdasarkan studi
pendahuluan yang dilakukan pada bulan Desember 2013 di tiga tempat pembuatan
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur diperoleh 91,7% pekerja
mengalami kelelahan kerja (11 orang). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi analitik dengan desain
Cross Sectional Study yang dilaksanakan pada Januari sampai Mei 2014. Populasi
penelitian ini adalah pembuat tahu pada tujuh tempat pembuatan tahu yang berada di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur dengan jumlah sampel sebanyak 75
orang. Instrumen yang digunakan adalah reaction timer test, sound level meter,
custom digital lux meter, quest thermal environmental monitor, timbangan, meteran
tubuh dan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik NonParametric yaitu uji Spearman Correlations dan Mann-Whitney.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pembuat tahu mengalami
tingkat kelelahan kerja sedang dengan nilai median waktu reaksi 483,00 mili detik,
dimana sebagian besar mengalami gejala pelemahan kegiatan. Hasil penelitian
membuktikan bahwa umur (p-value = 0,00), masa kerja (p-value = 0,00), dan tekanan
panas (p-value = 0,01) berpengaruh terhadap kelelahan kerja. Sehingga dapat
disarankan kepada pembuat tahu bahwa diharapkan mengerjakan tugas atau beban
kerja sesuai kemampuan fisik dan kapasitas kerja, diharapkan beristirahat sejenak dan
merotasi kerja. Kemudian kepada pemilik tempat pembuatan tahu diharapkan
mendesain tempat pembuatan tahu dengan menambah celah udara di dinding sebagai
sumber udara segar dan menambah celah genting sebagai sumber cahaya.
Kata Kunci
: kelelahan kerja, waktu reaksi, pembuat tahu.
Daftar Bacaan : 88 (1959 2013)

ii

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES


DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
MAJOR OF OCCUPATIONAL SAFETY AND HEALTH
Undergraduated Thesis, November 2014
Dio Dirgayudha, NIM: 109101000057
Factors that Influence Fatigue to Tofu Maker in the District of Ciputat and East
Ciputat 2014
xvi + 147 pages + 18 tables + 3 charts + 3 attachments
ABSTRACT
Fatigue is a pattern that occurs in a situation that generally occurs in workers,
workers no longer able to do the job, which causes a decrease in labor productivity.
Based on a preliminary study conducted in December 2013 in the three sites of tofu
manufacturing in the District of Ciputat and East Ciputat was found 91.7% of
workers experiencing fatigue (11 people). Therefore, this study aims to determine the
factors that influence fatigue to tofu maker in the District of Ciputat and East Ciputat
2014.
This study was an epidemiological analytic with design cross sectional study.
It was conducted in January to May 2014. Population of this study are the tofu
makers at seven sites of tofu manufacturing in the District of Ciputat and East Ciputat
with total sample are 75 people. The instrument used were reaction timer test, sound
level meter, custom digital lux meter, quest thermal environmental monitor, scales,
meter body and questionnaires. Data analysis was performed by non-parametric test,
those are spearman correlations and mann-whitney test.
Based on the research results, it was known that tofu makers were
experienced middle level fatigue with the median of reaction time is 483,00 milli
seconds. Most of them got symptoms a weaker activity. The research proves that the
age (p-value = 0.00), work period (p-value = 0.00), and heat stress (p-value = 0.01)
effect on fatigue. So it can be suggested to the tofu makers that are expected do the
tasks or workloads corresponding physical ability and work capacity, are expected to
rest a while and rotate work. Then the owner of the premises are expected to design
sites of tofu manufacturing by adding the air gap in the wall as a source of fresh air
and adding gap roof as a source of light.
Keywords
: fatigue, reaction time, tofu makers.
Reading List : 88 (1959 - 2013)

iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Identitas
Nama
: Dio Dirgayudha
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Tempat / Tanggal Lahir : Jakarta, 24 Maret 1991
Alamat
: Jl. Mawar III Blok C2 / No. 4 RT. 04/ RW. 007
Taman Kedaung, Kel. Kedaung, Kec. Pamulang,
Tangerang Selatan 15415
Agama
: Islam
Golongan Darah
: O (+)
No. Telp
: 085691992580
Email
: diodirgayudha@gmail.com
Riwayat Pendidikan
1996 1997
1997 2003
2003 2006
2006 2009
2009 2014

: TK Nurul Huda
: SDN 1 Ciputat
: SMPN 1 Pamulang
: SMAN 1 Ciputat
: S-1 Program Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

vi

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala Puji bagi Allah S.W.T yang selalu memberikan kenikmatan yang tak
terhingga kepada kita semua. Shalawat dan salam juga selalu tercurah kepada baginda
besar Nabi Muhammad SAW. Dengan memanjat rasa syukur atas segala nikmat dan
rahmatNya

hingga

skripsi

yang

berjudul

FAKTOR-FAKTOR

YANG

BERPENGARUH TERHADAP KELELAHAN KERJA PADA PEMBUAT


TAHU DI WILAYAH KECAMATAN CIPUTAT DAN CIPUTAT TIMUR
TAHUN 2014 ini dapat tersusun dengan baik.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, nasehat, motivasi, dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan
terima kasih kepada:
1. Orang tua dan keluarga serta adik Akbar, yang senantiasa mendoakan dan
telah memberikan dukungan moril, dan materil sehingga penulis terus
bersemangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. DR (hc). Dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Fajar Ariyanti, SKM, M.Kes, Ph.D, selaku Ketua Program Studi
Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Raihana Nadra Alkaff, SKM, M.MA dan Ibu Minsarnawati, SKM,
M.Kes, selaku pembimbing skripsi yang dalam kesibukannya telah
menyempatkan waktu untuk membimbing penulis dan memberi masukanmasukan yang sangat bermanfaat.
5. Ibu Dr. Ela Laelasari, SKM, M.Kes dan Ibu Izzatu Millah, SKM, M.KKK
selaku tim penguji skripsi.
6. Ibu Iting Shofwati, ST, MKKK selaku ketua tim penguji dan penanggung
jawab peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang banyak memberikan
masukan baik mengenai tugas kuliah, maupun penyusunan skripsi.

vii

7. Seluruh pembuat tahu yang telah bersedia menjadi responden dalam


penelitian ini.
8. Dongsaeng Henny Fatmawati yang telah menemani penulis dan membantu
penulis dari awal penyusunan skripsi sampai akhir. Semoga Allah membalas
semua kebaikanmu Dongsaeng. Youre the best!
9. Teman-teman K3 2009 yang memberikan semangat dan doa (Henny, Amel,
Ubay, Pikih, Defri, Fadil, Ipeh, Vj, Diana, Sandy, Desi, Rifqi, Reza, Nia,
Denis, Lina, Sca, Novan, dan Mufil).
10. Seluruh dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta termasuk para dosen tamu,
terima kasih atas ilmu yang telah diberikan selama perkuliahan.
11. Ka Ami, Ka Septi, dan Ka Ida selaku Laboran Kesmas yang telah
memberikan arahan dan informasi dalam perjalanan penyelesaian skripsi ini.
12. Bapak Ajib dan Pa Go selaku Admin Kaprodi Kesehatan Masyarakat yang
telah membantu proses administrasi.
13. Seluruh pihak yang telah banyak membantu yang tidak bisa penulis sebutkan
satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat


keterbatasan dan kekurangan sehingga penulis sangat menerima saran dan kritik yang
diberikan untuk menyempurnakan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, November 2014

Dio Dirgayudha

viii

DAFTAR ISI

COVER
LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

iv

LEMBAR PENGESAHAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

vi

KATA PENGANTAR

vii

DAFTAR ISI

ix

DAFTAR TABEL

xiii

DAFTAR BAGAN

xv

DAFTAR LAMPIRAN

xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Pertanyaan Penelitian

D. Tujuan Penelitian

11

1. Tujuan Umum

11

2. Tujuan Khusus

11

E. Manfaat Penelitian

13

1. Bagi Peneliti

13

2. Bagi Pekerja

13

3. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif


Hidayatullah Jakarta

14

F. Ruang Lingkup Penelitian

14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

16

ix

A. Industri Tahu

16

1. Pembuat Tahu

17

2. Tahapan Pembuatan Tahu

17

B. Kelelahan Kerja

23

1. Definisi Kelelahan

23

2. Definisi Kelelahan Kerja

25

C. Jenis Kelelahan

25

D. Gejala Kelelahan

27

E. Dampak Kelelahan

29

F. Metode Pengukuran Kelelahan

30

1. Kualitas dan Kuantitas Hasil Kerja

30

2. Perasaan Kelelahan Secara Subjektif

31

3. The Electroencephalograph

33

4. Mengukur Frekuensi Subjektif Kelipan Mata (Flicker Fusion Eyes


Test)

34

5. Pengujian Psikomotor

34

6. Pengujian Mental

36

G. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kelelahan Kerja

38

1. Umur

38

2. Jenis Kelamin

40

3. Masa Kerja

41

4. Status Gizi

42

5. Kebiasaan Merokok

44

6. Shift Kerja

46

7. Tingkat Kebisingan

48

8. Tingkat Pencahayaan

54

9. Tekanan Panas

58

10. Tanggungjawab Peran dalam Organisasi

64

11. Status Kesehatan

65

12. Keadaan Monoton

68

H. Penanggulangan Kelelahan Kerja

68

I. Kerangka Teori

69

BAB III KERANGKA KONSEP,

DEFINISI OPERASIONAL DAN

HIPOTESIS

71

A. Kerangka Konsep

71

B. Definisi Operasional

76

1. Variabel Dependen

76

2. Variabel Independen

76

C. Hipotesis

79

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

80

A. Disain Penelitian

80

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

81

C. Populasi dan Sample Penelitian

81

D. Pengumpulan Data

84

E. Instrumen Penelitian

85

F. Pengolahan Data

94

G. Teknik Analisa Data

96

BAB V HASIL PENELITIAN

100

A. Gambaran Lokasi Penelitian

100

B. Hasil Analisis Univariat

102

1. Gambaran Kelelahan Kerja

102

2. Gambaran Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi

104

3. Gambaran

Kebiasaan

Merokok,

Tingkat

Kebisingan,

Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja


C. Hasil Analisis Bivariat

Tingkat
105
108

1. Uji Normalitas Data

108

xi

2. Pengaruh Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi terhadap Kelelahan


Kerja
3. Pengaruh

109
Kebiasaan

Merokok,

Tingkat

Kebisingan,

Tingkat

Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja terhadap Kelelahan


Kerja

111

BAB VI PEMBAHASAN

114

A. Keterbatasan Penelitian

114

B. Gambaran Kelelahan Kerja pada Pembuat Tahu

114

C. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kelelahan Kerja pada Pembuat


Tahu

119

1. Umur

119

2. Masa Kerja

122

3. Status Gizi

125

4. Kebiasaan Merokok

128

5. Tingkat Kebisingan

131

6. Tingkat Pencahayaan

135

7. Tekanan Panas

138

BAB VI PENUTUP

143

A. Simpulan

143

B. Saran

145

1. Bagi Pemilik Pembuatan Tahu

145

2. Bagi Pembuat Tahu

147

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

147

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Daftar Pertanyaan Kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT)

32

Tabel 2.2 Kelebihan dan Kekurangan Metode Pengukuran Kelelahan Kerja

37

Tabel 2.3 Indeks Masa Tubuh (IMT)

43

Tabel 2.4 Intensitas Kebisingan yang Diperbolehkan Berdasarkan

Waktu

Pemaparan dalam Satu Hari

51

Tabel 2.5 Standar Tingkat Pencahayaan di Lingkungan Kerja

55

Tabel 2.6 NAB Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang
Diperkenankan

60

Tabel 2.7 Estimasi Pengukuran Panas Metabolik

61

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Dependen

76

Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel Independen

76

Tabel 4.1 Perhitungan Sampel Berdasarkan Uji Hipotesis Beda Dua Proporsi
terhadap Hasil Penelitian Terdahulu

83

Tabel 5.1 Distribusi Jumlah Pembuat Tahu dan Jenis Tahu yang Diproduksi
Berdasarkan Kelurahan di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur Tahun 2014

100

Tabel 5.2 Distribusi Kelelahan Kerja (Reaction Timer Test) pada Pembuat Tahu
di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014

102

Tabel 5.3 Distribusi Kelelahan Kerja (Reaction Timer Test berdasarkan


Subjective Self Rating Test) pada Pembuat Tahu di Wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014

103

Tabel 5.4 Distribusi Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi Pembuat Tahu di
Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014

xiii

104

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan, Tingkat


Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja pada Pembuat Tahu
di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014
Tabel 5.6 Hasil Uji Normalitas

107
108

Tabel 5.7 Hasil Analisis Pengaruh Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi terhadap
Kelelahan Kerja pada Pembuat Tahu di Wilayah Kecamatan Ciputat
dan Ciputat Timur Tahun 2014

109

Tabel 5.8 Hasil Analisis Pengaruh Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan,


Tingkat Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja terhadap
Kelelahan Kerja pada Pembuat Tahu di Wilayah Kecamatan Ciputat
dan Ciputat Timur Tahun 2014

xiv

112

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Alur Pembuatan Tahu

23

Bagan 2.2 Kerangka Teori

70

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

75

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Kuesioner Penelitian

Lampiran 2

Pemetaan

Titik

Pengukuran

Pencahayaan, dan Tekanan Panas


Lampiran 3

Output SPSS

xvi

Tingkat

Kebisingan,

Tingkat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1970, pemerintah mewajibkan
pada semua bidang usaha agar menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) di tempat kerja sebagai salah satu wujud profesionalisme. Undangundang tersebut menjelaskan tentang pentingnya memenuhi syarat-syarat
keselamatan kerja untuk mencegah, mengurangi dan mengendalikan
kecelakaan, bahaya peledakan, bahaya suhu, kelembaban, radiasi, suara,
getaran, bahaya listrik, memadamkan kebakaran, pertolongan pada kecelakaan
serta memberi alat pelindung diri (APD) pada para pekerja. Dengan demikian,
perusahaan yang bergerak di bidang usaha apapun wajib menerapkan K3 di
tempat kerja.
Bidang usaha dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu usaha formal
dan informal. Usaha sektor formal adalah pekerjaan yang terstruktur dan
terorganisir, secara resmi terdaftar dalam statistik perekonomian, dan syaratsyarat bekerja dilindungi oleh hukum. Sedangkan bidang usaha sektor
informal adalah kegiatan usaha yang secara umum sederhana, skala usaha
relatif kecil, umumnya tidak mempunyai izin usaha, untuk bekerja di sektor
informal lebih mudah dari pada di sektor formal, tingkat pendapatan di sektor

informal biasanya rendah, keterkaitan sektor informal dengan usaha-usaha


lain sangat kecil, dan usaha-usaha di sektor informal sangat beraneka ragam
(Effendi, 1993). Di sektor informal, penerapan K3 masih belum terlaksana
secara memadai karena kurangnya dukungan landasan hukum untuk
pembinaan sektor informal, serta kurangnya kesadaran K3 dan kerjasama
lintas sektor yang berkaitan dengan penanganan sektor informal (Setyawati,
2001).
Salah satu bidang usaha sektor informal yang berkembang saat ini
adalah industri tahu. Tahu merupakan salah satu makanan utama dan digemari
oleh masyarakat Indonesia karena selain harganya murah dan mudah didapat,
tahu juga dapat diolah menjadi berbagai bentuk masakan, rasanya enak, dan
merupakan salah satu makanan yang menyehatkan (Mudjajanto, 2006).
Kebutuhan masyarakat terhadap tahu sangat besar sehingga banyak industri
tahu bermunculan. Dengan demikian, industri tahu juga wajib menerapkan K3
di tempat kerja, agar dapat mencegah dan mengendalikan terjadinya
kecelakaan dan kesakitan akibat kerja.
Secara umum, terdapat dua golongan penyebab kecelakaan yaitu
tindakan atau perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe
human acts) dan keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe condition)
(Heinrich, 1959). Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, faktor
manusia menempati posisi yang sangat penting terhadap terjadinya

kecelakaan kerja yaitu antara 80-85%. Salah satu faktor penyebab utama
kecelakaan kerja yang disebabkan oleh manusia adalah stress dan kelelahan
(Sumamur, 1993). Kelelahan yang terjadi di tempat kerja memberi kontribusi
50% terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja (Setyawati, 2007, Maurits
dan Widodo, 2008).
Kelelahan kerja merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan
yang secara umum terjadi pada pekerja, dimana pekerja tidak sanggup lagi
untuk melakukan pekerjaan sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan
produktivitas kerja akibat faktor pekerjaan (Riyadina, 1996, Sedarmayanti,
2009). Orang yang mengalami kelelahan kerja biasanya mengalami gejalagejala seperti perasaan lesu, menguap, mengantuk, pusing, sulit berpikir,
kurang berkonsenterasi, kurang waspada, persepsi yang buruk dan lambat,
kaku dan canggung dalam gerakan, gairah bekerja kurang, tidak seimbang
dalam berdiri, tremor pada anggota badan, tidak dapat mengontrol sikap, dan
menurunnya kinerja jasmani dan rohani (Kroemer dan Grandjean, 1997,
Tarwaka, 2013).
Kelelahan kerja dapat berdampak terhadap menurunnya perhatian,
perlambatan dan hambatan persepsi, lambat dan sukar berfikir, penurunan
motivasi untuk bekerja, penurunan kewaspadaan, menurunnya konsentrasi
dan ketelitian, performa kerja rendah, kualitas kerja rendah, dan menurunnya
kecepatan reaksi. Hal-hal tersebut akan menyebabkan banyak terjadi

kesalahan, sehingga pekerja mengalami cidera, stress kerja, penyakit akibat


kerja, kecelakaan kerja, dan pada akhirnya produktivitas berkurang
(Sastrowinoto, 1985, Manuaba, 1998, Budiono, dkk, 2003, Tarwaka, 2013).
Kelelahan kerja disebabkan oleh beberapa hal seperti irama sirkadian,
masalah lingkungan kerja (tingkat kebisingan, tingkat pencahayaan, dan iklim
kerja), intensitas dan lamanya kerja, masalah-masalah fisik (tanggungjawab,
kecemasan, dan konflik dalam organisasi), status kesehatan, status gizi
(Budiono, dkk, 2003, Kroemer dan Grandjean, 1997, Tarwaka, 2013), kerja
monoton, dan beban kerja (Sumamur, 1999). Pendapat lain menambahkan
kelelahan kerja juga dipengaruhi oleh waktu kerja, jenis kelamin, usia, masa
kerja, status gizi, dan kondisi kesehatan (Silaban, 1998).
Berdasarkan penelitian menyebutkan kelelahan kerja disebabkan oleh
beberapa faktor. Penelitian yang dilakukan pada pekerja penjahit sektor
informal faktor-faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja adalah faktor usia
pekerja dan masa kerja (Umyati, 2010). Sedangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kelelahan kerja pada karyawan Laundry informal adalah beban
kerja (Wati dan Haryono, 2011). Lalu jenis kelamin dan beban kerja memiliki
hubungan dengan kelelahan kerja pada karyawan pengolah dan pendistribusi
makanan di instalasi gizi sebuah rumah sakit (Virgy, 2011)
Berdasarkan hasil survey di negara maju, dilaporkan bahwa antara 1050% penduduk mengalami kelelahan (Silaban, 1998). Sedangkan penelitian

mengenai kecelakaan transportasi yang dilakukan di Selandia Baru antara


tahun 2002 dan 2004 menunjukkan bahwa dari 134 kecelakaan fatal, 11%
diantaranya disebabkan faktor kelelahan dan dari 1703 cidera akibat
kecelakaan, 6% disebabkan oleh kelelahan pada operator (Baiduri, 2008).
Kemudian, berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
dalam

kegiatan

Workshop

Formulasi

Strategi

Penelitian

ASEAN

OSHNET (Association of South East Asian Nation-Occupational Safety and


Health Network) untuk K3 yang diselenggarakan tahun 2010, angka
kecelakaan kerja di Indonesia tahun 2009 masih relatif tinggi yaitu mencapai
96.513 kasus (Kemenakertrans RI, 2010).
Dari hasil penelitian tentang kelelahan kerja yang dilakukan pada
pekerja penjahit sektor informal diketahui bahwa sebagian besar responden
mengalami lelah yaitu sebanyak 41 (53.9%) responden dari total responden 76
orang (Umyati, 2010). Sedangkan pada karyawan Laundry informal diketahui
bahwa dari 30 orang responden, 20 orang mengalami kelelahan kerja (Wati
dan Haryono, 2011). Kemudian, penelitian lain menunjukkan sebagian besar
karyawan pengolah dan pendistribusi makanan di instalasi gizi sebuah rumah
sakit termasuk dalam kategori kelelahan kerja berat lebih banyak yaitu
sebanyak 17 orang (53,1%), kelelahan kerja sedang sebanyak 9 orang
(28,1%), dan sebanyak 6 orang (18,8%) responden mengalami kelelahan kerja
ringan (Virgy, 2011).

Pembuat tahu adalah pekerja sektor informal yang menggunakan


kacang kedelai sebagai bahan baku/utama dalam proses produksinya untuk
membuat tahu serta cara kerja yang bersifat tradisional (M.Mikhew, ICHOIS,
l997 dalam Effendi, 2007). Terdapat sekitar 2500 pembuat tahu di wilayah
Tangerang, Banten. Di Tangerang Selatan sendiri, terdapat beberapa daerah
penghasil tahu yang cukup banyak dan tersebar di daerah Ciputat dan Ciputat
Timur (Sekarningrum, 2012 dalam Ferdian, 2012).
Sesuai dengan perannya sebagai industri sektor informal, industri tahu
mempunyai ciri-ciri dalam aspek keselamatan dan kesehatan di tempat kerja.
Ciri-ciri tersebut seperti timbulnya risiko bahaya pekerjaan yang tinggi,
keterbatasan sumber daya dalam mengubah lingkungan kerja dan menentukan
pelayanan kesehatan kerja yang adekuat, rendahnya kesadaran terhadap
faktor-faktor risiko kesehatan kerja dan kondisi pekerjaan yang tidak
ergonomis, kerja fisik yang berat dan jam kerja yang panjang (M.Mikhew,
ICHOIS, l997 dalam Effendi, 2007). Tempat pembuatan tahu menghasilkan
suara bising dari mesin penggiling kedelai, kurangnya tingkat pencahayaan
ditempat kerja, dan tekanan panas yang dapat mengganggu proses kerja.
Selain itu pada proses penyaringan ini melibatkan seluruh aktifitas tubuh
karena dilakukan secara terus-menerus dengan cara menggoyang-goyangkan
kain saringan, ada pula yang menginjak-injak alat saringan menggunakan kaki
untuk membantu proses penyaringan (Widiantoko, 2010 dalam Ferdian, 2012,

Fauzi, 2013). Hal-hal tersebut menyebabkan pembuat tahu berisiko


mengalami kelelahan kerja.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Desember
2013 di tiga tempat pembuatan tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur didapatkan bahwa dari 12 pekerja, 91,7% pekerja mengalami
kelelahan kerja yaitu 11 orang, dan 8,3% atau 1 orang pekerja tidak
mengalami kelelahan kerja. Maka dari itu penulis mengambil judul Faktorfaktor yang Berpengaruh terhadap Kelelahan Kerja pada Pembuat Tahu
di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014.

B. Rumusan Masalah
Kelelahan kerja disebabkan oleh faktor-faktor risiko yang ada di
tempat kerja. Pada tempat pembuatan tahu faktor-faktor risiko kelelahan kerja
antara lain suara bising dari mesin penggiling kedelai, kurangnya
pencahayaan ditempat kerja, tekanan panas yang dapat mengganggu proses
kerja, dan proses kerja yang melibatkan seluruh aktifitas tubuh. Hal-hal
tersebut menyebabkan pembuat tahu berisiko mengalami kelelahan kerja.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Desember
2013 di tiga tempat pembuatan tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur, tingkat kebisingan yang terdapat di tempat pembuatan tahu
mencapai 88 dB. Jika dibandingan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) yang

ditetapkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor


PER.13/MEN/X/2011 Tahun 2011, tingkat kebisingan sudah melebihi NAB
yang ditentukan yaitu 85 dB untuk 8 jam kerja.
Kemudian, hasil pengukuran tingkat pencahayaan di tempat kerja
bervariasi di masing-masing titik aktivitas kerja. Hasil pengukuran berkisar 13
lux sampai 596 lux, dimana sebagian besar titik berada dibawah 300 lux. Hal
tersebut berarti pencahayaan di tempat kerja dibawah NAB pencahayaan
minimal untuk industri kecil seperti pembuatan tahu yang ditetapkan oleh
Kepmenkes RI No. 1405 Tahun 2002 yaitu 300 lux.
Kemudian, hasil pengukuran tekanan panas mencapai 29,92 C sampai
31,38 C dengan alokasi pembagian waktu kerja pembuat tahu yaitu 8 jam
bekerja dengan istirahat 30 menit untuk makan siang (75% sampai 100%
kerja) sehingga termasuk beban kerja sedang. Hal ini berarti sudah melebihi
NAB Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang disesuaikan dengan
tingkat beban kerja pekerja dan alokasi pembagian waktu kerja yang

diperkenankan menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi


Nomor PER.13/MEN/X/2011 Tahun 2011, yaitu sebesar 280 C sampai 310 C.
Hasil pengukuran kelelahan kerja pada 12 pekerja diketahui bahwa
91,7% pekerja mengalami kelelahan kerja yaitu 11 orang, dan 8,3% atau 1
orang pekerja tidak mengalami kelelahan kerja. Maka dari itu, dengan
penelitian ini peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat


dan Ciputat Timur Tahun 2014.

C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
2. Bagaimana gambaran umur pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan
Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
3. Bagaimana gambaran masa kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
4. Bagaimana gambaran status gizi pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
5. Bagaimana gambaran kebiasaan merokok pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
6. Bagaimana gambaran tingkat kebisingan di tempat kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
7. Bagaimana gambaran tingkat pencahayaan di tempat kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
8. Bagaimana gambaran tekanan panas di tempat kerja pada pembuat tahu di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?

10

9. Apakah ada pengaruh umur terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
10. Apakah ada pengaruh masa kerja terhadap kelelahan kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
11. Apakah ada pengaruh status gizi terhadap kelelahan kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014?
12. Apakah ada pengaruh kebiasaan merokok terhadap kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014?
13. Apakah ada pengaruh tingkat kebisingan di tempat kerja terhadap
kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014?
14. Apakah ada pengaruh tingkat pencahayaan di tempat kerja terhadap
kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014?
15. Apakah ada pengaruh tekanan panas di tempat kerja terhadap kelelahan
kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tahun 2014?

11

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan
kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tahun 2014.

2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
b. Diketahuinya gambaran umur pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
c. Diketahuinya gambaran masa kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
d. Diketahuinya gambaran status gizi pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
e. Diketahuinya gambaran kebiasaan merokok pada pembuat tahu di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
f. Diketahuinya gambaran tingkat kebisingan di tempat kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014.

12

g. Diketahuinya gambaran tingkat pencahayaan di tempat kerja pada


pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014.
h. Diketahuinya gambaran tekanan panas di tempat kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
i. Diketahuinya pengaruh umur terhadap kelelahan kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
j. Diketahuinya pengaruh masa kerja terhadap kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014.
k. Diketahuinya pengaruh status gizi terhadap kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014.
l. Diketahuinya pengaruh kebiasaan merokok terhadap kelelahan kerja
pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tahun 2014.
m. Diketahuinya pengaruh tingkat kebisingan di tempat kerja terhadap
kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014.

13

n. Diketahuinya pengaruh tingkat pencahayaan di tempat kerja terhadap


kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014.
o. Diketahuinya pengaruh tekanan panas di tempat kerja terhadap
kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana
untuk melatih pemikiran yang sistematis dalam menganalisa dan
memecahkan

suatu

masalah.

Selain

itu

sebagai

sarana

untuk

mengaplikasikan keilmuan K3 yang telah didapat di perkuliahan dalam


dunia kerja mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan
kerja, khususnya pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014.

2. Bagi Pekerja
Hasil

penelitian ini

diharapkan

dapat

digunakan sebagai

sumbangan pikiran dan bahan pertimbangan bagi pekerja mengenai


faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada pekerja

14

dalam upaya pengaturan sikap dan sarana kerja sehingga dapat


memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam bekerja. Serta dapat
mengurangi kelelahan kerja dan meningkatkan kinerja dalam pencapaian
produktivitas kerja.

3. Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif


Hidayatullah Jakarta
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi kalangan
akademis sebagai referensi kepustakaan tambahan yang nantinya dapat
menjadi acuan untuk melakukan penelitian berikutnya mengenai faktorfaktor yang berpengaruh terhadap kelelahan kerja secara mendetail dan
mendalam.

F. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Mei 2014.
Populasi penelitian ini adalah pembuat tahu yang berada di wilayah
kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur yang berjumlah 80 orang dan sampel
berjumlah75 orang
Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi analitik dengan
desain Cross Sectional Study karena pada penelitian ini variabel dependen dan
variabel independen akan diamati dalam waktu (periode) yang sama.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Reaction Timer Test

15

untuk mengukur kelelahan kerja, Sound Level Meter (SLM) untuk mengukur
tingkat kebisingan, Custom Digital Lux Meter untuk mengukur tingkat
pencahayaan, Quest Thermal Environmental Monitor untuk mengukur
tekanan panas dengan mempertimbangkan waktu kerja dan beban kerja yang
diukur dengan Estimasi Pengukuran Panas Metabolik dan Indeks Suhu Basah
dan Bola (ISBB), timbangan dan meteran tubuh untuk menghitung status gizi,
dan kuesioner untuk mengetahui umur, masa kerja, dan kebiasaan merokok
responden.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Industri Tahu
Sektor usaha dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu usaha formal dan
informal. Jan Breman mengatakan bidang usaha sektor formal adalah
sejumlah pekerjaan yang terstruktur dan terorganisir, secara resmi terdaftar
dalam statistik perekonomian, dan syarat-syarat bekerja dilindungi oleh
hukum. Sedangkan Simanjuntak memberikan ciri-ciri yang tergolong sebagai
bidang usaha sektor informal, yaitu kegiatan usaha yang secara umum
sederhana, skala usaha relatif kecil, umumnya tidak mempunyai izin usaha,
untuk bekerja di sektor informal lebih mudah daripada di sektor formal,
tingkat pendapatan di sektor informal biasanya rendah, keterkaitan sektor
informal dengan usaha-usaha lain sangat kecil, dan usaha-usaha di sektor
informal sangat beraneka ragam (Effendi, 1993). Contoh bidang usaha sektor
informal biasanya dikaitkan dengan usaha kerajinan, dagang, pertanian,
perikanan atau usaha lain (Setyawati, 2001).
Salah satu bidang usaha sektor informal yang berkembang saat ini
adalah industri tahu. Tahu merupakan salah satu makanan utama dan digemari
oleh masyarakat Indonesia karena selain harganya murah dan mudah didapat,
tahu juga dapat diolah menjadi berbagai bentuk masakan, rasanya enak, dan

16

17

merupakan salah satu makanan yang menyehatkan (Mudjajanto, 2006). Tahu


adalah makanan yang terbuat dari kedelai yang dilumatkan atau dihancurkan
menjadi bubur (Kastyanto, 1999 dalam Fredickson, 2011).

1. Pembuat Tahu
Pembuat tahu adalah pekerja sektor informal yang membuat
makanan yang terbuat dari kedelai sebagai bahan baku utama yang
dilumatkan atau dihancurkan menjadi bubur dengan cara tradisional.
Sesuai dengan perannya sebagai industri sektor informal industri tahu
mempunyai ciri seperti timbulnya risiko bahaya pekerjaan yang tinggi,
keterbatasan sumber daya dalam mengubah lingkungan kerja dan
menentukan pelayanan kesehatan kerja yang adekuat, rendahnya
kesadaran terhadap faktor-faktor risiko kesehatan kerja dan kondisi
pekerjaan yang tidak ergonomis, kerja fisik yang berat dan jam kerja yang
panjang (M.Mikhew, ICHOIS, l997 dalam Effendi, 2007).

2. Tahapan Pembuatan Tahu


Berikut ini adalah tahapan pembuatan tahu (Suprapti, 2005):
a. Persiapan
Tahap persiapan merupakan kegiatan pokok pada pembuatan
tahu meliputi persiapan bahan baku dan persiapan bahan penggumpal.

18

Bahan baku harus melalui proses pembersihan, pengeringan dalam


oven dengan suhu 400C sampai 600C (sama dengan suhu sinar
matahari),

pemisahan

kulit,

pelunakan

dilakukan

dengan

menambahkan soda kue, pencucian dan penirisan agar tidak tercampur


soda

kue.

Sedangkan

bahan

penggumpal

dibutuhkan

untuk

menggumpalkan protein yang masih tercampur di dalam sari kedelai.


Dengan demikian, akan diperoleh bubur tahu yang dapat dicetak.
b. Proses Pembuatan Tahu
Proses

pembuatan

tahu

terdiri

beberapa

tahap

yaitu

(Widiantoko, 2010 dalam Ferdian, 2012, Fauzi, 2013):


1) Perendaman
Pada tahapan

perendaman ini, kedelai direndam dalam

sebuah bak perendam selama kurang lebih 3 jam. Jumlah air yang
dibutuhkan tergantung dari jumlah kedelai, intinya kedelai harus
terendam semua. Tujuan dari tahapan perendaman ini adalah untuk
mempermudah proses penggilingan sehingga dihasilkan bubur
kedelai yang kental.
2) Pencucian Kedelai
Kedelai

dikeluarkan

dari

bak

perendam

kemudian

dimasukan ke dalam ember-ember plastik untuk kemudian dicuci


dengan air mengalir. Tujuannya adalah untuk membersihkan biji-

19

biji kedelai dari kotoran-kotoran supaya tidak mengganggu proses


penggilingan dan agar kotoran-kotoran tidak tercampur ke dalam
adonan tahu.
3) Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin
penggiling biji kedelai dengan tenaga penggerak dari motor
berbahan bakar minyak. Mesin penggiling kedelai menghasilkan
suara bising mencapai 86 dB. Tujuan penggilingan yaitu untuk
merubah biji-biji kedelai menjadi bubur kedelai. Saat proses
penggilingan sebaiknya dialiri air untuk didapatkan kekentalan
bubur yang diinginkan.
4) Perebusan/Pemasakan
Proses perebusan/pemasakan pada masing-masing tempat
pembuatan

tahu

dibedakan

berdasarkan

cara

pemasakan/perebusan. Ada yang menggunakan cara tradisional


yaitu perebusan/pemasakan dalam drum/wadah bubur kedelai
dimana kayu bakar diletakan langsung dibawahnya. Sedangkan
cara lain yaitu cara perebusan/pemasakan tidak langsung
mendapatkan panas dari kayu bakar, namun menggunakan ketel
uap yang diletakan agak jauh dari lokasi proses pembuatan tahu
yang dialirkan melalui pipa besi. Kayu bakar sebagai bahan bakar

20

diperoleh dari sisa-sisa pembangunan rumah. Tujuan perebusan


adalah untuk mendenaturasi protein dari kedelai sehingga protein
mudah terkoagulasi saat penambahan asam. Titik akhir perebusan
ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung panas dan
mengentalnya larutan/bubur kedelai. Proses ini menghasilkan
tekanan panas sekitar 29 sampai 32 C yang dapat mengganggu
proses kerja.
5) Penyaringan
Setelah bubur kedelai direbus dan mengental, dilakukan
proses penyaringan dengan menggunakan kain saring. Tujuan dari
proses penyaringan ini adalah memisahkan antara sari kedelai
dengan ampas atau limbah kedelai yang tidak diinginkan. Pada
proses penyaringan ini bubur kedelai yang telah mendidih dan
sedikit mengental dipindahkan ke dalam bak yang diatasnya
terdapat kain saring. Bubur tersebut dialirkan melewati kain saring
yang ada diatas bak penampung.
Proses penyaringan ini melibatkan seluruh aktifitas tubuh
karena dilakukan secara terus-menerus dengan cara menggoyanggoyangkan kain saringan, ada pula yang menginjak-injak alat
saringan menggunakan kaki untuk membantu proses penyaringan.
Proses ini dilakukan sampai memperoleh sari kedelai yang bersih

21

dari limbah kedelai yang tidak diinginkan. Kemudian saringan


yang berisi ampas diperas sampai benar-benar kering. Ampas
hasil penyaringan disebut ampas yang kering, ampas tersebut
dipindahkan ke dalam karung. Ampas tersebut dimanfaatkan untuk
makanan ternak ataupun dijual untuk bahan dasar pembuatan
tempe gembus.
6) Pengendapan
Dari proses penyaringan diperoleh sari kedelai putih seperti
susu yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Sari kedelai yang
didapat kemudian ditambahkan asam cuka yang berfungsi untuk
mengendapkan dan menggumpalkan protein tahu sehingga terjadi
pemisahan antara lapisan atas (whey) dengan lapisan bawah
(endapan tahu). Endapan tersebut yang merupakan bahan utama
yang akan dicetak menjadi tahu. Lapisan atas (whey) yang berupa
limbah cair merupakan bahan dasar yang akan diolah menjadi
Nata De Soya.
7) Pencetakan dan Pengepresan
Proses pencetakan dan pengepresan merupakan tahap akhir
pembuatan tahu. Terdapat dua cetakan yang digunakan, yaitu
cetakan kain untuk mencetak tahu berukuran 55 atau 1010 cm
dan cetakan yang terbuat dari kayu berukuran 7070 cm dan berisi

22

ruang-ruang berukuran 55 cm. Lubang tersebut bertujuan untuk


memudahkan air keluar saat proses pengepresan. Sebelum proses
pencetakan yang harus dilakukan adalah memasang kain saring
tipis di permukaan cetakan. Setelah itu, endapan yang telah
dihasilkan

pada

tahap

sebelumnya

dipindahkan

dengan

menggunakan alat semacam wajan secara pelan-pelan. Selanjutnya


kain saring ditutup rapat dan kemudian diletakkan kayu yang
berukuran hampir sama dengan cetakan di bagian atasnya. Setelah
itu,

bagian

atas

cetakan

diberi

beban

untuk

membantu

mempercepat proses pengepresan tahu. Tahu siap dikeluarkan dari


cetakan apabila tahu tersebut sudah cukup keras dan tidak hancur
bila digoyang.
8) Pemotongan Tahu
Setelah proses pencetakan selesai, dilakukan proses
pemotongan. Proses pemotongan ini untuk tahu yang dicetak
menggunakan cetakan kayu. Tahu yang sudah jadi dikeluarkan
dari cetakan dengan cara membalik cetakan dan kemudian
membuka kain saring yang melapisi tahu. Setelah itu, tahu
dipotong sesuai ukuran, kemudian tahu dipindahkan ke dalam bak
yang berisi air agar tahu tidak hancur.

23

Bagan 2.1
Alur Pembuatan Tahu
Perendaman

Pencucian Kedelai

Penggilingan

Perebusan / Pemasakan

Penyaringan

Pengendapan

Pencetakan dan Pengepresan

Pemotongan Tahu

B. Kelelahan Kerja
1. Definisi Kelelahan
Kelelahan

merupakan

kondisi

melemahnya

tenaga

untuk

melakukan suatu kegiatan yang biasa terjadi kepada semua orang dalam
kehidupan sehari-hari dan disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan

24

dalam bekerja (Budiono, dkk, 2003, Sedarmayanti, 2009). Pendapat


lainnya mendeskripsikan kelelahan menjadi tiga definisi umum yaitu
(Bridger, 2003):
a. Kelelahan kantuk yaitu kelelahan yang disebabkan karena
kurangnya waktu tidur dan adanya gangguan irama sirkadian.
b. Kelelahan capek yaitu kelelahan yang disebabkan karena melakukan
aktivitas fisik yang berat atau berlebih.
c. Kelelahan mental yaitu kelelahan yang mengacu pada mental akibat
melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang.
Kelelahan merupakan suatu kondisi menurunnya efisiensi,
performa kerja, dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh
untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan (Wignjosoebroto,
2003).
Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar
terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah
istirahat. Istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbedabeda dari setiap individu, tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan
efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Tarwaka,
2013).

25

2. Definisi Kelelahan Kerja


Kelelahan kerja adalah suatu pola yang timbul pada suatu keadaan
yang secara umum terjadi pada pekerja, dimana pekerja tidak sanggup lagi
untuk melakukan pekerjaan sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan
produktivitas kerja akibat faktor pekerjaan (Riyadina, 1996, Sedarmayanti,
2009). Sedangkan pendapat lain menyebutkan bahwa kelelahan kerja
merupakan proses menurunnya efisiensi, performance kerja, dan
berkurangnya kekuatan/ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan
kegiatan yang harus dilakukan (Sumamur, 1996).
Kelelahan kerja akan menambah tingkat kesalahan kerja dan
menurunkan kinerja atau produktivitas. Jika kesalahan kerja meningkat,
akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri
(Nurmianto, 2003).

C. Jenis Kelelahan
Kelelahan dibagi atas dua jenis, yaitu (Budiono, dkk, 2003):
1. Kelelahan otot merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri pada otot.
2. Kelelahan

umum

merupakan

kelelahan

yang

ditandai

dengan

berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh pekerjaan


yang sifatnya statis/monoton, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan
lingkungan, kondisi mental dan psikologis, status kesehatan, dan gizi.

26

Pengaruh-pengaruh tersebut terakumulasi di dalam tubuh manusia dan


menimbulkan perasaan lelah yang dapat menyebabkan seseorang berhenti
bekerja (beraktivitas).
Di samping itu, kelelahan juga diklasifikasikan menjadi 6 bagian,
yaitu (Grandjean, 1988):
1. Kelelahan mata, yaitu kelelahan yang timbul akibat terlalu tegangnya
sistem penglihatan.
2. Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat beban fisik yang
berlebihan.
3. Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh pekerjaan mental
atau intelektual.
4. Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh tekanan
berlebihan pada salah satu bagian sistem psikomotor, seperti pada
pekerjaan yang membutuhkan keterampilan, melakukan pekerjaan yang
berulang-ulang.
5. Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi efek jangka panjang.
6. Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siang-malam, dan memulai
periode tidur yang baru.
Kelelahan dapat diatasi dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh.
Apabila kelelahan tidak segera diatasi dan pekerja dipaksa untuk terus
bekerja, maka kelelahan akan semakin parah dan dapat mengurangi

27

produktivitas pekerja. Kelelahan sama halnya dengan keadaan lapar dan haus
sebagai suatu mekanisme untuk mendukung kehidupan (Budiono, dkk, 2003).

D. Gejala Kelelahan
Gambaran mengenai gejala kelelahan (fatigue symptoms) secara
subjektif dan objektif antara lain (Grandjean, 1988):
1. Perasaan lesu, mengantuk, dan pusing
2. Tidak atau kurang konsentrasi
3. Berkurangnya tingkat kewaspadaan
4. Persepsi yang buruk dan lambat
5. Tidak ada atau berkurangnya gairah untuk bekerja
6. Menurunnya kinerja jasmani dan rohani
Sedangkan ada yang menambahkan bahwa gejala kelelahan antara lain
(Tarwaka, 2013):
1. Perasaan berat di kepala
2. Merasa lelah seluruh badan
3. Merasa berat di kaki
4. Sering menguap saat bekerja
5. Merasa kacau pikiran saat bekerja
6. Menjadi mengantuk
7. Merasakan beban pada mata

28

8. Kaku dan canggung dalam gerakan


9. Tidak seimbang dalam berdiri
10. Ingin berbaring
11. Merasa susah berpikir
12. Malas untuk bicara
13. Merasa gugup
14. Tidak dapat berkonsentrasi
15. Tidak dapat mempusatkan perhatian terhadap sesuatu
16. Cenderung mudah melupakan sesuatu
17. Kurang kepercayaan diri
18. Cemas terhadap sesuatu
19. Tidak dapat mengontrol sikap
20. Tidak dapat tekun dalam pekerjaan
21. Sakit di bagian kepala
22. Sakit di bagian bahu
23. Sakit di bagian punggung
24. Merasa pernafasan tertekan
25. Haus
26. Suara sesak
27. Merasa pening
28. Merasa ada yang mengganjal di kelopak mata

29

29. Anggota badan terasa gemetar


30. Merasa kurang sehat
Beberapa gejala ini dapat menyebabkan penurunan efisiensi dan
efektivitas kerja fisik dan mental. Sejumlah gejala tersebut manifestasinya
timbul berupa keluhan oleh tenaga kerja dan seringnya tenaga kerja tidak
masuk kerja (Grandjean, 1988).

E. Dampak Kelelahan
Dampak bagi pekerja yang mengalami kelelahan kerja antara lain
menurunnya perhatian, perlambatan dan hambatan persepsi, lambat dan sukar
berfikir, penurunan motivasi untuk bekerja, penurunan kewaspadaan,
menurunnya konsentrasi dan ketelitian, performa kerja rendah, kualitas kerja
rendah,

dan

menurunnya

kecepatan

reaksi.

Hal-hal

tersebut

akan

menyebabkan banyak terjadi kesalahan, sehingga pekerja mengalami cidera,


stress kerja, penyakit akibat kerja, kecelakan kerja, dan pada akhirnya dapat
mempengaruhi produktivitas menjadi berkurang (Sastrowinoto, 1985,
Manuaba, 1998, Budiono, dkk, 2003, Tarwaka, 2013).
Kelelahan di tempat kerja memang tidak bisa dipandang sebelah mata,
karena

sangat

berpengaruh

terhadap efektifitas,

produktivitas,

serta

keselamatan pekerja pada umumnya (Job dan Dalziel, 2001 dalam Australian
Safety and Compensation Council, 2006).

30

F. Metode Pengukuran Kelelahan


Sampai saat ini belum ada cara untuk mengukur tingkat kelelahan
secara langsung. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh para peneliti
sebelumnya hanya berupa indikator yang menunjukkan terjadinya kelelahan
akibat kerja (Grandjean, 1993 dalam Tarwaka, 2013). Pengukuran kelelahan
dapat dilakukan dengan enam metode yang berbeda (Kroemer dan Grandjean,
1997), yaitu:

1. Kualitas dan Kuantitas Hasil Kerja


Pada metode ini, hasil kerja digambarkan sebagai jumlah proses
kerja dan waktu yang digunakan setiap unit proses atau jumlah operasi
yang dilakukan setiap unit waktu. Metode ini biasanya digunakan sebagai
pengukuran

tidak

langsung

karena

banyak

faktor

yang

perlu

dipertimbangkan seperti target produksi, perilaku psikologis dalam kerja,


dan faktor sosial (Kroemer dan Grandjean, 1997). Sedangkan kualitas
hasil kerja seperti kerusakan produk, penolakan produk, atau frekuensi
kecelakaan dapat menggambarkan terjadinya kelelahan, tetapi faktor
tersebut bukan merupakan faktor penyebab (Tarwaka, 2013).

31

2. Perasaan Kelelahan Secara Subjektif


Saat ini telah ada alat untuk mengukur kelelahan dengan
menggabungkan beberapa indikator untuk menginterpretasikan hasil yang
dapat dipercaya. Mengutamakan perasaan subjektif terhadap kelelahan
perlu diperhatikan (Kroemer dan Grandjean, 1997).
Kuesioner khusus digunakan untuk menilai perasaan kelelahan
secara subyektif. Subjective Self Rating Test (SSRT) dari Industrial
Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang, merupakan salah satu
kuesioner yang dibuat pada tahun 1967, berisi gejala kelelahan umum
yang dapat untuk mengukur tingkat kelelahan subjektif (Tarwaka, 2013).
Kuesioner ini berisi 30 pertanyaan sebagai indikator yang terdiri dari 10
pertanyaan sebagai indikator tentang pelemahan kegiatan, 10 pertanyaan
sebagai indikator tentang pelemahan motivasi, dan 10 pertanyaan sebagai
indikator tentang gambaran kelelahan fisik.

32

Tabel 2.1
Daftar Pertanyaan Kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT)
10 Pertanyaan tentang 10 Pertanyaan tentang 10 Pertanyaan tentang
Pelemahan Kegiatan
Pelemahan Motivasi
Gambaran
Kelelahan
Fisik
a. Perasaan berat di a. Merasa susah berpikir a. Sakit di bagian kepala
kepala
b. Merasa lelah seluruh b. Malas untuk bicara
b. Sakit di bagian bahu
badan
c. Merasa berat di kaki
c. Merasa gugup
c. Sakit
di
bagian
punggung
d. Sering menguap saat d. Tidak
dapat d. Merasa nafas tertekan
bekerja
berkonsentrasi
e. Merasa kacau pikiran e. Tidak
dapat e. Haus
saat bekerja
memusatkan perhatian
f. Menjadi mengantuk
f. Cenderung
mudah f. Suara serak
melupakan sesuatu
g. Merasakan
beban g. Kurang kepercayaan g. Merasa pening
pada mata
diri
h. Kaku dan canggung h. Cemas
terhadap h. Merasa ada yang
dalam gerakan
sesuatu
mengganjal di kelopak
mata
i. Tidak seimbang saat i. Tidak
dapat i. Anggota badan terasa
berdiri
mengontrol sikap
gemetar
j. Ingin berbaring
j. Tidak tekun dalam j. Merasa kurang sehat
pekerjaan
Sumber: Tarwaka, dkk, 2004.
Semakin tinggi frekuensi gejala kelelahan muncul dapat diartikan
semakin besar pula tingkat kelelahan. Kuesioner ini kemudian
dikembangkan dimana jawaban-jawaban kuesioner diskoring sesuai empat
skala Likert (Susetyo, 2008).
Apabila menggunakan penilaian dengan skala Likert, maka setiap
skor atau nilai haruslah memiliki definisi operasional yang jelas dan
mudah dipahami oleh responden. Jawaban untuk kuesioner IFRC tersebut

33

terbagi menjadi 4 kategori jawaban dimana masing-masing jawaban


tersebut diberi skor atau nilai sebagai berikut (Tarwaka, 2013):
a. Skor 4 = Sangat Sering (SS) merasakan kelelahan
b. Skor 3 = Sering (S) merasakan kelelahan
c. Skor 2 = Kadang-kadang (K) merasakan kelelahan
d. Skor 1 = Tidak Pernah (TP) merasakan kelelahan
Setelah selesai melakukan wawancara dan pengisian kuesioner,
maka langkah berikutnya adalah menghitung jumlah skor pada masingmasing kolom (1, 2, 3 dan 4) dari 30 pertanyaan tersebut dan akan
dijumlahkan, total nilai yang didapat akan menggambarkan kategori
kelelahan dari tiap responden. Kategori tersebut antara lain (Tarwaka,
2013):
a. Nilai 30-52

= Kelelahan rendah

b. Nilai 53-75

= Kelelahan sedang

c. Nilai 76-98

= Kelelahan tinggi

d. Nilai 99-120 = Kelelahan sangat tinggi

3. The Electroencephalograph
The Electroencephalograph adalah alat ukur kelelahan yang barubaru ini sesuai dengan standar riset di laboratorium, dimana berupa
penempelan elektroda pada permukaan kulit kepala untuk menangkap

34

aktivitas listrik di otak. Setelah itu ditafsirkan sebagai sinyal yang


menunjukkan keadaan kelelahan dan mengantuk (Bridger, 2003).

4. Mengukur Frekuensi Subjektif Kelipan Mata (Flicker Fusion Eyes


Test)
Dalam kondisi yang lelah, kemampuan tenaga kerja untuk melihat
kelipan akan berkurang. Semakin lelah akan semakin panjang waktu yang
diperlukan untuk jarak antara dua kelipan. Metode ini, disamping untuk
mengukur kelelahan juga menunjukkan keadaan kewaspadaan tenaga
kerja (Kroemer dan Grandjean, 1997, Tarwaka, 2013).

5. Pengujian Psikomotor
Pengujian psikomotor mengukur fungsi-fungsi yang melibatkan
persepsi, interpretasi, dan reaksi motorik. Uji yang sering digunakan
adalah pengukuran waktu reaksi (Reaction Timer Test) (Tarwaka, 2013).
Reaction time adalah jangka waktu dari adanya pemberian suatu
rangsang

sampai

kepada

suatu

kesadaran

atau

dilaksanakan

gerakan/kegiatan. Dalam uji Reaction Timer dapat digunakan rangsangan


berupa nyala lampu yang kemudian pekerja akan meresponnya, sehingga
dapat dihitung waktu yang dibutuhkan pekerja untuk merespon
rangsangan tersebut. Pemanjangan waktu reaksi merupakan petunjuk

35

adanya perlambatan pada proses faal syaraf dan otot (Koesyanto dan
Tunggul, 2005).
Pengukuran waktu reaksi dilakukan sebanyak 5 kali, setiap hasil
pengukuran

dijumlahkan,

kemudian

diambil

nilai

rata-ratanya.

Eksperimen menggunakan uji Reaction Timer sangat penting dan menarik.


Hal tersebut dikarenakan hasil yang didapatkan dari pengukuran ini tidak
hanya sekedar mengetahui perbedaan kecepatan persepsi individu, akan
tetapi juga mampu mendapatkan informasi mengenai kegunaan fungsi
sistem syaraf yaitu atensi, kemampuan proses persepsi, dan proses
kecepatan reaksi (Koesyanto dan Tunggul, 2005).
Hasil pengukuran dengan Reaction Timer akan dibandingkan
dengan standar pengukuran kelelahan yaitu (Koesyanto dan Tunggul,
2005):
a. Normal

: waktu reaksi 150,0-240,0 mili detik

b. Kelelahan Kerja Ringan : waktu reaksi >240,0-<410,0 mili detik


c. Kelelahan Kerja Sedang : waktu reaksi 410,0-<580,0 mili detik
d. Kelelahan Kerja Berat

: waktu reaksi 580,0 mili detik

Biro Konsultasi Kesehatan, Keselamatan dan Produktivitas Kerja


Lakassidaya yang dipimpin oleh Maurits Charles Soekarno merupakan
biro yang memberikan bantuan konsultasi secara K3 dan ergonomi
disamping pemberian pendidikan, pelatihan serta penerangan dan

36

penelitian di bidang K3 dan ergonomi telah melakukan uji validitas dan


reliabilitas dari Reaction Timer Test. Hasil uji validitasnya baik dan hasil
reliabilitasnya sangat reliabel (r = 0,9) (Lakassidaya, 2011).

6. Pengujian Mental
Pada metode ini konsentrasi merupakan salah satu pendekatan
yang dapat

digunakan untuk menguji

ketelitian dan kecepatan

menyelesaikan pekerjaan. Bourdon Wiersma Test merupakan salah satu


alat yang dapat digunakan untuk menguji kecepatan, ketelitian, dan
konsentrasi. Hasil test akan menunjukkan bahwa semakin lelah seseorang
maka tingkat kecepatan, ketelitian, dan konsentrasi akan semakin rendah.
Namun demikian Bourdon Wiersma Test lebih tepat untuk mengukur
kelelahan akibat aktivitas atau pekerjaan yang lebih bersifat mental
(Grandjean, 1993 dalam Tarwaka, dkk, 2004).

37

Tabel 2.2
Kelebihan dan Kekurangan Metode Pengukuran Kelelahan Kerja
No.
Metode
Kelebihan
Kekurangan
1
Kualitas dan Kuantitas Hasil kerja digambarkan a. Biasanya digunakan
Hasil Kerja
sebagai jumlah proses
sebagai pengukuran
kerja dan waktu yang
tidak langsung karena
digunakan setiap unit
banyak faktor yang
proses
atau
jumlah
harus dipertimbangkan
operasi yang dilakukan
seperti target produksi,
setiap unit waktu
faktor sosial, dan
perilaku psikologis
dalam kerja
b. Kerusakan produk,
penolakan produk,
atau frekuensi
kecelakaan bisa
disebabkan bukan
hanya karena faktor
kelelahan semata
2
Perasaan
Kelelahan Kelelahan
dapat Pengukuran tidak objektif
Secara Subjektif
dianalisis langsung dari sehingga hasilnya kurang
gejala-gejala
yang kuat
dirasakan oleh seseorang
3
The
Alat ukur kelelahan yang Pengukuran
dapat
Electroencephalograph akurat sesuai dengan mengganggu proses dan
standar
riset
di jam
kerja
responden
laboratorium
karena harus mengikuti
tes
di
laboratorium,
dikhawatirkan
dapat
menurunkan produktivitas
responden
4
Mengukur Frekuensi Metode ini selain untuk Bisa terjadi bias dalam
Subjektif Kelipan Mata mengukur kelelahan juga menentukan
besar
(Flicker Fusion Eyes menunjukkan keadaan frekuensi yang dihasilkan
Test)
kewaspadaan
tenaga pada pengukuran
kerja
5
Pengujian
a. Metode pengukuran Pengukuran menggunakan
Psikomotorik
secara objektif
mouse sehingga bisa
b. Tidak hanya sekedar terjadi bias bila terdapat
mengetahui
responden yang terbiasa
perbedaan kecepatan menggunakan mouse, dan

38

No.

Metode

Pengujian Mental

Kelebihan
persepsi
individu,
akan tetapi juga
mampu mendapatkan
informasi mengenai
kegunaan
fungsi
sistem syaraf yaitu
atensi, kemampuan
proses persepsi, dan
proses
kecepatan
reaksi
Hasil test menunjukkan
bahwa semakin lelah
seseorang maka tingkat
kecepatan, ketelitian dan
konsentrasi
akan
semakin rendah atau
sebaliknya

Kekurangan
responden yang tidak
terbiasa
menggunakan
mouse.

Lebih
tepat
untuk
mengukur
kelelahan
akibat
aktivitas
atau
pekerjaan yang lebih
bersifat mental

G. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kelelahan Keja


1. Umur
Faktor umur dapat berpengaruh terhadap waktu reaksi dan
perasaan lelah pekerja. Pekerja yang berumur lebih tua terjadi penurunan
kekuatan otot, tetapi keadaan ini diimbangi dengan stabilitas emosi yang
lebih baik dibanding pekerja yang berumur muda, sehingga dapat
berakibat positif dalam melakukan pekerjaan (Setyawati, 2007).
Pekerja yang berumur diatas 35 tahun memiliki kelemahan pada
saat melakukan pekerjaan dengan temperatur panas dibandingkan dengan
pekerja yang berumur dibawah 35 tahun (Davis, 2001). Pada usia 65-70
tahun kekuatan otot tersebut secara berangsur-angsur akan menurun

39

(Permaesih, 2000). Penurunan kekuatan otot ini dipengaruhi oleh


bertambahnya umur (Tarwaka, dkk, 2004), aktifitas fisik yang dilakukan,
dan dipercepat jika seseorang tidak melakukan latihan (Permaesih, 2000).
Proses penuaan serta kurangnya kemampuan kerja disebabkan oleh
hilangnya fungsi otot, terjadinya penurunan kerja jantung, dan hilangnya
kapasitas aerobik (Bridger, 2003).
Umur seseorang akan mempengaruhi kondisi tubuh. Semakin tua
umur seseorang semakin besar tingkat kelelahan. Fungsi faal tubuh yang
dapat berubah karena faktor usia mempengaruhi ketahanan tubuh dan
kapasitas kerja seseorang. Seseorang yang berumur muda sanggup
melakukan pekerjaan berat dan sebaliknya jika seseorang berusia lanjut
maka kemampuan untuk melakukan pekerjaan berat akan menurun karena
merasa cepat lelah dan tidak bergerak dengan gesit ketika melaksanakan
tugasnya sehingga mempengaruhi kinerjanya (Sumamur, 1996). Hal ini
sebanding dengan hasil penelitian kelelahan pada pekerja proyek dimana
kelelahan berat paling banyak dialami oleh pekerja yang berusia diatas 37
tahun, sehingga dapat dikatakan adanya hubungan yang bermakna antara
usia pekerja dengan kelelahan kerja (Marif, 2013).

40

2. Jenis Kelamin
Pada umumnya wanita hanya mempunyai kekuatan fisik 2/3 dari
kemampuan fisik atau kekuatan otot pria (Tarwaka, dkk, 2004). Bagi
seorang wanita, jantung harus bekerja memompa darah yang mengandung
oksigen lebih berat dari pada pria untuk mengalirkan satu liter oksigen ke
jaringan-jaringan tubuh (Bridger, 2003). Dengan demikian, untuk
mendapatkan hasil kerja yang sesuai maka harus diusahakan pembagian
tugas antara pria dan wanita. Hal ini harus disesuaikan dengan
kemampuan, kebolehan, dan keterbatasannya masing-masing (Kroemer
dan Grandjean, 1997, Tarwaka, dkk, 2004).
Akan tetapi dalam beberapa hal pekerja wanita lebih teliti dan
lebih tahan atau lentur dibandingkan dengan pekerja laki-laki, seperti pada
wanita yang telah menikah dan bekerja, waktu kerjanya lebih lama 4
sampai 6 jam jika dibandingkan dengan pria karena selain mencari nafkah
wanita juga bertanggung jawab terhadap keluarga dan rumah (Harrington
dan Gill, 2003). Berdasarkan hasil penelitian pada perawat di RS Syarif
Hidayatullah Jakarta didapatkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan
yang bermakna dengan kelelahan. Dari 41 orang responden, terdapat 3
responden yang berjenis kelamin perempuan mengalami kelelahan kerja,
sedangkan laki-laki tidak ada yang mengalami kelelahan kerja. (Sophia,
2009).

41

3. Masa Kerja
Masa kerja merupakan akumulasi waktu dimana pekerja telah
menjalani pekerjaan tersebut. Semakin banyak informasi yang kita
simpan, semakin banyak keterampilan yang kita pelajari, akan semakin
banyak hal yang kita kerjakan (Malcom, 1998 dalam Wirasati, 2003).
Masa kerja dapat mempengaruhi pekerja baik pengaruh positif
maupun negatif. Pengaruh positif terjadi bila semakin lama seorang
pekerja

bekerja

maka

akan

berpengalaman

dalam

melakukan

pekerjaannya. Sebaliknya pengaruh negatif terjadi bila semakin lama


seorang pekerja bekerja akan menimbulkan kelelahan dan kebosanan.
Semakin lama seorang pekerja bekerja maka semakin banyak pekerja
terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut
(Budiono, dkk, 2003). Dampak negatif lainnya berupa adanya batas
ketahanan tubuh terhadap proses kerja yang berakibat terhadap timbulnya
kelelahan. Pekerjaan yang dilakukan secara kontinyu dapat berpengaruh
terhadap sistem peredaran darah, sistem pencernaan, otot, syaraf dan
sistem pernafasan (Sumamur, 1999).
Penelitian pada pekerja bongkar muat di pelabuhan menunjukkan
bahwa yang paling banyak merasakan lelah terdapat pada kelompok >10
tahun yaitu sebanyak 17 orang (65,4%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa

42

masa kerja berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja (Eraliesa,


2009).

4. Status Gizi
Status gizi merupakan salah satu penyebab kelelahan. Seorang
pekerja dengan status gizi yang baik akan memiliki ketahanan tubuh dan
kapasitas kerja yang lebih baik, sedangkan seorang pekerja dengan status
gizi yang tidak baik akan memiliki ketahanan tubuh dan kapasitas kerja
yang tidak baik juga (Budiono, dkk, 2003). Apabila dalam melakukan
pekerjaan tubuh kekurangan energi baik secara kualitatif maupun
kuantitatif, kapasitas kerja akan terganggu sehingga pekerja tidak
produktif, mudah terjangkit penyakit dan mempercepat timbulnya
kelelahan (Tarwaka, dkk, 2004).
Status gizi seseorang dapat diketahui dari perhitungan Indeks Masa
Tubuh (IMT). Adapun cara perhitungan IMT adalah sebagai berikut
(Almatsier, 2009):

Hasil perhitungan IMT tesebut akan dibandingkan dengan standar


yang diterapkan oleh Departemen Kesehatan RI (Depkes RI) Tahun 2004.
Adapun standar IMT yang ditetapkan dapat dilihat pada tabel 2.3 dibawah
ini (Almatsier, 2009):

43

Tabel 2.3
Indeks Masa Tubuh (IMT)
Status Gizi
Sangat Kurus
Kurus
Normal
Kelebihan Berat Badan (overweight)
Gemuk
Sangat Gemuk
Sumber: Depkes RI, 2004

IMT (Kg/m2)
< 17
17.0-18.4
18.5-24.9
25.0-26.9
27.0-28.9
> 29

Menurut teori kelelahan terjadi pada IMT yang lebih tinggi yaitu
obesitas. Secara persentase dapat dilihat bahwa kelelahan kerja berat yang
dialami oleh pekerja lebih banyak terjadi pada pekerja yang memiliki
status gizi obesitas (Hartz et al, 1999 dalam Safitri, 2008).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang bermakna antara status gizi dengan kelelahan kerja. Dari hasil
penelitian pada pekerja wanita diperoleh data bahwa bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kelelahan kerja (pvalue = 0,024), dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,204 menunjukan bahwa
arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah, artinya
semakin status gizi menjauhi kadar normal, maka semakin meningkat
untuk terjadinya kelelahan kerja (Trisnawati, 2012). Penelitian lain yang
dilakukan pada pemanen kelapa sawit terdapat hubungan yang bermakna
antara status gizi dengan kelelahan kerja yang dialami oleh reponden.
Responden yang mengalami kelelahan jauh lebih banyak jumlahnya pada

44

mereka yang berstatus gizi buruk yakni 24 orang (72.7%) dibandingkan


dengan yang berstatus gizi baik (normal) yakni 9 orang (27.3%) (Mentari,
dkk, 2012).

5. Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok adalah kegiatan yang dilakukan berulangulang dalam menghisap rokok mulai dari satu batang ataupun lebih dalam
satu hari. (Bustan, 2000). Asap rokok yang mengandung sekitar 4%
karbon monoksida (CO) dapat bergabung dan terikat pada darah saat
dihisap oleh paru-paru 200 kali lebih kuat dari pada oksigen (Bridger,
2003). Setiap menghisap rokok, terdapat 107 radikal dalam komponen
asap yang didominasi oleh radikal oksigen, nitrit oksid, peroksil dan lain
sebagainya. Secara kimia, radikal oksigen, nitrit oksid ini akan bereaksi
secara cepat membentuk peroksilnitrit yang sangat reaktif dan akan
berikatan dengan epitelial lining fluid (ELF) saluran napas menghasilkan
reactive oxygen species (ROS). Radikal semikuinon dapat bereaksi
dengan radikal oksigen untuk membentuk radikal hidroksil dan peroksida
membentuk

superoksida.

Radikal

ini

akan

memicu

sel

untuk

menghasilkan peroksida yang secara terus menerus dan mengakibatkan


kerusakan sel sistem pernapasan (Susanto, dkk, 2011).

45

Pendapat lain menambahkan bahwa orang yang mengkonsumsi


satu pak atau lebih rokok dalam sehari dapat menurunkan denyut jantung
dua atau tiga denyutan tiap menitnya (Hanson dan Venturelli, 1983). Asap
rokok yang beracun dan bersifat karsinogenik cenderung dapat
berpengaruh pada kemampuan fisik perokok, sehingga mudah mengalami
kelelahan (Bridger, 2003).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada karyawan di PT.
Amoco Mitsui Indonesia menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara kebiasaan merokok dengan kelelahan yang dilihat dari
kebugaran jasmani. Sebanyak 51 responden (68,9%) dengan status
perokok ringan yang mengalami kebugaran jasmani yang baik (tidak
lelah), dan sebanyak 8 responden (34,8%) dengan status merokok berat
yang mengalami kebugaran jasmani yang baik (tidak lelah) dengan nilai
p= 0,007 (Budiasih, 2011).
Perokok dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok menurut
jumlah rokok yang dihisap, yaitu (Bustan, 2000):
a. Perokok berat, menghisap lebih dari 20 batang rokok dalam sehari.
b. Perokok sedang, menghisap 10 sampai 20 batang rokok dalam sehari.
c. Perokok ringan, menghisap kurang dari 10 batang rokok dalam sehari.
d. Bukan perokok, tidak menghisap rokok.

46

6. Shift Kerja
Kerja shift sebagai pekerjaan yang dilakukan terutama di luar jam
kerja normal (La Dou dan Richard, 1994). Pendapat lain mengatakan kerja
shift adalah kerja yang dibagi secara bergiliran dalam waktu 24 jam
(Simanjuntak, 1997). Ciri khas dari kerja shift yaitu terdapatnya
kontinuitas, pergantian kerja secara bergilir dan terdapat jadwal khusus.
Kerja bergilir dikatakan kontinyu apabila dikerjakan selama 24 jam setiap
hari termasuk hari minggu dan hari libur (ILO, 1998).
Pekerja yang selama empat jam bekerja terus menerus, kadar gula
di dalam darah juga akan menurun. Sehingga akan menurunkan
produktivitas. Itulah sebabnya istirahat sangat diperlukan minimal
setengah jam setelah empat jam bekerja terus menerus agar pekerja
memperoleh kesempatan untuk makan dan menambah energi yang
diperlukan tubuh untuk bekerja (Sumamur, 1996). Jam kerja berlebihan,
jam kerja lembur diluar batas kemampuan akan mempercepat timbulnya
kelelahan, menurunkan ketepatan, dan ketelitian (Manuaba, 1990).
Selain itu, shift kerja juga memiliki resiko dan mempengaruhi
pekerja pada beberapa aspek berikut ini (Tayyari, 2009 dalam Sophia,
2009):

47

a. Aspek Fisiologis Circadian Rhythms


Adalah proses-proses yang saling berhubungan yang dialami
tubuh untuk menyesuaikan dengan perubahan waktu selama 24 jam
atau yang biasa disebut siklus tidur dan bangun harian. Circadian
rhythms seseorang akan terganggu jika terjadi perubahan jadwal
kegiatan seperti perubahan shift kerja. Dengan terganggunya circadian
rhythms pada tubuh pekerja akan terjadi dampak fisiologis pada
pekerja seperti gangguan gastrointestinal, gangguan pola tidur dan
gangguan kesehatan lain.
b. Aspek Psikologis
Stress akibat shift kerja akan menyebabkan kelelahan (fatique)
yang dapat menyebabkan gangguan psikis pada pekerja, seperti
ketidakpuasan dan iritasi. Tingkat kecelakaan dapat meningkat dengan
meningkatnya stres, fatique, dan ketidakpuasan akibat shift kerja ini.
c. Aspek Kinerja
Dari beberapa penelitian baik di Amerika maupun Eropa, shift
kerja memiliki pengaruh pada kinerja pekerja. Kinerja pekerja,
termasuk tingkat kesalahan, ketelitian dan tingkat kecelakaan, lebih
baik pada waktu siang hari dari pada malam hari, sehingga dalam
menentukan shift kerja harus diperhatikan kombinasi dari tipe
pekerjaan, sistem shift dan tipe pekerja.

48

d. Domestik dan Sosial


Shift kerja akan berpengaruh negatif terhadap hubungan
keluarga seperti tingkat berkumpulnya anggota keluarga dan sering
berakibat pada konflik keluarga. Secara sosial, shift kerja juga akan
mempengaruhi sosialisasi pekerja karena interaksinya terhadap
lingkungan menjadi terganggu. Banyak penelitian model shift kerja
dilakukan untuk mengurangi pengaruh negatif dari shift kerja tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa pekerja pada shift malam
mengalami kelelahan tingkat sedang yaitu sebesar 53,3%, sedangkan
pekerja pada shift pagi sebanyak 33,3% mengalami kelelahan tingkat
sedang. (Yusri, 2006). Penelitian lain diketahui bahwa pekerja merasa
sangat lelah paling banyak pada pekerja shift malam yaitu sebesar 50%.
Hal ini dapat disimpuklan bahwa shift kerja berpengaruh terhadap
terjadinya kelelahan kerja (Taligan, Lina dan Kalsum, 2006).

7. Tingkat Kebisingan
Kebisingan merupakan suara atau bunyi yang tidak dikehendaki
oleh telinga karena dalam jangka panjang dapat mengganggu ketenangan
bekerja, merusak pendengaran, dan menimbulkan kesalahan komunikasi,
bahkan

kebisingan

yang

serius

dapat

menyebabkan

kematian

(Sedarmayanti, 2009). Kebisingan adalah semua suara yang tidak

49

dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan/atau alatalat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan
pendengaran (Permenakertrans No. 13, 2011).
Bunyi didengar sebagai rangsangan pada telinga oleh getarangetaran melalui media elastis, dan manakala bunyi-bunyi tersebut tidak
dikehendaki, maka dinyatakan sebagai kebisingan. Terdapat dua hal yang
menentukkan kualitas suatu bunyi, yaitu frekuensi dan intensitasnya.
Frekuensi dinyatakan dalam jumlah getaran per detik atau disebut hertz
(Hz) dan intensitas atau arus energi persatuan luas biasanya dinyatakan
dalam decibel (dB) (Sumamur, 1996).
Pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja adalah mengurangi
kenyamanan dalam bekerja, mengganggu komunikasi, mengurangi
konsentrasi (Budiono, dkk, 2003), sehingga muncul sejumlah keluhan
yang berupa perasaan lamban dan keengganan untuk melakukan aktivitas.
Kebisingan

yang

tidak

terkendalikan

dengan

baik,

juga

dapat

menimbulkan efek lain yang salah satunya berupa meningkatnya


kelelahan kerja (Sumamur,1996).
Pekerja yang terpapar kebisingan untuk jangka waktu yang
panjang dapat menghasilkan perasaan tidak nyaman dan peningkatan
kelelahan kerja (Lerman et al, 2012). Beberapa penelitian menyebutkan
terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan dengan perasaan

50

kelelahan kerja pada tenaga kerja (Yusri, 2006). Begitu pula dengan hasil
penelitian di PT. Indokores Sahabat Purbalingga menunjukkan ada
hubungan yang signifikan antara kebisingan dengan kelelahan tenaga
kerja (Risva, 2002). Selain itu penelitian lain juga menunjukkan 42,8 %
dari 18 sampel yang diteliti, mengalami kelelahan akibat kebisingan di
tempat kerja (Hanifa, 2006).
NAB yang diperbolehkan untuk kebisingan selama 8 jam bekerja
adalah sebesar 85 dBA. Namun, untuk kebisingan lebih dari 140 dBA
tidak diperbolehkan terpajan walaupun sesaat. Berikut ini NAB yang
diperbolehkan berdasarkan waktu pemaparan yang diperbolehkan
(Permenakertrans No. 13, 2011).

51

Tabel 2.4
Intensitas Kebisingan yang Diperbolehkan Berdasarkan Waktu
Pemaparan dalam Satu Hari
Waktu Pemaparan dalam Satu Hari
8
Jam
4
2
1
30
15
7.5
3,75
1.88
0.94

Menit

28.12
Detik
14.06
7.03
3.52
1.76
0.88
0.44
0.22
0.11
Sumber: Permenakertrans No. 13, 2011

Intensitas Kebisingan (dBA)


85
88
91
94
97
100
103
106
109
112
115
118
121
124
127
130
133
136
139

SLM merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kebisingan


di tempat kerja. Metode pengukuran intensitas kebisingan di tempat kerja
dapat dilihat pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 7231 tahun 2009.
a. Prinsip pengukuran
Tingkat tekanan bunyi diukur dengan alat SLM yang
mempunyai kelengkapan Leq A dengan rentang waktu tertentu pada
pembobotan waktu S. Tekanan bunyi menyentuh membran mikropon

52

pada alat, sinyal bunyi diubah menjadi sinyal listrik dilewatkan pada
filter pembobotan (weighting network), sinyal dikuatkan oleh amplifier
diteruskan pada layar hingga dapat terbaca tingkat intensitas bunyi
yang terukur.
b. Peralatan
SLM yang digunakan untuk mengukur tingkat intensitas
kebisingan di tempat kerja memiliki kelengkapan untuk mengukur
tingkat tekanan SLM bunyi sinambung setara pada pembobotan A
secara langsung ataupun tidak langsung. Alat ukur tersebut sesuai
dengan yang ditetapkan SNI 05-2962-1992. Yaitu alat ini minimal
memiliki kelengkapan berupa skala pembobotan A dan kecepatan
respon pada pembobotan waktu slow (S).
Alat ukur SLM sebelum digunakan, harus dikalibrasi sesuai
dengan konfigurasi yang dimuat di dalam buku petunjuk alat. Alat
ukur tersebut juga harus memiliki sertifikat kalibrasi yang masih
berlaku.
c. Proses Pengukuran
1) Hidupkan alat ukur intensitas kebisingan.
2) Periksa kondisi batrei, pastikan bahwa keadaan power dalam
kondisi baik.
3) Pastikan skala pembobotan.

53

4) Sesuaikan

pembobotan

waktu

respon

alat

ukur

dengan

karakteristik sumber bunyi yang diukur (S untuk sumber bunyi


relatif konstan atau F untuk sumber bunyi kejut).
5) Posisikan mikropon alat ukur setinggi posisi telinga manusia yang
ada di tempat kerja. Hindari terjadinya refleksi bunyi dari tubuh
atau penghalang sumber bunyi.
6) Arahkan mikropon alat ukur dengan sumber bunyi sesuai dengan
karakteristik mikropon (mikropon tegak lurus dengan sumber
bunyi, 70 sampai 80 dari sumber bunyi).
7) Pilih tingkat tekanan bunyi (SPL) atau tingkat tekanan bunyi
sinambung setara (Leq), sesuaikan dengan tujuan pengukuran.
8) Catatlah hasil pengukuran intensitas kebisingan pada lembar data
sampling. Lembar data sampling minimum memuat ketentuan
seperti berikut:
a) Nama perusahaan:
b) Alamat perusahaan:
c) Tanggal sampling:
d) Lokasi titik pengukuran:
e) Rentang waktu pengukuran:
f) Hasil pengukuran intensitas kebisingan:
g) Tipe alat ukur:

54

h) Tipe kalibrator:
i) Penanggung jawab hasil pengukuran:
9) Bila alat ukur SLM tidak memiliki fasilitas Leq, maka dihitung
secara manual dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
L1 adalah tingkat tekanan bunyi pada periode t1;
Ln adalah tingkat tekanan bunyi pada periode n;
T adalah total waktu (t1+t2 + ... tn).

8. Tingkat Pencahayaan
Penerangan ditempat kerja merupakan salah satu sumber cahaya yang
menerangi benda-benda ditempat kerja. Banyak objek kerja beserta benda
atau alat dan kondisi di sekitar yang perlu dilihat oleh tenaga kerja. Hal ini
penting untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi. Selain itu
penerangan yang memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih baik
dan keadaan lingkungan yang menyegarkan (Sumamur, 1996). Jika
pencahayaan ditempat kerja kurang, dapat menyebabkan perasaan tidak
nyaman, gangguan atau sakit yang meningkat dari waktu ke waktu, dan dapat
menyebabkan kelelahan (A. Wolska dalam Karwowski, 2001). Hal ini
sebanding dengan hasil penelitian di PT. Indokores Sahabat Purbalingga

55

menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pencahayaan dengan


kelelahan tenaga kerja (Risva, 2002).
Pencahayaan di tempat kerja memiliki standar berdasarkan jenis
kegiatan pekerjaan tersebut menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.
1405 Tahun 2002:
Tabel 2.5
Standar Tingkat Pencahayaan di Lingkungan Kerja

Jenis Kegiatan
Pekerjaan kasar dan
tidak terus-menerus

Tingkat Pencahayaan
Minimal (lux)
100

Keterangan
Ruang penyimpanan & ruang
peralatan/instalasi
yang
memerlukan
pekerjaan
yang
kontinyu
Pekerjaan kasar dan
200
Pekerjaan dengan mesin dan
terus-menerus
perakitan kasar
Pekerjaan rutin
300
Ruang administrasi, ruang kontrol,
pekerjaan
mesin
&
perakitan/penyusun
Pekerjaan agak halus
500
Pembuatan gambar atau bekerja
dengan mesin kantor, pekerjaan
pemeriksaan atau pekerjaan dengan
mesin
Pekerjaan halus
1000
Pemilihan warna, pemrosesan
tekstil, pekerjaan mesin halus &
perakitan halus
Pekerjaan
amat
1500
Mengukir
dengan
tangan,
halus
pemeriksaan pekerjaan mesin dan
perakitan yang sangat halus
Pekerjaan terinci
3000
Pemeriksaan pekerjaan, perakitan
sangat halus
Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 1405 Tahun 2002
Selain itu standar pencahayaan di dapur atau tempat kerja seperti
industri pembuatan makanan membutuhkan pencahayaan minimal 300 lux

56

(HOLOPHANE, 2010). Industri tersebut memiliki ciri dan karakter seperti


industri pembuatan tahu. Ciri-ciri tersebut antara lain bekerja di tempat seperti
dapur, didalamnya terdapat proses perebusan didalamnya, dan pekerja tidak
diam dalam waktu lama.
Lux adalah satuan intensitas penerangan per meter persegi yang
dijatuhi arus cahaya 1 lumen. Lux meter adalah alat yang digunakan untuk
mengukur intensitas penerangan dalam satuan lux. Penerangan setempat
adalah penerangan di tempat obyek kerja, baik berupa meja kerja maupun
peralatan. Lalu, penerangan umum adalah penerangan di seluruh area tempat
kerja (SNI 16-7062 tahun 2004).
Metode pengukuran intensitas penerangan di tempat kerja dapat dilihat
pada SNI 16-7062 tahun 2004.
a. Prinsip
Pengukuran intensitas penerangan ini memakai alat lux meter yang
hasilnya dapat langsung dibaca. Alat ini mengubah energi cahaya menjadi
energi listrik, kemudian energi listrik dalam bentuk arus digunakan untuk
menggerakkan jarum skala. Untuk alat digital, energi listrik diubah
menjadi angka yang dapat dibaca pada layar monitor.
b. Prosedur kerja
1) Persiapan. Lux meter dikalibrasi oleh laboratorium kalibrasi yang
terakreditasi.

57

2) Penentuan titik pengukuran. Penerangan setempat, pengukuran dapat


dilakukan di atas meja yang ada. Dan penerangan umum: titik potong
garis horizontal panjang dan lebar ruangan pada setiap jarak tertentu
setinggi satu meter dari lantai.
3) Persyaratan pengukuran. Pintu ruangan dalam keadaan sesuai dengan
kondiisi tempat pekerjaan dilakukan serta lampu ruangan dalam
keadaan dinyalakan sesuai dengan kondisi pekerjaan.
4) Tata cara
a) Hidupkan lux meter yang telah dikalibrasi dengan membuka
penutup sensor.
b) Bawa alat ke tempat titik pengukuran yang telah ditentukan,
(penerangan setempat atau umum).
c) Baca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu
beberapa saat sehingga didapat nilai angka yang stabil.
d) Catat hasil pengukuran pada lembar hasil pencatatan untuk
intensitas penerangan.
e) Matikan lux meter setelah selesai dilakukan pengukuran intensitas
penerangan.

58

9. Tekanan Panas
Tekanan panas atau yang dikenal dengan iklim kerja adalah hasil
perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas
radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai
akibat pekerjaannya (Permenakertrans No. 13, 2011). Tekanan panas sangat erat
kaitannya dengan suhu udara, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas
radiasi (Budiono, dkk, 2003). Pekerja akan dapat dan mampu bekerja dengan

sebaik-baiknya apabila kondisi lingkungan kerja yang nyaman dan terdapat


temperatur yang hampir sama antara metabolisme tubuh dan lingkungan
sekitarnya (Soewito, 1985).
Bagi orang Indonesia cuaca kerja ditempat kerja dirasakan nyaman
antara 21-30C (Sumamur, 1996). Standar suhu lingkungan kerja yaitu 1828C (Keputusan Menteri Kesehatan, 2002). Suhu dingin dapat mengurangi
efisiensi dengan keluhan kaku atau kurangnya koordinasi otot. Sedangkan
suhu panas dapat mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan
waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak,
mengganggu koordinasi syaraf perasa dan motoris (Sumamur, 1996). Dari
suatu penyelidikan diperoleh hasil bahwa produktivias kerja manusia akan
mencapai tingkat yang paling tinggi pada temperatur sekitar 24-27 C
(Wigjosoebroto, 2003).
Suhu lingkungan yang tinggi dapat mengakibatkan suhu tubuh akan
meningkat. Hal itu menyebabkan hipotalamus merangsang kelenjar keringat

59

sehingga

tubuh mengeluarkan keringat. Dalam

keringat

terkandung

bermacam-macam garam terutama, garam Natrium chlorida. Keluarnya


garam Natrium chloride bersama keringat akan mengurangi kadarnya dalam
tubuh, sehingga menghambat transportasi glukosa sebagai sumber energi. Hal
ini menyebabkan penurunan kontraksi otot sehingga tubuh mengalami
kelelahan (Guyton, 1991). Oleh karena itu agar terhindar dari kelelahan kerja
akibat terpapar panas yang tinggi, maka lamanya kerja ditempat yang panas
harus disesuaikan dengan tingkat pekerjaan dan tekanan panas yang dihadapi
tenaga kerja. Hal ini sebanding dengan hasil penelitian di PT. Indokores
Sahabat Purbalingga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara iklim
kerja dengan kelelahan tenaga kerja (Risva, 2002).
Ada 2 (dua) jenis rumus perhitungan Indeks Suhu Basah dan Bola
(ISBB), yaitu:
a. Rumus untuk pengukuran dengan memperhitungkan radiasi sinar
matahari, yaitu tempat kerja yang terkena radiasi sinar matahari secara
langsung:

b. Rumus untuk pengukuran tempat kerja tanpa pengaruh radiasi sinar


matahari:

60

Berikut

ini

NAB

iklim

kerja

ISBB

yang

diperkenankan

(Permenakertrans No. 13, 2011).


Tabel 2.6
NAB Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang
Diperkenankan
ISBB (oC)
Pengaturan
Waktu Kerja
Beban Kerja
Setiap Jam
Ringan
Sedang
75%-100%
31.0
28.0
50%-75%
31.0
29.0
25%-50%
32.0
30.0
0%-25%
32.2
31.1
Sumber: Permenakertrans No. 13, 2011

Berat
27.5
29.0
30.5

Pengukuran tekanan panas dengan Quest Thermal Environmental


Monitor, perlu mempertimbangkan beban kerja sesuai dengan klasifikasi
beban kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011 dan
mengukur waktu kerja tenaga kerja.
a. Beban Kerja
Beban kerja adalah suatu perbedaan antara kapasitas atau
kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan yang harus dihadapi
(Tarwaka, 2013). Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari
interaksi antara tuntutan tugas-tugas lingkungan kerja dimana digunakan
sebagai tempat kerja, keterampilan perilaku dan persepsi dari pekerja
(Hart dan Staveland, 1988 dalam Tarwaka, 2013). Beban kerja yang
melebihi kemampuan akan mengakibatkan kelelahan kerja (Depkes,
1991). Hasil penelitian pada pekerja laundry menunjukkan bahwa terdapat

61

hubungan yang bermakna antara beban kerja dengan kelelahan kerja,


dimana dari 30 pekerja 20 (66,7%) pekerja mengalami kelelahan akibat
beban kerja tidak normal (Wati dan Haryono, 2011).
Beban kerja dapat ditentukan dengan menggunakan Estimasi
Pengukuran Panas Metabolik, yaitu dengan merujuk kepada jumlah kalori
yang dikeluarkan dalam melakukan pekerjaan per satuan waktu (NIOSH,
1986). Estimasi pengukuran panas metabolik dapat dilihat pada tabel 2.7.
Tabel 2.7
Estimasi Pengukuran Panas Metabolik
A

Body Position and Movement


Sitting
Standing
Walking
Walking uphill
Type of Work
Hand work
Light
Heavy
Work one arm
Light
Heavy
Work Both two arms
Light
Heavy
Work whole body
Light
Moderate
Heavy
Very Heavy
Basal Metabolism

Kcal/min*
0.3
0.6
2.0-3.0
Add 0,8 per meter rise
Average Kcal/min
Range kcal/min
0.4
0.9

0.2-1.2

1.0
1.8

0.7-2.5

1.5
2.5

1.0-3.5

3.5
5.0
7.0
9.0
1.0

2.5-9.0

62

Average Kcal/min
Sample Calculation**
Assembling work with heavy handtools
1. Standing
0.6
2. Two arms work
3.5
3. Basal metabolism
1.0
Total
5.1 kcal/min
*For standart worker of 70 kg body weight (154lbs) and 1.8m2 body surface (19.4 ft2)
** Example of measuring metabolic heat production of worker when performing
initial screening
Sumber : Occupational Exposure to Hot Environments NIOSH, 1986
D

Catatan (Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011):


1) Beban kerja ringan: 200 Kilo kalori/jam.
2) Beban kerja sedang: >200- 350 Kilo kalori/jam.
3) Beban kerja berat: > 350-< 500 Kilo kalori/jam.
Berat ringannya beban kerja baik fisik maupun mental dapat
mempengaruhi tingkat kelelahan. Beban kerja fisik yang terlalu berat
dapat

berakibat

cadangan energi

tubuh sangat

berkurang serta

penumpukan asam laktat yang berlebihan sehingga tingkat kelelahan


menjadi berat. Beban kerja yang terlalu ringan dan monoton dalam waktu
lama dapat menimbulkan kebosanan dan berakibat stimulasi elektris sistim
inhibisi menjadi lebih kuat, sehingga menurunkan kemampuan bereaksi
dan menimbulkan kecenderungan untuk tidur. Semuanya ini dapat
mengakibatkan kelelahan dalam tingkat yang berat meskipun beban kerja
fisik maupun mental yang harus dijalankan tidak berat (Purnawati, 2005).

63

b. Jam Kerja
Seorang pekerja bekerja maksimal 40 jam per minggu atau 8 jam
sehari. Setelah 4 jam kerja seorang pekerja akan merasa cepat lelah karena
pengaruh lingkungan kerja yang tidak nyaman (Budiono, dkk, 2003).
Waktu

kerja

bagi

seorang

pekerja

menentukan

efisiensi

dan

produktivitasnya. Lamanya seorang pekerja bekerja sehari di Indonesia


telah ditetapkan yaitu 8 jam dan sisanya untuk istirahat, kehidupan dalam
berkeluarga dan masyarakat, tidur dan lain-lain. Memperpanjang waktu
kerja lebih dari kemampuan tersebut biasanya tidak disertai efisiensi yang
tinggi,

bahkan

biasanya

terlihat

penurunan

produktivitas

serta

kecenderungan untuk timbulnya kelelahan, penyakit dan kecelakaan kerja


(Sumamur, 1996 dan Tarwaka, dkk, 2004).
Metode

pengukuran

takanan

panas

dengan

Quest

Thermal

Environmental Monitor di tempat kerja dapat dilihat pada SNI 16-7061 tahun
2004.
a. Prinsip
Alat diletakkan pada titik pengukuran sesuai dengan waktu yang
ditentukan, suhu basah alami, suhu kering dan suhu bola dibaca pada alat
ukur, dan ISBB diperhitungkan dengan rumus.

64

b. Prosedur kerja
1) Rendam kain kasa putih pada termometer suhu basah alami dengan air
suling, jarak antara dasar lambung termometer dan permukaan tempat
air 1 inci. Rangkaikan alat pada statif dan paparkan selama 30 sampai
60 menit.
2) Rangkaikan termometer suhu kering pada statif dan paparkan selama
30 sampai 60 menit.
3) Pasangkan termometer suhu bola pada bola tembaga warna hitam
(diameter 15 cm, kecuali alat yang sudah dirakit dalam satu unit),
lambung termometer tepat pada titik pusat bola tembaga. Rangkaikan
alat pada statif dan paparkan selama 20 menit sampai 30 menit.
4) Letakkan alat-alat tersebut di atas pada titik pengukuran dengan
lambung termometer setinggi 1 meter sampai 1,25 meter dari lantai.
5) Waktu pengukuran dilakukan 3 kali dalam 8 jam kerja yaitu pada awal
shift kerja, pertengahan shift kerja dan akhir shift kerja.

10. Tanggungjawab Peran dalam Organisasi


Setiap

pekerja

memiliki

tanggungjawab

perannya

dalam

organisasi, yaitu mengerjakan tugas sesuai keahlian di bidangnya yang


telah diberikan oleh atasannya. Pekerja yang mengerjakan tugasnya tidak
sesuai dengan yang diharapkan, akan menimbulkan masalah (Munandar,

65

2008). Masalah tersebut adalah kelelahan kerja, hal ini dikarenakan


pekerja yang mengerjakan tugas yang tidak sesuai harapan memiliki
tanggung jawab moral kepada atasan. Beban mental tersebut jelas lebih
berat dibandingkan aktivitas fisik biasa karena lebih melibatkan kerja otak
dari pada kerja otot, sehingga menimbulkan kelelahan bagi pekerja
(Tarwaka, 2013).

11. Status Kesehatan


Status kesehatan dapat mempengaruhi kelelahan kerja yang dapat
dilihat dari riwayat penyakit yang diderita (Guyton, AC, 1999 dalam
Virgy, 2011). Beberapa penyakit yang mempengaruhi kelelahan, yaitu:
a. Penyakit Jantung
Penyakit jantung terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan
pada pembuluh darah koroner sehingga berkurang dan berhenti aliran
darah menimbulkan gangguan jantung berupa rasa sakit/nyeri pada
dada. Ketika bekerja, jantung dirangsang kecepatan denyut jantung
menjadi meningkat. Selain itu jika jantung bekerja secara berlebih,
dapat mengakibatkan meningkatnya keperluan oksigen ke otot
jantung. Kekurangan oksigen jika terus menerus, maka terjadi
akumulasi yang selanjutnya terjadi metabolisme anaerobik sehingga

66

terbentuklah asam laktat. Asam laktat merupakan indikasi adanya


kelelahan.
b. Penyakit Gangguan Ginjal
Cara paling penting yang dilakukan oleh tubuh dalam
mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh ialah dengan
mengendalikan kecepatan kerja ginjal dalam mengekskresi zat-zat
metabolisme. Pengeluaran keringat yang banyak dapat meningkatkan
tekanan darah dan denyut jantung meningkat sehingga kelelahan akan
mudah terjadi.
c. Penyakit Asma
Asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk dan
mengi. Hal ini disebabkan karena terjadi gangguan saluran udara
bronkus kecil bronkiolus. Aktivitas otot pernapasan yang terganggu
seringkali membuat seseorang merasa kekurangan udara sehingga
diperlukan banyak tenaga untuk bernapas. Hal ini yang akan dapat
menyebabkan terjadinya kelelahan.
d. Tekanan Darah Rendah
Penurunan kapasitas karena serangan jantung mungkin
menyebabkan tekanan darah menjadi amat rendah sedemikian rupa,
sehingga menyebabkan darah tidak cukup mengalir ke arteri koroner
maupun ke bagian tubuh yang lain. Dengan berkurangnya jumlah

67

suplai darah yang dipompa dari jantung, berakibat berkurang pula


jumlah oksigen sehingga terbentuklah asam laktat. Asam laktat
merupakan indikasi adanya kelelahan.
e. Tekanan Darah Tinggi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu
faktor risiko penyakit jantung koroner. Tekanan darah yang tinggi
secara terus menerus menyebabkan kerusakan sistem pembuluh darah
arteri dengan perlahan-lahan. Arteri tersebut mengalami suatu proses
pengerasan sehingga aliran darah menjadi terhalang. Terbatasnya
aliran darah pada otot (ketika berkontraksi), otot menekan pembuluh
darah dan membawa oksigen juga semakin memungkinkan terjadinya
kelelahan.
Hasil penelitian yang dilakukan pada pemanen kelapa sawit
menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat
penyakit yang dialami pemanen dengan kelelahan kerja yang dirasakanya.
Sebanyak 28 orang responden (84.8%) yang memiliki riwayat penyakit
lebih banyak mengalami kelelahan dibandingkan dengan responden yang
tidak memiliki riwayat penyakit yakni 5 orang (15.2%) (Mentari, dkk,
2012).

68

12. Keadaan Monoton


Pekerjaan monoton adalah suatu kerja yang berhubungan dengan
hal yang sama dalam periode atau waktu yang tertentu, dan dalam jangka
waktu yang lama, dan biasanya dilakukan oleh suatu produksi yang besar
(Budiono, dkk, 2003).
Pembebanan kerja fisik atau kerja otot akibat gerakan otot, baik
dinamis maupun statis dapat mempengaruhi kelelahan tubuh. Kerja otot
statis terjadi menetap untuk periode waktu tertentu yang menyebabkan
pembuluh darah tertekan dan peredaran darah berkurang (Marfuah,
2007). Kondisi kerja yang berulang-ulang akan menimbulkan kejenuhan
kerja. Kejenuhan ini dapat terjadi karena pekerja melakukan pekerjaan
yang selalu sama setiap harinya, keadaan seperti ini cukup berpotensi
untuk menyebabkan terjadinya kelelahan kerja (Sisinta, 2005, Nurmianto,
2008). Kejenuhan ini biasanya meningkat pada pertengahan jam kerja dan
menurun di akhir jam kerja (Silaban, 1998).

H. Penanggulangan Kelelahan Kerja


Kelelahan tidak ada obat untuk mengatasinya, namun banyak yang
dapat dilakukan untuk mengatasinya dengan cara menyeimbangkan antara
beban kerja dengan jumlah pekerja, mengatur jam kerja, memberikan
pelatihan

atau

pengetahuan

tentang

penyebab,

dampak

dan

cara

69

menanggulangi kelelahan kerja, mengendalikan bahaya ditempat kerja dengan


cara mendesain tempat kerja, dan memantau kelelahan pada pekerja (Lerman
et al, 2012). Beberapa contoh penerapan yang bisa dilakukan seperti
memperbaiki jam kerja, memberikan waktu istirahat yang cukup dan
menyediakan tempat istirahat di tempat kerja, hari libur, mengontrol
kebisingan, ventilasi dan pencahayaan yang sesuai (ILO, 1998).

I. Kerangka Teori
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kelelahan kerja dipengaruhi
banyak faktor. Kroemer dan Grandjean (1997) dan Tarwaka (2013)
menyebutkan penyebab kelelahan kerja antara lain irama sirkadian yang
disebabkan oleh shift kerja, faktor lingkungan seperti tingkat kebisingan,
tingkat pencahayaan, dan iklim kerja (tekanan panas), intensitas dan durasi
kerja, masalah fisik berupa tanggungjawab peran dalam organisasi, status
kesehatan dan status gizi. Sedangkan Sumamur (1999) mengelompokan
penyebab kelelahan kerja menjadi keadaan monoton, beban kerja, jam kerja,
masa kerja, faktor lingkungan, faktor kejiwaan berupa tanggungjawab
perannya dalam organisasi, dan status kesehatan serta status gizi. Lalu Bridger
(2003) menambahkan faktor yang mempengaruhi menurunnya kapasitas kerja
seseorang yang disebabkan karena perasaan kelelahan antara lain umur, jenis
kelamin, kebiasaan merokok, dan tingkat kebisingan. Mengacu pada teori

70

tersebut dan disesuaikan dengan tujuan penelitian maka kerangka teori dalam
penelitian ini yaitu:
Bagan 2.2
Kerangka Teori
Umur
Jenis Kelamin
Masa Kerja
Status Gizi
Kebiasaan Merokok
Shift Kerja
Tingkat Kebisingan

Kelelahan Kerja

Tingkat Pencahayaan
Tekanan Panas yang
dipengaruhi oleh:
- Beban Kerja
- Jam Kerja
Tanggungjawab Peran
dalam Organisasi
Status Kesehatan
Keadaan Monoton

Sumber: Kroemer dan Grandjean (1997), Tarwaka (2013), Sumamur (1999), dan
Bridger (2003)

BAB III
KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep ini mengacu kepada teori dari beberapa sumber yaitu
modifikasi Kroemer dan Grandjean (1997), Tarwaka (2013), Sumamur
(1999), dan Bridger (2003) yang menyebutkan bahwa faktor-faktor yang
berhubungan dengan kelelahan kerja adalah umur, jenis kelamin, kebiasaan
merokok, shift kerja, tingkat kebisingan, tingkat pencahayaan, dan tekanan
panas yang dipengaruhi oleh beban kerja dan jam kerja, masa kerja,
tanggungjawab peran dalam organisasi, status kesehatan, status gizi, dan
keadaan monoton.
Berdasarkan kerangka teori yang telah dipaparkan, kerangka konsep dalam

penelitian ini terdiri dari variabel dependen yaitu kelelahan kerja pada
pembuat tahu dan variabel independen yaitu umur, masa kerja, status gizi,
kebiasaan merokok, tingkat kebisingan, tingkat pencahayaan, tekanan panas
yang dipengaruhi oleh beban kerja dan jam kerja,.
Umur merupakan karakteristik yang melekat pada seseorang. Semakin
tua umur seseorang, maka semakin besar juga tingkat kelelahan kerja. Hal ini
dikarenakan orang yang berusia tua fungsi faal tubuhnya seperti fungsi otot,
kerja jantung, dan pernapasan akan berkurang.

71

72

Masa kerja merupakan akumulasi waktu dimana pekerja melakukan


pekerjaan tersebut. Semakin lama orang bekerja membuat orang tersebut
berpengalaman, juga menyebabkan terjadinya kebosanan dan kelelahan dalam
bekerja.
Status gizi merupakan salah satu penyebab kelelahan. Seseorang yang
memiliki status gizi yang baik akan memiliki ketahanan tubuh dan kapasitas
kerja yang baik dibandingkan dengan orang yang memiliki status gizi tidak
baik.
Rokok memiliki pengaruh terhadap terjadinya kelelahan. Seseorang
yang merokok akan menghisap asap rokok yang lebih beracun dan
karsinogenik kedalam tubuhnya dari pada orang yang bukan perokok. Hal
tersebut dapat mempengaruhi kemampuan fisiknya, sehingga tubuh dengan
mudah mengalami kelelahan.
Tingkat kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki oleh telinga
karena dapat mengganggu ketenangan bekerja, merusak pendengaran,
kesalahan komunikasi, dan gangguan konsenterasi. Gangguan tersebut dapat
memunculkan sejumlah keluhan berupa perasaan lamban, malas melakukan
aktivitas, perasaan tidak nyaman, dan kelelahan.
Tingkat pencahayaan yang memadai dapat memberikan kesan
pemandangan yang baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan.

73

Kekurangan pencahayaan di lingkungan kerja dapat menyebabkan terjadinya


kelelahan bagi pekerjanya.
Tekanan panas merupakan perpaduan antara suhu, kelembaban,
kecepatan gerakan udara, dan panas radiasi. Pekerja dapat bekerja dengan
baik bila kondisi lingkungan kerja nyaman. Suhu lingkungan yang tinggi
dapat mengakibatkan suhu tubuh meningkat dan mengeluarkan keringat,
dimana

tubuh

akan

kekurangan

beberapa

macam

garam

sehingga

menghambat transportasi glukosa sebagai sumber energi dalam tubuh. Hal ini
menyebabkan seseorang mengalami kelelahan. Perhitungan tekanan panas
perlu mempertimbangkan beban kerja sesuai dengan klasifikasi beban kerja
menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011 dan mengukur
waktu kerja tenaga kerja. Pembuat tahu bekerja 8 jam perharinya yaitu dari
pukul 09.00 sampai pukul 17.00, dimana waktu istirahat hanya beberapa
menit untuk makan siang, dan dilakukan segara bergantian antara pekerja satu
dengan lainnya agar proses produksi tetap berjalan.
Terdapat beberapa faktor risiko tidak diteliti dalam penelitian ini,
seperti jenis kelamin, dimana jenis kelamin pembuat tahu dalam penelitian ini
sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sehingga bersifat homogen. Begitu
juga dengan shift kerja, pada penelitian ini pembuat tahu melakukan pekerjaan
membuat tahu pada siang hari.

74

Setiap orang memiliki tanggungjawab mengerjakan tugasnya dalam


suatu organisasi/perusahaan. Pada penelitian ini setiap pembuat tahu memiliki
tanggungjawab yang sama terhadap pekerjaannya dan saling gotong royong
dalam bekerja, mulai dari menyiapkan bahan baku sampai tahu siap
dipasarkan, sehingga faktor ini juga tidak memiliki variasi bila diuji dalam
statistik.
Faktor status kesehatan dalam penelitian ini tidak diteliti karena
keterbatasan peneliti, sehingga faktor tersebut menjadi salah satu syarat atau
kriteria inklusi dan ekslusi dalam penelitian ini. Jika responden menyatakan
secara subjektif bahwa dirinya dalam keadaan sehat dan tidak memiliki
riwayat penyakit (penyakit jantung, gangguan ginjal, asma, tekanan darah
rendah, dan tekanan darah tinggi), maka dapat mengikuti penelitian ini.
Sebaliknya jika responden sedang tidak sehat atau sakit dan memiliki riwayat
penyakit (penyakit jantung, gangguan ginjal, asma, tekanan darah rendah, dan
tekanan darah tinggi), maka responden tidak diikutsertakan penelitian ini. Hal
ini juga ditakutkan bias karena ukuran status kesehatan hanya berdasarkan
penilaian subjektif pekerja.
Selanjutnya, faktor keadaan monoton juga tidak diteliti karena
berdasarkan hasil observasi di lapangan, pembuat tahu bukan merupakan
pekerjaan monoton karena dalam sehari pembuat tahu melakukan hampir

75

seluruh proses dalam pembuatan tahu, mulai dari menyiapkan bahan baku
sampai tahu siap dipasarkan.
Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep dalam penelitian ini
yaitu:
Bagan 3.1
Kerangka Konsep
Umur
Masa Kerja
Status Gizi
Kebiasaan Merokok
Tingkat Kebisingan
Tingkat Pencahayaan
Tekanan Panas yang
dipengaruhi oleh:
- Beban Kerja
- Jam Kerja

Kelelahan Kerja

B. Definisi Operasional
1. Variabel Dependen
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Dependen
No
1.

Variabel
Kelelahan
Kerja

Definisi Operasional
Keadaan melemahnya
kekuatan fisik tubuh pembuat
tahu yang dilihat dari adanya
perlambatan pada proses faal
syaraf dan otot yang ditandai
dengan pemanjangan waktu
reaksi.

Alat Ukur
Cara Ukur
Reaction Timer Pengukuran
Test
Langsung

Hasil Ukur
Mili detik

Skala Ukur
Rasio

2. Variabel Independen
Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel Independen
No
1.

Variabel
Umur

2.

Masa Kerja

Definisi Operasional
Alat Ukur
Jumlah tahun yang dihitung
Kuesioner
mulai dari pembuat tahu lahir
hingga saat penelitian
berlangsung dengan
pembulatan > 6 bulan masuk
ke tahun berikutnya.
Akumulasi waktu dalam tahun Kuesioner
yang dilalui pekerja dalam
melaksanakan jenis- jenis
pekerjaan sebagai

76

Cara Ukur
Wawancara

Hasil Ukur
Tahun

Skala Ukur
Rasio

Wawancara

Tahun

Rasio

77

No

Variabel

3.

Status Gizi

4.

Kebiasaan
Merokok

5.

Tingkat
Kebisingan

6.

Definisi Operasional
pembuat tahu.
Kondisi yang menggambarkan
keadaan gizi pembuat tahu
dengan
memperhitungkan
IMT berdasarkan berat badan
dan tinggi badan.

Alat Ukur

Cara Ukur

Kuesioner,
Pengukuran
Timbangan
Langsung
Berat Badan,
Pita Meteran,
dan
Alat
Hitung
Kalkulator
Kegiatan yang dilakukan Kuesioner
Wawancara
berulang-ulang
dalam
menghisap rokok mulai dari
satu batang ataupun lebih
dalam satu hari.

Tingkat suara yang tidak Sound Level Pengukuran


dikehendaki yang bersumber Meter (SLM)
Langsung
dari alat-alat proses produksi
dan atau alat-alat kerja di
tempat pembuatan tahu yang
dapat menimbulkan gangguan
pada pekerja.

Tingkat
Tingkat pencahayaan yang Custom
Pencahayaan menerangi benda-benda di Digital
tempat pembuatan tahu.
Meter

Pengukuran
Lux Langsung

Hasil Ukur
kg/m2

Skala Ukur
Rasio

0) Merokok,
jika Ordinal
Pernah dan Aktif
Merokok Sampai
Sekarang
1) Tidak Merokok,
jika Tidak Pernah
Merokok
0) Terpapar
Ordinal
Kebisingan:
(> 85 dB)
1) Tidak
Terpapar
Kebisingan:
( 85 dB)
(Permenaker No 13
Tahun 2011)
0) Tidak Terpapar
Pencahayaan
Ideal:
(< 300 lux)
1) Terpapar
Pencahayaan

Ordinal

78

No

7.

Variabel

Tekanan
Panas

Definisi Operasional

Cuaca
lingkungan
tempat
pembuatan
tahu
yang
merupakan hasil perpaduan
antara suhu, kelembaban, dan
panas radiasi yang ditunjukkan
oleh nilai ISBB pada alat ukur
Thermal
Environmental
Monitor
dengan
mempertimbangkan
beban
kerja dan pengaturan waktu
kerja menurut Permenaker No
13 Tahun 2011.

Alat Ukur

Cara Ukur

Quest
Pengukuran
Thermal
Langsung,
Environmental Observasi
Monitor,
Estimasi
Pengukuran
Panas
Metabolik,
dan
Indeks
Suhu Basah
dan
Bola
(ISBB)

Hasil Ukur
Ideal:
( 300 lux)

Skala Ukur

(Kepmenkes RI No
1405, 2002)
0) Terpapar Tekanan Ordinal
Panas
1) Tidak
Terpapar
Tekanan Panas
(Permenaker No 13
Tahun 2011)

C. Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan sementara yang dibuat oleh peneliti terkait
dengan penelitian ini. Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ada pengaruh umur terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
2. Ada pengaruh masa kerja terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
3. Ada pengaruh status gizi terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
4. Ada pengaruh kebiasaan merokok terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu
di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
5. Ada pengaruh tingkat kebisingan di tempat kerja terhadap kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
6. Ada pengaruh tingkat pencahayaan di tempat kerja terhadap kelelahan kerja
pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014.
7. Ada pengaruh tekanan panas di tempat kerja terhadap kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.

79

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Disain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi analitik dengan
disain Cross Sectional Study. Studi ini ideal karena kelelahan kerja
merupakan suatu kondisi yang sulit dideteksi dan tidak memiliki onset yang
jelas. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur, dimana variabel dependen yaitu
kelelahan kerja pada pembuat tahu dan variabel independen yaitu umur, masa
kerja,

status

gizi,

kebiasaan

merokok,

tingkat

kebisingan,

tingkat

pencahayaan, dan tekanan panas yang dipengaruhi oleh beban kerja dan jam
kerja, akan diamati dalam waktu (periode) yang sama.
Desain ini digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara
faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. Artinya, tiap subjek penelitian
hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status
karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini bukan berarti
semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010).

80

81

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di 7 (tujuh) tempat pembuatan tahu di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur pada bulan Januari sampai
bulan Mei 2014.

C. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur yang berjumlah 80 orang. Jumlah ini
diperoleh dari penelitian Fatmawati pada tahun 2013. Adapun jumlah sampel
pada penelitian ini adalah 75 orang sesuai dengan hasil perhitungan besar
sampel. Pada saat penelitian dilakukan, dari total populasi 80 orang terambil
melalui teknik pengambilan sampel yaitu total sampling diperoleh jumlah
sampel 75 orang. Karena pada saat penelitian dilakukan terdapat empat
pembuat tahu yang tidak berada di tempat, dan satu orang yang memiliki
riwayat penyakit tekanan rendah, dimana merupakan salah satu keterbatasan
peneliti dalam mengukur status kesehatan. Sehingga jumlah sampel
penelitian ini adalah 75 orang. Jumlah tersebut masih memenuhi besar sampel
minimal.
Perhitungan besar sampel menggunakan uji hipotesis dua proporsi,
karena peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan proporsi antara
variabel independen terhadap variabel dependen. Perhitungan jumlah sampel

82

minimal menggunakan uji beda dua proporsi dengan rumus berikut (Riyanto,
2011):

Keterangan:
n

: Jumlah sampel minimal yang diperlukan

P1

: Proporsi kejadian pada salah satu partisipasi pada kelompok tertentu

P2

: Proporsi kejadian pada salah satu partisipasi pada kelompok tertentu


: Rata-rata proporsi ((P1+P2)/2)
: Derajat kemaknaan pada dua sisi (two tail), yaitu: 90%=1,64 ;
95%=1,96 ; dan 99%=2,58.
: Kekuatan uji 1 , yaitu: 80%=0,842; 90%=1,282.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan tingkat kepercayaan 95%

dengan memakai derajat kemaknaan 5% dan kekuatan uji 90%. Peritungan


sampel akan dilakukan berdasarkan variabel yang akan diteliti yang telah
dilakukan pada penelitian terdahulu. Besar sampel yang dibutuhkan dalam
penelitian ini adalah:
1. Umur
Hasil penelitian Hardi (2006) menyatakan dari 49 responden, terdapat
responden yang berumur > 40 tahun (tua) (P1) sebanyak 16 (32,7 %)
merasakan ada keluhan kelelahan kerja, dan terdapat responden yang

83

berumur < 40 tahun (muda) (P2) sebanyak 3 (6,1%) yang merasakan ada
keluhan kelelahan kerja.
2. Masa Kerja
Pada penelitian Eraliesa (2009) bahwa responden yang paling banyak
merasakan lelah terdapat pada kelompok >10 tahun (P1) yaitu sebanyak
17 orang (65,4%) dan pekerja yang mempunyai masa kerja 10 tahun
(P2) sebanyak 6 orang (23,07%) yang mengalami kelelahan kerja.
3. Tingkat Kebisingan
Hasil penelitian Umyati (2010) menyatakan dari 76 responden, terdapat
responden yang terpapar kebisingan (P1) sebanyak 10 (13,16%)
mengalami kelelahan kerja, dan terdapat responden yang tidak terpapar
kebisingan (P2) sebanyak 31 (40,79%) mengalami kelelahan kerja.
Tabel 4.1
Perhitungan Sampel Berdasarkan Uji Hipotesis Beda Dua Proporsi terhadap
Hasil Penelitian Terdahulu
Variabel
Umur
Masa Kerja
Tingkat
Kebisingan

=0,194

(%)
5%

=0,44

5%

=0,27

5%

P
P1=32,7=0,327
P2=6,1=0,061
P1=65,4%=0,654
P2=23,07%=0,2307
P1=13,16=0,1316
P2=40,79=0,4079

(%)
80%
90%
80%
90%
80%
90%

Total
Sampel (n)
34
46
21
27
38
45

Berdasarkan perhitungan sampel, jumlah sampel minimal yang dapat


diambil adalah sebanyak 46 orang (P1: Proporsi responden yang berumur >

84

40 tahun (tua) merasakan ada keluhan kelelahan kerja, dan P2: Proporsi
responden yang berumur < 40 tahun (muda) yang merasakan ada keluhan
kelelahan kerja pada : 5% dan : 80%). Dari hasil tersebut, kemudian
dilakukan perhitungan sampel minimal dengan menggunakan perbandingan
dari hasil penelitian Hardi (2006) yaitu hasil dari responden yang merasakan
tidak ada keluhan kelelahan kerja sebesar 61,22 % adalah:

N = 75 orang

D. Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder.

1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung guna
mendapatkan data yang dibutuhkan dengan cara wawancara menggunakan
lembaran kuesioner, pengamatan, dan pengukuran langsung kepada
pembuat tahu. Data yang diperoleh dari wawancara menggunakan lembar
kuesioner antara lain umur, masa kerja, dan kebiasaan merokok.

85

Kemudian data yang diperoleh dari pengamatan dan pengukuran langsung


antara lain kelelahan kerja, status gizi yang dilihat dari berat badan dan
tinggi badan pekerja di tempat kerja, tingkat kebisingan, tingkat
pencahayaan, dan tekanan panas.

2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari penelitian
sebelumnya seperti populasi pekerja dan proses pembuatan tahu.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh /
mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini instrumen
yang digunakan adalah reaction timer test, kuesioner, timbangan badan,
meteran tubuh, SLM, custom digital lux meter, dan quest thermal
environmental monitor.

1. Reaction Timer Test


Reaction Timer Test digunakan untuk mengukur kelelahan kerja
karena pengujian bersifat objektif dan mudah dilakukan. Dalam uji
Reaction Timer dapat digunakan rangsangan berupa nyala lampu yang
kemudian pekerja akan meresponnya, sehingga dapat dihitung waktu yang

86

dibutuhkan pekerja untuk merespon rangsangan tersebut. Pengukuran


waktu reaksi dilakukan sebanyak 5 kali, setiap hasil pengukuran
dijumlahkan, kemudian diambil nilai rata-ratanya, dimana satuan
waktunya adalah mili detik (Koesyanto dan Tunggul, 2005). Pengukuran
waktu reaksi dilakukan selama 5 menit pada setiap pekerja secara
bergantian setelah bekerja selama 8 jam.

2. Subjective Self Rating Test (SSRT) dari Industrial Fatigue Research


Committee (IFRC)
Pengukuran kelelahan kerja dengan SSRT dari IFRC merupakan
kuesioner yang dapat mengukur tingkat kelelahan subjektif (Tarwaka,
2013). Pengukuran kelelahan dengan kuesioner ini dilakukan untuk
mengetahui gambaran gejala kelelahan kerja pada pekerja yang
sebelumnya telah diuji dengan Reaction Timer Test dan dinyatakan
mengalami kelelahan kerja.
Kuesioner ini berisi 30 pertanyaan mengenai gejala kelelahan yang
dibuat dalam daftar pertanyaan. Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan
sebagai indikator tentang pelemahan kegiatan, 10 pertanyaan sebagai
indikator tentang pelemahan motivasi, dan 10 pertanyaan sebagai
indikator tentang gambaran kelelahan fisik. Jawaban dalam kuesioner
tersebut dibagi menjadi 4 bagian yaitu SS (Sangat sering) dengan skor 4, S

87

(sering) dengan skor 3, K (kadang-kadang) dengan skor 2, dan TP (tidak


pernah) dengan skor 1.

3. Kuesioner
a. Kuesioner Karakteristik Pekerja
Karakteristik pekerja dapat diketahui menggunakan kuesioner
yang berisi pertanyaan mengenai umur, masa kerja, dan kebiasaan
merokok.
b. Kuesioner IMT
Kuesioner IMT digunakan untuk mengukur status gizi. Dalam
kuesioner ini berisi pertanyaan berat badan pekerja dalam satuan
kilogram (kg) dan pertanyaan tinggi badan dalam satuan meter (m).
Untuk pengukuran berat badan, pekerja diminta untuk menimbang
berat badan diatas timbangan yang telah disediakan. Sedangkan untuk
pengukuran tinggi badan, peneliti mengukur menggunakan meteran.
Data tersebut digunakan untuk menghitung IMT. Hasil perhitungan
IMT tesebut akan dibandingkan dengan standar dari Departemen
Kesehatan RI (Depkes RI) Tahun 2004. Adapun cara perhitungan IMT
adalah sebagai berikut (Almatsier, 2009):

88

c. Lembar Penilaian Pekerjaan untuk mengukur Estimasi Panas


Metabolik
Lembar penilaian pekerjaan digunakan untuk mengukur beban
kerja yang nantinya sebagai pertimbangan dalam menentukan NAB
iklim kerja ISBB yang diperkenankan. Pengukuran ini dilakukan
dengan metode observasi proses kerja (aktifitas kerja) dan posisi saat
bekerja menggunakan Estimasi Pengukuran Panas Metabolik menurut
NIOSH 1986. Dengan merujuk kepada jumlah kalori yang dikeluarkan
dalam melakukan pekerjaan per satuan waktu. Hasil tersebut akan
dibandingkan dengan standar dari Peraturan Menteri Tenaga Kerja
No. 13 Tahun 2011. Beban kerja diklasifikasikan menjadi beban kerja
ringan, beban kerja sedang, dan beban kerja berat.
Langkah-langkah penilaian pekerjaan adalah sebagai berikut:
1) Amati setiap aktivitas pekerja (jenis dan posisinya) yang diambil
sebagai sampel setiap jam.
2) Catat posisi paling sering dilakukan pekerja.
3) Hitung beban kerja yang dikeluarkan menggunakan Estimasi
Pengukuran Panas Metabolik menurut NIOSH 1986, kemudian
disesuaikan dengan standar kriteria beban kerja dari Peraturan
Menteri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011.

89

4. Sound Level Meter (SLM)


SLM merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kebisingan
di tempat kerja. Alat ukur tersebut sesuai dengan yang ditetapkan SNI 052962-1992. Pengukuran kebisingan dilakukan satu kali selama 10 menit,
tepatnya pada pukul 09.00-17.00. Pengukuran dilakukan setiap 55 m dari
sumber bising, tetapi karena luas dari tempat pembuatan tahu rata-rata 100
m2, maka pengukuran dilakukan juga pada semua proses pembuatan tahu.
Hal tersebut bertujuan dapat menggambarkan keadaan lingkungan yang
sebenarnya karena pada jam tersebut pekerja melakukan aktivitas yang
cukup tinggi.
Adapun cara pengukuran kebisingan dengan SLM sesuai SNI 7231
tahun 2009 adalah sebagai berikut:
a. Hidupkan alat ukur intensitas kebisingan.
b. Periksa kondisi baterai, pastikan bahwa keadaan power dalam kondisi
baik.
c. Pastikan skala pembobotan.
d. Sesuaikan pembobotan waktu respon alat ukur dengan karakteristik
sumber bunyi yang diukur (S untuk sumber bunyi relatif konstan atau
F untuk sumber bunyi kejut).

90

e. Posisikan mikropon alat ukur setinggi posisi telinga manusia yang ada
di tempat kerja. Hindari terjadinya refleksi bunyi dari tubuh atau
penghalang sumber bunyi.
f. Arahkan mikropon alat ukur dengan sumber bunyi sesuai dengan
karakteristik mikropon (mikropon tegak lurus dengan sumber bunyi,
70o sampai 80o dari sumber bunyi).
g. Pilih tingkat tekanan bunyi (SPL) atau tingkat tekanan bunyi
sinambung setara (Leq). Sesuaikan dengan tujuan pengukuran.
h. Catatlah hasil pengukuran intensitas kebisingan pada lembar data
sampling.

5. Custom Digital Lux Meter


Custom Digital Lux Meter adalah alat yang digunakan untuk
mengukur intensitas penerangan yang hasilnya dapat langsung dibaca.
Pengukuran intensitas penerangan dilakukan satu kali selama 5 menit
(didapat nilai angka yang stabil), tepatnya pada pukul 09.00-17.00. Luas
dari tempat pembuatan tahu rata-rata 100 m2, maka pengukuran dilakukan
pada setiap 33 m dan pada semua proses pembuatan tahu. Hal tersebut
bertujuan dapat menggambarkan keadaan lingkungan yang sebenarnya
karena pada jam tersebut pekerja melakukan aktivitas yang cukup tinggi.

91

Adapun langkah-langkah pengukuran menurut SNI 16-7062 tahun


2004 sebagai berikut:
a. Persiapan. Lux meter dikalibrasi oleh laboratorium kalibrasi yang
terakreditasi.
b. Penentuan titik pengukuran. Penerangan setempat, pengukuran dapat
dilakukan di atas meja yang ada. Dan penerangan umum: titik potong
garis horizontal panjang dan lebar ruangan pada setiap jarak tertentu
setinggi satu meter dari lantai.
c. Persyaratan pengukuran. Pintu ruangan dalam keadaan sesuai dengan
kondiisi tempat pekerjaan dilakukan serta lampu ruangan dalam
keadaan dinyalakan sesuai dengan kondisi pekerjaan.
d. Tata cara
1) Hidupkan lux meter yang telah dikalibrasi dengan membuka
penutup sensor.
2) Bawa alat ke tempat titik pengukuran yang telah ditentukan,
(penerangan setempat atau umum).
3) Baca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu
beberapa saat sehingga didapat nilai angka yang stabil.
4) Catat hasil pengukuran pada lembar hasil pencatatan untuk
intensitas penerangan.

92

5) Matikan lux meter setelah selesai dilakukan pengukuran intensitas


penerangan.

6. Quest Thermal Environmental Monitor


Quest Thermal Environmental Monitor adalah alat yang digunakan
untuk mengukur tekanan panas. Pengukuran tekanan panas dilakukan satu
kali selama 1 jam, tepatnya pada pukul 09.00 17.00. Luas dari tempat
pembuatan tahu rata-rata 100 m2, maka pengukuran dilakukan pada lokasi
yang ramai dilalui pembuat tahu tidak mengganggu proses kerja. Hal
tersebut bertujuan dapat menggambarkan keadaan lingkungan yang
sebenarnya karena pada jam tersebut pekerja melakukan aktivitas yang
cukup tinggi.
Langkah-langkah prosedur kerja menurut SNI 16-7061 tahun 2004
adalah sebagai berikut:
a. Rendam kain kasa putih pada termometer suhu basah alami dengan air
suling, jarak antara dasar lambung termometer dan permukaan tempat
air 1 inci. Rangkaikan alat pada statif dan paparkan selama 30 menit
sampai 60 menit.
b. Rangkaikan termometer suhu kering pada statif dan paparkan selama
30 menit sampai 60 menit.

93

c. Pasangkan termometer suhu bola pada bola tembaga warna hitam


(diameter 15 cm, kecuali alat yang sudah dirakit dalam satu unit),
lambung termometer tepat pada titik pusat bola tembaga. Rangkaikan
alat pada statif dan paparkan selama 20 menit sampai 30 menit.
d. Letakkan alat-alat tersebut di atas pada titik pengukuran dengan
lambung thermometer setinggi 1 meter sampai 1,25 meter dari lantai.

Contoh perhitungan tekanan panas:


Imron bekerja sebagai pencetak dan pemotong tahu dimana selama
bekerja Imron lebih banyak berdiri dan menggunakan satu tangan untuk
memotong tahu.
a. Beban Kerja
1) Berdiri
0,6 Kcal/min
2) Bekerja dengan satu tangan (ringan)
1,0 Kcal/min
3) Metabolisme basal
1,0 Kcal/min
Total
2,6 Kcal/min 60 menit
Beban kerja Imron adalah 156 kilo kalori/jam (Ringan)
b. Lama Kerja
Imron bekerja selama 8 jam, dan istirahat 1 sampai jam, maka
pengaturan waktu kerja 75% sampai 100%. Sehingga NAB iklim kerja
ISBB yang diperbolehkan untuk imron 31C.

94

c. Tekanan Panas
Berdasarkan pengukuran iklim kerja, didapatkan paparan iklim kerja
yang diterima Imron 31,76C. Maka, Imron mengalami tekanan panas
di tempat kerja.

F. Pengolahan Data
Seluruh data yang terkumpul akan diolah secara statistik. Pengolahan
data terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum dilakukannya
uji, analisis, dan interpretasi. Tahap-tahap tersebut sebagai berikut:

1. Editing
Editing merupakan kegiatan penyutingan data yang telah
terkumpul dengan cara memeriksa isian kuesioner. Hal ini guna
memeriksa kelengkapan, kesinambungan, dan keseragaman data sehingga
data yang meragukan dan tidak lengkap dapat dilengkapi kembali kepada
responden dengan cara mendatangi tempat responden bekerja. Jika isian
kuesioner sudah sesuai, pengolahan data dapat dilanjutkan ke tahap
selanjutnya.

95

2. Coding
Coding merupakan kegiatan mengklasifikasikan data dan memberi
kode pada jawaban responden yang ada untuk mempermudah dalam
proses pengelompokkan dan pengolahan dengan komputer untuk
melakukan analisa data. Coding dilakukan baik pada variabel dependen
maupun variabel independen. Pada penelitian ini, variabel yang dicoding
yaitu:
a.

Kebiasaan Merokok Merokok, jika Pernah dan Aktif [0]


Merokok Sampai Sekarang
Tidak Merokok, jika Tidak Pernah [1]
Merokok

b.

Tingkat Kebisingan

Terpapar Kebisingan: (> 85 dB)


Tidak Terpapar Kebisingan: ( 85 dB)

[0]
[1]

c.

Tingkat
Pencahayaan

Tidak Terpapar Pencahayaan Ideal:


(< 300 lux)
Terpapar Pencahayaan Ideal:
( 300 lux)

[0]

Terpapar Tekanan Panas


Tidak Terpapar Tekanan Panas

[0]
[1]

d.

Iklim Kerja

[1]

3. Entry
Sebelum data tersebut di entry, terlebih dahulu dibuat template
dengan program Epidata, kemudian data yang telah dikode tersebut
dimasukkan dalam program komputer untuk selanjutnya akan diolah
menggunakan aplikasi program SPSS.

96

4. Cleaning
Cleaning merupakan proses pengecekan kembali data yang telah
dimasukkan untuk memastikan data tersebut tidak ada yang salah,
sehingga dengan demikian data tersebut telah siap diolah dan dianalisis.
Cara yang sering dilakukan adalah dengan melihat distribusi frekuensi
dari variabel-variabel dan menilai kelogisannya. Tahapan cleaning data
terdiri dari mengetahui missing data, mengetahui variasi data, dan
mengetahui konsistensi data.

G. Teknik Analisa Data


Menganalisis

data

tidak

sekedar

mendeskripsikan

dan

menginterpretasi data yang telah diolah. Pengolahan data diakukan


menggunakan aplikasi program SPSS. Analisa data suatu penelitian biasanya
melalui prosedur bertahap, seperti:

1. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel penelitian untuk
memberikan

gambaran

umum

terhadap

data

hasil

penelitian.

Penggambaran tersebut mengenai distribusi frekuensi dan proporsi


masing-masing variabel yang diteliti, baik variabel independen maupun
variabel dependen (Sumantri, 2011). Variabel independen yang diuji

97

adalah umur, masa kerja, status gizi, kebiasaan merokok, tingkat


kebisingan, tingkat pencahayaan, dan tekanan panas. Sedangkan variabel
dependen adalah kelelahan kerja pada pembuat tahu.

2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat korelasi antara variabel
independen (umur, masa kerja, status gizi, kebiasaan merokok, tingkat
kebisingan, tingkat pencahayaan, dan tekanan panas) dengan variabel
dependen (kelelahan kerja). Namun, untuk mengetahui jenis uji yang
digunakan dalam analisis bivariat terlebih dahulu dilakukan uji normalitas.
Dari hasil analisis, ternyata secara umum data hasil penelitian tersebut
tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, dalam penelitian ini
menggunakan

uji

statistik

Non-Parametric

yaitu

uji

Spearman

Correlations dan Mann-Whitney.


Uji Spearman Correlations adalah uji statistik Non-Parametric
untuk mengetahui derajat / keeratan hubungan antar dua variabel berjenis
numerik. Nilai korelasi (r) yang dihasilkan berkisar antara 0 sampai
dengan 1. Angka pada korelasi menunjukkan keeratan hubungan antara 2
variabel yang diuji. Jika angka korelasi makin mendekati 1, maka korelasi
2 variabel akan makin kuat. Sedangkan jika angka korelasi makin

98

mendekati 0, maka korelasi 2 variabel makin lemah. Kekuatan hubungan


dua variabel secara kualitatif dapat dibagi menjadi 4 area, yaitu:
r = 0 - 0,25

: tidak ada hubungan / hubungan lemah

r = 0,26 - 0,50 : hubungan sedang


r = 0,51 - 0,75 : hubungan kuat
r = 0,76 - 1

: hubungan sangat kuat

Sedangkan tanda positif (+) dan negatif (-) pada nilai korelasi
menyatakan sifat hubungan. Nilai r dapat diinterpretasikan sebagai
berikut, yaitu:
r=0

: tidak ada hubungan linear

r = -1 : hubungan linear negatif sempurna


r = +1 : hubungan linear positif sempurna
Uji Mann-Whitney adalah uji statistik Non-Parametric untuk
menguji perbedaan atau hubungan antara dua sampel yang independen
yang mewakili dua populasi atau dua kelompok.
Dalam penelitian ini, uji Mann-Whitney digunakan untuk
mengetahui perbedaan kelelahan kerja antara kelompok pembuat tahu
yang merokok (jika pernah dan aktif merokok sampai sekarang) dengan
kelompok yang tidak merokok (jika tidak pernah merokok), mengetahui
perbedaan kelelahan kerja antara kelompok pembuat tahu yang terpapar
kebisingan: (> 85 dB) dengan kelompok yang tidak terpapar kebisingan:

99

( 85 dB), mengetahui perbedaan kelelahan kerja antara kelompok


pembuat tahu yang tidak terpapar pencahayaan ideal: (< 300 lux) dengan
kelompok yang terpapar pencahayaan ideal: ( 300 lux), dan mengetahui
perbedaan kelelahan kerja antara kelompok pembuat tahu yang terpapar
tekanan panas dengan kelompok yang tidak terpapar tekanan panas.
Dari hasil uji statistik akan didapatkan nilai p-value. Jika p-value <
0,05 maka perhitungan secara statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh
bermakna antara variabel independen dan variabel dependen. Sedangkan
jika p-value 0,05 maka perhitungan secara statistik menunjukkan bahwa
tidak ada pengaruh bermakna antara variabel independen dan variabel
dependen.

BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian


Terdapat 7 (tujuh) buah tempat pembuatan tahu yang menjadi lokasi
penelitian yang tersebar di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
pada tahun 2014. Jumlah pekerja yang bekerja pada ketujuh tempat
pembuatan tahu tersebut adalah sebanyak 80 orang. Berikut ini data tempat
pembuatan tahu dan pekerjanya yang ada di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014.
Tabel 5.1
Distribusi Jumlah Pembuat Tahu dan Jenis Tahu yang Diproduksi
Berdasarkan Kelurahan di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
Tahun 2014
Kecamatan Kelurahan

Jumlah
Pembuat
Tahu

Jenis Tahu

Sawah

Jumlah
Tempat
Pembuatan
Tahu
4

53

Ciputat

Pisangan

18

Tahu Kuning, Tahu Cina,


Tahu Goreng, Tahu Pong,
Tahu Putih, dan Tahu Gejrot
Tahu Goreng, Tahu Pong,
dan Tahu Putih
Tahu Kuning, Tahu Goreng,
Tahu Pong, dan Tahu Putih

80

Ciputat

Ciputat
Timur

Total

100

101

Dalam satu kali produksi, rata-rata tempat pembuatan tahu di


Wilayah Ciputat dan Ciputat Timur mampu mengolah sebanyak 5 (lima)
sampai 9 (sembilan) kuintal kacang kedelai. Hasil produksinya dipasarkan
di wilayah Tangerang Selatan, Pondok Labu, Cilandak dan Depok. Bahkan
terdapat satu tempat pembuatan tahu yang menyuplai tahu untuk restoran
bakso ternama di ibu kota.
Bagian pekerjaan pada pembuat tahu di wilayah Ciputat dan Ciputat
Timur sesuai dengan alur proses pembuatan tahu. Namun terdapat pekerja
yang mengerjakan dua sampai tiga proses sekaligus. Pembagian kerja
tersebut umumnya terdiri dari bagian penggilingan, bagian penyaringan,
bagian pencetakan, dan bagian penggorengan.
Bagian penggilingan bertugas melakukan perendaman, pencucian,
dan penggilingan kedelai. Bagian penyaringan bertugas melakukan
perebusan/pemasakan, penyaringan, dan pengendapan. Bagian pencetakan
bertugas

melakukan

pengendapan,

pencetakan,

pengepresan,

dan

pemotongan. Pada beberapa tempat pembuatan tahu terdapat pembagian


pekerjaan sebagai penggoreng yang bertugas menggoreng tahu.
Namun, terdapat satu buah tempat pembuatan tahu yang pembagian
kerjanya tidak jelas seperti tempat pembuatan tahu yang lain. Dimana
pekerjanya mengerjakan semua bagian dari proses produksi atau biasa
disebut pekerja serabutan.

102

B. Hasil Analisis Univariat


1. Gambaran Kelelahan Kerja
Reaction Time adalah jangka waktu dari adanya pemberian suatu
rangsang

sampai

kepada

suatu

kesadaran

atau

dilaksanakan

gerakan/kegiatan. Perpanjangan waktu reaksi merupakan petunjuk


adanya perlambatan pada proses faal syaraf dan otot.
Indikator pekerja mengalami kelelahan dapat diperoleh dari hasil
pengukuran kelelahan dengan uji Reaction Timer. Dalam uji Reaction
Timer dapat digunakan rangsangan berupa nyala lampu yang kemudian
pekerja akan meresponnya, sehingga dapat dihitung waktu yang
dibutuhkan pekerja untuk merespon rangsangan tersebut, dimana satuan
waktunya adalah mili detik.
Adapun hasil penelitian tentang gambaran kelelahan kerja
(reaction timer test) pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2
Distribusi Kelelahan Kerja (Reaction Timer Test) pada Pembuat
Tahu di Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
Tahun 2014
Variabel
Kelelahan Kerja

Nilai
Median
483,00

Nilai
Rata-rata
505,24

Standar
Deviasi
201,76

Nilai MinMaks
246-1598

Data diatas memperlihatkan berdasarkan pengukuran kelelahan


kerja menggunakan reaction timer test, nilai median kelelahan kerja

103

yang terjadi pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan


Ciputat Timur adalah 483,00 mili detik dimana termasuk tingkat
kelelahan kerja sedang. Waktu reaksi tersingkat adalah 246 mili detik
dan terlama adalah 1598 mili detik.
Selanjutnya kelelahan kerja yang diukur menggunakan kuesioner
subjective self rating test sebagai indikator kelelahan kerja. Indikator
tersebut yaitu, indikator pelemahan kegiatan, indikator pelemahan
motivasi, dan indikator kelelahan fisik. Adapun hasil penelitian tentang
gambaran kelelahan kerja (reaction timer test berdasarkan subjective
self rating test) pada pekerja dapat dilihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.3
Distribusi Kelelahan Kerja (Reaction Timer Test berdasarkan
Subjective Self Rating Test) pada Pembuat Tahu di Wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014
Indikator
Subjective Self
Rating Test
Pelemahan
Kegiatan
Pelemahan
Motivasi
Kelelahan
Fisik
Total

Kelelahan Kerja
Berat
Sedang
Ringan
n
%
n
%
n
%

Total
n

11

22,4

25

51,0

13

26,5

49

100,0

18,2

72,7

9,1

11

100,0

40,0

20,0

40,0

15

100,0

19

25,3

36

48,0

20

26,7

75

100,0

Data diatas diketahui bahwa sebagian besar pembuat tahu


mengalami gejala pelemahan kegiatan, yaitu 49 orang. Dimana pembuat
tahu paling banyak mengalami kelelahan kerja tingkat sedang yaitu 25

104

(51,0%), diikuti oleh pembuat tahu yang mengalami kelelahan kerja


tingkat ringan (26,5%), dan tingkat berat (22,4%).

2. Gambaran Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi


Data umur diperoleh dari hasil wawancara pada pembuat tahu
dengan menanyakan tanggal lahir menggunakan kuesioner. Data masa
kerja diperoleh dari wawancara pada pembuat tahu dengan menanyakan
tahun awal bekerja sebagai pembuat tahu menggunakan kuesioner.
Sedangkan, data status gizi diperoleh dengan cara menghitung IMT
setiap pembuat tahu. Hasil perhitungan IMT dibandingkan dengan
standar yang diterapkan Depkes RI 2004.
Hasil penelitian mengenai gambaran umur, masa kerja, dan
status gizi pada pembuat tahu dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4
Distribusi Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi Pembuat Tahu di
Wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014
Variabel
Umur
Masa Kerja
Status Gizi

Nilai
Median
31,00
8,00
21,93

Nilai
Rata-rata
32,29
10,21
21,94

Standar
Deviasi
9,29
8,28
2,71

Nilai MinMaks
13-56
1-41
17,15-32,46

Variabel umur pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai


median umur pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat

105

Timur adalah 31 tahun. Umur termuda adalah 13 tahun, sedangkan umur


tertua adalah 56 tahun.
Sedangkan variabel masa kerja pada tabel di atas dapat diketahui
bahwa nilai median masa kerja pembuat tahu di wilayah Kecamatan
Ciputat dan Ciputat Timur adalah 8 tahun. Masa kerja terendah adalah 1
tahun, sedangkan masa kerja terlama adalah 41 tahun.
Variabel status gizi pada tabel di atas dapat diketahui bahwa
nilai tengah status gizi pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur adalah 21,93 kg/m2 (status gizi normal) yaitu sebanyak
61 orang, sedangkan pembuat tahu yang berstatus gizi tidak normal
sebanyak 14 orang. Nilai status gizi terendah adalah 17,15 kg/m2 (status
gizi kurus), sedangkan nilai status gizi tertinggi adalah 32,46 kg/m2
(status gizi sangat gemuk).

3. Gambaran Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan, Tingkat


Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja
Data kebiasaan merokok diperoleh dari wawancara pada
pembuat tahu dengan menggunakan kuesioner. Data tingkat kebisingan
di tempat kerja diperoleh dari hasil pengukuran dengan menggunakan
Sound Level Meter. Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan pada
semua proses pembuatan tahu. Kemudian, data tingkat pencahayaan di
tempat kerja diperoleh dari hasil pengukuran dengan menggunakan

106

Custom Digital Lux Meter. Pengukuran tingkat pencahayaan dilakukan


pada semua proses pembuatan tahu, dimana tiap titik pengukuran
dilakukan sampai angka pada display lux meter stabil.
Sedangkan data tekanan panas di tempat kerja diperoleh dari
hasil pengukuran dengan menggunakan Quest Thermal Environmental
Monitor. Pengukuran tekanan panas dilakukan pada tempat kerja
dimana banyak pekerja beraktivitas namun tidak mengganggu proses
kerja. Kemudian hasil pengukuran dibandingkan dengan menghitung
pengaturan waktu kerja dan beban kerja yang dialami pekerja dan
kemudian dibandingkan dengan standar NAB menurut Peraturan
Menteri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011.
Hasil penelitian mengenai gambaran kebiasaan merokok, dan
hasil pengukuran tingkat kebisingan, tingkat pencahayaan, dan tekanan
panas di tempat kerja pada pembuat tahu dapat dilihat pada tabel 5.5.

107

Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan,
Tingkat Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja
pada Pembuat Tahu di Wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur Tahun 2014
Variabel
Kebiasaan
Merokok

Tingkat
Kebisingan

Tingkat
Pencahayaan

Tekanan
Panas

Kategori
Merokok, jika Pernah dan Aktif
Merokok Sampai Sekarang
Tidak Merokok, jika Tidak Pernah
Merokok
Terpapar Kebisingan:
(> 85 dB)
Tidak Terpapar Kebisingan:
( 85 dB)
Tidak Terpapar Pencahayaan Ideal:
(< 300 lux)
Terpapar Pencahayaan Ideal:
( 300 lux)
Terpapar Tekanan Panas
Tidak Terpapar Tekanan Panas

52

69,3

23

30,7

10,7

67

89,3

32

42,7

43

57,3

60

80,0

15

20,0

Variabel kebiasaan merokok pada tabel diatas diketahui bahwa


sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur memiliki kebiasaan merokok yaitu sebesar 69,3%.
Variabel tingkat kebisingan pada tabel diatas diketahui bahwa
sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur tidak terpapar kebisingan di tempat kerja yaitu sebesar 89,3%.
Variabel tingkat pencahayaan pada tabel diatas diketahui bahwa
sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur terpapar pencahayaan ideal di tempat kerja yaitu sebesar 57,3%.

108

Variabel tekanan panas pada tabel diatas diketahui bahwa


sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur terpapar tekanan panas yaitu sebesar 80%.

C. Hasil Analisis Bivariat


1. Uji Normalitas Data
Sebelum dilakukan analisis, dilakukan uji normalitas untuk
mengetahui apakah variabel yang diteliti memiliki distribusi normal atau
tidak. Uji normalitas ini menggunakan Kolmogorov-Smirnov test karena
pada penelitian ini memiliki sampel besar (lebih dari 50) yaitu 75 orang
pembuat tahu. Variabel tersebut dikatakan normal jika p-value 0,05.
Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 5.6 dibawah ini.
Tabel 5.6
Hasil Uji Normalitas
Variabel
Kelelahan Kerja
Umur
Masa Kerja
Status Gizi

p-value
0.000
0.200
0.000
0.200

Berdasarkan hasil statistik tersebut, dapat dilihat bahwa variabel


kelelahan kerja dan masa kerja tidak berdistribusi normal karena nilai pvalue sebesar 0.000 (<0.05), sedangkan variabel umur dan status gizi
berdistribusi normal dengan p-value sebesar 0.200 (>0.05). Dengan

109

demikian analisis hubungan antara variabel dependen dengan variabel


independen menggunakan uji statistik Non-Parametric yaitu uji
Spearman Correlations dan Mann-Whitney.

2. Pengaruh Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi terhadap Kelelahan


Kerja
Pengaruh umur, masa kerja, dan status gizi terhadap kelelahan
kerja pada pembuat tahu dapat dilihat pada tabel 5.7 dibawah ini:
Tabel 5.7
Hasil Analisis Pengaruh Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi
terhadap Kelelahan Kerja pada Pembuat Tahu di Wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014
Variabel
Umur
Masa Kerja
Status Gizi

r
0,560
0,525
0,128

r2
0,314
0,276
0,016

n
75
75
75

p-value
0,00
0,00
0,27

a. Umur
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Spearman
Correlations pengaruh umur terhadap kelelahan kerja diperoleh nilai
p-value sebesar 0,00 menunjukkan bahwa pada = 5% faktor umur
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tahun 2014 berpengaruh terhadap kelelahan kerja. Sedangkan nilai
korelasi Spearman (r) sebesar 0,560 menunjukkan bahwa arah
korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang kuat, artinya semakin

110

bertambah umur, maka semakin meningkat untuk terjadinya


kelelahan kerja. Kemudian nilai koefisien determinan (r2) adalah
0,314 artinya 31,4% variabel umur dapat memprediksi terjadinya
kelelahan kerja.
b. Masa Kerja
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Spearman
Correlations pengaruh masa kerja terhadap kelelahan kerja
diperoleh nilai p-value sebesar 0,00 menunjukkan bahwa pada =
5% faktor masa kerja pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat
dan Ciputat Timur tahun 2014 berpengaruh terhadap kelelahan kerja.
Sedangkan nilai korelasi Spearman (r) sebesar 0,525 menunjukkan
bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang kuat,
artinya semakin bertambah lama masa kerja, semakin meningkat
untuk terjadinya kelelahan kerja. Kemudian nilai koefisien
determinan (r2) adalah 0,276 artinya 27,6% variabel masa kerja
dapat memprediksi terjadinya kelelahan kerja.
c. Status Gizi
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Spearman
Correlations pengaruh status gizi terhadap kelelahan kerja diperoleh
nilai p-value sebesar 0,27 menunjukkan bahwa pada = 5% faktor
status gizi pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat

111

Timur tahun 2014 tidak berpengaruh terhadap kelelahan kerja.


Sedangkan nilai korelasi Spearman (r) sebesar 0,128 menunjukkan
bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah,
artinya semakin status gizi menjauhi kadar normal (tidak normal),
semakin meningkat untuk terjadinya kelelahan kerja walau hanya
sedikit. Kemudian nilai koefisien determinan (r2) adalah 0,016
artinya hanya 1,6% variabel status gizi dapat memprediksi terjadinya
kelelahan kerja.

3. Pengaruh Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan, Tingkat


Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja terhadap
Kelelahan Kerja
Pengaruh kebiasaan merokok, tingkat kebisingan, tingkat
pencahayaan, dan tekanan panas di tempat kerja terhadap kelelahan
kerja pada pembuat tahu dapat dilihat pada tabel 5.8 dibawah ini:

112

Tabel 5.8
Hasil Analisis Pengaruh Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan,
Tingkat Pencahayaan, dan Tekanan Panas di Tempat Kerja
terhadap Kelelahan Kerja pada Pembuat Tahu di Wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2014
Variabel
Kebiasaan
Merokok

Tingkat
Kebisingan

Tingkat
Pencahayaan

Tekanan
Panas

Kategori
Merokok, jika Pernah dan Aktif
Merokok Sampai Sekarang
Tidak Merokok, jika Tidak Pernah
Merokok
Terpapar Kebisingan:
(> 85 dB)
Tidak Terpapar Kebisingan:
( 85 dB)
Tidak Terpapar Pencahayaan Ideal:
(< 300 lux)
Terpapar Pencahayaan Ideal:
( 300 lux)
Terpapar Tekanan Panas
Tidak Terpapar Tekanan Panas

p-value

52
0,239
23
8
0,476
67
32
0,169
43
60
0,014
15

a. Kebiasaan Merokok
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Mann-Whitney
di atas diperoleh nilai p-value sebesar 0,239, menunjukkan bahwa
pada = 5% faktor kebiasaan merokok tidak berpengaruh terhadap
terjadinya kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan
Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
b. Tingkat Kebisingan
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Mann-Whitney
di atas diperoleh nilai p-value sebesar 0,476, menunjukkan bahwa

113

pada = 5% faktor tingkat kebisingan di tempat kerja tidak


berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja pada pembuat tahu
di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
c. Tingkat Pencahayaan
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Mann-Whitney
di atas diperoleh nilai p-value sebesar 0,169, menunjukan bahwa
pada = 5% faktor tingkat pencahayaan di tempat kerja tidak
berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja pada pembuat tahu
di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
d. Tekanan Panas
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Mann-Whitney
di atas diperoleh nilai p-value sebesar 0,014, menunjukan bahwa
pada = 5% faktor tekanan panas di tempat kerja berpengaruh
terhadap terjadinya kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menyadari terdapat keterbatasan dan
kelemahan penelitian. Dengan keterbatasan ini, diharapkan dapat dilakukan
perbaikan untuk penelitian yang akan datang. Keterbatasan dan kelemahan
penelitian ini adalah pengukuran tekanan panas hanya dilakukan satu kali
karena adanya keterbatasan alat dan waktu penelitian serta izin dari pemilik
tempat pembuatan tahu. Oleh sebab itu, peneliti melakukan pengukuran pada
pertengahan jam kerja, sehingga dapat diperoleh hasil ukur saat aktivitas
pembuatan tahu sedang berlangsung.

B. Gambaran Kelelahan Kerja pada Pembuat Tahu


Kelelahan merupakan kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan
suatu kegiatan yang biasa terjadi kepada semua orang dalam kehidupan
sehari-hari dan disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan dalam bekerja
(Budiono, dkk, 2003, Sedarmayanti, 2009). Kelelahan adalah suatu
mekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut
sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Istilah kelelahan biasanya
menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi semuanya

114

115

bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta


ketahanan tubuh (Tarwaka, 2013).
Kelelahan kerja adalah suatu pola yang timbul pada suatu keadaan
yang secara umum terjadi pada pekerja, dimana pekerja tidak sanggup lagi
untuk melakukan pekerjaan sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan
produktivitas kerja akibat faktor pekerjaan (Riyadina, 1996, Sedarmayanti,
2009). Kelelahan kerja akan menambah tingkat kesalahan kerja dan
menurunkan kinerja atau produktivitas. Jika kesalahan kerja meningkat, akan
memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri (Nurmianto,
2003).
Pada penelitian ini, kelelahan kerja diukur menggunakan Reaction
Timer Test dan SSRT dari IFRC. Reaction Timer Test adalah pengukuran
kelelahan secara objektif dengan rangsangan yang kemudian pekerja akan
meresponnya, sehingga dapat dihitung waktu yang dibutuhkan pekerja untuk
merespon rangsangan tersebut. Kemudian SSRT dari IFRC adalah kuesioner
khusus digunakan untuk menilai perasaan kelelahan secara subyektif.
Pada uji Reaction Timer dapat digunakan rangsangan berupa nyala
lampu yang kemudian pekerja akan meresponnya, sehingga dapat dihitung
waktu yang dibutuhkan pekerja untuk merespon rangsangan tersebut.
Pengukuran waktu reaksi dilakukan sebanyak 5 kali, dan setiap hasil

116

pengukuran dijumlahkan, kemudian diambil nilai rata-ratanya (Koesyanto dan


Tunggul, 2005).
Hasil pengukuran dengan Reaction Timer tersebut akan dibandingkan
dengan standar pengukuran kelelahan yaitu (Koesyanto dan Tunggul, 2005):
a. Normal

: waktu reaksi 150,0-240,0 mili detik

b. Kelelahan Kerja Ringan : waktu reaksi >240,0-<410,0 mili detik


c. Kelelahan Kerja Sedang : waktu reaksi 410,0-<580,0 mili detik
d. Kelelahan Kerja Berat

: waktu reaksi 580,0 mili detik

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 75 pembuat tahu di


wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014 menunjukkan
bahwa pembuat tahu memiliki nilai median waktu reaksi kelelahan kerja
sebesar 483,00 mili detik, jika dibandingkan dengan standar pengukuran
kelelahan yang diuraikan paragraf diatas maka hasil pengukuran tingkat
kelelahan pada penelitian ini termasuk tingkat kelelahan kerja sedang. Waktu
reaksi tersingkat yang dialami pembuat tahu 246 mili detik (termasuk
kelelahan kerja ringan), hal ini dialami oleh satu orang. Kemudian waktu
reaksi terlama yang dialami pembuat tahu 1598 mili detik (termasuk kelelahan
kerja berat) yang dialami oleh satu orang juga.
Berdasarkan hasil pengukuran kelelahan kerja secara subjektif
menggunakan kuesioner SSRT dari IFRC, diperoleh bahwa sebagian besar
pembuat tahu mengalami gejala pelemahan kegiatan, yaitu 49 orang. Dimana

117

pembuat tahu paling banyak mengalami kelelahan kerja tingkat sedang yaitu
25 (51,0%), diikuti oleh pembuat tahu yang mengalami kelelahan kerja
tingkat ringan (26,5%), dan tingkat berat (22,4%). Gejala pelemahan kegiatan
yang paling banyak dialami pembuat tahu adalah gejala lelah seluruh badan.
Hal ini dikarenakan beban kerja yang diterima tidak sesuai dengan
kemampuan pembuat tahu.
Lalu, gejala pelemahan motivasi, dari 11 pembuat tahu paling banyak
mengalami kelelahan kerja tingkat sedang diikuti oleh pembuat tahu yang
mengalami kelelahan kerja tingkat berat dan tingkat ringan. Gejala pelemahan
motivasi paling banyak dialami, yaitu seperti gejala cenderung lupa dan
kurang percaya diri. Jika dibandingkan dengan gejala pelemahan kegiatan,
gejala pelemahan motivasi pada pembuat tahu sangat sedikit. Hal ini
dikarenakan pembuat tahu memiliki motivasi yang tinggi dalam bekerja. Jika
produktivitas mereka meningkat, keuntungan yang diperoleh juga akan
meningkat. Namun sebaliknya, jika mereka tidak tekun dalam bekerja,
produktivitas mereka menurun, keuntungan yang mereka peroleh juga akan
berkurang dan dapat mengakibatkan kerugian.
Selanjutnya, gejala kelelahan fisik, dari 15 pembuat tahu yang
mengalami gejala kelelahan fisik, paling banyak mengalami kelelahan kerja
tingkat berat dan tingkat ringan, lalu diikuti oleh kelelahan tingkat sedang.
Gejala kelelahan fisik yang dialami pembuat tahu adalah gejala nyeri pada

118

pinggang dan rasa haus. Hal ini disebabkan oleh lingkungan tempat kerja
yang tidak baik dan dapat melemahkan fisik pembuat tahu, sehingga
mempercepat terjadinya kelelahan kerja.
Kelelahan kerja merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan
yang secara umum terjadi pada pekerja, dimana pekerja tidak sanggup lagi
untuk melakukan pekerjaan (Sedarmayanti, 2009). Kondisi lelah tersebut
ditimbulkan oleh berbagai penyebab kelelahan baik yang berasal dari pekerja
ataupun lingkungan pekerjaan. Penyebab kelelahan kerja tersebut juga
terdapat pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tahun 2014, dimana kelelahan kerja berasal dari lingkungan pekerjaan yaitu
tingkat kebisingan, tingkat pencahayaan, dan tekanan panas. Selain itu,
kelelahan kerja juga diduga dipengaruhi oleh faktor individu seperti umur,
masa kerja, status gizi, dan kebiasaan merokok. Oleh karena itu diperlukan
tindakan untuk mencegah terjadinya kelelahan kerja.
Untuk mencegah terjadinya kelelahan kerja, berdasarkan teori yang
dikemukaan Lerman et al (2012) dan ILO (1998), bahwa untuk
menghilangkan atau mengurangi penyebab-penyebab kelelahan yaitu dengan
cara menyeimbangkan antara beban kerja dengan jumlah pekerja sehingga
tidak ada pekerja yang mendapat beban kerja melebihi kapasitas kerja yang
sanggup dikerjakan, mengatur jam kerja dengan waktu istirahat yang cukup
dan

bergantian

pekerjaan

saat

merasa

sudah

tidak

nyaman,

dan

119

mengendalikan bahaya ditempat kerja dengan cara mendesain tempat kerja


yang aman dan sehat.

C. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kelelahan Kerja pada


Pembuat Tahu
1. Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan di dalam
penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun
kematian di dalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan
umur (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa nilai median umur
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur adalah 31
tahun, dimana umur termuda adalah 13 tahun, sedangkan umur tertua
adalah 56 tahun. Pada rentang umur tersebut pembuat tahu mengalami
kelelahan kerja bervariasi mulai dari kelelahan kerja ringan dengan waktu
reaksi 246 mili detik dan kelelahan tertinggi dengan waktu reaksi 1598
mili detik yang dialami satu orang.
Berdasarkan uji statistik menggunakan uji Spearman Correlations
didapatkan nilai p-value sebesar 0,00 menunjukkan bahwa umur pembuat
tahu berpengaruh terhadap kejadian kelelahan kerja. Arah korelasi umur
dengan kejadian kelelahan adalah positif dengan kekuatan korelasi yang
kuat, artinya semakin bertambah umur, maka semakin meningkat untuk

120

terjadinya kelelahan kerja. Uji statistik juga menjelaskan bahwa prediksi


peningkatan umur sebesar 31,4% untuk terjadinya kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur.
Proses penuaan atau bertambahnya umur dapat menurunkan
kekuatan otot sehingga mudah mengalami kelelahan (Tarwaka, dkk, 2004,
Bridger, 2003). Fungsi faal tubuh yang dapat berubah karena faktor usia
mempengaruhi ketahanan tubuh dan kapasitas kerja seseorang. Seseorang
yang berumur muda sanggup melakukan pekerjaan berat dan sebaliknya
jika seseorang berusia lanjut maka kemampuan untuk melakukan
pekerjaan berat akan menurun karena merasa cepat lelah dan tidak
bergerak

dengan

gesit

ketika

melaksanakan

tugasnya

sehingga

mempengaruhi kinerjanya (Sumamur, 1996).


Hasil penelitian dan teori diatas sejalan dengan hasil penelitian
kelelahan pada pekerja proyek. Kelelahan berat paling banyak dialami
oleh pekerja yang berusia diatas 37 tahun, sehingga dapat dikatakan
adanya hubungan yang bermakna antara usia pekerja dengan kelelahan
kerja (Marif, 2013).
Faktor umur mempengaruhi terjadinya kelelahan kerja pembuat
tahu. Hal ini dapat terjadi karena dalam melakukan aktivitas fisik dalam
proses pembuatan tahu tidak berdasarkan umur pembuat tahu. Pembuat
tahu yang berumur muda dan tua sama-sama melakukan aktivitas fisik

121

membuat tahu, baik aktivitas fisik dengan beban kerja ringan, sedang
ataupun berat. Dalam hal ini, pemilik tempat pembuatan tahu tidak
membedakan pembagian kerja berdasarkan umur pekerja. Mereka samasama bekerja untuk mencapai hasil produksi sesuai target yang diinginkan
berdasarkan permintaan pasar yang semakin meningkat.
Oleh sebab itu, berdasarkan teori yang dikemukaan Lerman et al
(2012) dan ILO (1998) bahwa untuk menghindari terjadinya kelelahan
kerja akibat faktor umur, pemilik tempat pembuatan tahu perlu
menyeimbangkan antara beban kerja berdasarkan umur. Hal ini
diharapkan pembuat tahu tidak mengeluhkan kegiatan yang berlebihan
saat bekerja. Penyeimbangan beban kerja yang dimaksud adalah pembuat
tahu yang berumur tua melakukan aktivitas fisik dengan beban kerja yang
ringan seperti proses perendaman, pencucian, penggilingan, pengendapan,
dan pemotongan, sedangkan pembuat tahu yang berumur muda itu
melakukan aktivitas fisik dengan beban kerja yang berat seperti proses
perebusan, pencetakan, dan penyaringan, kegiatan ini melibatkan seluruh
aktifitas tubuh karena dilakukan secara terus-menerus dengan cara
menggoyang-goyangkan kain saringan, ada pula yang menginjak-injak
alat saringan menggunakan kaki untuk membantu proses penyaringan.

122

2. Masa Kerja
Masa kerja merupakan akumulasi waktu dimana pekerja telah
menjalani pekerjaan tersebut (Malcom, 1998 dalam Wirasati, 2003). Masa
kerja dapat mempengaruhi pekerja baik pengaruh positif maupun negatif.
Pengaruh positif terjadi bila semakin lama seorang pekerja bekerja maka
akan

berpengalaman

dalam

melakukan

pekerjaannya.

Sebaliknya

pengaruh negatif terjadi bila semakin lama seorang pekerja bekerja akan
menimbulkan kelelahan dan kebosanan. Semakin lama seorang pekerja
bekerja maka semakin banyak pekerja terpapar bahaya yang ditimbulkan
oleh lingkungan kerja tersebut (Budiono, dkk, 2003).
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa nilai median
masa kerja pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur adalah 8 tahun, dimana masa kerja terendah adalah 1 tahun,
sedangkan masa kerja terlama adalah 41 tahun. Masa kerja yang bervariasi
tersebut membuat pembuat tahu juga mengalami kelelahan kerja yang
bervariasi mulai dari kelelahan kerja ringan dengan nilai waktu reaksi 246
mili detik dan kelelahan tertinggi yang dialami pembuat tahu 1598 mili
detik.
Berdasarkan uji statistik menggunakan uji Spearman Correlations
didapatkan nilai p-value sebesar 0,00 menunjukkan bahwa masa kerja
pembuat tahu berpengaruh terhadap kejadian kelelahan kerja. Arah

123

kolerasi masa kerja dengan kejadian kelelahan kerja adalah positif dengan
kekuatan korelasi yang kuat, artinya semakin bertambah lama masa kerja,
maka semakin meningkat untuk terjadinya kelelahan kerja. Uji statistik
juga menjelaskan bahwa prediksi peningkatan masa kerja sebesar 27,6%
untuk terjadinya kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan
Ciputat dan Ciputat Timur.
Beberapa

teori

menyatakan

bahwa

masa

kerja

dapat

mempengaruhi pekerja baik pengaruh positif maupun negatif. Namun


dalam penelitian ini masa kerja sejalan dengan teori yang mengatakan
bahwa masa kerja berpengaruh negatif yaitu adanya batas ketahanan tubuh
seseorang terhadap proses kerja yang berakibat terhadap timbulnya
kelelahan dan kebosanan. Selain itu, semakin lama seorang pekerja
bekerja maka semakin lama pula pekerja terpapar bahaya yang
ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut (Budiono, dkk, 2003).
Pendapat lain menambahkan, pekerjaan yang dilakukan secara kontinyu
dapat berpengaruh terhadap sistem peredaran darah, sistem pencernaan,
otot, syaraf dan sistem pernafasan (Sumamur, 1999).
Hasil penelitian dan penjelasan teori diatas sebanding dengan hasil
penelitian kelelahan pada penjahit informal dimana ada perbedaan
proporsi terjadinya kelelahan kerja antara pekerja yang memiliki masa

124

kerja lebih dari 8 tahun dengan masa kerja kurang sama dengan dari 8
tahun (Umyati, 2010).
Hal ini disebabkan oleh pembuat tahu yang berumur tua, memiliki
masa kerja lama. Sebaliknya pembuat tahu yang berumur muda maka
pembuat tahu tersebut memiliki masa kerja baru. Berdasarkan hasil
penelitian pembuat tahu yang berumur tua dengan masa kerja terlama
yaitu 41 tahun mengaku menjadi pembuat tahu untuk melanjutkan usaha
keluarga secara turun temurun. Sedangkan pembuat tahu yang rata-rata
masih muda dengan masa kerja baru 1 tahun mengaku mengaku diajak
teman untuk menjadi pembuat tahu.
Oleh sebab itu, sama halnya dengan faktor umur, berdasarkan teori
yang dikemukaan Lerman et al (2012) dan ILO (1998) bahwa kelelahan
kerja akibat faktor masa kerja perlu dihindari. Hal yang bisa dilakukan
seperti pemilik tempat pembuatan tahu perlu menyeimbangkan antara
beban kerja berdasarkan masa kerja. Penyeimbangan beban kerja yang
dimaksud adalah pembuat tahu dengan masa kerja baru melakukan
aktivitas fisik dengan beban kerja yang berat seperti proses perebusan,
pencetakan, dan penyaringan, kegiatan ini melibatkan seluruh aktifitas
tubuh karena dilakukan secara terus-menerus dengan cara menggoyanggoyangkan kain saringan, ada pula yang menginjak-injak alat saringan
menggunakan kaki untuk membantu proses penyaringan. Hal ini

125

diharapkan pembuat tahu dengan masa kerja baru terlatih dan memiliki
motivasi untuk melakukan proses kerja lebih baik sehingga produktifitas
meningkat. Sedangkan pembuat tahu yang memiliki masa kerja lama
melakukan aktivitas fisik dengan beban kerja yang ringan seperti proses
perendaman, pencucian, penggilingan, pengendapan, dan pemotongan.

3. Status Gizi
Status gizi dapat digambarkan dengan perhitungan IMT melalui
pengukuran berat badan dan tinggi badan. Dimana seorang pembuat tahu
dengan keadaan gizi yang baik akan memiliki kapasitas kerja dan
ketahanan tubuh yang lebih baik sehingga tidak mudah mengalami
kelelahan.
Berdasarkan uji statistik menggunakan uji Spearman Correlations
didapatkan nilai p-value sebesar 0,27 menunjukkan bahwa status gizi
pembuat tahu tidak berpengaruh terhadap kejadian kelelahan kerja. Arah
korelasi status gizi dengan kejadian kelelahan kerja positif dengan
kekuatan korelasi yang lemah, artinya semakin status gizi menjauhi kadar
normal (tidak normal), semakin meningkat untuk terjadinya kelelahan
kerja namun hanya sedikit. Uji statistik juga menjelaskan bahwa prediksi
peningkatan status gizi untuk terjadinya kelelahan kerja hanya 1,6% pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur.

126

Hal ini bisa terjadi karena berdasarkan hasil univariat didapatkan


hasil bahwa nilai median status gizi pembuat tahu di wilayah Kecamatan
Ciputat dan Ciputat Timur adalah 21,93 kg/m2. Jika dibandingkan dengan
standar yang diterapkan oleh Kesehatan Depkes RI Tahun 2004 status gizi
tersebut termasuk status gizi nomal, dimana pembuat tahu yang berstatus
gizi normal sebanyak 61 orang, sedangkan pembuat tahu yang berstatus
gizi tidak normal sebanyak 14 orang. Status gizi terendah adalah 17,15
kg/m2 yang dialami satu orang dimana termasuk kategori kurus,
sedangkan status gizi tertinggi adalah 32,46 kg/m2 yang dialami satu
orang dimana termasuk kategori sangat gemuk. Kecenderungan ini terjadi
dikarenakan pemilik tempat pembuatan tahu dalam pembagian kerja tidak
mempertimbangkan keadaan fisik pembuat tahu dimana mereka yang
memiliki gizi tidak normal (baik kurus maupun gemuk) mengerjakan
pekerjaan yang sama dengan mereka yang memiliki gizi normal. Sehingga
pembuat tahu tetap mengalami kelelahan kerja walaupun sebagian besar
dari mereka berstatus gizi normal.
Penelitian ini sebanding dengan hasil penelitian kelelahan pada
pekerja proyek dimana pada tingkat kelelahan sedang, dari 65 pekerja
dengan status gizi normal, 25 pekerja (38,5%) mengalami kelelahan
sedang. Sedangkan dari 35 pekerja dengan status gizi tidak normal, 20
pekerja (57,1%) mengalami kelelahan sedang. Hal ini berarti tidak dapat

127

ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara status gizi dengan


kelelahan pada pekerja (Marif, 2013).
Namun, hasil penelitian tersebut tidak sesuai dengan teori yang
mengatakan bahwa seorang pekerja dengan status gizi yang baik akan
memiliki ketahanan tubuh dan kapasitas kerja yang lebih baik, sedangkan
seorang pekerja dengan status gizi yang tidak baik akan memiliki
ketahanan tubuh dan kapasitas kerja yang tidak baik juga (Budiono, dkk,
2003). Apabila dalam melakukan pekerjaan tubuh kekurangan energi baik
secara kualitatif maupun kuantitatif, kapasitas kerja akan terganggu
sehingga pekerja tidak produktif, mudah terjangkit penyakit dan
mempercepat timbulnya kelelahan (Tarwaka, dkk, 2004). Artinya bila
asupan makanan sebelum bekerja dan saat istirahat tidak sebanding
dengan kalori yang dikeluarkan selama bekerja. maka pekerja akan lebih
mudah mengalami kelelahan dibandingkan dengan pekerja yang asupan
makannya cukup untuk bekerja.
Dalam penelitian ini asupan kalori yang dikonsumsi pembuat tahu
sebanding dengan kalori yang dikeluarkan selama bekerja. Hal ini
dimungkinkan terjadi karena pemilik tempat pembuatan tahu juga
menyediakan meja khusus makanan dan makanan yang cukup bagi
pembuat tahu, sehingga pembuat tahu tidak perlu membeli makanan/jajan
sembarangan diluar untuk sarapan dan makan siang saat jam istirahat yang

128

belum tentu baik untuk tubuh mereka. Dimana gizi baik dapat membantu
pembuat tahu tetap sehat dan terhindar dari kelelahan kerja maupun risiko
kesehatan lain yang dapat mempengaruhi kinerja dan produktivitas
mereka.

4. Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok adalah kegiatan yang dilakukan berulangulang dalam menghisap rokok mulai dari satu batang ataupun lebih dalam
satu hari. (Bustan, 2000).
Berdasarkan

uji

statistik

menggunakan

uji

Mann-Whitney

didapatkan nilai p-value sebesar 0,239, menunjukkan bahwa kebiasaan


merokok tidak berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014. Hal ini berarti kelompok pembuat tahu yang memiliki kebiasaan
merokok dengan kelompok yang tidak memiliki kebiasaan merokok
memiliki risiko yang sama untuk terjadinya kelelahan kerja.
Sedangkan berdasarkan hasil univariat didapatkan bahwa sebagian
besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
memiliki kebiasaan merokok yaitu sebesar 69,3% dari total sampel atau
sebanyak 52 orang. Berdasarkan wawancara dengan kuesioner, pembuat
tahu mengaku mengkonsumsi rokok dimulai pada masa remaja dimana

129

mereka terpengaruh oleh lingkungan sekitar sehingga merokok sudah


menjadi sebuah kebiasaan. Jumlah batang rokok yang dikonsumsi juga
bervariasi, namun kebanyakan pembuat tahu mengkonsumsi lebih dari 12
batang rokok perhari. Kegiatan tersebut dilakukan berulang-ulang hingga
menjadi sebuah kebiasaan.
Hasil ini sebanding dengan hasil penelitian kelelahan pada pekerja
proyek dimana diantara 37 pekerja yang tidak merokok sebesar 59,5 %
mengalami kelelahan sedang. Sedangkan dari 63 pekerja yang merokok
sebesar 36,5% mengalami kelelahan sedang. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi rokok
dengan kelelahan pada pekerja proyek (Marif, 2013).
Namun, hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
setiap menghisap rokok, terdapat 107 radikal dalam komponen asap yang
didominasi oleh radikal oksigen, nitrit oksid, peroksil dan lain sebagainya.
Secara kimia, radikal oksigen, nitrit oksid ini akan bereaksi secara cepat
membentuk peroksilnitrit yang sangat reaktif dan akan berikatan dengan
ELF saluran napas menghasilkan ROS. Radikal semikuinon dapat
bereaksi dengan radikal oksigen untuk membentuk radikal hidroksil dan
peroksida membentuk superoksida. Radikal ini akan memicu sel untuk
menghasilkan peroksida yang secara terus menerus dan mengakibatkan
kerusakan sel sistem pernapasan (Susanto, dkk, 2011). Pendapat lain

130

menambahkan bahwa orang yang mengkonsumsi satu pak atau lebih


rokok dalam sehari dapat menurunkan denyut jantung dua atau tiga
denyutan tiap menitnya (Hanson dan Venturelli, 1983). Asap rokok yang
beracun dan bersifat karsinogenik tersebut cenderung dapat berpengaruh
pada kemampuan fisik perokok, sehingga mudah mengalami kelelahan
(Bridger, 2003).
Teori tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan pada
karyawan di PT. Amoco Mitsui Indonesia menyebutkan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kelelahan
yang dilihat dari kebugaran jasmani. Sebanyak 51 responden (68,9%)
dengan status perokok ringan yang mengalami kebugaran jasmani yang
baik (tidak lelah), dan sebanyak 8 responden (34,8%) dengan status
merokok berat yang mengalami kebugaran jasmani yang baik (tidak lelah)
dengan nilai p= 0,007 (Budiasih, 2011).
Dalam penelitian ini, faktor risiko kebiasaan rokok tidak memiliki
hubungan dengan kelelahan kerja. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya
kemungkinan pembuat tahu yang tidak memiliki kebiasaan merokok
secara tidak sengaja juga terhirup asap rokok dari pembuat tahu yang
memiliki kebiasaaan merokok. Paparan asap rokok tersebut didapatkan
ditempat kerja maupun saat tidak bekerja, yaitu saat beristirahat dan saat
diluar jam kerja. Karena, sebagian besar tempat pembuatan tahu memiliki

131

rumah tinggal bagi para pembuat tahu yang berada dilokasi tempat
pembuatan tahu.
Analisa ini diperkuat oleh teori yang menyebutkan bahwa asap
rokok terdiri dari 2 bagian yaitu asap utama (mainstream smoke) yang
dihisap langsung oleh perokok dan asap sampingan (sidestream smoke)
yang terdapat pada ujung bagian rokok yang terbakar. Walaupun asap
sampingan yang dihasilkan tidak sebanyak asap utama yang dihisap
perokok, namun secara kimia kandungan zat-zat atau substansi penyusun
asap ini adalah hampir sama dengan konsenterasi yang berbeda (Susanto,
dkk, 2011). Oleh karena itu, sebaiknya perlu dilakukan penelitian lebih
mendalam mengenai kebiasaan merokok terhadap kelelahan kerja.

5. Tingkat Kebisingan
Pengukuran tingkat kebisingan pada penelitian ini dilakukan pada
setiap titik pembuat tahu bekerja dengan tujuan mengetahui paparan
kebisingan di tempat kerja. Pada penelitian ini tingkat kebisingan
dikategorikan menjadi 2 yaitu pembuat tahu yang terpapar kebisingan >
85 dB dan yang tidak terpapar kebisingan < 85 dB (Permenaker No 13
Tahun 2011).
Berdasarkan

uji

statistik

menggunakan

uji

Mann-Whitney

didapatkan nilai p-value sebesar 0,476 menunjukkan bahwa tingkat

132

kebisingan di tempat kerja tidak berpengaruh terhadap terjadinya


kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014. Hal ini berarti kelompok pembuat tahu yang
terpapar kebisingan dengan kelompok yang tidak terpapar kebisingan
memiliki risiko yang sama untuk terjadinya kelelahan kerja.
Sedangkan berdasarkan hasil univariat didapatkan bahwa sebagian
besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tidak terpapar kebisingan di tempat kerja yaitu sebesar 89,3% dari total
sampel atau sebanyak 67 orang. Berdasarkan hasil observasi tempat kerja,
kebisingan yang terdapat di tempat kerja berasal dari mesin penggiling
kacang kedelai, tungku untuk perebusan baik secara tradisional yaitu
dengan kayu bakar yang diletakan di bawah drum/wadah bubur kedelai
maupun cara modern menggunakan ketel uap, dan mesin blower agar api
tetap menyala. Namun sumber bising tersebut tidak melebihi standar NAB
yang ditetapkan, hanya sebagian kecil pembuat tahu di tempat kerja yang
terpapar.
Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa pengaruh kebisingan terhadap tenaga kerja adalah
mengganggu komunikasi, mengurangi konsentrasi (Budiono, dkk, 2003),
sehingga muncul sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan
keengganan

untuk

melakukan

aktivitas.

Kebisingan

yang

tidak

133

terkendalikan dengan baik, juga dapat menimbulkan efek lain yang salah
satunya berupa meningkatnya kelelahan kerja (Sumamur,1996).
Teori

tersebut

sesuai

dengan

beberapa

penelitian

yang

menyebutkan terdapat hubungan antara tingkat kebisingan dengan


kelelahan pada pekerja di proses produksi kantong salah satu perusahaan
semen di Indonesia (Mauludi, 2010). Kemudian hasil penelitian di PT.
Indokores Sahabat Purbalingga menunjukkan ada hubungan yang
signifikan antara kebisingan dengan kelelahan tenaga kerja (Risva, 2002).
Serta hasil penelitian kelelahan yang menyebutkan terdapat hubungan
yang signifikan antara kebisingan dengan perasaan kelelahan kerja pada
tenaga kerja (Yusri, 2006). Selain itu penelitian lain juga menunjukkan
42,8% dari 18 sampel yang diteliti, mengalami kelelahan akibat
kebisingan di tempat kerja (Hanifa, 2006).
Dalam penelitian ini, faktor tingkat kebisingan di tempat kerja
tidak memiliki hubungan dengan kelelahan kerja. Hal ini dapat terjadi
karena sebagian besar pembuat tahu terpapar kebisingan berkisar 80 dB.
Dimana paparan kebisingan tersebut termasuk paparan kebisingan rendah.
Paparan kebisingan rendah dapat menyebabkan terjadinya kelelahan
karena adanya rasa tidak nyaman dalam menerima paparan kebisingan
ditempat kerja. Hal ini berkaitan dengan sensitifitas masing-masing
pembuat tahu dan lamanya paparan kebisingan di tempat pembuatan tahu.

134

Analisa ini diperkuat oleh beberapa teori yang mengatakan bahwa


paparan kebisingan rendah (biasanya berkisar 75 dB) dapat menyebabkan
terjadinya stress dan efek kesehatan lainnya dalam beberapa kasus. Stress
yang dimaksud dapat berbentuk kelelahan, kegelisahan, depresi,
permusuhan atau agresi (Division of Workplace Health & Safety, 1998).
Pendapat lain juga menambahkan bahwa pekerja yang terpapar kebisingan
untuk jangka waktu yang panjang dapat menghasilkan perasaan tidak
nyaman dan peningkatan kelelahan kerja (Lerman et al, 2012). Semakin
lama seorang pekerja bekerja maka semakin lama pula pekerja terpapar
bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut (Budiono, dkk,
2003).
Walaupun dalam penelitian ini faktor risiko tingkat kebisingan di
tempat kerja tidak berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja,
namun perlu adanya pencegahan paparan kebisingan yang dapat
mempengaruhi kinerja dan produktivitas pembuat tahu. Beberapa hal yang
bisa dilakukan seperti mengatur waktu bekerja dengan istirahat (Lerman et
al, 2012, ILO, 1998). Beristirahat sejenak 5 sampai 15 menit setiap 1
sampai 2 jam atau bila merasa sudah tidak nyaman dengan suara bising
yang terdapat di tempat pembuatan tahu, atau bergantian mengerjakan
pekerjaan yang memiliki paparan kebisingan lebih rendah dari pekerjaan
sebelumnya.

Istirahat

sejenak

terbukti

mengurangi

kelelahan,

135

meningkatkan produktifitas, dan mengurangi risiko kesalahan atau


kecelakaan. Kegiatan yang bisa dilakukan saat beristirahat sejenak seperti
berinteraksi sosial sesama pembuat tahu lainnya atau mengkonsumsi
minum.

6. Tingkat Pencahayaan
Pengukuran tingkat pencahayaan dilakukan satu kali selama 3
menit (sampai nilai pada layar monitor stabil), tepatnya pada jam kerja.
Lokasi pengukuran dilakukan pada setiap titik pembuat tahu bekerja
dengan tujuan mengetahui paparan tingkat pencahayaan di tempat kerja.
Berdasarkan

uji

statistik

menggunakan

uji

Mann-Whitney

didapatkan nilai p-value sebesar 0,169 menunjukkan bahwa tingkat


pencahayaan di tempat kerja tidak berpengaruh terhadap terjadinya
kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014. Hal ini berarti kelompok pembuat tahu yang
tidak terpapar pencahayaan ideal dengan kelompok yang terpapar
pencahayaan ideal memiliki risiko yang sama untuk terjadinya kelelahan
kerja.
Sedangkan berdasarkan hasil univariat didapatkan bahwa sebagian
besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
terpapar lebih dari tingkat pencahayaan minimal (pencahayaan baik) di

136

tempat kerja yaitu sebesar 57,3% dari total sampel atau sebanyak 43
orang. Berdasarkan hasil observasi tempat kerja, sumber cahaya yang
terdapat di tempat kerja berasal dari celah genting yang sengaja dibuka,
karena tempat pembuatan tahu tidak menggunakan lampu sebagai sumber
cahaya di tempat kerja.
Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa jika pencahayaan ditempat kerja kurang, dapat
menyebabkan perasaan tidak nyaman, gangguan atau sakit yang
meningkat dari waktu ke waktu, dan dapat menyebabkan kelelahan (A.
Wolska dalam Karwowski, 2001). Hal ini dikarenakan penerangan
ditempat kerja merupakan salah satu sumber cahaya yang menerangi
benda-benda ditempat kerja. Banyak objek kerja beserta benda atau alat
dan kondisi di sekitar yang perlu dilihat oleh tenaga kerja. Hal ini penting
untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi. Selain itu
penerangan yang memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih
baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan (Sumamur, 1996).
Teori tersebut sesuai dengan hasil penelitian di PT. Indokores
Sahabat Purbalingga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara
pencahayaan dengan kelelahan tenaga kerja (Risva, 2002).
Dalam penelitian ini, faktor tingkat pencahayaan di tempat kerja
juga tidak memiliki hubungan dengan kelelahan kerja. Hal ini dapat

137

disebabkan oleh adanya kemungkinan pembuat tahu sudah terbiasa dan


berpengalaman melakukan pekerjaan pembuatan tahu baik dengan
maupun tanpa tingkat pencahayaan yang ideal (300 lux). Hal ini berkaitan
dengan lamanya pembuat tahu bekerja di tempat pembuatan tahu. Dengan
masa kerja yang cukup lama kemungkinan para pembuat tahu sudah
terbiasa dan lebih berpengalaman sehingga mampu bekerja secara efisien
menggunakan besarnya tenaga sehingga kelelahan kerja tidak terjadi
akibat tingkat pencahayaan di tempat pembuatan tahu.
Analisa ini didukung oleh teori yang mengatakan bahwa masa
kerja dapat mempengaruhi pekerja baik pengaruh positif maupun negatif.
Adapun pengaruh positif yang berhubungan dengan analisa tersebut yaitu
bila semakin lama seorang pekerja bekerja maka akan berpengalaman
dalam melakukan pekerjaannya (Budiono, dkk, 2003).
Walaupun dalam penelitian ini faktor risiko tingkat pencahayaan di
tempat kerja juga tidak berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan kerja,
namun perlu adanya pencegahan paparan pencahayaan mempengaruhi
kinerja dan produktivitas pembuat tahu. Cara yang bisa dilakukan seperti
beristirahat sejenak, dan mendesain tempat kerja (Lerman et al, 2012,
ILO, 1998).
Beristirahat sejenak 5 sampai 15 menit setiap 1 sampai 2 jam atau
bila merasa sudah tidak nyaman dengan pencahayaan di tempat

138

pembuatan tahu yang tidak ideal, atau bergantian mengerjakan pekerjaan


yang memiliki pencahayaan yang ideal dari pekerjaan sebelumnya.
Istirahat

sejenak

terbukti

mengurangi

kelelahan,

meningkatkan

produktifitas, dan mengurangi risiko kesalahan atau kecelakaan. Kegiatan


yang bisa dilakukan saat beristirahat sejenak seperti berinteraksi sosial
sesama pembuat tahu lainnya atau mengkonsumsi minum.
Kemudian, mendesain tempat kerja bisa dilakukan dengan
menambah jumlah sumber cahaya yang terdapat di tempat pembuatan tahu
berasal dari celah genting yang sengaja dibuka, atau bagi pemilik tempat
pembuatan tahu mengganti beberapa buah genting dengan genting tembus
cahaya untuk memperoleh cahaya yang sesuai standar tanpa perlu takut
kebocoran saat terjadi hujan.

7. Tekanan Panas
Pengukuran tekanan panas dilakukan satu kali selama 1 jam,
tepatnya pada jam kerja pada lokasi yang ramai dilalui namun tidak
mengganggu proses kerja. Hal tersebut bertujuan dapat menggambarkan
keadaan lingkungan yang sebenarnya karena pada jam tersebut pekerja
melakukan aktivitas yang cukup tinggi.
Pengukuran tekanan panas dengan Quest Thermal Environmental
Monitor perlu mempertimbangkan beban kerja sesuai dengan klasifikasi

139

beban kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2011
dan mengukur waktu kerja tenaga kerja setiap jam. Beban kerja dapat
ditentukan dengan menggunakan Estimasi Pengukuran Panas Metabolik,
yaitu dengan merujuk kepada jumlah kalori yang dikeluarkan dalam
melakukan pekerjaan per satuan waktu (NIOSH, 1986). Berdasarkan
observasi yang dilakukan, pembuat tahu bekerja selama 8 jam dengan
waktu istirahat 1 jam, sehingga pengaturan waktu kerja setiap jam masuk
dalam kategori 75% - 100%. Pada penelitian ini tekanan panas
dikategorikan menjadi 2 yaitu pembuat tahu yang mengalami tekanan
panas dan yang tidak mengalami tekanan panas (Permenaker No 13 Tahun
2011).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur terpapar
tekanan panas yaitu sebesar 80% dari total sampel atau sebanyak 60
orang. Berdasarkan hasil observasi tempat kerja, sumber panas yang
terdapat di tempat kerja berasal dari tungku api yang digunakan untuk
perebusan baik secara tradisional yaitu dengan kayu bakar yang diletakan
di bawah drum/wadah bubur kedelai maupun cara modern menggunakan
ketel uap.
Kemudian berdasarkan uji statistik menggunakan uji MannWhitney didapatkan nilai p-value sebesar 0,014 menunjukkan bahwa

140

tekanan panas di tempat kerja berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan


kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tahun 2014. Artinya, semakin tinggi paparan tekanan panas yang diterima
di tempat kerja, maka semakin meningkat untuk terjadinya kelelahan kerja
Hal ini sebanding dengan hasil penelitian di PT. Indokores Sahabat
Purbalingga menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara iklim
kerja dengan kelelahan tenaga kerja (Risva, 2002).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
suhu panas dapat mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi
dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak,
mengganggu koordinasi syaraf perasa dan motoris. Bagi orang Indonesia
cuaca kerja ditempat kerja dirasakan nyaman antara 21-30C (Sumamur,
1996). Sedangkan standar suhu lingkungan kerja yang ditetapkan yaitu
18-28C (Keputusan Menteri Kesehatan, 2002). Berdasarkan hasil
pengukuran suhu ditempat kerja pembuat tahu di wilayah Kecamatan
Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014, didapatkan suhu antara 29-32C.
Suhu lingkungan yang tinggi dapat mengakibatkan suhu tubuh
akan meningkat. Hal itu menyebabkan hipotalamus merangsang kelenjar
keringat sehingga tubuh mengeluarkan keringat. Dalam keringat
terkandung bermacam-macam garam terutama, garam Natrium chlorida.
Keluarnya garam Natrium chloride bersama keringat akan mengurangi

141

kadarnya dalam tubuh, sehingga menghambat transportasi glukosa sebagai


sumber energi. Hal ini menyebabkan penurunan kontraksi otot sehingga
tubuh mengalami kelelahan (Guyton, 1991).
Faktor risiko tekanan panas di tempat kerja mempengaruhi
terjadinya kelelahan kerja pembuat tahu. Hal ini dapat terjadi karena
kondisi lingkungan tempat pembuatan tahu memiliki suhu yang cukup
tinggi. Berdasarkan hasil observasi sumber panas dihasilkan dari proses
perebusan/pemasakan menggunakan tungku api dan ketel uap dengan
bantuan kayu bakar. Proses ini menghasilkan tekanan panas sekitar 29
sampai 32 C yang dapat mengganggu proses kerja. Selain itu celah udara
atau ventilasi di tempat pembuatan tahu kurang memadai sehingga uap
yang dihasilkan selama proses pembuatan tahu sulit keluar dan digantikan
dengan udara segar.
Oleh sebab itu, untuk menghindari terjadinya kelelahan kerja yang
dipengaruhi oleh faktor tekanan panas di tempat kerja, dapat melakukan
beberapa cara seperti mengendalikan bahaya ditempat kerja dengan cara
mendesain tempat kerja dan beristirahat sejenak saat merasa kelelahan
(Lerman et al, 2012, ILO, 1998).
Adapun mendesain tempat kerja yang mungkin bisa dilakukan
pemilik tempat pembuatan tahu dengan menambah jumlah celah udara di
keliling tempat pembuatan tahu atau bagi pemilik tempat pembuatan tahu

142

membuat cerobong asap pembuangan dari uap panas hasil proses


perebusan/pemasakan. Beristirahat sejenak 5 sampai 15 menit setiap 1
sampai 2 jam atau bila merasa sudah tidak nyaman dengan paparan
tekanan panas di tempat pembuatan tahu, atau bergantian mengerjakan
pekerjaan yang memiliki paparan tekanan panas yang lebih rendah dari
pekerjaan

sebelumnya.

Beristirahat

sejenak

terbukti

mengurangi

kelelahan, meningkatkan produktifitas, dan mengurangi risiko kesalahan


atau

kecelakaan.

Istirahat

sejenak

bisa

bisa

dilakukan

bercengkrama/interaksi sosial, atau konsumsi minuman.

seperti

BAB VII
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik
simpulan sebagai berikut:
1. Gambaran kelelahan kerja yang terjadi pada pembuat tahu di wilayah
Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014 yang dapat dilihat dari
nilai median waktu reaksi adalah 483,00 mili detik dimana termasuk
tingkat kelelahan kerja sedang. Waktu reaksi tersingkat adalah 246 mili
detik dan terlama adalah 1598 mili detik. Sebagian besar pembuat tahu
mengalami gejala pelemahan kegiatan, yaitu 49 orang. Dimana pembuat
tahu paling banyak mengalami kelelahan kerja tingkat sedang yaitu 25
orang.
2. Nilai median umur pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014 adalah 31 tahun, dimana umur terendah adalah
13 tahun, sedangkan umur tertua adalah 56 tahun.
3. Nilai median masa kerja pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014 adalah 8 tahun, dimana masa kerja terendah
adalah 1 tahun, sedangkan masa kerja terlama adalah 41 tahun.

143

144

4. Nilai median status gizi pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014 adalah 21,93 kg/m2 (status gizi normal), dimana
nilai terendah adalah 17,15 kg/m2, sedangkan nilai tertinggi adalah 32,46
kg/m2.
5. Sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur tahun 2014 memiliki kebiasaan merokok yaitu sebesar 69,3%.
6. Sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur tahun 2014 tidak terpapar kebisingan di tempat kerja yaitu sebesar
89,3%.
7. Sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur tahun 2014 terpapar pencahayaan ideal di tempat kerja yaitu
sebesar 57,3%.
8. Sebagian besar pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat
Timur tahun 2014 terpapar tekanan panas di tempat kerja yaitu sebesar
80%.
9. Ada pengaruh umur terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
10. Ada pengaruh masa kerja terhadap kelelahan kerja pada pembuat tahu di
wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.
11. Tidak ada pengaruh status gizi terhadap kelelahan kerja pada pembuat
tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun 2014.

145

12. Tidak ada pengaruh kebiasaan merokok terhadap kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014.
13. Tidak ada pengaruh tingkat kebisingan di tempat kerja terhadap kelelahan
kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur
tahun 2014.
14. Tidak ada pengaruh tingkat pencahayaan di tempat kerja terhadap
kelelahan kerja pada pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur tahun 2014.
15. Ada pengaruh tekanan panas di tempat kerja terhadap kelelahan kerja pada
pembuat tahu di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur tahun
2014.

B. Saran
Saran yang dapat diberikan terkait dengan hasil penelitian ini antara
lain:

1. Bagi Pemilik Tempat Pembuatan Tahu


a. Diharapkan pembagian tugas atau beban kerja menyesuaikan
kemampuan fisik dan kapasitas kerja pembuat tahu. Beban kerja yang
ringan

seperti

proses

perendaman,

pencucian,

penggilingan,

146

pengendapan, dan pemotongan dilakukan oleh pekerja yang sudah


berumur tua atau memiliki masa kerja lama. Sedangkan beban kerja
yang berat seperti proses perebusan, pencetakan, dan penyaringan
dilakukan oleh pekerja yang berumur muda atau memiliki masa kerja
baru.
b. Diharapkan mendesain tempat kerja dengan menambah jumlah celah
udara di keliling tempat pembuatan tahu atau membuat cerobong asap
pembuangan dari uap panas hasil proses perebusan/pemasakan. Lalu,
menambah jumlah sumber cahaya dengan mengganti beberapa buah
genting dengan genting tembus cahaya tanpa perlu takut kebocoran
saat terjadi hujan.
c. Diharapkan pemilik tempat pembuatan tahu memperbolehkan pembuat
tahu untuk beristirahat sejenak 5 sampai 15 menit setiap 1 sampai 2
jam dan bergantian mengerjakan pekerjaan yang memiliki paparan
bahaya lingkungan yang lebih rendah dari pekerjaan sebelumnya.
Kegiatan yang bisa dilakukan saat beristirahat sejenak seperti
berinteraksi sosial sesama pembuat tahu lainnya atau mengkonsumsi
minum.

147

2. Bagi Pembuat Tahu


a. Diharapkan mengerjakan tugas atau beban kerja sesuai kemampuan
fisik dan kapasitas kerja.
b. Diharapkan beristirahat sejenak 5 sampai 15 menit setiap 1 sampai 2
jam dan bergantian mengerjakan pekerjaan yang memiliki paparan
bahaya lingkungan yang lebih rendah dari pekerjaan sebelumnya.
Kegiatan yang bisa dilakukan saat beristirahat sejenak seperti
berinteraksi sosial sesama pembuat tahu lainnya atau mengkonsumsi
minum.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya


a. Diharapkan melakukan penelitian dengan menggunakan cara lain
dalam

mengukur

kelelahan

kerja

sehingga

dapat

diperoleh

perbandingan gambaran kejadian kelelahan kerja.


b. Diharapkan melakukan penelitian dengan mengikutsertakan variabel
lain yang diduga berhubungan dengan kelelahan kerja yang tidak
diteliti pada penelitian ini, misalnya status kesehatan, shift kerja dan
lain lain.
c. Diharapkan

melakukan

penelitian

lebih

kebiasaan merokok terhadap kelelahan kerja.

mendalam

mengenai

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Australian Safety and Compensation Council. 2006. Summary of Recent Indicative
Research: Work-Related fatigue. Australia: Australian Governent.
Baiduri, W. 2008. Fatigue Assessment PT. Pamapersada Nusantara. Jakarta.
Bridger, R. S. 2003. Introduction to Ergonomics 2nd editoin. London: by Taylor &
Francis.
Budiasih, Komang Ayu Silfia. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebugaran
Jasmani Karyawan di PT. Amoco Mitsui Indonesia Tahun 2011. Skripsi.
Fakultas Kedokteran. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
Budiono, dkk. 2003. Kelelahan (Fatgue) pada Tenaga Kerja. Bunga Rampai
Hiperkes dan Keselamatan Kerja Edisi Ke-2. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Bustan. 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Davis, Bobby R. 2001. Occupational Safety and Health Program: A Guide to
Preventing Heat Stress. New Zealand: Departement of Labour.
Departemen Kesehatan RI. 1991. Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di
Indonesia. Jakarta: Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI. 2004. Angka Kecukupan Gizi Rata-rata yang


Dianjurkan.hasil Widyakarya Pangan dan Gizi Nasional ke-VII. Jakarta: 1719 Mei 2004.
Division of Workplace Health & Safety. 1998. Advisory Standard for Noise.
Queensland: Department of Employment, Training, and Industrial Relations.
Effendi, Fikry. 2007. Ergonomi Pekerja Informal. Bagian Ilmu Kesehatan Kerja,
Fakultas

Kedokteran

Universitas

Indonesia,

Jakarta.

Cermin

Dunia

Kedokteran No. 154, 2007.


Effendi, Tadjuddin Noer, 1993. Sumber Daya Manusia, Peluang Kerja, dan
Kemiskinan. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Eraliesa, Fandrik. 2009. Hubungan Faktor Individu dengan Kelelahan Kerja pada
Tenaga Kerja Bongkar Muat di Pelabuhan Tapaktuan Kecamatan Tapaktuan
Kabupaten Aceh Selatan 2008. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakar,
Universitas Sumatra Utara.
Fatmawati, Henny. 2013. Perubahan Pengetahuan tentang Potensi Bahaya Larutan
Penggumpal dan Pencegahan Dermatitis dengan Intervensi Penyuluhan
antara Media Lembar Balik dengan Media Leaflet pada Pekerja Pabrik Tahu
di Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Tahun 2013. Skripsi. Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Jakarta.

Fauzi, Zahro Abdani. 2013. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Suhu Tubuh
Pekerja Pabrik Tahu di Kecamatan Ciputat Tahun 2013. Skripsi. Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Jakarta.
Ferdian, Riska. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dermatitis
Kontak pada Pekerja Pembuat Tahu di Wilayah Kecamatan Ciputat dan
Ciputat Timur Tahun 2012. Skripsi. Universitas Islam Negeri Jakarta.
Fredickson, Andrew. 2011. Kajian Potensi Asetat, Natrium Benzoat, dan Kalium
Sorbet sebagai Pengawet pada Tahu. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.
Grandjean, E. 1988. Fitting The Task to The Man 4th edition. Taylor & Francis
Publisher: London.
Guyton, AC. dan Hall John E. 1991. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Setiawan I,
Tengadi KA, Santoso A, penerjemah: Setiawan I, editor. Jakarta: EGC.
Terjemah dari: Textbook of Medical Psysiology.
Hanifa, Tri Yuni Ulfa. 2006. Pengaruh Kebisingan terhadap Kelelahan pada Tenaga
Kerja Industri Pengolahan Kayu Brumbung Perum Perhutani Semarang
Tahun 2005. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Hanson, Glen and Venturelli, Peter J. 1983. Drugs and Society. 4th edition. London:
Jones and Bartlett Publishers International.
Hardi, Ikram. 2006. Faktor faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Kelelahan
Kerja pada Tenaga Kerja di Bagian Produksi PT. Sermani Steel Makassar

Tahun 2006. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanudin


Makasar.
Harrington, J. M dan Gill, F. S. 2003. Buku Saku Kesehatan Kerja. Edisi ketiga.
Jakarta: EGC.
Heinrich, H. W. 1959. Industrial Accident Prevention, 4nd ed. New York, NY: McGraw-Hill.
HOLOPHANE, 2010. Food Processing Lighting Guide. HOLOPHANE Leader In
Lighting Solution.
ILO. 1998. Encyclopedia of Occupational Health and Safety 4th edition Vol. 1-2-4.
Karwowski, Waldemar. 2001. International Encyclopedia of Ergonomic and Human
Factors. London: Taylor & Francis e-Library.
Kemenakertrans RI. 2010. Workshop ASEAN OSHNET untuk Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3). [diakses pada tanggal 26 November 2013] Available:
http://menteri.depnakertrans.go.id/?show=news&news_id=497

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang


Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.
Koesyanto, Herry dan Tunggul, Eram P. 2005. Panduan Praktikum Laboratorium
Kesehatan & Keselamatan Kerja, Semarang: UPT UNNES Press.
Kroemer, KHE dan Grandjean, E. 1997. Fitting The Task To The Human: A Text
Book Of Occupational Ergonomic 5th Edition. London Taylor and Francis.
La Dou, Joseph dan Richard M. Coleman. 1994. Occupational Health and Safety 2nd
edition. National Safety Council.

Lakassidaya (Biro Konsultasi Kesehatan, Keselamatan dan Produktivitas Kerja).


2011. Reaction Timer L77. Yogyakarta: Lakassidaya. [diakses pada tanggal 7
Oktober 2013] Available: http://www.anti-fatique.com/reaction-timer-l77.html
Lerman, E. Steven et al. 2012. Fatigue Risk Management in The Workplace.
Washington DC: American College of Occupational and Environmental
Medicine.
Manuaba, A. 1998. Penerapan Ergonomi Kesehatan Kerja di Rumah Tangga. Bunga
Rampai Ergonomi Vol 11. Program Studi Ergonomi Fisiologi Kerja
Universitas Udayana.
Marfuah, Umi. 2007. Ergonomi Cegah Terjadinya Penyakit Akibat Kerja. Majalah
KATIGA, Bisnis, K3, 2007.
Marif, Amelia. 2013. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan pada
Pekerja Pembuatan Pipa dan Menara Tambat Lepas Pantai (EPC3) di
Proyek Banyu Urip PT Rekayasa Industri, Serang-Banten Tahun 2013.
Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri
Jakarta.
Mauludi, Moch Noval. 2010. Faktorfaktor yang Berhubungan dengan Kelelahan
pada Pekerja di Proses Produksi Kantong Semen PBD (Paper Bag Division)
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup-Bogor Tahun 2010. Skripsi.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Jakarta.

Maurits, Lientje Setyawati dan Widodo, Imam Djati. 2008. Faktor dan Penjadualan
Shift Kerja. Teknoin, Volume 13, Nomor 2, Desember 2008.
Mentari, Annisa, dkk. 2012. Hubungan Karakteristik Pekerja dan Cara Kerja dengan
Kelelahan Kerja pada Pemanen Kelapa Sawit di PT. Perkebunan Nusantara
IV (Persero) Unit Usaha Adolina Tahun 2012. Departemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Mudjajanto, Eddy Setyo. 2006. Tahu, Makanan Favorit yang Keamanannya Perlu
Diwaspadai. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya
Keluarga, Fakultas Pertanian IPB.
Munandar, Ashar Sunyoto. 2008. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UIPress.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). 1986. Occupational
Exposure to Hot Environments. U.S. Departement of Health and Human
Service.

[diakses

pada

tanggal

20

November

2013]

Available:

http://www.cdc.gov/niosh/docs/86-113/86-113.pdf.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.

Nurmianto, Eko. 2003. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Tinjau Ergonomi,
Psikologi, dan Kompetensi untuk Perancangan Kerja dan Produk. Surabaya:
Guna Widya.
Nurmianto, Eko. 2008. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Tinjau Ergonomi,
Psikologi, dan Kompetensi untuk Perancangan Kerja dan Produk. Surabaya :
Guna Widya.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011
Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja.
Permaesih, Dewi. 2000. Kaitan Kesegaran Jasmani, Kesehatan & Olahraga
Keterampilan. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia tahun XXVIII no.
10: 569-573.
Purnawati, Susi. 2005. Kelelahan Umum pada Pekerja Shift dan Faktor-faktor yang
Berhubungan pada Pekerja Inspector Soft Drinks Pabrik Minuman Botol PT.
X Bali Tahun 2005. Tesis. Universitas Indonesia.
Risva. 2002. Hubungan Pencahayaan, Kebisingan, dan Iklilm Kerja dengan
Kelelahan Tenaga Kerja Bagian Model di PT. Indokores Sahabat
Purbalingga Tahun 2002. Skripsi.
Riyadina, Woro. 1996. Beberapa Hal tentang Kelelahan Kerja. Majalah Hiperkes
dan Keselamatan Kerja; Volume XXIX No 1; 30-34.

Riyanto, Agus. 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha


Madika.
Sabri, Luknis, dan Hastono, Sutanto Priyo. 2006. Statistik Kesehatan. Jakarta: Divisi
Buku Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada.
Safitri, Dian Sustana. 2008. Hubungan antara Pola Kerja dengan Kelelahan Kerja
pada Karyawan perusahaan Migas X Kalimantan Timur. Skripsi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Sastrowinoto, Suyatno. 1985. Meningkatkan Produktivitas dengan Ergonomi.
Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.
Sedarmayanti. 2009. Tata Kerja dan Produktivitas Kerja. Bandung: Mandar Maju,
Setyawati, Ely. 2001. Identifikasi Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat
Kelelahan pada Tenaga Kerja Wanita Bagian Produksi Jahit Garment PT.
Billion Jakarta Pusat. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia.
Setyawati, L. 2007. Penerapan K3 di Berbagai Tempat Kerja. Seminar Nasional K3.
Sumatera Utara: USU Press.
Setyawati, L. M. 2007. Promosi Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Pelatihan Para
Medis Seluruh Jawa Tengah, RSU Soeradji Klaten.
Silaban, Gery. 1998. Kelelahan Kerja. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia;
Tahun XXVI, No. 10:539-544.

Simanjuntak, David H. 1997. Hubungan Shift Kerja dan Absensi. Majalah Kesehatan
Masyarakat INDONESIA, Tahun XXV, Nomor 7. Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Sumatera Utara Medan.
Sisinta, Tiaraima. 2005. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan pada
Pekerja di Departemen Weaving PT. Istem Tangerang. Skripsi. Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
Soewito. 1985. Dampak Bising terhadap Pendengaran. Naskah Ilmiah Panitia
Penyusunan

Pedoman.

Petunjuk

Pengawasan

tentang

Pencahayaan,

Kebisingan, dan Kelembaban, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.


Jakarta.
Sophia, Aya. 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada
Perawat di RS Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2009. Skripsi. Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Jakarta.
Standar Nasional Indonesia SNI 16-7061-2004 Pengukuran Iklim Kerja (Panas)
dengan Parameter Indeks Suhu Basah dan Bola.
Standar Nasional Indonesia SNI 16-7062-2004 Pengukuran Intensitas Penerangan di
Tempat Kerja.
Standar Nasional Indonesia SNI 7231-2009 Metoda Pengukuran Intensitas
Kebisingan di Tempat Kerja.
Sumamur. 1993. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan, Jakarta: CV Haji
Masagung.

Sumamur. 1996. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: PT. Toko
Gunung Agung.
Sumamur. 1999. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. Jakata: CV Haji Masagung.
Sumantri, Arif. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Suprapti. 2005. Pembuatan Tahu. Yogyakarta: Kanisius.
Susanto, Agus Dwi, dkk. 2011. Berhenti Merokok: Pedoman Penatalaksanaan untuk
Dokter di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia: Jakarta.
Susetyo. 2008. Prevalensi Keluhan Subyektif atau Kelelahan Karena Sikap Kerja
yang Tidak Ergonomis pada Pengrajin Perak. Jurnal Teknologi; Volume 1
No. 2: 141-149.
Taligan, Lina dan Kalsum. 2006. Kerja Bergilir dan Kelelahan Kerja pada Tenaga
Kerja di Bagian Produksi Seksi Penuangan Subseksi Casting Operator PT.
Inalum Kuala Tanjung Tahun 2006. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Sumatera Utara.
Tarwaka, dkk. 2004. Ergonomi untuk Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan
Produktivitas. Edisi Ke-1. Surakarta: UNIBA Press.
Tarwaka. 2013. Ergonomi Industri, Dasar-dasar Pengetahuan dan Aplikasi di
Tempat Kerja. Edisi Ke-1. Surakarta: Harapan Press.

Trisnawati, 2012. Kualitas Tidur, Status Gizi dan Kelelahan Kerja pada Pekerja
Wanita dengan Peran Ganda. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Jurusan
Kesehatan Masyarakat FKIK UNSOED.
Umyati. 2010. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada
Pekerja Penjahit Sektor Usaha Informal di Wilayah Ketapang Cipondoh
Tangerang Tahun 2009. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Islam Negeri Jakarta.
Undang-undang Nomor I Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Virgy, Sulistya. 2011. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja
pada Karyawan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar
Rebo, Jakarta Tahun 2011, Jakarta: Skripsi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Wati, Murleni dan Haryono, Widodo. 2011. Hubungan antara Beban Kerja dengan
Kelelahan Kerja Karyawan Laundry di Kelurahan Warungboto Kecamatan
Umbulharjo Kota Yogyakarta. KES MAS Vol. 5, No. 3, September 2011 :
162-232.
Wignjosoebroto, Sritomo. 2003. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Surabaya: Guna
Widya.
Wirasati, Alfita Ayu. 2003. Hubungan Faktor Internal dan Eksternal Pekerja
terhadap Tingkat Kelelahan Pekerja di Bagian Produksi Divisi Convert PT.

Samudra

Montaz

Packgift

Industries.

Skripsi.

Fakultas

Kesehatan

Masyarakat, Universitas Indonesia.


Yusri. 2006. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kelelahan Karyawan
Produksi Kulkas di PT. LG Electronics Indonesia tahun 2006. Tesis. Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

LAMPIRAN I Kuesioner Penelitian


KUESIONER
Assalammualaikum Wr. Wb.
Saya Dio Dirgayudha mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta bermaksud melakukan penelitian tentang FAKTORFAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KELELAHAN KERJA
PADA PEMBUAT TAHU DI WILAYAH KECAMATAN CIPUTAT DAN
CIPUTAT TIMUR TAHUN 2014. Penelitian ini merupakan tugas akhir untuk
memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta. Pada penelitian ini peneliti akan bertanya mengenai karakteristik pekerja dan
kelelahan kerja. Wawancara ini akan berlangsung selama 20 - 25 menit. Responden
diharapkan menjawab setiap pertanyaan dengan sejujur- jujurnya. Setiap jawaban
anda akan dijaga kerahasiaannya dari siapapun dan tidak akan mempengaruhi
penilaian terhadap kinerja anda, kemudian kuesioner akan disimpan oleh peneliti.
Untuk itu dimohon kesediaan kepada perajin tahu selaku responden untuk mengisi
kuesioner ini.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang mendalam untuk kesediaan
Anda menjadi responden pada penelitian ini. Semoga bantuan dan kerjasama Anda
menjadi amal ibadah yang bernilai disisi-Nya.

Tempat Pabrik Tahu:.

PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER


Bacalah dengan baik dan seksama sebelum menjawab pertanyaan.
Untuk pertanyaan pilihan, berilah tanda checklist ( ) pada jawaban
yang sesuai dengan pilihan Anda.
Kuesioner ini tidak mencari jawaban yang benar atau yang salah, untuk
itu jawablah pertanyaan ini sendiri, tidak bekerja sama untuk
menyamakan jawaban dengan teman.

No Responden

Nama:

1.
2.

Tugas:

A. KARAKTERISTIK PEKERJA
Tanggal Lahir:
Indeks Massa Tubuh (Diisi Oleh Peneliti)

KODE
A1
A2

Berat Badan :................ kg


Tinggi Badan :............... cm
3.

a. Apakah Anda merokok?

Ya (jika Ya, lanjut ke pertanyaan 3b)

Tidak (jika Tidak, lanjut ke pertanyaan 4)

b. Apakah sampai sekarang Anda masih merokok?

Ya (jika Ya, lanjut ke pertanyaan 3c)

Tidak (jika Tidak, lanjut ke pertanyaan 3d)

c. Sejak umur berapa Anda merokok?......................Tahun

A3

d. Sejak umur berapa Anda berhenti merokok?......................Tahun


(lanjut ke pertanyaan 3f)

e. Berapa banyak rokok yang Anda habiskan setiap hari (ratarata)?..................Batang

f. Saat masih menjadi perokok, berapa banyak rokok yang Anda


habiskan setiap hari (rata-rata)?..................Batang
4.

Sejak tahun berapa Anda menjadi pembuat tahu?

A4

B. SKALA KELELAHAN
1. Subjective Self Rating Test dari IFRC
Keterangan :
SS : Sangat sering

(hampir setiap hari terasa dalam 1 minggu)

S : Sering

(3-4 hari terasa dalam 1 minggu)

K : Kadang-kadang (1-2 hari terasa dalam 1 minggu)


TP : Tidak pernah
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

(tidak pernah terasa dalam 1 minggu)

Pertanyaan
Apakah setiap kali setelah bekerja Anda
merasakan hal berikut:
Perasaan berat di kepala
Terasa lelah seluruh badan
Kaki terasa berat
Merasa kacau pikiran
Menguap
Menjadi mengantuk
Merasakan ada beban pada mata
Merasa kaku dan canggung dalam bergerak
Berdiri tidak seimbang
Ingin berbaring
Merasa sukar berfikir
Lelah kalau berbicara

Jawaban
SS

TP

Pertanyaan
Apakah setiap kali setelah bekerja Anda
merasakan hal berikut:
Menjadi gugup
Susah berkonsenterasi
Susah memusatkan perhatian
Cenderung lupa
Kurang percaya diri
Cemas terhadap sesuatu
Tidah dapat mengontrol sikap
Tidak dapat tekun dalam bekerja
Sakit kepala
Bahu terasa kaku
Nyeri pada pinggang
Pernapasan tertekan
Haus
Suara serak
Pening (perasaan berputar)
Kelopak mata terasa tegang
Gemetar pada anggota badan
Merasa kurang sehat

No
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Jawaban
SS

TP

Jumlah

2. Reaction Timer (Diisi oleh Peneliti)


Nama Pekerja

Tes 1

Tes 2

Tes 3

Tes 4

Tes 5

Hasil dalam satuan detik diubah menjadi mili detik (dikali 1000)

Rata-rata
B1

C. BEBAN KERJA (Diisi oleh Peneliti)


C1

1. Dominan posisi tubuh dan pergerakan Anda selama bekerja?


a. Duduk
b. Berdiri
c. Berjalan
d. Berjalan menanjak
2. Jenis pekerjaan Anda?
a. Bekerja menggunakan tangan: Ringan/Berat
b. Bekerja menggunakan satu tangan: Ringan/Berat
c. Bekerja menggunakan dua tangan: Ringan/Berat
d. Bekerja menggunakan seluruh tubuh: Ringan/Sedang/Berat/Sangat
Berat

D. KONDISI LINGKUNGAN KERJA (Diisi oleh Peneliti)


Lingkungan Kerja
a. Tingkat Kebisingan
b. Tingkat Pencahayaan
c. Iklim Kerja

D1
D2
D3

Hasil Ukur
dB
Lux
C

LAMPIRAN II Pemetaan Titik Pengukuran Tingkat Kebisingan, Tingkat


Pencahayaan, dan Tekanan Panas
1. Pabrik 1 - Kel. Sawah, Kec. Ciputat

Perendaman dan
Pencucian Kedelai

Perebusan atau
Pemasakan

Penggilingan

Penyaringan dan
Pengendapan

Pencetakan dan
Pengepresan
1

Pencetakan dan
Pengepresan

PINTU

Keterangan:
Lingkaran: Titik pengukuran tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan
1

= 70 dB dan 310 lux


= 70 dB dan 310 lux
= 71 dB dan 311 lux
= 82 dB dan 308 lux
= 82 dB dan 304 lux

= 70 dB dan 310 lux


Segi tiga: Titik pengukuran tekanan panas
I

=28,25C

2. Pabrik 2 - Kel. Sawah, Kec. Ciputat


Penggilingan
Pencetakan dan Pengepresan, dan Pemotongan

II
Perendaman dan Pencucian Kedelai

P
I
N
T
U

Perebusan/
Pemasakan,
Penyaringan,
dan
Pengendapan

Proses Penggorengan

Keterangan:
Lingkaran: Titik pengukuran tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan
1-12 = 72-74 dB dan 301-325 lux (Pencetakan dan Pengepresan)
13-14= 75 dB dan 800 lux (Penggilingan)
15-18 = 75-76 dB dan 500-596 lux (Perendaman dan Pencucian)
19-22 = 78-79 dB dan 613-702 lux (Proses Penggorengan)

23-32 = 75-76 dB dan 677-800 lux (Perebusan/Pemasakan, Penyaringan,


dan Pengendapan)
Segi tiga: Titik pengukuran tekanan panas
I

=28,35C

II

=30,41C

3. Pabrik 3 - Kel. Sawah, Kec. Ciputat


Perebusan/Pemasakan
3

Perendaman dan
Pencucian

2
1

Penyaringan dan Pengendapan


6

II

Penggilingan

I
Pencetakan dan Pengepresan,
dan Pemotongan
Proses
Penggorengan

P
I
N
T
U

Keterangan:
Lingkaran: Titik pengukuran tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan
1

= 75 dB dan 55 lux
= 72 dB dan 1180 lux
= 72 dB dan 887 lux
= 73 dB dan 222 lux
= 71 dB dan 67 lux
= 73 dB dan 304 lux

= 74 dB dan 1305 lux


Segi tiga: Titik pengukuran tekanan panas
I

=30,37C

II

=28,31C

4. Pabrik 4 - Kel. Ciputat, Kec. Ciputat


6

Pencetakan dan Pengepresan, dan Pemotongan

Proses
Penggorengan

Penyaringan dan Pengendapan


3

II

Perebusan/Pemasakan

1
Penggilingan
Perendaman
dan Pencucian

Pintu

Keterangan:
Lingkaran: Titik pengukuran tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan
1

= 70 dB dan 39 lux
= 68 dB dan 53 lux
= 68 dB dan 122 lux

= 75 dB dan 14 lux
= 67 dB dan 159 lux
= 68 dB dan 29 lux

= 71 dB dan 144 lux


= 78 dB dan 62 lux
Segi tiga: Titik pengukuran tekanan panas
I

=31,76C

II

=31,51C

5. Pabrik 5 - Kel. Sawah, Kec. Ciputat

Proses
Penggorengan
Pencetakan dan
Pengepresan, dan
Pemotongan

Perendaman,
Pencucian dan
Penggilingan

3
1

4
I

Penyaringan dan
Pengendapan

Perebusan/
Pemasakan

Pintu

Keterangan:
Lingkaran: Titik pengukuran tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan
1

= 78 dB dan 255 lux


= 78 dB dan 225 lux
= 68 dB dan 62 lux

= 76 dB dan 144 lux


Segi tiga: Titik pengukuran tekanan panas
I

=31,51C

6. Pabrik 6 - Kel. Pisangan, Kec. Ciputat Timur


Pintu

Pencetakan dan
Pengepresan, dan
Pemotongan

9
6

1
Pencetakan dan
Pengepresan, dan
Pemotongan

Penyaringan
dan
Pengendapan

8
2

Perebusan/
Pemasakan

Pencetakan
dan
Pengepresan,
dan
Pemotongan

I
5
4

Perendaman
dan Pencucian

Penggilingan

Keterangan:
Lingkaran: Titik pengukuran tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan
1

2
3
4

= 76 dB dan 114 lux


= 79 dB dan 302 lux
= 80 dB dan 101 lux
= 82 dB dan 186 lux

7
8
9

= 81 dB dan 33 lux
= 81 dB dan 40 lux
= 80 dB dan 122 lux
= 76 dB dan 98 lux

= 81 dB dan 1458 lux


Segi tiga: Titik pengukuran tekanan panas
I

=32,22C

7. Pabrik 7 - Kel. Pisangan, Kec. Ciputat Timur


Proses
Penggorengan

Perendaman
dan
Pencucian

Pencetakan dan Pengepresan,


dan Pemotongan
I
Penyaringan dan Pengendapan

8
II

Perebusan/ Pemasakan

Penggilingan

Pencetakan dan Pengepresan,


dan Pemotongan
7
Pintu

Keterangan:
Lingkaran: Titik pengukuran tingkat kebisingan dan tingkat pencahayaan
1

= 85 dB dan 201 lux


= 86 dB dan 205 lux
= 86 dB dan 200 lux

= 85 dB dan 75 lux
= 86 dB dan 81 lux
= 83 dB dan 58 lux

= 85 dB dan 72 lux
= 86 dB dan 150 lux
Segi tiga: Titik pengukuran tekanan panas
I

=31,48C

II

=29,64C

LAMPIRAN III Output SPSS


1. Hasil Uji Univariat
a. Kelelahan Kerja (Reaction Timer Test)

Frequencies
Statistics
Kelelahan
N

Valid

75

Missing

Mean

505.24

Median

483.00
a

Mode

294

Std. Deviation

201.765

Minimum

246

Maximum

1598

a. Multiple modes exist. The smallest


value is shown

b. Kelelahan Kerja (Subjective Self Rating Test)

Frequencies
Statistics
SSRT2
N

Valid

75

Missing

0
SSRT2
Cumulative
Frequency

Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Pelemahan Kegiatan

49

65.3

65.3

65.3

Pelemahan Motivasi

11

14.7

14.7

80.0

Kelelahan Fisik

15

20.0

20.0

100.0

Total

75

100.0

100.0

c. Kelelahan Kerja (Reaction Timer Test dengan Subjective Self Rating Test)
SSRT2 * Kelelahan2 Crosstabulation
Kelelahan2
KK Berat
SSRT2

Pelemahan Kegiatan

Count
% within SSRT2

Pelemahan Motivasi

Kelelahan Fisik

Total

13

49

22.4%

51.0%

26.5%

100.0%

11

18.2%

72.7%

9.1%

100.0%

15

40.0%

20.0%

40.0%

100.0%

19

36

20

75

25.3%

48.0%

26.7%

100.0%

Count
% within SSRT2

d. Numerik (Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi)

Frequencies
Statistics
umur
N

Valid

masakerja

IMT

75

75

75

Mean

32.29

10.21

21.9400

Median

31.00

8.00

21.9261

35

22.04

9.289

8.281

2.71468

Minimum

13

17.15

Maximum

56

41

32.46

Missing

Mode
Std. Deviation

Total

25

Count
% within SSRT2

KK Ringan

11

Count
% within SSRT2

KK Sedang

e. Katagorik (Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan, Tingkat Pencahayaan,


dan Tekanan Panas)

Frequencies
Statistics
Rokok
N

Valid

bising

cahaya

tekpanas

75

75

75

75

Missing

Frequency Table
rokok
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

merokok

52

69.3

69.3

69.3

tidak merokok

23

30.7

30.7

100.0

Total

75

100.0

100.0

bising
Cumulative
Frequency
Valid

Terpapar Kebisingan

Percent

Valid Percent

Percent

10.7

10.7

10.7

Tidak Terpapar Kebisingan

67

89.3

89.3

100.0

Total

75

100.0

100.0

cahaya
Cumulative
Frequency
Valid

Tidak Terpapar

Percent

Valid Percent

Percent

32

42.7

42.7

42.7

Terpapar Pencahayaan Ideal

43

57.3

57.3

100.0

Total

75

100.0

100.0

Pencahayaan Ideal

tekpanas
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

terpapar tekanan panas

60

80.0

80.0

80.0

tidak terpapar tekanan panas

15

20.0

20.0

100.0

Total

75

100.0

100.0

2. Hasil Uji Bivariat


a. Uji Normalitas

Explore
Case Processing Summary
Cases
Valid
N

Missing

Percent

Total

Percent

Percent

kelelahan

75

100.0%

.0%

75

100.0%

umur

75

100.0%

.0%

75

100.0%

masakerja

75

100.0%

.0%

75

100.0%

IMT

75

100.0%

.0%

75

100.0%

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov
Statistic

Df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

kelelahan

.193

75

.000

.742

75

.000

umur

.079

75

.200

.975

75

.139

masakerja

.149

75

.000

.876

75

.000

75

.952

75

.006

IMT

.085

.200

a. Lilliefors Significance Correction


*. This is a lower bound of the true significance.

b. Uji Korelasi Spearman (Umur, Masa Kerja, dan Status Gizi)

Nonparametric Correlations
Correlations
kelelahan
Spearman's rho

kelelahan

Correlation Coefficient

umur

Sig. (2-tailed)
N
umur

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N

**

1.000

.560

.000

75

75

**

1.000

.000

75

75

.560

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Nonparametric Correlations
Correlations
kelelahan
Spearman's rho

kelelahan

Correlation Coefficient

1.000

Sig. (2-tailed)
N
masakerja

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

masakerja
.525

**

.000

75

75

**

1.000

.000

75

75

.525

Nonparametric Correlations
Correlations
kelelahan
Spearman's rho

kelelahan

Correlation Coefficient

1.000

.128

.274

75

75

Correlation Coefficient

.128

1.000

Sig. (2-tailed)

.274

75

75

Sig. (2-tailed)
N
IMT

IMT

c. Uji Mann Whitney (Kebiasaan Merokok, Tingkat Kebisingan, Tingkat


Pencahayaan, dan Tekanan Panas)

NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
rokok
Kelelahan

Mean Rank

Sum of Ranks

merokok

52

39.97

2078.50

tidak merokok

23

33.54

771.50

Total

75

Test Statistics

kelelahan
Mann-Whitney U

495.500

Wilcoxon W

771.500

Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Grouping Variable: rokok

-1.178
.239

NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
Bising
Kelelahan

Terpapar Kebisingan

Mean Rank

Sum of Ranks

43.19

345.50

Tidak Terpapar Kebisingan

67

37.38

2504.50

Total

75

Test Statistics

kelelahan
Mann-Whitney U

226.500

Wilcoxon W

2504.500

-.712

Asymp. Sig. (2-tailed)

.476

a. Grouping Variable: bising

NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
Cahaya
Kelelahan

Tidak Terpapar

Mean Rank

Sum of Ranks

32

42.02

1344.50

Terpapar Pencahayaan Ideal

43

35.01

1505.50

Total

75

Pencahayaan Ideal

Test Statistics

kelelahan
Mann-Whitney U
Wilcoxon W

559.500
1505.500

Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Grouping Variable: cahaya

-1.377
.169

NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
Tekpanas
kelelahan

Mean Rank

Sum of Ranks

terpapar tekanan panas

60

41.09

2465.50

tidak terpapar tekanan panas

15

25.63

384.50

Total

75

Test Statistics

kelelahan
Mann-Whitney U

264.500

Wilcoxon W

384.500

Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Grouping Variable: tekpanas

-2.457
.014