Anda di halaman 1dari 15

BAB III

DAFTAR FREKUENSI DAN GRAFIKNYA


1. PENDAHULUAN
Daftar distribusi frekuensi in telah disinggung sedikit dalam Bab II dan contohnya dapat
dilihat dalam Daftar II (8) halaman 21. Sebuah contoh lagi adalah sebagai berikut.
DAFTAR III (1)
NILAI UJIAN STATISTIKA
UNTUK 80 MAHASISWA
Nilai Ujian
31 - 40
41 50
51 60
61 70
71 80
81 90
91 - 100
Jumlah

Banyak Mahasiswa (f)


2
3
5
14
24
20
12
80

Sebelum dipelajari bagaimana cara membuat daftar ini, akan dijelaskan dulu tentang
istilah-istilah yang dipakai. Dalam daftar distribusi frekuensi, banyak obyek dikumpulkan
dalam kelompok-kelompok berbentuk a b, yang disebut kelas interval. Kedalam kelas
interval a b dimasukkan semua data yang bernilai mulai dari a sampai dengan b.
Urutan kelas interval disusun mulai data terkecil terus kebawah sampai nilai data
terbesar. Berturut-turut, mulai dari atas, diberi nama kelas interval pertama, kelas interval
kedua, ., kelas interval terakhir. Ini semua ada dalam kolom kiri. Kolom kanan berisikan
bilangan-bilangan yang menyatakan berapa buah data terdapat dalam tiap kelas interval. Jadi
kolom ini berisikan frekuensi, disingkat dengan f. misalnya, f = 2 untuk kelas interval
pertama, atau ada 2 oang mahasiswa yang mendapat nilai ujian paling rendah 31 dan paling
tinggi 40.
Bilangan-bilangan di sebelah kiri kelas interval disebut ujung bawah dan bilanganbilangan di sebelah kanannya disebut ujung atas. Ujung-ujung bawah kelas interval pertama,
kedua, ., terakhir ialah 31, 41, , 91 sedangkan ujung-ujung atasnya berturut-turut 40, 50,
100. Selisih positif antara dua ujung bawah berurutan disebut panjang kelas interval.
Dalam Daftar III (1), panjang kelasnya, disingkat dengan p, adalah 10, jadi p = 10 dan
semuanya sama. Dikatakan bahwa daftar itu mempunyai panjang kelas yang sama.
Selain dari ujung kelas interval ada lagi yang biasa disebut batas kelas interval. Ini
bergantung pada ketelitian data yang digunakan. Jika data dicatat teliti hingga satuan, maka
batas bawah kelas sama dengan ujung bawah dikurangi 0,5. Batas atasnya didapat dari ujung
atas ditambah dengan 0,5. Untuk data dicatat hingga satu desimal, batas bawah sama dengan
ujung bawah dikurangi 0,05 dan batas atas sama dengan ujung atas ditambah 0,05. Kalau
data hingga dua desimal, batas bawah sama dengan ujung bawah dikurangi 0,005 dan begitu

seterusnya.untuk perhitungan nanti, dari tiap kelas interval biasa diambil sebuah nilai sebagai
wakil kelas itu. Yang digunakan disini ialah tanda kelas interval yang didapat dengan
menggunakan aturan:
tanda kelas = (ujung bawah + ujung atas)

Contoh: kelas interval pertama adalah 31 40 dengan


frekuensi f = 2. Ujung bawah kelas = 31, ujung atas = 40.
Adapun batas bawah kelas = 30,5 dan batas atas = 40,5.
Tanda kelasnya = (31 + 40) = 35,5.
2. MEMBUAT DAFTAR DISTRIBUSI FREKUENSI
Perhatikan nilai ujian statistika untuk 80 orang mahasiswa berikut ini:
79
49
48
74
81
98
87
90
80
84
90
70
91
93
82
78
70
71
92
38
56
81
74
73
68
72
85
51
65
93
83
86
90
35
83
73
74
43
86
88
92
93
76
71
90
72
67
75
80
91
61
72
97
91
88
81
70
74
99
95
80
59
71
77
63
60
83
82
60
67
89
63
76
63
88
70
66
88
79
75
Untuk membuat daftar distribusi frekuensi dengan panjang kelas yang sama, kita lakukan
sebagai berikut:
a. Tentukan rentang, ialah data terbesar dikurangi data terkecil. Dalam hal ini, karena data
terbesar = 99 dan data terkecil = 35, maka rentang = 99 35 = 64
b. Tentukan banyak kelas interval yang diperlukan. Banyak kelas sering biasa diambil
paling sedikit 5 kelas dan paling banyak 15 kelas, dipilih menurut keperluan. Cara lain
cukup bagus untuk n berukuran besar > 200 misalnya, dapat menggunakan aturan
Sturges, yaitu:
banyak kelas = 1 + (3,3) log n
dengan n menyatakan banyak data dan hasil akhir dijadikan bilangan bulat. Untuk contoh
kita dengan n = 80, sekedar memperlihatkan penggunaan aturan ini, maka: (logaritma
beberapa bilangan dapat dilihat dalam Lampiran, Daftar A).
banyak kelas = 1 + (3,3) log 80
= 1 + (3,3) (1,9031) = 7,2802
c. Tentukan panjang kelas interval p. Ini, secara ancer-ancer ditentukan oleh aturan:
rentang
P = banyak kelas
Harga p diambil sesuai dengan ketelitian satuan data yang digunakan. Jika data berbentuk
satuan, ambil harga p teliti sampai satuan. Untuk data hingga satu desimal, p ini juga
diambil hingga satu desimal, dan begitu seterusnya.
Untuk contoh kita, maka jika banyak kelas diambil 7, didapat:

P=

64
7

= 9,14 dan dari sini kita bisa ambil p = 9 atau p = 10

d. Pilih ujung bawah kelas interval pertama. Untuk ini bisa diambil sama dengan data
terkecil atau nilai data yang lebih kecil dari data terkecil tetapi selisihnya harus kurang
dari panjang kelas yang telah ditentukan. Selanjutnya daftar diselesaikan dengan
menggunakan harga-harga yang telah dihitung.
e. Dengan p = 10 dan memulai dengan data yang lebih kecil dari data terkecil, diambil 31,
kelas pertama berbentuk 31 40, kelas kedua 41 50, kelas ketiga 51 60 dan
seterusnya.
Sebelum daftar sebenarnya dituliskan, ada baiknya dibuat daftar penolong yang berisikan
kolom tabulasi. Kolom ini merupakan kumpulan deretan garis-garis miring pendek, yang
banyaknya sesuai dengan banyak data terdapat dalam kelas interval yang bersangkutan.
Dengan mengambil banyak kelas 7, panjang kelas 10 dan dimulai dengan ujung bawah
kelas pertama sama dengan 31, seperti dijelaskan dalam e, kita peroleh daftar penolong
seperti di bawah ini.
NILAI UJIAN
TABULASI
FREKUENSI
31 - 40
//
2
41 - 50
///
3
51 - 60
////
5
61 - 70
//// //// ////
14
71 - 80
//// //// //// //// ////
24
81 - 90
//// //// //// ////
20
91 - 100
//// //// //
12
Setelah dituliskan dalam bentuk yang lazim dipakai, hasilnya seperti dalam Daftar III (1),
halaman 45. Jika ujung bawah kelas pertama diambil sama dengan data terkecil, yakni 35,
maka daftarnya menjadi seperti dalam Daftar III (2) di halaman berikut ini.
DAFTAR NILAI III (2)
NILAI UJIAN STATISTIKA
UNTUK 80 MAHASISWA
Nilai Ujian
35 44
45 54
55 64
65 74
75 84
85 94
95 - 104
Jumlah

f
3
3
8
23
20
19
4
80

Daftar III (1) dan Daftar III (2) kedua-duanya dapat digunakan. Tetapi dalam
daftar III (2), kelas interval terakhir, yakni kelas 95-104, melebihi nilai yang biasa diberikan,
ialah 100. Karenanya Daftar III (1) yang lebih baik digunakan.

Dari penyusunan kelas-kelas interval di muka dapat dilihat bahwa ujung bawah kelas
yang satu berbeda dari ujung atas kelas sebelumnya. Jadi tidak benar jika dibuat kelas-kelas
seperti dalam dua contoh di bawah ini.
31 - 41
35 45
41 51
Atau
45 55
51 61
55 65
dst
dst
Perbedaan antara ujung bawah sebuah kelas dengan ujung atas kelas sebelumnya adalah
satu jika data dicatat hingga satuan, sepersepuluh atau 0,1 jika data dicatat hingga satu
desimal, seperseratus atau 0,01 untuk data dicatat dua desimal dan begitu seterusnya.
Dalam kedua daftar di atas, Daftar III (1) dan Daftar III (2), kelas-kelas intervalnya sama
panjang dan tertutup. Mungkin saja membuat daftar dengan panjang kelas interval yang
berlainan dan terbuka. Kelas terbuka terjadi pada kelas pertama dan atau kelas terakhir. Kelas
terbuka ini dibuat apabila tidak cukup banyak pengamatan yang akan terdapat jika interval
itu dibuat tertutup dan jika data ekstrim tidak diketahui atau tak perlu diperhatikan.
DAFTAR III (3)
BANYAK SISWA DI DAERAH A
MENURUT UMUR DALAM TAHUN
UMUR TAHUN
Kurang dari 15
15 sampai 20
20 sampai 30
30 sampai 40
40 dan lebih
Jumlah

f
2.456
4.075
3.560
3.219
4.168
17.478

3. DISTRIBUSI FREKUENSI RELATIF DAN KUMULATIF


Dalam daftar di atas, frekuensi dinyatakan dengan banyak data yang terdapat dalam tiap
kelas; jadi dalam bentuk absolut. Jika frekuensi dinyatakan dalam persen, maka diperoleh
daftar distribusi frekuensi relatif. Untuk Daftar III (1), dapat kita peroleh daftar distribusi
frekuensi relatif seperti dalam daftar III (4).
DAFTAR III (4)
DISTRIBUSI FREKUENSI RELATIF
UNTUK NILAI UJIAN STATISTIKA
NILAI
31 40
41 50
51 60
61 70
71 80
81 90
91 - 100

f (%)
2.50
3.75
6.25
17.50
30.00
25.00
15.00

Jumlah
100.00
Frekuensi relatif, disingkat frel atau f (%), untuk kelas pertama didapat dari
2
80 x 100% = 2,50 %
Untuk lain-lain dihitung dengan jalan yang sama
Tentu saja kedua bentuk frekuensi, absolut dan relatif dapat disajikan dalam sebuah
daftar. Daftar berikut adalah contohnya.
DAFTAR III (5)
NILAI UJIAN STATISTIKA UNTUK 80 MAHASISWA
Nilai Ujian
fabs
frel
31 40
2
2,50
41 50
3
3,75
51 60
5
6,25
61 70
14
17,50
71 80
24
30,00
81 90
20
25,00
91 - 100
12
15,00
Jumlah
80
100,00
Ada lagi sebuah daftar yang biasa dinamakan daftar distribusi frekuensi kumulatif. Daftar
distribusi frekuensi kumulatif dapat dibentuk dari daftar distribusi frekuensi biasa, dengan
jalan menjumlahkan frekuensi demi frekuensi. Dikenal dua macam distribusi frekuensi
kumulatif ialah kurang dari atau lebih. Tentu saja untuk kedua hal ini terdapat pula frekuensifrekuensi absolut dan relatif. Untuk distribusi frekuensi kumulatif kurang dari dan atau lebih
masing-masing dapat dilihat dalam Daftar III (6) dan Daftar III (7).
DAFTAR III (6)
NILAI UJIAN STATISTIKA
UNTUK 80 MAHASISWA
(KUMULATIF KURANG DARI)

DAFTAR III (7)


NILAI UJIAN STATISTIKA
UNTUK 80 MAHASISWA
(KUMULATIF ATAU LEBIH)

NILAI UJIAN
fkum
NILAI UJIAN
fkum
Kurang dari 31
0
31 atau lebih
80

41
2
41

78

51
5
51

75

61
10
61

70

71
24
71

56

81
48
81

32

91
68
91

12

101
80
101

0
Perhatikan bahwa dalam kedua daftar di atas tidak terdapat baris yang menyatakan
jumlah frekuensi.
Kalau daftar distribusi frekuensi kumulatif dengan frekuensi relatif dikehendaki, maka
hasilnya seperti dalam daftar-daftar di bawah ini.

DAFTAR III (8)


NILAI UJIAN STATISTIKA
UNTUK 80 MAHASISWA

NILAI UJIAN
Kurang dari 31

41

51

61

71

81

91

101

fkum
0
2,50
6,25
12,50
30,00
60,00
85,00
100,00

DAFTAR III (9)


NILAI UJIAN STATISTIKA
UNTUK 80 MAHASISWA

NILAI UJIAN
31 atau lebih
41

51

61

71

81

91

101

fkum
100
97,50
93,75
87,50
70,00
40,00
15,00
0

4. HISTOGRAM DAN POLIGON FREKUENSI


Untuk menyajikan data yang telah disusun dalam daftar distribusi frekuensi menjadi
diagram, seperti biasa dipakai sumbu mendatar untuk menyatakan kelas interval, dan sumbu
tegak untuk menyatakan frekuensi absolut maupun relatif. Yang dituliskan pada sumbu datar
adalah batas-batas kelas interval. Bentuk diagramnya seperti diagram batang hanya disini
sisi-sisi batang berdekatan harus berhimpitan. Data dalam Daftar III (1), diagramnya dapat
dilihat seperti dalam Gambar III (1).

Gambar III (1)


Diagram seperti di atas dinamakan histogram.
Sekarang, tengah-tengah tiap sisi atas yang berdekatan kita hubungkan dan sisi terakhir
dihubungkan dengan setengah jarak kelas interval pada sumbu datar. Bentuk yang didapat
dinamakan poligon frekuensi.untuk ini lihat Gambar III (2).

Gambar III (2)


Jika daftar distribusi frekuensi mempunyai kelas-kelas interval yang panjangnya
berlainan, maka tinggi diagram tiap kelas harus disesuaikan. Untuk ini, ambil panjang kelas
yang sama yang terbanyak terjadi sebagai satuan pokok. Tinggi untuk kelas-kelas lainnya

digambarkan sebagai kebalikan dari panjang kelas dikalikan dengan frekuensi yang
diberikan.
Contoh: Daftar frekuensi berikut menyatakan gaji bulanan untuk 135 pegawai yang
terdapat di suatu daerah
DAFTAR III (10)
GAJI BULANAN 135 PEGAWAI
DI DAERAH A
DALAM RUPIAH
GAJ I
5.000 5.999
6.000 6.999
7.000 7.999
8.000 8.999
9.000 12.999
13.000 13.499
Jumlah

f
30
32
25
18
28
2
135

Kelas-kelas interval pertama, kedua, ketiga dan keempat panjangnya sama, yakni 1000.
Kelas interval kelima dan keenam masing-masing panjangnya 4000 dan 5000. Dengan
mengambil pokok panjang kelas 1000, maka tinggi diagram kelas kelima digambarkan
seperempat dari 28 atau 7, sedangkan tinggi diagram kelas terakhir digambarkan dua kali dua
atau 4. Diagramnya dapat dilihat dalam Gambar III (3).

Gambar III (3)


Diagram untuk data yang telah disusun dalam daftar distribusi frekuensi kumulatif,
bentuknya akan berlainan dengan diagram-diagram di atas. Untuk data dalam Daftar III (6),
yakni daftar kumulatif kurang dari, diagramnya dapat dilihat seperti dalam Gambar III (4).

Gambar III (4)


Untuk data dalam daftar kumulatif atau lebih seperti dalam Daftar III (7) grafiknya dapat
dilihat di bawah ini

Gambar III (5)


Untuk diagram-diagram di atas, semua frekuensi bernilai absolut. Tentu saja diagram
demikian dapat dibuat jika frekuensi dinyatakan dalam persen, jadi untuk daftar distribusi

frekuensi relatif. Caranya sama, kecuali sekarang frekuensi, jadi juga skala-skalanya,
dinyatakan dalam persen.
5. MODEL POPULASI
Poligon frekuensi yang merupakan garis patah-patah dapat didekati oleh sebuah
lengkungan halus yang bentuknya secocok mungkin dengan bentuk poligon tersebut.
Lengkungan yang didapat dinamakan kurva frekuensi. Untuk poligon frekuensi dalam
Gambar III (2) misalnya, kurva frekuensinya, digambar dengan garis tebal, dapat dilihat
dalam Gambar III (6).

Gambar III (6)


Jika semua data dalam populasi dapat dikumpulkan lalu dibuat kurva frekuensinya dan
akhirnya digambarkan kurba frekuensinya, maka kurva ini dapat menjelaskan sifat atau
kerakteristik populasi.
Kurva ini merupakan model populasi yang akan ikut menjelaskan ciri-ciri populasi.
Dalam praktek, model populasi ini biasanya didekati oleh atau diturunkan dari kurva
frekuensi yang diperoleh dari sampel representatif yang diambil dari populasi itu.
Untuk keperluan teori dan metode yang lebih lanjut, model populasi ini dituangkan dalam
bentuk persamaan matematik. Beberapa diantaranya akan dibahas kemudian. Pada saat
sekarang, hanya akan diberikan bentuk kurva untuk model populasi yang sering dikenal.
Diantaranya adalah: model normal, simetrik, positif atau miring ke kiri, negatif atau miring
ke kanan, bentuk-bentuk J dan U.

(A) normal
(B) simetrik
Untuk gambar-gambar di atas, kita kenal:
(A) model normal, yang sebenarnya akan lebih tepat digambarkan berdasarkan persamaan
matematikanya. Bentuk model normal selalu simetrik dan mempunyai sebuah puncak.
Kurva dengan sebuah puncak disebut unimodal.
(B) Model simetrik, disini juga unimodal. Perhatikan bahwa model normal selalu simetrik
tetapi tidak sebaliknya.

Kurva untuk model miring, positif ataupun negatif, dapat dilihat dalam gambar III (8).

(A) positif

(B) negatif

Gambar III (8)


Model positif menggambarkan bahwa terdapat sedikit gejala yang bernilai makin besar.
Sedangkan model negatif terjadi sebaliknya. Soal ujian yang terlalu mudah sehingga banyak
peserta yang mendapat nilai baik menggambarkan model negatif.

(A) Bentuk J

(B) Bentuk J terbalik


Gambar III (9)
Kedua gambar di atas memperlihatkan fenomena yang modelnya berbentuk J. ini banyak
terdapat dalam dunia ekonomi, industri dan fisika. Model bentuk U dapat dilihat seperti
dalam gambar III (10). Dalam hal ini mula-mula terdapat banyak gejala bernilai kecil,
kemudian menurun sementara gejala bernilai besar dan akhirnya menaik lagi untuk nilai
gejala yang makin besar.

Gambar III (10)


Model dengan lebih dari sebuah puncak, jadi bukan unimodal, disebut multimodal. Kalau
hanya ada dua puncak dinamakan bimodal.
6. SOAL-SOAL
1. Bedakanlah antara daftar-daftar distribusi frekuensi, kontingensi dan baris kolom!
2. Apa bedanya antara ujung bawah dan ujung atas?
Antara ujung atas dan batas atas?
3. Tanda kelas itu apa? Bagaimana didapatnya?
(Tanda kelas disebut juga titik tengah kelas interval).
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan:
a. Distribusi frekuensi relatif
b. Distribusi frekuensi kumulatif relatif
c. Kelas interval
d. Panjang kelas interval
e. Rentang
f. Kelas interval tertutup
g. Kelas interval terbuka
5. a. Bagaimana aturan untuk menentukan banyak kelas interval?
b. Berikanlah ancer-ancer untuk menentukan panjang kelas interval!
c. Berikanlah aturan Sturges dan jelaskan arti tiap huruf yang dipakai!
d. Dapatkah banyak kelas interval pertama dimulai dengan data yang lebih besar dari
data terkecil? Mengapa?
6. Ketika membuat daftar distribusi frekuensi, kapankah kita akan menggunakan panjang
kelas interval yang tidak sama? Kelas interval terbuka?

7. Lihat Daftar III (7). Apakah daftar tersebut merupakan daftar distribusi frekuensi?
Bagaimana hasilnya dengan Daftar III (10), halaman 26?
8. Perhatikanlah kembali Daftar III (3).
a. Buatlah daftar distribusi frekuensi relatifnya
b. Buat juga daftar distribusi frekuensi kumulatif dan daftar distribusi frekuensi
kumulatif relatifnya.
c. Ada berapa % siswa yang umurnya kurang dari 20 tahun?
9. Berikanlah komentar mengenai penyusunan kelas-kelas interval di bawah ini:
a. 2,5 5,0
b. 2,5 7,5
5,0 7,5
5,0 10,5
7,5 10,0
7,5 12,5
dst.
dst.
b. 5 kurang dari 10
d. 10,00 - 19,99
10 kurang dari 15
20,00 39,99
15 kurang dari 23
40,00 59,99
dst.
dst.
10. Apa yang dimaksud dengan:
a. Histogram
b. Poligon frekuensi
c. Kurva populasi
11. Sebutkan dan gambarkan beberapa model atau kurva populasi, lalu uraikan dengan
contohnya masing-masing.
12. Apakah yang dimaksud dengan kurva atau lengkungan:
a. Unimodal
b. Bimodal
c. Multimodal
13. Jelaskan bagaimana kurva populasi dapat didekati oleh poligon frekuensi.
14. Data di bawah ini merupakan data tentang kelahiran per 1000 penduduk di berbagai
daerah di Jawa selama periode 1955 1959:
32,5 34,8 32,8 39,8 32,4 27,8 33,1 35,8
34,2 18,5 40,6 32,9 34,2 37,3 27,3 29,8
20,7 31,2 32,4 27,8 35,1 25,7 37,4 39,7
44,3 32,0 18,2 40,7 34,5 37,6 28,6 33,8
42,0 43,2 35,8 32,5 30,0 36,0 36,2 33,1
36,5 31,6 31,6 15,8 39,0 37,2 29,7
42,8 33,1 43,1 43,1 43,1 35,0 34,5
33,3 27,6 30,6 29,6 13,0 36,1 30,1
41,7 43,7 37,5 41,7 35,7 29,6 42,9
38,5 37,6 36,8 30,8 30,2 32,2 33,4
(Statistical Pocketbook of Indonesia 1960)
a. Buatlah daftar distribusi frekuensi dengan menggunakan aturan Sturges
b. Buat pula sebuah daftar dengan mengambil banyak kelas interval 10 buah
c. Susunlah daftar distribusi frekuensi kumulatif untuk hasil-hasil di a dan b
15. Lakukan pertanyaan yang sama untuk data di bawah ini mengenai kematian per 1000
penduduk yang terdapat di berbagai daerah di Jawa untuk periode 19955-1959.

(Data dari Statistical Pocketbook of Indonesia 1960):


13,6 17,7 10,8 21,5 11,3 16,4 14,11 21,2
18,6 15,9 12,8 12,7 16,5 13,4 19,3 7,3
17,1 9,5
23,3 21,5 10,6 14,0 14,1 9,3
17,5 13,5 11,3 19,6 20,5 12,2 14,6 19,7
9,0
24,6 17,8 17,3 15,5 13,6 7,4
10,4
15,3 10,9 10,7 10,9 11,1 15,9 10,9
19,9 14,2 14,1 14,7 13,5 17,7 13,2
9,8
8,8
9,1
12,9 13,7 17,3 14,1
14,8 15,9 16,1 12,6 15,1 11,3 19,4
10,7 9,0
13,0 19,8 9,9
13,2 18,7
16. Perhatikan Daftar III (3). Dari daftar itu, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Hitung ujung bawah kelas interval ketiga, dan ujung atas kelas interval kedua
b. Berapakah batas bawah kelas interval terakhir?
c. Berapa panjang kelas interval kedua dan ketiga?
d. Hitunglah titik tengah kelas interval keempat.
17. Gambarkanlah histogram untuk data dalam Soal 14 dan Soal 15.
18. Dalam sebuah gambar, buatlah poligon frekuensi untuk Soal 15 dan Soal 15. Kemudian
berikanlah uraian singkat tentang kelahiran dan kematian per 1000 penduduk di berbagai
daerah di Jawa.
19. Lihat daftar III (3). Buatlah histogram, poligon frekuensi dan grafik daftar distribusi
frekuensi kumulatifnya.
20. Lihat Daftar III (3). Buatlah histogram, poligon frekuensi dan grafik daftar distribusi
frekuensi kumulatifnya.
21. Berikut ini diberikan data tentang umur X (dalam tahun), berat badan Y (dalam kg) dan
tinggi badan Z (dalam cm) untuk 100 orang laki-laki.
X
44
35
41
31
49
34
37
63
28
40
51
33
37
33
41
38
52
31

Y
70
73
68
68
66
74
65
74
70
69
69
66
71
69
69
69
70
71

Z
180
188
178
159
155
156
157
168
185
187
182
155
170
161
167
190
162
156

X
61
61
44
58
29
56
53
47
30
64
31
35
65
43
53
58
67
53

Y
68
70
68
67
66
65
68
69
73
71
72
70
65
62
60
62
69
70

Z
182
185
161
175
159
171
166
171
178
170
180
162
163
164
159
162
190
182

X
52
52
52
40
27
44
41
33
29
24
36
23
47
26
45
41
55
34

Y
66
67
69
68
68
59
64
70
68
67
67
59
68
70
60
65
66
69

Z
154
152
162
175
167
158
169
186
161
160
162
159
167
161
158
167
169
160

44
31
40
36
42
28
40
40
35
32
31
52
45
39
40
48

63
67
68
73
69
67
71
70
68
68
71
69
69
67
68
66

189
160
166
178
189
158
180
172
157
176
156
165
159
181
169
160

42
43
52
68
64
46
41
58
50
45
59
56
59
47
43
37

58
69
62
66
70
68
69
73
69
59
58
69
68
67
66
63

157
165
163
158
168
162
175
188
164
158
157
168
155
164
184
160

51
58
51
35
34
26
25
44
57
67
59
62
40
52

72
67
70
70
69
70
61
71
68
60
69
70
65
71

175
163
174
172
160
175
164
172
163
159
179
167
163
170

a. Buatlah daftar distribusi frekuensi (menggunakan lima kelas) untuk umur, berat dan
tinggi keseratus orang itu.
b. Gambarkan poligon frekuensinya
c. Gambarkan pula grafik untuk daftar distribusi frekuensi kumulatifnya
22. Data berikut melukiskan berapa kali pencacah harus datang untuk melengkapi wawancara
terhadap responden.
Frekuensi
8
7
6
5
4
3
2
13
Harus datang
Responden
3
10
8
48
57
76
166
305
Buat histogram dan grafik daftar distibusi frekuensi kumulatif untuk melukiskan
hubungan antara 673 responden dan seringnyapencacah harus datang.
23. Keadaan tenaga kerja dan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan menurut kelompok
umur dapat dilihat di bawah ini.
DAFTAR III (12)
JUMLAH PENDUDUK DAN TENAGA KERJA TH. 1961
MENURUT UMUR DAN JENIS KELAMIN
(DALAM RIBUAN)
UMUR
10 14
15 19
20 24
25 34
35 44
45 54
55 64

Penduduk
Laki-laki
Perempuan
4.634
4.332
3.518
3.403
3.702
4.434
7.085
8.447
5.720
5.363
3.559
3.483
1.897
1.850

Tenaga Kerja
Laki-laki
Perempuan
977
602
2.556
1.185
3.009
1.189
6.924
2.327
5.536
1.784
3.403
1.385
1.700
724

65 - 74
798
829
621
261
Catatan: Dikutip sebagian dari Nugroho, Indonesia Fact and Figures
Buatlah histogram dan poligon frekuensi dalam satu gambar. Berikan uraian singkat
tentang gambaran keadaan penduduk dan tenaga kerja tahun 1961.
24. Hasil sensus perkebunan tahun 1963, menurut Biro Pusat Statistik, Jakarta, dikategorikan
menurut luas perkebunan dan banyaknya perkebunan adalah seperti berikut:
DAFTAR III (13)
JUMLAH PERKEBUNAN DAN AREANYA
AKHIR TAHUN 1962
AREA
JUMLAH
(Ha)
PERKEBUNAN
1
s/d 25
80
26
- 50
86
51
- 100
89
101
- 250
180
251
- 500
181
501
- 1.000
252
1.001 - 2.500
203
2.501 - 5.000
36
5.001 - 10.000
11
Catatan: ada satu perkebunan yang areanya yang lebih dari 10.000 ha.
a. Buatlah daftar distribusi frekuensi kumulatifnya
b. Gambarkan histogramnya
c. Gambarkan pula grafik daftar distribusi frekuensi kumulatifnya
d. Dari grafik di c, bacalah ada berapa buah perkebunan dengan luas area kurang dari
750 ha.
25. Persentase warga negara Indonesia dewasa dan anak-anak menurut jenis kelamin untuk
tahun 1977 dan tahun 1978, menurut ke-26 daerah yang dilaporkan oleh BPS Jakarta
melalui buku Statistik Indonesia tahun 1979, dapat dilihat di bawah ini.
Propinsi

Tahun

DI Aceh

1977
1978

Dewasa
L
P
25,8
27,0
26,2
26,5

Sumut

1977
1978

25,0
24,7

Sumbar

1977
1978

Riau
Jambi

Jumlah
52,8
52,7

Anak-anak
L
P
23,4
23,8
23,5
23,8

Jumlah

25,8
25,7

50,8
50,4

24,2
24,4

25,0
25,2

49,2
49,6

25,3
25,1

28,3
28,0

50,6
53,1

22,9
23,2

23,5
23,7

46,4
46,9

1977
1978

26,5
26,4

25,2
25,4

51,7
51,8

42,2
24,1

24,1
24,1

48,3
48,2

1977

27,7

25,5

53,2

23,1

23,7

46,8

47,2
47,3

1978

27,6

25,8

53,4

23,2

23,3

46,6

Sumsel

1977
1978

26,0
25,9

26,2
26,9

52,2
52,4

23,7
23,3

24,1
24,3

47,8
47,6

Bengkulu

1977
1978

25,3
24,9

26,4
26,2

51,7
51,1

23,5
23,7

24,8
25,2

48,3
48,9

Lampung

1977
1978

25,5
26,0

25,1
25,4

50,6
51,4

24,7
24,3

24,7
24,3

49,4
48,6

DKI Jakarta

1977
1978

28,0
27,5

24,7
25,5

52,7
53,0

23,7
23,9

23,6
23,1

47,3
47,0

1977
1978

25,3
25,6

27,7
27,5

53,11
53,1

23,1
23,1

23,9
23,8

47,0
46,9

1977
1978

26,6
27,2

28,8
29,6

55,4
56,8

21,8
21,7

22,8
21,5

44,6
43,2

Jatim

1977
1978

27,7
28,1

29,5
29,9

57,2
58,0

21,1
20,8

21,7
21,2

42,8
42,0

Bali

1977
1978

27,2
27,2

30,0
29,8

57,2
57,0

21,0
21,1

21,8
21,9

42,8
43,0

NTB

1977
1978

27,9
28,2

29,2
29,3

57,1
57,5

21,3
21,1

21,6
21,4

42,9
42,5

NTT

1977
1978

25,8
26,5

27,3
27,8

53,1
54,3

23,1
22,4

23,8
23,3

46,9
45,7

Kalbar

1977
1978

27,5
27,3

28,8
28,4

56,3
55,7

22,2
22,3

21,5
22,0

43,7
44,3

Kalteng

1977
1978

27,5
27,5

27,3
27,2

54,8
54,7

22,9
22,9

22,3
22,4

45,2
45,3

Kalsel

1977
1978

26,2
26,2

25,4
25,5

51,6
51,7

24,2
24,2

24,2
24,1

48,4
48,3

Kaltim

1977
1978

26,0
26,2

27,2
27,5

53,2
53,7

22,9
22,6

23,9
23,7

46,8
46,3

Sulut

1977
1978

30,3
30,2

27,0
26,9

57,3
57,1

22,0
22,0

20,7
20,9

42,7
42,9

Jabar
Jateng
DI Yogya

Sulteng

1977
1978

27,0
27,1

27,5
28,1

54,5
55,2

22,7
22,7

22,8
22,1

45,5
44,8

Sulsel

1977
1978

26,7
26,8

26,3
26,1

53,0
52,9

23,7
23,8

23,3
23,3

47,0
47,1

Sultra

1977
1978

25,1
25,2

27,9
28,1

53,0
53,3

23,3
22,9

23,8
23,8

47,0
46,7

Maluku

1977
1978

25,3
24,8

28,8
28,3

54,1
53,1

22,7
23,4

23,2
23,5

45,9
46,9

Irja

1977
1978

25,8
25,8

26,4
26,4

52,2
52,2

24,4
24,4

23,3
23,4

47,7
47,8

1977
27,8
26,6
54,4
23,7
21,9
45,6
1978
28,2
27,0
55,2
23,3
21,5
44,8
a. Dengan mengambil banyak kelas interval lima buah, buat daftar distribusi frekuensi
tiap tahun untuk dewasa dan tiap tahun untuk anak-anak.
b. Buat diagramnya menggunakan hasil di a, masing-masing untuk dewasa dan anakanak agar dapat membandingkan keadaan tahun 1977 dan tahun 1978.
c. Berikan uraian singkat dari yang didapat di b.