Anda di halaman 1dari 27

BAB III

SISTEM PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK PLTD/G


UPJP BALI
A. Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Gas
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) pembangkit listrik
yang menggunakan
Penggerak

mula

mesin diesel sebagai penggerak mula.

merupakan

alat

yang

mempunyai

fungsi

menghasilkan energi mekanis yang diperlukan untuk memutar


generator.

Gambar 3.1 Prinsip kerja pembangkit listrik tenaga diesel.


Penjelasan dari gambar di atas sebagai berikut :
1. Tangki penyimpanan bahan bakar
2. Penyaring bahan bakar
3. Tangki penyimpanan bahan bakar sementara
4. Pengabut (Nozzle)
5. Mesin Diesel
6. Turbocharger
7. Penyaring gas pembuangan
8. Tempat pembuangan gas
9. Generator
10.
Transformator

11.

Saluran transmisi
Dari gambar di atas kita dapat kita jelaskan cara kerja

Pembangkit Listrik Tenaga Listrik Diesel secara singkat. Pertama,


bahan bakar pada pada tangki penyimpanan dipompa ke tangki
penyimpanan sementara, namun sebelumnya bahan bakar tadi
di

saring

terlebih

dahulu

kemudian

di

simpan

di

tangki

penyimpanan sementara.
Dari tangki penyimpanan sementara bahan bakar dipompa
ke Nozzle atau pengabut. Nozzle atau pengabut berfungsi
menaikkan temperatur bahan bakar hingga menjadi kabut.
Sedangkan jika bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar
gas, maka akan dipompakan ke convertion kit. Convertion kit
berfungsi untuk mengatur tekanan gas.
Bahan bakar dari nozzle atau convertion kit kemudian
diinjeksikan ke dalam ruang bakar pada mesin diesel. Selain
bahan bakar, udara juga dimasukkan ke dalam ruang bakar
mesin diesel melalui turbocharger. Turbocharger mengubah
udara menjadi bertekanan dan bertemperatur tinggi. Pada ruang
bakar mesin diesel terjadi ledakan bahan bakar. Ledakan pada
ruang bakar tersebut menggerakkan piston yang kemudian
menghasilkan

energi

mekanis.

Energi

mekanis

ini

yang

digunakan untuk menggerakkan poros rotor generator. Oleh


generator, energi mekanis ini dirubah menjadi energi listrik
Tegangan yang dihasilkan generator akan dinaikkan
tegangannya menggunakan trafo step up. Kemudian listrik yang
telah dinaikkan tegangannya dialirkan ke saluran transmisi.
Saluran transmisi ini menghantarkan listrik sampai ke beban.
B. Komponen-Komponen Utama PLTD/G UPJP Bali
1. Mesin Diesel

Sistem penggerak yang digunakan pada PLTD adalah mesin


diesel. Mesin diesel mengubah energi termal hasil pembakaran
menjadi energi gerak yang kemudian diubah menjadi energi
listrik oleh generator.

Gambar 3.2 Mesin diesel PLTD/G UPJP Bali


Sebuah unit PLTD/G di PT. Indonesia Power UPJP Bali Unit
Pesanggaran memiliki 18 ruang bakar yang terbagi rata pada sisi
kiri dan kanan. Mesin diesel yang digunakan merupakan mesin
diesel 4 langkah atau 4 stroke. Berikut siklus kerja mesin diesel.

Gambar 3.2 Siklus kerja mesin diesel


a) Intake Stroke (Langkah Hisap)
Katup hisap terbuka dan katup pembuangan tertutup. Piston
bergerak dari
Titik Mati Atas (posisi piston berada pada titik paling atas dalam
silinder) menuju ke Titik Mati Bawah (posisi piston berada pada
titik paling bawah dalam silinder mesin). Dengan bergeraknya
piston dari TMA ke TMB, maka terjadi vakum diruang bahan
bakar sehingga udara dihisap masuk keruang bahan bakar
b) Compression Stroke (Langkah Tekan)
Kepala piston bergerak ke atas, katup bergerak ke atas,
katub hisap dan katup pembuangan tertutup. Piston bergerak ke
atas akibat momentum yang di hasilkan oleh fly-wheel. Fly-wheel
adalah perangkat mekanik berputar yang digunakan untuk
menyimpan energi

rotasi.

Kemudian tekanan ruang bakar

meningkat dan temperatur udara yang ada pada ruang bakar


pun ikut meningkat seiring volume ruang bakar yang menurun
hingga kepala piston akan mencapai TMA. Beberapa derajat
sebelum piston mencapai TMA, injektor menyemprotkan bahan
bakar kedalam ruang bakar. Dengan tekanan dan temperatur
yang tinggi, bahan bakar yang disemprotkan menjadi terbakar,
sehingga terjadilah proses pembakaran diruang bakar.
c) Power Stroke (Langkah Menghasilkan Tenaga)
Pembakaran bahan bakar menimbulkan tekanan yang sangat
tinggi sehingga rnendorong piston bergerak ke bawah. Gerak
naik-turun piston dikonversikan menjadi gerak putar oleh crankshaft yang kemudian diteruskan ke fly-wheel. Energi putar yang
dihasilkan diubah kembali menjadi energi listrik pada generator.
d) Exhaust Stroke (Langkah Buang)

Gas hasil pembakaran dibuang melalui saluran buang saat


katup pembuangan terbuka dan katup hisap tertutup. Langkah
ini harus terjadi sempurna agar tidak ada sisa hasil pembakaran
yang tertinggal di dalarn ruang bakar.
2. Sistem Distribusi Aliran Bahan Bakar PLTD/G

Gambar 3.3 Skema bahan bakar tangki harian (daily tank)


(Sumber:PT. Indonesia Power UPJP Bali Unit Pesanggaran
2016)

Gambar 3.4 Skema bahan bakar block feeder


(Sumber:PT. Indonesia Power UPJP Bali Unit Pesanggaran
2016)

Gambar 3.5 Skema bahan bakar setiap unit


(Sumber:PT. Indonesia Power UPJP Bali Unit Pesanggaran
2016)
Dalam menghasilkan energi listrik PLTDG di PT. Indonesia
Power UPJP Bali Unit Pesanggaran menggunakan bahan bakar
LFO/HSD. Bahan bakar ini dialirkan dari tangki penyimpanan

menuju mesin. Adapun sistem utama aliran bahan bakar untuk


12 PLTDG di PT. Indonesia Power UPJP Bali Unit Pesanggaran
dibuat identik dengan alur sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
2.1

Storage Tank
Transfer Pump
Day Tank
Block Feeder Unit
Mixing Tube
Booster Pump
Thermal Oil
Duplex Filter

Bagian Utama Sistem Aliran Bahan Bakar


a. Storage Tank

Gambar 3.6 Tanki penyimpanan bahan bakar


Storage tank adalah tempat untuk menampung
persediaan bahan bakar. Pada PT. Indonesia Power UPJP Bali
Unit Pesanggaran pengoperasian 12 unit PLTDG memiliki
sebuah storage tank. Tangki penyimpanan dibuat dengan
bentuk tabung untuk mengoptimalkan ketersediaannya lahan
dan memudahkan dalam proses perawatan kedepannya.
Tangki no. 4 memiliki kapasitas penampungan 5.205 KL yang

seluruhnya digunakan untuk menyuplai kebutuhan pada


PLTDG. Pengisian tanki penyimpanan ini dilakukan melalui
pesisir pantai benoa dengan bahan bakar yang berasal dari
kapal tanker.
b. Transfer Pump

Gambar 3.7 Unit pompa transfer


Transfer pump adalah mesin listrik yang berfungsi untuk
mentransfer bahan bakar dari tangki penyimpanan menuju
tangki harian. Terdapat 2 unit transfer pump yang diberi nama
PAD 901 dan PAD 902. Masing-masing sistem pompa transmisi
ini terdiri dari 2 unit mesin pompa yang bekerja dengan fungsi
yang sama. Pompa ini dapat bekerja secara bergantian
maupun secara bersamaan sesuai dengan kebutuhan untuk
mengisi tangki harian. Pompa akan mengalirkan bahan bakar
dari tangki penyimpanan menuju tangki harian melalui pipapipa yang dilengkapi dengan katup. Katup-katup ini berfungsi
sebagai pengaman apabila pompa mengalami gagal kerja.
Mesin pompa yang digunakan memiliki spesifikasi yang
identik karena fungsinya yang memang sama. Penggunaan 2
unit mesin pompa dimaksudkan untuk mem-backup apabila
terjadi kegagalan kerja terhadap salah satu pompa dan

apabila dibutuhkan tekanan yang lebih maka mesin pompa ini


akan bekerja secara bersamaan. Adapun spesifikasi dari mesin
pompa ini dapat dilihat pada gambar 3.8

Gambar 3.8 Nameplate pompa transfer


Tabel 3.1 Spesifikasi pompa transfer PLTDG
Wartsila Unit Code
PAD 901
LFO TRANSFER UNIT DOUBLE 20 M /
Unit Name
H
Spec. No.
DBAC894139
Net weight

474 Kg

V in

400 V

Frequency

50 Hz

Manuf. No. / Year

116203/2014

c. Tangki Harian

Gambar 3.9 Tangki bahan bakar harian


Daily tank adalah tempat penyimpanan bahan bakar
sementara sebelum ditransmisikan menuju unit PLTDG. Tangki
harian ini juga diperuntukkan menampung bahan bakar yang
akan dialirkan menuju 12 unit PLTDG. Kapasitas yang dimilki
oleh tangki ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan tangki
penyimpanan (storage tank) yaitu sebesar 200 m3. Ada
ketentuan khusus yang harus dipenuhi pada tangki ini yaitu
dimana bahan bakar yang tersedia di dalam tangki minimal
terisi 65% dengan batas maksimun 95%. Hal ini dimaksudkan
agar saat 12 unit PLTDG beroperasi secara bersamaan bahan
bakar yang didistribusikan pada setiap unit tidak mengalami
kekurangan

untuk

menghindari

trip

pada

unit.

Apabila

ketersediaan bahan bakar pada tangki harian kurang dari


batas minimum saat unit beroperasi maka seluruh unit pompa
transmisi akan beroperasi untuk mengisi tangki harian dengan
bahan bakar.
d. Block Feeder Unit

Block feeder adalah suatu kesatuan yang terdiri dari


mesin pompa, strainer dan katup (valve) berfungsi untuk
mendistribusikan bahan bakar dari tangki harian. Terdapat 4
buah blok feeder yang menyuplai bahan bakar menuju 12 unit
PLTDG. Feeder unit blok 1 (BJL 905) menyuplai bahan bakar
menuju unit PLTDG 1, 2 dan 3, feeder unit blok 2 (BJL 906)
menyuplai bahan bakar menuju unit PLTDG 4, 5 dan 6, feeder
unit blok 3 (BJL 907) menyuplai bahan bakar menuju unit
PLTDG 7, 8 dan 9 dan feeder unit blok 4 (BJL 908) menyuplai
bahan bakar menuju unit PLTDG 10, 11 dan 12. Setiap feeder
unit memiliki susunan komponen yang sama.

Gambar 3.10 Pipa blok feeder


Pipa distribusi dari tangki harian akan memiliki
percabangan menuju masing-masing feeder unit. Kemudian
dari percabangan tersebut bahan bakar masuk melewati
katup terlebih dahulu, selanjutnya melawati strainer.

Gambar 3.11 Strainer


Strainer adalah filter bahan bakar yang berfungsi untuk
menyaring bahan bakar dari kotoran-kotoran seperti tanah
maupun material besi yang ikut terbawa arus saat bahan
bakar dialirkan. Filter ini terbuat dari lembar-lembar besi tipis
yang dianyam menyerupai tikar namun berbentuk tabung
sehinggan kotoran akan tersangkut. Selanjutnya bahan bakar
yang dipompa menuju ruang bakar pada mesin diesel. Pompa
mengalirkan bahan bakar dengan tekanan 6.4 bar.

Gambar 3.12 Pompa blok feeder


Hal yang sama terjadi pada setiap blok feeder unit untuk
selanjutnya mengalirkan bahan bakar menuju masing-masing
ruang bakar unit. Setiap blok feeder memiliki 2 unit pompa

dimana hanya satu pompa yang bekerja, jika salah satu


pompa mengalami gangguan atau kegagalan kerja maka
pompa lainnya yang akan bekerja. Adapun spesifikasi yang
dimiliki oleh masing-masing feeder unit yang identik seperti
gambar 3.12.

Gambar 3.13 Nameplate pompa blok feeder


Tabel 3.2
Wartsila Unit Code
Unit Name
Spec. No.
Net weight
V in
Frequency
Manuf. No. / Year
e. Mixing Tube

PCA 905
LFO FEEDER 3.0 DOUBLE 28 M /H
DBAC937650
1345 Kg
400 V
50 Hz
116264 / 2014

Gambar 3.14 Tabung pencampuran bahan bakar


Mixing tube adalah tabung tempat tercampurnya 2 jenis
bahan bakar yang berbeda yaitu antara LFO dengan HFO yang
kemudian akan dimurnikan salah satunya sesuai kebutuhan.
Dikarenakan

pengoperasian

PLTDG

saat

ini

hanya

menggunakan LFO maka bahan bakar yang terdapat di dalam


tabung murni LFO/HSD. Sebelum masuk menuju tabung
pencampuran bahan bakar yang sudah melalui blok feeder
unit akan dibagi melalui pipa-pipa transmisi yang setiap
bloknya dibagi menjadi 3 bagian menuju masing-masing
flowmeter untuk diukur berapa jumlah bahan bakar yang
masuk menuju mesin. Kinerja dari tabung ini membutuhkan
waktu selama 30 menit untuk memurnikan pergantian bahan
bakar dari LFO menjadi HFO atau sebaliknya.
f. Booster Pump

Gambar 3.15 Pompa bahan bakar menuju ruang bakar


Booster pump adalah pompa yang akan mengalirkan
bahan bakar menuju thermal oil. Bahan bakar yang sudah
melewati tabung akan dipompa menuju thermal oil. Terdapat
2 unit booster pump yang dipasang dengan fungsi yagn sama.
Pompa ini dapat beroperasi secara bergantian, saat salah satu
pompa tidak dapat bekerja dengan baik atau mengalami
gangguan maupun perawatan pompa lainnya yang akan
bekerja. Bahan bakar yang dipompa menuju filter sebelum
masuk ke ruang bakar pada mesin diesel sekurang-kurangnya
memiliki tekanan sebesar 7.1 bar. Adapun nameplate booster
pump pada gambar 3.16

Gambar 3.16 Nameplate pompa bahan bakar menuju


ruang bakar
g. Thermal Oil

Gambar 3.17 Pemanas bahan bakar


Thermal oil adalah tempat untuk mengatur suhu dari
bahan bakar agar sesuai dengan batas minimal dari ruang
bakar pada mesin diesel. Pada thermal oil bahan bakar diatur
suhunya hingga mencapai 40C. Adapun spesifikasi yang
dimiliki tertera pada tabel 3. 3

Gambar 3.18 Nameplate pemanas bahan bakar


Tabel 3.3 Spesifikasi pemanas bahan bakar
Type
Serial no.
Year
Vol. Shell/tubes
Press./Temp. Shell
Press./Temp. Tubes

MX 20 L 600
POM 216719-2
2014
0.0162 M3
0.0062 M3
16 bar
160 C
16 bar
204 C

h. Duplex Filter

Gambar 3.19 Duplex Filter

Duplex filter adalah tempat filter terakhir yang harus


dilewati bahan bakar sebelum menuju ke ruang bakar pada
mesin. Duplex filter terbagi menjadi 2 bagian sehingga bahan
bakar yang difilter dapat dibersihkan dengan cepat. Sama
halnya dengan strainer pada filter ini juga dibuat dengan
bahan besi yang terjalin rapi menyerupai tikar yang digulung.
Fungsi dari filter ini untuk menyaring bahan bakar agar
terpisah dari muatan berat seperti kotoran tanah, serpihan
besi dan kotoran berat lainnya.
3. Generator Sinkron
Generator yang digunakan pada PLTDG UPJP Bali Unit
Pesanggaran genrator sinkron 3 phasa. Generator ini berfungsi
untuk merubah energi mekanik menjadi energi listrik yang
kemudian energi listrik tersebut dialirkan ke trafo step up dan
dinaikkan tegangannya lalu di alirkan ke saluran transmisi.
Berikut spesifikasi genrator sinkron pada PLTDG UPJP Bali Unit
Pesanggaran.
Tabel 3.4 Spesifikasi generator sinkron PLTDG UPJP Bali Unit
Pesanggaran
Type
Year
Phase
Duty
Connection
Insul. cl.
Weight
IP
IC
IM
No
Output
Voltage
Frequency

AMG 1600SS12 DSE


2014
3~
SI
Y
F (Temp. Cl. B)
57000 kg
23
0A1
7303
4637923
20798 kVA
11000 V
50 Hz

Speed
Current
Power factor
Ambient
Excit

500 (nr600) rpm


1092 A
0,8
+ 50C
109 Vdc 9,9 Adc

Pada dasarnya generator sinkron mempunyai kumparan


jangkar pada stator dan kumparan medan pada rotor. Menurut
hukum Faraday, apabila kumparan berputar didalam magnet
atau sebaliknya maka pada ujung-ujung kumparan tersebut akan
timbul gaya gerak listrik (tegangan), pengaruh medan magnet
pada

kumparan akan membangkitkan arus

listrik

didalam

kumparan tersebut, arus yang dibangkitkan ini disebut arus


induksi, arus induksi dapat dihasilkan dengan menggerakkan
magnet

pada

kumparan

yang

tetap

atau

menggerakkan

kumparan pada magnet yang tetap.

Gamabar 3.20 Prinsip gaya gerak listrik


1. Transfornator

2. Black Start Unit


Black start adalah proses pemulihan pembangkitan listrik
untuk operasi tanpa bergantung pada daya listrik jaringan
transmisi luar. Biasanya daya listrik yang digunakan didalam
pabrik disediakan dari generator stasiun sendiri. Tapi jika semua
genearator

utama

pabrik

ditutup,

listrik

stasiun

service

disediakan dengan mengambil daya dari saluran transmisi.


Namun selama pemadaman dengan wilayah yang luas atau
terjadi gangguan pada saluran transmisi suplai daya dari saluran
transmisi tidak akan tersedia. Dengan matinya jaringan listrik,
perlu dilakukan black start.
Untuk melakukan black start, beberapa pembangkit litrik
mempunyai generator diesel kecil. Biasanya disebut Black Start
Diesel Generator (BSDG), atau pada PLTDG UPJP Bali Unit
Pesanggaran dinamakan Black Start Unit yang dapat digunakan
untuk mengoperasikan generator yang lebih besar.

5.1

Cara Kerja Black Start Unit

C. Sistem Pemeliharaan PLTDG PT. Indonesia Power UPJP


Bali Unit
Pesanggaran
1. Defenisi Pemeliharaan

Melakukan segala aktifitas terhadap PLTD, untuk


mempertahankan unjuk

kerja

semula

atau mengembalikan

kepada kondisi semula secara optimal, agar aset fisik (PLTDG)


tersebut dapat memenuhi syarat fungsinya sesuai tujuan dan
sasarannya.
2. Tujuan Pemeliharaan
Sebagaimana peralatan pada umumnya, maka peralatan
yang beroperasi dalam sistem pembangkit listrik harus dipelihara
secara rutin sesuai dengan buku petunjuk pemeliharaan pabrik.
Pemeliharaan PLTD dilakukan untuk mempertahankan unjuk kerja
yang optimal telah ditetapkan atau mengembalikan pada posisi
semula agar PLTDG dapat beroperasi dengan efisien, ekonomis
dan handal.
3. Sasaran Pemeliharaan
Sasaran pemeliharaan PLTD diarahkan untuk mencapai :
a. Jam operasi lebih besar dari 6000 jam pertahun
b. Kapasitas mampu kontinue lebih besar dari 80 % dari
kapasitas terpasang
c. Mempertahankan tingkat efisiensi pemakaian bahan bakar
dan pelumas sesuai spesifikasinya
d. Biaya pemeliharaan pada batas-batas yang ekonomis
e. Mempertahankan tingkat keamanan dan keselamatan kerja
4. Jenis-Jenis Pemeliharaan
4.1
Pemeliharaan Terencana
Suatu pemeliharaan yang direncanakan sebelumnya dan
jauh sebelumnya sudah diketahui bahwa pemeliharaan harus
dilakukan pada waktu tertentu yang akan datang dan untuk itu
dibuat perencanaannya.

Perencanaannya

dibuat

berdasarkan

buku

petunjuk

pemeliharaan mesin, jam operasi mesin serta pengaruh dari


kondisi lingkungan sekitarnya, penggunaan bahan bakar dan
pelumasan juga pola operasi mesin.Perencanaan ini termasuk
jadwal dimulainya pelaksanaan pemeliharaan, jadwal dimulainya
unit

pembangkit

beroperasi

kembali,

biaya-biaya

yang

dibutuhkan untuk suku cadang, material dan jasa.


a. Pemeliharaan Preventif
Pada awalnya preventif maintenance adalah perawatan yang
dilakukan secara berkala dalam rangka mencegah terjadinya
kerusakan

dengan

melakukan

pengecekan,

penggantian,

overhaul pada sistem interval waktu yang ditentukan. Jenis


perawatan ini mulai dikenal sejak dimulainya era perang dunia
kedua

yaitu

ketika

dunia

membutuhkan

mekanisasi

yang

berlebihan pada semua jenis industri.


Mengingat jenis mesin makin banyak dan kompleks, maka
down time menjadi masalah sehingga industri membutuhkan
cara untuk mencegah kerusakan. Dari sinilah timbul ide overhaul
pada interval waktu yang tetap. Selain itu disebabkan oleh biaya
perawatan asset yang makin meningkat terhadap produksi maka
lahirlah

sistem

perencanaan

dan

kontrol

perawatan

(maintenance planning and control system).Sistem ini telah


sangat mapan dalam praktek perawatan.
Untuk memudahkan dalam melaksanakan pekerjaan, dilihat
dari

jenis

pemeliharaan

perlu

ditambahkan

kalender

pemeliharaan dan jenis kerja.


Tabel 3.4 Jenis-Jenis Pemeliharaan Periodik PLTD
Jenis Pemeliharaan
Kalender
Jenis Kerja
(Jam)

PO

Harian

24

P1

Mingguan

125

P2

2 Minggu

250

P3

Bulanan

500

P4

Triwulan

2000

P5

Semester

3000

P6

TO

6000

P7

SO

12000

P8

MO

18000

Dari tabel jenis-jenis pemeliharaan di atas dapat dibagi


menjadi

pemeliharaan

rutin

dan

pemliharaan

periodik.

Pemeliharaan rutin termasuk dalam pemeliharaan preventif


sedangkan

pemeliharaan

periodik

termasuk

ke

dalam

pemeliharaan korektif yang akan di jelaskan di point selanjutnya.

Pemeliharaan Rutin
Pemeliharaan rutin jangka pendek meliputi pekerjaan

melumasi membersihkan, mengganti, dan menambah minyak


pelumas atau bahan bakar kimia, dengan kegiatan sebagai
berikut :
PO Harian

Memeriksa mekanisme instrumen


Membuang air kondesat dan kotoran-kotoran dari tangki
Memeriksa dan menambah minyak pelumas atau air
pendingin jika diperlukan

P1 Mingguan

Pekerjaan PO
Membuka dan membersihkan separator
Membersihkan peralatan bantu dari debu dan minyak yang
bocor

P2 Dua Mingguan

Pekerjaan P1
Mengganti minyak pelumas dari peralatan tertentu dengan
referensi dari
buku petunjuk pabrik

Meminyaki bantalan-bantalan
Menambah bahan kimia pada air pendingin

P3 Bulanan

Pekerjaan P2
Memeriksa peralatan-peralatan sesuai dengan fungsinya
Memelihara dengan membersihkan komponen
Memeriksa sistem pelumasan bekerja dengan baik

P4 Triwulan

Pekerjaan P3
Memeriksa fungsi dan bekerjanya alat pengamanan dan

sistem alarm
Memeriksa valve dan valve rotator
Mengganti pelumasan governor
Memeriksa dan membersihkan filter pelumas
Memeriksa kualitas air pendingin dan unit water treatment
Memeriksa viskositas minyak dan battery

P5 Semester
Pekerjaan P4
Memeriksa dan membersihkan injektor
Memeriksa camshaft, crankshaft dan flexible coupling
Memeriksa kelonggaran baut, mur, roda gigi, dan bantalan
Memeriksa dan mengganti air pendingin
Memeriksa filter oli
b. Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan korektif yaitu pemeliharaan besar yang
dilakukan

dalam

tahun

anggaran

yang

bersangkutan

dan

pemeliharaan yang dilakukan berdasarkan petunjuk yang ada


sesuai dengan jadwal serta jenis pemeliharaan ditentukan oleh
jam kerja.
P6 Top Overhaul

Pemeliharaan 6000 jam yaitu pemeliharaan terhadap


bagian atas mesin

yang meliputi pekerjaan

pengukuran, penggantian atau

merekonduksi komponen-

komponen yang aus untuk mendapatkan kondisi operasi yang


optimal. Pekerjaan pekerjaan yang dilakukan pada Top
Overhaul meliputi pemeriksaan pada seluruh bagian-bagian
unit yang antara lain :
Pekerjaan P5
Pemeriksaan

exhaust

manifold

dan

peralatan

pendukungnya, penggantian komponen jika diperlukan


Pemeriksaan injection valves, mengganti nozzle dan
mengganti sluruh injection valve jike diperlukan
Pemeriksaan cairan peredam getaran
Pengujian kemampuan mesin
P7 Semi Overhaul
Pemeliharaan 12000 jam yaitu pemeliharaan terhadap
bagian

connecting

rod

yang

meliputi

pengukuran,

penggantian atau merekonduksi komponen yang aus untuk


mendapatkan

operasi

yang

optimal.

Pekerjaan

yang

dilaksnakan pada Semi Overhaul seperti :


Pemeriksaan P6 TO
Pemeriksaan semua

silinder

head

dan

komponen-

komponennya
Pemeriksaan dan pengukuran piston, piston ring, silinder
linier dan silinder head
Pemeriksaan connecting rods. Penggantian material jika

diperlukan
Pemeriksaan dan pembersihan turbocharger
Pengecekan jika terjadi keretakan, korosi atau keausan
Pelumasan bantalan
Pengujian kemampuan mesin

P8 Mayor Overhaul

Pemeliharaan 1800 jam meliputi pekerjaan pengukuran,


penggantian atau merekondisi komponen yang aus untuk
mendapatkan kondisi operasi yang optimal. Pekerjaan yang
dilaksanakan sebagai berikut :
Pekerjaan P7 SO, jika terjadi kecacatan material maka

dilakukan penggantian.
Pemeriksaan crankshaft dan pemeriksaan bantalan.
Pemeriksaan camshaft dan pemeriksaan permukaan gigi.
Pemeriksaan peredam getaran mesin (damper).
Pemeriksaan perlengkapan/peralatan bantu dan pengujian
mesin.

4.2

Pemeliharaan Tak Terencana


Pemeliharaan tidak terencana adalah pemeliharaan yang

dilakukan tanpa ada


rencana sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya gangguan
kerusakan yang tidak
terduga, tapi harus dikerjakan pada tahun yang bersangkutan
karena keadaan darurat.