Anda di halaman 1dari 7

Makalah Seminar Kerja Praktek

ASH HANDLING SYSTEM PLTU REMBANG


Faisal Aji Syafriarso (21060110141045) , Dr.Ir. Djoko Windarto,MT
(196405261989031002)
Mahasiswa dan Dosen Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedharto, Tembalang, Semarang
Email : afas.faisal@gmail.com
Abstrak
Kebutuhan listrik saat ini semakin berkembang pesat dengan seiringnya kemajuan teknologi yang
semakin pesat. Kebutuhan listrik ini merupakan kebutuhan yang sangat penting dan juga mendesak. Sehingga
diperlukan penyedia energi listrik yang handal guna memenuhi kebutuhan listrik. Oleh karena itu PLTU mulai
digalakkan pembangunannya.
PLTU secara garis besar menghasilkan listrik dengan mengubah air menjadi uap dengan
memanfaatkan panas dari pembakaran batubara dalam boiler. Uap yang dihasilkan akan digunakan sebagai
media penggerak turbin uap yang telah dikopel dengan generator untuk membangkitkan tenaga listrik.
PLTU menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya. Sehingga menghasilkan sisa abu dalam
pembakarannya. Oleh karena itu abu sisa pembakaran ini harus ditangani dengan serius agar tidak mencemari
lingkungan sekitar. Penanganan abu ini disebut Ash Handling System.
Ash Handling System ini berfungsi menangani abu mulai dari keluar dari boiler hingga menghasilkan
udara yang bersih dari sisa abu hasil pembakaran. Salah satu peralatan yang paling penting dalam sistem ini
adalah ESP (Electrostatic Precipitator). Alat ini menggunakan prinsip tegangan tinggi dalam pemanfaatannya.
Kata kunci : PLTU, Ash Handling System, ESP

1.PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Saat ini kebutuhan akan listrik
merupakan
kebutuhan
pokok
untuk
masyarakat. Hampir seluruh bagian dalam
hidup masyarakat selalu berhubungan
dengan listrik. Penggunaan listrik dalam
kehidupan sehari hari merupakan
kebutuhan vital. Penggunaan listrik sekarang
bukan hanya untuk penggunaan rumah
tangga saya namun untuk industri pun
sekarang merupakan pengguna listrik.
Oleh karena itu dibutuhkan pasokan
listrik yang handal dan juga kontinyu untuk
memenuhi seluruh kebutuhan pasokan listrik.
Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan
pasokan listrik ialah dengan pembangunan
pembangkit pembangkit listrik. Salah
satunya yaitu PLTU (Pembangkit Listrik
Tenaga Uap). PLTU adalah jenis pembangkit
listrik tenaga termal yang banyak digunakan,
karena efisiensinya baik dan bahan bakarnya

mudah didapat sehingga menghasilkan


energi listrik yang ekonomis. PLTU
menggunakan fluida kerja air uap yang
bersirkulasi secara tertutup.
1.2 Tujuan
Tujuan kerja praktek di PT. PJB
UBJOM PLTU REMBANG adalah:
1. Mahasiswa melalui kerja praktek ini
dapat mengimplementasikan ilmu-ilmu
yang telah didapatkan di bangku kuliah
pada keadaan dunia kerja nyata yang
dihadapi di lapangan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui sistem
pembangkitan listrik di PLTU Rembang.
3. Mahasiswa dapat mengetahui proses
Ash Handling System PLTU Rembang.
4. Mahasiswa dapat mengetahui peralatan
Ash Handling System.

1.3 Batasan Masalah


Dalam Laporan Kerja Praktek ini,
penulis membatasi masalah hanya pada
peralatan Ash Handling System dan Skema
Kerja Ash Handling System di PLTU
Rembang.
2. DASAR TEORI
Ash Handling Plant adalah peralatan
bantu dari sebuah PLTU berbahan bakar
batubara. Ash Handling Plant berada dalam
system aliran gas buang, memiliki peralatan
penangkap abu yang dibangun menyatu
dengan aliran bahan bakar/ gas buang.
Ash Handling Plant mempunyai alat
yang berfungsi sebagai penangkap abu sisa
pembakaran, Electrostatic Precipitator (ESP).
Batubara yang dialirkan ke dalam ruang
baker sebagai bahan baker PLTU akan
menghasilkan gas buang yang mengandung
partikel abu. Sebelum dibuang ke atmosfir,
gas buang yang mengandung partikel abu
akan melewati suatu ruang yang di dalamnya
terdapat pelat-pelat yang dapat menangkap
partikel abu. Pelat tersebut dialiri listrik
searah (DC). Abu hasil tangkapan ESP
disalurkan melalui Transporter / Transmitter
ke pembuangan terakhir / ditampung di
dalam penampung (Silo).
3. ASH HANDLING SYSTEM
Ash Handling Plant mempunyai 2 (dua)
bagian / system, yaitu
1. Fly Ash System
2. Bottom Ash System.
3.1 Fly Ash System
Fly Ash system adalah peralatan Ash
Handling yang berfungsi menyalurkan abu
sisa pembakaran yang berasal dari ruang
baker. Bahan baker (batubara) yang sudah
dihaluskan dimasukan ke dalam ruang bakar
dengan cara dihembus oleh PA Fan dan
dihisap oleh ID Fan untuk selanjutnya
dibuang ke Atmosfir melalui cerobong asap

(stack). Sisa pembakaran yang mengandung


partikel-partikel abu dialirkan ke Atmosfir
melalui ruang yang telah dipasang ESP
(Electrostatic Precipitator). Partikel abu yang
terdapat dalam sisa pembakaran akan
ditangkap oleh ESP dan disalurkan ke
pembuangan
melalui
TransporterTransporter / Conveyor-Conveyor.
3.2 Bottom Ash System
Bottom Ash System adalah system Ash
Handling Plant yang khusus menangani/
menyalurkan abu sisa pembakaran dari
bagian bawah ruang baker. Selain menangani
dan menyalurkan abu dari dalam furnace
Bottom Ash System juga menyalurkan abu
yang berasal dari Ruang Economizer dan
coal reject dari Pulverizer.
3.3 Peralatan Ash Handling
Secara umum, peralatan Ash Handling
System dibagi menjadi 2 antara lain :
3.3.1. Fly Ash System
3.3.1.1. ESP (Electrostatic Precipitator).
Salah satu cara untuk mengatasi
limbah abu di PLTU adalah dengan
dipasangnya Electrostatic Precipitator (ESP).
Keunggulan Electrostatic Precipitator (ESP)
dibandingkan dengan metode yang lain
adalah tingkat effisiensi yang tinggi/ besar,
yakni bisa mencapai lebih dari 95%.
Electrostatic
Precipitator
(ESP)
adalah peralatan yang berfungsi menangkap
abu sisa pembakaran yang berada dalam gas
buang yang akan dibuang ke atmosfir
melalui stack, sehinga gas buang yang akan
dibuang tidak mengandung partikel-partikel
abu yang dapat mencemari lingkungan.

Prinsip
kerja
Electrostatic
Precipitator (ESP) adalah partikel partikel
abu dari boiler yang belum bermuatan, akan
diberi muatan ( negative ) oleh Electroda
dan selanjutnya dengan teori electro
magnetic akan ditangkap oleh Collecting
Plate. Abu pada Collecting Plate akan jatuh
ke Hopper setelah proses rapping.
Bagian - bagian utama dari Electrostatic
Precipitator adalah :
1. Transformer Rectifier.
2. Collecting Plate.
3. Electroda Wire
4. Collecting Rapper Motor
5. Discharge Rapper Motor
6. Gas Distribution System.
7. Central Control Room ESP
8. Hopper
3.3.1.2. Transporter / Transmitter dan
Jumbo Transporter.
Transporter / Transmitter berfungsi
sebagai pemindah abu hasil tangkapan ESP
(electrostatic Precipitator), dari ESP Hopper
ke Transfer Bin yang selanjutnya di
pindahkan lagi ke Penampung yang lebih
besar (Silo).
Prinsip kerja Transporter adalah
menampung dan menyalurkan/memindahkan
abu yang berasal dari ESP Hopper ke
Transfer Bin, Tabung Transporter terisi oleh
abu dari ESP Hopper, setelah level Tabung
penuh.
Pada kondisi pengisian (Filling Time)
: Vent Valve open, Ash Inlet Valve open, Air
Inlet Valve dan Ash Outlet Valve tetap posisi
close. Setelah Tabung terisi abu (berdasarkan
level sw.) Ash Inlet Valve Close, Vent Valve
Close.
Pada
kondisi
Transporting
(Transporting Time) : Ash Outlet Valve
open, Air inlet Valve open. Tekanan di
tabung transporter akan naik sampai +/- 2,5
kg/cm2 dan akan turun mendekati tekanan 0

kg/cm2 dengan waktu +/- 6 menit. Setelah


tekanan tabung Transporter mendekati 0 (0,5
kg/cm2) Air Inlet Valve close, Ash Outlet
Valve Close. Transporting selesai, mulai lagi
ke Pengisian (Filling Time). Dst.
Selanjutnya transporter akan mulai
pengisian dan transporting secara auto,
transporter akan transporting bila tabung
transporter penuh. Khusus Transporter Row
3 dan 4 (Transporter 17 sd 32) akan
transporting berdasarkan timer selain
berdasarkan level sw.
Jumbo Transporter berfungsi seperti
Transporter / Transmitter namun mempunyai
kapasitas lebih besar. Media pemindah abu
adalah udara transporting yang berasal dari
Compressor.
Bagian - bagian utama dari
Transporter / Transmitter dan Jumbo
Transporter adalah :
1. Tabung
2. Ash Inlet Valve.
3. Ash Outlet Valve.
4. Vent Valve
5. Air Inlet Valve
6. Membran / Aramid
7. Line Ash Outlet.
8. Line Ash Inlet (Down Comer)
9. Emergency Valve
10. Main Valve (Isolating Valve)
3.3.1.3. Transfer Bin / Buffer Hopper /
Silo.
Transfer Bin / Buffer Hopper / Silo
adalah penampung abu yang berasal dari
Transporter / Transmitter / PGC, dari
Transfer Bin / Buffer Hopper / Silo abu akan
dipindahkan / dibuang ke pembuangan
terakhir (Ash Valley).
Sebuah Transfer Bin / Buffer Hopper
/ Silo dilengkapi Exhaust Fan dan Blower /
Fan. Untuk memindahkan abu dalam
Transfer Bin / Buffer Hopper / Silo dapat
menggunakan Jumbo Transporter atau Dust
3

Conditioner / Mixer, Transfer Bin / Buffer


Hopper / Silo juga dilengkapi perlengkapan
untuk melayani konsumen Fly Ash, yaitu
Dry Unloading System. Di PLTU Rembang
ini terdapat 2 buah silo yaitu Silo Unit #10
dan Silo Unit#20.
EXHAUST FAN

Dari Transporters

2000 m3/h
Safety valve

Dust Filter

TRANSFER BIN
TRANSFER BIN
250 M3

Cut Off Valve

Cut Off Valve


Cut Off Valve

Aeration
Blower
400 m3/h

Ke Silo

DU
cap. 135
ton/jam

Blower
Jumbo Tr. 33
11 m3

heater

Jumbo Tr. 34
11 m3

Blower
heater

Truck
Capsole
Dari Udara
Compressor

3.3.2. Bottom Ash System


Bottom Ash System adalah system
Ash Handling Plant yang khusus menangani/
menyalurkan abu sisa pembakaran dari
bagian bawah ruang baker. Selain menangani
dan menyalurkan abu dari dalam furnace
Bottom Ash System juga menyalurkan abu
yang berasal dari Ruang Economizer dan
coal reject dari Pulverizer.
gas flow
Superheater
reheater

econo
mizer

Coal
bunker

EP

Boiler

Coal

furnace
AIR HEATER

Transporter

DDCC

ID Fan
SDCC
mill reject
PULVERIZER

FD Fan
PA Fan

STACK

Bottom Ash System meliputi peralatanperalatan :


3.3.2.1. SDCC / SSC system.
SDCC / SSC adalah peralatan yang
berfungsi sebagai penampung (bak SDCC)
dan penyaluran abu sisa pembakaran yang
berasal dari dalam ruang bakar, Boiler
Economizer Hopper dan coal reject.
SDCC / SSC menampung dan
menyalurkan / memindahkan abu ke
pembuangan terakhir melalui Vibrating
Screen (penyaring), Crusher (penghancur)
dan menggunakan alat angkut ban-ban
berjalan ataupun menggunakan truck. Bak
SDCC / SSC diisi air yang berasal dari
discharge CWP, selain berfungsi sebagai
pendingin abu yang jatuh dari ruang bakar
air dalam bak, juga berfungsi sebagai perapat
ruang bakar agar udara luar tidak masuk
(ruang bakar bertekanan negative).
Agar terjaga level air di bak SDCC,
bak SDCC disupply air secara terus menerus
dan
dilengkapi
pompa-pompa
yang
mensirkulasikan airnya (Cooling water
system), sehingga level dan temperaturenya
tetap terjaga (suhu tidak tinggi).
SDCC dilengkapi service water
supply yang berfungsi sebagai seal bearing
roller SDCC, chain spray SDCC dan seal
bearing Sludge Pump.
Abu dari SDCC/SSC diangkut
dengan ban berjalan (Conveyor-conveyor)
setelah melalui Vibrating Screen dan
Crusher.
Vibrating Screen adalah sebuah alat
yang tak terpisahkan dari SDCC dan system,
yang berfungsi sebagai penyaring abu
bottom ash yang datang dari SDCC yang
akan menuju ke Conveyor, Vibrating Screen
memisahkan material-material (abu Bottom
ash) yang berukuran besar untuk diarahkan
ke Crusher (penghancur) maupun material4

material asing non abu sehingga tidak


merusak Belt Conveyor.
Crusher juga sebuah alat yang dapat
mempengaruhi lancar tidak nya system
SDCC, yang berfungsi sebagai penghancur
abu yang berukuran besar yang tidak lolos
oleh penyaring (Vibrating Screen).

Supply air yang berasal dari CWP


juga men supply bak Sluice Tank.
MILL
REJECT
HOPPER

Boiler Eco. Hopper

BOILER

DDCC
JET
PUMP

furnace

SEA WATER SUPPLY


OVER
FLOW

DISCHARGE
CWP
SLUICE
TANK

Chain
spray

Settling Tank

Bak SDCC

SLUICE PUMP

Seal bearing

Seal bearing

Sludge Pump

Transfer Pump

SERVICE WATER
SUPPLY

SLUICE PUMP

kanal

Gambar 25 : Cooling Water System

3.3.2.3.

Mill Reject System.


Mill Reject System bagian dari
system Bottom Ash System yang berfungsi
menyalurkan coal reject dari Pulverizer.
Coal reject disalurkan ke bak SDCC
dengan bantuan air yang ditekan oleh Sluice
Pump dengan system Jet Pump.
ke SDCC

MILL REJECT
HOPPER

MILL REJECT
HOPPER

SLUICE TANK

ke
mill reject
hopper lain

SLUICE PUMP

SDCC

Sea water
supply dari
DISCHARGE
CWP

SLUICE PUMP

Gambar 26 : Mill Reject System

3.3.2.2. Cooling Water system


Cooling Water system adalah bagian
dari Bottom Ash System yang berfungsi
mencirkulasikan dan menjaga level dan
temperartur air dalam bak SDCC / SSC.
Bak SDCC / SSC disupply air laut
dari CWP, air dari Bak SDCC / SSC
mengalir (over flow) ke Settling Tank. Air di
bagian bawah Settling Tank (berlumpur)
dihisap oleh Sludge Pump dan dialirkan
kembali ke bak SDCC / SSC, pada bagian
atas Settling Tank dihisap oleh Transfer
Pump dan dibuang ke kanal (bersih).
5

4.PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Ash Handling System pada sebuah
PLTU merupakan salah satu sistem
penunjang yang sangat penting untuk
kelancaran jalanya sebuah PLTU,
karena Ash Handling System ini
berperan dalam mengelola abu sisa
pembakaran dalam boiler sehingga
udara yang keluar dari boiler bersih
tidak mengandung abu sehingga
aman bagi lingkungan.
2. Beberapa Jenis Ash Handling System
Fly Ash System
Bottom Ash System
3. Beberapa bagian penyusun dari Ash
Handling System antara lain :
ESP
Transporter/ Transmitter
Transfer Bin/ Buffer Hopper/
Silo
SDCC/ SSC System
Cooling Water System
Mill Reject System
4. Kerja Praktek memberikan wawasan
langsung yang lebih mengenai
Pembangkit Tenaga Uap (PLTU),
Bagian Bagian dari PLTU, Serta
proses proses yang ada pada proses
pembangkitan energi listrik pada
PLTU.
4.2 Saran
Guna untuk memenuhi kebutuhan
listrik yang handal, maka diperlukan pasokan
yang handal pula. Sehingga tercipta
keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan
energi listrik. Maka diperlukan teknologi
yang tinggi dalam proses pembangkitanya.
Namun sisi keamanan juga harus menjadi
prioritas yang tidak bisa ditinggalkan.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Diktat Kuliah Pembangkit Tenaga
Listrik
[2]. Sulasno. Teknik Konversi Energi
Listrik dan Sistem Pengaturan. Graha
Ilmu, Yogyakarta, 2009.
[3]. Abdul Kadir. Pembangkit Tenaga
Listrik (revisi). UIP, Jakarta, 2010.
[4]. http://www.ptpjb.com/
[5]. http://www.google.com/
[6]. http://fege.wordpress.com/2009/11/03/el
ectrostatic-precipitator/

BIODATA
Faisal Aji Syafriarso
(21060110141045)
Lahir di Kudus tanggal 05
Desember 1991. Riwayat
pendidikan
SD
Muhammadiyah I Kudus,
SMP Negeri 2 Kudus, SMA
Negeri 1 Kudus. Pada tahun 2010 penulis
melanjutkan studi di Jurusan Teknik Elektro
Universitas
Diponegoro
Semarang,
konsentrasi Ketenagaan dan saat ini masih
menempuh pendidikan Strata 1 (S-1).
Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr.Ir. Djoko Windarto,MT


NIP.196405261989031002