Anda di halaman 1dari 9

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian


1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif yaitu suatu
pendekatan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data-data
tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati.42 Adapun
bentuk
penelitiannya adalah deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan hanya
bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena dalam
situasi
tertentu.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian dan empiris dalam penelitian sangat diperlukan.
Oleh karena itu sesuai dengan judul skripsi ini, penulis menggunakan
penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif (deskriptif kualitatif).
Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan metode kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.43
Penulis menggunakan penelitian kualitatif karena mempunyai tiga
alasan yaitu: pertama, lebih mudah mengadakan penyesuaian dengan
42
43

Lexxy Moleong, Metode penelitian kualitatif, Bandung, (remaja Rosdakarya, 1990), hal. 3
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 4

69

70
kenyataaan yang berdimensi ganda. Kedua, lebih mudah menyajikan secara
langsung hakikat hubungan antara peneliti dan subjek penelitian. Ketiga,
memiliki kepekaan dan daya penyesuaian diri dengan banyak pengaruh yang
timbul dari pola-pola nilai yang dihadapi.44 Sedangkan menggunakan
pendekatan deskriptif, karena tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis,
tetapi hanya menggambarkan suatu gejala atau keadaan yang diteliti secara
apa adanya serta diarahkan untuk memaparkan fakta-fakta, kejadiankejadian
secara sistematis dan akurat.45 Jadi, melalui penelitian deskriptif ini agar
peneliti mampu mendiskripsikan inovasi kurikulum Total Quality
Management (TQM) yang dilakukan SMA Khadijah Surabaya.
B. Sampel Penelitian
Teknik sampling dalam penelitian kualitatif jelas berbeda dengan yang non
kualitatif.46 Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden,
tetapi
sebagai narasumber, atau partisipan, informan, teman dan guru dalam
penelitian.
Sampel dalam penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistik, tetapi
sampel teoritis karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan
teori.47
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), 41
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2002), 309
44
45

46
47

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 223
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 298

71
Sampling dalam penelitian kualitatif adalah pilihan penelitian meliputi
aspek apa, dari peristiwa apa, dan siapa yang dijadikan fokus pada suatu
saat dan
situasi tertentu, karena itu dilakukan secara terus menerus sepanjang
penelitian.
Penelitian kualitatif umumnya mengambil sampel lebih kecil dan lebih
mengarah ke penelitian proses daripada produk dan biasanya membatasi
pada satu
kasus.48
Dalam penelitian kualitatif teknik sampling yang sering digunakan adalah
purposive sampling dan snowball sampling.
Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan
pertimbangan tertentu. Perkembangan tertentu ini misalnya orang tersebut
yang
dianggap tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai
penguasa
sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi yang
diteliti.
Atau dengan kata lain pengambilan sampel diambil berdasarkan kebutuhan
penelitian.
Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data yang
pada awalnya jumlahnya sedikit tersebut belum mampu memberikan data
yang
lengkap, maka harus mencari orang lain yang dapat digunakan sebagai
sumber data.49
Jadi, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti
mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Caranya yaitu
seorang peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan
memberikan
48
49

Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualiitatif,(Yogyakarta: Rake Sarasia, 1996), 31


Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), 300

72
data yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang
diperoleh
dari sampel sebelumnya itu peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang
dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap.50

Sampling Nonprobability Selain sampling probabilitas, di muka disinggung tentang sampling


nonprobabilitas. Sampling nonprobabilitas merupakan pemilihan sampel yang dilakukan dengan
pertimbangan-pertimbangan peneliti, sehingga dengan tipe sampling nonprobability ini membuat
semua anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota
sampel. Nonprobability sampling dikembangkan untuk menjawab kesulitan yang timbul dalam

menerapkan teknik probability sampling, terutama untuk mengeliminir biaya dan permasalahan
dalam pembuatan sampling frame (kerangka sampel). Pemilihan nonprobability sampling ini
dilakukan dengan pertimbangan: 1). penghematan biaya, waktu dan tenaga; dan 2) keterandalan
subjektivitas peneliti (pengetahuan, kepercayaan dan pengalaman seseorang seringkali dijadikan
pertimbangan untuk menentukan anggota populasi yang dipilih sebagai sampel). Yang termasuk
pada sampling nonprobabilitas adalah convenience sampling, judgement sampling, quato
sampling, dan snowball sampling. Pada convenience sampling (sampling kemudahan), sampel
diambil berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu
dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristiknya, maka orang tersebut dapat dijadikan sampel.
Dengan kata lain sampel diambil/terpilih karena ada ditempat dan waktu yang tepat. Tanpa
kriteria peneliti bebas memilih siapa saja yang ditemuinya untuk dijadikan sampel. Dengan
demikian teknik sampling ini digunakan ketika peneliti berhadapan dengan kondisi karakteristik
elemen populasi tidak dapat diidentifikasikan dengan jelas, maka teknik penarikan sampel
convenience, atau sering juga disebut sampling accidental menjadi salah satu pilihan. Teknik
sampling convenience adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan karena alasan kemudahan
atau kepraktisan menurut peneliti itu sendiri. Dasar pertimbangannya adalah dapat dikumpulkan
data dengan cepat dan murah, serta menyediakan bukti-bukti yang cukup melimpah. Kelemahan
utama teknik sampling ini jelas yaitu kemampuan generalisasi yang amat rendah atau
keterhandalan data yang diperoleh diragukan. Judgement sampling (dikenal juga dengan
purposive sampling) adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan berdasarkan karakteristik
yang ditetapkan terhadap elemen populasi target yang disesuaikan dengan tujuan atau masalah
penelitian. Dalam perumusan kriterianya, subjektivitas dan pengalaman peneliti sangat berperan.
Penentuan kriteria ini dimungkinkan karena peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan
tertentu didalam pengambilan sampelnya. Teknik sampling kuota, pada dasarnya sama dengan
judgment sampling, yaitu mempertimbangkan kriteria yang akan dijadikan anggota sampel.
Langkah penarikan sampel kuota antara lain: pertama peneliti merumuskan kategori quota dari
populasi yang akan ditelitinya melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan ciriciri yang dikehendakinya, seperti jenis kelamin, dan usia. Kedua menentukan besarnya jumlah
sampel yang dibutuhkan, dan menetapkan jumlah jatah (quotum). Selanjutnya, setelah jumlah
jatah ditetapkan, maka unit sampel yang diperlukan dapat diambil dari jumlah jatah tersebut.
Teknik sampling kuota biasanya digunakan bila populasinya berukuran besar. Quota sampling
(jatah) hampir mirip dengan teknik sampling stratifikasi. Bedanya, jika dalam sampling
stratifikasi penarikan sampel dari setiap subpopulasi dilakukan dengan acak, maka dalam
sampling kuota, ukuran serta sampel pada setiap sub-subpopulasi ditentukan sendiri oleh peneliti
sampai jumlah tertentu tanpa acak. Mengapa bisa begitu? Karena pada kenyataannya sering
dijumpai bahwa peneliti tidak dapat mengetahui ukuran yang rinci dari setiap subpopulasi, atau
ukuran antar subpopulasi sangat jauh berbeda. Menghadapi kondisi seperti, maka peneliti dapat
mempertimbangkan penggunaan teknik sampling kuota. Jadi, melalui teknik sampling kuota,
penarikan sampel dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti untuk tujuan meningkatkan
representasi sampel penelitian sampai jumlah tertentu sebagaimana yang dikehendaki peneliti.
Snowball Sampling merupakan salah satu bentuk judgement sampling yang sangat tepat
digunakan bila populasinya kecil dan spesifik. Cara pengambilan sampel dengan teknik ini
dilakukan secara berantai, makin lama sampel menjadi semakin besar, seperti bola salju yang
menuruni lereng gunung. Hal ini diakibatkan kenyataan bahwa populasinya sangat spesifik,
sehingga sulit sekali mengumpulkan sampelnya. Pada tingkat operasionalnya melalui teknik
sampling ini, responden yang relevan di interview, diminta untuk menyebutkan responden

lainnya sampai diperoleh sampel sebesar yang diinginkan peneliti, dengan spesifikasi/spesialisasi
yang sama karena biasanya mereka saling mengenal. Dibandingkan dengan teknik sampling
nonprobabilitas lainnya, teknik ini memiliki keunggulan terutama dalam hal biaya yang relatif
lebih rendah. Kelemahannya adalah kemungkinan bias yang relatif lebih besar karena pemilihan
responden tidak independen (Zikmund, 2000: 362). Berdasarkan uraian di atas tentang sampling
peluang dan non peluang, seorang peneliti dapat dengan bebas menentukan tipe sampling mana
yang akan digunakannya. Tetapi ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan untuk
menentukan tipe sampling yang baik, diantaranya: (1) dapat menghasilkan gambaran yang dapat
dipercaya dari seluruh populasi, (2) dapat menentukan presisi dari hasil penelitian, (3) sederhana,
mudah dilaksanakan, dan (4) dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin tentang populasi
dengan biaya minimal. E. Prosedur Penarikan Sampel Setelah kita membahas pengertian
sampling dan tipe-tipe sampling sebagaimana diuraikan di muka, selanjutnya untuk
memudahkan pemahaman kita tentang bagaimana cara penarikan sampel serta cara memperoleh
sampel yang representatif, akan disampaikan beberapa langkah atau prosedur dalam melakukan
pengambilan sampel. Zikmund (2000), Kuncoro (2003) serta Indriantoro & Supomo (2003)
menyebutkan bahwa dalam melakukan pengambilan sampel, dapat dilakukan langkah-langkah
berikut, diantaranya: (1) Menentukan populasi target, (2) Membuat kerangka sampling, (3)
Menentukan ukuran sampel, (4) Menentukan teknik dan rencana pengambilan sampel, (5)
Melakukan pengambilan sampel. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka langkah-langkah
penarikan sampel dapat kita uraikan sebagai berikut: (1) Pertama yang harus ditentukan dalam
langkah mendesain penarikan sampel adalah menentukan populasi sasaran dengan tegas, yang
dilanjutkan dengan penentuan populasi studi dari populasi sasaran tadi. (2) Menentukan area
populasi, hal ini berkaitan dengan data penelitian yang akan dijadikan lokasi penelitian. (3)
Menentukan ukuran populasi (size of population) sebagai dasar untuk menarik sampel. Biasanya
populasi diambil dari data sensus. Carilah data tersebut secara lengkap, dapatkan data yang
akurat dan up to date. (4) Buatlah kerangka sampling dengan memasukan data dari populasi studi
secara lengkap dan jelas, serta hal yang terpenting adalah satuan-satuan sampling diberi nomor
sesuai dengan jumlah digit populasinya, secara berurutan dari nomor paling kecil sampai dengan
nomor yang paling besar. (5) Tentukan ukuran sampel dengan menggunakan rumus-rumus yang
sesuai. (6) Gunakan tabel angka random ataupun program komputer sebagai alat seleksi. (7)
Satuan sampling terpilih sebagai anggota sampel, merupakan langkah terakhir dari desain
sampling yang pada hakikatnya merupakan cerminan dari populasi. F. Menentukan Ukuran
Sampel Salah satu masalah yang dihadapi dalam teknik penarikan sampel adalah tentang berapa
banyak unit analisis (ukuran sampel) yang harus diambil. Oleh karena itu, pada saat peneliti
mengajukan usulan penelitian, disarankan untuk secara tegas memberikan gambaran operasional
berupa ukuran sampel minimal yang akan digunakan untuk penelitiannya. Ukuran sampel ini
akan memberikan isyarat mengenai kelayakan penelitian (eligibility of the research). Ukuran
sampel bisa ditentukan melalui dua dasar pemikiran, yaitu ditentukan atas dasar pemikiran
statistis, dan atau ditentukan atas dasar pemikiran non statistis. Ditinjau dari aspek statistis,
ukuran sampel ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) bentuk parameter yang menjadi
tolak ukur analisis, dalam arti apakah tujuan penelitian ini untuk menaksir rata-rata, persentase,
atau menguji kebermaknaan hipotesis, (2) tipe sampling, apakah simple random sampling,
stratified random sampling atau yang lainnya. Tipe sampling ini berkaitan dengan penentuan
rumus-rumus yang harus dipakai untuk memperoleh ukuran sampel, dan (3) variabilitas variabel
yang diteliti (keseragaman variabel yang diteliti), makin tidak seragam atau heterogen variabel
yang diteliti, makin besar ukuran sampel minimal. Sedangkan dipandang dari sudut nonstatistis,

ukuran sampel ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) kendala waktu atau time
constraint, (2) biaya, dan (3) ketersediaan satuan sampling. G. Paradigma Penelitian Kualitatif
Dalam praktek penelitian ilmiah, khususnya penelitian sosial, setidaknya terdapat dua
pendekatan untuk menjawab permasalahan penelitian yang timbul sebagai suatu fenomena yang
harus dicari jawabannya, yaitu: Pertama, pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif lahir dari
akar filsafat aliran fenomenologi hingga terbentuk paradigma post positivisme. Pendekatan ini
memandang bahwa realitas sosial yang tampak sebagai suatu fenomena dianggap sesuatu yang
ganda (jamak). Artinya realitas yang tampak memiliki makna ganda, yang menyebabkan
terjadinya realitas tadi. McMillan dan Schumacher (2001:396) menyebut realitas sosial dalam
penelitian kualitatif ini sebagai: ...reality as multilayer, interactive, and a shared social
experience interpreted by indviduals. Dengan demikian dalam penelitian kualitatif, realitas
sosial yang terjadi/tampak, jawabannya tidak cukup dicari sampai apa yang menyebabkan
realitas tadi, tetapi dicari sampai kepada makna dibalik terjadinya realitas sosial yang tampak.
Oleh karena itu, untuk dapat memperoleh makna dari realitas sosial yang terjadi, pada tahap
pengumpulan data perlu dilakukan secara tatap muka langsung dengan individu atau kelompok
yang dipilih sebagai responden/informan yang dianggap mengetahui atau pahami tentang entitas
tertentu seperti: kejadian, orang, proses, atau objek, berdasarkan cara pandang, persepsi, dan
sistem keyakinan yang mereka miliki. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh McMillan dan
Schumacher (2001:395), bahwa: Interactive qualitative research is inquary in which researhers
collect data in face to face situations by interacting with selected persons in their settings (field
research). Qualitative research describes and analyzes peoples individual and collective social
actions, beliefs, thoughts, and perceptions. The researcher interprets phenomena in term of
meanings people bring to them. Kedua, penedekatan kuantitatif, pendekatan kuantitatif ini lahir
dari akar filsafat aliran rasionalisme dan aliran empirisme hingga terbentuk paradigma
positivisme. Pendekatan ini memandang bahwa realitas sosial yang tampak sebagai suatu
fenomena dianggap sesuatu yang tunggal. Ciri yang paling nampak dari penelitian kuantitatif
adalah digunakannya metode statitika sebagai alat analisis. Copy the BEST Traders and Make
Money : http://bit.ly/fxzulu
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Teknik Pengambilan Sampel Pada Penelitian Kualitatif


Selain istilah probability sampling dan non-probability, dikenal pula istilah khusus
dalam pengambilan sampel penelitian kualitatif. Prinsip penelitian kualitatif adalah pada upaya
menggambarkan dinamika sejumlah kecil informasi, lalu kemudian mendalami informasi dari
mereka. Metode pengambilan sampel yang representative tentuny tentunya juga tidak perlu
terlalu diperhitungkan, karena itu sampelnya sering disebut sebagai purposive sampling.
Beberapa teknik pengambilan sampel penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :
1. Extream Case Sampling

Pada model ini, peneliti memilih dua kelompok atau lebih yang berbeda secara ekstrim, misalnya
dari kelompok yang berbeda secara ekstrim, misalnya dari kelompok yang kaya dan kelompok
yang miskin. Dengan membandingkan dua kelompok yang ekstrim ini, maka peneliti bisa
mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang dipehatikan atau menjadi penentu dari keadaan
kesehatan kedua kelompok.
2. Maximum Variation Sampling
Penenliti ingin mendapatkan informasi menyeluruh dari seluruh kemungkinan kelompok yang
mungkin mengalami masalah kesehatan, harus mengumpulkan data yang menggunakan
maximum variation sampling. Jika misalnya seorang peneliti ingin melihat dampak pengobatan
pada pasien TB, maka peneliti harus menyertakan pasien yang sedang berobat, termasuk juga
yang sudah sembuh. Jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai stigma penyakit AIDS
di masyarakat, yang harus diteliti bukan hanya kelompok terdidik-tidak terdidik, tetapi juga
mungkin yang tinggal di desa-kota, perempuan-laki-laki, dan atau kelompok-kelompok lain.
3. Homogenous Sampling
Jika peneliti ingin memperoleh informasi hanyaa dari satu kelompok saja, dimana sebuah
masalah ingin diketahui penyebab atau akibatnya, maka teknik ini bisa digunakan. Jika peneliti
misalnya ingin mengetahui mengenai kebiasaan merokok lebih banyak pada laki-laki, maka
peneliti bisa mengkonsentrasikan penelitiannya pada kelompok ini saja.
4. Typical Case Sampling
Teknik ini mengasumsikan bahwa beberapa kelompok memiliki masalah khusus yang khas.
Misalnya pada perempuan yang menyusui, perlu diteliti khusus perseoalan yang dialami oleh
mereka yang berkerja. Mereka yang berkerja barangkali memiliki persoalan khusus yang tidak
sama dengan mereka yang tidak berkerja, dalam hal menyusui. Atau, persoalan perilaku
lingkungan yang mungkin hanya ada pada keompok yang bertempat tinggal di wilayah tertentu.
Hail-hal ini diperlukan untuk melihat ke-khasan masalah yang mereka hadapi.
5. Critical Case Sampling
Dalam teknik ini, penelitian dilakukan hanya pada kelompok kritis yang kemungkinan besar
adalah kelompok yang paling sulit di ubah. Jika kita ingin meluncurkan sebuah program
kampanye ASI misalnya, maka uji coba dilakukan terlebih dahulu pada kelompok ibu-ibu yang
tidak berpendidikan dan bertempat tinggal jauh dari jalan raya, karena mereka adalah kelompok
yang kemungkinan sulit mencari perubahan.

6. Snowball or Chain Sampling


Pendekatan teknik ini menggunakan beberapa orang informasi saja terlebih dahulu untuk
kemudian memberikan informasi mengenai informasi lain yang mungkin dapat memberikn
informasi baru atau tambahan.

Besar sampel
Besar sampel merupakan perkiraan jumlah subyek yang dapat di gunakan penelian yang dapat
mewakili seluruh populasi.besar sampel dapat di muali dari yang tekcil hingga yang besar.
Besarnya seluruh populasi dapat diketahui dari besar nya sample yang digunakan dan
sebalinya,apabila mencari besar populasi dari besar sample adalah sebagai berikut: jumlah kasus
atau jumlah sample yang di gumnakan dalam penelitia di bagi dengan ukuran besar sampel,maka
akan di peroleh jumlah populasi.contoh jika 5% dari remaja laki- laki yaitu sebesar 30
orang,maka besar populasi adalah 30 0,05 = 600 orang.dan sebaliknya maka besar samlple
dapat di ketahui bahwa persetase sample yang digunakan di kalikan dengan total populasi,contoh
terdapat besar populasi adalah 600 casses,peneliti akan menggunakan sampel sebesar 5% maka
besar sampel adalah 0,06 x 600= 30. Di samping itu peneliti juga dapat menggunakan table
creckji
They advise (ibid.: 186) that sample size has
to begin with an estimation of the smallest
number of cases in the smallest subgroup of the
sample, and work up from that, rather than
vice versa. So, for example, if 5 per cent of the
sample must be teenage boys, and this sub-sample
must be thirty cases (e.g. for correlational
research), then the total sample will be
300.05=600; if 15 per cent of the sample must
be teenage girls and the sub-sample must be
forty-five cases, then the total sample must be
450.15=300 cases. (research methods in education)
Questions about whether qualitative data can constitute evidence, and about
how the quality of qualitative research can be judged, are particularly fraught
ones. This is partly because some of the philosophical approaches informing
qualitative research are explicitly anti-positivist, anti-realist or anti-modernist,
and yet it is from these methodological traditions that criteria for evaluating
research and evidence have been conventionally derived. As a consequence, the
established measures of validity, generalizability and reliability for assessing the

quality, rigour and wider potential of research, and indeed the very idea of such
scientific criteriology, are sometimes seen as irrelevant or anathema to the
qualitative research endeavour (Denzin and Lincoln, 1998; see Seale, 1999, for
a good discussion). From this perspective, the concept of evidence itself is problematic,
suggesting as it does a neutral body of data which speaks the objective
truth.
However, I do not think that the broad ideas which lie behind some of the
key principles of scientific criteriology are necessarily problematic in themselves.
The difficulties come if we try to apply the technical procedures which have been
derived from the broad ideas and principles directly to qualitative research. So, for example,
the concept of validity is a useful one. If your research is valid, it means
that you are observing, identifying or measuring what you say you are. In my
example of research into inheritance, we would need to be able to show that our
data on and analysis of, for example, ideas, norms and negotiations about inheritance really
did relate to these concepts. Validity is often associated with the
operationalization of concepts, a term more commonly associated with quantitative and
experimental forms of research, but nevertheless one which encapsulates
the idea that you need to be able to demonstrate that your concepts can be identified,
observed or measured in the way you say they can. You therefore need to
work out how well a particular method and data source might illuminate your
concepts, whatever they are.
Similarly, the broad concepts of generalizability and reliability are useful.
Generalizability involves the extent to which you can make some form of wider
claim on the basis of your research and analysis, rather than simply stating that
your analysis is entirely idiosyncratic and particular. There is a variety of ways in
which generalizations can be made in qualitative research, using different sets of
principles and logic, and these are discussed in Chapter 9. In the early stages of
planning your research you will need to ensure that you are thinking about the
basis on which you can make general claims, as well as what kinds of general
claims your research questions might imply. For example, do you wish to make
claims which can be applied to whole populations, empirically? While this is not
commonly an aim of qualitative research, you may well wish to derive cross-contextual
generalities from strategically focused local/contextual studies. You may
wish to make claims that have a wider theoretical resonance. These may or may
not be based on how representative, in empirical terms, your sample is. Overall,
you will need to engage fully and actively with these questions about generalization.
Reliability involves the accuracy of your research methods and techniques.
How reliably and accurately do they produce data? How can you maximize their
reliability? Research in the quantitative tradition often relies upon standardization
of research instruments or tools, and upon cross-checking the data yielded by
such standardized instruments and by different sets of instruments which are
designed to measure the same thing in order to check reliability. Qualitative
researchers, as we shall see in subsequent chapters, are highly sceptical of the value
or feasibility of such standardization, and indeed of the very concept of research
instruments (implying as it does that such instruments can be neutrally applied),
but do nevertheless have to think carefully about the accuracy of their methods in
what may be distinctively qualitative terms.(mason,2002

The researcher, of
course, must take pains to report this point
that the parameters of generalizability in this
type of sample are negligible. A convenience
sample may be the sampling strategy selected
for a case study or a series of case studies

Anda mungkin juga menyukai