Anda di halaman 1dari 25

REFORMASI GEREJA

(Munculnya Protestantisme)
PENGANTAR
Dalam sejarah perjalanannya, Gereja bukan hanya memperlihatkan keberhasilan dan kesatuan
seperti yang dapat dilihat dan dirasakan seperti saat ini. Di dalamnya terdapat sejumlah konflik,
pergulatan, dan perpecahan (memiliki sejarah). Dalam masa praksis hidup menggereja dan
teologinya, masa depan Gereja dipertaruhkan dalam kurun waktu yang relatif lama. Sejarah Gereja
yang panjang ini memiliki tahap-tahap yang berbeda dalam masanya. Tahap-tahap ini dapat disebut
sebagai reformasi di dalam Gereja. Gereja pada awal masanya telah berhadap-hadapan langsung
dengan kebudayaan dan berbagai aliran agama. Komunitas gerejawi juga berkonfrontasi dengan
kebijakan dan otoritas pemerintah dalam kasus penganiayaan dan struktur kepemimpinannya.
Berikut juga akan diperlihatkan secara garis besar sejumlah tokoh utama reformasi yang tidak
sejalan dengan pemikiran Gereja Katolik Roma. Munculnya reformasi ini dipicu oleh berbagai
macam situasi, mulai dari politik, nilai-nilai moral yang buruk, dogma, dll. Hal tersebut
memperlihatkan

pergumulan

dan

dinamika

yang

hidup

dalam

ikhtiar

Gereja

untuk

mempertanggungjawabkan ajaran dan rumusan-rumusan iman dan memperbaharui diri..


Pengalaman pada masa silam memperlihatkan bahwa orang terseret dalam alam pikiran yang
sempit dan ekstrim, ketika ia secara berlebihan mengandalkan pada daya nalar insani belaka dan
mengesampingkan misteri ilahi; bahkan yang Ilahi terkadang hanya diterangkan dengan premispremis logika dan intelektualistis. Selain itu pemikiran yang berat sebelah dalam menekankan
paham tentang ajaran dan penafsiran Kitab Suci seperti yang akan di bahas dalam masa
Protestantisme dalam karya tulis ini.
Masa-masa yang sulit dalam perkembangan sejarah Gereja dapat dikatakan mencapai puncaknya
dalam reformasi Gereja. Dalam masa inilah Gereja terpecah baik dalam struktur organisasinya,
ajaran imannya, tata cara ibadatnya, dll. Dalam karya tulis ini, masa reformasi Gereja akan menjadi
bagian yang paling inti. Karya Tulis ini mengantar pada pemahaman akan sejarah perkembangan
Gereja yang lebih baik untuk memasuki pokok dari reformasi Gereja.
BAB I
FAJAR REFORMASI
A. Kemerosotan Nilai Hidup yang Membawa Pada Pembaharuan[1]
Sebagaimana kehidupan gerejawi pada saat reformasi Gereja, demikian pula tarekat-tarekat religius
dalam periode itu seakan memikul beban tak tertanggungkan lagi, yang bermuara pada dekadensi.

Tarekat-tarekat tua selainChartusian dan sebagian Cistersiensis terlalu sedikit memberikan


jawaban pada apa yang seharusnya mereka berikan. Hal ini antara lain disebabkan oleh kelekatan
pada kekayaan biara; peperangan berkelanjutan di lingkungan sekitar biara dan pembalikan nilainilai telah menyebabkan relaksasi disiplin religius dan ilmiah sistem per-pajakan yang sangat
mengikat. Regula (Anggaran Dasar) dilaksanakan dengan tanpa kesetiaan dan bakti; previleseprevilese yang ditebar oleh pejabat Gereja menambah merosotnya nyali kebiaraan.
Sejumlah pertapaan Benediktin seperti St. Gallo, Fulda, Reichenau, Ellwangen secara
bertahap berubah menjadi tempat-tempat yang mendukung gaya hidup para bangsawan, dan
menerapkan model kehidupan yang serba bebas, sebagaimana hidup para bangsawan zaman itu.
Para kanonik regular pun telah melepas semangat askese, bahkan di antara anggota
Tarekat Mendicantestidak lagi ditemukan semangat asali (saudara-saudara pertama). Larangan
untuk memiliki harta pribadi tinggal tetap di atas kertas dan sering kali imam-imam sekular (dengan
dalih reksa rohani dan pastoral) kehabisan idealisme pelayanan dan merosot menjadi tuan-tuan
yang bejat.
Kasus yang sangat menarik terjadi di kalangan para Fransiskan, yang mengalami konflik
internal dan sejumlah anggotanya melawan Paus Yohanes XXII yang dicap Anti-Kristus Demikian
pula dalam Tarekat Carmelit. Ada dua aliran: yang satu lebih keras, yang lain lebih moderat.
Sebagaimana tarekat yang lain, Carmelit pun terbelah menjadi dua kelompok ketika skisma besar
Barat berlangsung. Sejumlah komunitas menolak Regula Eugenius IV (1431) yang mau memuaskan
semua pihak. Sejak saat itu berkembang dua kelompok yang berbeda dari semangat yang sama:
Carmelit Observan dan Carmelit Conventual. Tarekat Ksatria, dengan jatuhnya Tanah Suci ke tangan
pasukan ekspansi Islam, telah kehilangan tujuan utama untuk apa tarekat didirikan. Tentu saja,
mereka

masih

dapat

bermanfaat

untuk

rnenyelesaikan

sejumlah

persoalan

di

Barat.

Ketidaksepakatan antara Tarekat Templar dan Hospitaller (St. Yohanes) di Palestina lebih banyak
merusak situasi Kekristenan daripada sebaliknya.
Pada akhir abad XIII ada tekanan untuk menjadikan dua tarekat itu menjadi satu. Apalagi
Konsili Vienne (1309-1311) di Francis telah mendorong dibubarkannya secara tragis Tarekat
Templar atas desakan Raja Philips IV. Sejumlah besar kekayaan dialihkan ke Tarekat St. Yohanes.
Kekayaan di Spanyol tetap dikelola oleh kelompok kesatria yang jumlahnya tidak seberapa;
sementara yang di Portugal diserahkan pada Tarekat Militia Jesu Christi (Milisi Yesus Kristus).
Pusat utama Tarekat St. Yohanes (Hospitaller) sejak 1310 berada di llodi. Karena itu orang
menyebutnya Kesatria dari Rodi. Dua abad berikutnya, mereka ini dibutuhkan kembali dalam
ikhtiar Eropa membendung pasukan Turki yang melakukan agresi militer memasuki wilayah Kropa
Kristen. Ketika (1522) pulau yang telah mereka pertahankan secara heroik dirobek-robek oleh

pasukan Sultan Soliman II, dari 1530-1798, pemimpin Agung Tarekat berdiam di Malta. Dari sinilah
nama itu bertahan sampai dewasa ini Tarekat Ksatria dari Malta.Reformasi Protestantisme dan
sekularisasi kemudian menyebabkan kerugian yang tidak ternilai bagi tarekat, dan tinggal segelintir
saja yang bertahan hingga hari ini.
Sejumlah kemerosotan dalam hal disiplin di sebagian besar hidup kerahiban memancing dan
menghasilkan serial usaha reformasi. Reformasi dalam Gereja sangat disuburkan bukan oleh teori
dan orasi, melainkan oleh praksis iman yang radikal dan total para perempuan heroik seperti
Catharina Siena (1347-1380), Catharina Bologna (1463), Catharina Genova (1510), Brigita Swedia
(1303-1373), Yuliana Norwich (1414). Selain itu, Paus Benedictus XII (sebelumnya adalah rahib
Cistersiensis) mendorong berlangsungnya pembenahan (1335) Kanonik Reguler St. Augustinus
(1339) dan mendesak diadakannya kapitel umum, kunjungan kanonik (yang ditetapkan oleh regula
tarekat), dll. Di sejumlah wilayah berdiri tarekat-tarekat baru, yang umumnya menyikapi kelesuan
dan dekadensi dalam Gereja. Misalnya: Kongregasi St. Yustina (Padova), 1412. Hal yang sama
muncul di Valladolit (Spanyol), 1390; di Kastl (di Oberpfals, Jerman), 1380, Petershausen, 1417,
Bursfeld di Gottingen (1434). Akan tetapi, di antara tarekat-tarekat religius yang berkembang pesat
adalah Fratres vitae communis atau Fraterherren, yang diinspirasikan oleh Gerard Groote (13401384). Pada usia 35-an, Groote meninggalkan hidup duniawi, melepaskan segala hak waris,
rnenjalani hidup dalam permenungan yang intensif, dan akhirnya ditahbiskan menjadi diakon.
Dengan izin dari Uskup Utrecht, Groote mengabdikan diri dengan penuh ketekunan dan kerajinan
pada pewartaan tentang pertobatan serta pembaruan religius masyarakat dan paraklerus. Tetapi
tidak lama kemu-dian muncul permusuhan terhadap dirinya, yang memaksanya menarik diri ke
kota asalnya, Deventer. Di sinilah bersama dengan teman dan murid-murid yang memiliki ide yang
sama dengan dirinya, Groote memimpin hingga akhir hidupnya sebuah komunitas doa, studi, dan
pengajaran. Pada awal abad XV komunitas ini mendapat izin resmi dari Uskup Utrecht. Segera gaya
hidup komunitas ini menyebar di sejumlah kota di Belanda (terutama di Zwolle) dan Jerman Barat
Daya.
Komunitas Fraterherren ini hidup dari pekerjaan tangan, khususnya menyalin buku-buku
liturgi dan buku-buku pelajaran. Mengembangkan misi populer, dengan kepedulian terhadap
pendidikan pada orang muda dan calon imam, selain melakukan publikasi buku-buku serta
pelestarian humanisme ningrat dalam sekolah-sekolah mereka. Di bawah bayang-bayang Groote,
yang dipengaruhi oleh Meister Eckhart (meski tidak sepenuhnya mengikuti nasihat rohaninya) dan
dalam relasinya yang akrab dengan seorang mistik Flamingo, J. van Ruysbroeck, para murid Groote
mengolah suatu bentuk devosi yang hangat dan batini, yang dikenal dengan sebutan Devotio
moderna, yang memberikan tekanan utama pada hal mengikuti Kristus dan latihan mistik.

Fraterherren acap kali dimusuhi oleh para Mendicantes karena motto mereka, extra
religionem religiose vivere (di luar agama hidup secara religius), mereka itu memperkenalkan
hidup klausura (pingitan) dengan tidak mengucapkan kaul religius sebagaimana biasanya kaum
religius. Untuk ini rumah-rumah mereka dibangun dengan ilham dari Regula Augustinae. Bentuk
inilah yang menjadi daya dorong bagi reformasi Kanonik Reguler St. Augustinus, yang pada 1430
memiliki 37 biara, dan akhir 1399 mempunyai 84 biara. Di antara biara-biara Agustinian yang paling
masyhur adalah biara Agnetenberg di Zwolle, di mana pernah hidup dan berkarya Beato Thomas
Hemerken Kempen, pengarang De Imitatione Christi (1420-1424), sebuah buku yang paling
diminati orang Kristen. Buku inilah yang paling banyak dicetak dan diterjemahkan ke dalam bahasabahasa lain setelah Kitab Suci (lihat Thomas a Kempis, 1978).
Thomas H. Kempis dikenal pula sebagai wakil utama devosi baru. Devosi ini pada prinsipnya
merupakan upaya nyata dan praktis untuk menghidupkan kembali sekaligus memperdalam
kehidupan spiritual, yang sejak akhir abad XIV berkembang dan tersebar di Negeri Belanda hingga
wilayah-wilayah Jerman, Francis, dan Italia. Devosi ini menekankan secara proporsional kehidupan
batin setiap pribadi beriman dan mendorong dilakukannya meditasi metodik, seperti misalnya
tentang kehidupan dan penderitaan Yesus Kristus. Para pemandu spiritual devosi ini acap kali
dipribadikan dalam Augustinus (Uskup Hippo), Bernardus (llairvaux, Bonaventura.
Minat akan hal-hal ilmiah pada abad XTV dan XV dapat digeneralisasikan: masih tinggi.
Hal ini terlihat dalam munculnya sejumlah universitas baru. Di Jerman, sampai dengan 1517,
terdapat 16 perguruan tinggi, yang memang mendominasi kehidupan intelektual negeri tersebut.
Tidak

kurang

jumlah

ilmuwan

yang

mangembangkan

kemampuannya

untuk

mencapai

perkembangan-perkembangan baru. Tetapi jika melihatnya secara umum, kita akan berkesimpulan:
kemampuan berkreasi para skolastik mulai memperlihatkan gejala-gejala penurunan. Kurangnya
orisinalitas dan banyak skolastik hanya mengulang-ulang pandangan para maestro mereka. Studi
tentang Kitab Suci dan warisan para bapak Gereja tidak terjamin lagi, tetapi pendekatan (pemikiran)
dialektik dan logis semakin digemari. Lahirnya nominalisme tepat pada awal periode ini, yang
menyebabkan ilmu pengetahuan teologi mengalami suatu krisis besar, yang berlangsung hingga
lahirnya gerakan Protestantisme.
Nominalisme merupakan aliran pemikiran teologis, yang berkembang, tetapi praktis
merupakan reduksi terhadap paham-paham yang bersifat universal, yang selama ini menjadi objek
pemikiran,

menjadi

tanda-tanda

yang

kosong,

tidak

berarti

dan

tinggal

sebuah

kata

saja (nomina). Dengan demikian segala sesuatu yang dapat diperlihatkan dan secara rasional
memiliki dasar-dasar yustifikasi tidak dapat diukur atau dihitung, terutama iman dipertanyakan.
Sejalan dengan garis ini segera tiba sebuah afirmasi pada kebebasan absolut Allah dan pewahyuan

yang tidak dapat diverifikasikan, sehingga halnya akan sampai pada arah yang berbeda hingga
prinsip kebenaran ganda. Maksudnya, sesuatu dapat dikenali sebagai benar oleh iman, (dan)
kendati bertentangan dengan akal budi.
Sosok yang mewakili alam pikiran ini adalah William Ockham (1285-1349), seorang
Fransiskan dari Inggris (Goddu, 1994:231-310; Merino, 1993:341-435), yang dihormati dengan
gelar Doctor invincibilis et Venerabilis Inceptor (atau doktor yang tak terkalahkan dan pencetus
yang terhormat). Gelar terakhir ini(Venerabilis Inceptor) tidak menunjuk pada perannya sebagai
pemrakarsa sekolah nominalis, melainkan mengacu pada kenyataan bahwa Ockham lantaran
konfliknya dengan Takhta Suci tidak dapat melanjutkan karir akademiknya, tetapi memperoleh dari
Universitas

Oxford bachaloreat

(inceptor), pemula,

tanpa

pernah

mencapai

magister.

Kepeduliannya antara lain adalah ingin membebaskan Gereja dari absolutisme kekuasaan politik
(yang mempribadi dalam jajaran pemimpin seperti Yohanes XXII). la hidup dan berpikir dalam
konteks eksistensial dari separasi nyata antara iman dan akal budi, filsafat dan teologi, teologi dan
politik, Gereja dan Negara. Sejak 1329 Ockham tinggal di Munchen. Selain menjadi pendukung setia
Ludwig dari Bavaria, yang diekskomunikasi Sri Paus, ia sendiri juga musuh Paus Yohanes XXII
dalam persoalan tentang teori kemiskinan. Apakah sebelum kematiannya karena penyakit pes, ia
rujuk dengan Gereja dan tarekat Fransiskan, tidak serba jelas. Seturut legenda, Ockham pernah
berkata kepada Ludwig Bavaria (1314-1347), O imperator, defende me gladio, et ego defendam te
verbo. Artinya, ya kaisar belalah saya dengan pedang, dan saya akan membela paduka dengan katakata.
Ockham yang merupakan sosok terbesar terakhir dari era skolastik dan dalam waktu yang
sama sosok pertama zaman modern, menyebarluaskan dan mematangkan doktrin nominalisme.
Karakter umum kriterialoginya adedahanti metafisika. Menurut Ockham, alam semesta tidak
memiliki apa-apa kecuali jiwa yang ia pandang bukan entitas nyata. Alam semesta semata-mata
adalah gambaran dari pikiran atau hal-hal singular (conceptus mentis). Secara historis lebih
pentinglah kenyataan ini: seraya meninggalkan setiap yustifikasi iman oleh pihak akal budi, Ockham
meruntuhkan penopang kokoh iman itu sendiri. Pada dasar kepercayaan nominalistik terbujur
pandangan ini: konsep-konsep dan realitas itu samasekali terpisah, sehingga sebuah metafisika
tentang ada itu tidak mungkin. Konsekuensinya: tidak mungkin ada pengetahuan alami tentang
Allah. Ockham memperlihatkan bahwa bukti-bukti yang umum tentang Allah bukanlah logika.
Dalam kenyataannya, Ockhamisme tersebar luas di I nggris, Francis, dan Jerman dalam abad
XIV-XV, terutama di universitas-universitas terkenal zaman itu seperti Oxford, Paris, Winn,
Kriurl,Basel, Freiburg dan Tubingen. Persaingan antara dua jalan: via moderna (nominalisme,
terministae, conceptistae) dan via antique (realisme, realis) memenuhi kurun waktu tersebut.

Dengan separasi yang berlebihan antara iman dan ilmu pengetahuan, nominalisme mematangkan
persiapan dan jalan bagi para pembaru keagamaan abad XVI. Martin Luther belajar banyak dari
Ockham (sum Occamicae factionis). Perlu dikatakan, skolastik yang konservatif dan klasik terbagi
dalam pelbagai kelompok sekolah: Thomis, Scotis, Augustin. Seorang Dominikan, Durando dari St.
Porciano, profesor teologi di Paris dan Avignon, kemudian dijadikan uskup di Le Puy dan Meaux,
yang disebut Doctor modcrnus, atau juga Doctor resolutissimus, kendati anti-tomistik tidak didaftar
dalam bilangan nominalistik. Sebab ciri khas pemikirannya adalah platonis-augustinian. Sementara
itu, Gregorius Rimini(Doctor authentic), general Tarekat Augustinian, Yohanes Bridano (rektor
Universitas Paris 1327, 1348), Albertus Saxonia, Marsilio Inghen, Henrich Langenstein dinyatakan
sebagai ockhamistis.
Fajar Reformasi di dalam Gereja abad XVI sebenarnya juga dimeriahkan oleh tampilnya para
reformator anti Gereja abad XV (Lea, 1962:43-55). Mereka itu adalah Jan (Pupper) Goch; Johannes
(Ruchrat) Oberwesel dan Wessel Gansfort. Goch berpandangan bahwa hanya kebenaran-kebenaran
religius saja yang diperlihatkan dalam Kitab Suci. la berjuang melawan paham yang mengatakan
bahwa kaul para biarawan memiliki arti khusus, meski ia tidak sampai menghilangkan status religius
yang de facto ada. Johannes Ruchrat dengan tegas menyatakan: prinsip sola scriptura (hanya Kitab
Suci sumber kebenaran. Sebab di sanalah dinyatakan penyingkapan Diri Allah kepada manusia). la
menentang indulgensi, menolak ajaran tentang dosa asal, perminyakan suci tidak dipandangnya
sebagai sakramen. la kemudian dicopot dari jabatan uskup Worms, 1477, lalu beralih ke Mainz
(sebagai pastor paroki), tetapi kemudian diseret ke pengadilan inkuisisi dengan tuduhan ada
hubungan dengan para pengikut Huss (di Bohemia).
Kemudian karena ia bersedia menarik semua kesalahannya, lalu ia dihukum dengan tinggal di
biara Augustinian di Mainz sampai ia wafat. Gansfort, seorang awam dari Groningen, dihormati oleh
para pengagumnya sebagai Lux Mundi (Terang Dunia). Oleh para lawannya (skolastik) dia
disebut Magister Contradictionum.
Faktor lain yang perlu dicatat berkenaan dengan fajar Reformasi Protestantisme adalah
munculnya krisis religius. Tentu hal itu tidak perlu meniadakan sejumlah prestasi seperti khotbah
para imam dan religius yang membangkitkan kesalehan religius, bangunan-bangunan (seni religius
dalam bidang arsitektur) yang sangat indah, munculnya fondasi-fondasi untuk pelayanan demi
penyembuhan jiwa-jiwa, remedium animae, lahirnya konfraternitas yang berperan pada kultus,
lembaga-lembaga sosial karitatif, karya-karya tulis dan katekese yang tak tertandingi, penyebaran
Kitab Suci, drama-drama religius, lagu-lagu Gereja, tersebarnya latihan-latihan rohani, devosi dan
doa-doa seperti rosario, angelus, jalan salib, keikutsertaan umat dalam pelayanan Gereja, gairah

untuk mendapat indulgensi dan ziarah, meningkatnya kultus kepada orang suci dan barang-barang
suci seperti relikui.
Tetapi memang tidak dapat disangkal bahwa pada saat itu berkembang pula penyalahgunaan
khotbah-khotbah demi menebarkan indulgensi, ziarah-ziarah yang nyaris menjadi virus, dalam
semangat avontur. Tersebar luas kepercayaan akan takhayul, gugon-tuhon (kepercayaan siasia), magia, astrologia, ilmu hitam(santet), dukun, sihir, nujum, peramal. Pada umumnya,
kepercayaan akan setan ditafsirkan dan disebarluaskan dengan gambar-gambar, yang kadangkadang berlebih-lebihan demi menciptakan jiwa yang takut akan Allah dan terror.
Dalam kehidupan moral, terasa ada kekurangan besar berkaitan dengan otoritas gerejawi dan
sipil yang sudah sangat merosot, suasana tidak aman, tidak ada kepastian hukum, penggunaan
kekerasan, penipuan, riba, pelacuran. Sementara itu, terlalu banyak klerus hidup tidak sesuai
dengan panggilan mereka, kehidupan duniawi terlalu merasuk dalam Curia, korps kardinal, bahkan
para paus di Roma. Orang-orang Gereja itu memburu kekayaan danmengumpulkannya. Banyak
tarekat religius dan pertapaan mengalami kemerosotan. Klausura dan regula kemiskinan nyaris
tidak lagi dilaksanakan. Adalah sangat signifikan ke-nyataan bahwa pada saat meletusnya Reformasi
Protestan, sejumlah besar anggota tarekat religius yang tidak merasa bahagia dan kecewa
menemukan pintu keluar dari biara dengan membuang ke kakus semua kaul-kaul religius.
Meski segala kekalutan dan situasi buruk menerjang Gereja, namun Roh Tuhan, yang tidak
pernah meninggalkan Gereja, menyelamatkan juga dari situasi mengerikan ini seraya memberikan
kehidupan baru. Dalam rahim Kekristenan masih ada di mana-mana kekuatan-kekuatan perawan
dan kudus yang menjadi sumber penyehatan dan pengudusan. Umumnya kekuatan itu berasal dari
wilayah Latin, terutama Mediteran, yakni Italia dan Spanyol, Negara terakhir ini selain memiliki
semangat penaklukan kolonial yang berawal dengan ekspedisi fantastis yang dikepalai oleh
Christoforus Columbus, juga menjadi negara Katolik yang sedang datang. Perjuangan panjang
Spanyol untuk mengusir orang-orang Muslim, yang memuncak dalam perebutan kembali Granada,
1492, telah memberi sinyal akan bangkitnya semangat Kekristenan yang menuntut untuk selalu
diperhitungkan, nyaris fanatik, yang mempersekutukan para bangsawan (priyayi) dan rakyat jelata.

BAB II
TOKOH-TOKOH REFORMASI GEREJA
A.

Alasan-alasan Munculnya Reformasi Protestantisme[2]

Ada sekurang-kurangnya empat alasan munculnya Reformasi Protestantisme. Alasan-alasan


itu sangat kompleks dan oleh karena itu tidak dapat disederhanakan, misalnya hanya menyangkut
kebejatan moral kepausan.
Alasan pertama yang mungkin bagi munculnya Reformasi Protestantisme adalah
nasionalisme dan bangkitnya negara-negara nasional. Contoh yang paling mencolok adalah
benturan frontal yang tidak terelakkan antara Paus Bonifatius VIII dan Raja Philips. Yang
dimaksudkan dengan nasionalisme di sini adalah tumbuhnya kesadaran sebagai nasion dari
sejumlah bangsa (yang berarti negara-negara) di benua Eropa.
Alasan kedua yang mungkin adalah ketidakpuasan dan kekacauan di bidang ekonomi.
Pada kurun waktu Reformasi, penghuni Eropa berjumlah sekitar 65 hingga 80 juta jiwa. Sistem
ekonomi yang berlaku adalah kapitalisme. Kelas borjuis, yang sering dianggap sebagai pelaku
ekonomi kapitalis, berkembang di kota-kota. Mereka ini tetap memegang peranan ekonomis sejak
abad-abad terakhir Zaman Pertengahan. Teknologi baru di bidang pertambangan, perkapalan dan
percetakan menyegarkan ekonomi. Tetapi tatanan perekonomian yang demikian menimbulkan
sejumlah ketidakpuasan sekaligus kesenjangan dalam masyarakat pada umumnya. Para bangsawan
(rendahan) semakin tidak mempunyai tempat dalam masyarakat yang mengalami erosi feodalisme.
Sementara itu, kebanyakan orang tetap tinggal buta huruf. Para petani, khususnya di Jerman, adalah
kelompok yang diperalat dan yang mencari perbaikan hidup melalui ekonomi uang. Kedua
kelompok (bangsawan rendahan dan kaum tani) ini sangat rentan terhadap tendensi revolusioner.
Kedua-duanya juga berperan bagi lajunya Reformasi Lutheran dan munculnya tradisi Anabaptis.
Alasan ketiga yang mungkin adalah kelemahan kepausan. Ada sinyalemen yang
memperlihatkan bahwa sejak 1300, suksesi dalam rangka kepausan mencapai ambang kejenuhan.
Sejumlah peristiwa membuktikan sinyalemen tersebut, misalnya Masa Kepausan di Avignon, 13051377; Skisma Besar Gereja Barat, ketika dalam kurun waktu yang sama Gereja dipimpin oleh 3 (tiga)
paus secara serentak, 1378-1417; Konsiliarisme, 1409-1460; Gagasan-gagasan para Reformator yang
sangat berjasa, seperti Wycliffe dan Huss; para Paus yang berpola hidup borjuis. Selain itu Kepusan
membiarkan lewat begitu saja reformatio in capite et membris (pembaruan dalam diri pimpinan
dan anggota Gereja), yang sudah diserukan agar dilaksanakan (seruan Konsili Konstanz, 1414-1417).
Lebih buruk lagi adalah kualitas dan moral para prelat dan hierarki dalam tata pemerintahan Kuria
Roma, kemewahan dan nepotisme (misalnya beberapa saudara dekat dari paus, kendati masih
sangat muda dijadikan kardinal. Paus Sixtus IV mengangkat 6 (enam) saudara dekatnya untuk
dijadikan kardinal, di antaranya Kardinal Petrus Riario yang mati karena tidak mengontrol diri
dalam makan, minum, dan nafsu syahwatnya. Usianya hanya 28 tahun. Innocentius VIII sebelum
dipilih jadi paus sudah mempunyai sejumlah anak haram yang diketahui umum).

Tentu saja, borok dan kebusukan para pemimpin Gereja tidak dapat disangkal. Situasi
semacam ini de facto menyuburkan sikap berontak Irrhadap lembaga Gereja yang dipimpin orangorang yang tidak becus dan bermoral bejat, dll. Upaya mereformasi Gereja sebenarnya hendak
mengangkat pembaruan dalam Gereja yang tidak saja menyangkut adat kebiasaan (luaran), tetapi
juga dan terutama dalam dogma serta struktur gerejawi. Bagi Luther, dosa para rohaniwan adalah
mengkhianati kebenaran. Singkatnya, Luther tidak menuntut hukuman atas kebejatan moral dan
penyalahgunaan, melainkan substansi dan doktrin kepausan yang menurutnya tidak benar.
Alasan

keempat

yang

mungkin adalah

keadaan

Gereja

Roma

yang

sangat

memprihatinkan. Sejumlah paus yang tidak layak dibanggakan sama sekali, misalnya Alexander VI.
Dosa Gereja Roma yang teramat besar adalah kerakusannya. Tidaklah sulit percaya, bahwa orang
Jerman berpikir tentang pajak (kepausan) itu diperuntukkan terutama demi memIayani gaya hidup
para uskup gerejawi. Selain itu, para imam bawahan berpenghasilan sangat rendah, pendidikan
mereka pun ala kadarnya, longgarnya penghayatan selibat, dan praktis mereka ini digolongkan
dalam status sosial yang rendah sebagaimana rakyat kebanyakan. Sementara itu, para bangsawan
dan pangeran gerejawi tersebut membawahi sejumlah Gereja (dan urusan administrasi keuangan),
tetapi mereka ini lebih sering absen. Revitaliasasi hidup membiara merupakan bagian yang
signifikan dari Reformasi Katolik.
1.

B.

Martin Luther, 1483-1546[3]

Luther lahir 10 November 1483 di Eisleben, Saxonia, wafat 18 Februari 1546. Berasal dari
keluarga petani. Ayahnya, Hans Luder, mengawini Margaret Ziegler. Pada musim panas, 1484,
keluarga Luder pindah ke Mansfeld, Magdeburg dan Einsenach, Pada 1501, Luther belajar di
Universitas Erfurt dan meraih gelar MA. Salah satu ciri lingkungan universitas ini adalah pengaruh
skolastik yang begitu kuat dalam wujudvia moderna, dan yang sarat dengan pengaruh nominalisme
(Ockhamisme). Luther dibesarkan dalam lingkungan yang akrab dengan praktik-praktik kesalehan
kepercayaan Katolik tradisional. Ibunya yang devosional mengajarkan kepada dan mendorong anakanaknya agar menghadiri Perjamuan Tuhan secara teratur.
Secara mendadak ia memutuskan untuk masuk biara. Keputusan ini merupakan pemenuhan
atas ikrar kepada Santa Anna yang diucapkannya, karena ia selamat dari bahaya petir yang
mengancam keselamatan jiwanya (2 Juli 1505), Saya akan masuk biara, jika saya selamat! Ikrar itu
dipenuhi dengan menjadi anggota kelompok rohaniwan Kanonik Regular Santo Augustinus (Ordo
Sancti Augustini Eremitae) di Erfurt. Keputusan ini tentu mempunyai akar mendalam: kecemasan
yang sejak masa kecilnya menghantuinya, kegalauan pikiran akan pengadilan Allah yang
menakutkan dan perlunya keselamatan jiwa. Pada 1507, ia ditahbiskan menjadi imam di Wittenberg.
Masuknya Luther dalam lingkup kebiaraan terutama dimotivasi oleh ketakutan religius akan

malapetaka seandainya nasar (ikrar) pribadinya tidak dipenuhinya. Dalam hal ini menjadi
biarawan identik dengan usaha menenangkan dan menenteramkan diri dari segala usikan jiwa.
la mengalami krisis antara 1515-1517. Krisis ini membuatnya tidak dapat memenuhi lagi
kewajiban-kewajibannya sebagai biarawan. Ia terjatuh dalam melankonia. Kegersangan yang
bermuara pada kegelisahan rohani itu akhirnya terjawab dalam Turmerleibnis, atau pengalaman
menara. Di dalam sebuah menara ia mendapat pencerahan melalui bacaan Roma 3:28 dan 4:6-8,
Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan
hukum Taurat. Dan lagi, Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah
bukan

berdasarkan

perbuatannya:

Berbahagialah

orang

yang

diampuni

pelanggaran-

pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak
diperhitungkan Tuhan kepadanya.
Maka bagi Luther, kebenaran Allah itu adalah rahmat, suatu pemberian cuma-cuma dari
Allah. Konkupisensi, baginya, tetap tidak dapat diatasi dan menjadi dosa pribadi sungguhan dalam
diri orang Kristen yang telah dibaptis. Luther menyatakan, kata keadilan dalam Kitab Suci tidak
mengisyaratkan hukuman terhadap pendosa, melainkan mengacu pada tindakan, dengan mana
Allah menyilih dosa-dosa sejauh dosa-dosa itu ditinggalkan melalui jalan iman, yakni pertobatan.
Luther memperoleh jalan keluar dari ke-cemasannya: cukuplah beriman, untuk mengetahui dan
merasa disela-matkan. Dari hal ini, yang adalah jalan singkat untuk mencapai tesis-tesis lainnya,
Luther membela perlunya keselamatan sebagai inti ajaran. Luther samasekali tidak memimpin
pemberontakan mana pun juga. la hanyalah mempercepat saat proses perubahann dalam tubuh
Gereja.
Secara substansial doktrin teologis Martin Luther yang paling penting terdiri atas tiga hal,
yakni:
1) Ajaran tentang yustifikasi (pembenaran) yang radikal atas manusia melaluisola fide. Slogan yang
paling terkenal dari gerakan pembaruan keagamaan yang dilancarkannya berbunyi, Pembenaran
hanya oleh iman.
2) Ajaran tentang infalibilitas (ketidak-sesatan) Alkitab, yang dipandang sebagai satu-satunya
sumber kebenar-an. (Tetapi ada pandangan yang mengatakan bahwa butir ini agaknya tidak
diajarkan oleh Martin Luther, dan halnya baru muncul dari para pengikutnya yang tertentu, antara
lain Kaum Konservatif Injili abad XX).
3) Ajaran tentang imamat umum dalam kaitannya dengan kuasa untuk menafsirkan Alkitab. Semua
proposisi teologis lainnya yang dimajukan Luther selalu merupakan konsekuensi dari prinsip-

prinsip tersebut, misalnya ajaran tentang yustifikasi; predestinasi; kembali ke Alkitab; sakramen;
Gereja; pemikiran politik reformasi dan pengaruh pemikiran reformasi atas sejarah. Berikut ini
dikemukakan penjabaran atas substansi doktriner tersebut di atas:
Doktrin tradisional Gereja mengatakan, manusia diselamatkan oleh iman dan karya-karyanya
(iman menjadi nyata sungguh-sungguh ketika diwujudkan dan diungkapkan secara konkret dalam
karya-karya). Karya manusia menjadi kesaksian otentik hidup Kristen, manakala diinspirasikan dan
digerakkan oleh iman yang benar. Jadi, karya insani itu mutlak perlu. Dengan gigih Luther
menentang nilai karya manusia. Secara psikologis Luther frustrasi, karena tidak mampu
memperoleh keselamatan dengan karya dan usahanya sendiri. la merasa cemas akan keselamatan
kekal. Solusi yang tepat dari kebuntuan tersebut cukuplah beriman demi keselamatan. Imanlah yang
membebaskan dan secara radikal mencabut kekhawatiran hidup insan beriman.
Hanya karena iman (sola fide) manusia dibenarkan. Maksudnya, hanya iman yang
menyelamatkan manusia, dan bukan karya-karya (sekalipun baik dan terpuji dari pihak) manusia,
misalnya amal kasih (derma); matiraga. Keselamatan itu bukan merupakan imbalan dan terjadi
lanpa jasa dari pihak manusia. Jika otoritas tidak merupakan jaminan (baca: otoritas itu falibel),
maka satu-satunya yang menjamin kepastian adalah iman dalam Allah.
lustitia Dei (keadilan Allah) semata-mata dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Keadilan ini
tanpa jasa dan hak manusia. Kedaulatan Allah atas keadilan semata-mata menjadi hak prerogatifNya, tanpa kemampuan manusia sedikit pun untuk menggugatnya. Pengampunan Allah tidak
membawa manusia pada suatu pembaruan batin secara ontologis: manusia telah dan tetap berdosa,
tetapi Allah menghendaki supaya manusia diperbarui dan disucikan. Manusiaitusimul iustus et
peccator (benar serentak pendosa). Memang, akhirnya ajaran ini mempunyai bobot otoritatif dalam
gerakan teologi Protestantisme. Manusia mendapat keadilan Allah bukan lantaran karya-karyanya,
melainkan hanya merupakan kepastian akan keselamatan yang dilakukan Allah.
Hanya Alkitab sajalah otoritas yang infalibel (yang-kalis-dari-kesesatan) yang manusia butuhkan. Sri
paus, uskup, konsili-konsili dan seluruh tradisi insani bukan saja tidak berguna, tetapi juga dan
malahan menghalangi manusia memahami Alkitab secara benar. Sola Scriptura (hanya Alkitab).
Maksudnya, Alkitab yang merupakan asas tunggal tanpa ada yang lain dalam hidup menggereja,
berisi semua kebenaran yang diwahyukan Allah. Pada dirinya sendiri Alkitab cukup memberikan
kepada Gereja kepastian tentang semua kebenaran ilahi. Dalam konteks ini, tidak ada hubungan
antara tradisi dan kepengantaraan Gereja dengan kuasa mengajar (magisterium), sehingga bagi
Luther terbukalah jalan untuk menguji atau menafsirkan secara bebas. Alkitab menjadi tempat
pengungsian yang terakhir. Alkitab adalah batu karang, di mana tiada badai dan bencana insani

mampu menggoyahkannya. Dengan demikian Luther menolak Gereja yang hierarkis sebagaimana
diperlihatkan oleh Gereja Roma. Manusia beriman tidak membutuhkan mediasi insani. Sebab
kebebasan manusia beriman, yang adalah anak-anak Allah, telah memungkirrkan Allah
berhubungan langsung dengan masing-masing orang beriman. Akibatnya adalah ia menolak Ekaristi
sebagai kurban. Karena kurban (salib) Yesus Kristus hanya terjadi sekali (di Kalvari), tidak terulang
dan untuk selama-lamanya. Luther kemudian mereduksikan jumlah sakramen dari 7 (tujuh)
menjadi 2 (dua): Baptis dan Ekaristi. la juga mendevaluasi pengertian/pemahaman tradisional
tentang sakramen. Dikuranginya tanda-tanda lahiriah dari rahmat (sakramentali), iman dan
kebebasan yang sungguh kuat tentang kultus.
Reaksi hierarki Gereja Katolik Roma. Dengan tersebarluasnya tesis tentang indulgensi, Leo X
mengundang Luther untuk datang dan mempertanggungjawabkan pandangannya ke Roma.
Friederich yang bijaksana dari Saxonia meminta, agar Luther hadir di Roma; dan cukuplah
diinterogasi di Augsburg tetapi interogasi sendiri tidak menghasilkan banyak hal. Sebab bagi Luther
paus telah dicekoki dengan informasi yang bukan saja tidak cukup, tetapi juga salah; jika demikian
halnya situasi akan menjadi lebih rumit lagi.
Kemudian, 1519, di Leipzig berlangsung perdebatan ekstra sengit antara Luther dan Johannes Eck
(1486-1543), yang, meski gagal meyakinkan Luther untuk meninggalkan pandangan-pandangannya,
berhasil menyampaikan penjelasan kepada publik untuk pertama kalinya doktrin tentang primat
paus dan infalibilitas konsili-konsili. Sementara itu, Luther berpegang teguh pada prinsip dasariah
gerakannya, yakni menganggap Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang
diwahyukan oleh Allah. Setelah perdebatan teologis di Leipzig tersebut, Eck pergi ke Roma untuk
membantu mempersiapkan kecaman terhadap Luther. Pada 15 Juni 1520, Paus Leo X mengeluarkan
bulla Exsurge Domine (Bangkitlah Tuhan), yang menutup proses terhadap Luther (DS 1451-1492).
Bulla ini mengecam 41 (empat puluh satu) tesis yang ditarik dari ajaran-ajaran Luther, yang
dipandang As either heretical, scandalous, false, offensive I o pious ears or seductive of simple
minds, and against Catholic truth. Eck dan Duta Besar, Aleander, bertanggung jawab atas
penyebarluasan bulla Exsurge Domine di Jerman. Kedua tokoh tersebut mendesak Martin Luther
untuk menarik ajarannya dalam 2 (dua) bulan. Tentu saja, taat pada desakan, yang berarti menarik
kembali ajaran yang sudah tersebar luas bukanlah perkara mudah. Sebab banyak orang sudah
terlanjur berbondong-bondong memperkuat barisan Luther (orang-orang terdidik dan tidak
terdidik, kaya dan miskin, dari lapisan atas maupun bawah dalam strata masyarakat).
Pada 1520, Luther menerbitkanAn den christlichen Adel deutscher Nation(Kepada
Bangsawan Kristen Bangsa Jerman) yang tersebar luas dalam waktu yang sangat singkat. Pengarang
dengan sengaja menulisnya dalam bahasa Jerman. Sebab karya ini dikhususkan bagi orang Jerman.

Di sini Luther mau merobohkan tiga tembok yang memungkinkan Gereja Roma bertahan. Tembok
pertama: perbedaan antara imam (kekuasaan spiritual) dan awam (kekuasaan duniawi). Tembok
kedua: hak istimewa hierarki untuk menafsirkan Kitab Suci. Tembok ketiga: previlese paus untuk
memanggil konsili (Perihal Malapetaka Pembuangan Babilonia Gereja) yang dimaksudkan Luther
untuk menghancurkan doktrin tradisional Gereja Roma tentang sakramen-sakramen. Luther tetap
mempertahankan sakramen Baptis dan Ekaristi, sambil menyangkal transubstansiasi dan makna
kurban Ekaristi. Dalam De libertate Christiana(Tentang Kebebas-an Kristen) Luther menyanjung
kebebasan (batin) manusia, yang dibenarkan oleh karena iman dan kesatuan dengan Kristus.
Baginya perbuatan-perbuatan yang baik tidak bermanfaat untuk pembenaran. Manusia tentu saja
tetap wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, akan tetapi hal itu tidak lebih daripada
konsekuensi logis dari pembenaran. Dengan kata lain, justru karena manusia dibenarkan karena
imannya, maka ia wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan-perbuatan baik.
Setelah

melewati

batas

waktu

yang

ditentukan

dari

penetapan l.\::urge

Domine, Melanchthon memimpin para mahasiswa fakultas di VV111 ctiberg ke lembah Sungai Elbe
untuk melakukan ritus pembakaran I in k u-lmku. Selain teks-teks hukum dan skolastik klasik, turut
dimusnahkan karya-karya Eck. Luther sendiri membakar bulla Exsurge Domine, iIn11 sobuah
salinan Kitab Hukum Kanonik, dasar yuridis bagi corpus (lirislianorum Abad Pertengahan.
Tindakan ini bersifat provokatif. Ia sendiri menyadari arti perbuatannya. Pada 3 .l.in. 1521,
dikeluarkanlah bulla Decet Romanum Pontificem yang mengekskomunikasi Luther dan para
pendukungnya. Pemimpin Gereja Roma saat itu sudah kehilangan akal, dan tidak tahu lagi cara
mempertahankan kekuasaannya di Jerman, tanpa dipermalukan oleh ulah salah seorang anggota
Gereja, Martin Luther.
Sebelum menegaskan sikap melalui bulla Decet Romanum Pontificemtersebut Roma
memanfaatkan Karel V. Akan tetapi, Kaisar Katolik ini memiliki tiga buah pemikiran demi
memberikan masukan kepada Roma: Kaisar dapat taat kepada Roma dan mengutuk Luther dengan
mandat kekaisaran, sebab dirinya selalu berada dalam sabuk pengaman paus atau dia berusaha
melakukan negosiasi pribadi untuk meyakinkan Luther agar tunduk pada Roma; atau memberi
kesempatan kepada Luther untuk menjelaskan duduk perkaranya di depan Parlemen dan biarlah
parlemen yang memutuskannya. Karel V memilih yang terakhir. Singkatnya, Parlemen Worms
akhirnya memutuskan, Luther dan semua prndukungnya diusir dari wilayah kekaisaran; karyakaryanya dinyatakan sebagai bidaah dan harus dimusnahkan; penyebarluasan doktrin I Aitheran
dilarang; siapa saja yang berkomunikasi dengan Luther akan ditangkap dan harta kekayaannya akan
disita.

Ketika terlihat bahwa otoritas Negara dan Gereja menolak Martin Luther, maka ia menyeru
pada para bangsawan dan terutama kepada rakyat jelata. Bagaikan gayung bersambut Luther kini
menjadi pemimpin gerakan keagamaan yang segera melahirkan sebuah revolusi. Dalam perjalanan
kembali ke Wittenberg, Luther diculik oleh satuan laskar berkuda yang bertindak atas suruhan
Friederich dari Saxonia dan mengamankannya di kastel Wartburg. Selama sekitar satu tahun (awal
Mei 1521 hingga awal Maret 1522) Luther tinggal di kastel tersebut. Di sini Luther memakai nama
samaran Junker Georg. Sementara itu, di dalam masyarakat beredar isu, misalnya ia diculik oleh
para musuhnya (kaki tangan Karel V), ia sudah dihabisi, dan lain sebagainya. Di kastel Wartburg
Luther benar-benar aman. Kesibukan utamanya menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dari
bahasa Yunani ke dalam bahasa Jerman yang selesai ia kerjakan dalam 3 bulan dan dicetak di
Wittenberg, September. 1522, yang disebut September-testament. Cetakan pertama sebanyak 3.000
eksemplar

terjual

habis

dan

cetakan

kedua

dibuat

pada

Desember,

yang

kemudian

disebutDezember-testamenf). Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jerman bukanlah yang pertama.


Sebab sudah ada puluhan terjemahan sebelumnya. Akan tetapi, kualitas terjemahannya tidak baik.
Apalagi terjemahan-terjemahan itu merupakan terjemahan dari Vulgata, bukan dari teks asli yang
berbahasa Ibrani dan Yunani. Luther ingin menerjemahkan Alkitab sedekat mungkin dengan teks
aslinya. Terjemahan ini mempunyai arti positif, khususnya bagi perkembangan bahasa Jerman dan
nasionalisme. Hanya dua belas tahun kemudian, 1534, Luther berhasil menyelesaikan terjemahan
seluruh Alkitab. Selain itu, Luther menulis sejumlah karya, misalnya Rationis Latomianae
confutatio. Buku ini selesai dicetak pada 7 Mei 1521. Berisi jawaban Luther atas tulisan seorang
profesor di Louvain, Latomo. De votis monasticis; De abroganda missa privata dan Vom
Miflbrauch der Messe. Selain itu, Luther menulis buku-buku sekunder, misalnya Komentar tentang
Mazmur, Surat-surat Paulus, Bacaan-bacaan dalam Perjamuan Tuhan, Argumen-argumen Melawan
Bulla Ekskomunikasi, In coena Domini dan Magnificat verdeutschet und ausgelegt (1521), yang
ditujukan kepada Pangeran Johann Friederich Saxonia. Kepadanya Luther berterima kasih, karena
laskar Pangeran sudah menculik-nya setelah ekskomunikasi kepausan dijatuhkan.
C.

REFORMASI CALVINIS[4]
Ketika Lutheranisme terancam krisis dan nyaris kehilangan daya lariknya, Calvin (1509-1564)

mengambil alih kepemimpinan Reformasi di dalam Gereja Kristus (pada pertengahan abad XVI).
Yohanes Calvin lahir di Noyon, Piccardia (Francis), 10 Juli 1509. Calvin, yang lebih muda 26 tahun
daripada Luther, adalah generasi kedua reformis.

Calvin menempuh formasi formal di Paris,

dan mendapat pengaruh humanis dari lingkungan Jacques Lefevre dEtaples (atau Faber
Stapulensis, 1455-1536). Pada usia 18 tahun ia memperoleh gelar MA. Gelar sarjana hukum
diperolehnya pada 1532.

Ia seorang teolog otodidak (Calvin pernah menjadi mahasiswa fakultas teologi dan
mempelajari teologi formal, sebelum studi hukum, meski ia hanya mempelajari tahap-tahap awal
dan dasar teologi. Calvin adalah seorang Francis. Negeri ini menganut paham monarki absolut. Para
Reformis di Francis hidup tanpa perisai, singkatnya, reformasi di Francis menciptakan sebuah
Gereja yang disirami oleh darah para martirnya yang menentang kekuasaan otoritas sentral yang
membenarkan diri dengan istilah un roi, une loi, une foi (satu saja, satu hukum, satu iman). Pada
akhir 1533 Calvin mulai menyatakan dirinya sebagai penganut Protestan. Kemudian Calvin menetap
di Basel. Di kota ini ia menerbitkan karya utamanya, Christianae Religionis Institutio (1536). Dalam
karyanya ini Calvin menuduh Gereja Katolik Roma memperbudak nuraninya di bawah hukum yang
menyebabkan

kekhawatiran

dan

teror

serta

ketidakpastian

keselamatan.

Dalam

edisi

pertama Christianae Religionis Institutio Calvin, mengajarkan bahwa Gereja pada hakikatnya
adalah invisible. Gereja itu orang-orang terpilih bersama-sama, hanya dikenali oleh Allah sematamata. Pada mulanya Institutio dimaksudkan sebagai katekismus atau buku pelajaran agama. Sudah
menjadi rahasia umum, Luther sangat berpengaruh pada Institutio. Pada pokoknya Institutio (edisi
I) terdiri atas 6 (enam) bab: Perihal hukum; Syahadat; Doa Tuhan; Sakramen Baptis dan Perjamuan
Tuhan; Argumen-argumen Melawan Sakramen-Sakramen (Gereja) Roma; pembicaraan tentang
kemerdekaan kristiani. Calvin menulis (1543) sebuah karya polemik, di mana ia meminta secara
ironis menginventarisasi semua tubuh orang suci dan relikui mereka yang ada di Italia, Francis,
Jerman dan Spanyol serta kerajaan-kerajaan lain.
Reformis Calvin menetap di Geneva sampai ajal merangkulnya, 27 September 1564. Geneva
boleh dikatakan sebagai pusat gerakan Calvinis. Di sanalah Calvin berhasil mewujudkan sebuah
pemerintahan teokratis yang diinspirasikan oleh Reformasi, sangat keras dalam tataran hidup
religius dan moral. Di Geneva pula ia melaksanakan prinsip-prinsip keagamaan secara organisatoris
dan definitif.
Reformator dari Geneva ini dikenal karena karya kerasulannya yang tidak mengenal letih,
seorang sahabat yang setia dan penuh perasaan, kaya akan minat dan cita-cita, mampu menghadapi
dan memecahkan pelbagai kasus. Terhadap manusia Calvin lebih pesimis daripada Luther, Calvin
lebih optimis di hadapan Allah. Teks utama bagi Calvin adalah Roma 8:31, Jika Allah di pihak kita,
siapakah yang akan melawan kita? Calvin yakin bahwa Allah bersama dengan dirinya dalam usaha
membangun kota orang-orang terpilih di atas bumi, yakni Geneva, Israel baru dari Allah. Yang
menonjol pada diri Calvin cita rasa keagamaan yang mendalam. Tumbuh padanya sikap mau
mencari Tuhan yang mewahyukan diri-Nya sekaligus yang tersembunyi, Allah dalam Kitab Suci dan
Allah para nabi. Jasa utama Calvin tidak terdiri atas orisinalitas konsep-konsep pernikiran
teologisnya, melainkan dalam sistematisasi organis dari tesis-tesis reformator sebelumnya, yang
sering

kali

tidak

teratur,

bahkan

berlawanan.

Oleh

karena

itu, Christianae

Religionis

Institutio merupakan Summa Theologiae bagi para Calvinis. Beberapa simpul dari pandangan
Calvin dapat dikemukakan berikut ini:
*

Calvin menyangkal kehadiran nyata (presentia realis) dan hanya mengakui presensi virtual,

sejauh Kristus melalui sakramen menyatakan rahmat-Nya kepada manusia.


*

Melalui kehendak-Nya Allah samasekali tidak tergantung pada jasa manusia atau dosa-dosa

manusia. la memilih beberapa orang untuk kehidupan kekal, dan yang lain sudah ditetapkan-Nya
untuk hidup dalam api yang kekal.
* Karya-karya baik (secara moral) manusia tidak berpengaruh pada keselamatan. Kendati demikian
manusia beriman tetap berkewajib-an melakukan karya-karya itu demi memuliakan Allah.
*

Perlindungan ilahi merangkum semua aktivitas temporal orang-orang terpilih. Kepastian ini

mendorong orang Calvinis untuk menghadapi dengan penuh keberanian segala bentuk risiko yang
terkandung dalam komersialitas. Gereja tidak memiliki suatu kekuasaan temporal yang langsung,
tetapi otoritas sipil mereduksi diri sebagai suatu instrumen dalam tangan-tangan Gereja.berikut
penetapan penitensi yang keras.
Ciri-ciri Hakiki Teologi Calvinis, adalah bagi Calvin sumber satu-satunya dan terlengkap dari
iman kepercayaan Kristen adalah Kitab Suci, tidak ada sumber pelengkap iman, seperti misalnya
tradisi. Hal ini tidak perlu berarti bahwa Calvin mengesampingkan kesaksian tradisi yang
meneguhkan eksegese. Kepengantaraan Gereja yang menjamin bahwa Alkitab adalah karya dan
tulisan suci, menyeluruh tidak diterima oleh Calvin. Karena tidak ada sesuatu pun yang menjamin
kepengantaraan Gereja dan kesaksian Gereja itu semata-mata insani. Kitab Suci sendiri memiliki
kemampuan untuk menunjukkan dirinya sendiri, yakni para jemaat beriman mengenal melalui
tindakan Roh yang berkarya. Kitab Suci menjadi istilah perbandingan untuk membuktikan
otentisitas Kristen dari dekrit-dekrit konsili Gereja Kuno, bapak-bapak Gereja, sekurang-kurangnya
sampai dengan Santo Augustinus. Akibatnya, Calvin mengkritik Ana-baptis yang dicampuradukkan
dengan spiritualistis, yang menegaskan kembali bahwa diri mereka adalah revelasi-revelasi baru Roh
Kudus.
Selain itu, Calvin juga mengkritik Gereja kepausan yang menempatkan hubungan Roh Kudus
dengan magisterium (kuasa mengajar). Calvin memiliki eksegese yang kurang bebas ketimbang
Luther, kendati tidak sepenuhnya harfiah, ada unsur eksegese subjektif, mengingat Calvin sendiri
mengedepankan eksegesenya sendiri. Visi teologis yang muncul dari pandangan tersebut dipusatkan
pada gagasan: kedaulatan yang mutlak dan bebas serta kemuliaan Allah Pencipta dan
Penyelenggara. Tujuan penciptaan adalah pengenalan dan penyembahan dari pihak manusia kepada

Allah. Tujuan penebusan adalah membangun kembali gambaran Allah dalam manusia yang dirusak
oleh dosa dengan model Kristus, Gambar Sempurna Bapa. Hanya melalui pemulihan kembali seperti
itu manusia dapat mengenal dan menyembah Allah secara sempurna serta mengabdi pada
kemuliaan-Nya.
Tujuan dari semua ciptaan dan penebusan adalah pemuliaan diri Allah, oleh karena itu dapat
direncanakan dan diprogramkan secara tepat aeterno(sejak kekal) oleh Allah demi tercapainya
tujuan tersebut. Program kedaulatan dan kemuliaan Allah terwujud dalam Gereja melalui tindakan
Putra Allah. Sebab selain Ia adalah Sabda pencipta alam semesta dan manusia; Dia juga melakukan
rencana Allah dengan memimpin dunia serta semesta ciptaan. Kesimpulannya: siapa yang mengenal
Kristus berarti mengenal rencana dan kehendak Allah serta tahu bagaimana harus mewujudkannya.
Kedaulatan mutlak dan bebas dari pihak Allah ini tidak dikondisikan oleh apa dan siapa pun juga.
Allah mewujudkan rencana keselamatan-Nva bukan hanya dengan menciptakan Gereja, tetapi di
dalam Gereja sendiri sambil menyelamatkan orang-perorang dengan memilih secara bebas, dan
dengan pencurahan rahmat. Dalam artian tidaklah dibutuhkan kepemimpinan hirarki dalam
manentukan keselamatan. Allah menghadirkan panggilan umum (universalis vocatio) yang tidak
termasuk keselamatan; dan menghadirkan panggilan khusus (specialis vocatio) yang termasuk
keselamatan. Pilihan ini dilakukan secara bebas dan berasal dari Allah semata-mata. Allah sajalah
memutuskan siapakah yang memperoleh keselamatan dan siapakah yang ditentukan untuk tidak
selamat. Namun demikian, masing-masing pribadi dapat yakin akan keselamatan ilahi bagi dirinya,
jika ia didapatkan bersatu dengan Kristus.
Kedaulatan bebas Allah juga berkaitan dengan paham tentang eklesiologi. Bagi Calvin, Gereja
adalah universus electorum numerus (segenap orang yang terpilih): para malaikat, orang hidup dan
mati, di mana pun ditemukan. Gereja itu meliputi sejumlah orang yang terpilih. Mereka ini dipilih
di dalam Kristus; dan oleh karena itu dimasukkan di dalam Kristus supaya terbentuklah semuanya
menjadi satu tubuh dengan-Nya. Kristuslah satu-satunya kepala Gereja. Gereja itu tidak dapat
dilihat (invisible). Jadi, Gereja ini pasti tidak sebagaimana dipresentasikan oleh institusi Gereja
Katolik

Roma.

Gereja

yang

terdiri

atas

orang-orang

pilihan

itu

menjadi

terlihat

lantaran notae. Maksudnya: pewartaan Kabar Gembira; pelaksanaan sakramen-sakramen seturut


penetapan Kristus. (Inilahraotae dari The Confession of Augsburg); ketaatan pada firman Allah,
yakni tata tertib, sesuatu yang khas dalam Gereja Calvinis.
Notae Gereja itu terungkap melalui para pelayan (diakon, pastor, doktor, penatua) terutama
tiga terakhir. Ketiganya tidak lebih daripada orgareon Allah. Artinya, lembaga ilahi, sarana tindakan
penyelamatan dari pihak Allah. Oleh karena itu, mereka adalah pelayan manusia, terutama karena

dilakukan oleh manusia dan di antara manusia. Jadi, Gereja adalah tempat, di mana Allah bertindak
secara berdaulat.
1.

D.

REFORMASI ANGLIKAN[5]

Anglikanisme muncul di Inggris pada abad XVI melalui kebijakan politik keagamaan. Raja
Henry VIII berikut konstitusi satu Gereja nasional. Kebijakan dan alasan Henry VIII (1491-1547)
untuk memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma bukanlah menyangkut soal teologis, melainkan
lebih-lebih bersifat personal dan politis. Aspirasi-aspirasi ini sudah digeluti Inggris sejak abad
pertengahan. Hal itu didukung oleh kebijaksanaan pemerintah Inggris untuk tidak menaklukkan
Eropa Kontinental, melainkan dengan mencari wilayah baru di luar Eropa dalam bentuk ekspansi
kolonialisme dengan wajah perdagangan dan eksplorasi keilmuan dan kemanusiaan. Pemisahan
antara Inggris dan Roma itu mencapai klimaksnya secara lima tahap yang menegaskan pola
kebijakan politis Negeri Inggris di bawah kekuasaan Henry VIII, Edward VI, Maria Katolik Tudor,
dan Elizabeth I. Berikut ini kita lihat satu demi satu pola kepemimpinan tokoh-tokoh tersebut.
Raja Henry VIII. Henry VIII dari dinasti Tudor menikahi janda Cathrine Aragon, putri
Raja Ferdinand Katolik, raja Spanyol dan paman Karel V (pada 1509). Cathrine sudah dinikahi
oleh (mendiang) saudara kandung Henry VIII, yang bernama Arthur. Pada 1525, Cathrine berusia 40
tahun. Dalam usia tersebut Cathrine tak memperlihatkan lagi harapan akan mendapat keturunan
(laki-laki) dari perkawinannya. Bukannya tanpa usaha gigih pasangan ini, mengingat dari rahim
Cathrine Aragon telah lahir 5 (lima) orok, tetapi vang bertahan hidup lama hanyalah Maria (Katolik)
Tudor. Raja Henry VIII sangat mendambakan keturunan laki-laki, dan berencana bercerai untuk
kemudian menikahi Anne Boleyn yang lebih mudah. Keinginan untuk mendapatkan keturunan lakilaki itu diperkuat kuat dengan alasan stabilitas kekuasaan wangsa Tudor. Henry VIII konon dihantui
oleh perang sipil yang pernah terjadi di Inggris, jika putrinya, Mary Tudor, memegang kendali
pemerintahan Kerajaan Inggris. Dengan kata lain, stabilitas dan kesejahteraan (seluruh warga)
Kerajaan hanya dijamin oleh kekuatan dan kearifan yang lebih banyak ditumpukan pada laki-laki
daripada perempuan. Henry VIII merasionalisasikan keinginan untuk menikahi Anne Boleyn
dengan menghadirkan dalam ingatannya sosok Mathilda, putri Raja Henry I (1135) yang
memerintah Kerajaan Inggris. Di bawah kekuasaannya Inggris hancur berantakan dalam perang
sipil selama hampir 2 (dua) dekade.
Pada 1527, Henry VIII Si Pendukung Poligami yang jatuh cinta pada Anne Boleyn berupaya
memperoleh alasan-alasan legal dengan pelbagai dalih, yakni demi membatalkan perkawinannya
yang pertama (dengan Cathrine Aragon). Dalih yang dipakai oleh pihak Henry VIII demi
membatalkan

perkawinan

dengan

Cathrine

adalah

lmamat

20:21.

Bersikukuh

pada

penegasan Imamat 20:21tersebut, Henry VIII setelah mendengarkan pandangan para Durna

Kerajaan, menyatakan bahwa perkawinan pertama itu tidak sah. Dispensasi yang diberikan oleh
Paus Yulius II juga tidak sah. Sebab dispensasi itu melawan hukum yang ditetapkan sendiri oleh
Allah. Pada 1529, mungkin juga karena paus khawatir, seandainya tidak memutuskan, maka akan
menjengkelkan paman Cathrine, Kaisar Karel V, yang saat itu berpengaruh di Italia, paus
memperlihatkan diri lebih energik. Henry kemudian pasang kuda-kuda dengan memanggil sidang
umum antar-imam kepala Gereja Inggris, 1531. Thomas More bereaksi atasklausul itu, dan menarik
diri. Lalu di-angkatlah primat Inggris yang baru, Thomas Cranmer, yang pada Januari 1533
memberkati perkawinan antara Henry VIII dan Anne. Hanya beberapa bulan kemudian, untuk
memperlihatkan legalitas tindakannya, ia sendiri menyatakan pembatalan perkawinan yang
pertama: Henry dan Cathrine. Paus Clemens VII lalu mengekskomunikasi Henry. Yang terakhir ini
menjawab, dengan tindakan supremasi, yang menegaskan bahwa sebagai Raja Inggris ia berdaulat
atas Gereja di wilayah Inggris, yang hingga saat itu berada di bawah kekuasaan paus Rezim yang
baru ini kemudian mempertahankan iman yang lama dan mengikuti sebagian tata cara Katolik dan
Lutheran. Reformasi Gereja di Inggris ini diterima begitu saja oleh sebagian besar rakyat Inggris,
tanpa resistensi: uskup melekat pada massa dan para pembantunya mengikuti begitu saja para
pembesar mereka.
Keberhasilan reformasi Gereja di Inggris ini adalah berkat kemampuan para pimpinan.
Mereka itu tahu bagaimana mempersiapkan secara berangsur-angsur tanpa menghamburhamburkan hal-hal yang diperlukan. Juga pada saat itu ada ketidakjelasan teologis. Hal ini dalam
kcnyataannya telah menghalangi orang untuk melihat gawatnya keadaan dan masalah di Gereja
Inggris. Selain itu, Paus Clemens VII sendiri larut dalam sikap tidak tegas dan serba ragu-ragu
terutama dalam menghadapi peristiwa genting seperti kasus Gereja di Inggris.
Raja Edward VI. Edward VI (1547-1553), pengganti Henry VIII, lahir dari perkawinan
kctiga (hasil perkawinan antara Henry VIII dan Jane Seymour). Kokuasaan kerajaan sebenarnya
dijalankan oleh paman Edward. Pada masaini skisma berubah kodratnya menjadi bidah. Sebab
atasprakarsa raja diciptakanlah ritus baru, yang disebarluaskan dalam Book of Common
Prayer, 1549, yang lebih dikenal dengan istilah The Prayer Book.
Dalam The Prayer Book dibuanglah setiap ungkapan (atau kalimat) yang menyatakan Ekaristi
sebagai kurban. KemudianSimbol (Pengakuan Iman) diungkapkan dalam 43 artikel (yang dalam
redaksi definitive dalam 1571, direduksi menjadi 39). Dalam Simbol ini Gereja Inggris menerima
tesis Calvinisme tentang Ekaristi. Di sana pula ditambahkan perkenanan bagi para imam untuk
menikah dan pentahbisan. Hal terakhir ini mengidentifikasikan para imam Gereja Anglikan
pertama-tama sebagai pelayan Sabda (dalam pengertian Protestantisme). Reformasi Edward VI ini
praktis mereduksi jumlah sakramen Gereja menjadi dua saja, yakni Baptis dan Komuni Suci. Pada

akhirnya kontroversi religius pada masa Edward VI seakan digiring dan dipusatkan pada sakramensakramen sekitar altar, yakni Ekaristi dan Pelayanan Komuni Suci serta masalah teologis yang
disebut transubstansiasi. Berkat revisi atas Prayer Book (1552) yang dikerjakan oleh Cranmer,
menjadi sempurnalah penempatan Anglikanisme dalam ranting gerakan pem-baruan keagamaan
Protestantisme.
Ratu Maria Katolik Tudor. Edward VI memimpin Kerajaan Inggris dalam kurun waktu
relatif singkat. Kematiannya mengantar MariaKatolikTudor (1553-1558), putri Henry VIII dan
Cathrine Aragon, ke takhta kerajaan. Marialah yang berupaya dengan gigih merestorasi Gereja
Katolik Roma di Kerajaan Inggris. Upaya ini pada mulanya berhasil. Tetapi keberhasilan
berhenti bersama kematian Ratu Maria. Ada pula kemungkinan bahwa kegagalan restorasi Ratu
Maria lantaran aliansi mandul dan steril antara Inggris dengan Spanyol. Perkawinan dengan Philips
II dan sikap re/aii/keras terhadap segala bentuk oposisi religius maupun politis. Selama lima tahun
berkuasa tidak kurang dari 300 orang dihukum mati atas alasan yang berbau keagamaan. Ratu
Maria dengan demikian mengembalikan Kekatolikan di Inggris dengan tangan besi. Hukuman yang
dijatuhkan pada lawan-lawan politik keagamaannya menerjang tanpa ampun sejumlah elite politik,
seperti Hooper, Latimer, Ridley dan Cranmer, yang memperlihatkan gelagat dan terang-terangan
mengusahakan separasi Inggris dari Gereja Katolik Roma.
Reaksi atas politik tangan besi Ratu Maria demi memulihkan Kekatolikan di Kerajaan
Inggris terlihat dalam karya propagandis berjudul Acts and Monuments, 1563, karya John Foxe.
Kekatolikan pada masa Ratu Maria ditegakkan di Inggris dengan daya fanatisme dan semangat
keduniaan. Pada hal yang dibutuhkan Inggris saat itu adalah penemuan kembali spirit
kepemimpinan dan pemerintahan yang bersih, di samping infusi yang sehat dari iman-kepercayaan.
Pada 1550-an agama Katolik Roma tidak dapat menawarkan tuntutan dan kebutuhan mendasar
tersebut. Dan mungkin komunitas (Geneva ala Calvinisme memberikan inspirasi bagi pemenuhan
tuntutan tersebut. Ratu Maria dan Kardinal Pole wafat pada hari yang sama, November 1558.
Mereka

menyaksikan

kegagalan

politik

mereka, masa

kepemimpinan

Ratu

Maria

telah

menggagalkan (kesempatan) Roma unluk berpengaruh dalam Gereja Inggris. Perang, jauhnya
Calais, bangkitnya kekuasaan Spanyol, anti-klerikalisme dan ketidaksukaan akan kepausan turut
mematangkan keberpihakan Inggris pada protestantisme, sekaligus ketidakpopuleran agama Katolik
Roma.
Ratu Elizabeth I. Ratu Maria digantikan oleh Elizabeth, yang sepanjang pemerintahan-nya
mengancam pendukung Katolik Roma dan dominasi Spanyol. Elizabeth yang naik takhta pada usia
25 tahun, fasih berbicara Francis, Latin, dan Italia. Pada 1559, dipromulgasikan hukum yang
mengakui ratu adalah pemimpin tertinggi Gereja Inggris, dan menetapkan bahwa setiap

fungsionaris negara dan Gereja wajib melakukan sumpah setia pada yang berdaulat, yakni Ratu.
Dalam tahun itu, Mattias Parker ditahbiskan menurut ritus terbaru primat Inggris. Tahbisan itu
tidak sah demi cacat esensial dalam materi dan forma. Sebab di dalam ritus itu ditiadakan setiap
bentuk rumusan yang langsung atau tidak langsung mengungkit Ekaristi sebagai kurban. Akibatnya,
sejak saat itu tidak ada juga konsekrasi, yang dikatakan merupakan asal-usul hierarki Anglikan yang
baru, juga tidak ada tahbisan. Sebab Gereja Anglikan telah memutuskan hubungan dengan
pengganti para Rasul di Roma.
Pada 1570, Paus Pius V mengekskomunikasi Ratu Elizabeth. Ekskomunikasi ini (di luar
perhitungan paus) membahayakan posisi, bahkan kehidupan orang-orang Katolik di Inggris dan di
Irlandia. Mereka ini dianggap sebagai pengkhianat (politik) negara. Beberapa tahun kemudian
tersingkaplah rahasia mengenaskan ini: Sri Paus Gregorius XIII melalui sekretarisnya tidak
menghalangi upaya menyingkirkan Ratu Elizabeth. Upaya penyingkiran ini seandainya berhasil
akan dinilai sah dan sangat berarti bagi Gereja Katolik Roma. Syukurlah, gagasan edan itu gagal
dalam pelaksanaannya.

1.

E.

Reformasi Katolik[6]

Bagaman upaya reformasi dilakukan Gereja Katolik? Sebenarnya upaya itu sudah ada sebelum
reformasi Luther, misalnya: gerakan devotio moderna, pembaharuan di bidang hidup membiara,
mendidik kaum klerus agar berpengetahuan dan disiplin, dll. Tapi deng pecahnya reformasi Luther
& yg lain, Gereja perlu membentuk refonmasi yang lebih terarah.
Reformasi yg Diimpikan. Sepanjang paruh pertama abad 16, Gereja Katolik baru bisa
merindukan reformasi. Mengapa `terlambat? ada dua alasan: pertama, para Paus takut akan
konsiliarisme yg muncul akibat sekularisme. Kedua, berkaitan dg keterlibatan Paus dalam menagani
konflik antara 3 raja yg haus kekuasaan: Henri VIII, Fransiskus I, dan Karel V.
Dalam situasi krisis seperti itu, dituntut kesabaran. Gereja sesungguhnya telah berjuang melalui
tarekat-terekat yang ada. Tarekat-tarekat religius yang ada inilah yang akan mejadi instrumen dalam
menjalankan reformasi Gereja.
Reformasi yg Terprogram. Upaya terprogram yang dilakukan Gereja adalah Konsili
Trente (1545-1563). Konsili ini dibagi jadi 3 periode (1545-147; 1551-1552; 1562-1563). Konsili ini
menghasilkan program pembaharuan yang bersifat pastoral, selain menandaskan kembali
kebenaran-kebenaran iman yang diserang Protestan.

Reformasi yg Diterapkan. Hasil konsili Trente dijabarkan dalam suatu aksi


pembaharuan yang konkrit. Munculnya buku Katekese, penerbitan Kitab Suci Vulgata, buku misa
dan ibadat harian yg baru adalah bukti konkrit konsili. Selain itu ada juga tokoh-tokoh reformator
dari Gereja Katolik. Misalnya: Uskup Karolus Boromeus. la dipandang sebagai model uskup yang
dirindukan Konsili Trente. Uskup lainnya adalah Fransiskus dari Sales. Saat itu Spanyol menjadi
tempat yang penting di mana reformasi dapatt menembus kehidupan Gereja.
Konsili Trente juga memikirkan pembinaan imam yg baik. Maka konsili menegaskan perlunya
seminari sebagai tempat mendidik calon imam. Konsili juga mendorong kunjungan pastoral yang
intensif. Dengan demikian, reformasi Gereja Katolik merupakan penegasan kembali atas iman yg
telah diterima, sekaligus perbaika segi kehidupan, moral, iman dan ajaran.
BAB III
PENUTUP
Zaman modern yg dimaksud di sini mengacu pada rentang waktu antara akhir abad 15
sampai pertengahan abad 17.

Peristiwa-peristiwa historis saat itu muncul suatu refleksi

teologis: Ecclesia semper reformanda (Gereja selalu diperbarui). Kesadaran akan pembaruan
ini sebenarnya sudah ada sejak abad 13 dg Reformasi Gregorian. Dalam konteks zaman modern,
kata reformasi berarti munculnya gerakan Reformasi Protestan. Pad abad itu muncul dua gerakan
reformasi, yaitu Reformasi Protestan & Reformasi Katolik.
Latar Belakang Timbulnya Reformasi Protestan Setidaknya ada 2 kategori alasan munculnya
Reformasi Protestan: yaitu alasan sosial (sosio-religius) clan alasan teologis. Alasan sosio-religius:

Reformasi Protestan muncul krn kebobrokan moral pihak kepausan. Alasan mi dianggap
tdk lagi memadai bagi bnyk kalangan.

Alasan sosial lainnya: faktor nasionalisme. Bangsa-bangsa di Eropa menginginkan hidup


mandiri & berhak menuntut pajak sendiri, tanpa campur tangan pihak kepausan.

Faktor ekonomi: kesenjangan di bidang ekonomi menimbulkan ketidakpuasan bnyk pihak.


Para petani menjadi sangat rentan terhadap gerakan revolusioner.

Alasan lain: fakta bahwa pihak kepausan tidak tampil sebgai lembaga yang berwibawa.
Alasan teologis: dengan melihat 3 doktrin Protestan: pembaharuan oleh krn iman, imamat

semua org beriman & ketidaksesatan KS; gerakan Protestan bisa memberikan jawaban teologis
terhadap kecemasan batin bnyk orang. Gerakan Martin Luther ditandai dengan munculnya
Individualisme

dan

sekularisme.

Semangat

individual

tampak

dalam

kecenderungan

untuk menegaskan identitas kepribadian mereka. Bangsa-bangsa Eropa saling berperang

memperluas daerah kekuasaan. Sedag semangat sekuler tampak daalm kecenderungan untuk
berpisah dari Inkuisisi Gereja.
Reformasi Martin Luther Luther adalahan seorg biarawan yang pandai. Ia pernah mengalami
krisis rohani. Ketika ia membaca Kitab Suci, ia menemukan teks: Rom 1:16-17. Sejak itu dia berubah
pikiran tentang Allah. Allah ternyata mahamurah, bukan pemarah. Pertentangan dalam Gereja
muncul karena adanyapraktik indulgensi. Pada saat berkhotbah, seorang anggota Ordo
Dominikan,Tetsel, menyerukan teologi yg membahayakan umat: begitu kotak bergemericig & jiwa
akan terbang dari api penyucian : Teologi ini ditentang oleh Luther, meskipun ia tidak menolak
praktik indulgensi. Tapi ia mengingatkan bahwa pengampunan itu berasal dari Allah. Indulgensi
semacam itu mengandung resiko bhw org akan mencari rasa aman yang keliru (asal memberi
kolekte banyak, akan selamat). Luther mempertanyakan kuasa hirarki Gereja. Menurutnya, hanya
Tuhan yag bisa mengampuni dosa. la bertanya juga: jika Paus memiliki kuasa membebaskan jiwajiwa dari api penyucian, mengapa ia tidak punya kasih untuk mengosongkan api penyucian? Paus
Leo X menginginkan agar Luther menarik kembali dalil-dalilnya. Tapi. Luther tetap berpegang Pada
pernyataannya.
Yohanes Calvin. Alasan kepindahan Calvin ke Gereja Reformasi (tahun 1533) tidak terlalu jelas.
Mungkin karena pengaruh ajaran Melchior Wohnar yang menganut gagasan Luther, mungkin
karena kematian ayahnya yang diekskomunikasi, atau kondisi keluarganya yang direndahkan krn
bnyk hutang. Calvin mewariskan pandangan teologis yg khas. Awalnya, Calvin menerima
penyelamatan karena iman. Tapi akhirnya ia sampai pada doktrin predestinasi. Menurutnya,
tindakan saleh merupakan tanda sbg seorg terpilih. Kekuatan para terpilih adl baptis & sakramen
perjamuan kudus. Tpi, bagi Calvin, roti dan anggur bukanlah tubuh dan darah Kristus. Kehadiran
Kristus dalam Ekaristi hanya bersifat spiritual. Calvin sangat membenci gambar Kudus. Baginya,
gambar-gambar itu `gambaran yg keliru (pendewaan). Maka bentuk penolakannya diungkapkan
dgn menghancurkan gambar & patung Kudus.
Reformasi di Inggris Tokoh penting dalam revolusi di Inggris adalah Raja Henri VIII. la
semula mempertahankan ortodoksi Gereja Katolik melawan Lutheran. Tapi karena pernikahan
rahasianya dengan Katarina dari Aragon oleh Uskup Thomas Cranmer, ia diekskomunikasi Gereja
bersama dengn isteri dan uskup tersebut. Ekskomunikasi terhadap raja dibalas dengan pernyataan
Henri VIII bahwa dirinya adalah `satu-satunya pemimpin tertinggi di Gereja Inggris. Para klerus,
biarawan, pegawai negeri, dan kalangan intelektual diwajibkan bersumpah setia terhadap raja.
Tahun 1536, Henri VIII membubarkan biara-biara & mengejar-ngejar para rahib. la memaksa
mereka menikah dan merampas tanah mereka. Henri VIII juga mendekatkan diri pada Protestan.
Ketika Elizabet naik tahta menjadi ratu, ia membenci kepausan. Ia membangun Gereja Anglikan
dengan model kombinasi antara Gereja Katolik dan Kalvinis. Hal itu untuk meredam pertentangan

Katolik dan Protestan dalam tubuh Gereja Anglikan. la hanya menetapkan dua sakramen, menolak
aspek kurban misa, mengakui kehadiran Kristus dalam Ekaristi, dan memberikan hak kepada uskup
serta imam untuk menikah.
Sedangkan Reformasi dari diri Gereja Katolik sendiri sebenarnya sudah ada sebelum
reformasi protestantisme di mulai. Namun bobot dari pergerakan itu amatlah kecil dan terbatas.
Setelah munculnya pergerakan yang mendongkel kemapanan gereja Katolik barulah pembaharuan
dalam tubuh Gereja Katolik mendapat perhatian yang serius. Hal itu ditunjukkan dengan adanya
pembaharuan hidup dalam berbagai bidang termasuk di dalamnya perbaikan akan kebenaran ajaran
iman.
Adanya reformasi dalam Gereja yang mengakibatkan perpecahan bukanlah suatu yang
diinginkan dalam Gereja. Situasi dan perihal hidup yang terjadi pada jaman itu, memang menuntut
suatu perubahan yang radikal di dalamnya. Saat ini bukalah masalah siapa yang harus dipersalahkan
dala situasi ini. Pertanyaannya adalah bagaimana membina hubungan dengan situasi yang telah
terjadi, apa yang harus dilakukan untuk mempersatuan kembali perpecahan yang telah terjadi,
meskipun tampaknya hal ini tidak mungkin. Namun hal ini haruslah senantias di cari dan di
usahakan solusinya senantiasa.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Berkhof. H, Sejarah Gereja (disadur oleh Dr. I.H. Enklaar dalam bahasa Indonesia). BPK
Gunung Mulia, Jakarta, 2009.
Dr. De Jonge. C. Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2009.
Kenneth, Curtis.A, dkk. Seratus Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. BPK Gunung Mulia,
Jakarta, 2004.
Kristiyanto Eddy. OFM, Gagasan Yang Menjadi Peristiwa. Kanisus, Yogyakarta, 2001.
Kristiyanto Eddy. OFM, Reformasi Dari Dalam (Sejarah Gereja Zaman Modern). Kanisus,
Yogyakarta, 2004.

[1] Pada bagian ini, penulis merangkum dan membahasakan sendiri secara sistematis bagian yang
perlu dalam membahas bab ini dari buku Eddy Kristiyanto OFM, Reformasi Dari Dalam (Sejarah
Gereja Zaman Modern). Kanisus, Yogyakarta, 2004, hlm 22-32.

[2] Bdk; Dr. De Jonge. C. Pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta, hlm,
33-38.
[3] Bdk; Kenneth, Curtis.A, dkk. Seratus Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. BPK Gunung
Mulia, hlm 50-67.
[4] Bdk;Dr. Berkhof. H, Sejarah Gereja (disadur oleh Dr. I.H. Enklaar dalam bahasa Indonesia).
BPK Gunung Mulia, hlm, 44-54
[5]Bdk; Kristiyanto Eddy. OFM, Gagasan Yang Menjadi Peristiwa. Kanisus, hlm, 35-47.
[6] Ibid; hlm 55-60