Anda di halaman 1dari 14

PENGENDALIAN PENYAKIT TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Citra Inneke Wibowo


: B1J012010
:I
:6
: Novi Triana Dewi

KEMENTERIAN RISET , TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit dapat terjadi bila terjadi interaksi antara tanaman , lingkungan
serta patogen. Tanaman yang rentan apabila terinfeksi oleh patogen yang virulen
serta didukung oleh keadaan lingkungan yang lebih menguntungkan patogen
maka akan terjadi penyakit. Keadaan lingkungan yang terus menerus
menguntungkan bagi perkembangan pathogen akan dapat dipastikan akan terjadi
serangan penyakit yang cukup parah di areal tersebut. Para petani umumnya
menggunakan bahan pestisda kimia untuk mengatasi serangan penyakit. Hal ini
dikarenakan pestisda kimia dapat memberikan hasil yang cepat dan nyata
Pengendalian hayati dengan menggunakan mikroorganisme merupakan
pendekatan alternatif yang perlu dikaji dan dikembangkan, sebab relatif aman
serta

bersifat

ramah

lingkungan.

Telah

banyak

dilaporkan

beberapa

mikroorganisme antagonis memiliki daya antagonisme yang tinggi terhadap


patogen tanaman dan dapat menekan perkembangan patogen tular tanah (soil
borne pathogen). Berdasarkan keadaan ini maka eksplorasi dan skrining agen
hayati harus dilakukan dalam rangka untuk menemukan gen-gen baru yang
berpotensi sebagai agen pengendalian hayati penyakit tanaman yang ramah
lingkungan.

Mekanisme antagonis yang dilakukan adalah berupa persaingan

hidup, parasitisme, antibiosis dan lisis (Soenartiningsih et al., 2011)


Penggunaan agen hayati bertujuan untuk mengurangi serangan
penyakit dengan mengurangi jumlah inokulum patogen, menekan kemampuan
patogen menginfeksi inangnya dan mengurangi keganasan patogen tersebut. Salah
satu syarat suatu organisme bisa dikatakan sebagai agen
mempunyai

kemampuan

antagonisme

yaitu

kemampuan

hayati adalah
menghambat

perkembangan atau pertumbuhan organisme lainnya (Cook dan Baker, 1989).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum pengendalian penyakit tumbuhan adalah untuk
menguji efektifitas
tumbuhan.

biofungisida uji dalam mengendalikan penyakit pada

II. TELAAH PUSTAKA


Penyakit tanaman dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu penyakit
sistematik dan penyakit lokal. Penyakit sistematik adalah penyakit yang menyebar
ke seluruh tubuh tanaman, sehingga seluruh tanaman akan menjadi sakit. Penyakit
lokal adalah penyakit yang hanya tedapat disuatu tempat atau bagian tertentu,
misalnya pada buah, bunga, daun, cabang, batang atau akar (Sunaryono, 1981).
Penyakit tanaman merupakan penyimpangan dari sifat normal yang
menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya.
Tiga faktor yang mendukung timbulnya penyakit yaitu tanaman inang, penyebab
penyakit, dan faktor lingkungan. Tanaman inang adalah tanaman yang diserang
oleh patogen. Patogen ada dua yaitu fisiopath yang bukan organisme dan parasit
yang meruapakan organisme seperti jamur, bakteri, dan virus (Motoredjo, 1989).
Fisiopath merupakan faktor lingkungan yang tidak tepat bagi tanaman, misalnya
suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, adanya gas beracun yang berasal dari
pencemaran ataupun hasil samping metabolisme tanaman itu sendiri dan
kurangnya unsur hara pada tanah (Pyenson, 1979).
Cendawan yang menjadi patogen pada tanaman, mengganggu prosesproses fisiologis pada tanaman yang menjadi inangnya. Gangguan yang terusmenerus yang merugikan aktivitas tanaman disebut penyakit tanaman. Cendawan
merugikan tanaman dalam hal pengangkutan zat cair dan garam mineral,
mengganggu proses fotosintesa, serta mengganggu pengangkutan hasil-hasil
proses fotosintesa. Cendawan dapat merusak akar, batang, daun, bunga dan buah,
serta hasil tanaman di tempat penyimpanan (Tjahjadi, 1995).
Salah satu penyebab penyakit pada tanaman adalah jamur. Jamur masuk ke
dalam divisio Thallopyhta, subdivisi fungi. Jamur adalah organisme yang tubuh
vegetatifnya (struktur somatisnya) merupakan talus tidak mempunyai berkas
pengangkutan. Struktur somatisnya biasanya berbentuk benang halus bercabangcabang, mempunyai dinding sel yang tersusun oleh khitin, selulosa, serta
mempunyai inti sejati. Patogen yang lainnya adalah virus dan bakteri. Bakteri
patogen mempunyai penyebaran dari tanaman satu ke tanaman yang lain melalui
air, serangga, hewan laindan manusia (Triharso, 1996).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum pengendalian penyakit tumbuhan
secara uji kultur ganda diantaranya adalah tabung reaksi, labu Erlenmeyer, gelas
ukur, alat penggiling daging, haemocytometer, cover glass, beaker glass,
mikropipet dan tip, mortar and pestle, tisu, alumunium foil, autoklaf, vortex,
cawan petri, bor gabus, Bunsen, penggaris, spidol, ose, wrapper, mikroskop,
kamera, alat tulis, LAF, dan sprayer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum pengendalian penyakit tumbuhan
secara diantaranya adalah tepung ketan putih (TKP), tepung bawang putih (TBP),
media PDA+Chloramphenical, patogen (Fusarium oxysporum), antagonis
(Trichoderma harzianum), akuades steril dan alkohol.
B. Metode
1. Pembuatan Pelet

TKP (1000 gr) + TBP


(500gr)

Akuades steril
(600 ml)

Suspensi T.
harzianum (200
ml)

Homogenkan sampai kalis


Dicetak dengan alat penggiling daging
Dikeringkan dalam oven 40 C 24 jam
2. Pembuatan Inokulum T. harzianum

1 ml
10 ml
akuades steril

1 ml

1 ml 1 ml

1 ml

1 ml 1 ml

1 ml

Isolat T.
harzianum hasil
peremajaan

9 ml
10-1

9 ml
10-2

9 ml
10-3

9 ml
10-4

9 ml
10-5

200 ml
akuades
steril

9 ml
10-6

3. Uji Viabilitas
-

Penentuan Konidia Awal

pelet

Diambil
1 gr

dihaluskan

9 ml
10-1

9 ml
10-2

9 ml
10-3

1 ml

Media PDA
Inkubasi 4 x 24 jam
SR
-

Penentuan Konidia Akhir

1 ml 1 ml
1 ml
Hitung konidia akhir

9 ml
akuades
steril

Hasil
inokulum

9 ml
10-1

9 ml
10-2

9 ml
10-3

jumlah konidia awal/ akhir= jumlah sel x 0,25 x 106 x 1/P (Pengenceran)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Tabel 1. Hasil pengamatan Jumlah Konidia T. harzianum


No

Konidia Awal
1

Kelompok 1,2,3
1.375 x 10 3
1.375

Kelompok 4,5,6
0,125 x 10 3
1250
Konidia Awal

Kelompok 1,2,3
1.1875 x 10 3
1187,5

Hasil Perhitungan jumlah sel


No.
Kelompok 1,2,3
1.
Jumlah sel dikolom
1: 8
2: 2
3: 8
4: 4
= 22/4
= 5,5
2
Jumlah sel = 5,5
3
Perhitungan:

Kelompok 4,5,6
812,5

Kelompok 4,5,6
Jumlah sel dikolom
1: 0
2: 1
3: 0
4: 1
= 2/4
= 0,5
Jumlah sel = 0,5
Perhitungan:

=5,5 x 0,25x 106 x 1/ 103

=0,5 x 0,25x 106 x 1/ 103

=1375

=1250

Gambar 1. Hasil Pembuatan Pelet T. harzianum

B. Pembahasan
Pengendalian secara hayati adalah upaya menekan perkembangan patogen
penyebab penyakit dengan memanfaatkan organisme hidup sebagai musuh alami.
Mekanisme pengendalian penyakit secara hayati yaitu : (1) Kolonisasli (2)
Kompetisi; (3) Antibiosis; (4) Hiperparasitisme.

Keberhasilan penerapan

pengendalian hayati sangat ditentukan dengan ketepatan pemilihan agen


pengendali, untuk itu perlu pengetahuan tentang ekologi dan biologi patogen
sebelum menentukan agen pengendali yang digunakan. Diantara sifat yang harus
dimiliki agen pengendali hayati adalah : (1) mampu tumbuh lebih cepat dibanding
patogen ; (2) bersifat sebagai pesaing (kompetitor) terhadap patogen ; (3) mampu
menghasilkan senyawa antibiosis, enzim dan toksin yang mampu menghambat
pertumbuhan patogen ; (4) mudah dibiakkan pada media buatan; (5) tidak
menimbulkan penyakit pada tanaman (Rompas, 2011).
Praktikum kali ini melakukan uji antagonisme isolat Tricoderma harzianum
dengan dijadikat pellet untuk pengendalian penyakit tanaman (Mahadtanapuk et
al., 2007)
Klasifikasi Tricoderma harzianum menurut Semangun (1996) adalah sebagi
berikut :
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Amastigomycota

Class

: Deuteromycetes

Famili

: Moniliales

Genus

: Trichoderma

Spesies

: Trichoderma harzianum

T. harzianum banyak ditemukan di daerah yang beriklim panas, suhu


optimum untuk pertumbuhan T. harzianum adalah 150 300 C, tetapi pertumbuhan
terbaik rata-rata 300 C dan untuk suhu maksimum 300 360 C. Jamur ini tumbuh
normal pada pH 3,7 4,7 (Sudarmo, 1992). Trichoderma sp hidup bebas di tanah
dan pada ekosistem akar, jamur ini dapat bersaing dengan organisme lain.
Organisme dapat tumbuh dengan cepat memiliki semacam rumbai, bercabangcabang memiliki konidiofor dengan Phialides lageniform dan bantalan konidia
berwarna hijau ( Adhikari et al,. 2014).

Trichoderma spp. merupakan salah satu jamur antagonis yang telah banyak
diuji coba untuk mengendalikan penyakit tanaman. Sifat antagonis Cendawan
Trichoderma spp. telah diteliti sejak lama. Inokulasi Trichoderma spp. ke dalam
tanah dapat menekan serangan penyakit layu yang menyerang di persemaian, hal
ini disebabkan oleh adanya pengaruh toksin yang dihasilkan cendawan ini. Selain
itu Trichoderma spp..

mempunyai kemampuan berkompetisi dengan patogen

tanah terutama dalam mendapatkan Nitrogen dan Karbon (Sneh et al.,1991).


Trichoderma spp. mempunyai keunggulan dalam melakukan mekanisme
antagonis karena bersifat antibiosis, hiperparasitisme, menghasilkan metabolit
sekunder,

dan

kompetitif.

Banyak

penelitian

dilakukan

menggunakan

Trichoderma spp. karena pertumbuhannnya yang cepat, bersifat cosmopolitan,


antagonis terhadap patogen, dan dapat tumbuh dalam keadaan yang minimum
(Ismail, 2010). Penambahan T. harzianum mampu menekan intensitas penyakit
dan menghambat masa inkubasi patogen, dengan persaingan dalam ruang
pertumbuhan dan nutrisi. Hal ini sesuai dengan pendapat Loekas (2002), yang
menyatakan bahwa pemberian antagonis baik tunggal maupun digabung dengan
agensia lain, mampu memperlambat masa inkubasi patogen busuk rimpang jahe
dan menurunkan intensitas penyakitnya.
Berdasarkan dari hasil praktikum yang didapatkan kelompok 1, 2 dan 3
jumlah sel dalam kolom adalah sebesar 5,5. Jumlah konidia awal sebanyak 1375
dan konidia akhirsebanyak 1187,5. Kelompok 4, 5 dan 6 jumlah sel dalam kolom
adalah sebesar 0,5. Jumlah konidia awal sebanyak 1250 dan konidia
akhirsebanyak 812,5 hal ini sesuai dengan pendapat Wiyono (1994)

yang

mengatakan bahwa Trichoderma spp. merupakan salah satu agen pengendali


hayati yang efektif mengendalikan patogen tular tanah dari berbagi jaenis tanaman
seperti Rhizoctonia solani, Pythium aphanidermatum, Fusarium oxysporum, dan
Sclerotium rolfsii. Beberapa cara yang dilakukan oleh cendawan antagonis
terhadap patogen sehingga dikategorikan sebagai agen biokontrol antara lain
dengan

mekanisme

pengurangan

kepadatan

inokulum

dan

penekanan

perkecambahan atau pertumbuhan pathogen. Patogen yang menular lewat tanah,


penggunaan fungisida tidak praktis karena biaya yang selangit dan membahaya
lingkungan disekitarnya. Oleh karena itu terintegrasi pengelolaan penyakit

menggunakan agen biokontrol adalah yang terbaik. Metode pengendalian biologis


bertujuan untuk meningkatkan ketahanan inang atau mendukung mikroorganisme
antagonis untuk menekan pertumbuhan patogen seperti bakteri dan jamur (Babu
and Paramageetham, 2013).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil praktikum yang didapatkan kelompok 1, 2 dan 3
jumlah sel dalam kolom adalah sebesar 5,5. Jumlah konidia awal sebanyak 1375
dan konidia akhirsebanyak 1187,5. Kelompok 4, 5 dan 6 jumlah sel dalam kolom
adalah sebesar 0,5. Jumlah konidia awal sebanyak 1250 dan konidia
akhirsebanyak 812,5.
B. Saran
Sebaiknya pada saat praktikum lebih aseptis lagi supaya tidak terjadi
kontaminasi atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Adhikari, A., S. Nandi., S. Dutta., I. Bhattacharya and T. Mandal. 2014. Study of
morphology and mycoparasitism of some antagonists of Trichoderma sp
from West Bengal, India. International Journal of Research. 593-606.
Babu, G.P. and Paramageetham, Ch. 2013. Biocontrol of Sclerotium rolfsii a
polyphagous plant pathogen by Pseudomonas aeruginosa isolated from
forest litter. International Journal of Research in Plant Science Universal
Research Publications. All rights reserved. 3(1): 1-4.
Cook, J. R., dan F. K., Baker. 1989. The Nature and Practice of Biological Control
of Plant Patogen. APS Press. The American Phytopatological Society St.
Paul Minnesota.
Ismail, N. 2010. Potensi Agens Hayati Trichoderma spp. Sebagai Agens
Pengendali Hayati. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
Sulawesi Utara.
Loekas, S. 2002. Penyakit Busuk Rimpang Jahe di Sentra Produksi Jahe Jawa
Tengah : 2. Intensitas dan Pola Sebaran Penyakit. Penelitian ini didanai
oleh Bagian Proyek Pembinaan Kelembagaan Litbang Pertanian
(ARMPII) Jawa Tengah.
Mahadtanapuk, S . M., Sanguansermsri, R.W., Cutler, V ., Sardsud and
Anuntalabhochai ,S.2007. Control of Anthracnose Caused by
Colletotrichum musae on Curcuma alismatifolia Gagnep. Using
Antagonistic Bacillus spp. . American Journal of Agricultural and
Biological Sciences 2, pp 54-61
Rompas, J. P. 2011. Mekanisme Pengendalian Hayati Penyakit Tumbuhan.
http://rompas-unpal.blogspot.com/2011/12/pengendalian-hayati.html.
diakses tanggal 21 November 2014.
Semangun, H.1996. Ilmu Penykit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Sneh, B., B. Lee, and O. Akira.1991. Identification of Rhizoctonia Species. St.
Paul, USA: The American Phytophatological Society.
Soenartiningsih, M.S. Pabbage dan Nurasiah Djaenuddin. 2011. Penggunaan
Inokulum Antagonis (Trichoderma dan Glicaldium) Dalam Menekan
Penyakit Busuk Pelepah Pada Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia.

Sudarmo, S. 1992. Tembakau Pengendalian Hama dan penyakit. Yogyakarta:


Kanisius.
Sunaryono, H. 1981. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Sinar Baru,
Bandung.
Pyenson, L. 1979. Fundamental Of Entomology and Plant Patology. Avi
Publishing Co. Wasport Press, Yogyakarta.
Tjahjadi, N. 1995. Hama dan Penyakit Tanaman. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Triharso. 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Wiyono S, 1994. Keefektifan Gliocladium fimbriantum Gilman dan Abbot
terhadap Patogen Busuk Batang pada Kedelai dan Toleransinya terhadap
Pestisida. Jurnal Bul. HPT. 7 (1): 510.