Anda di halaman 1dari 12

AKUNTANSI MANAJERIAL

RINGKASAN MATERI

KEWAJIBAN LANCAR, PROVISI, DAN KONTINJENSI


MAKSI UNRAM 2016

OLEH:
R.DEDI DARMA PRAMANA

UNIVERISTAS MATARAM
PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI

Rangkuman Akuntansi Keuangan II bab 13 Kewajiban Lancar


KEWAJIBAN LANCAR DAN KONTINJENSI
(CURRENT LIABILITIES AND CONTINGENCY)

Pengertian Kewajiban
Kewajiban adalah kemungkinan pengorbanan masa depan atas manfaat
ekonomi yang muncul dari kewajiban saat ini dari entitas tertentu untuk mentransfer
aktiva atau menyediakan jasa kepada entitas lainnya di masa depan sebagai hasil dari
transaksi atau kejadian masa lalu.
Dengan kata lain, suatu kewajiban memiliki tiga karakteristik :
1. Merupakan kewajiban saat ini yang memerlukan penyelesaian dengan
kemungkinan transfer masa depan atau penggunaan kas, barang atau jasa
2. Merupakan kewajiban yang tidak dapat dihindari
3. Transaksi atau kejadian yang menciptakan kewajiban itu harus telah terjadi
Pengertian Kewajiban Lancar
Kewajiban lancar adalah kewajiban yang likuidasinya diperkirakan secara
layak memerlukan penggunaan sumber daya yang ada, yang diklasifikasikan sebagai
aktiva lancar, atau penciptaan kewajiban lancar lain atau kewajiban yang
penyelesaiannya dalam satu siklus operasi biasanya 1 tahun.
Beberapa contoh kewajiban lancar :

1.

Hutang Usaha

2.

Wesel Bayar

3.

Jatuh Tempo Berjalan Hutang Jangka Panjang

4.

Kewajiban Jangka Pendek yang diharapkan akan didanai kembali

5.

Hutang Dividen

6.

Uang Muka Pelanggan dan Deposito yang dapat dikembalikan

7.

Pendapatan diterima dimuka

8.

Hutang Pajak Penjualan

9.

Hutang PPh

10. Kewajiban yang berhubungan dengan karyawan


A.

Hutang Usaha
Hutang Usaha atau Hutang Dagang merupakan saldo yang terhutang kepada

pihak lain atas barang, perlengkapan atau jasa yang dibeli dengan akun terbuka atau
secara kredit. Hutang Usaha muncul karena adanya kesenjangan waktu antara
penerimaan jasa atau akuisisi hak aktiva dan pembayaran atasnya. Periode perluasan
kredit ini biasanya ditemukan dalam persyaratan penjualan (2/10, n/30 atau 1/10
E.O.M) dan biasanya adalah 30 hari hingga 60 hari.
B.

Wesel Bayar
Wesel Bayar adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu pada

saat tanggal tertentu di masa depan dan dapat berasal dari pembelian, pe,biayaan atau
transaksi lainnya. Wesel diklasifikasikan sebagai jangka pendek atau jangka panjang
tergantung pada tanggal jatuh temponya dan dapat juga diklasifikasikan sebagai
wesel berbunga dan wesel tanpa bunga.

C.

Jatuh Tempo Berjalan Hutang Jangka Panjang


Pepsico melaporkan obligasi, wesel hipotik dan hutang jangka panjang

lainnya yang jatuh tempo dalam tahun fiscal beriktunya. Jatuh tempo saat ini dari
hutang jangka panjang sebagai kewajiban lancar. Perusahaan seperti Pepsico, tidak
mencatat hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo saat ini sebagai kewajiban
lancar jika akan :
1. Ditarik atau dilunasi dengan aktiva yang terakumulasi untuk tujuan tersebut yang
secara layak tidak ditunjukkan sebagai aktiva lancar
2. Didanai kembali atau dilunasi dari hasil penerbita hutang baru
3. Dikonversi menjadi modal saham
D.

Kewajiban Jangka Pendek yang diharapkan akan didanai kembali


Kewajiban jangka pendek adalah hutang yang dijadwalkan akan jatuh tempo

dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca perusahaan atau dalam siklus operasi
perusahaan, mana yang lebih lama. Beberapa kewajiban jangka pendek didanai
kembali atas dasar jangka panjang dank arena itu, diperkirakan tidak memerlukan
penggunaan modal kerja selama tahun berikutnya.
Kriteria pendanaan kembali :
1.

Perusahaan memiliki rencana untuk mendanai kembali kewajiban atas dasar


jangka panjang

2.
E.

Perusahaan itu menunujukkan kemampuan untuk pendanaan kembali itu


Hutang Dividen
Hutang Dividen tunai adalah jumlah terhutang oleh perusahaan kepada para

pemegang saham sebagai hasil dari otorisasi dewan direksi. Pada tanggal
pengumuman, perusahaan mengasumsikan kewajiban yang menempatkan pemegang
saham dalam posisi kreditor atas sejumlah dividen yang diumumkan. Karena dividen

tunai selalu dibayarkan dalam satu tahun setelah pengumuman (biasanya 3 bulan )
maka itu diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar.

F.

Uang Muka dan Deposito Pelanggan


Kewajiban lancar yang dapat mencakup

deposito kas yang dapat

dikembalikan yang diterima dari pelanggan dan karyawan. Prusahaan dapat


menerima deposito dari pelanggan untuk menjamin pelaksanaan kontrak atau jasa
atau sebagai penjamin untuk menutup pembayaran kewajiban yang diharapkan di
masa depan. Klasifikasi pos-pos ini sebagai kewajiban lancar atau tidak lancar
tergantung pada waktu antara tanggal deposito dan pemutusan hubungan yang
mensyaratkan deposito.
G.

Pendapatan Diterima Dimuka


Perusahaan memperhitungkan pendapatan diterima dimuka yang diterima

sebelum barang dikirimkan atau jasa dilakukan adalah dengan cara :


1.

Ketika uang diterima, Kas didebet dan akun Kewajiban lancar yang
mengidentifikasi sumber pendapatan diterima dimuka dikredit

2.

Ketika pendapatan diterima, akun pendapatan diterima dimuka didebet, dan


akun pendapatan yang diterima dikredit

H.

Hutang Pajak Penjualan


Terkadang penagihan pajak penjualan yang dikredit ke akun kewajiban tidak

sama dengan kewajiban yang dihitung oleh rumus pemerintah. Pada kasus ini, GAP
membuat penyesuaian atas aku kewajiban dengan mengakui keuntungan atau
kerugian atas penagihan pajak penjualan.
Dalam banyak perusahaan, pajak penjualan dan jumlah penjualan tidak
dipisahkan pada waktu penjualan terjadi. Keduanya dikredit secara total kea kun

penjualan. Sehingga untuk merefleksikan scara benar jumlah penjualan actual dan
kewajiban untuk pajak penjualan, akun penjualan didebet sebesar pajak penjualan
yang terhutang kepada pemerintah atas penjualan itu dan akun hutang pajak penjualan
dikredit sebesar jumlah yang sama.

I.

Hutang Pajak Penghasilan


Setiap Pajak Penghasilan federal atau Negara bagian memiliki porsi yang

berbeda terhadap jumlah laba tahunan. Dengan menggunakan informasi dan nasihat
yang tersedia, perusahaan harus mempersiapkan SPT pajak penghasilan dan
menghitung hutang pajak penghasilan yang dihasilkan dari operasi periode berjalan.
Hutang pajak atas laba perusahaan, seperti yang dihitung per SPT pajak hatus
diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar. Tidak seperti perseroan, perusahaan
perseorangan dan persekutuan bukan merupakan entitas kena pajak. Karena masingmasing pemilik dan anggota persekutuan terkena PPh pribadi atas bagian dari laba
kena paja perusahaannya, maka kewajiban PPh tidak dicantumkan dalam laporan
keuangan.
J.

Kewajiban yang berhubungan dengan Karyawan

1.

Pemotongan Gaji

Jenis paling umum dari pemotongan gaji adalah pajak premi asuransi, tabungan
karyawan dan iuran serikat kerja. Jika jumlah dipotong belum diserahkan kepada
pihak yang berwenang pada akhir periode akuntansi, maka jumlah itu harus diakui
sebagai kewajiban lancar.
2.

Absensi yang Dikompensasi

Absensi yang dikompensasi adalah absensi dari pekerjaan seperti cuti, sakit, dan hari
libur. Suatu kewajiban harus diakrualkan untuk biaya kompensasi atas absensi di
masa depan.

3.

Perjanjian Bonus

Tambahan atas gaji atau upah yang diberikan kepada karyawan atas hasil kerja atau
jumlah laba tahunan perusahaan. Pemberian bonus kepada karyawan harus
dimasukkan sebagai pengurang dalam menentukan laba bersih tahun berjalan.

Pengertian Kontinjensi
Kontinjensi adalah suatu kondisi, situasi atau serangkaian situasi yang ada
yang melibatkan ketidakpastian mengenai keuntungan atau kerugian perusahaan yang
pada akhirnya akan diketahui ketika satu atau lebih kejadian di masa depan terjadi
atau tidak terjadi.
Keuntungan Kontinjensi
Keuntungan kontinjensi adalah hak atau klaim menerima aktiva yang
keberadaannya tidak pasti tetapi pada akhirnya mungkin akan menjadi sah. Jenis
keuntungan kontinjensi yang khas adalah :

Penerimaan yang mungkin atas uang dari hadiah, sumbangan, bonus dan lain

sebagainya

Kemungkinan pengembalian dana dari pemerintah atas kelebihan pajak

Penundaan kasus pengadilan yang hasilnya mungkin menguntungkan

Kerugian pajak yang dikompensasi ke depan

Kerugian Kontinjensi
Kerugian Kontinjensi melibatkan kemungkinan terjadinya kerugian.
Kewajiban yang terjadi sebagai akibat dari kerugian kontinjensi menurut definisinya
sebagai kewajiban kontinjensi. Apabila terdapat kerugian kontinjensi, maka

kemungkinan bahwa kejadian di masa depan akan menguatkan terjadinya kewajiban


dari sangat mungkin ke kurang mungkin.
Suatu estimasi kerugian dari kerugian kontinjensi harus diakrualkan dengan
mebebankannya ke beban dan kewajiban yang dicatathanya jika kedua kondisi
tersebut dipenuhi:
1.

Informasi yang tersedia sebelum penerbitan laporan keuangan menunjukkan

bahwa kemungkinan besar suatu kewajiban telah terjadi pada tanggal laporan
keuangan
2.

Jumlah kerugian dapat diestimasi secara layak

Pengakuan Akuntansi atas Kewajiban Penghentian Aktiva


Sebuah perusahaan harus mengakui kewajiban penghentian aktiva (assets
retiremet obligation-ARO) ketika perushaan mempunyai kewajiban hukum terkait
dengan sebuah aktiva jangka panjang dan ketika perusahaan dapat secara layak
mengestimasi jumlah kewajiban itu.
Kejadian yang membebankan kewajiban
Contoh dari kewajiban hukum yang ada, yang memerlukan pengakuan
kewajiban, meliputi tetapi tidak terbatas pada :
1.

Penutupan pabrik/fasilitas nuklir

2.

Pembongkaran, pemulihan, dan reklamasi property minyak dan gas

3.

Biaya penutupan, reklamasi, dan pembongkaran faslitas pertambangan

4.

Biaya penutupan dan pasca penutupan tempat pembuangan sampah padat

Untuk memproleh manfaat dari aktiva jangka panjang ini, perusahaan biasanya
berkewajiban secara hukum terhadap biaya-biaya yang terkait dengan penghentian

aktiva tersebut, apakah aktivitas penghentian itu dilakukan dengan tenaga kerja dan
peralatan sendiri atau dilakukan oleh pihak lain.

Pengukuran
Perusahaan pada awalnya mengukur ARO pada nilai wajar, yang didefinisikan
sebagai jumlah yang akan dibayar perushaan di dalam pasar aktif. Karena pasar aktif
tidak begitu banyak tersedia bagi ARO, maka perushaan mengestimasi nilai wajarnya
berdasarkan informasi terbaik yang ada seperti informasi harga pasar dan kewajiban
serupa jika ada.

Pengakuan dan Alokasi


Untuk mencatat sebuah ARO dalam laporan keuangan, sebuah perusahaan
memasukkan biaya yang terkait dengan ARO dalam jumlah yang tercatat aktiva
berjangka panjang tersebut dan mencatat kewajiban dengan jumlah yang sama. Biaya
penghentian akan dicatat sebagai bagian dari aktiva tersebut karena biaya-biaya ini
terikat pada kegiatan operasi aktiva itu dan diperlukan untuk menyiapkan aktiva itu
agar sebagaimana mestinya. Perusahaan tidak boleh mencatat biaya penghentian
aktiva yang dikapitalisasi di akun terpisah karena tidak ada manfaat ekonomis nasa
depan yang dapat dikaitkan dengan biay-biaya-biaya ini saja.
Pada periode-periode setelahnya, perusahaan mengalokasikan biaya ARO
untuk dibebankan selama periode umur manfaat aktiva tersebut. Perusahaan dapat
menggunakan metode garis lurus untuk alokasi ini.
Penyajian Kewajiban Lancar
Dalam praktek kewajiban lancar biasanya dicatat dalam catatan akuntansi dan
dilaporkan dalam laporan keuangan pada nilai penuh jatuh temponya. Karena
singkatnya periode waktu yang terlibat, yang sering kali kurang dari satu tahun, maka

perbedaan antara nilai sekarang kewajiban lancar dan nilai jatuh tempo biasanya tidak
besar. Penilaian kewajiban yang sedikit terlalu tinggi akibat pencatatan kewajiban
lancar pada nilai jatuh temponya dianggap sebagai tidak material.
Terdapat pengecualianpenting apabila kewajiban yang jatuh tempo saat ini
harus dibayar dari aktiva yang diklasifikasikan sebagai jangka panjang. Jika
kewajiban jangka pendek dikeluarkan dri kewajiban lancar karena pendanaan
kembali, maka catatan laporan keuangan harus mencakup :
1.

Penjelasan umum mengenai perjanjian pendanaan

2.

Persyaratan dari setiap kewajiban bary yang terjadi dan akan terjadi

3.

Persyaratan dari setiap sekurittas ekuitas yang diterbitkan atau akan diterbitkan.

Penyajian Kontinjensi
Perusahaan mencatat kerugian kontinjensi dan kewajiban jika kerugiannya
adalah mungkin dan dapat diestimasi. Akan tetapi. Jika kerugiannya sangat mungkin
atau dapat diestimasi tetapi tidak keduanya, dan jika terdapat paling sedikit
kemungkinan yang layak bahwa suatu kewajiban telah terjadi, maka pengungkapan
berikut diperlukan dalam catatan :
1.

Sifat Kontinjensi

2.

Stimasis mengenai kemungkinan kerugian atau rentang kerugian atau suatu

pernyataan bahwa estimasi tidak dapat dilakukan

Beberapa kewajiban kontinjensi lain yang harus diungkapkan meskipun


perusahaan kemungkinan kerugiannya sangat kecil adalah sebagai berikut :
1.

Jaminan atas hutang pihak lain

2.

Kewajiban Bank komersial

3.

Jaminan untuk membeli kembali piutang yang telah dijual atau diberikan

Analisis Kewajiban Lancar


Perbedaan antara kewajiban lancar dan hutang lancar adalah penting karena
menyediakan informasi tentang likuiditas perusahaan. Likuiditas yang berhubungan
dengan kewajiban adalah waktu yang diharpkan berlalu hingga suatu kewajiban harus
dibayar. Dengan kata lain, kewajiban yang akan dibayar dengan segera merupakan
kewajiban lancar, Suatu perusahaan yang likuid dapat bertahan lebih baik dalam
menghadapi masalah keuangan. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki peluang
yang lebih baik dalam mengambil keuntungan dan kesempatan investasi yang
berkembang.
Dua rasio yang digunakan dalam menganalisis dan menguji likuiditas adalah
rasio lancar dan rasio cepat.
Rasio Lancar
Rasio Lancar adalah rasio total aktiva lancar terhadap kewajiban lancar.
Aktiva Lancar
Rasio Lancar =
Kewajiban Lancar
Rasio Cepat
Banyak analis lebih menyukasi rasio cepat yang menghubungkan total kewajiban
lancar dengan kas, sekuritas dan piutang.

Kas+investasi jangka pendek+piutang bersih


Rasio Cepat =
Kewajiban Lancar

Daftar Pustaka
Kieso, Donald E., dkk.2007. Akuntansi Intermediate jilid 2. Penerbit Erlangga.
Jakarta.