Anda di halaman 1dari 5

Patofisiologi demam

Pendahuluan
Demam merupakan gejala penyakit yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Demam
merupakan salah satu keluhan yang sering diutarakan oleh penderita atau keluarganya kepada
dokter atau petugas kesehatan baik secara langsung maupun melalui telepon. Demam sendiri
sebenarnya sudah dikenal sejak jaman purbakala dan merupakan petunjuk perkembangan
penyakit yang diderita oleh si sakit. Pada umumnya demam terjadi dalam waktu yang singkat
tetapi walaupun demikian, terkadang dapat menimbulkan rasa tidak enak atau tidak nyaman bagi
penderita.
Demam (febris) adalah suatu reaksi fisiologis tubuh yang kompleks terhadap penyakit yang
ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh di atas normal akibat rangsangan zat pirogen terhadap
pusat pengaturan suhu tubuh(termoregulator) di hipotalamus.1 Pada orang dewasa suhu tubuh
yang normal berkisar antara 36,1-37,3C. Suhu tubuh memiliki siklus diurnal dengan suhu
terendah terjadi pada pukul 6.00 pagi dan suhu tubuh tertinggi pada pukul 16.00-18.00 sore.
Seseorang dikatakan demam bila suhu tubuh diantara pukul 00.00-12.00 lebih dari 37,2C dan
diantara pukul 12.00-24.00 lebih dari 37,3C. seseorang disebut hiperpireksia nila suhu tubuh >
41,2C,
hipotermia
bila
suhu
tubuh
<
35C.2

Pengaturan Suhu Tubuh (Termoregulasi)


Setiap sel di dalam tubuh memerlukan energi untuk memelihara struktur dan fungsinya. Seluruh
energi yang diperlukan oleh sel-sel tersebut berasal dari makanan yang dikonsumsi setiap hari
(sumber energi). Dalam kegiatan tubuh sehari-hari, pemakaian energi dapat melalui kegiatan
kerja eksternal dan internal. Kerja eksternal berhubungan dengan pemakaian energi akibat
kontraksi otot rangka sewaktu tubuh menggerakkan badan atau anggota badan seperti
mengangkat atau memindahkan suatu benda, menghindar, memukul, mengelak, dan sebagainya.
Kerja internal berhubungan dengan pemakaian energi oleh seluruh proses biologis di dalam

tubuh

yang

tidak

termasuk

dalam

kegiatan

kerja

eksternal.3

Gambar Sumber dan Pemakaian Energi


Tidak semua energi yang didapat dari nutrien dapat dipergunakan untuk kegiatan kerja. Energi
yang tidak dapat dipakai ini akan diubah menjadi energi panas. Selama proses biokimiawi di
dalam tubuh, hanya 50% energi dari nutrien yang diubah menjadi ATP selebihnya akan hilang
dalam bentuk panas. Selama pemakaian ATP oleh sel-sel tubuh, 25% energi yang berasal dari
makanan ini pun akan diubah menjadi panas. Selanjutnya panas yang terbentuk inilah (produksi
panas internal) dan ditambah dengan perolehan panas yang didapat dari lingkungan eksternal
tubuh (keduanya disebut sumber panas) yang membentuk kandungan panas tubuh (suhu inti
tubuh). Bila kandungan panas tubuh ini sudah melebihi batas toleransi, maka tubuh akan
berupaya untuk mengeluarkan panas melalui kulit dengan cara konveksi, konduksi, radiasi dan
pelepasan
panas
melalui
air
keringat
maupun
melalui
paru-paru. 3

Suhu tubuh yang relatif tetap (36,1-37,7C) diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh yang

optimal. Seperti dikemukakan di atas bahwa hampir setiap kegiatan tubuh memerlukan tenaga
yang dihasilkan melalui reaksi kimia. Reaksi kimia di dalam tubuh diatur dengan sangat cermat
oleh katalisator yang berupa enzim, sehingga reaksi tersebut terjadi selangkah demi selangkah
dan berlangsung dengan halus. Enzim umumnya berupa protein. Enzim ini dapat berfungsi
dengan baik dan optimal pada suasana lingkungan tertentu,misalnya suhu dan pH yang optimal.
Suhu yang optimal itu berkisar 37C dan bila suhu di atas 42C, enzim sebagai protein dapat
mengalami denaturasi dan kehilangan daya katalisnya. Bila suhu terlalu rendah, kecepatan
produksi tenaga tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh seperti pada suhu sekitar 37C.
Meskipun bagian otak lain juga berperan, tetapi pusat integrasi pengendalian suhu tubuh
(termostat/termoregulator)
terdapat
di
hipotalamus.3,4
Pengaturan suhu tubuh terjadi secara terpadu di hipotalamus berdasarkan sinyal yang diterima
dari kulit dan suhu inti tubuh. Bila termoreseptor di kulit menerima rangsang dingin misanlnya,
maka oleh neuron yang sensitif terhadap dingin (cold sensitive neuron) sinyal ini akan diteruskan
ke hipotalamus. Bila akumulasi suhu yang terjadi di hipotalamus sudah melebihi batas minimal
yang dapat ditoleransi, maka tubuh akan mengadakan adaptasi perilaku seperti memakai selimut,
baju hangat, atau sarung tangan. Mekanisme tubuh lainnya untuk mengatasi batas ini juga dapat
terjadi melalui aktivasi saraf motorik yang mengakibatkan terjadinya kontraksi otot rangka
seperti menggigil dengan akibat produksi panas akan bertambah dan atau aktivasi sistem saraf
simpatis yang mengakibatkan terjadinya vasokonstriksi pembuluh darah kulit. Vasokostriksi
pembuluh darah kulit ini akan mengurangi darah dan panas tubuh yang mengalir ke permukaan
tubuh, sehingga proses penguapan melalui kulit dan pengeluaran panas melalui radiasi dan
konduksi berkurang (konservasi panas). Hal ini akan mempertahankan panas di dalam tubuh
tetap
terjaga
sehingga
tubuh
kembali
hangat.
Bila termoreseptor di kulit menerima rangsang panas, maka oleh neuron yang sensitif terhadap
panas (warm-sensitive neuron) akan diteruskan ke hipotalamus. Bila suhu yang terjadi di
hipotalamus sudah melebihi batas maksimal yang dapat ditoleransi maka tubuh akan melakukan
adaptasi perilaku seperti membuka kancing baju, memakai kaus tipis atau membuka baju.
Mekanisme lainnya untuk mengatasi batas ini adalah dengan mengaktivasi sistem saraf simpatik
yang selanjutnya akan mengakibatkan vasodilatasi pembuluh darah kulit sehingga, banyak darah
dan panas tubuh mengalir ke permukaan tubuh, dan hal ini akan menyebabkan pengeluaran
panas tubuh melalui penguapan, radiasi dan konduksi kulit meningkat sehingga suhu tubuh
kembali turun. Aktivasi saraf simpatis ini juga dapat merangsang kelenjar keringat, sehingga
produksi
keringat
bertambah.3,4,5

Patofisiologi Demam
Substansi penyebab demam adalah pirogen. Pirogen dapat berasal dari eksogen maupun
endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh sedangkan pirogen endogen berasal dari dalam
tubuh. Pirogen eksogen, dapat berupa infeksi atau non-infeksi, akan merangsang sel-sel
makrofag, monosit, limfosit, dan endotel untuk melepaskan interleukin(IL)-1, IL-6, Tumor
Necrosing Factor(TNF)-, dan interferon(IFN)- yang selanjutnya akan disebut pirogen
endogen/sitokin. Pirogen endogen ini, setelah berikatan dengan reseptornya di daerah preoptik
hipotalamus akan merangsang hipotalamus untuk mengaktivasi fosfolipase-A2, yang selanjutnya
melepas asam arakhidonat dari membran fosfolipid, dan kemudian oleh enzim siklooksigenase-2
(COX-2) akan diubah menjadi prostaglandin E2 (PGE2). Rangsangan prostaglandin inilah, baik

secara langsung maupun melalui pelepasan AMP siklik, menset termostat pada suhu tubuh yang
lebih tinggi. Hal ini merupakan awal dari berlangsungnya reaksi terpadu sistem saraf autonom,
sistem endokrin, dan perubahan perilaku dalam terjadinya demam (peningkatan suhu).
Pusat panas di hipotalamus dan batang otak kemudian akan mengirimkan sinyal agar terjadi
peningkatan produksi dan konservasi panas sehingga suhu tubuh naik sampai tingkat suhu baru
yang ditetapkan. Hal demikian dapat dicapai dengan vasokonstriksi pembuluh darah kulit,
sehingga darah yang menuju permukaan tubuh berkurang dan panas tubuh yang terjadi di bagian
inti akan memelihara suhu inti tubuh. Epinefrin yang dilepas akibat rangsangan saraf simpatis
akan meningkatkan metabolisme tubuh dan tonus otot. Mungkin akan terjadi proses menggigil
dan atau individu berusaha mengenakan pakaian tebal serta berusaha melipat bagian-bagai tubuh
tertentu
untuk
mengurangi
penguapan.1,2,3,4,5

Skema
patofisiologi
demam
Selama demam, argininin vasopresin (AVP), alphamelanocyte-stimulating hormone dan
corticotropin releasing factor akan dilepas oleh tubuh. Zat ini dapat bekerja sebagai antipiretik
endogen/intrinsik untuk menurunkan reaksi demam. Efek antipiretik ini akan membuat rangkaian
umpan balik terhadap hipotalamus. AVP atau vasopresin, juga dikenal sebagai hormon
antidiuresis, yang diproduksi selama demam akan menimbulkan retensi air oleh ginjal dan hal
inilah mungkin yang berperan dalam pengaturan suhu tubuh pada saat demam. Tetapi bagaimana
persisnya mekanisme kerja antipiretik endogen ini sampai saat ini belum jelas. 1,4

Pada mulanya yang dianggap sebagai pemicu reaksi demam adalah infeksi dan produk-produk
infeksi. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata beberapa molekul endogen seperti kompleks
antigen-antibodi, komplemen, produk limfosit dan inflammation bile acids juga dapat
merangsang pelepasan pirogen sitokin. Konsep bahwa sitokin dapat menginduksi sitokin lain
juga penting untuk dipahami dalam rangka menerangkan mekanisme demam akibat penyakit
non-infeksi.1,2,4