Anda di halaman 1dari 6

PAPAN PARTIKEL THERMOCOMPOSITEBERPENGUAT SERAT ALAM

Muhamad Haiyum
Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe
Jl. Banda Aceh-Medan Km. 280 P.O. Box 90, Buketrata, Lhokseumawe 24301
E-mail: adefufira_lsm@yahoo.com

Abstract
The purpose of this research is the utilization of natural resources which is un-optimal tobe
a material such as particles board thermocomposite. Especially, this research aim to obtain
theoppropriate composition of the volume of weight fibers coir with thermoplasti. Particle
board to be used in accordance with SNI standards. It also aims to determine the mechanical
properties characteristic produced. Fiber coir as reinforment varied with thermoplastic as a
matrix of polystyrene in the ratio 40:60, 50:50, and 60:40. To increase the interface fiber
and a matrix used NaOH, and as a solvent used the xylenes. The tensile test specimen
according to ASTM D638M standart and the bending test base on ASTM D790-81. The
tensile testing produces particles board SSK-PS highest in the composition of 40:60, is 14,25
kg/cm2 and the lowest at 60:40 is 4,73 kg/cm2. The particle board bending stress SSK-PS
highest at the composition of 50:50, namely 8,99 kg./cm2 and lowest at 60:40, namely 6,34
kg./cm2. The composition SSK-PS 40:60 has met the SNI standart 03-2105-1996 particle
board type 100.

Keywords: Thermocomposites, natural fibers, coir, polistirena, particle board


PENDAHULUAN
Komposit adalah material yang terdiri
dari dua atau lebih material yang disusun
sedemikian rupa dalam skala makroskopik,
sehingga diperoleh kombinasi sifat akhir yang
lebih baik. Perkembangan teknologi komposit
saat ini sudah mulai mengalami pergeseran
dari bahan komposit berpenguat serat sintetis
menjadi bahan komposit berpenguat serat
alam.
Seirama
dengan
hal
tersebut,
munculnya
peraturan
pemerintah
dan
berkembangnya kesadaran masyarakat untuk
melestarikan lingkungan hidup telah memicu
pergeseran paradigma untuk mendesain
material yang ramah lingkungan. Pemakaian
material komposit dengan matriks termoset
dan termoplastik yang menggunakan serat
pertanian sebagai sistem penguatan, yang
berasal dari sumber daya alam yang terbaharui,
dapat memberikan manfaat positif, yaitu untuk
pengembangan potensi pemanfaatan serat alam
yang tersedia berlimpah di Indonesia sebagai
hasil aktifitas pertanian, melalui penelitian
karakterisasi
material
dan
teknologi
pemrosesan
produk
komposit
ramah

lingkungan
yang
bernilai
ekonomis.
Disamping itu juga dapat memenuhi kebutuhan
industri yang berkembang di masyarakat,
melihat ketersedia-an di alam yang cukup
besar dan biaya bahan yang jauh lebih murah.
Produk yang dihasilkan dapat lebh ringan dan
membutuhkan konsumsi energi yang rendah,
sehingga dapat menurunkan biaya produksi
selain upaya meningkatkan nilai tambah
produk lokal.
Sabut kelapa yang berasal dari buah
kelapa merupakan salah satu serat perkebunan
yang belum optimal digunakan. Beberapa
penelitian tentang penggunaan sabut kelapa
telah dilakukan, akan tetapi penggunaan sabut
kelapa untuk dijadikan material thermokomposit sebagai bahan baku funiture dan
bahan bangunan masih sedikit sekali. Atas
dasar itu penelitian dilakukan untuk mengkaji
sejauh mana sabut kelapa dapat dijadikan
sebagai material thermocomposite papan
partikel untuk bahan pembuatan funiture dan
bahan bangunan lainnya.Penelitian ini juga
untuk menambah varian papan partikel yang
telah banyak digunakan selama ini, yang
terbuat dari tatal atau serbuk kayu. Papan
patikel dari thermocomposite yang diperkuat

Papan Partikel Thermocomposite Berpenguat Serat Alam (Muhd. Haiyum)

sabut kelapa diharapkan akan lebih unggul dari


papan partikel selama ini, baik dari segi
lingkungan (emisi perekat), sifat fisis, sifat
mekanis dan sifat kimianya. Selain itu papan
partikel thermocomposite ini juga dapat
memanfaatkan limbah styrofoam sebagai
matriks yang ramah lingkungan.
Didasari berlimpahnya ketersediaan
sabut kelapa di Indonesia dan belum
optimalnya penggunaan sabut kelapa itu
sendiri, maka peneliti merasa tertarik untuk
memanfaatkan serat sebut kelapa sebagai
bahan
penguat
pada
material
thermocomposite.Penelitian dirasa penting
mengingat tujuan akhir dari penelitian ini
adalah pemanfaatan sumber daya alam yang
belum optimal menjadi sebuah material berupa
papan partikel thermocomposite.Keunggulan
produk ini nantinya adalah lebih tahan
terhadap kedap air, dapat didaur ulang,
produksi bebas dari emisi zat kimia.
Penelitian ini secara umum bertujuan
memanfaatkan limbah perkebunan (sabut
kelapa) untuk dijadikan bahan papan partikel
thermocomposite sebagai bahan baku funiture
dan bahan bangunan. Sedangkan tujuan khusus
penelitian antara lain; (1) mendapatkan
komposisi volume berat yang sesuai antara
serat sabut kelapa dengan thermoplastic untuk
dijadikan papan partikel memenuhi standar
SNI, (2) mengetahui karakteristik sifat
mekanik papan partikel yang diproduksi.
Papan
partikel
thermocomposite
diharapkan dapat menambah varian papan
partikel selama ini. Papan partikel yang selama
ini diproduksi menggunakan tatal (serpihan)
kayu dengan menggunakan perekat kimia
formaldehida. Disamping itu papan partikel
tersebut rawan terhadap air, sehingga mudah
rusak saat digunakan di daerah basah.
Serat kelapa berasal dari buah kelapa.
Kelapa yang terdiri dari daging, tempurung
dan sabut sebagai pembungkus bagian luar.
Serat sabut kelapa dapat dikategorikan dalam
dua jenis, yaitu; serat putih dan serat coklat.
Serat putih mempunyai karakteristik, kekuatan
yang lebih rendah dibandingkan serat coklat,
akan tetapi serat putih lebih lembut. Serat putih
harus dianyam terlebih dahulu sebelum
digunakan. Serat coklat kebanyakan digunakan
untuk material struktur karena mempunyai
elestisitas yang lebih baik.
Papan partikel umumnya berbentuk
datar dengan ukuran relatif panjang, relatif
lebar, dan relatif tipis sehingga disebut

panel.Mutu papan partikel meliputi beberapa


hal seperti cacat, ukuran, sifat fisis, sifat
mekanis, dan sifat kimia. Ketentuan mengenai
mutu papan partikel tidak selalu sama pada
setiap standar dan dapat berubah sesuai dengan
perkembangan teknologi dan penggunaan
papan partikel [1].
Papan partikel atau panel dari material
komposit alam telah diteliti oleh (Sudhakaran,
2007), pada penelitian ini sudhakaran berhasil
memproduksi panel yang diperkuat dari variasi
serat sabut kelapa dan jute. Produk ini
menggunakan resin sintetis sebagai matriks.
Rahman and Khan [2] juga meneliti pengaruh
perlakuan pemukaan serat sabut kelapa
terhadap physico-mechanical properties.
Roseno [3] menyatakan, untuk hampir
semua komposit alam, kekakuan komposit
dengan serat pendek ini sama dengan
kekakuan yang dimiliki komposit dengan serat
kontinyu, jika serat yang digunakan memiliki
panjang sekitar 1 mm. Mechanichal strength
dari komposit polimer yang diperkuat sabut
kelapa juga telah diteliti oleh [4]. Hasil
penelitian tersebut antara lain adalah komposit
polimer yang diperkuat serat sabut kelapa yang
berorientasi acak menghasilkan kekuatan yang
rendah, akan tetapi dengan flexural strength
yang cukup tinggi dapat digunakan untuk
material selain untuk struktur bangunan. Sifat
mekanik (tarik dan bending) komposit polimer
yang diperkuat kombinasi serat sabut kelapa
dan E-glass juga telah diteliti [5].Sindhu
[6]telah meneliti komposit polimer yang
diperkuat serat sabut kelapa pada kondisi yang
berbeda dan dibandingkan dengan serat E
glass, hasil penelitian tersebut menunjukan
serat dengan panjang 20 mm memiliki
mechanical properteis yang lebih baik.

METODE
Material
Material yang digunakan antara lain :
a. Serat sabut kelapa sebagai penguat
b. Thermoplastic sebagai matriks dari jenis
polistirena (PS).
c. NaOH (alkali),
d. Sebagai pelarut digunakan silena.
Peralatan
Pada
penelitian
ini
digunakan
beberapa peralatan utama yaitu: (1) Mesin uji
tarik dan lentur Servopulser (2) Peralatan cetak

spesimen, (3) Timbangan digitaldan peralatan


pendukung lainnya.
Prosedur Kerja
Penyediaan serat sabut kelapa
Serat sabut kelapa disortir dengan
diameter serat (max 0,3 mm). Serat yang
terpilih dipotong kecil-kecil menjadi partikel
dengan panjang kurang dari 5 mm. Partikel
serat sabut kelapa direndam didalam 5%
NaOH selama 4 jam. Setelah diredam, serat
sabut kelapa dicuci dengan aqudes dan
dikeringkan. Gambar 1 memperlihatkan serat
sabut kelapa yang telah dibersihkan dan siap
digunakan

oleh pemegang spesimen bagian bawah yang


diatur memberikan gerakan tarik dengan
kecepatan konstan (dalam penelitian ini 2
mm/menit). Metode pengujian bending
menggunakan three point bending, dengan
kecepatan penekanan 2 mm/menit.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Spesimen Uji
Dari hasil pencetakan spesimen
dengan mengadopsi standart ASTM D 790-81
dihasilkan lima belas (15) buah spesimen uji
lentur dan 15 buah spesimen uji tarik dengan
berbagai komposisi SSK-polistirena (Gambar
2 dan 3).

Gambar 1. Serat sabut kelapa


Proses pembentukan spesimen
Polistirenadan SSK ditimbang terlebih
dahulu sesuai dengan komposisi masingmasing (Tabel 1).Polistirena yang berfungsi
sebagai perekat dilarutkan terlebih dahulu
dengan pelarut silena. Setelah polistirena
melarut dengan baik, dicampurkan serat sabut
kelapa dan diblending hingga rata.
Pembentukan spesimen uji
Pengujian papan partikel didasarkan
pada standar SNI 03-2105-1996 [7]. Untuk
spesimen uji tarik menggunakan standart
ASTM D638M mengikuti ASTM D 790-81
untuk spesimen uji lentur.
Tabel 1. Variasi perbandingan antar unsurunsur pembentuk papan partikel
Variasi

Serat Sabut
Kelapa (gr)

Polistirena
(gr)

I
II
III

40
50
60

60
50
40

Pengujian tarik dan lentur


Untuk uji tarik, spesimen diikatkan
pada dua buah pemegang spesimen (chuck)
dengan posisi vertikal. Gaya tarik diberikan

Gambar 2. Spesimen uji lentur

Gambar 3. Spesimen uji tarik

Pembahasan
Hasil uji tarik dan lentur sering dipakai
sebagai
parameter
dalam
menentukan
penggunaan papan partikel pada funitur yang
menuntut pemakai pada kondisi datar. Dari
hasil pengujian tarik yang dilakukan pada tiga
variasi komposisi SSK dan matriks PS,
didapatkan suatu peningkatan tegangan tarik
seiring dengan bertambahnya jumlah matriks
yang digunakan. Kekuatan papan partikel
meningkat dengan bertambah jumlah matriks
dikarenakan zat-zat ekstraktif yang terkandung
di dalam serat SSK membantu kekuatan
matriks dalam meningkatkan interfacenya

Papan Partikel Thermocomposite Berpenguat Serat Alam (Muhd. Haiyum)

untuk semakin baik. Penambahan jumlah


matriks juga berarti mengurangi jumlah serat
yang digunakan sehingga mengurangi luas dan
volume serat yang dapat ditutupi matriks.
Semakin rapat dan luasnya daerah kontak
antara serat membuat pemakaian matriks
menjadi lebih efektif dan akan menghasilkan
kekuatan papan yang lebih tinggi.

80 kg/cm2 untuk papan type 100. Belum


terpenuhinya tegangan lentur ini diperkirakan
karenakan tingkat kerapatan spesimen yang
masih sangat kurang, karena spesimen ditekan
secara manual dengan perasaan tangan,
sehingga masih banyak terdapatnya rongga
yang belum terisi.
12

25
Tegangan Lentur (kg/cm^2)

Tegangan Tarik (kg/cm^2)

10
20

15

10

8
6
4
2
0

40 : 60

50 : 50

40 : 60

60 : 40

Komposisi Berat SSK-PS (gr)

Gambar 4. Tegangan tarik papan partikel SSK


dengan berbagai komposisi

50 : 50

60 : 40

Komposisi Berat SSK-PS (gr)

Gambar 5. Tegangan lentur papan partikel


SSK dengan berbagai komposisi
2500

2000
E. Tarik (kg/cm^2)

Gambar 4 memperlihat tegangan tarik


papan partikel SSK dengan berbagai
berbandingan komposisi. Pada komposisi
SSK-PS 40:60, terjadi tegangan tarik
maksimum rata-rata, yaitu sebesar 14,25
kg/cm2. Sedangkan pada SSK-PS 50:50 dan
60:40, berturut-turut mempunyai tegangan
tarik rata-rata 17,81 kg/cm2 dan 4,73 kg/cm2.
Besarnya tegangan tarik rata-rata dengan
berbagai variasi komposisi SSK-PS telah
memenuhi standar kekuatan tarik yang
dipersyaratkan oleh SNI 03-2105-1996, yaitu
1,5 kg/cm2.
Hasil pengujian lentur jauh berbeda
fenomenanya dibandingkan dengan pengujian
tarik. Tegangan lentur yang terjadi hampir
merata untuk semua komposisi (Gambar 5).
Secara umum dengan meningkatnya
volume
matrik,
maka
diiringi
juga
meningkatnya kekuatan lentur yang diterima
papan partikel SSK. Tegangan lentur terendah
terjadi pada komposisi SSK-PS 60:40 yang
menghasilkan tegangan lentur 7,34 kg/cm2,
sedangkan tegangan lentur tertinggi terdapat
pada komposisi SSK-PS 50:50 yaitu 8,99
kg/cm2, sedangkan pada perbandingan SSK-PS
40:60 mengasilkan nilai tegangan lentur
sebesar 7,16 kg/cm2. Nilai tegangan lentur
yang didapat dari semua komposisi SSK-PS
belum memenuhi standar tegangan lentur yang
dipersyaratkan oleh SNI 03-2105-1996, yaitu

1500

1000

500

40 : 60

50 : 50

60 : 40

Komposisi Berat SSK-PS (gr)

Gambar 6. Modulus elastisitas tarik papan


partikel SSK dengan berbagai komposisi

Hasil perhitungan modulus elastisitas


tarik dan lentur diperlihat pada Gambar 6 dan
7. Pada gambar 6, trend grafik modulus
elastisitas tarik yang terjadi hampir sama
dengan trend grafik tegangan tarik. Modulus
elastisitas tarik pada komposisi SSK-PS 40:60
menghasilkan nilai optimum yaitu 1893,27
kg/cm2, sedangkan untuk komposisi 50:50 dan
60:40, dihasilkan modulus elastisitas tarik
1209,97 dan 695,76 kg/cm2. Gambar 7 yang
memperlihatkan modulus elastisitas lentur
mempnyai nilai yang hampir merata untuk
semua komposisi SSK-PS. Nilai modulus
elastisitas lentur optimum terjadi pada
komposisi 50:50 yaitu, 458,72 kg/cm2,
sedangkan pada komposisi 40:60 dan 60:40

menghasilkan modulus elastisitas 419,98 dan


448,52 kg/cm2.
1200

E. Lentur (kg/cm^2)

1000
800
600
400
200
0

40 : 60

50 : 50

60 : 40

Komposisi Berat SSK-PS (gr)

Gambar 7. Modulus elastisitas lentur papan


partikel SSK dengan berbagai komposisi

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan
antara lain; tegangan tarik papan partikel SSKPS tertinggi terjadi pada komposisi 40:60,
yaitu 14,25 kg/cm2 dan terendah pada 60:40,
yaitu 4,73 kg/cm2, tegangan lentur papan
partikel SSK-PS tertinggi terjadi pada
komposisi 50:50, yaitu 8,99 kg/cm2 dan
terendah pada 60:40, yaitu 6,34 kg/cm2.
Komposisi SSK-PS 40:60 telah memenuhi
standar SNI 03-2105-1996 untuk sifat mekanis
papan partikel type 100.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Sutigno, Paribroto., 2000. Mutu Papan
Partikel.
Pusat
Penelitian
dan
Pengebangan Hasil Hutan dan Sosial
Ekonomi Kehutanan. Bogor.
[2] Rahman, MM and Khan, MA, 2007,
Surface treatment of coir (Cocos nucifera)
fibers and its influence on the fibers
physico-mechanical properties, (www.
sciencedirect.com /science/journal/
[3] Roseno S,
Agus
Hadi
Santosa
Wargadipura, 2003, Karakterisasi Dan
Model Mekanis Material Komposit
Berpenguat Serat Alam, Prosiding
Seminar Teknologi untuk Negeri 2003,
Vol. I, hal. 332 -344 /HUMAS-BPPT

[4] Monteiro S N., Luiz Augusto H. Terrones,


Felipe P. D. Lopes, Jos Roberto M.
dAlmeida, 2005, Mechanical Strength of
Polyester Matrix Composites Reinforced
with Coconut Fiber Wastes, Revista
Matria, vol. 10, no. 4, pp. 571 576,
(http://www. materia.coppe.ufrj.br/sarra/
artigos/artigo10693)
[5] Mawardi I, Ramli I, Zuhaimi, 2007,
Kekuatan Tarik dan Bending Komposit
Polimer Diperkuat Kombinasi Serat Sabut
Kelapa dan E-Glass, Buletin Utama
Teknik Vol. 11 No.1
[6] Sindhu, Kuruvilla Joseph , Jasmine Maria
Joseph, Thomas V. Mathew, 2008,
Degradation
Studies
of
Coir
Fiber/Polyester
and
Glass
Fiber/Polyester
Composites
under
Different
Conditions,
(http://www.jrp.sagepub.com/ cgi/content
/abstract )
[7] Standar Nasional Indonesia SNI, Papan
partikel Standar Nasional Indonesia SNI
03-2105-2006.