Anda di halaman 1dari 50

DECOMP CORDIS ET

CAUSA THYROID HEART


DISEASE
Oleh:
Dwi Akbarini, S.Ked.
70 2008 039

Pembimbing:
dr. H. Ahmad Restu Iman, MKR, Sp.PD

PENDAHULUAN
Thyroid Heart Disease atau Penyakit Jantung Tiroid adalah
suatu kelainan pada jantung akibat pengaruh kelenjar tiroid.

Pasien dengan kelainan jantung endokrin terjadi


pada usia muda, pertengahan, dan usia tua,
dimana gejala nampak pada usia muda.

Dan biasanya penderita kebanyakan wanita,


dengan rasio 6:1, dimana riwayat keluarga terjadi
pada 45% kasus dengan factor kehamilan, infeksi,
dan shock emosiaonal.

LAPORAN KASUS
2.1. Identifikasi
Nama : Tn. AN
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 56 tahun
Alamat : Perump. OPI Jln. Tembesu II Blok. O 15
Ulu
Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam
No. RM. : 05. 05. 56
Tanggal MRS: 5 Juni 2013

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada


tanggal 17 Juli 2013 Pukul 13.00 WIB berlokasi
di Bangsal Perawatan Penyakit Dalam Laki-laki
K.III.

Keluhan utama
Penderita mengeluh sesak napas yang semakin
memberat sejak kisaran 2 minggu sebelum
masuk rumah sakit.

Keluhan tambahan
Penderita merasa nyeri ulu hati dan nyeri dada
disertai kaki membengkak.

- Sejak 1 minggu SMRS, penderita mengaku sesak


nafasnya semakin bertambah berat saat beraktivitias.

- Os juga merasa sesak saat tidur ataupun duduk. Sesak


tidak dipengaruhi cuaca dan tidak disertai mengi.

- OS merasa jantung berdebar-debar sejak 3 hari SMRS, os


merasa berdebar-debar tanpa didahului oleh perasaan
tidak enak, keringat dingin (-), pusing (-), mual muntah
(+), nyeri dada ada,batuk (-), riwayat minum obat tertentu
atau kopi disangkal, os juga menyangkal sedang dalam
masalah tertentu.

Sejak
2
bulan
yllu

Penderita
mengaku
kakinya
membengkak
kemudia
perutnya
membuncit,
bengkak
dimata disangkal. Dan
masih sering sesak ketika
beraktivitas dan hilang
ketika beristirahat.

6 bulan
yllu SMRS

Sejak 3 tahun yang lalu

OS mengeluhkan sering diare, tanpa diikuti


oleh demam, atau makan makanan tertentu,
selain itu os merasa baju dan celana os makin
melonggar, padahal os banyak makan, banyak
minum (-), banyak kencing (-), sering
kesemutan (-). Os sering gemetaran dan
mudah sekali capek meski tidak banyak
beraktivitas. Os mudah tersinggung dan
menstruasi tidak teratur. Os merasa matanya
makin menonjol keluar namun gangguan
penglihatan tidak ada.

Riwayat penyakit sebelumnya


- Riwayat 3 tahun yang lalu os pernah dirawat di rumah sakit akibat
sakit hipertiroid.
- Penderita menyangkal mempunyai riwayat penyakit darah tinggi
- Keluhan sesak napas yang semakin memberat ini pernah dialami
sebanyak 2 kali dan penderita sempat di rawat di rumah sakit
dengan keluhan yang sama.
- Penderita menyangkal mempunyai riwayat penyakit jantung, riwayat
kencing manis, penyakit paru, penyakit kuning, penyakit ginjal,
penyakit astma dan alergi makanan atau obat-obatan tertentu.

Riwayat kebiasaan
Penderita merokok sejak remaja dan berhenti kisaran 10 tahun yang
lalu, penderita dapat menghabiskan 2 bungkus rokok per hari, jenis
rokok kretek.

Riwayat penyakit dalam keluarga


Riwayat mengalami penyakit yang sama dalam keluarga
disangkal
Riwayat penyakit darah tinggi pernah dialami oleh ayah
penderita.
Riwayat penyakit jantung, kencing manis, penyakit paru,
penyakit kuning, penyakit astma, dan penyakit ginjal
dalam keluarga disangkal.
Riwayat Pengobatam :
Riwayat 10 tahun yang lalu os pernah dirawat di rumah
sakit akibat sakit hipertiroid, dan riwayat minum obat
antitiroid sejak 10 tahun yang lalu.

Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 17 Juli Pukul 13.00


WIB di Bangsal Perawatan Penyakit Dalam Laki-laki K.III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum :
Keadaan Umum : Tampak sakit
Keadaan sakit : Sakit berat
Kesadaran: Compos Mentis
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 106 x/m reguler
isi dan tegangan cukup
Temperatur : 36.6 C
RR : 22 x/m,

Keadaan Spesifik :
Kulit
Warna sawo matang, efloresensi tidak ada, pigmentasi
dalam batas normal, ikterus pada kulit tidak ada, kulit
teraba basah karena keringat dan hangat, pucat pada
telapak tangan dan kaki tidak ada, sianosis tidak ada,
lapisan lemak cukup.

Kelenjar Getah Bening


Kelenjar getah bening submandibular, leher, axilla, dan
inguinal tidak ada pembesaran, nyeri tekan tidak ada.

Kepala
Bentuk bulat, simetris, deformitas tidak ada, perdarahan
temporal tidak ada, dan nyeri tekan tidak ada.

Mata

Eksoftalmus ada, edema palpebra tidak ada, konjungtiva


palpebra kedua mata pucat tidak ada, sklera ikterik tidak
ada, pupil isokor, refleks cahaya baik, penglihatan kabur
pada kedua mata tidak ada, gerakan bola mata ke segala
arah dan simetris, lapangan penglihatan baik.

Hidung
Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang
perabaan baik. Selaput lendir dalam batas normal. Tidak
ditemukan adanya penyumbatan dan perdarahan.
Pernapasan cuping hidung tidak ada.

Telinga
Pada liang telinga tidak ada kelainan, pendengaran baik.

Mulut
Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada lidah tidak ada, atrofi
papil tidak ada, gusi berdarah tidak ada, stomatitis tidak
ada, rhagaden tidak ada, bau pernapasan yang khas tidak
ada.

Mulut
Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada lidah tidak ada,
atrofi papil tidak ada, gusi berdarah tidak ada,
stomatitis tidak ada, rhagaden tidak ada, bau
pernapasan yang khas tidak ada.

Leher
Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada, hipertrofi
otot sternokleidomastoideus (-), pembesaran kelenjar
tiroid tidak ada, JVP (5+2) cm H2O, pulsasi (+).

Dada
Bentuk thorax normal simetris kanan dan kiri, sela iga
tidak melebar, retraksi dinding thorax tidak ada, tidak
ditemukan venektasi, dan spider nevi.

Paru-paru
Palpasi : Stemfremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronkhi basah halus (+)
di kedua basal paru, wheezing (-)

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba pada linea aksilaris anterior
sinistra ICS VI
Perkusi : Batas atas jantung ICS III
Batas kanan jantung linea sternalis dextra ICS V
Batas kiri jantung linea aksilaris anterior sinistra ICS VI
Auskultasi : HR: 106/m, iregular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Cembung, lemas
Palpasi : Nyeri tekan epigastrik (-), hepar dan lien tidak
teraba,
Shiftingg dullness (+)
Perkusi : Shifting dullness (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstremitas Atas
Kedua ekstremitas atas tampak pucat tidak ada, palmar
eritema tidak ada, nyeri otot dan sendi tidak ada, gerakan
kesegala arah, kekuatan +5, refleks fisiologis normal, refleks
patologis tidak ada, jari tabuh tidak ada, eutoni, eutropi,
tremor ada, edema pada kedua lengan dan tangan tidak
ada.

Ekstremitas Bawah
Kedua ekstremitas bawah tidak tampak
pucat, nyeri otot dan sendi tidak ada,
kekuatan +5, refleks fisiologis normal,
refleks patologis tidak ada, eutoni,
eutrophi,
varices
tidak
dijumpai,
pigmentasi dalam batas normal, jari tabuh
tidak ada, turgor cukup, edema pretibial
ada.

Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Interpretasi

HEMATOLOGI
Hemoglobin

14,5 g/dl

L : 14 15 g/dl

Normal

Leukosit

5.600 /ul

5.000 10.000 /ul

Normal

174.000 /ul

150.000 400.000 /ul

Normal

44 %

L : 40 48 %

Normal

Trombosit
Hematokrit
Hitung jenis
-

Basofil

0%

01%

Eosinofil

1%

13%

Batang

3%

26%

Segmen

60 %

50 70 %

Limfosit

30 %

20 40 %

Monosit

6%

28%

Normal

GDS
Trigliserid
Kolesterol total
Kolesterol HDL
Kolesterol LDL
SGOT
SGPT
Protein Total
Albumin
Globulin
Ureum
Creatinine
Uric Acid
T3 Total
T4 Total
TSHs

109 mg/dl
- mg/dl
206 mg/dl
- mg/dl
- mg/dl
57 U/I
39 U/I
7,91 g/dl
4,30 g/dl
3,61 g/dl
49 mg/dl
1,08 mg/dl
10,8 mg/dl
0,44 ng/dl
4,47 ug/dl
0,86 IU/ml

< 180 mg/dl


< 200 mg/dl
< 200 mg/dl
L : > 50 mg/dl
< 130 mg/dl
L : < 37 U/I
L : < 41 U/I
6,7 8,7 g/dl
3,8 5,1 g/dl
1,5 3,0 g/dl
20 40 mg/dl
L : 0,9 1,3 mg/dl
L : 3,4 7mg/dl
0,8 2,0 ng/ml
4,5-12,0 ug/dl
0,47-5,01

Normal
Normal
Meningkat
Normal
Normal
Meningkat
Meningkat
Normal
Normal
Meningkat
Meningkat
Normal
Meningkat
Normal
Normal
Normal

.Pemeriksaan Skor Wayne


Skor Wayne untuk pasien ini :
Gejala
Sesak (+1)
Palpitasi (+2)
Mudah lelah (+2)
Senang hawa panas (-)
Senang hawa dingin (+5)
Keringat berlebihan (+3)
Gugup (+2)
Nafsu makan meningkat (+3)
Nafsu makan turun (-)
BB meningkat (-)
BB menurun (+3)

Tanda
Pembesaran tiroid (-3)
Bruit pada tiroid (-)

Eksopthalmus (+2)
Retraksi palpebra (-)
Palpebra terlambat (-)
Hiperrkinesis (+2)
Tangan teraba hangat (+2)
Telapak tangan lembab (+1)
Nadi >90 (+3)
Fibrilassi atrial (+4)

Interpretasi :
<10 eutiroid
10-19 meragukan
>20 klinis hipertiroid (pada kasus 32), Os sementara dapat didiagnosa hipertiroid.

Diagnosis Banding
a. Decomp Cordis ec Tyroid Heart
Disease
a. Decomp Cordis ec Hipertensi Heart
Disease

Diagnosis Kerja
Decomp Cordis ec Tyroid Heart
Disease

Penatalaksanaan
Non-farmakologis:
- O2 3-5L/m nasal canul
- Istirahat bed rest
- Diet BB
- IVFD D5 % gtt XV /menit
- Edukasi
Farmakologis:
- Aspilet tab 1 x 80 mg
- Inj. Furosemid 1x 20 mg IV
- Digoxin tab 1 x 0,25 mg
- Propylthiouracil (PTU) tab 3x 100 mg
- Injeksi Ranitidin 2 x 25 mg IV

Prognosis
a. quo ad vitam
: dubia ad bonam
b. quo ad functionam : dubia ad
bonam

FOLLOW UP

Analisa Kasus
Pasien datang dengan keluhan sesak. yang dialami
sejak 6 bulan SMRS, memberat 1 minggu terakhir ,
dan diperberat oleh aktivitas. Hal ini menyatakan
bahwa pada pasien bisa ada gangguan pada jantung,
yaitu dyspneu deffort (sesak saat beraktivitas). Serta
adanya gejala cepat merasa lelah, jantung berdebardebar serta tangan terasa gemetar dan sering
berkeringat. Palpitasi atau berdebar adalah suatu
gejala umum, subjektif yang tidak menyenangkan yang
dapat dijelaskan sebagai suatau keadaan jantung
berdebar disebabkan oleh perubahan irama jantung
atau
kecepatan
denyut
jantung
atau
karena
bertambahnya kontraktilitas.

Pada kasus ini diketahui dari anamnesis,


penyebab palpitasi kemungkinan adalah
hipertiroid dengan indeks wayne > 20.
Pemeriksaan
laboratorium
ditunjang
dengan T3 : 5,79, T4 : 24, 25, TSH 0,86
IU/ml, namun dari pemeriksaan fisik juga
ditemukan pembesaran jantung, jantung
teraba di ics 6 midaxilaris anterior,
murmur (+), gallop (-).

Prinsip penanganan pasien ditujukan untuk


menghilangkan
gejala
serta
mengatasi
penyebabnya. Pemberian diuretic dimaksudkan
untuk menurunkan preload yang akan mengurangi
beban kerja jantung. Kombinasi antara lasix atau
furosemide dengan spironolakton dimaksudkan
untuk
mencegah
terjadinya
hipokalemia.
Spironolakton yang merupakan suatu antagonis
aldosteron dapat mencegah ekskresi kalium
sehingga mengurangi terjadinya hipokalemia selain
itu spironolakton juga bisa memperkuat kerja
diuretic
lain.

Pengobatan yang diberikan pada


pasien ini yaitu obat antitiroid
propyltyouracil/PTU 100 mg 3 kali
pemberian.
Untuk mengurangi sesak, diberikan
O2 2 ltr/mnt
Karena ada atrial fibrilasi dan
takikardia (HR>140 x/menit) maka
diberikan digitalis (digoksin).

Prognosis dari penderita ini adalah dubia et bonam karena apabila


penderita patuh untuk menjalani terapi, sehingga diajurkan supaya pasien
dapat datang kontrol selama 4-6 minggu sekali dan jika sudah tercapai
euthyroid, maka pemantauan dilakukan 3-6 bulan sekali, dan bila hasil lab
dan gejala klinis normal, maka obat tiroid dikurangi dosisnya dan
dipertahankan

pada

dosis

yang

terkecil,

dan

bila

masih

tetap

menunujukkan eutiroid selama 1-2 tahun maka pengobatan dihentikan.

Terima Kasih

TUGAS

Hipertensi
Akibat
terjadinya
peningkatan
reabsobsi Na, reabsobsi Na ini terjadi
akibat peningkatan laju GFR dan
aliran plasma ginjal. Peningkatan
GFR dan aliran plasma ginjal terjadi
akibat pembuluh darah perifer yang
berdilatasi.

Diagnosis banding:
CHF et causa CAD pada CAD ada
gejala nyeri dada khas, EKG adanya
tanda-tanda iskemik, dan pem
laboratorium adanya peningkatan
enzyme.
CHF et causa ASHD pada rontgen
thoraks didapatkan adanya
kardiomegali disertai kalsifikasi
aorta.

Simptom yang sering dijumpai dan manifestasi klinis pada Gagal Jantung
(sumber : Pathophysiology of Heart Disease, Leonard S Lilly)

Simptom

Manifestasi klinis

Jantung kiri
Dyspnea

Diaphoresis (keringat)

Orthopnea

Takikardi, takipnea

Paroxysmal nocturnal dyspnea

Ronki basah pada pulmonari

Fatigue

P2 mengeras
S3 Gallop (S4)

Jantung kanan

Distensi vena jugularis

Edema perifer

Hepatomegali

Tidak

nyaman

pada

kuadran

kanan
(karena pembesaran hati)

atas Edema perifer

Gagal Jantung : edema tungkai terjadi dari gagal jantung kanan dan
selalu disertai
peningkatan tekanan vena jugularis (JVP).
Sering ditemukan
hepatomegali sebagai tanda
kelainan jantung yang mendasarinya. Jika edema nampak sedikit di
tungkai, dan berat di abdomen, harus dipertimbangkan adanya
konstriksi perikardial.
Gagal Hati : edema tungkai disebabkan oleh rendahnya kadar albumin
serum (biasanya < 0 g/dL ). Bisa ditemukan tanda penyakit hati
kronis, seperti spider nevi, leukonika (liver nail), ginekomastia, dilatasi
vena abdomen yang menunjukkan adanya hipertensi portal,
dan memar (kerusakan fungsi sintesis hati). JVP tidak meningkat. Pada
penyakit hati
kronis berat (misalnya sirosis), pemeriksaan enzim hati mungkin hanya
sedikit terganggu,
walaupun rasio normalisasi internasional (INR) sering memanjang (> 20
dtk). Pada gagal hati akut, pasien biasanya sakit berat, terdapat
gejala gangguan otak yang menonjol dan tes
fungsi hati biasanya abnormal.

Gagal Ginjal : edema disebabkan oleh rendahnya


kadar albumin serum (sindrom nefrotik,
di mana urin berbusa dan mengandung 3-4 +
protein pada tes dipstick) atau
ketidakmampuan mengeksresikan cairan (sindrom
nefritik, berhubungan dengan hipertensi
dan rendahnya output urin). Tes yang perlu
dilakukan untuk konfirmasi adalah
pengukuran kadar albumin serum (biasanya <
30g/dL), protein urin (biasanya > 4 g/24
jam), dan kreatinin serta ureum serum.

Hipertrofi konsentrik.
Keadaan jantung yang overload
dengan tekanan yang tinggi,
misalnya pada hipertensi atau
stenosis aorta, mengakibatkan
peningkatan tekanan sistolik yang
secara
parallel
menigkatkan
tekanan
pada
sarkomer
dan
pelebaran pada miosit jantung,
yang menghasilkan hipertrofi
konsentrik.

Hipertrofi Eksentrik.
Jika beban jantung didominasi
dengan
peningkatan
volume
ventrikel, sehingga meningkatkan
tekanan pada diastolik, yang
kemudian
secara
seri
pada
sarkomer dan kemudian terjadi
pemanjangan pada miosit jantung
dan dilatasi ventrikel kiri yang
mengakibatkan
hipertrofi
eksentrik.

Menurut Strauer didapatkan 3 jenis LVH


ysng berhubungan dengan dimensi
ruangan jantung, tegangan dinding dan
fungsi ventrikel sebagai akibat perbedaan
patofisiologi dan latar belakang yang
menyebabkannya yaitu :
1. Hipertrofi konsentris. Dinding ventrikel menebal,
masa bertambah sedangkan
volume akhir diastolic masih normal atau hanya
sedikit bertambah dan rasio
masa terhadap volume akan meningkat. Kelainan ini
dijumpai pada hipertensi
dan stenosis aorta.

2. Hipertrofi eksentris. Merupakan kelanjutan dari


tipe konsentris dimana massa
dan volume ventrikel bertambah sedangkan tebal
dinding tidak berubah.
3. Hipertrofi ireguler ( tidak sepadan antara
hipertrofi dengan dilatasi).
Hipertropi ini menyerupai kardiomiopati, dimana
tebal dan massa ventrikel
kiri bertambah secara berlebihan dan tidak teratur
sehingga ruang ventrikel
menjadi kecil dan rasio massa terhadap volume
akan meningkat.

Jenis Hipertrofi
Hipetrofi konsentris adalah Jenis yang mulamula terjadi pada perjalanan klinik penyakit
jantung
hipertensif
dinamakan
Hipertofi eksentris adalah Hipertrofi konsentris
ini
sering
berkembang
lebih
jauh
Hipetrofi ireguler Jenis yang kc tiga
memperlihatkan perubahan yang menyerupai
kardiomiopati hipertrofik. Di sini tebal dan massa
ventrikel kiri akan meningkat sccara berlebihan
dan ruang ventrikel menjadi kecil. Dengan
dernikian rasio mass: volume akan meningkat.

Penurunan LVEF ini merupakan cerminan penurunan fungsi


sistolik yang merupakan dampak lebih lanjut dari penurunan
fungsi diastolik.
Tingginya persentase penderita gagal jantung usia lanjut
berpola geometri Hipertrofi Eksentrik yang mengalami
penurunan fungsi sistolik berkaitan dengan pola geometri
ventrikel kiri itu sendiri.
Ruang ventrikel kiri yang melebar akan menyulitkan ventrikel
kiri untuk memompa darah sehingga terjadi penurunan fungsi
sistolik.
Sedangkan adanya penurunan fungsi sistolik pada penderita
berpola Hipertrofi Konsentrik diduga berkaitan dengan
adanya Penyakit Jantung Iskemik yang menyebabkan
kemampuan pompa jantung menurun karena iskemi
miokardium.

TEMUAN UMUM
Ukuran dan bentuk

ventrikel

(LVEF)

Dinding ventrikel kiri

Gerakan regional dinding

tipis

Remodelling LV

Ukuran ventrikel kiri


normal

Dinding ventrikel kiri

Remodelling eksentrik

tebal, atrium kiri

ventrikel kiri

berdilatasi

Regurgitasi ringan-

Remodelling eksentrik
ventrikel kiri.

Hipertrofi ventrikel kiri

Hipertensi pulmonal*

atau kanan (Disfunfsi

Pengisian mitral

regurgitasi, jika ada

berkurang*

minimal.

Tidak ada mitral

Hipertensi pulmonal*

Morfolofi dan beratnya

meningkatnya tekanan

Pola pengisian mitral

kelainan katup

pengisian ventrikel*

Mitral inflow dan aortic

Tanda-tanda

COPD, kelainan katup)

sedang katup mitral*

Diastolik : hipertensi,

normal > 45-50%

Ventrikel kiri membesar

(konsentrik vs eksentrik)

berkurang <45%

kontraksi ventrikular

DISFUNGSI DIASTOLIK
Ejeksi fraksi ventrikel kiri

Ejeksi fraksi ventikel kiri

jantung, synchronisitas

DISFUNGSI
SISTOLIK
Dikutip dari: Mann DL
Ejeksi fraksi ventrikel kiri

abnormal.*

Terdapat tanda-tanda

outflow; gradien tekanan

tekanan pengisian

ventrikel kanan

meningkat.

Status cardiac output