Anda di halaman 1dari 6

1.

INSTRUKSI :
a. Pasien diberi pengertian bahwa : Gigi palsu baru selalu
membutuhkan periode penyesuaian. Pasien gigi tiruan pertama kali
mungkin memerlukan beberapa minggu untuk membiasakan alat
baru mereka. Pelafalan dalam berbicara mungkin berubah, dan
mungkin memerlukan adaptasi dari lidah dan bibir.
b. Selama beberapa hari pertama, pasien harus mengenakan gigi
palsu selama mungkin, dan mengunyah makanan ringan di gigitan
kecil. Ingat, gigi palsu tidak memiliki efisiensi mengunyah yang
sama seperti gigi alami dan dapat mempengaruhi selera makan.
Jika gigitan dirasa tidak rata setelah beberapa hari, dapat
disesuaikan oklusi gigi.
c. Pembersihan yang tepat dari gigi tiruan untuk mencegah noda dan
bakteri dari terakumulasi pada protesa.
d. Jangan memakai gigi palsu saat tidur. Hal ini penting untuk
memungkinkan jaringan gusi dan tulang rahang untuk beristirahat
untuk mencegah iritasi jaringan, infeksi, dan penyusutan tulang.
e. Seiring waktu, jaringan gusi yang pendukung dan tulang dapat
berubah bentuk dan ukuran. Relines periodik gigi palsu perlu
dilakukan untuk memastikan kesesuaian.
f. Adanya keumungkinan luka atau radang dalam 24 jam pertama
memakai gigi palsu. Sehingga diperlukan kunjungan kontrol untuk
mengobati titik luka atau mungkin penyesuaian protesa.
g. Perendaman juga berguna untuk gigi palsu saat tidak digunakan.
Sikat gingiva dengan sikat gigi lembut sehari sekali untuk
menguatkan dan membersihkan sehingga terhindar dari jamur.
h. Ketika tidak digunakan direndam dalam obat kumur karena gigi
palsu akan menjadi rapuh jika dibiarkan terkena udara.
i. Rahang dan gusi menyusut hingga 1/32 inci per tahun ketika gigi
hilang. Ini adalah salah satu kelemahan utama gigi palsu. Karena
penyusutan ini, harus merencanakan evaluasi jaringan mulut dan
evaluasi setidaknya sekali per tahun.
j. Bersihkan dengan pembersih gigi tiruan. Pasta gigi mungkin terlalu
abrasif untuk gigi palsu dan tidak boleh digunakan. Juga, hindari
menggunakan pemutih, karena hal ini dapat memutihkan bagian
merah muda dari gigi tiruan.
2. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RETENSI
a. Retensi adalah ketahanan dari suatu gigi tiruan terhadap daya lepas
pada saat gigi tiruan tersebut dalam keadaan diam, didapat dari :
gravitasi, adhesi, tekanan atmosfer, dan surface tension
b. Stabilisasi adalah ketahanan suatu gigi tiruan terhadap daya lepas
pada saat gigi tiruan berfungsi (adanya tekanan fungsional),
didapat dari pemasangan gigi-gigi pada processus alveolaris,
tekanan yang merata, balanced occlution, relief area, over jet dan
over bite.
c. Kondisi mulut : edentulous, processus alveolaris, saliva, frenulum,
vestibulum, jaringan mukosa, bentuk dan gerakan otot-otot muka
serta bentuk dan gerakan lidah

d. Vestibulum : Merupakan celah antara mukosa bergerak dan tidak


bergerak. Vestibulum diukur dari dasar fornix hingga hingga puncak
ridge. Cara pemeriksaan menggunakan kaca mulut (nomor 3)
i. Vestibulum dalam : Bila kaca mulut terbenam lebih dari
setengah diameter
ii. Vestibulum dangkal : Bila kacamulut yang terbenam kurang
dari setengah diameter kacamulut.
Fungsi : Untuk retensi dan stabilitas gigi tiruan. Vestibulum
yang lebih dalam lebih retentive daripada yang dangkal.
e. Frenulum : lipatan jaringan lunak yang menahan pergerakan organ
yang dapat bergerak, termasuk lidah.
i. Tinggi : bila perlekatannya hampir sampai ke puncak residual
ridge.
ii. Sedang : bila eprlekatannya kira-kira di tengah antara puncak
ridge dan fornix.
iii. Rendah : bila perlekatannya dekat dengan fornix.
Fungsi : Untuk retensi dan estetik. Frenulum yang tinggi
dapat mengganggu penutupan tepi (seal) dan stabilitas geligi
tiruan.
f. Bentuk Ridge : Ridge merupakan puncak tulang alveolar. Cara
pemeriksaan dengan palpasi ridge pada bagian edentulus. Terdapat
empat macam bentuk ridge antara lain :
i. square : lebih menguntungkan daya retentifnya
ii. ovoid : lebih bagus untuk stabilisasi
iii. tapering : daya retentifnya jelek, tidak menguntungkan
iv. flat : tidak menguntungkan
Fungsi : Bentuk ridge berhubungan dengan retensi dan
stabilitas. Bentuk ridge square mempunyai retensi yang
paling baik karena mempunyai luas penampang yang luas.
Bentuk ridge ovoid mempunyai stabilitas yang baik. Bentuk
ridge tapering, memerlukan relief agar dapat retentif . Bentuk
ridge
flat
merupakan
bentuk
yang
paling
tidak
menguntungkan terhadap retensi dan stabilitas.
g. Bentuk Dalam Palatum : Berfungsi untuk retensi dan stabilitas.
Terdapat empat bentuk palatum, yaitu :
i. Square: paling menguntungkan
ii. Ovoid : menguntungkan
iii. Tapering : tidak menguntungkan
iv. Flat : tidak menguntungkan
h. Torus Palatina : Merupakan tonjolan tulang yang terdapat pada garis
tengah palatum. Fungsinya untuk stabilisasi gigi tiruan. Torus
palatina ini ada yang besar, sedang dan kecil. Pemeriksaannya
dengan memakai burnisher, denngan menekan beberapa tempat
sehingga dapat dirasakan perbedaan kekenyalan jaringan.
i. Torus Mandibula : Kehadiran torus mandibularis dapat mempersulit
upaya untuk memperoleh gigi tiruan yang nyaman karena tepi-tepi
gigi tiruan langsung menekan mukosa yang menutupi tonjolan
tulang tersebut. Dalam hal demikian perlu dilakukan pengambilan
torus secara torektomi.

j.

Tuber Maxilaris : Disini dapat dilihat besar, sedang atau kecilnya


dari satu sisi maupun dua sisi. Bentuk tuber maxilaris yang besar
sangat berguna untuk retensi gigi geligi tiruan didaerah undercut.
k. Eksostosis : Merupakan tonjolan tulang pada prossesus alveolaris
yang berbentuk membulat seperti tonus palatinus, torus mandibula
serta tajam akibat pencabutan gigi. Bila diraba terasa sakit dan
tidak dapat digerakkan. Bila terdapat eksostosis dan mengganggu
fungsi gigi tiruan maka dilakukan tindakan pembedahan
(alveolektomi) atau di relief.
l. Rongga Retromylohyoid : Merupakan perlekatan otot didaerah
antara M2 dan M3 disebelah lingual. Daerah ini penting untuk
penting untuk daerah retensi gigi tiruan. Pemeriksaannya dilakukan
pada daerah lingual didaerah gigi M2 dan M3 rahang bawah dengan
kaca mulut.
i. Dalam : Kaca mulut yang terbenam lebih setengahnya
ii. Dangkal: kaca mulut terbenam kurang dari setengahnya
iii. Sedang : kaca mulut terbenam kira-kira setengahnya
3. KONTRAINDIKASI SISTEMIK
a. Diabetes Mellitus : Pada pendertita diabetes memungkinkan
kombinasi infeksi dan penyakit pembuluh darah yang menyebabkan
berkembangnya komplikasi-komplikasi di dalam mulut, seperti
jaringan mukosa yang meradang, cepat berkembangnya
penyakit periodontal, hilangnya tulang alveolar secara
menyolok
dan
mudah
terjadinya
abses
periapikal,
berkurangnya saliva, bertambahnya pembentukan kalkulus,
merupakan hal yang khas dari penyakit diabetes yang tidak
terkontrol. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol
diabetesnya dan menyehatkan kembali jaringan mulut. Perlu
diperhatikan :
i. hindari tindakan pembedahan yang besar selama hal itu
mungkin dilakukan.
ii. Gunakan bahan cetak yang bisa mengalir bebas dan buat
desain rangka geligi tiruan yang terbuka dan mudah
dibersihkan, serta distribusikan beban fungsional pada semua
bagian yang dapat memberikan dukungan
iii. susunlah oklusi yang harmonis.
iv. Merangsang pengaliran air liur dengan obat hisap yang bebas
karbohidrat.
v. Tekankan kepada pasien mengenai pentingnya pemeliharaan
kesehatan mulut.
vi. Akhirnya, tentukan kunjungan ulang penderita setiap enam
bulan sekali (bahkan kalau perlu lebih sering dari itu) untuk
mempertahankan kesehatan mulut (Gunadi, dkk., 1991 :
110).
b. Penyakit Kardiovaskular : Perlu diperhatikan pada waktu
pencabutan gigi. Hindari pemakaian anastetikum yang mengandung
vasokonstriktor seperti adrenalin; oleh karena bahan ini dapat
mempengaruhi tekanan darah (Gunadi, dkk., 1991 : 110).

c. Tuberkulosis : Menyebabkan resorpsi berlebihan pada tulang


alveolar. Perlu diperhatikan :
i. perlindungan terhadap dokter gigi serta penderita lain
merupakan pertimbangan yang sangat penting
ii. jangan memasukkan jari telanjang ke dalam mulut,
penggunaan sarung tangan karet sangat dianjurkan.
iii. Cucilah tangan dengan sabun dan air panas, segera sesudah
kita merawat penderita tersebut. Menyikat tidak dianjurkan
karena dapat menimbulkan abrasi kecil.
iv. Mencuci wajah secara hati-hati, karena mungkin saja setetes
darah/ saliva memercik mengenai muka atau sepotong kecil
kalkulus terpental mengnai wajah dapat menyebabkan erosi
kulit sehingga menyebabkan terjadinya infeksi. (Gunadi, dkk.,
1991 : 110-111).
d. Anemia : adanya resorpsi tulang alveolar yang cepat. Untuk kasus
ini sebaiknya gunakanlah elemen gigi tiruan yang tidak ada tonjol
(cusp) (Gunadi, dkk., 1991 : 111). Dan sering melakukan kunjungan
untuk evaluasi
e. Depresi Mental : Penderita depresi mental biasanya diberi
pengobatan dengan obat yang mempunyai efek samping
mengeringnya mukosa mulut. Hal ini akan mengakibatkan
berkurangnya retensi geligi tiruan. Maka perawatan dalam bidang
prostodontik sebaiknya ditunda dahulu sampai perawatan terhadap
depresi mentalnya dapat diatasi. (Gunadi, dkk., 1991 : 111).
4. TAHAP-TAHAP
a. KOMPONEN :
i. Basis : Merupakan bagian gigi yang menggantikan tulang
alveolaryang sudah hilang, dan berfungsi mendukung
(elemen) gigi tiruan. Di desain sesuai diatas sisa alveolar
ridge dan disekitar gingiva.
ii. Flange : Bagian dari basis yang membentang diatas mukosa,
melekat dari margin servikal gigi hingga batas gigi tiruan
iii. Post Dam : Retensi dari gigi tiruan rahang atas yang
tergantung dari suction seal.
iv. Gigi tiruan : Elemen atau gigi tiruan merupakan bagian geligi
tiruan sebagian lepasan yang berfungsi menggantikan gigi
asli yang hilang. Dalam seleksi elemen ada metode pemilihan
gigi anterior dan posterior serta faktor-faktor yang harus
diperhatikan, yaitu ukura, bentuk, tekstur permukaan, warna,
dan bahan elemen.
b. DESAIN : Memperhatikan kondisi ekonomi, Kebiasaan pasien, OH
pasien, Estetik
c. TAHAPAN :
i. Membuat Bentuk Landasan : landasan dibuat dengan shelac
base plate yang telah dilunakan dan ditekan pada model.
Kemudian malam ditekan sedemikian rupa lalu dipotong
sesuai keadaan anatomi model. Potongan tersebut tepat
pada perbatasan mukosa bergerak dan tidak bergerak.

ii. Membuat Tanggul Malam : Cara membuat tanggul ada 2,


yaitu : Dengan wax rims former (Potongan malam dicairkan
lalu dituangkan pada wax rims former dan dikeluarkan ketika
malam sudah mengeras). Dengan lembaran malam yang
digulung gulungan malam yang berbentuk silinder dibentuk
bentuk tapal kuda dengan tebal 10-12 mm.
iii. Membuat Tanggul Gigitan : Meletakan tanggul malam di atas
bentuk landasan. Bidang oklusal yang datar bidang labial dan
bukal sejajar kontur gingiva edentulus
iv. Uji Coba Tanggul Gigitan Rahang Atas dan Bawah : tanggul
gigitan dimasukkan ke dalam mulut pasien dan dilakukan uji
coba tanggul gigitan.
1. Landasan harus diam di tempat, tidak boleh mudah
lupas ataupun bergerak karena akan mengganggu
pekerjaan tahap selanjutnya.
2. Pinggiran landasan gigi tiruan harus merapat dengan
jaringan pendukung.
3. Pinggiran landasan tepat, tidak terlalu panjang atau
terlalu pendek.
4. Pasien harus tampak normal seakan akan seperti
bergigi
5. Bibir dan pipi pasien tidak boleh tampak cembung atau
cekung.
6. Bidang orientasi tanggul gigitan rahang bawah harus
merapat (tidak boleh ada celah) dengan bidang
orientasi tanggul gigitan rahang atas.
7. Permukaan labial/bukal tanggul gigitan harus sebidang
dengan yang atas.
8. Tarik garis median pada tanggul gigitan sesuai dengan
garis median pasien.
v. Mencari dimensi vertikal : Physiological Rest Free Way
Space) atau Jarak vertikal pasien dalam keadaan istirahat
tanpa tanggul gigitan dalam mulut.
1. Posisi kepala: tragus alanasi sejajar lantai
2. Dibuat 2 titik: ujung hidung dan ujung dagu
3. Penderita diminta relaks dan melakukan gerakan
menelan berkali-kali
4. Ukur jarak kedua titik tersebut berkali-kali, ambil ratarata
5. Untuk mendapatkan D.V.oklusi : jarak A cm - free way
space (2-4 mm)
vi. Penentuan Gigitan Sentrik/Oklusi Sentrik : Mengukur relasi
sentrik tanpa alat dengan cara :
1. Gerakan menelan
2. Membantu pasien agar rahang bawah dalam posisi
paling belakang, dengan mendorong rahang bawah
dalam keadaan otot kendor.
3. Menengadahkan posisi kepala pasien semaksimal
mungkin.

vii. Menarik Garis-garis Orientasi : High lip line yaitu garis


tertinggi bibir atas waktu pasien tersenyum.
viii. Pemasangan Model Dalam Artikulator
ix. Memilih Gigi : Bagian dari GTL yang berfungsi mengantikan
gigi asli yang
hilang dan harus dapat memperbaiki
penampilan, memperbaiki fungsi lainnya dari gigi tiruan.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan yaitu
mengenai
ukuran, bentuk, warna, bahan, jenis kelamin, umur serta
inklinasi dari anasir gigi tiruan agar dapat memenuhi
fungsinya. Pada kasus pasien ompong, pemilihan gigi
berpedoman pada bentuk wajah, jenis kelamin dan umur
pasien untuk menentukan warnanya. Sedangkan ukuran gigi
disesuaikan dengan garis orientasi pada tanggul gigitan.
x. Penyusunan Gigi : Penyusunan gigi dilakukan secara bertahap
yaitu penyusunan gigi anterior atas, gigi anterior bawah, gigi
posterior atas, gigi M1 bawah dan gigi posterior bawah
lainnya. diperhatikan beberapa faktor dalam penyusunan
gigi:
1. Inklinasi atau posisi setiap gigi
2. Hubungan setiap gigi dengan gigi tetangganya dan
gigi antagonisnya.
3. Hubungan kontak antar gigi atas dan bawah yaitu
hubungan : oklusi sentris, oklusi protusiv, sisi kerja, sisi
yang mengimbangi
4. Overbite dan overjet gigi atas dan bawah dalam
hubungan rahang yang normal
5. Estetik :
a. bentuk gigi hendaknya sesuai dengan bentuk
lengkung rahang, bentuk
kepala, bentuk
muka, dan jenis kelamin.
b. Besar gigi sesuai dengan besar kecilnya
lengkung rahang.
c. Susunan gigi tiruan hendaknya dibuat sewajar
mungkin agar bila kelak geligi tiruan dipakai
kelihatan wajar.
d. Profil pasien yang menyangkut ketepatan
dimensi vertikal dan oklusi sentrik kita tentukan.
Dimensi vertikal yang terlalu rendah atau terlalu
tinggi akan merubah profil pasien