Anda di halaman 1dari 9

BENJOLAN PADA LEHER

Faktor kunci pada penegakkan diagnosis benjolan pada leher adalah


lokasinya, fisiknya secara alamiah, umur pasien, dan gejala yang berkaitan.
1.

Massa digaris tengah. Limfadenopati, Kista duktus tiroglosus, kista dermoid,


nodule tiroid.

2.

Segi tiga anterior. Limfadenopati, kista brankialis kleft, tumor kelenjar liur
atau kista.

3.

Segi tiga posterior. Limfadenopati, metastase tumor, kista bronkogenik.

1.

Limfadenopati
Pembesaran kelenjar getah bening (pembengkakan kelenjar), paling
sering dijumpai berupa benjolan pada leher ukurannya bervariasi mulai dari
pembengkakan yang bisa diraba sampai beberapa cm diameternya.
Limfadenopati yang mungkin bisa terjadi dilokasi manapun. Lokasi
yang paling sering adalah anterior dari otot sternokleidomastoideus dibawah
sudut mandibula dan dibelakang telinga.
Infeksi biasanya merupakan penyebab dari limfadenopati, sering oleh
virus faringitis yang menyebabkan pembesaran tonsilar node di bawah
sudut mandibula. Kelenjar getah bening ini jarang suppurasi, tetapi
pembesaran KGB nya sampai beberapa bulan.

2.

Acute Suppurative Submandibular Lymphadenitis


Disebabkan oleh infeksi stafilokokus atau streptokokus
a.

Temuan klinis. Limfadenitis supurativa sering ditemukan pada anak 6


bulan sampai 3 tahun. Pembesaran KGB biasanya didahului oleh
faringitis atau infeksi saluran nafas atas. Anak tampak sakit, demam,
dan iritable. Pembesaran KGB tiba-tiba, eritema, terasa nyeri, dan
berkembang jadi selulitis pada bagian bawah dagu, bila jadi abses maka
akan ditemukan fluktuasi.

b.

Patofisiologi.

Tidak

diketahui

dengan

pasti

mengapa

kelenjar

submandibula kebanyakan cenderung menjadi infeksi piogenik.


Sebelum faringitis streptokokus, hanya kadang-kadang timbul.

c.

Penatalaksanaan. Pemberian antibiotik; ampisilin 25 mg/kgBB qid.


Sering kali pada banyak kasus berubah menjadi abses. Adanya tanda
fluktuasi merupakan indikasi dilakukan drainase bedah. Insisi dan
drainase dilakukan dengan menggunaka sedasi dalam tetapi bisa juga
dilakukan tanpa pembiusan. Luka bedah dibalut tekan untuk hemostasis
dan memungkinkan jaringan menyembuh dari dalam, dilakukan sekitar
seminggu. Kekambuhan jarang terjadi.

3.

Limfadenitis Kronis
Pembesaran KGB yang menetap, lama setelah bukti-bukti adanya
infeksi menghilang. Keadaan ini sering sekali dijumpai. Bisa disebabkan oleh
infeksi banal maupun spesifik (limfadenitis tbc).
a.

Limfadenitis kronis oleh infeksi banal


i.

Klinis.

Sering

dijumpai

tonsillar

nodes

kemungkinan

sebelumnya di dapati riwayat faringitis atau ISPA yang disertai


pemebsaran KGB yang kemudiqan menetap setelah infeksinya
berlsalu. KGB ini biasanya soliter, tidak nyeri, mudash digerakan,
dan lunak.
ii.

Patofisiologi. Pemeriksaan histopatologi didapati gambaran


reactive hyperplasia pada biopsinya.

iii. Penatalaksanaan. Tidak diperlukan terapi apapun bila ukuran


diameternya < 1 cm dan asimptomatik. Banyak pembesaran KGB
kronis menghilang sendiri. Beberapa dilakukan biopsi.
b.

Limfadenitis kronis tuberculose. Biasanya sekunder dari infeksi paruparu. Di Indonesia sering kali dijumpai (endemis). Infeksi bisa juga
disebabkan oleh mycobacterium atipik yang masuk melalui faring
(jarang di Indonesia).
i.

Klinis. Tidak ditemukan riwayat sakit sebelumnya, tidak ada


demam maupun leukositosis, nodul membesar tetapi tidak disertai
rasa nyeri atau tanda inflamasi. Setelah beberapa minggu, nodule
mengalami degenerasi membentuk cold absces, bila tidak
diobati, maka akan terdrainase spontan dan terbentuk sinus. Test
PPD kulit mungkin positif atau negatif.

ii.

Patofisiologi. Reaksi granulomatosa dari KGB tipikal oleh tbc.

iii. Penatalaksanaan. Kuratif dilakukan eksisi dan terapi anti tbc.


c.

Penyakit Hodgkin. Sangat jarang ditemukan pada anak-anak prasekolah, tetapi frekwensi nya meningkat pada umur belasan dan dewasa
muda, sering berupa solid tumor. Hampir 1 dalam 100 kasus
pembesaran

KGB,

merupakan

keganasan.

Hal

ini

mungkin

menyebabkan ketakuan pada para orang tua.


i. Klinis. Ada beberapa karakteristik yang merupakan indikasi adanya
perubahan ganas pada KGB.
1. Tumbuh terus menerus melampaui periode beberapa minggu.
2. Tanda lokal; tidak disertai rasa nyeri, kemerahan atau fluktuatif.
3. Bisa ditemukan pembesaran beberapa KGB, atau single
4. Kehilangan berat badan, demam malam hari, dan malaise tanpa
adanya tanda-tanda infeksi, lebih lanjut harus dicurigai adanya
malignansi
ii. Patofisiologi. Penyakit Hodgkin mungkin merupakan kelompok
beberapa KGB leher pada sisi yang sama, tetapi sering bilateral atau
berkembang di mediastinum atau abdomen.
iii. Penatalaksanaan. Penatalaksanaan primernya dengan kemoterapi
dan

radiasi.

Diagnosis

ditegakkan

dengan

biopsi.

Biopsi pada limfadenitis kronis. Kebanyakan pembesaran KGB


tidak dilakukan pembedahan. Biopsi mungkin harus dikerjakan bila
diagnosis tidak bisa ditegakkan. Pada banyak kasus, pembengkakan
akan hilang dalam 6 minggu, dan menunggu dalam beberapa lama
tidak akan memperburuk keadaan bila ternyata kelainan ini adalah
Penyakit Hodgkin.
Indikasi eksisional biopsi pada pembesaran KGB leher.
1. Nodule berukuran diameter 2 cm, dan tetap ada selama 6
minggu.
2. Nodule berukuran diameter 2 cm, yang tumbuh cepat dan terus
membesar dalam 2 3 minggu
3. Teraba keras, melekat dan tidak nyeri.

4.

Kista duktus tiroglosus (KDTG)


a.

Etiologi. Kista duktus tiroglosus teerjadi akibat kegagalan obliterasi dari


duktus tiroglosus setelah penurunan tiroid pada minggu ke 6 umur
gestasi.

b.

Klinis. Jarang di ketemukan pada masa bayi. Di temukan sering pada


masa kanak-kanak dini, berupa massa kistik di garis tengah atau
drainase melalui sinus. Mungkin juga tidak tampak sampai begitu ada
infeksi dengan abses baru muncul. Kista terletak di tengan atau dekat
dengan garis tengah, biasanya overlying dengsan ossa hyoid, lebih
mendekati dagu atau mungkin juga lebih mendekati sternum. Adanya
protrusi lidah menandakan adanya bertumbuhnya massa.

c.

Patofisiologi. KDTG, berhubungan dengan rongga mulut, memudahkan


bakteri menginfeksi kista. Kista dan duktus dilapisi oleh stratified
squamous atau pseudostratified columnar epithelium dan kelenjar
sekresi yang memproduksi mukus. Mungkin terdapat kelenjar gondok
ektopik.

d.

Penatalaksanaan. Dilakukan eksisi dengan mengangkat massa nya dan


sekalian mencegah kambuhnya infeksi.
i.

Bila

kista

sudah

terinfeksi,

berikan

antibiotik.

Biasanya

memungkinkan untuk eradikasi infeksi, memungkinkan pembedahan


di tunda dalam keadaan tidak sedang infeksi.
ii. Pra-bedah dilakukan tiroid-scan
iii. Bagian tengan ossa hyoid harus dipotong diangkat bersama kistanya
dan duktusnya sqampai ke foramen os hyoid. Kegagalan
mengangkat badian tengan os hyoid, banyak menyebabkan
banyaknya kasus residif.
5.

Nodul tiroid
Nodul pada tiroid harus dipikirkan pada diagnosis deferensial bila massa
terletak low anterior leher. Dianjurkan untuk di buat tiroid scan.

6.

Kista celah brankial


a.

Etiologi. Kelianan dari penutupan dan resorpsi dari celah brankial


primitif dan lengkung insang nya memberi kemungkinan timbulnya
kista, sinus dan massa.

b.

Klinis.
i. Sinus celah brankialis. Sinus akan tampak sebagai lubang muara
pada kulit di angulus mandibula (celah brankial- 1) atau sepsanjang
tepi anterior m. sternokleidomastoid (celah brankial-2). Sinus dari
celah ke-2 lebih sering dijumpai dan mengeluarkan air liur.
ii. Kista celah brankial. Timbul pada tempat yang sama dengan sinus,
tetapi mungkin sulit dibedakan dengan pembengkakan KGB atau
benjolan leher lain, terutama bila terinfeksi. Kista celah brankial
perta jarang ditemukan.
iii. Sisa arkus brankialis. Kecil, berupa massa kartilago terletak subkutis
terletak

bisa

dimana

saja

disepanjang

tepi

anterior

otot

sternokleidomastoid atau didepan telinga.


c.

Patofisiologi. Sinus celah brankial merupakan sisa embriologis yang


terbuka keluar tubuh, sedangkan bila tertutup maka akan membentuk
kista.
i. Celah brankial pertama meerupakan kelainan yang berhubungan
dengan kanalis auditorius eksterna dan berdekatan dengan nerves
fasialis
ii. Kista celah brankial kedua dan sinsus nya berhubungan fossa
tonsilaris, melewati bifurkasio arteri karotis dan keluar disepanjang
tepi anterior muskulus sternoklleidomastoideus.
iii. Infeksi berasal dari masuknya kuman melalui kanalis auditorius
eksternus atau dibawa masuk ke dalam kista bersama saliva dari
faring.

d.

Penatalaksanaan. Sisa brankial harus dibuang astas indikasi kosmetis


dan untuk mencegah terjadinya infeksi. Bila kista terinfeksi, harus
diberikan

antibiotik

sebelum

dilakukan

pembedahan.

Selama

pembedahan ,diseksi harus dilakukan sedekat mungkin dengan


sepanjang track sinus u tuk mencegah terjadinya cedera pada saraf
dan pembuluh darah.

7.

Kista dermoid
Termasuk kista - kista berisi kelenjar sebaseus dan folikel rambut. Kista
epidermoid tidak memiliki komponen terswebut. Keduanya berisi material
sebasea.
a.

Etiologi. Kisata dermoid dan epidermoid timbul dari elemen ektodermal


dibawah permukaan kulit selama fusi embryogenik.

b.

Klinis.
i. Kista dermoid banyak teredapat di ujung lateral alis (angular
dermoid).
ii. Kista epidermoid sering ditemukan digaris tengah leher, sehingga
sulit dibedakan dengan kista duktus tiroglosus. Bisa timbul dimana
saja.

c.

Penatalaksanaan. Kista harus diangkat karena cenderung untuk


membesar. Jarang terjadi infeksi.

8.

Tumor kelenjar liur


Tumor kelejar liur sangat jarang ditemukan pada anak-anak, tetapi
mempunyai bentuk lesi yang bervariasi, bisa bersifast jinak dan yang ganas.
Pada bayi sering ditemukan hemangioma jinak atau limfangioma dari
kelenjar parotis yang merupakan neoplasma solid seperti yang terdapat pada
anak-anak. Sebagian neoplasma solid pada kelenjar liur merupakan
neoplasma ganas.
a.

Hemangioma merupakan tumor kelenjar liur yang paling banyak, yang


secara eksklusis banyak dijumpai pada bayi.

b.

Pada pemeriksaan; ditemukan tanda fluktuatif, lunak, massa yang


asimtomatik pada kelenjar parotis.

c.

Pertumbuhan tumor biasanya meningkat pada umur 12 18 bulan dan


secaqra spontan akan mengalami involusi yang terjadi sampai umur 5
tahun.

d.

Diagnosis biasanya bisa ditegakkan secara klinis, tetapi biopsi dilakukan


bila klinis meragukan.

e.

Penatalaksanaan. Pemberian steroid mungkin bisa menghentiukan


pertumbuhannya dan mempercepat involusi. Diberikan prednison 1
mg/kgBB/hari selama 6 minggu. Radioterapi tidak efektif. Pembedahan
6

tidak diindikasikan pada lesi jinak ini, karena tingkat kesulitan


pembedahannya dan risiko akan terjadinya cedera pada nerves ke-7.
Eksisi diindikasikan untuk sisa deformitas setelah involusi spontan.
9.

Limfangioma
Termasuk higroma kistik dari parotis atau kelenjar submaksiler yang
lebihn jarang dibanding hemangioma tetapi sering kali dikelirukan antara
keduanya.
a.

Limfangioma biasanya akan tampak pada saat lahir dan akan cepat
membesar

pada

beberapa

bulan

pertama.

Bisa

juga

terjadi

hemelimfangioma.
b.

Tidak seperti hemangioma pada limfangioma harus egera dieksisi sedini


mungkin sebelum menjadi lebih besar dan memerlukan insisi dan
deseksi lebih luas. Sedapat mungkin menyelamatkan nerves fasialis
karena ini merupakan lesi jinak.

10. Mixed tumor (adenoma pleomorfik)


Sering ditemukan sebagai tumor jinak yang solid dari kelenjar liur.
a.

Secara tipikal timbul setelah umur tahun ke 7 sebagai massa kerad yang
asimtomatik dan tumbuhnya lambat.

b.

Kelenjar Parotis merupakan asal dari 90% mixed tumor.

c.

Penatalaksanaanya adalah eksisi luas dari tumor, dengan perhatian untuk


menyelamatkan nerves fasialis. Kemoterapi dan radiasi tidak efektif.

d.

Residifitas pasca reseksi bukannya tidak biasa, terutama bila tidak


dikerjakan eksisi luas.

11. Tumor jinak yang lain.


a.

Hemangioendotelioma.

b.

Limfoepitelioma.

c.

Cystadenoma.

d.

Neuroma.

e.

Lipoma.

12. Karsinoma Mukoepidermoid

Merupsaakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak,


hampir sesering mixed tumor.
a.

Tumor ini sulit dibedakan dengan mixed tumor.

b.

Angka kesembuhan pasca eksisi nya sangat tinggi, karena sangat jarang
bermetastase jauh.

13. Tumor-tumor ganas lainnya


Termasuk karsinoma sel asinar, karsinoma anaplastik, adenokarsinoma,
dan berbagai variasi sarkoma. Banyak sekali pasien-pasien dengan tumor ini
prognosisnya buruk walaupun sudah dilakukan eksisi radikal.
14. Penyakit kelenjar liur non-neoplastik.
a.

Parotitis epidemika. Pembengkakan difus, nyeri, tampak sakit berat,


amilase meningkat.

b.

Batu saluran kelenjar liur. Dicurigai bilamana terdapat sialodenitis


berulang. Diagnosis ditegakan bilamana adanya kalsifikasi pada foto
polos. Diperlukan sialografi.

Indikasi pembedahan
Diindikasikan untuk hampir semua tumor pada kelenjar air liur.
Pembedahan ini merupakan terapi kuratif untuk hampir kebanyakan lesi jinak
dan ganas kelenjar liur. Bila diagnosis masih diragukan, dilakukan biopsi.
Bila akan dilakukan eksisi radikal termasuk mengangkat neves fasialis, maka
pemeriksaan histopatologi definitif harus dilakukan sebelumnya.
15. Miscellaneous Neck Masses
a.

Higroma kistik. Melekat erat, lunak, masa kistik pada leher pada bayi
baru lahir.

b.

Kista bronkogenik.
i.

Etiologi. Kista bronkogenik timbul dari forgut. Banyak kista


bronkogenik ditemukan pada rongga dada, salah satunya
berekembang dileher. Secara histologis kista di servikal sulit
dibedakan dengan kista di toraks. Dindingnya berisi tulang rawan,
kelenjar mukous, jaringan elastik, dan otot polos.

ii.

Temuan klinis. Licin, pembengkakan globuler disebelah anterior


atau dibagian sebelah dalam otot sternokleidomastoideus. Kista
bisa membesar 5 cm. biasanya asimtomatis, tetapi bisa juga
terjadi disfagia akibat kompresi kista terhadap esofagus. Pada
pemeriksaan sonografi atau CT scan didapati adanya dinding kista
yg tebal.

iii. Penatalaksanaan. Eksisi kuratif.


c.

Tumor jaringan lunak. Tumor jinak maupun ganas bisa berkembang dari
jaringan lunak pada leher dan timbul sebagai tumor asimtomatik.
Rabdomiosarkoma paling sering ditemukan pada leher. Bisa juga berupa
Lipoma,

fibroma,

neurofibroma,

fibrosarkoma,

liposarkoma,

neurofibrosarkoma, tetapi sangat jarang.


d.

Metastase

tumor. Neuroblastoma

merupakan

tumor

yg

sering

bermetastase ke leher pada anak. Bila tumor terdapat di segi tiga


posterior atau supraklavikula, tumbuh dengan cepat, maka harus
dicurigai adanya tumor metastase. Diindikasikan untuk biopsi.
e.

Tortikolis.

Teraba

sebagai

pada

keras,

terdapat

pada

otot

sternokleidomastoid pada bayi baru lahir.