Anda di halaman 1dari 4

Psikologi forensik

Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Psyke yang artinya jiwa dan logos yang artinya
ilmu pengetahuan. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai
gejala, proses maupun latar belakangnya.
Forensik berasal dari bahasa Yunani, yaitu forensis yang bermakna debat atau perdebatan.
Forensik adalah ilmu penetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakan
keadilan melalui proses penerapan ilmu atau sains.
The committee on ethical guidlines for forensic psycology (Putwain&Sammons,2002) dalam
probowati 2008 mendefinisikan psikologi forensik sebagai semua bentuk layanan psikologi
yang dilakukan di dalam hukum. Weiner dan hess 2005 dalam Purbowati 2008 menjelaskan
psikologi forensik sebagai layanan psikologi dalam sistem hukum , psikolog melakukan
pengembangan pengetahuan spesifik tentang isu hukum, serta melakukan riset pada
permasalahn hukum yang melibatkan proses psikologi.
Begitu luasnya bidang kajian psikologi hukum/forensik sehingga Blackburn (dalam Bartol
1994, Kapardis 1997, Weiner & Hess 2005) dalam purbowati 2008 membagi bidang tersebut
menjadi tiga bidang yaitu :
1. Psychology in law : ini merupakan aplikasi praktis psikologi dalam bidang hukum
seperti psikolog di undang menjadi saksi ahli dalam menentukan kondisi mental
terdakwa, menentukan hak perwalian anak dalam perkasar perceraian. Kedudukan
hukum lebih tinggi dubanding psikology, yang artinya psikolog baru akan dipanggil
jika hukum memerlukannya.
2. Psychology and law : ini meliputi bidang psyco-legal research yaitu penelitian tentang
individu yang terkait dengan hukum seperti hakim, jasa, pengacara, terdakwa. Dalam
hubungan psikologi dan hukum tidak ada hubungan yang lebih tinggi. Psikologi
dipandang sebagai suatu disiplin ilmu yang mengevaluasi dan menganalisis berbgai
komponen hukum dari kaca mata dan perspektif psikologi.
3. Psycology of law : hubungan hukum dan psikologi lebih abstrak, hukum sebagai
penentu perilaku. Isu yang dikaji antara lain bagaimana hukum mempengaruhi
masyarakat.
Bartol & Bartol dalam purbowati 2008 menyatakan individu yang berkecimpung pada
psikologi forensik dapat dibedakan menjadi :
1. Ilmuan psikologi forensik yang tugasnya melakukan kajian atau penelitian yang
terkait dengan aspek-aspek prilaku manusia dalam proses hukum
2. Praktisi (profesional ) psikologi forensik, yang tugasnya memberikan bantuan
profesional berkaitan dengan permasalahn hukum.
Praktisi ( psikolog) forensik adalah psikolog yang mengaplikasikan ilmunya
untuk membantu penyelesaian masalah hukum. Di indonesia, profesi psikolog
forensik masih kurang dikenal, baik dikalangan psikolog maupun di kalangan aparat
hukum ( polisi, jaksa, pengacara, hakim, petugas lembaga pemasyarakatan. Akibat

kurang dikenalnya profesi psikolog forensik di Indonesia, hampir tidaka ada psikolog
di indoneisa yang menyatakan dirinya berprofesi sebgai psikolo khusus forensik.
Tugas profesi psikolog forensik pada proses peradilan adalah membantu pada saat
pemeriksaan di kepolisian, di kejaksaan, di pengadilan maupun ketika terpidana
berada di lembaga permayarakatan.
Tugas profesi psikolog forensik di setiap tahap proses peradilan pidana :
1. Di kepolisian : psikolog dapat diminta bntuannya agar informasi yang diperoleh
dalam penyelidikan mendekati kebenaran. Psikolog forensik dapat membantu
penyelidikan polisi pada pelaku, korban dan saksi.
2. Pada pelaku : psikolog forensik dapat membantu polisi dalam melakukan
introgasi, membuat criminal Profiling, mendeteksi kebohongan. Bantuan psikolog
forensik dalam introgasi pada orang yang diduga pelaku bertujuan agar ia
mengakui kesalahnnya. Criminal profiling dapat disusun dengan bantuan teori
psikologi, misalnya pada kasus pembunuhan berantai atau kasus pemerkosaan
yang terus-menerus. Psikologi forensik dapat membantu polisi melacak pelaku
dengan menyusun profil kriminal pelaku.( constanzo, 2006 dalam Purbowati
2008).
3. Pada korban. Korban tindak pidana sering kali mengalami trauma sehingga sulit
untuk digali informasi darinya. Psikolog forensik dapat membantu polisi dalam
melakukan penggalian informasi terhadap korban. Psikolog forensik dapat
membantu melakukan penggalian keterangan korban untuk lebih memeperoleh
informasi yang akurat. Dalam penggalian kesaksian pada anak-anak atau wanita
korban kekerasan dibutuhkan keteranpilan agar korban merasa nyaman dan
terbuka. Pada kasus yang diragukan korban di bunuh atau bunuh diri, psikolog
forensik dapat melakukan otopsi psikologi. Seorang psikolog dapat menyusun
otopsi psikologis berdasarkan sumber bukti tidak langsung yaitu catatan yang
ditinggalkan oleh almarhum, data yang diperoleh oelh teman, keluarga korban
atau teman kerja. tujuan otopsi psikologi adalah merekontruksi keadaan
emosional, kepribadian, pikiran dan gaya hiduop almarhum.
4. Pada saksi. Proses peradilan sangat tergantung pada investigasi saksi, karena baik
baik polisi, jaksa, dan hakim tidak melihat langsung lejadian perkara. Teknik
interview investigasi yang sering dibicarakan adalah
a. Hipnosis
Hipnosis dapat digunakan untuk meningkatkan ingatan saksi maupun korban.
Teknik hipnosis meminta saksi/korban untuk relaks, kemudian ia dalam focus
state dan menjadi sangat patuh terhadap instruksi orang yang
menghipnosisnya. Instruksi yang diberikan adalah meminta saksi/korban
untuk kembali mengingat kejadian yang dialaminya. Ia dibimbing untuk
memperhatikan hal-hal detail seperti nomer plat mobil atau wajah dari pelaku.
Saksi biasanya akan mengingat informasi lebih banyak ketika ia dihipnotis
dibanding dalam kondisi tidak terhipnotis. Dengan teknik hipnosis, ia merasa
bebas dan dapat memunculkan ingatannyakembali (Kebbel & wagstaff 2004)

dalam probowati 2008. Psikolog forensik yang menguasai teknik hipnosis


dapat membantu polisi menemukan informasi dalam memopri saksi yang tidak
dapat ditemukan dengan teknik lain.
Hal buruknya dengan hipnosis, walaupun lebih banyak informasi yang muncul
tapi kadang informasi ini belum tentu informasi yang benar dan tepat. Kadang
informasi yang muncul dipengaruhi oleh imajinasi dan fantasi dari saksi.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa teknik hipnotis tidak selalu
menghasilkan informasi yang akurat dalam kesaksian (Steblay & Bothwell
dalam Costanzo, 2004). Repotnya, walau informasi yang imajinatif tadi
diperoleh melalui hipnotis, namun saksi sangat yakin bahwa hal itu benar.
Saksi/korban yang sangat emosional (malu, marah) sering juga menghilangkan
memorinya, dan mengatakan ia lupa. Dengan teknik hipnotis, ia merasa bebas
dan dapat memunculkan ingatannya kembali (Kebbell & Wagstaff dalam
Costanzo, 2004). Jadi hipnotis oleh ahlinya kadang dapat dilakukan untuk
menemukan informasi dalam memori saksi yang tidak dapat ditemukan
dengan teknik lain.
b. Wawancara kognitif adalah teknik yang diciptakan Ron Fisher dan Edward
Geilselman pada 1992. Tujuannya adalah untuk meningkatkan proses retrieval
yang akan meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi dengan cara
membuat saksi/korban merasa rileks dan kooperatif. Fisher,Geiselman dan
Amandor (1989) menemukan bahwa teknik wawancara kognitif menghasilkan
25-35% lebih banyak dan akurat dibanding teknik wawancara standar
kepolisian.
Fisher (dalam costanzo, 2004) dan Milne & Bull (2000) menyatakan bahwa
ada 5 tahap dalam wawancara kognitif. Tahap tersebut adalah :
Tahap I, adalah tahap menjalin rapport (pendekatan) terhadap
saksi/korban agar ia tidak cemas, merasa nyaman, membuat
saksi/korban juga menjadi lebih konsentrasi. Pada tahap awal ini, ia
diminta bercerita tentang kejadian tanpa dipotong oleh pewawancara.
Tujuannya adalah tidak ada efek sugesti dari pewawancara.
Tahap II, event interview similarity, adalah mengembalikan ingatan
saksi pada kejadian yang dialaminya. Ia diminta menutup mata dan
membayangkan kejadian yang dialaminya. Ia diminta untuk
membayangkan apa yang dilihat, didengar, pikiran dan perasaannya
(yang relevan) pada saat itu.
Tahap III, melakukan probing (penggalian informasi secara lebih
detail) pada gambaran dan hal-hal yang disampaikan oleh saksi.
Tujuannya agar diperoleh keyakinan atas hal-hal yang relevan terkait
dengan peristiwa yang dialami oleh saksi. Kemudian peristiwa itu
direcall (diceritakan kembali) dengan urutan yang berbeda, pertama
dari awal sampai akhir. Kemudian dari akhir hingga awal.
Tahap IV. Saksi diminta melihat peristiwa itu dari perspektif yang
beda. Misal dari perspektif pelaku atau perspektif korban. Hasil ini

direkam dan dicek ulang lagi pada saksi jika mungkin ada yang dirasa
keliru atau tidak tepat
Tahap V. Saksi diminta untuk mengingat kembali informasi baru lain
yang mungkin belum dimunculkan. Bisa distimulasi dengan
pertanyaan detail tentang wajah, baju, logat, mobil. Misal wajah pelaku
mirip siapa jika menurutmu ? jawaban saksi mungkin menyebut nama
orang terkenal, misal Saiful Jamil atau Pong Harjatmo. Sebenarnya
bukan itu yang penting, namun saksi perlu ditanya lebih detail.
Mengapa mirip Saiful Jamil ? apa ada cirri-ciri khusus ? apa ada kesan
khusus yang kau tangkap ? Dengan cara ini saksi akan diminta
mengingat kembali informasi lebih detail

Secara keseluruhan teknik ini membutuhkan kondisi relaks saksi/korban,


memberikan berbagai kesempatan pada saksi untuk menceritakan kejadian
dan tidak menggunakan pertanyaan yang menuntun atau menekan (Fisher
dalam Costanzo, 2004 dalam probowati 2008)
5. Di kejaksaan. Jaksa penuntut umum melakukan penuntutan dengan menggunakan
data yang ditulis dalam berita acra pemeriksaan yang ditulis pihak kepolisian.
Psikologi forensik dapat membantu jakasa dengan memberikan keterangan terkait
dengan kondisi psikologis pelaku maupun korban. Bantuan psikolog forensik
dalam informasi kondisi psikologis korban maupun pelaku akan membantu jaksa
dalam menyusun tuntutannya.
6. Pengadilan. Peran psikolog forensik dalam peradilan pidana di pengadilan, dapat
sebgai saksi ahli dalam kasus terkait dengan aspek psikologis. Psikolog forensik
juga dapat bekerja untuk pengacara dalam memberikan masukan tekait dengan
jawaban-jawaban yang harus diberikan klien agar tampat meyakinkan.
Sumber :
1. psikologi forensik : Psikolog sebgai ilmuan dan profesional . Yusti probowati
fakultas psikologi universitas surabaya. Indonesian psycological journal
2008, vol 23, No. 4, 338-353
2. Bares, Ludfi & Tekun Saragih. (2011). Pengertian Psikologi Forensik. Diakses
pada 11 November 2014, dari
http://www.leutikaprio.com/main/media/sample/psikologo
%20F_SAMPLE.pdf
3. Peran psikologi dalam investigasi kasus tindak pidana. DR. Yusti probowati at
Indonesian Journal of legal and forensic science 2008;1(1): 26-31. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai