Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sinar X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis
dengan gelombang radio, panas, cahaya, dan sinar ultraviolet, Tetapi
dengan panjang gelombang yang sangat pendek. Sinar X bersifat
heterogen, panjang gelombangnya bervariasi dan tidak terlihat. Perbedaan
antara sinar X dengan sinar elektromagnetik lainnya juga terletak pada
panjang gelombang, dimana panjang gelombang sinar X sangat pendek,
yaitu hanya 1/10.000 panjang gelombang cahaya yang kelihatan. Karena
panjang gelombang yang pendek itu, maka sinar X dapat menembus
benda-benda. (Sjahrial Rasad, 2005).
Teknik kV tinggi merupakan suatu pengembangan teknik
radiografi dengan menaikkan nilai tegangan tabung (kVp) dari tegangan
tabung standar (tegangan tabung yang secara umum digunakan untuk
membentuk

suatu

radiograf

dan mampu menghasilkan informasi

diagnostik). Pemilihan tegangan tabung (kVp), untuk teknik kV tinggi


biasanya diatas 100 kV (Bushong, 2001).
Adapun beberapa kelebihan teknik kV tinggi adalah pengurangan
milliampere-detik (mAs) memungkinkan faktor waktu yang lebih singkat
untuk digunakan, sehingga mengurangi kemungkinan blur akibat gerakan
dan dosis radiasi pada pasien berkurang (Bryan, 1988). Dosis radiasi yang

diterima pasien rendah karena bertambahnya kV maka daya tembus sinarX semakin besar, sehingga semakin sedikit sinar-X yang diserap oleh
bahan (Bushong, 2001). Aplikasi teknik kV tinggi dalam pemeriksaan
radiografi salah satunya diterapkan pada pemeriksaan obstetric radiografi
Pelvis. (Bryan, 1988).
Kualitas

radiograf

adalah

kemampuan

radiograf

untuk

menampakan objek sesuai aslinya (Curry, 1984), radiograf yang


mempunyai kualitas tinggi akan menampakan detail objek secara jelas.
Detail didefinisikan sebagai struktur terkecil dari suatu objek. Detail yang
tinggi akan didapatkan apabila radiograf mempunyai resolusi yang tinggi.
Resolusi adalah kemampuan radiograf untuk menangkap radiograf untuk
menampilkan gambaran objek-objek yang berdekatan dengan jelas.
Kualitas radiograf sangat ditentukan oleh tiga hal yaitu, densitas,
kontras, dan ketajaman (Carroll, 1985). Densitas adalah derajat kehitaman
didaerah-daerah pada radiograf (Carroll, 1985). Kontras radiografi adalah
perbedaan densitas antara daerah-daerah dalam radiograf. Perbedaan
densitas akan membuat kita melihat informasi yang tardapat dalam
radiograf (Curry, 1984), dan menurut Papp (2006), kontras didefinisikan
sebagai perbedaaan diantara densitas pada sebuah radiograf dan berfungsi
untuk melihat detail.
Ketajaman adalah kemampuan radiograf menampakan tepi atau
batas dari objek secara tegas. Ketajaman dapat dilihat dengan jelas pada
radiograf yang mempunyai kontras tinggi. Faktor penentu ketajaman

adalah ukuran Focal Spot, source-to-image receptor distance (SID), dan


object-to-image receptor distance. Ketajaman dari detail gambar juga
dipengaruhi oleh tipe intensifying screens dan adanya pergerakan
(Bushong, 2001).
Citra digital radiografi adalah istilah yang digunakan untuk
mendeskripsikan gambar radiografi dalam bentuk digital yang dapa
ditampilkan di layar monitor. System pencitraan digital meliputi
Computed Tomography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI),
Ultrasnography, Computed Radiography (Ballinger, 2003).
Computed Radiography (CR) adalah sistem untuk memproses
gambar radiograf digital dengan menggunakan teknologi phosphor
photostimulable plate pada awal akuisisi data pencitraan. Ballinger (1999).
Penggunaan Teknik kV tinggi menurunkan Entrance Skin
Exposure (ESE) dan laju paparan pada pemeriksaan pelvis proyeksi AP
akibat keterbatasan waktu penelitian terhadap kualitas radiograf pelvis
proyeksi AP menggunakan teknik kV tinggi tidak bisa dilakukan. (Azmi,
2012).
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk
mengkaji tentang pengaruh teknik kV tinggi terhadap kualitas radiograf
pada pemeriksaan pelvis proyeksi anteroposterior kedalam sebuah karya
tulis ilmiah dengan judul PENGARUH TEKNIK kV TINGGI
TERHADAP KUALITAS RADIOGRAF PADA PEMERIKSAAN
PELVIS PROYEKSI ANTEROPOSTERIOR

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang mendasari penulisan karya tulis
ini, hal yang ingin penulis bahas dalam penelitian ini adalah apakah ada
pengaruh teknik kV tinggi terhadap kualitas radiograf pada pemeriksaan
pelvis proyeksi Anteroposterior?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk
mengetahui apakah ada pengaruh teknik kV tinggi terhadap kualitas
radiograf pada pemeriksaan pelvis proyeksi Anteroposterior.
D. Manfaat penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah
sebagai berikut :
1. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang pengaruh
teknik kV tinggi terhadap kualitas radiograf pada pemeriksaan pelvis
proyeksi anteroposterior.
2. Menambah Pustaka bagi jurusan Teknik Radiodiagnostik dan
Radioterapi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang.
3. Untuk menambah wawasan pembaca tentang pengaruh teknik kV
tinggi terhadap kualitas radiograf pada pemeriksaan pelvis proyeksi
anteroposterior.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang PENGARUH TEKNIK kV TINGGI
TERHADAP KUALITAS RADIOGRAF PADA PEMERIKSAAN

PELVIS PROYEKSI ANTEROPOSTERIOR belum pernah dilakukan,


namun penelitian sejenis sudah pernah dilakukan.
1. Muhammad Nurulazmi, (2012). PENGARUH TEKNIK kV TINGGI
TERHADAP ENTRANCE SKIN EXPOSURE (ESE) DAN LAJU
PAPARAN PADA PEMERIKSAAN PELVIS PROYEKSI AP
(ANTEROPOSTERIOR). Pada penelitian ini, rumusan masalah yang
dibahas bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik kV tinggi
terhadap Entrance Skin Exposure (ESE) dan laju paparan pada
pemeriksaan

pelvis

proyeksi

AP

(anteroposterior),

kemudian

dihasilkan penurunan dosis serap pada pemeriksaan pelvis AP dan laju


paparan radiasi hamburnya. Penulis melengkapi penelitian ini dengan
melakukan penelitian terhadap kualitas radiograf yang dihasilkan.
2. Wahyu Tri Ambarsari, (2012). PERBANDINGAN INFORMASI
ANATOMI PEMERIKSAAN PELVIS ANTARA PENGGUNAAN
TEKNIK kV TINGGI DG kV STANDAR Pada penelitian ini,
rumusan masalah yang dibahas bertujuan untuk membandingkan
informasi anatomi pemeriksaan pelvis antara penggunaan teknik kV
tinggi dengan kV standar, Penulis melengkapi penelitian ini dengan
melakukan penelitian terhadap kualitas radiograf yang dihasilkan.
Lispriana, (2012). PERBEDAAN ANATOMI DAN

3. Pavita

KONTRAS RADIOGRAF PADA PEMERIKSAAN VERTEBRA


LUMBOSAKRAL

PROYEKSI

LATERAL

DENGAN

MENGGUNAKAN TEKNIK kV TINGGI DAN kV STANDAR


Pada penelitian ini, rumusan masalah yang dibahas bertujuan untuk

melihat perbedaan anatomi dan kontras radiograf pada pemeriksaan


vertebra lumbosakral proyeksi lateral dengan menggunakan teknik kV
tinggi dan kV standar, penelitian ini menggunakan sensitometer
sebagai alat ukur densitas, Penulis melengkapi penelitian ini dengan
melakukan penelitian terhadap organ pelvis Anteroposterior dan
kualitas radiograf yang dihasilkan dengan menggunakan tool yang ada
pada computed radiography.