Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

TERAPI CAIRAN

Oleh :
Rangga Novandra (030.07.209)

Pembimbing :
dr. Sabur Nugraha, Sp.An

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ANESTESI


PERIODE 26 DESEMBER 2011 28 JANUARI 2012
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

BAB I
PENDAHULUAN

Tubuh manusia terdiri atas cairan dan zat padat. Empat puluh persen tubuh
manusia merupakan zat padat seperti protein, lemak, mineral, karbohidrat, material
organik dan non organic. Enampuluh persen sisanya adalah cairan. Dari 60% komposisi
cairan, 20 % merupakan cairan ekstraseluler dan 40% merupakan cairan intraselluler.
Empat persen cairan ekstraseluler berada dala pmbuluh darah berupa plasma darah dan
15% terdapat di interstisal. Perbedaan yang penting pada plasma dan interstisial adalah
adanya prtein yang larut dalam plasma sedangkan di interstisial tidak ada.
Terapi cairan meliputi penggantian kehilangan cairan, memenuhi kebutuhan air,
elektrolit dan nutrisi untuk membantu tubuh mendapatkan kembali keseimbangan
normal dan pulihnya perfusi ke jaringan, oksigenasi sel, dengan demikian akan
mengurangi iskemia jaringan dan kemungkinan kegagalan organ.
Terapi cairan perioperatif meliputi cairan pada masa prabedah, selama
pembedahan, dan pascabedah. Dalam pemberian cairan pada pasien perioperatif, harus
diperhitungkan kebutuhan cairan basal, penyakit yang menyertai, medikasi, teknik dan
obat anestetik serta kehilangan cairan yang diakibatkan pembedahan.
Penderita yang menjalani pembedahan akan mengalami perubahan fisiologi
tubuh, baik karena penyakitnya sendiri atau akibat trauma pembedahan. Perubahanperubahan tersebut antara lain :
a) Peningkatan rangsang simpatis yang akan menimbulkan sekresi katekolamin dan
menyebabkan takikardi, konstriksi pembuluh darah, serta peningkatan kadar gula
darah.
b) Rangsangan terhadap kelenjar hipofisis

Bagian anterior : sekresi growth hormone yang mengakibatkan kenaikan kadar


gula darah, dan sekresi ACTH.

Bagian posterior : sekresi ADH yang mengakibatkan retensi air (Syndrome


Inappropriate of ADH secretion)

c) Peningkatan sekresi aldosteron akibat dari stimulasi ACTH dan berkurangnya


volume ekstra sel.
d) Peningkatan kebutuhan oksigen dan kalori karena peningkatan metabolisme.
Pemberian

infus

kristaloid

atau

koloid,

terutama

ditujukan

untuk

mempertahankan volume intravaskular, tetapi juga akan mempengaruhi komposisi


kompartemen cairan fisiologi. Untuk mengurangi penyulit akibat pemberian cairan yang
kurang atau berlebihan, diperlukan pengetahuan tentang volume, komposisi
kompartemen cairan dan tanda-tanda fisik dan laboratori kelebihan dan kekurangan
cairan dan pemilihan jenis cairan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi Cairan Tubuh


1. Komposisi cairan tubuh
Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, presentasenya dapat
berubah tergantung pada umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas seseorang. Pada bayi
usia < 1 tahun, cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat badan, dan pada bayi usia > 1
tahun mengandung air sebanyak 70-75%. Seiring dengan pertumbuhan, presentase
jumlah cairan terhadap berat badan berangsur-angsur turun, yaitu pada laki-laki dewasa
50-60% berat badan, pada wanita dewasa 50% berat badan.
Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke ruang-ruang tubuh yang disebut
kompartemen. Kompartemen berisi cairan intraseluler (40% BB) dan cairan
ekstraseluler (20% BB). Ruang ekstraseluler meliputi ruang interstitial (15% BB) dan
ruang intravaskuler berisi sel-sel darah dan plasma, cairan intravaskuler (5% BB), serta
ruang serebrospinal berisi cairan serebrospinal. Terdapat ruang-ruang lain yang juga
termasuk di dalam ruang ekstraseluler yang disebut ruang ketiga (third space). Cairan
dalam ruang ketiga ini dalam keadaan normal dapat diabaikan isinya, seperti di ruang
intrapleura, perikardium, intraperitoneal, dan lain-lain.
a. Cairan intraseluler
Merupakan cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa, sekitar dua
pertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraseluler, sebaliknya pada bayi,
hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraseluler.
b. Cairan ekstraseluler
Merupakan cairan yang berada di luar sel. Jumlah relatif cairan ekstraseluler
berkurang seiring dengan usia. Cairan ekstraseluler dibagi menjadi:
Cairan interstisial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstisial. Sekitar 11-12
liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial.

Cairan intravaskuler
Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah. Rata-rata volume
darah orang dewasa sekitar 5-6 liter dimana 3 liternya merupakan plasma,
sisanya terdiri dari eritrosit, leukosit, dan platelet.
Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung di antara rongga tubuh tertentu seperti
serebrospinal, perikordial, pleura, sendi synovial, intraokular, dan sekresi saluran
pencernaan.
Air tubuh total maksimal pada saat lahir, kemudian berkurang secara progresif
dengan bertambahnya umur. Air tubuh total pada laki-laki lebih banyak daripada
perempuan dan pada orang kurus (65 ml/kg BB) lebih banyak daripada yang gemuk (50
ml/kg BB).
Distribusi cairan di dalam kompartemen diatur oleh osmolalitas, distribusi
natrium dan distribusi koloid terutama albumin. Osmolalitas dikontrol oleh intake cairan
dan regulasi ekskresi air oleh ginjal. Ada 2 jenis bahan yang terlarut didalam cairan
tubuh, yaitu :
a. Elektrolit
Elektrolit ialah molekul yang pecah menjadi partikel bermuatan listrik yaitu kation
dan anion, yang dinyatakan dalam mEq/L cairan. Tiap kompartemen mempunyai
komposisi elektrolit tersendiri. Komposisi elektrolit plasma dan interstisial hampir
sama, kecuali di dalam interstisial tidak mengandung protein.
Na

Mg

Ca

Cl

HCO2

Plasma
darah

142

103

26

Cairan
interstitial

145

115

30

cairan
intraseluler

10

160

35

160

HPO2

SO2

Protein
16

1
140

55

b. Non elektrolit
Non elektrolit ialah molekul yang tetap, tidak berubah menjadi partikel-partikel,
terdiri dari dekstrosa, ureum dan kreatinin.

2. Mekanisme regulasi tubuh


Pergerakan air diantara intrasel dan ekstrasel diatur oleh keseimbangan diantara
tekanan hidrostatik, tekanan osmotik dan tekanan onkotik. Sekiranya keseimbangan ini
terganggu, ia biasanya menyangkut cairan ekstrasel. Tekanan hidrostaik adalah tekanan
yang mempengaruhi pergerakan air melalui dinding kapiler. Tekanan onkotik atau
tekanan osmotic koloid adalah tekanan yang mencegah pergerakan air.
Bila albumin rendah maka tekanan hidrostatik akan meningkat dan tekanan
onkotik akan turun sehingga cairan intravaskuler akan di dorong masuk ke interstisial
yang berakibat edema. Albumin menghasilkan 80% dari tekanan onkotik plasma,
sehingga bila albumin cukup pada cairan intravaskuler maka cairan tidak akan mudah
masuk ke interstitial.
Ada dua mekanisme utama yang mengatur air tubuh yaitu pengaturan osmoler
dan pengaturan volume non osmoler.
a. Pengaturan osmoler
Sistem osmoreseptor ADH
Pada saat volume cairan ekstravaskuler berkurang, osmolaritas meningkat,
mengakibatkan pelepasan impuls dari osmoreseptor di hipotalamus anterior
yang merangsang pituitari posterior untuk melepas ADH. Penurunan volume
cairan ekstravaskuler juga merangsang pusat haus yang juga menstimulasi
pelepasan ADH. ADH mengakibatkan reabsorbsi Na dan air pada tubulus distal
dan tubulus kolektivus, sehingga menaikkan volume cairan ekstravaskuler.
Peningkatan volumen cairan ekstravaskuler akan memberikan umpan balik ke
hipotalamus dan pusat haus sehingga volume cairan ekstravaskuler
dipertahankan tetap.
Sistem renin aldosteron
Saat volume cairan ekstravaskuler berkurang, makula densa akan melepaskan
renin yang berperan dalam pembentukan angiotensin I. Dengan converting
enzim angiotensi I diubah menjadi angiotensin II yang merupakan
vasokonstriktor kuat, menstimulasi korteks adrenal untuk mengeluarkan

aldosteron, yang mengakibatkan reabsorbsi air dan Na sehingga sirkulasi


meningkat.
b. Pengaturan non osmoler
Semua respon hemodinamik akan mempengaruhi reflek kardiovaskuler, yang juga
akan mengatur volume cairan dan pengeluaran urin. Jika terjadi hipovolemia, reflek
intratorak, reflekreseptor presor ekstratorak dan respon iskemik pusat akan
mengaktifkan mekanisme hipotalamik dan sistem nervus simpatis.

3. Kebutuhan air dan elektrolit


Pada orang dewasa kebutuhan air dan elektrolit setiap hari adalah sebagai berikut :3
30-35 ml/kg. Kenaikan suhu 1C ditambah 10-15%
Pada anak sesuai berat badan :
0-10 kg

: 100 ml/kgBB/24 jam

10-20 kg

: tambahkan 50 ml/kgBB/24 jam

> 20 kg

: tambahkan 20 ml/kgBB/24 jam

Elektrolit :
Na+ : 1,5 2 mEq/kgBB (100 mEq/hari = 5,9 g)
K+ : 1 mEq/kb/BB (60 mEq/hari = 4,5 g)
Menurut Collins kebutuhan cairan perhari, seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut:

Keseimbangan cairan

Keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran:

B. Cairan intravena
Berdasarkan fungsinya cairan dapat dibagi menjadi: 2
1. Cairan pemeliharaan : ditujukan untuk mengganti air yang hilang lewat urine, tinja,
paru dan kulit (mengganti puasa). Cairan yang diberikan adalah cairan hipotonik,
seperti D5 NaCl 0,45 atau D5W.
2. Cairan pengganti : ditujukan untuk mengganti kehilangan air tubuh akibat
sekuestrasi atau proses patologi lain seperti fistula, efusi pleura asites, drainase
lambung. Cairan yang diberikan bersifat isotonik, seperti RL, NaCl 0,9 %, D5RL,
D5NaCl.
3. Cairan khusus : ditujukan untuk keadaan khusus misalnya asidosis. Cairan yang
dipakai seperti Natrium bikarbonat, NaCl 3%.
Selain pengelompokkan menurut fungsi, cairan juga dibagi menjadi :
1. Kristaloid
Larutan kristaloid adalah larutan air dengan elektrolit dan atau dextrose, tidak
mengandung molekul besar. Kristaloid dalam waktu singkat sebagian besar akan
keluar dari intravaskular, sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak (2,54 kali) dari volume darah yang hilang. Kristaloid mempunyai waktu paruh
intravaskuler 20-30 menit. Ekspansi cairan dari ruang intravaskuler ke interstital
berlangsung selama 30-60 menit sesudah infus dan akan keluar dalam 24-48 jam
sebagai urine. Secara umum kristaloid digunakan untuk meningkatkan volume
ekstrasel dengan atau tanpa peningkatan volume intrasel.
2. Koloid
Koloid mengandung molekul-molekul besar berfungsi seperti albumin dalam
plasma tinggal dalam intravaskular cukup lama (waktu parah koloid intravaskuler
3-6 jam), sehingga volume yang diberikan sama dengan volume darah yang hilang.
Contoh cairan koloid antara lain dekstran, haemacel, albumin, plasma dan darah.

Secara umum koloid dipergunakan untuk :


a. Resusitasi cairan pada penderita dengan defisit cairan berat (syok hemoragik)
sebelum transfusi tersedia.
b. Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat, misalnya pada luka bakar.

Perbandingan kristaloid dan koloid :

Cairan pemeliharaan (maintenance therapy)


Ditujukan untuk menggantikan air yang hilang lewat urine, tinja, paru dan kulit.
Jumlah kehilangan air tubuh ini berbeda sesuai dengan umur, yaitu:
Dewasa

: 1.5 2 ml/kg/jam

Bayi

: 4 6 ml/kg/jam

Anak-anak

: 2 4 ml/kg/jam

Neonates

: 3ml/kg/jam

Mengingatkan cairan yang keluar sedikit sekali mengandungi elektrolit, maka cairan
pengganti terbaik adalah cairan hipotonik, seperti D5%+1/4NS, atau D5W.
Cairan pengganti (replacement therapy)

Ditujukan untuk mengganti kehilangan air tubuh akibat sekuestrasi atau proses
patologi lain seperti fistula, efusi pleura, asites, drainase lambung. Sebagai cairan
pengganti untuk tujuan ini digunakan cairan yang bersifat isotonik seperti, RL, NS,
D5RL, D5%+NS.
Cairan khusus
Ditujukan untuk keadaan khusus misalnya asidosis. Cairan yang digunakan
adalah bic-nat, NaCl 3%, dll.
Terapi Cairan pada Pembedahan
Cairan didalam tubuh dalam keadaan normal seharusnya mencukupi yang biasa
didapatkan dari makanan dan minuman. Dalam waktu 24 jam, air dan elektrolit bisa
keluar lewat air kemih, tinja, keringat dan uap air pernafasan. Sekiranya terjadi ketidak
seimbangan cairan didalam tubuh, akibat puasa lama, kerana pembedahan salur cerna,
perdarahan banyak, syok hipovolemik, anoreksia berat, mual muntah yang masal dan
lain-lain, maka dibutuhkan terapi cairan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Antara lain
tujuan terapi cairan sendiri adalah :
1. Mengganti kekurangan air dan elektrolit.
2. Memenuhi kebutuhan tubuh
3. Mengatasi syok
4. Mengatasi kelainan yang ditimbulkan kerana terapi yang diberikan
5. Sebagai tambahan untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin
6. Dapat juga untuk menjaga keseimbangan asam-basa
Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum
terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor preoperatif, perioperatif
dan postoperatif.
Faktor-faktor preoperatif :
1. Kondisi yang telah ada seperti Diabetes mellitus, penyakit hepar, atau
insufisiensi renal dapat diperburuk oleh stres akibat operasi.
2. Prosedur diagnostik
Arteriogram atau pyelogram intravena yang memerlukan marker intravena dapat
menyebabkan ekskresi cairan dan elektrolit urin yang tidak normal karena efek
diuresis osmotik

3. Pemberian obat
Pemberian obat seperti steroid dan diuretik dapat mempengaruhi eksresi air dan
elektrolit
4. Preparasi bedah
Enema atau laksatif dapat menyebabkan peningkatan kehilangan air dan
elekrolit dari traktus gastrointestinal.
5. Penanganan medis terhadap kondisi yang telah ada:

Restriksi cairan preoperative


Selama periode 6 jam restriksi cairan, pasien dewasa yang sehat kehilangan
cairan sekitar 300-500 mL. Kehilangan cairan dapat meningkat jika pasien

menderita demam atau adanya kehilangan abnormal cairan.


Defisit cairan yang telah ada sebelumnya harus dikoreksi sebelum operasi
untuk meminimalkan efek dari anestesi.

Faktor Perioperatif:
1.

Induksi anestesi

2. Kehilangan darah yang abnormal


3. Kehilangan abnormal cairan ekstraselular ke third space (contohnya
kehilangan cairan ekstraselular ke dinding dan lumen usus saat operasi)
4. Kehilangan cairan akibat evaporasi dari luka operasi (biasanya pada luka
operasi yang besar dan prosedur operasi yang berkepanjangan.
Faktor postoperatif:
1.
2.
3.
4.

Stres akibat operasi dan nyeri pasca operasi


Peningkatan katabolisme jaringan
Penurunan volume sirkulasi yang efektif
Risiko atau adanya ileus postoperative

Gangguan cairan, elektrolit dan asam basa yang potensial terjadi perioperatif adalah :
1. Hiperkalemia
2. Asidosis metabolik
3. Alkalosis metabolik
4. Asidosis respiratorik
5. Alkalosis repiratorik

Trauma, pembedahan dan anestesi akan menimbulkan perubahan-perubahan pada


keseimbangan air dan metabolisme yang dapat berlangsung sampai beberapa hari pasca
trauma atau bedah. Perubahan-perubahan tersebut terutama sebagai akibat dari :

Kerusakan sel di lokasi pembedahan


Kehilangan dan perpindahan cairan baik lokal maupun umum
Pengaruh puasa pra bedah, selama pembedahan dan pasca bedah
Terjadi peningkatan metabolisme, kerusakan jaringan dan fase penyembuhan

Pada penderita yang akan menjalani operasi, baik karena penyakitnya atau karena
adanya trauma pembedahan, maka akan terjadi perubahan-perubahan fisiologis tubuh.
Antara lainnya adalah
1.

Kadar adrenalin dan non adrenalin meningkat sampai hari ketiga pasca bedah
atau trauma. Sekresi hormon monoamin ini kebih meningkat lagi bila pada
penderita tampak tanda-tanda sepsi, syok, hipoksia dan ketakutan.

2. Kadar glukagon dalam plasma juga meningkat


3. Sekresi hormon dari kelenjar pituitaria anterior juga mengalami peningkatan
yaitu growth hormone dan adrenocorticotropic hormone (ACTH). Trauma atau
stress akan merangsang hipotalamus sehingga dikeluarkan corticotropin
releasing factoryang merangsang kelenjar pituitaria anterior untuk mensekresi
ACTH. Peningkatan kadar ACTH dalam sirkulasi menyebabkan glukokortikoid
plasma meningkat sehingga timbul hiperglikemia, glikolisis dan peninggian
kadar asma lemak.
4. Kadar hormon antidiuretik (ADH) mengalami peningkatan yang berlangsung
sampai hari ke 2-4 pasca bedah/trauma. Respon dari trauma ini akan
mengganggu pengaturan ADH yang dalam keadaan normal banyak dipengaruhi
oleh osmolalitas cairan ekstraseluler.
5. Akibat peningkatan ACTH, sekresi aldosteron juga meningkat. Setiap penurunan
volume darah atau cairan ektraseluler selalu menimbulkan rangsangan untuk
pelepasan aldosteron.
6. Kadar prolaktin juga meninggi terutama pada wanita dibandingkan dengan
lakilaki.
7. Terjadinya peningkatan kebutuhan oksigen dan kalori karena peningkatan
metabolisme.

Derajat perubahan-perubahan tersebut di atas sangat bervariasi bagi setiap individu


tergantung dari beberapa faktor :

Rasa sakit dan kualitas analgesi

Rasa takut dan sedasi yang diberikan

Komplikasi penyulit pada pasca bedah/trauma (syok, perdarahan, hipoksia atau


sepsis)

Keadaan umum penderita

berat dan luasnya trauma

Penatalaksanaan
a. Cairan pra bedah
Status cairan harus dinilai dan dikoreksi sebelum dilakukannya induksi anestesi
untuk mengurangi perubahan kardiovaskuler dekompensasi akut. Penilaian status
cairan ini didapat dari :
Anamnesa : Apakah ada perdarahan, muntah, diare, rasa haus. Kapan buang air
kecil terakhir, jumlah dan warnanya.
Pemeriksaan fisik : dari pemeriksaan fisik ini didapat tanda-tanda obyektif dari
status cairan, seperti tekanan darah, nadi, berat badan, kulit, abdomen, mata
dan mukosa.
Laboratorium meliputi pemeriksaan elektrolit, BUN, hematokrit, hemoglobin
dan protein.
Defisit cairan dapat diperkirakan dari berat-ringannya dehidrasi yang terjadi.
Pada fase awal pasien yang sadar akan mengeluh haus, nadi biasanya
meningkat sedikit, belum ada gangguan cairan dan komposisinya secara serius.
Dehidrasi pada fase ini terjadi jika kehilangan kira-kira 2% BB (1500 ml air).
Fase moderat, ditandai rasa haus. Mukosa kering otot lemah, nadi cepat dan
lemah. Terjadi pada kehilangan cairan 6% BB.
Fase lanjut/dehidrasi berat, ditandai adanya tanda shock cardiosirkulasi, terjadi
pada kehilangan cairan 7-15 % BB. Kegagalan penggantian cairan dan

elektrolit biasanya menyebabkan kematian jika kehilangan cairan 15 % BB


atau lebih.
Cairan preoperatif diberikan dalam bentuk cairan pemeliharaan, pada dewasa 2
ml/kgBB/jam. Atau 60 ml ditambah 1 ml/kgBB untuk berat badan lebih dari 20
kg.10 Pada anak-anak 4 ml/kg pada 10 kg BB I, ditambah 2 ml/kg untuk 10 kgBB
II, dan ditambah 1 ml/kg untuk berat badan sisanya.2
Kecuali
Dewasa

Operasi Besar

Operasi Sedang

Operasi Kecil

8 x BB

6 x BB

4 x BB

Anak
6 x BB
4 x BB
2 x BB
penilaian terhadap keadaan umum dan kardiovaskuler, tanda rehidrasi tercapai ialah
dengan adanya produksi urine 0,5-1 ml/kgBB.
b. Cairan selama pembedahan
Terapi cairan selama operasi meliputi kebutuhan dasar cairan dan penggantian sisa
defisit pra operasi ditambah cairan yang hilang selama operasi. Pemberian cairan
yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan oedem paru, sedangkan apabila
kekurangan dapat menyebabkan dehidrasi yang berakhir dengan syok hipovolemik.
Kebutuhan dasar cairan/maintenance (M)
Kebutuhan dasar cairan (maintenance) dihitung berdasarkan berat badan.
10 kg pertama dikalikan 4, 10 kg kedua dikalikan 2, dan sisanya dikalikan 1.
Penggantian sisa defisit praoperasi (P)
Sebelum operasi, pasien dipuasakan. Cara menghitung jumlah penggantian
sisa defisit operasi jumlah jam puasa dikali maintenance. Sebesar 50%
diberikan pada jam pertama.
Cairan yang hilang selama operasi (O)
Cariran yang hilang selama operasi diperkirakan dari jenis pembedahannya
digolongkan menjadi 3, yaitu:
Pemilihan jenis cairan intravena tergantung pada prosedur pembedahan dan
perkiraan jumlah perdarahan. Perkiraan jumlah perdarahan yang terjadi selama
pembedahan sering mengalami kesulitan, dikarenakan adanya perdarahan yang sulit
diukur/tersembunyi yang terdapat di dalam luka operasi, kain kasa, kain operasi dan
lain-lain. Dalam hal ini cara yang biasa digunakan untuk memperkirakan jumlah

perdarahan dengan mengukur jumlah darah di dalam botol suction ditambah perkiraan
jumlah darah di kain kasa dan kain operasi. Satu lembar duk dapat menampung 100
150 ml darah, sedangkan untuk kain kasa sebaiknya ditimbang sebelum dan setelah
dipakai, dimana selisih 1 gram dianggap sama dengan 1 ml darah. Perkiraan jumlah
perdarahan dapat juga diukur dengan pemeriksaan hematokrit dan hemoglobin secara
serial.3
Pada perdarahan untuk mempertahankan volume intravena dapat diberikan
kristaloid atau koloid sampai tahap timbulnya bahaya karena anemia. Pada keadaan ini
perdarahan selanjutnya diganti dengan transfusi sel darah merah untuk mempertahankan
konsentrasi hemoglobin ataupun hematokrit pada level aman, yaitu Hb 7 10 g/dl atau
Hct 21 30%. 20 25% pada individu sehat atau anemia kronis.
Kebutuhan transfusi dapat ditetapkan pada saat prabedah berdasarkan nilai
hematokrit dan EBV. EBV pada neonatus prematur 95 ml/kgBB, fullterm 85 ml/kgBB,
bayi 80 ml/kgBB dan pada dewasa laki-laki 75 ml/kgBB, perempuan 85 ml/kgBB.
Untuk menentukan jumlah perdarahan yang diperlukan agar Hct menjadi 30%
dapat dihitung sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

EBV
Estimasi volume sel darah merah pada hematokrit prabedah (RBCV preop)
Estimasi volume sel darah merah pada hematokrit 30% prabedah (RBCV%)
Volume sel darah merah yang hilang, RBCV lost = RBCV preop RBVC

30%)
5. Jumlah darah yang boleh hilang = RBCV lost x 3
Transfusi dilakukan jika perdarahan melebihi nilai RBCV lost x 3.
Selain cara tersebut di atas, terdapat pendapat mengenai penggantian cairan
akibat perdarahan berdasarkan berat-ringannya perdarahan :
1. Perdarahan ringan, perdarahan sampai 10% EBV, 10 15%, cukup diganti
dengan cairan elektrolit.
2. Perdarahan sedang, perdarahan 10 20% EBV, 15 30%, dapat diganti
dengan cairan kristaloid dan koloid.
3. Perdarahan berat, perdarahan 20 50% EBV, > 30%, harus diganti dengan
transfusi darah.
c.

Cairan pasca bedah

Terapi cairan paska bedah ditujukan untuk :

Memenuhi kebutuhan air, elektrolit, dan nutrisi.


Mengganti kehilangan cairan pada masa paska bedah (cairan lambung, febris).
Melanjutkan penggantian defisit prabedah dan selama pembedahan.
Koreksi gangguan keseimbangan karena terapi cairan.
Nutrisi parenteral bertujuan menyediakan nutrisi lengkap, yaitu kalori,

protein dan lemak termasuk unsur penunjang nutrisi elektrolit, vitamin dan trace
element. Pemberian kalori sampai 40 50 Kcal/kg dengan protein 0,2 0,24 N/kg.
Nutrisi parenteral ini penting, karena pada penderita pasca bedah yang tidak
mendapat nutrisi sama sekali akan kehilangan protein 75 125 gr/hari.

BAB III
KESIMPULAN

Terapi cairan preoperatif meliputi pemberian cairan pada masa prabedah, selama
pembedahan, dan pasca pembedahan. Perlu diketahui perubahan fisiologi akibat
pembiusan dan pembedahan, fisiologi cairan tubuh, serta tanda-tanda fisik dan
laboratorium mengenai kekurangan dan kelebihan cairan.
Penilaian status cairan dilakukan pada kunjungan pertama pra bedah lalu mulai
diberikan terapi cairan dan diusahakan status cairan seoptimal mungkin sebelum
dilakukan induksi pembiusan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat
pembiusan dan pembedahan.
Selama pembedahan harus selalu dijaga keseimbangan cairan dan elektrolit
dengan mengganti kehilangan cairan akibat pembedahan, kebutuhan dasar, dan trauma
pembedahan. Selalu dipantau tanda-tanda fisik mengenai kelebihan atau kekurangan
cairan.
Terapi cairan pasca bedah ditujukan untuk mengoreksi pemberian cairan
sebelumnya dan memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi untuk mempercepat
penyembuhan,
Jenis cairan yang diberikan tergantung dari trauma pembedahan. Berbagai
macam cairan dapat digunakan secara leluasa sesuai dengan yang dibutuhkan oleh
pasien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd Ed.
Jakarta: FKUI; 2010. p. 133-140.
2. Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi. Panduan
Tatalaksana Terapi Cairan Perioperatif. Jakarta: PT Fresenius Kabi Indonesia;
2009. p. 2-16, 88-149.
3. Mulyono I. Jenis-jenis Cairan. Symposium of Fluid and Nutrition Therapy in
Traumatic Patients. Departemen Anestesiologi FKUI Jakarta.
4. Suntoro A. Terapi Cairan Perioperatif. Jakarta: CV Infomedika; 2005. p. 22-35.
5. Collins. Fluid and Electrolytes, in Physicologic and Pharmachologic Bases of
Anesthesia. UDA: Williams & Wilkins. p. 165-87.