Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hemangioma adalah tumor yang paling sering terjadi pada bayi.
Biasanya tidak langsung muncul pada saat lahir. Mulai tampak pada minggu
ke 4-6 kehidupan. Berproliferasi cepat pada tahun pertama kehidupan dan
diikuti periode involusi yang lambat.Termasuk salah satu dari berbagai
malformasi vaskular.10
Hemangioma terjadi pada 10-20 % dari populasi kaukasia. Mereka lebih
jarang terlihat diantara bayi asia dan amerika afrika dan lebih umum diantara
bayi

prematur

dengan

berat

lahir

<1000

gram

(22%

dari

keseluruhan).2,3,8Rasio antara laki-laki dan perempuan adalah 1:6. Sekitar


60% lesi ini terletak dikepala dan leher dan 25% terdapat dibatang tubuh.8,19
Penyebab hemangioma belum diketahui dengan pasti. Walaupun telah
banyak

teori

dikembangkan

sebagian

masih

saling

bertentangan.

Hemangioma dapat mengakibatkan distorsi struktur wajah (mulut, hidung,


dan palpebra) dan juga dapat timbul di organ visera, terutama hati.
Hemangioma berdasarkan saat munculnya digolongkan menjadi hemangioma
kongenital dan hemangioma infantil. Hemangioma infantil yang paling sering
ditemukan dimasyarakat mencapai 70% dari semua lesi dan baru muncul
pada minggu kelahiran. Hemangioma infantil dibagi menjadi 3 tipe, tetapi
tipe superfisial merupakan tipe yang biasa dikenal dimasyarakat sebagai
hemangioma stoberi yang tampak merah segar. Lesi ini disebut stoberi karena
penampilannya seperti kulit buah stroberi. Sedangkan beberapa ahli membagi
hemangioma berdasarkan pembagian klasik yaitu hemangioma pada kulit
bagian atas atau hemangioma kapiler, hemangioma pada kulit bagian dalam
atau hemangioma kavernosa, dan hemangioma campuran antara keduanya.
Hemangioma muncul saat lahir, meskipun demikian dapat hilang sendiri
beberapa bulan setelah lahir. Hemangioma dapat muncul pada setiap bagian

tubuh, akan tetapi hemangioma lebih mengganggu bagi para orang tua bila
hemangioma terdapat pada muka atau kepala bayi.8
Anomali yang terjadi pada hemangioma disebutkan merupakan hasil
dari embriogenesis yang tidak sempurna. Banyak teori yang diajukan akan
tetapi tidak ada satu pun teori yang dapat menjelaskan dengan baik perbedaan
patofisiologi antara hemangioma dan kelainan pembuluh darah yang lain.19
Pengetahuan mengenai etiologi, patofisiologi, klasifikasi, pengenalan
gejala klinis dari hemangioma khususnya hemangioma pada bagian telinga
hidung serta kepala leher deteksi dini dari komplikasi, dan penanganan yang
efektif untuk hemangioma, menjadi latar belakang disusunnya referat ini.
1.2 Tujuan
a. Mengetahui anatomi dan fisiologi hidung
b. Mengetahui
definisi,
epidemiologi,

klasifikasi,

patofisiologi,

pemeriksaan, penatalaksaan, dan komplikasi hemangioma secara umum


dan hemangioma intranasal
c. Sebagai syarat agar dapat mengikuti ujian kepaniteraan klinik THT-KL
RST TK II Soepraoen Malang

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Hidung
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung dalam. Hidung luar
menonjol pada garis tengah diantara pipi dengan bibir atas.Hidung luar
dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung.1Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang
membentang dari os internum disebelah anterior hingga koana di posterior,
yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Rongga hidung atau kavum
nasi berbentuk terowongan dari depan kebelakang, dipisahkan oleh septum
nasi dibagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. 1 Pintu atau
lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang
belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi
dengan nasofaring. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu
dinding medial, lateral, inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah
septum nasi. Septum nasi ini dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, dinding
lateral terdapat konkha superior, konkha media dan konkha inferior. Yang
terbesar dan letaknya paling bawah ialah konkha inferior, kemudian yang
lebih kecil adalah konka media, yang lebih kecil lagi konka superior,
sedangkan yang terkecil ialah konka suprema dan konka suprema biasanya
rudimenter. 1,17

GAMBAR 1 : Anatomi Hidung. Dikutip dari Ballenger JJ.1

a. Vaskularisasi hidung
Secara garis besar perdarahan hidung berasal dari 3 sumber utama yaitu: 1

1. Arteri Etmoidalis anterior


2. Arteri Etmoidalis posterior cabang dari arteri oftalmika
3. Arteri Sfenopalatina, cabang terminal arteri maksilaris interna yang
berasal dari arteri karotis eksterna.
Vena-vena

hidung

mempunyai

nama

yang

sama

dan

berjalan

berdampingan dengan arterinya. Vena divestibulum dan struktur luar


hidung bermuara ke vena oftalmika yang berhubungan dengan sinus
kavernesus .1

GAMBAR 2 : Vaskularisasi Hidung.Dikutip dari Ballenger JJ.1

b. Persyarafan hidung
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris
dari nervus etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari nervus
nasosiliaris, yang berasal dari nervus oftalmikus. Saraf sensoris untuk
hidung terutama berasal dari cabang oftalmikus dan cabang maksilaris
nervus trigeminus. Nervus Olfaktorius turun melalui lamina kribosa dari
permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel
reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas
hidung .1

GAMBAR 3 : Persarafan Hidung.Dikutip dari Ballenger JJ.1

2.2 Fisiologi Hidung


Hidung berfungsi sebagai indra penghidu , menyiapkan udara inhalasi
agar dapat digunakan paru serta fungsi filtrasi. Sebagai fungsi penghidu,
hidung memiliki epitel olfaktorius berlapis semu yang berwarna kecoklatan
yang mempunyai tiga macam sel-sel syaraf yaitu sel penunjang, sel basal dan
sel olfaktorius. Fungsi filtrasi, memanaskan dan melembabkan udara inspirasi
akan melindungi saluran napas dibawahnya dari kerusakan. Partikel yang
besarnya 5-6 mikrometer atau lebih, 85 % -90% disaring didalam hidung
dengan bantuan TMS.17
Menurut Mangunkusumo (2001) fungsi hidung terbagi atas beberapa
fungsi utama yaitu (1)Sebagai jalan nafas, (2) Alat pengatur kondisi udara,
(3) Penyaring udara, (4) Sebagai indra penghidu, (5) Untuk resonansi suara,
(6) Turut membantu proses bicara,(7) Reflek nasal (Ballenger,1994;
Mangunkusomo,2001).18
2.3 Cavum Nasi
Pintu masuk cavum nasi disebut nares anteriores atau nosetril,
sedangkan batas antara cavum nasi dengan nasopharynx adalah choana (nares
posteriores). Cavum nasi merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh atap,
lantai, lateral dan medial.1

GAMBAR 4 : Cavum Nasi.Dikutip dari Ballenger JJ.1

Atap cavum nasi : os frontonasal, os ethmoidal, os sphenoidal


Lantai cavum nasi : palatum durum (processus palatina os maxilla, lamina
horisontal os palatina)
Dinding lateral : 1
a

os nasal, os maxilla, os lacrimal, os ethmoidal, os concha nasalis inferior,


dan pars perpendicularis os palatini

cartilago lateralis nasi, cartilago alaris mayor crus lateral, cartilago alaris
minor, dan cartilago sessamoid

Cavum nasi dexter dan sinister dibatasi oleh septum nasi yang dibentuk oleh:1
1

os vomer dan lamina perpendicular os ethmoidal

cartilago alaris mayor crus medial dan cartilago septi nasi

Berdasarkan epitel pelapisnya, cavum nasi dibagi menjadi 3 yaitu:21


1

Vestibulum nasi : dilapisi epitel squamous complex, terdapat vibrissae


(rambut)

Regio Respiratoria : dilapisi epitel pseudocolumnar

Regio Olfaktoria : dilapisi neuroepitelium yang berasal dari n.olfaktorius


menembus lamina et foramina cribrosa
Vestibulum nasi dan Regio respiratoria dibatasi oleh limen nasi

a) Cavum Nasi Proprius


Struktur yang terdapat di dalam cavum nasi proprius :21
1 meatus nasi inferior, terdapat muara dari ductus nasolacrimalis
2 concha nasalis inferior, terdapat os concha nasalis inferior
3 meatus nasi media, terdapat muara dari sinus maxillaris, sinus frontalis,
cellulae ethmoidalis anterior et media
4 Concha nasalis media
Jika concha nasalis media dibuka, akan terlihat
a Hiatus semilunaris (cekungan)
b Bulla ethmoidalis (penonjolan yang disebabkan oleh cellulae ethmoidalis
media)
5 Meatus nasi superior, terdapat muara dari cellulae ethmoidalis posterior
6 Concha nasalis superior
7 Recessus sphenoethmoidalis, terdapat muara dari sinus sphenoidalis
8 Atrium nasi, ruangan di depan concha nasalis media
9 Aggernasi, peninggian di dekat atrium nasi, terdapat carina nasi (reseptor
bersin)
b) Vaskularisasi cavum nasi
a. Arteri ethmoidalis anterior et posterior - Arteri nasalis anterior lateral et septi
b. Arteri sphenopalatina - arteri nasalis posterior lateral et septi
Arteri nasalis posterior septi akan berjalan menuju canalis incisivus dan
nantinya akan beranastomosis dengan arteri palatina mayor. Isi canalis
incisivus:

a.palatina

mayor,

a.nasalis

posterior

septi

dan

nervus

nasopalatinus.21
Plexus Kiesselbach : anyaman pembuluh darah di bagian anterior septum
nasi. Pembentuk adalah a.nasalis anterior septi et posterior septi, a.palatina
mayor, a.labialis superior. Epistaksis anterior biasanya karena pecahnya
plexus

kiesselbach.

Epistaksis

posterior

a.sphenopalatina.17
c) Innervasi cavum nasi
7

biasanya

karena

ruptur

Anterior : n.nasalis anterior (cabang dari n.ethmoidalis anterior). Merupakan


innervasi sensoris. Nervus nasalis anterior juga mempercabangkan r.nasalis
eksternus yang menginervasi hidung bagian luar.18
Posterior : n.nasalis posterior inferior et superior (cabang dari ganglion
sphenopalatina untuk membawa innervasi parasimpatis dan ganglion cervical
superior untuk innervasi simpatis).18
Efek parasimpatis pada cavum nasi : sekresi mukus dan vasodilatasi.18
2.3.1. SINUS PARANASAL
Berikut adalah pembagian sinus paranasal:1
1

Sinus frontalis
a

Muara : meatus nasi media

Inervasi : nervus supraorbital

Vaskularisasi : arteri ethmoidalis anterior

Sistem Limfatikus : lnn Retropharynx

Sinus maxillaris
a

Muara : meatus nasi media

Inervasi : nervus infraorbital

Vaskularisasi : arteri infraorbital

Sistem Limfatikus : lnn submandibulla

Cellulae ethmoidalis
a

Muara :
- Cellulae ethmoidalis anterior dan media : meatus nasi media
- Cellulae ethmoidalis posterior : meatus nasi superior

Inervasi : nervus ethmoidalis anterior et posterior

Vaskularisasi : arteri ethmoidalis anterior

Sinus sphenoidalis

Muara : recessus sphenoethmoidalis

Inervasi : nervus ethmoidalis posterior

Vaskularisasi : arteri ethmoidalis posterior

Sistem Limfatikus : lnn Retropharynx

2.3.2. Histologi Cavum Nasi


Reseptor pembau terletak pada langit-langit rongga hidung, pada bagian
yang disebut epitelium olfaktori. Epitelium olfaktori terdiri dari sel-sel reseptor
dan sel-sel penyokong. Sel resptor olfaktori berbentuk silindris dan mempunyai
filamen-filamen seperti rambut pada permukaan bebasnya. Akson sel olfaktorius
berjalan menuju bulbus olfaktorius pada sistem saraf pusat. Sel-sel olfaktorius
didampingi oleh sel-sel penunjang yang berupa sebaris sel-sel epitel silindris
berlapis banyak semu.18

GAMBAR 5 : Histologi Cavum Nasi.Dikutip dari Ballenger JJ.1

Dalam lamina propria tunika mukosa penciuman, selain terdapat banyak


pembuluh darah dan saraf, ditemukan juga kelenjar-kelenjar jenis tubulo alveolar
dengan sel-sel seromukosa yang dengan PAS-positif. Saluran ekskresi kelenjar ini

bermuara

ke

epitel

permukaan

dan

aliran

ekskresinya

terus-menerus

membersihkan bagian apikal sel-sel penciuman. Dalam hal ini senyawa-senyawa


yang merangsang rasa penciuman secara tetap disingkirkan, jadi mempertahankan
reseptor-reseptor selalu dalam keadaan siap menerima stimulus yang baru.18
Pembau dan pengecap saling bekerja sama, sebab rangsangan bau dari
makanan dalam rongga mulut dapat mencapai rongga hidung dan diterima oleh
reseptor olfaktori. Keadaan ini akan terganggu ketika kita sakit pilek, di mana
hubungan antara rongga hidung dan rongga mulut terganggu, sehingga uap
makanan dari makanan di mulut tidak dapat mencapai rongga hidung dan
makanan seakan-akan kehilangan rasanya.18
a. Sistem Mukosiliar Hidung
1. Histologi mukosa
Luas permukaan kavum nasi kurang lebih 150 cm2 dan total volumenya
sekitar 15 ml. Sebagian besar dilapisi oleh mukosa respiratorius. Secara
histologis, mukosa hidung terdiri dari palut lendir (mucous blanket), epitel
kolumnar berlapis semu bersilia, membrana basalis, lamina propria yang terdiri
dari lapisan subepitelial, lapisan media dan lapisan kelenjar profunda . 21
1.1 Epitel
Epitel mukosa hidung terdiri dari beberapa jenis, yaitu epitel skuamous
kompleks pada vestibulum, epitel transisional terletak tepat di belakang
vestibulum dan epitel kolumnar berlapis semu bersilia pada sebagian mukosa
respiratorius. Epitel kolumnar sebagian besar memiliki silia. Sel-sel bersilia ini
memiliki banyak mitokondria yang sebagian besar berkelompok pada bagian
apeks sel. Mitokondria ini merupakan sumber energi utama sel yang diperlukan
untuk kerja silia. Sel goblet merupakan kelenjar uniseluler yang menghasilkan
mukus, sedangkan sel basal merupakan sel primitif yang merupakan sel bakal dari
epitel dan sel goblet. Sel goblet atau kelenjar mukus merupakan sel tunggal,
menghasilkan protein polisakarida yang membentuk lendir dalam air. Distribusi
dan kepadatan sel goblet tertinggi di daerah konka inferior sebanyak 11.000
sel/mm2 dan terendah di septum nasi sebanyak 5700 sel/mm2. Sel basal tidak

10

pernah mencapai permukaan. Sel kolumnar pada lapisan epitel ini tidak semuanya
memiliki silia . 21
Kavum nasi bagian anterior pada tepi bawah konka inferior 1 cm dari tepi
depan memperlihatkan sedikit silia (10%) dari total permukaan. Lebih ke
belakang epitel bersilia menutupi 2/3 posterior kavum nasi . Silia merupakan
struktur yang menonjol dari permukaan sel. Bentuknya panjang, dibungkus oleh
membran sel dan bersifat mobile. Jumlah silia dapat mencapai 200 buah pada tiap
sel. Panjangnya antara 2-6 m dengan diameter 0,3 m. Struktur silia terbentuk
dari dua mikrotubulus sentral tunggal yang dikelilingi sembilan pasang
mikrotubulus luar. Masing-masing mikrotubulus dihubungkan satu sama lain oleh
bahan elastis yang disebut neksin dan jari-jari radial. Tiap silia tertanam pada
badan basal yang letaknya tepat dibawah permukaan sel . 17 Pola gerakan silia yaitu
gerakan cepat dan tiba-tiba ke salah satu arah (active stroke) dengan ujungnya
menyentuh lapisan mukoid sehingga menggerakan lapisan ini.. Kemudian silia
bergerak kembali lebih lambat dengan ujung tidak mencapai lapisan tadi
(recovery stroke). Perbandingan durasi geraknya kira-kira 1 : 3. Dengan demikian
gerakan silia seolah-olah menyerupai ayunan tangan seorang perenang. Silia ini
tidak bergerak

secara serentak, tetapi

berurutan

seperti efek

domino

(metachronical waves) pada satu area arahnya sama .18


Gerak silia terjadi karena mikrotubulus saling meluncur satu sama lainnya.
Sumber energinya ATP yang berasal dari mitokondria. ATP berasal dari
pemecahan ADP oleh ATPase. ATP berada di lengan dinein yang menghubungkan
mikrotubulus dalam pasangannya. Sedangkan antara pasangan yang satu dengan
yang lain dihubungkan dengan bahan elastis yang diduga neksin.18
Mikrovilia merupakan penonjolan dengan panjang maksimal 2 m dan
diameternya 0,1 m atau 1/3 diameter silia. Mikrovilia tidak bergerak seperti silia.
Semua epitel kolumnar bersilia atau tidak bersilia memiliki mikrovilia pada
permukaannya. Jumlahnya mencapai 300-400 buah tiap sel. Tiap sel panjangnya
sama. Mikrovilia bukan merupakan bakal silia. Mikrovilia merupakan perluasan
membran sel, yang menambah luas permukaan sel. Mikrovilia ini membantu
pertukaran cairan dan elektrolit dari dan ke dalam sel epitel. Dengan demikian

11

mencegah kekeringan permukaaan sel, sehingga menjaga kelembaban yang lebih


baik dibanding dengan sel epitel gepeng. 1,18
1.2. Lapisan lendir
Lapisan lendir merupakan lembaran yang tipis, lengket dan liat,
merupakan bahan yang disekresikan oleh sel goblet, kelenjar seromukus dan
kelenjar lakrimal. Terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan yang menyelimuti batang
silia dan mikrovili (sol layer) yang disebut lapisan perisiliar. Lapisan ini lebih
tipis dan kurang lengket. Kedua adalah lapisan superfisial yang lebih kental (gel
layer) yang ditembus oleh batang silia bila sedang tegak sepenuhnya. Lapisan
superfisial ini merupakan gumpalan lendir yang tidak berkesinambungan yang
menumpang pada cairan perisiliar dibawahnya. Cairan perisiliar mengandung
glikoprotein mukus, protein serum, protein sekresi dengan berat molekul rendah. 18
Lapisan ini sangat berperanan penting pada gerakan silia, karena sebagian besar
batang silia berada dalam lapisan ini, sedangkan denyutan silia terjadi di dalam
cairan ini. Lapisan superfisial yang lebih tebal utamanya mengandung mukus.
Diduga mukoglikoprotein ini yang menangkap partikel terinhalasi dan
dikeluarkan oleh gerakan mukosiliar, menelan dan bersin. Lapisan ini juga
berfungsi sebagai pelindung pada temperatur dingin, kelembaban rendah, gas atau
aerosol yang terinhalasi serta menginaktifkan virus yang terperangkap.Kedalaman
cairan perisiliar sangat penting untuk mengatur interaksi antara silia dan palut
lendir, serta sangat menentukan pengaturan transportasi mukosiliar. Pada lapisan
perisiliar yang dangkal, maka lapisan superfisial yang pekat akan masuk ke dalam
ruang perisiliar. Sebaliknya pada keadaan peningkatan perisiliar, maka ujung silia
tidak akan mencapai lapisan superfiasial yang dapat mengakibatkan kekuatan
aktivitas silia terbatas atau terhenti sama sekali .21
1.3. Membrana basalis
Membrana basalis terdiri atas lapisan tipis membran rangkap dibawah
epitel. Di bawah lapisan rangkap ini terdapat lapisan yang lebih tebal yang terdiri
dari atas kolagen dan fibril retikular.17
1.4. Lamina propria

12

Lamina propria merupakan lapisan dibawah membrana basalis. Lapisan ini


dibagi atas empat bagian yaitu lapisan subepitelial yang kaya akan sel, lapisan
kelenjar superfisial, lapisan media yang banyak sinusoid kavernosus dan lapisan
kelenjar profundus. Lamina propria ini terdiri dari sel jaringan ikat, serabut
jaringan ikat, substansi dasar, kelenjar, pembuluh darah dan saraf .17
Mukosa pada sinus paranasal merupakan lanjutan dari mukosa hidung.
Mukosanya lebih tipis dan kelenjarnya lebih sedikit. Epitel toraknya berlapis
semu bersilia, bertumpu pada membran basal yang tipis dan lamina propria yang
melekat erat dengan periosteum dibawahnya. Silia lebih banyak dekat ostium,
gerakannya akan mengalirkan lendir ke arah hidung melalui ostium masingmasing. Diantara semua sinus paranasal, maka sinus maksila mempunyai
kepadatan sel goblet yang paling tinggi .17
2.2. Transportasi mukosiliar
Transportasi mukosiliar hidung adalah suatu mekanisme mukosa hidung
untuk membersihkan dirinya dengan mengangkut partikel-partikel asing yang
terperangkap pada palut lendir ke arah nasofaring. Merupakan fungsi pertahanan
lokal pada mukosa hidung. Transportasi mukosiliar disebut juga clearance
mukosiliar. Transportasi mukosiliar terdiri dari dua sistem yang merupakan
gabungan dari lapisan mukosa dan epitel yang bekerja secara simultan. Sistem ini
tergantung dari gerakan aktif silia yang mendorong gumpalan mukus. Lapisan
mukosa mengandung enzim lisozim (muramidase), dimana enzim ini dapat
merusak beberapa bakteri. Enzim tersebut sangat mirip dengan imunoglobulin A
(Ig A), dengan ditambah beberapa zat imunologik yang berasal dari sekresi sel.17
Imunoglobulin G (Ig G) dan interferon dapat juga ditemukan pada sekret hidung
sewaktu serangan akut infeksi virus. Ujung silia tersebut dalam keadaan tegak dan
masuk menembus gumpalan mukus kemudian menggerakkannya ke arah posterior
bersama materi asing yang terperangkap didalamnya ke arah faring. Cairan
perisilia dibawahnya akan dialirkan ke arah posterior oleh aktivitas silia, tetapi
mekanismenya belum diketahui secara pasti. Transportasi mukosilia yang
bergerak secara aktif ini sangat penting untuk kesehatan tubuh. Bila sistem ini

13

tidak bekerja secara sempurna maka materi yang terperangkap oleh palut lendir
akan menembus mukosa dan menimbulkan penyakit .17
Karena pergerakan silia lebih aktif pada meatus media dan inferior maka
gerakan mukus dalam hidung umumnya ke belakang, silia cenderung akan
menarik lapisan mukus dari meatus komunis ke dalam celah-celah ini. Sedangkan
arah gerakan silia pada sinus seperti spiral, dimulai dari tempat yang jauh dari
ostium. Kecepatan gerakan silia bertambah secara progresif saat mencapai ostium,
dan pada daerah ostium silia tersebut berputar dengan kecepatan 15 hingga 20
mm/menit . 17
Kecepatan gerakan mukus oleh kerja silia berbeda di berbagai bagian
hidung. Pada segmen hidung anterior kecepatan gerakan silianya mungkin hanya
1/6 segmen posterior, sekitar 1 hingga 20 mm/menit (Higler 1997). Pada dinding
lateral rongga hidung sekret dari sinus maksila akan bergabung dengan sekret
yang berasal dari sinus frontal dan etmoid anterior di dekat infundibulum etmoid,
kemudian melalui anteroinferior orifisium tuba eustachius akan dialirkan ke arah
nasofaring. Sekret yang berasal dari sinus etmoid posterior dan sfenoid akan
bergabung di resesus sfenoetmoid, kemudian melalui posteroinferior orifisium
tuba eustachius menuju nasofaring. Dari rongga nasofaring mukus turun kebawah
oleh gerakan menelan.17
2.4. Definisi Hemangioma
Hemangioma adalah proliferasi dari pembuluh darah yang tidak normal
dan dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah Jadi, hemangioma dapat
terjadidi kutis, subkutis, otot, hepar, traktus gastrointestinal, otak, paru-paru,
ataupun tulang.Hemangioma adalah tumor yang paling sering terjadi pada bayi.
Biasanya tidak langsung muncul pada saat lahir. Mulai tampak pada minggu ke 46 kehidupan. Berproliferasi cepat pada tahun pertama kehidupan dan diikuti
periode involusi yang lambat. Hemangioma yang biasa terjadi pada masa bayi
adalah

lesi

yang

unik

yang

memiliki

pertumbuhan

yang

pesat

involusisetelahnya tidak mempunyai penjelasan mekanis sampai saat ini.4

14

dan

Berdasarkanpenampilanfisiklesi ada tiga golongan hemangiomabesar,


yaitu jenis kapiler, jenis kavernosa dan campuran.Sedangkan berdasarkan saat
muncul hemangioma diklasifikasikan menjadi hemangioma infantile dan
kongenital .4
2.5. Epidemiologi Hemangioma
Hemangioma merupakan neoplasma jinak yang sering ditemukan pada bayi
yang baru lahir. Dikatakan bahwa 10% dari bayi yang baru lahir dapat mempunyai
hemangioma dimana angka kejadian tertinggi terjadi pada ras kulit putih dan
terendah pada ras asia. Hemangioma lebih sering terjadi pada perempuan bila
dibandingkan dengan laki-laki dengan perbandingan 5:1. Angka kejadian
hemangioma meningkat menjadi 20-30% pada bayi-bayi yang dilahirkan
prematur. Bayi lahir prematur merupakan faktor resiko yang telah teridentifikasi,
terutama neonatus dengan berat badan lahir di bawah 1500 gram. 30% dari
hemangioma terlihat saat bayi lahir dan 70% dari hemangioma muncul pertama
kali pada minggu-minggu pertama dari kehidupan bayi. 4 Dari literatur dikatakan
80% hemangioma terjadi pada daerah kepala dan leher dan dapat mengalami
pertumbuhan sampai kurang lebih 18 bulan sebelum akhirnya akan mengalami
regresi spontan yang dikenal dengan fase involusi yang dapat memakan waktu 310 tahun.Mortalitas dan morbiditas terjadi apabila hemangioma berhubungan
dengan struktur-struktur penting seperti saluran pernafasan dan menggangu fungsi
pernafasan penderita, ataupun apabila terjadi perdarahan yang masif. Akan tetapi
hal ini sangat jarang terjadi.4,5
Hemangioma daerah kepala dan leher termasuk kasus yang jarang.
Stamataki dkk melaporkan, di Johns Hopkins Hospital antara tahun 1980 sampai
dengan tahun 2003, terdapat 23 kasus hemangioma daerah kepala dan leher. Dari
jumlah tersebut hanya terdapat 1 kasus hemangioma intranasal, yang telah
menyebabkan erosi pada tulang intranasal dan tulang ethmoid.5

15

2.6 Klasifikasi Hemangioma


Berdasarkan saat munculnya, hemangioma diklasifikasikan menjadi
hemangioma infantil dan hemangioma kongenital.20
A. Hemangioma infantil
Mencapai 70% dari semua lesi dan baru muncul pada empat minggu
pertama setelah kelahiran. Lesi infantil biasanya berawal sebagai bercak merah
yang timbul lebih tinggi dari kulit normal dan sekitarnya atau sebagai bidang kecil
datar yang kebiruan.5Hemangioma infantil berdasarkan penampilan fisik lesi
terbagi atas tipe dangkal (superfisial), tipe dalam (profunda) dan tipe campuran :20
2.6.1. Hemangioma superfisial
Berasal dari lapisan dermis papiler dan muncul sebagai makula merah
terang atau lesi kulit papular. Merupakan tipe yang biasa dikenal sebagai
hemangioma stroberi karena penampilan nya seperti kulit stoberi yang
tampak berwarna merah segar. Terminologi lama adalah hemangioma
stroberi dan kapiler.20

Gambar 6 Gambaran Hemangioma Superfisial.dikutip dari Karakus MF.6

16

Gambar 7Tampak Gambaran Hemangioma dari fase proliferasi sampai fase involusi.dikutip
dari Karakus MF.6

2.6.2. Hemangioma profunda


Berasal dari lapisan dermis yang lebih dalam (retikuler atau
jaringan subkutan) dan meregangkan kulit tanpa menyebabkan perubahan
warna yang signifikan. Terminologi lama: hemangioma kavernosum.20

Gambar 8Gambaran Hemangioma Profunda.dikutip dari Karakus MF.6

2.6.3

Hemangioma campuran
Terdiri dari komponen hemangioma superfisial dan profunda.

Terminologi lama: hemangioma kapiler kavernosum.20

17

Gambar 9 Gambaran Hemangioma Campurandikutip dari Karakus MF.6

B. Hemangioma kongenital
Tipe lain dari hemangioma adalah hemangioma kongenital. Hemangioma
kongenital sudah terbentuk lengkap saat penderita lahir dan jumlahnya mencapai
30% dari seluruh lesi. Terdiri atas dua jenis yaitu rapidly involuting congenital
hemangioma (RICH) yang akan berinvolusi pada 10 bulan setelah kelahiran, dan
Noninvoluting congenital hemangioma (NICH) yang menetap dan membesar
secara lambat.12

Gambar 10. Grafik hemangioma kongenital.dikutip dari Karakus MF.6

18

2.7. Patofisiologi
1. Fase proliferasi
Pertumbuhan hemangioma infantil terdiri dari sel lemak dan laju
pemisahan yang cepat dari sel endotel dan sel perisit sehingga membentuk kanal
sinusodial yang padat. Marker immunohistokimia seluler menjelaskan fase klinis
dari siklus hidup hemangioma. Bahkan pada tahap awal, sel-sel endotel
mengekspresikan marker fenotip dari kematangan dan molekul adhesi sel spesifik.
Regulasi angiogenesis didokumentasikan oleh ekspresi dari proses proliferasi
antigen sel nuklear, dimediasi dan dibagi oleh dua peptida angiogenik, vascular
endothelial growth factor (VEGF) dan basic fibroblast growth factor (bFGF).8
Enzim terlibat dalam proses remodeling dari matriks ekstraselular yang juga ada,
yang menunjukkan bahwa kerusakan kolagen diperlukan untuk memberi ruang
untuk proses pertumbuhan pembuluh kapiler. Tipe eritrosit protein transporter
glukosa-1 (GLUT1) adalah imunopositif disepanjang siklus hidup dan negatif
disebagian besar tumor pembuluh darah dan malformasi vaskular.8
2. Fase involunting
Regresi ini ditandai dengan semakin berkurangnya aktivitas endotel dan
pembesaran luminal. Degenarasi sel endotel, apoptosis dimulai sebelum 1 tahun
dan spesimen mencapai puncak dalam 2 tahun. Terdapat deposisi progresif dan
dari perivaskular dan jaringan fibrosa interlocular/interlobular, masuknya sebuah
sel stroma (termasuk sel mast, fibroblas, dan makrofag), dan munculnya inhibitor
jaringan metalloproteinase (TIMP)-1, penekanan pembentukan pembuluh darah
baru.8
Meskipun sel mast muncul dalam fase proliferasi akhir, mereka lebih jelas
terlihat selama fase involusi, berinteraksi dengan makrofag, fibroblas, dan jenis
sel lainnya. Sel mast dapat mensekresikan modulator yang menurunkan omset
regulasi endotel.8
Pada akhir hidup hemangioma, semua yang tersisa adalah beberapa kapiler
seperti pembuluh darah dan vena yang kosong atau kering. Berbagai macam dan
lapisan yang berlapis dari membran dasar, sebuah ciri ultrastruktural dari fase
proliferasi, bertahan pada daerah sekitar pembuluh kecil. Sekali peninggian

19

parenkim selular digantikan oleh jaringan longgar fibro-fatty yang bercampur


dengan kolagen padat dan serat retikuler.8
2.8.

Hemangioma Intranasal
Adanya massa intranasal harus dibedakan sebagai suatu massa tumor atau

proses inflamasi. Tumor intranasal seperti papiloma intranasal, capillary


hemangioma, osteoma, karsinoma sel skuamosa, melanoma dan angiosarkoma.
Sedangkan massa sebagai akibat suatu proses infalamasi, dapat ditemukan pada
kasus sarkoidosis, sindroma Wagener. Pada anak-anak harus difikirkan suatu
benda asing di kavum nasi, yang pada beberapa kasus memiliki tampilan klinis
menyerupai hemangioma. Untuk daerah kepala dan leher,hemangioma merupakan
tumor jinak pembuluh darah daerah yang paling sering muncul. 60% tumor ini
berkembang di regio kepala dan leher.30% hemangioma sudah terlihat saatlahir.
Lebih 70% mengalami regresi pada usia 7 tahun.11
Pada umumnya hemangioma ini terjadi pada bagian-bagian tubuh yang
mudah terkena trauma, seperti tangan dan kaki, walaupun ada juga yang
menemukan terjadi di ginggiva.Faktor hormonal diduga juga berperan. Hal ini
terlihat pada granuloma gravidaruum.11
Meskipun jarang, hemangioma intranasal atau sinus paranasal dapat
menjadi masalah yang serius.Pasien datang dengan keluhan hidung berdarah atau
epistaksis yang berulang.Epistaksis dan hidung tersumbat merupakan gejala
utama pada pasien hemangioma intranasal. Stamataki (2008), telah melaporkan
kasus hemangioma intranasal dengan gejala klinis yang lebih berat seperti
terjadinya penekanan terhadap rongga hidung dan sinus paranasal oleh massa
hemangioma, serta mengganggu fungsi saraf kranialis. Penatalaksanaan
hemangioma masih merupakan hal yang kontroversi.Pendekatan eksternal mulai
ditinggalkan dan beralih ke pendekatan dengan menggunakan endoskopi. Satu
dekade terakhir, pendekatan endoskopi telah banyak terbukti sukses mengangkat
tumor jinak seperti inverted papiloma, lesi pembuluh darah, tumor fibroosseus,
pleomorfik adenoma, glioma dan skwanoma.11 Pada beberapa kasus, teknik
operasi ini, dapat mengangkat tumor secara penuh, angka morbiditas yang rendah,

20

angka perawatan di RS yang lebih singkat, kehilangan darah yang lebih sedikit,
serta visualisasi yang lebih baik.11
2.8.1.

Gejala Klinis Hemangioma Intranasal

Epistaksis yang berulang dan hidung tersumbat merupakan gejala klinis


paling sering dari

hemangioma intranasal. Dikutip dari Nedev, epistaksis

unilateral merupakan keluhan terbanyak yaitu sebesar 93% dan sumbatan hidung
sebanyak 35%. Pada pasien ini hidung sering berdarah
terjadi setelah 3 bulan terakhir. Perkembangan hemangioma, walaupun jinak
sering bersifat progresif sehingga menyebabkan perdarahan yang berulang.11
2.9. Pemeriksaan
a

Rhinoskopi anterior dan Nasoendoskopi

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior dan nasoendoskopi hidung biasanya


didapatkan cavum nasi sempit, Biasanya tampak massa di daerah sepertiga
posterior kavum nasi. Massa berbenjol-benjol, melekat ke arah dinding lateral
hidung, berwarna kemerahan dan mudah berdarah.13

Gambar 11. Gambaran naso-endoskopi hemangioma intranasal di kavum nasi sinistra


preoperatif.Dikutip dari Pasquini E.13

b. CT Scan
Penggunaan

CT

scan

dalam

membantu

menegakkan

diagnosis

hemangioma intranasal. Tidak hanya membantu mengidentifikasi bagian awal


atau asal dari hemangioma, perluasantumor, tapi juga digunakan sebagai alat
kontrol prognosis atau mendeteksi rekurensi.Permintaan scanCT.9

21

untuk hemangioma di kavum nasiadalah potongan koronal aksial denganketebalan


irisan 2-3 mm. Menurut Leedkk, hal penting yang harus dinilai padaCT scan
hemangioma intranasal iniadalah apakah sudah ada terjadi erosi tulang.9

Gambar 12. CT scan sinus paranasal potongan aksial.Dikutip dari Pasquini E.13

Gambar 13. CT scan sinus paranasal potongan koronal.Dikutip dari Pasquini E.13

c. Histo PA
Pada pemeriksaan histo PA biasanya pada hasil pemeriksaan laboratorium
PA dapatkan jaringan yang mengalami perdarahan, proliferasi sel-sel endotel
dengan rongga-rongga berisi eritrosit.Tampak pula jaringan lemak, jaringan ikat,
epitel transisional, kelenjar- kelenjar dan serbukan limfosit. Diagnosis hemangio
endotelioma dengan radang kronik (gambar 2).7

22

Gambar 14. Gambaran mikroskopis hemangio endotelioma dengan radang kronis.H&E 40x10.Dikutip
dari Pasquini E.13

2.10. Penatalaksanaan Hemangioma


Penatalaksanaan hemangioma secara umum ada 2 cara, yaitu :
a. Cara Konservatif
Pada

perjalanan

alamiahnya

lesi

hemangioma

akan

mengalami

pembesaran dalam bulan-bulan pertama, kemudian mencapai pembesaran


maksimum dan sesudah itu terjadi regresi spontan sekitar umur 12 bulan, lesi
terus mengadakan regresi sampai umur 5 tahun. Hemangioma superfisial atau
hemangioma kapiler sering tidak diterapi karena hemangioma jenis ini bila
dibiarkan akan hilang dengan sendirinya dan kulit terlihat normal. Cara
konservatif memanfaatkan proses alamiah dari hemangioma tersebut. Dilakukan
observasi untuk melihat hemangioma mengalami pembesaran dalam bulan-bulan
pertama, kemudian mencapai besar maksimum dan ber-regresi sampai umur 5
tahun.Hemangioma buah arbei sebaiknya dibiarkan mengalami regresi spontan.
Jadi walaupun besar, mencolok, dan tampak menakutkan, jenis ini tidak
memerlukan tindakan selain pemasangan pembalut elastis dengan sedikit
penekanan secara terus-menerus. Tindakan ini membantu mempercepat proses
regresi.19
b. Cara Aktif
Penatalaksanaan secara aktif dilakukan dengan pembedahan, terapi
kortikosteroid, atau radiasi. Perawatan dengan tindakan bedah beberapa
diantaranya adalah eksisi, bedah krio dan laser. Pembedahan biasanya
diindikasikan pada hemangioma yang tidak mengalami regresi spontan selama
23

lebih dari 9 tahun, terdapat tanda-tanda pertumbuhan yang terlalu cepat, misalnya
dalam beberapa minggu lesi menjadi 3-4 kali lebih besar dan pada hemangioma
raksasa dengan trombositopenia.19
Hemangioma yang memerlukan terapi secara aktif, antara lain adalah
hemangioma yang tumbuh pada organ vital, seperti pada mata, telinga, dan
tenggorokan; hemangioma yang mengalami perdarahan; hemangioma yang
mengalami ulserasi; hemangioma yang mengalami infeksi; hemangioma yang
mengalami pertumbuhan cepat dan menimbulkan deformitas (kelainan) jaringan.
16

Tindakan eksisi jarang dilakukan karena hemangioma cenderung


mengalami perdarahan hebat. Untuk mengurangi perdarahan, eksisi dilakukan
dengan cara dikombinasikan dengan skleroterapi. Teknik lainnya adalah dengan
bedah krio. Prinsip kerja dari bedah krio yaitu menyebabkan nekrosis dari sel-sel
yang diakibatkan oleh pembekuan dan melunaknya sel-sel. Metode ini
diperkenalkan pada tahun 1940-an dengan menggunakan nitrogen cair yang
diaplikasikan dengan kapas. Lalu pada tahun 1961, Copper memperkenalkan
sistem tertutup dengan menyemprotkan cairan nitrogen. Penggunaan laser bisa
juga digunakan sebagai terapi hemangioma, tetapi biaya perawatannya relatif
mahal.16
Penatalaksanaan hemangioma secara aktif, antara lain :
1. Pembedahan
Indikasi operasi eksisi pada hemangioma adalah involusi inkomplet. Pengaruh
kosmetik pada wajah, Hemangioma yang berlokasi pada region periorbita, hidung,
mulut, saluran nafas bagian atas, kanal telinga, dan hemangioma yang mengancam
jiwa anak. Hemangioma yang terlokalisir jelas atau hemangioma tipe pedunkular,
terutama

yang

mengalami

ulserasi

dan

perdarahan

berulang,

dapat

dipertimbangkan untuk dilakukan eksisi pada masa bayi. Perdarahan selama eksisi
biasanya dapat di kontrol dengan kauterisasi. Debulking hemangioma pada
kelopak mata atas diperlukan bila hemangioma menyebabkan astigmat dan tak
berespon terhadap pemberian terapi obat. Eksisi dengan laser CO2 dapat
membuka jalan napas yang megalami obstruksi oleh karena hemangioma

24

subglottis. Pada hemangioma intranasal prosedur dengan pendekatan Functional


Endoscopy Sinus Surgery (FESS) dapat dilakukan untuk menganggkat masa
intranasalis.19
Indikasi :
1) Terdapat tanda-tanda pertumbuhan hemangioma
yang terlalu cepat
2) Hemangioma raksasa dengan trombositopenia.
3) Tidak ada regresi spontan-spontan, misalnya tidak
terjadi pengecilan hemangioma sesudah 6-7 tahun.
Lesi yang terletak pada wajah, leher, tangan atau vulva yang tumbuh cepat,
mungkin memerlukan eksisi lokal untuk mengendalikannya.19
2. Kortikosteroid
a. Kortikosteroid lokal
Kutaneus hemangioma dengan batas yang jelas yang terletak di ujung hidung,
pipi, bibir, kelopak mata dapat di terapi dengan injeksi kortikosteroid intralesi.
Triamcinolone (25mg/cc) di suntikan secara berlahan dengan tekanan rendah pada
lesi (Syringe 3 cc, jarum no 25). Dosis setiap kali pemberian tidak boleh melebihi
3-5 mg/kgBB. Biasanya dibutuhkan 3 sampai 5 injeksi diperlukan.Dengan
interval pemberian 6 8 minggu. Respon terapi local injeksi sama dengan
sistemik terapi.10
b. Kortikosteroid sistemik
Kortikosteroid sistemik masih merupakan fist-line terapi untuk hemangioma yang
besar, destruktif, atau mengancam jiwa. Prednison atau prednisolone oral dosis 2
mg/kgBB/hari diberikan pagi hari selama 4 6 minggu.Selanjutnya dilakukan
tapering dosis selam beberapa bulan. Hemangioma yang sensitif akan
memperlihatkan respon terapi pada beberapa hari pemberian kortikosteroid. Pada
kondisi akut, misalnya pada sumbatan airway atau gangguan visual karena
hemangioma, diberikan dosis yang setara berupa injeksi intravena. Terapi ini akan
memberikan respon yang cepat pada hemangioma yang sensitif.10
Dengan penggunaan kortikosteroid oral, intravena, atau intralesi,
30%hemangioma memberikan regresi yang cepat, 40% repon lambat, dan 30%
25

tidakberespon sama sekali. Jika tidak ada respon yang berupa memudarnya
warna,menjadi lembut, atau berkurangnya pertumbuhan maka terapi harus
dihentikan.Jika respon terapi tampak, maka dosis dan durasi pemberian
kortikosteroiddipertahankan sesuai dengan lokasi dan maturitas hemangioma.
Pertumbuhanbiasanya akan kembali tampak bila tapering dosis dilakukan secara
cepat.Pemberian kortikosteroid dilanjutkan sampai pasien usia 8 10 bulan.
Pemberianterapi dua hari sekali akan menurunkan kejadian komplikasi berupa
anoreksia,penurunan

berat

badan,

Gangguan

pertumbuhan,

dan

facies

cushingoid.Pemberian imunisasi polio, measles, mumps, rubella, dan varicella


sebaiknyaditunda selama terapi.10
Kriteria pengobatan dengan kortikosteroid ialah :

Apabila melibatkan salah satu struktur yang vital.

Tumbuh dengan cepat dan mengadakan destruksi kosmetik.

Secara mekanik mengadakan obstruksi salah satu orifisium.

Adanya banyak perdarahan dengan atau tanpa trombositopenia.

Menyebabkan dekompensasio kardiovaskular.


Penggunaan kortikosteroid peroral dalam waktu yang lama dapat meningkatkan
infeksi sistemik, tekanan darah, diabetes, iritasi lambung, serta pertumbuhan
terhambat.10
3. Radiasi
Pengobatan dengan radiasi dewasa ini sudah banyak ditinggalkan karena
berakibat kurang baik pada tulang, juga menimbulkan komplikasi berupa
keganasan yang terjadi pada jangka waktu lama dan dapat menimbulkan fibrosis
pada kulit yang sehat.Jenis flameus ditanggulangi dengan eksisi, kalau perlu
ditambah dengan cangkok kulit. Dapat juga dilakukan perajahan (tatoasi) untuk
menyamarkan warna. Penanggulan dengan laser Argon umumnya cukup
memuaskan.13
Untuk hemangioma kavernosum, satu-satunya cara terapi ialah ekstripasi.
Pada jenis yang luas dapat dibantu dengan panduan angiografi. Embolisasi
membantu memperkecil tumor untuk memudahkan tindakan bedah. Kadang

26

infiltrasi menyusup jauh ke dalam sehingga diperlukan pembedahan luas.


Kelainan ini dapat kambuh dari sisa hemangioma yang sukar dicapai pada
pembedahan. Di daerah leher, hemagioma biasanya berjenis kavernosa yang
merupakan benjolan lunak yang mengempis bila ditekan dan melembung saat
dilepaskan lagi. Tumor ini ditangani dengan ektripasi. Bila besar, perlu perispan
berupan arteriografi atau flebografi.13
4. Terapi Laser
Terapi laser cukup popular untuk penaganan hemangioma yang letaknya
superfisial. Beberapa peneliti mengatakan bahwa fotokoagulasi, bila diberikan
seawal mungkin pada hemangioma, akan mencegah penyebaran atau pembesaran
hemangioma, dan timbulnya komplikasi.14
Flashlamp pulsed dye laser (585 nm) Memberikan hasil yang baik untuk
terapi hemangioma superficial maupun profunda, juga hemangioma dengan
ulserasi.

Kemungkinan

laser

ini

menyebabkan

fotothermolisis

yang

mengakibatkan berhentinya perkembangan hemangioma dan mempercepat


regresi.Laser ini menembus kulit sampai ketebalan 0.75 1 cm.Tindakan ini akan
memudarkan warna hemangioma. Sampai saat ini, belum ada bukti pemberian
laser berulang akan menghancurkan sebgian besar lesi atau menpercepat fase
involusi.14,3
2.10.1 Penatalaksanaan Hemangioma (Intranasal)
Jika pada hemangioma wajah atau leher biasanya pendekatan awal yang
dilakukan adalah dengan konservatif yaitu dengan hanya mengobservasi
hemangioma yang nanti akan regresi dengan sendirinya, namun pada kasus
hemangioma intranasalis pendekatan tersebut tidak dapat dilakukan karena akan
mengganggu jalan nafas. Oleh sebab itu pendekatan aktif dengan prosedur
operasi pengangkatan massa tumor kavum nasi dengan pendekatan endoskopi dan
rinosinusitis dengan pendekatan Functional Endoscopy Sinus Surgery (FESS)
biasanya menjadi pilihan. Namun pada pasien yang menolak FESS tindakan
pengangkatan tumor tanpa FESS juga bisa menjadi pilihan. 14 Sehari sebelum
dilakukan operasi, informed consent tindakan operasi.Pasien diberikan antibiotika
seftriakson injeksi 1x 1 gr intravena.Sebelumnya dilakukan tes kulit.
27

Jugadiberikan vitamin K, vitamin C 1x 1 ampul intravena dan deksametason


injeksi 3x 5 mg iv. Pasien dipuasakan 6-8 jam sebelum operasi.Dipersiapkan
darah Packet Red Cell 1 kantong (250 cc). Pasien juga harus dikonsulkan ke
bagian Anestesiologi.14,3
2.10.2. Tindakan Pengangkatan Masa Tumor Hemangioma Intranasal
Pasien tidur terlentang di atas meja operasi dalam narkose.Dipasang oral
packing. Dilakukan pemasangan tampon lidokain dan adrenalin 4 : 1 selama 10
menit. Evaluasi dengan menggunakan endoskop, pada kavum nasi dextra tampak
lapang, kompleks osteomeatal tampak terbuka, cairan hidung atau pus tidak ada. 15
Kavum nasi sinistra lapang,pada sepertiga posterior tampak massa tumor
berwarna kemerahan, licin dan berbenjol-benjol, mudah berdarah. Dengan
menggunakan jarum suntik 5 cc, dilakukan infiltrasi dengan adrenalin 1:200.000
pada dasar mukosa KNS bagian posterior, sampai mukosa tampak pucat.
Dilanjutkan dengan panduan endoskop, dilakukan insisi menggunakan pisau sabit
(House sickle knife 6.0x1,5mm), pada pinggir tumor secara melingkar. Insisi
dilakukan sampai ke dasar tulang. Pinggir mukosa tumor bagian anterior yang
melekat ke dinding lateral, dijepit dengan Blakeslay forcep, diputar searah jarum
jam, sampai mukosa dan tumor terlepas.15 Sisa-sisa pinggir mukosa tempat
perlengketan dibersihkan dan dikuret dengan curretage sampai dasar tulang
terpapar. Pendarahan diatasi. Dipasang tampon anterior 0-1. Oral packing
dibuka.Operasi selesai. Jaringan atau massa tumor diperiksa di Laboratorium
Patologi Anatomi (PA).20,3
Pasca operasi pasien dirawat di ruang observasi dengan diberikan terapi
seftriakson injeksi 2x 1 gram iv, deksametason injeksi 3x 5 mg iv, ranitidin injeksi
2x 100 mg iv, tramadol 100 mg dalam 1 kolf Ringer Lactat per 8 jam (diberikan 1
hari saja, selanjutnya analgetik diganti dengan asam mefenamat 3x 500 mg po.
Tamponanterior hidung dibuka pada hari keempat.15
2.11. Komplikasi Hemangioma
a. Perdarahan/ Epistaksis

28

Komplikasi ini paling sering terjadi dibandingkan dengan komplikasi lainnya.


Penyebabnya ialah trauma dari luar atau ruptur spontan dinding pembuluh darah
karena tipisnya kulit di atas permukaan hemangioma, sedangkan pembuluh darah
di bawahnya terus tumbuh.4
b. Ulkus
Ulkus menimbulkan rasa nyeri dan meningkatkan resiko infeksi, perdarahan, dan
sikatrik. Ulkus merupakan hasil dari nekrosis. Ulkus dapat juga terjadi akibat
ruptur. Hemangioma kavernosa yang besar dapat diikuti dengan ulserasi dan
infeksi sekunder.4
c. Trombositopenia
Jarang terjadi, biasanya pada hemangioma yang berukuran besar. Dahulu dikira
bahwa trombositopenia disebabkan oleh limpa yang hiperaktif. Ternyata
kemudian bahwa dalam jaringan hemangioma terdapat pengumpulan trombosit
yang mengalami sekuesterisasi.5
d. Obstruksi jalan nafas
Jika hemangioma intranasal terus dibiarkan membesar seperti kasus timbulnya
masa di intranasal maka akan dapat menimbulkan obstruksi dari jalan nafas pada
cavum nasi.5
Pada kasus hemangioma intranasal yang berat, telah melaporkan
kasushemangioma intranasal dengan gejalaklinis seperti terjadinyapenekanan
terhadap rongga hidung dansinus paranasal oleh massahemangioma, serta
mengganggu fungsisaraf kranialis.4

BAB III
RINGKASAN

29

1. Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os


internum disebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan
rongga hidung dari nasofaring.
2. Hemangioma adalah proliferasi dari pembuluh darah yang tidak normal
dan dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah .
3. Adanya massa intranasal harus dibedakan sebagai suatu massa tumor atau
proses inflamasi, tumor intranasal seperti papiloma intranasal, osteoma,
karsinoma sel skuamosa, melanoma dan hemangioma. Untuk daerah
kepala dan leher,hemangioma merupakan tumor jinakpembuluh arah
daerah yang palingsering muncul. 60% tumor iniberkembang di regio
kepala dan leher.30% hemangioma sudah terlihat saatlahir. Lebih 70%
mengalami regresi pada usia7 tahun.
4. Epistaksis yang berulang dan hidung tersumbat merupakan gejala klinis
paling sering dari hemangioma intranasal.
5. Terdapat berbagai macam penatalaksanaan pada hemangioma, mulai dari
terapi medikamentosa, radioterapi dan terapi operasi. Namun untuk
hemangioma pada intranasal tindakan yang dianjurkan adalah pembedahan
dengan teknik FESS

DAFTAR PUSTAKA

30

1. Ballenger JJ. Hidung dan sinus paranasal, aplikasi klinis anatomi dan
fisiologi hidung dan sinusparanasal. Dalam : Penyakit Telinga Hidung dan
Tenggorok dan Leher. Edisi 13.Jakarta. Binarupa Aksara;1994; hal 1-25.
2. Brunicardi, Charles F. Plastic and Reconstructive Surgery. In :Schwartzs Prin
ciples of Surgery. 9th edition. The Mc Graw-HillCompanies ; USA. 2010.
3. Galiano, Robert D, Gurtner, Geoffrey C. Vascular Anomalies. In :PracticalPla
stic Surgery. Landes Bioscience ; Texas. 2007. p139-142.20
4. Hamzah, M. 1999 Hemangioma, dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin,
Balai Penerbit FK UI,Edisi Ketiga, Jakarta, 220-22.
5. Katz, D. A., & Damron, T. August 1, 2002 Hemangioma, Available
at :http://www.emedicine.com/orthoped/topic499. htm. Accessed at 27
september 2015
6. Karakus MF, Ozcan KM, Bilal N, Dere H, Erekul S. Pediatric Lobular
Capillary HemangiomaAccompanied with a Foreign Body in the Nasal
Cavity. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2007; 2: 231-4.
7. Lund VJ. Anatomy of the nose and paranasal sinuses. In : Gleeson (Ed).
Scott-Brownss Otolaryngology. 6thed. London : Butterworth, 1997: p.1/5/130
8. lee, Nina J, Shapiro, Nina L. Vascular Malformation adHemangiomas.

In

Handbook of Plastic Surgery. Marcel


9. Miller FR, Dagostino MA, Schlack K. Lobular Capillary Hemangioma of
Nasal Cavity. Otolaryngol Head Neck Surg May 1999; 120: 783-4.
10. Mulliken, John B. Vascular Anomalies. In : Grabb and Smiths
PlasticSurgery. 6thedition. Lipincott William

Wilkins ; Philadelphia

2007.p191- 5, 197-8
11. Nair LCS, Bahal MA, Bhadauria CRS. Lobular Capillary Hemangioma of
Nasal Cavity. MJAFI 2008; 64: 270-1.
12. Nedev P. Lobular Capillary Haemangioma of the Nasal Cavity in Children.
Trakia Journal ofScience 2008; 6(1):63-7.
13. Pasquini E, Sciarretta V, Frank G, Cantaroni C, Modugno GC, Mazzatenta D
et al. EndoscopicSixth ed London: Butterworth, 1997: p.4/1/1-8
14. Pera et all, Treatment of Benign Tumors of the Nose and Paranasal Sinuses.
Otolaryngol Head Neck Surg 2004; 131: 180-6.

31

15. Sarmento KS. Endoscopic Resection of a Sinonasal Cavernous Hemangioma.


2004. Dekker ; New York. 2006. p469-472.
16. Simic R, Vlahovic A, Subarevic V. Treatment of Nasal Hemangiomas. Int J
Pediatr Otorhinolaryngol. 2009; 73: 1402-6
17. Soetjipto D., Wardani RS.2007. Hidung. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Kesehatan

Telinga

HidungTenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam.

Jakarta : FK UI, hal : 118-122.


18. Soepardi EA, et al. Buku ajar ilmu kesehatan : telinga hidung tenggorok
kepala&leher. 6thed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2007
19. Sjamsuhidajat, dkk. Kelainan Vaskular. Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah.Edisi
ke-3. EGC : Jakarta. 2010. Hal. 409-411
20. Stamataki S, Francis HW, Holliday M, McCarthy E. Histological Features of
Osteofibrous Hemangioma of the Maxillofacial and Skull Base Regions.
Otolaryngol Head Neck Surg 2008; 138: 587-93.
21. Yilmaz AS, Naclerio RM. Anatomy and Physiology of the UpperAirway.
Available at: http://pats.atsjournals.org/content/8/1/31.full.pdf+html.Accessed
on: 05/10/2015

32