Anda di halaman 1dari 127

ETIOLOGI MALOKLUSI

Bagian Ortodonti
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Padjadjaran
Bandung

ETIOLOGI MALOKLUSI
Maloklusi bukan suatu penyakit atau
kondisi patologis tetapi
merupakan suatu penyimpangan
proses tumbuh kembang yang
mengakibatkan terjadinya
hubungan yang kurang harmonis
antara gigi, rahang, wajah atau
secara keseluruhan

ETIOLOGI MALOKLUSI
Maloklusi dapat disebabkan oleh satu
atau berbagai penyebab yang
mengakibatkan terjadinya gangguan
pertumbuhan sulit untuk
menentukan faktor2 penyebab yang
spesifik

ETIOLOGI MALOKLUSI
I. Penyebab - penyebab maloklusi khusus
II. Pengaruh genetik
III. Pengaruh lingkungan
Proffit (1993)

I. Penyebab-penyebab maloklusi
khusus
1. Gangguan pertumbuhan pada masa embrio
2. Gangguan pertumbuhan skeletal
3. Disfungsi otot
4. Akromegali dan hipertropi hemimandibular
5. Gangguan perkembangan gigi
6. Improper guidance of eruption
7. Trauma gigi

II. Pengaruh genetik / herediter


III. Pengaruh lingkungan
1) Teori keseimbangan dan perkembangan
oklusi gigi
2) Pengaruh fungsional pada perkembangan
dentofasial

Etiologi maloklusi juga dapat


dibagi menjadi:
I. Etiologi Maloklusi Prenatal
1. Faktor genetik/herediter
2. Faktor kongenital
II. Etiologi Maloklusi Postnatal
1. Faktor intrinsik
2. Faktor ekstrinsik
3. Faktor sistemik/penyakit

Etiologi Maloklusi Prenatal


1. Faktor Genetik/Herediter
a) Disproporsi antara ukuran gigi dengan
rahang: crowding dan diastema.
b) Disproporsi ukuran rahang atas
dengan rahang bawah: kelas II skeletal, kelas III skeletal, protrusi bimaksiler, hipoplasia mandibula / maksila

1. Faktor genetik/ herediter


Gigi berjejal (Crowding)
Merupakan kasus maloklulsi yang paling
banyak dijumpai

1. Faktor genetik/ herediter


Gigi berjejal (Crowding)
Terjadi akibat ketidak sesuaian antara ukuran
lengkung rahang dengan ukuran mesio-distal
gigi-gigi ukuran mesio-distal gigi lebih besar
dari ukuran lengkung rahangnya
Dapat pula terjadi akibat penurunan fungsi
rahang tumbuh kembang rahang kurang
tidak dapat menampung semua gigi-gigi

Spacing/ Diastema
Maloklusi akibat ketidak sesuaian
antara lengkung gigi dengan ukuran
mesio-distal gigi-gigi ukuran mesiodistal gigi-gigi lebih kecil dari ukuran
lengkung rahangnya.

b. Disproporsi ukuran rahang


atas dengan rahang bawah
- Maloklusi skeletal kelas II
- Maloklusi skeletal kelas III
- Hipoplasia maksila/mandibula

b. DISPROPORSI UKURAN RAHANG


ATAS DENGAN RAHANG BAWAH
- Kelas II skeletal dapat disebab kan oleh :
Maksila protrusi, mandibula normal
Maksila normal, mandibula retrusi
Maksila protrusi, mandibula retrusi

Disproporsi ukuran rahang atas


dengan rahang bawah
- Maloklusi skeletal kelas III dapat
disebabkan oleh:
Maksila normal, mandibula protrusi
Maksila retrusi, mandibula normal
Maksila retrusi, mandibula protrusi

Hipoplasia maksila/mandibula
Maksila atau mandibula tidak
berkembang dengan sempurna
sehingga ukuran rahang relatif lebih
kecil dari normal maksila atau
mandibula mengalami hipoplasi

Hipoplasia maksila pada Sindrom


Crouzons

Pasien usia 6 tahun


Exophthalmus
Hidung lebar
Bibir rahang bawah protrusi
Terjadi osifikasi prematur sutura kranial
Malformasi tulang orbita
Hipoplasia maksila hubungan skeletal
kelas III

Hipoplasi maksila pada fetal


alkohol embryopathy
Pasien usia 13 tahun
Hipoplasia wajah bagian tengah maksila
retrusi menyebabkan prognatisme mandibula
yang parah
Ptosis alis mata
Hidung lebar
Pasien pendek
Penyebab kelainan ini gangguan chondrogenesisa
akibat alcohol embryopathy

Hipoplasia mandibula
Anak usia 3 tahun
Hipoplasi mandibula
menyebabkan
retrognati
mandibula yang parah
Bibir bawah terletak dibelakang
gigi insisif rahang atas
Telinga luar malformasi
Morfologi jaringan lunak
menyebabkan penambahan
overjet yang progresif

Median mandibular cleft


Anak laki-laki usia 6 th
Retrusi mandibula parah tanpa dagu
akibat congenital mandibular dysplasia
Pada ro.foto tampak agenesi gigi2
anterior rahang bawah

Mandibular Cleft

Gambaran Ro. Foto panoramik


pada mandibular cleft

2. Faktor kongenital
a. Kondisi embrio/fetus:
1) bahan teratogen
2) intra uterin molding
3) gigi hilang (missing teeth congenitally)
4) malformasi gigi
5) gigi supernumerer
6) celah bibir dan palatum
b. Kondisi Ibu
1) penyakit
2) malnutrisi

1) Bahan Teratogen
Adalah bahan2 kimia atau bahan2 lain
yang dapat menyebabkan kelainan/defek
embriologis pada saat pertumbuhan dan
perkembangn embrio tertentu
Bahan teratogen dalam dosis rendah
menyebabkan defek spesifik dan pada
dosis besar kematian

Contoh bahan teratogen dan akibat yang


terjadi:
Aminopterin anencephaly
Aspirin cleft lip & palate
Cigarette smoke cleft lip &palate
Dilantin cleft lip & palate
6-mercaptopurine cleft lip &palate
Valium cleft lip & palate
Ethyl alcohol central mid face deficiency
X-ray radiation microcephaly
Cytomegalovirus microcephaly, hydrocephaly,
micropthalmia

2) Intra uterin molding


Suatu keadaan yang menunjukkan perubahan
perkembangan bagian tubuh akibat adanya tekanan
selama pertumbuhan fetus intra uterin
Contoh: tungkai foetus menekan bagian tubuh tertentu
gangguan pertumbuhan di daerah tersebut
Tangan foetus melintang pada wajah/ perkembangan
maksila terhambat tetapi gangguan perkembangan
dapat mengalami perbaikan setelah anak lahir
akibat jangka panjang tidak terjadi

3) Missing teeth congenitally


Terjadi akibat gangguan pada tahap inisiasi
dan proliferasi pembentukan gigi
Macam-macamnya:
Anodontia tidak ada gigi

3) Missing teeth congenitally


Terjadi akibat gangguan pada tahap inisiasi
dan proliferasi pembentukan gigi
Macam-macamnya:
Oligodontia beberapa gigi hilang misalnya
gigi insisif lateral, gigi premolar pertama dan
kedua serta gigi gigi premolar kedua rahang
bawah

Hypodontia bila satu atau beberapa gigi


hilang. Gigi yang hilang adalah gigi paling
distal pada kelompoknya I.2 ; P.2 ; M.3

Hipodontia pada gigi dewasa

Complete anodontia sering dijumpai pada


suatu sindrom ectodermal displasia (suatu
kelainan perkembangan ektodermal)
penderita biasanya :
Mempunyai

rambut tipis dan jarang


Tidak mempunyai kelenjar keringat anak
merasa kepanasan

4) Malformasi gigi
Merupakan abnormalitas ukuran dan bentuk
gigi yang terjadi karena adanya gangguan
selama proses morfodiferensiasi atau
histodiferansiasi yang paling sering terjadi
I.2 dan P.2

4) Malformasi gigi
Fusi persatuan dentin dua gigi dengan 2
kamar pulpa

Malformasi gigi Fusi (penyatuan


antara gigi I.1 kiri dengan satu gigi
supernumer)

4) Malformasi gigi
Geminasi pembelahan satu benih gigi
secara tidak lengkap. Kamar pulpa hanya
satu
Malformasi gigi Geminasi ( pembelahan
benih gigi /tooth buds yang tidak lengkap
pada gigi contoh pada gigi I.1 )

Twinning pembelahan lengkap satu


benih gigi menjadi 2 buah gigi. Kamar
pulpanya ada dua

Malformasi gigi twinning (gigi supernumerer pada


regio anterior Rb yang terjadi akibat benih gigi insisif
1 kanan bawah membelah menjadi dua)

Concrescence penggabungan sel-sel


sementum dua buah gigi dari 2 tooth buds
(benih gigi)

Malformasi gigi geminasi,


twinning, fusion, concrescence

Malformasi gigi mikrodontia


dan makrodontia

Mikrodontia insisif
lateral

Makrodontia insisif
lateral

Cara menegakkan diagnosis fusi dan


geminasi
Hitung jumlah gigi di daerah tersebut, misalnya:
Bila terdapat bifurkasi pada gigi I.1 kiri
sedangkan gigi I.1 kanan dan gigi I.2 kanan ada
maka furkasi yang ada pada gigi I.1 kiri
merupakan hasil geminasi atau fusi dengan gigi
supernumerer
Bila gigi I.2 kiri ternyata tidak ada
kemungkinan persatuan benih gigi I.2 dengan
I.1

5) Gigi supernumerer
Adalah gigi berlebih yang terjadi karena
gangguan pada tahap perkembangan
inisiasi dan proliferasi gigi
Contoh gigi supernumerer:
1. mesiodens
2. gigi supernumerer I.2
3. gigi supernumerer premolar ketiga
4. gigi paramolar

Gigi mesiodens
Paling sering dijumpai
Bisa satu atau lebih
Arah erupsi ke oklusal
atau ke nasal
Letaknya diantara gigi
insisif pertama rahang
atas

Gigi supernumerer premolar

Gigi paramolar

Bentuk gigi kecil. Letaknya di bukal


atau palatinal gigi M1

Odontoma suatu struktur supernumerer


yang mengalami kalsifikasi terletak di
mahkota gigi kaninus menghalangi erupsi
gigi kaninus

Hyperodontia pada kasus


cleidocranial dysostosis

6) Celah bibir dan palatum

Celah palatum dapat menyebabkan


penyempitan maksila kecenderungan
crossbite maloklusi kelas III
Adanya celah pada palatum maka tekanan
otot pipi menyebabkan gigi-gigi disegmen
bukal lebih ke lingual
Celah bibir Yang telah di koreksi
jaringan parut gigi-gigi linguoversi_

Celah bibir dan celah langit bilateral

b. Kondisi Ibu

1) Penyakit
Terjadi pada masa kehamilan berpengaruh
pada perkembangan janin
2) Malnutrisi
Mempengaruhi pertumbuhan janin intake
kalsium dan vitamin D kurang
mempengaruhi pertumbuhan tulang dan gigi

II. Etiologi maloklusi post natal


1. Faktor Intrinsik
2. Faktok ekstrinsik
3. Faktor sistemik/penyakit

1. Faktor Intrinsik
a. gigi sulung tanggal prematur
b. persistensi gigi sulung
c. gangguan erupsi gigi tetap
d. tanggalnya gigi tetap
e. restorasi gigi tidak baik
f. frenulum labii abnormal

1. Faktor Intrinsik
a.Prematur loss gigi sulung

Prematur loss gigi sulung adalah gigi


sulung yang tanggal sebelum waktunya
dapat menyebabkan gigi sebelahnya
bergeser mengisi ruangan tempat bekas
gigi sulung tersebut

Besarnya derajat kehilangan


ruangan bergantung pada:
- proporsi ukuran gigi terhadap rahang
- usia saat gigi tanggal
- jenis gigi yang tanggal

Proporsi ukuran gigi terhadap rahang

Bila ruangan yang tersedia untuk gigi


sulung berlebih dan tidak terdapat kontak
proksimal maka resultante ke mesial
tidak ada sehingga kecenderugan
pergeseran gigi di sebelahnya ke ruangan
yang kosong tidak ada
Bila terdapat kecenderungan gigi berjejal
pengisian ruang bekas pencabutan akan
berjalan cepat atau sedikit

Usia saat gigi sulung tanggal


Semakin dini gigi sulung tanggal
semakin jauh jarak antara tanggalnya gigi
sulung dengan waktu erupsi gigi tetapnya
maka semakin besar pula kemungkinan
hilangnya ruangan

Jenis gigi yang tanggal


(1) Premature loss gigi insisif
Premature loss gigi insisif jarang
menimbulkan maloklusi kecuali pada
lengkung gigi yang mempunyai potensi gigi
berjejal

(2) Premature loss gigi kaninus

Dapat menyebabkan gigi Insisif bergeser ke


distal
Premature loss gigi kaninus sulung Rb
menyebabkan diastema pada gigi2 insisif
dan pergeseran garis median rahang
bawah ke kanan

(2) Premature loss gigi kaninus

Bila gigi kaninus tanggal sebelum gigi insisif


erupsi Dapat terjadi diastema permanen
diantara gigi insisif dan gigi kaninus
permanen erupsinya ektopik

Bila yang tanggal gigi kaninus RB


adanya tekanan otot mentalis gigi
insisif Rb. miring ke lingual

Pertukaran tempat antara gigi P dengan


gigi C akibat prematur loss gigi kaninus
sulung rahang atas

Premature loss gigi kaninus Rb


menyebabkan terjadinya deep bite

Premature loss gigi kaninus sulung Rb


menyebabkan penambahan overjet

Premature loss gigi kaninus sulung terjadi penutupan


ruang bekas gigi kaninus sulung akibat akibat
pergeseran gigi2 insisif tetap ke

(3) Premature loss gigi molar


pertama sulung

Pada rahang bawah gigi m.2 akan bergerak ke


mesial seiring dengan erupsi aktif gigi M.1 tetap

Pengurangan panjang lengkung


akibat premature loss gigi m.2 RB

(3) Premature loss gigi molar


pertama sulung

Pada rahang atas gigi m.2 bergeser ke mesial


gigi kaninus permanen menjadi ektopik

(3) Premature loss gigi molar


pertama sulung

Bila m.1 tanggal sebelum erupsi aktif gigi M.1


maka nantinya inklinasi gigi M.1 akan tetap
Bila gigi m.1 tanggal sesudah erupsi aktif gigi M.1
tetap maka inklinasi M.1 akan mesioversi

Premature loss m2

b. Persistensi gigi sulung


Dapat terjadi karena:
Benih gigi tetap lambat
Perkembangan gigi tetap lambat
Terlambatnya resorbsi akar gigi sulung
Ankilosis gigi sulung

Persistensi gigi insisif sulung paling


sering terjadi Akibatnya gigi insisif
tetap palatoversi/linguoversi

Persistensi gigi m.2 RB

c. Gangguan erupsi gigi tetap


Prematur
loss
gigi sulung oleh:
terbentuk tulang
dapat
disebabkan
diatas benih gigi tetap
Posisi akar gigi sulung
Supernumerary teeth
Tumor
Hormonal
Gusi fibrous (memadat dan menebal)
Impaksi

d. Gigi tetap tanggal pada usia dini


Dapat disebabkan oleh karies dan trauma
Akibat yang terjadi kontak dengan gigi
tetangga hilang fungsi fisiologis
terganggu pergeseran gigi maloklusi.

Manisfestasi klinis akibat gigi M.1 rahang


atas tanggal pada usia dini
Bila gigi M.1 rahang atas diekstraksi
sebelum gigi M.2 erupsi gigi M.2 akan
menempati ruang bekas gigi M.1
Bila gigi M.1 rahang atas diekstraksi
setelah gigi M.2 erupsi maka gigi M.2
akan tilting ke mesial

2. FAKTOR EKSTRINSIK
a.KEBIASAAN BURUK
(1) Kebiasaan menghisap jari/ibu jari
(2) Kebiasaan mendorong lidah/ menempatkan
lidah diantara gigi-gigi insisif pada waktu
istirahat
(3) Bernafas melalui mulut
(4) Kebiasaan menghisap/menggigit bibir
(5) Kebiasaan menggigit kuku
b.Trauma

(1) Kebiasaan menghisap ibu jari/jari lain


Menghisap jari biasa dilakukan pada anakanak
Jika kebiasaan ini berlanjut sampai periode
gigi tetap dapat menimbulkan:
Gigi insisif rahang atas protrusif dan gigi
insisif rahang bawah linguoversi
Open bite anterior
Penyempitan lengkung rahang atas

Gigi insisif R.A. protrusif,


gigi insisif R.B. linguoversi
Jumlah gigi yang
mengalami protrusi
atau linguoversi
bergantung pada
jumlah gigi yang
berkontak

Visceral swallowing (rakossi hal


87 gb 218 dan 219

Tongue posture

occlusion

Kebiasaan menghisap jari lain

Menghisap jari lain

Open bite akibat menghisap jari

Pada saat jari berada dalam mulut


mandibula R.A dan R.B terpisah
keseimbangan dalam arah vertikal berubah
ekstrusi gigi posterior openbite anterior

Penyempitan lengkung R.A akibat


menghisap jari
Terjadi gangguan keseimbangan tekanan
pipi dan lidah, mekanismenya pada
saat jari berada dalam mulut lidah akan
tertekan ke bawah tekanan lidah terhadap
permukaan palatum berkurang
sementara pada saat menghisap tekanan
pipi akan meningkat tekanan paling
besar terjadi pada sudut mulut sehingga
penyempitan lengkung rahang berbentuk V

(2) Kebiasaan mendorong lidah


(Tongue thrust)
Adalah kebiasaan menempatkan ujung lidah
diantara gigi-gigi insisif,baik pada waktu
istirahat (tongue posture) ataupun pada
waktu menelan (tongue thrust swallowing)

Tongue posture typical of visceral


swallowing

Tongue thrust swallowing


Adalah kebiasaan mendorong lidah ke
depan saat menelan merupakan
adaptasi fisiologis pada keadaan open
bite tujuannya untuk menghasilkan
penutupan (seal) di daerah anterior agar
makanan /minuman tidak keluar.

Tongue thrust swallowing

Adaptive tongue thrust

Cara penelanan

I. Tahap mengumpulkan makanan dikumpulkan


di depan lidah, posterior lidah berkontak dg palatum
lunak, bibir terbuka & gigi tidak oklusi

II. Transporting stage 1: ujung lidah bergerak


ke atas dan bagian anterior dari dorsum tertekan

Transporting stage 2 : seluruh bagian anterior lidah


bergerak ke atas, bagian sentral dorsum tertekan ke
bawah

Transporting stage 3 : palatum lunak terangkat, otot


bibir berkontak, gigi berkontak, mandibula terangkat

III. Tahap penelanan : dorsum lidah tertekan lbh


jauh lg, shg makanan bisa melewati isthmus
orofaringeal, bag lidah anterior menekan palatum
keras mendorong bolus

IV.Tahap penelanan : dorsum lidah lebih bergerak


ke atas dan belakang menekan palatum lunak
mendorong sisa bolus

Setelah proses penelanan selesai : mandibula


kembali pada posisi istirahat

Penelanan visceral (infantile) : rahang terpisah,


lidah didorong ke depan dan ditempatkan
di antara gusi

Penelanan somatic : dilakukan oleh kontraksi otot


maseter, gigi oklusi dan ujung lidah berada
di rongga mulut

Kebiasaan bernafas melalui mulut

Akibat angguan kronis pada naso respiratorius


misalnya rhinitis kronis, deviasi septum hidung,
kelenjar adenoid membesar, polip hidung.
Berhubungan dengan adanya gangguan
pertumbuhan maksila akibatnya : terjadi
penyempitan lengkung RA, palatum tinggi dan
gigi berjejal

Kurangnya pertumb maksila pada pernafasan


oronasal terjadi akibat perubahan posisi
lidah Posisi lidah mendatar pada rongga
mulut sehingga tidak dapat berperan
normal pada perkembangan maksila pada
saat posisi lidah pada dasar rongga mulut
daya2 ke maksila tidak seimbang.

Hiperaktivitas fungsional otot2 ekspresi wajah


terutama otot buksinatorius menghalangi
perkembangan maksila ke lateral

Adenoid face bernafas melalui mulut


karena kelenjar adenoid membesar

(4) Lip habits


Lip sucking
Lip-thrust
Lip insufficiency

Kebiasaan menghisap/menggigit bibir


Kebisaan menghisap bibir dapat berdiri
sendiri atau bersama-sama dengan kebiasaan
menghisap jari
Pada kebanyakan kasus kebiasaan menghisap/
menggigit bibir dilakukan pada bibir bawah,
tetapi dapat pula bibir atas.
Bibir bawah secara terus menerus diletakkan
diantara gigi Insisif rahang bawah dan rahang
atas gigi insisif rahang atas labioversi

Lip sucking /Kebiasaan menggigit bibir :


menyebabkan protrusi insisif RA dan
menghambat perkembangan tl.alveolar bawah
ke anterior

Kebiasaan menghisap/menggigit bibir


paling sering terlihat pada maloklusi
dengan overbite dan overjet yang besar
Contoh pada kasus maloklusi kelas II div.1
kebiasaan menghisap/menggigit bibir biasanya
parah
Perawatan kebiasaan ini jangan dimulai
sebelum posisi gigi insisif diperbaiki
(overbite/overjet normal) karena kebiasaan
ini akan terkoreksi dengan sendirinya tetapi
hiperaktif otot mentalis tetap ada dapat
dikoreksi dengan alat modifikasi oral screen

Lip-thrust/ kebiasaan menekan bibir :


biasanya gigi insisif menjadi linguoversi

Lip insufficiency / incompetent lips:


ketidakmampuan menutup bibir tanpa
kontraksi orbicularis oris dan otot
mentalis

Incompetent lips

(5)Kebiasaan menghisap pipi

(5) Kebiasaan menggigit kuku


Jarang telihat pada anak sebelum usia 3 4
tahun
Insidensinyai akan mencapai puncaknya
pada remaja
Kebiasaan berkaitan dengan masalah
psikologis
Dapat menimbulkan maloklusi namun
maloklusi yang ditimbulkan tidak spesifik

(6) Trauma
- Trauma pada gigi
- Trauma pada rahang

Trauma pada gigi


Dapat menyebabkan timbulnya maloklusi
melalui 3 cara:
Kerusakan benih gigi tetap karena trauma
gigi sulung
Drifting gigi tetap setelah gigi sulung tanggal
Kerusakan/trauma langsung pada gigi tetap

Akibat trauma pada gigi sulung


Bila trauma terjadi sebelum pembentukan
mahkota gigi tetap pembentukan email
terganggu kerusakan mahkota gigi tetap
Trauma terjadi sesudah pembentukan gigi tetap
kemungkinan yang terjadi:
Mahkota berpindah tempat
Pembentukan akar terhenti akar pendek
Akar bengkok
Distorsi berat gangguan posisi akar yang
cukup berat (keluar dari tulang alveolar)
ekstraksi

Bila akibat trauma terjadi intrusi


kemungkinan dapat terjadi ankilosis
Gigi yang mengalami ankilosis sulit
direposisi dengan perawatan ortodonti
untuk itu gigi yang mengalami trauma
sebaiknya segera di lakukan reposisi untuk
menghindari kemungkinan terjadinya
ankilosis

Fraktur rahang pada anak-anak


Jarang menimbulkan defisiensi
pertumbuhan mandibula
Jika kondilus patah akan terjadi
regenerasi yang cepat
Semakin dini terjadi fraktur defek yang
timbul minimal

ANKILOSIS TMJ AKIBAT TRAUMA


PADA MASA ANAK

3. Penyakit Sistemik
Penyakit pada anak-anak belum tentu
menimbulkan maloklusi pada anak2
bergantung pada:
Daya tahan tubuh
Berat ringannya penyakit
Lama penyakit yang dialami
Saat terjadinya penyakit tersebut

Contoh penyakit sistemik


a. Demam tinggi gangguan pertumbuhan
benih gigi tetap
b. Lues bentuk gigi Hutchinson/mulberry teeth
c. Gangguan metabolisme khususnya kalsium

d. Gangguan kelenjar endokrin


Kelenjar hypophyse = pituitary
Bagian yang terkena adalah lobus anterior
(1) Hiperpituitary
(2) Hipopituitary

Hiperpituitari
Bila terjadi pada anak dalam masa
pertumbuhan aktif gigantisme
Bila terjadi pada masa pertumbuhan
hampir selesai akromegali dengan ciriciri:
Dagu menonjol
Jari-jari mengalami kelainan
Diastema gigi

Akromegali

Hipopituitari
Akibat yang terjadi:
- Dwarfism/cretinism
- Erupsi terlambat
- Pembentukan gigi abnormal bentuk
akar dan mahkota tidak sempurna
- Gigi berjejal (Crowding)
- Palatum sempit dan tinggi

e. Gangguan kelenjar tiroid hormon


tiroksin
Hipotiroid dapat menyebabkan:

Dwarfism
- Hambatan metabolisme kalsium
osifikasi tulang terhambat
- Persistensi gigi sulung erupsi gigi tetap
terhambat

e. Gangguan kelenjar paratiroid


Mempengaruhi kadar kalsium dan fosfor
dalam tubuh
Bila terjadi pada minggu-minggu pertama
kehamilan gangguan pembentukan gigi
Kalsifikasi email dan akar gigi terhambat
rapuh bila terkena trauma
Resorbsi akar gigi sulung terhambat erupsi
gigi tetap terhambat

f. Perubahan kromosom yang mengenai


sistem orofasial
- cleidocranial dysostosis
- trisomi 21
- ectodermal dysplasia
- amelogenesis/ dentinogenesis
imperfecta,

Cleidocranial dysostosis hipoplasia tulang leher


& hipermobility sendi bahu
(wanita, 16 tahun semua gigi sulung, kecuali gigi
I.1 RB)

Ectodermal dysplasia, tipe hipohidrotic :


hipoplasia tl.alveolar, wajah bag tengah dan
bawah tidak berkembang, anodontia

Penyakit lokal yang menyebabkan gangguan


pertumbuhan rahang :
Penyakit nasofaringeal dan tersumbatnya
jalan napas
Infeksi telinga tengah pada bayi dengan
kerusakan TMJ
Tumor / kista
Karies dan prematur loss