Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Telinga merupakan organ tubuh yang memiliki urat syaraf yang cukup peka dan
sensitif, terlebih ketika masih kanak-kanak. Tulang serta sistem syaraf yang belum
sempurna pada masa kanak-kanak ini menyebabkan mereka mudah terkena penyakit
atauinfeksi di telinga. Padahal telinga mempunyai fungsi sangat penting dalam
kehidupanseseorang.

Fungsi

telinga

adalah

menerima

gelombang

suara

dan

menghantarkannya menjadisebuah pesan ke otak. Gelombang suara masuk ke telinga


kemudian

menembus

salurantelinga,

dan memukul

gendang telinga

sehingga

menimbulkan getaran. Getaran darigendang menyebabkan tulang kecil di telinga bergerak


dan pergerakan ini menimbulkanpengiriman gelombang suara ke telinga bagian dalam.
Menurut perkiraan WHO pada tahun 1995 terdapat 120 juta penderita gangguan
pendengaran telinga di seluruh dunia. Jumlah tersebut mengalami peningkatanyang
sangat bermakna pada tahun 2001 menjadi 250 juta orang; 222 juta diantaranyaadalah
penderita dewasa sedangkan sisanya ( 28 juta ) adalah anak berusia di bawah 15tahun.
Dari jumlah tersebut kira kira 2/3 diantaranya berada di negara berkembang. Peningkatan
jumlah penderita gangguan pendengaran telinga tengah ini kemungkinandisebabkan oleh
peningkatan insidens, identifikasi yang lebih baik atau akibatmeningkatnya usia harapan
hidup. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas berbagai jenis penyakit
gangguan pada system pendengaran (telinga).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu gangguan pendengaran?
1.2.2 Apa sajakah penyakit gangguan pendengaran, dan bagaimana perjalanan
penyakit tersebut?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui apa yang dimaksud dengan gangguan pendengaran
1.3.2 Mengidentifikasi jenis penyakit pada gangguan pendengaran
1.3.3 Mengetahui perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Gangguan Pendengaran

Menurut Khabori dan Khandekar, gangguan pendengaran menggambarkan


kehilangan pendengaran di salah satu atau kedua telinga. Tingkat penurunan gangguan
pendengaran terbagi menjadi ringan, sedang, sedang berat, berat, dan sangat berat.
Menurut World Health Organization (WHO), pengertian gangguan pendengaran
adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kehilangan pendengaran di
satu atau kedua telinga (WHO, 2010). Menurut Weber et al. (2009) gangguan
pendengaran didefinisikan sebagai pengurangan dalam kemampuan seseorang untuk
membedakan suara.
Gangguan pendengaran berbeda dengan ketulian. Gangguan pendengaran
(hearing impairment) berarti kehilangan sebagian dari kemampuan untuk mendengar dari
salah satu atau kedua telinga. Ketulian (deafness) berarti kehilangan mutlak kemampuan
mendengar dari salah satu atau kedua telinga (WHO, 2010).
2.2 Penyakit pada Indra Pendengaran
Penyakit pada telinga banyak ditemukan, seperti beberapa penelitian
menunjukan bahwa otitis media merupakan masalah paling umum terutama pada anakanak. Selain itu penyakit lain seperti Meniere, labirintitis, tuli juga banyak terjadi. Yang
termasuk Gangguan pada Telinga Tengah diantaranya :
2.2.1 OMA (Otitis Media Akut)
a. Definisi
Otitis Media Akut (OMA) adalah infeksi akut telinga tengah. (Brunner and
Sudath. 1997 :2050)
Otitis Media Akut (OMA) adalah penyakit yang disebabkan oleh serangan
mendadak dari infeksi bakteri dalam telinga bagian tengah. (Charlene
J.Reevas.2001:16)
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput
permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.
Otitis media sebenarnya adalah diagnosa yang paling sering dijumpai pada anak
anak di bawah usia 15 tahun. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis
media supuratif dan otitis media non supuratif, yang masing-masing memiliki
bentuk yang cepat dan lambat.

Otitis Media Akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh
periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999).
Yang paling sering terlihat ialah :
1) Otitis media viral akut
2) Otitis media bakterial akut
3) Otitis media nekrotik akut
Otitis Media Akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat
akut atau tiba-tiba. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang
biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi
bakteri pada nasofariong

dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme

pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung dan
bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Otitis media akut ini terjadi
akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung tadi, sumbatan atau peradangan pada
tuba eustachii merupakan faktor utama terjadinya otitis media, pada anak-anak
semakin seringnya terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi
otitis media akut juga semakin sering.
b. Etiologi
Penyebabnya adalah bakteri-bakteri saluran pernafasan bagian atas dan
bakteri piogenik seperti streptococcus haemolyticus, staphylococcus aureus,
pneumococcus,

haemophylus

influenza,

escherecia

coli,

streptococcus

anhaemolyticus, proteus vulgaris, pseudomonas aerugenosa.


Beberapa perubahan yang terjadi dalam proses terjadinya Otitis media akut

1) Stadium penyumbatan tuba eustachius, tanda yang khas pada stadium ini
adalah penarikan membran timpani pada telinga ke arah dalam akibat tekanan
negatif yang ditimbulkan oleh sumbatan
2) Stadium Hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran
timbani atau seluruh membran timpani.
3) Stadium Supurasi, bengkak yang hebat pada selaput permukaan telinga tengah
dan hancurnya sel-sel di dalam telinga tengah menyebabkan cairan yang
kental tertimbun di telinga tengah
4) Stadium Perforasi, pecahnya membrane timpani, dan keluar cairan putih
5) Stadium Resolusi, perlahan-lahan membrane timpani akan menyembuh jika
robekan tidak terlalu lebar, tetapi jika robekan lebar, stadium perforasi dapat
menetap dan berubah menjadi Otitis Media Supuratif Kronik.

c. Patofisiologi
Umumnya otitis media dari nasofaring yang kemudian mengenai telinga
tengah, kecuali pada kasus yang relatif jarang, yang mendapatkan infeksi bakteri
yang membocorkan membran timpani. Stadium awal komplikasi ini dimulai
dengan hiperemi dan edema pada mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang
kemudian lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa.
Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh terkumpulnya cairan
eksudat dan transudat dalam telinga tengah, akibatnya telinga tengah menjadi
sangat rentan terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring.
Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi bakteri akan menentukan
progresivitas penyakit.
d. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien,
pada usia anakanak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam.
Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Pada remaja atau
orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga
terasa penih. Pada bayi gejala khas Otitis Media akut adalah panas yang tinggi,
anak gelisah dan sukar tidur, diare, kejang-kejang dan sering memegang telinga
yang sakit.

e. Penatalaksanaan
Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya :
a) Stadium oklusi
Pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba eustachius, sehingga
tekanan negative di telinga tengah hilang. Pemberian obat tetes hidung :
HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis (usia di atas 12 tahun) sumber
infeksi harus diobati, antibiotika diberikan bila penyebab penyakit adalah
kuman bukan virus atau alergi
b) Stadium presupurasi
Pemberian antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika. Bila membran
timpani terlihat hiperemis difus dilakukan Miringotomi. Antibiotika yang
diajurkan golongan Penicillin diberikan Eritromisin.
c) Stadium supurasi
Pemberian antibiotika dan tindakan miringotomi jika membran timpani
masih utuh untuk menghilangkan gejala klinis dan ruptur dapat dihindari.
d) Stadium resolusi
Pemberian antibiotika dilanjutkan sampai 3 minggu jika tidak terjadi
resolusi

f. WOC OMA

Infeksi sekunder (ISPA)


Bakteri Streptococcus,
Hemophylus Influenza

Trauma, Benda Asing


Ruptur Gendang Telinga

Invasi Bakteri

Infeksi telinga tengah

Kesulitan/saki
t menelan
dan

Proses peradangan Peningkatan


Nyeri

Tekanan udara

produksi cairan

pd telinga

Akumulasi cairan

Retraksi

Resiko
pemenuhan
kebuth nutrisi

mukus dan

membran

kurang dari

Ruptur membran
timpani krn
Sekret keluar dan
berbau tidak enak
(otorrhoe)

Ggn Body Image

Hantaran suara / udara yg


diterima menurun

Tinitus
Penurunan fungsi
pendengaran
Tuli konduktif

Ggn persepsi
sensori
pendengaran

Pengobatan tdk
tuntas
Episode berulang

Kurangny
a
Informasi

Infeksi berlanjut
dpt sampai ke
telinga dalam

Kurang
pengetahuan

Tjd erosi pd kanalis


semisirkularis

Pening / vertigo
Kesimb. Tbh
menurun

Merusak tulang
krn adanya
epitel
skuamosa di
Tindakan operasi dgn
mastoidektomi

Resiko tjd injuri /


trauma

6
Nyeri
akut

Cemas

Resiko
Infeksi

2.2.2

Penyakit Meniere
a. Defenisi
Penyakit Maniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya
belum diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu
gangguan pendengaran, tinnitus dan serangan vertigo (Mansjoer,
2009)
Penyakit Meniere adalah gangguan telinga bagian dalam yang
menyebabkan pusing berat (vertigo), telinga berdenging (tinnitus),
gangguan pendengaran, dan telinga terasa penuh. Penyakit meniere
biasanya hanya mempengaruhi satu telinga. (NIDCD, 2010).
Penyakit meniere yang juga dikenal sebagai hidrops endolimfatik,
merupakan disfungsi labirintin yang menyebabkan vertigo parah,
kehilangan pendengaran sensorineural dan tinitus. (William &
Wilkins, 2011).
Dari beberapa definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa penyakit Meniere Disease adalah penyakit yang juga dikenal
sebagai hidrops endolympatik yang merupakan gangguan kronis
saluran semisirkular dan labirin telinga dalam serta mempunyai trias
gejala yang khas yaitu gangguan pendengaran, telinga berdenging
(tinitus) dan dapat menyebabkan pusing berat (vertigo).
b. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh meningkatnya volume endolimfa
pada skala media koklea atau disebut dengan hidrops endolimfe.
Peningkatan

cairan

tersebut

(penyebab

terjadinya

hidrops)

diakibatkan oleh:
1. Adanya gangguan kimia pada cairan endolimfe dan gangguan
klinik pada membran labirin. Pada beberapa penelitian diketahui
bahwa pasien dengan penyakit Meniere memiliki kantung
endolimfatik yang kecil dan memiliki daya absorpsi cairan yang
rendah sehingga dapat mengakibatkan peningkatan tekanan pada
2.
3.
4.
5.

telinga bagian dalam.


Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri
Berkurangnya tekanan osmotik di dalam kapiler
Meningkatnya tekanan osmotik ruang ekstrakapiler
Jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat, sehingga terjadi

6.
7.
8.
9.

penimbunan endolimfa
Infeksi telinga tengah
Infeksi trakus respiratorius bagian atas
Trauma kepala
Infeksi virus golongan herpesviridae

10. Herediter. Penyakit Meniere bersifat idiopatik, berikut akan


dijelaskan mengenai penyebab yang dianggap dapat mencetuskan
penyakit Meniere yaitu:
a. Virus Herves (HSV)
Herves virus banyak ditemukan pada pasien meniere.
Terdapat laporanbahwa 12 dari 16 pasien meniere terdapat
DNA virus herpes simplek pada sakus endolimfatikusnya.
b. Herediter
Pada penelitian didapatkan 1 dari 3 orang pasien
mempunyai orang tua yang menderita penyakit meniere juga.
Predisposisi

herediter

dianggap

mempunyai

hubungan

dengan kelainan anatomis saluran endolimfatikus atau


kelainan dalam sistem imun nya.
c.

Alergi
Pada pasien meniere di dapatkan bahwa 30% diantaranya
mempunyai alergi terhadap makanan. Hubungan antara
penyakit meniere dengan alergi makanan adalah sakus
endolimfatikus mungkin menjadi organ target dari mediator
yang dilepaskan pada saat tubuh mengadakan reaksi terhadap
makanan tertentu. Kompleks antigenantibody mungkin
mengganggu

dari

kemampuan

filtrasi

dari

sakus

endolimfatikus. Ada hubungan antara alergi dan infeksi virus


yang menyebabkan hidrops dari sakus endolimfatikus.
d. Trauma Kepala
Jaringan parut akibat trauma pada telinga dalam
dianggap dapat
mengganggu aliran

hidrodinamik

dari

endolimfatikus.

Anggapan ini diperkuat dengan adanya pasien menieren yang


mempunyai riwayat fraktur tulang temporal.
e. Autoimun
Yang biasanya menyebabkan gejala meniere yang
bersifat bilateral. Terdapat deposisi IgG pada kantung
eendolimfatik,

peningkatan

kompleks

IgM,

adanya

komplemen C1q dan penurunan kadar kompleks IgA pada


serum.
c. Patofisiologi

Penyakit Meniere disebabkan oleh penumpukan cairan dalam


kompartemen dari telinga bagian dalam, yang disebut labirin. labirin
berisi organ keseimbangan (saluran setengah lingkaran dan organ
otolithic) dan pendengaran (koklea). Hal ini memiliki dua bagian:
labirin tulang dan labirin membran. Labirin membran diisi dengan
cairan yang disebut endolymph, di organ keseimbangan, merangsang
reseptor sebagai benda bergerak. Reseptor kemudian mengirimkan
sinyal ke otak tentang posisi tubuh dan gerakan. Pada koklea, cairan
yang dikompresi dalam merespon suara getaran, yang merangsang
sel-sel indera yang mengirimkan sinyal ke otak. Pada penyakit
Meniere, penumpukan endolymph di labirin mengganggu sinyal
keseimbangan dan normal pendengaran antara telinga bagian dalam
dan otak. Kelainan ini menyebabkan gejala vertigo dan lain dari
penyakit Meniere.
Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana
terjadi ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang
disebabkan oleh malapsorbsi dalam sakus endolimfatikus. Namun,
ada bukti menunjukkan bahwa banyak orang yang menderita
penyakit Meniere mengalami sumbatan pada duktus endolimfatikus.
Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops endolimfatikus, yang
merupakan pelebaran ruang endolimfatikus. Baik peningkatan
tekanan dalam sistem ataupun ruptur membran telinga dalam dapat
terjadi dan menimbulkan gejala Meniere.

WOC MENIERE
Malabsorbsi dalam sukus endolimfetikus

Penumpukan cairan pada


endolimfe
Pembengkakan rongga
endolimfetikus

Sistem Keseimbangan Tubuh (vestibuler


terganggu

Vertigo (pusing
Hebat)

Tinnitus (bising)

Dx: Ansietas b/d


perubahan status

Rupture Mebran
Reisner

Mual Muntah

Resiko
Cedera

Pola Tidur
Terganggu

Gangguan
Pendengaran

Ketulian
Dx : Resiko Nutrisi
Kurang dari
Kebutuhan b/d
Intake yang tidak
adekuat

Dx Resiko Tinggi
Cedera b/d
Vertigo

Dx : Gangguan
10
Pola Tidur b/d
Vertigo

Gangguan Persepsi

2.2.3

Tuli Komduksi
a. Definisi
Tuli Konduktif atau Conductive Hearing Loss (CHL) adalah
jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah.
Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata Dx:
susu sehingga
Gangguan persepsi
penderita mendengarnya ss. Biasanya gangguan ini sensori
reversible
auditorius b/d
karena kelainannya terdapat di telinga luar dan prosespenyakit
telinga
tengah(Purnawan Junadi,dkk. 1997, hal. 238).
Tuli kondusif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan
tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke
dalam telinga. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli kondusif
adalah otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis
eksterna sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang
teliga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli kondusif ialah
sumbatan

tuba

eustachius,

otitis

media,

otosklerosis,

timpanisklerosia, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran.


(Indro Soetirto: 2003)

b. Etiologi
Pada telinga luar dan telinga tengah proses degenerasi dapat
menyebabkan perubahan atau kelainan diantaranya sebagai berikut :
a.

Berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran

daun telinga (pinna)


b. Atropi dan bertambah kakunya liang telinga
c. Penumpukan serumen
d. Membrane tympani bertambah tebal dan kaku
e. Kekuatan sendi tulang-tulang pendengaran
f. Kelainan bawaan (Kongenital)
Atresia liang telinga, hipoplasia telinga tengah, kelainan
posisi tulang-tulang pendengaran dan otosklerosis.
Penyakit otosklerosis banyak ditemukan pada bangsa kulit putih
g.
Gangguan pendengaran yang didapat, misal otitis media

c. Manifestasi klinis
a. rasa penuh pada telinga
b. pembengkakan pada telinga bagian tengah dan luar
c. rasa gatal
d. trauma
e. tinnitus
d. Penatalaksanaan

11

Liang telinga di bersihkan secara teratur. dapat diberikan larutan


asam asetat 2-5 % dalam alcohol yang di teteskan ke liang teling atau
salep anti jamur. Tes suara bisikan, Tes garputala.

e. Patofisiologi
Saat terjadi trauma akan menimbulkan suatu peradangan bias
saja menimbulkan luka, nyeri kemudian terjadi penumpukan serumen
atau

otorrhea.

Penumpukan

serumen

yang

terjadi

dapat

mengakibatkan transmisi bunyi atau suara yang terganggu sehingga


penderita tidak dapat mempersepsikan bunyi atau suara yang di
dengarnya.

12

WOC TULI KONDUKSI

Tuli
Konduktif

Telinga
luar
Pembuntuan
Kanalis auditorius
eksterna oleh
serumen

Pembuntuan
Kanalis uditorius
eksterna oleh
benda saing
(seranggga,dll)

Glandula
seminurosa
mengeluarkan
sekerei substansi

Resiko terdorong
ke bagian tulang
kanalis

Penumpukan
serumen pada
kanalis ekstenus

Perforasi
Membrane
timpani

Hantaran suara
terhambat oleh
serumen
penderita)

Reseptor gagal
menerima suara

Penurunan
pendengaran

MK: Hambatan
Komunikasi
Verbal

Telinga
tengah

Infeksi Virus, bakteri,


jamur
Otitis
eksterna
maligna

Agen
cedera
biologis

Mk:
Nyeri

Infeksi pada
kulit di
sepertiga liang
telinga

Kelainan
kongenital

Perubabahan
patologis
jalur
ossikular

Fiksasi
stapes pada
oval window

Menginfeksi
folikel rambut,
kelenjar
sebase
Terbentuk
furunkel diliang
telinga
Liang
telinga
membengk
Kehancuran
tulang temporal

13

Perubabaha
n patologis
pada kapsul
labirin

Otosclerosis

Mk :
Hambatan
Mobilitas
Gangguan
sensori
perseptual

berbicara
dengan suara
lembut (soft
voice
Ketidakmampuan
menjalani hubungan
personal yang
memuaskan

Mk : Isolasi
Sosial

2.2.4

Otitis Media Supuratif Kronik


a. Definisi
OMSK adalah stadium dari penyakit telinga tengah dimana
terjadi peradangan kronis dari telinga tengah dan mastoid dan
membran timpani tidak intak (perforasi) dan ditemukan sekret
(otorea), purulen yang hilang timbul. Istilah kronik digunakan
apabila penyakit ini hilang timbul atau menetap selama 2 bulan atau
lebih. (Djaafar, 1997).
b. Etiologi
Biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut.
Sering berhubungan dengan perforasi menetap membran timpani. Infeksi
kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membran
timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu
melibatkan mastoid.
Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis,
tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba
Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor
predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Downs
syndrom. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang
merupakan faktor insiden OMK yang tinggi di Amerika Serikat. Kelainan
humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti
infeksi HIV, sindrom kemalasan leukosit) dapat manifest sebagai sekresi
telinga kronis.
Penyebab lain OMK diantaranya adalah:
1. Lingkungan
2. Genetik
3. Otitis media sebelumnya.
4. Infeksi
5. Infeksi saluran nafas atas
6. Autoimun

14

7. Alergi
8. Gangguan fungsi tuba eustachius.
c. Manifestasi klinis
Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan
pendengaran dan terdapat otorea interminet atau persisten yang
berbau busuk. Kolesteatoma biasanya menyebabkna nyeri. Evaluasi
otoskopik membrana timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan
kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih dibelakang membrana
timpani atau keluar ke kanalis eksternus melalui lubang perforasi.
Hasil audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan
kehilangan pendengaran konduktif atau campuran. Kolesteatom
adalah suatu kista

epitelial

yang

berisi

deskuamasi

epitel

(keratin).Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga


kolesteatom bertambah besar. Banyak teori mengenai patogenesis
terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi, teori
migrasi, teori metaplasi, dan teori

implantasi.

Kolesteatom

merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi),


terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Infeksi akan memicu
proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang
dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat
hiperproliferatif, destruksi, dan mampu berangiogenesis. Massa
kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya
sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh
pembentukan asam dari proses pembusukan bakteri. Proses nekrosis
tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis,
meningitis dan abses otak.
d. Patofisiologi
Patofisiologi OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam
hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA)
dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya
sekret yang terus menerus. Perforasi sekunder pada OMA dapat
terjadi kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah missal
perforasi kering. Beberapa penulis menyatakan keadaan ini sebagai
keadaan inaktif dari otitis media kronis. Suatu teori tentang

15

patogenesis dikemukan dalam buku modern yang umumnya telah


diterima sebagai fakta. Hipotesis ini menyatakan bahwa terjadinya
otitis

media

nekrotikans,

terutama

pada

masa

anak-anak,

menimbulkan perforasi yang besar pada gendang telinga. Setelah


penyakit akut berlalu, gendang telinga tetap berlubang, atau sembuh
dengan membran yang atrofi yang kemudian dapat kolaps kedalam
telinga tengah, memberi gambaran otitis atelektasis. Hipotesis ini
mengabaikan beberapa kenyataan yang menimbulkan keraguan atas
kebenarannya, antara lain: i. Hampir seluruh kasus otitis media akut
sembuh dengan perbaikan lengkap membran timpani. Pembentukan
jaringan parut jarang terjadi, biasanya ditandai oleh penebalan dan
bukannya atrofi. ii. Otitis media nekrotikans sangat jarang ditemukan
sejak digunakannya antibiotik. Penulis (DFA) hanya menemukan
kurang dari selusin kasus dalam 25 tahun terakhir. Di pihak lain,
kejadian penyakit telinga kronis tidak berkurang dalam periode
tersebut. iii. Pasien dengan penyakit telinga kronis tidak mempunyai
riwayat otitis akut pada permulaannya, melainkan lebih sering
berlangsung tanpa gejala dan bertambah secara bertahap, sampai
diperlukan pertolongan beberapa tahun kemudian setelah pasien
menyadari adanya masalah (Glasscock III M.E, Shambaugh GE,
1990).
e. WOC

PATHWAY OMSK

Etiologi: alergi,
infeksi, trauma
telinga, ISPA, dll
16
Udara tidak
Transudasi
Tekanan
Fungsi
dapat
masuk

Akumulasi
cairan
Gangguan
fungsi tuba
Fungsi
Oklusi

Peningkatan
Penekanan
pada
jumlah
secret
membran
Perforas
Proses
Fungsi
FungsiNekrosis
silia tidak
Iskemi
purulen

Edema pada mukosa saluran


nafas, mukosa tuba eustakius
dan nasofaring tempat muara
tuba eustakius

f.
g.
h.

Penumpukan
sekret

i.
j.
k.
OMSK
Proses peradangan
tidak mengalami
resolusi dan
l.
penutupan membran
timpani OMA

Sekret mukopurulen
akan keluar dari
telinga tengah ke
liang telinga

2.2.5 Cellulitis
a. Definisi
Celulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan
jaringan subkutan biasanya disebabkan oleh invasi bakteri melalui suatu area
yang robek pada kulit, meskipun demikian hal ini dapat terjadi tanpa bukti
sisi entri dan ini biasanya terjadi pada ekstrimitas bawah (Tucker, 1998 :
633).
Selulitis adalah inflamasi supuratif yang juga melibatkan sebagian
jaringan subkutan (mansjoer, 2000; 82).
Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar kedalam bidang
jaringan (Brunner dan Suddarth, 2000 : 496).

17

Jadi selulitis adalah infeksi pada kulit yang disebabkan oleh bakteri
stapilokokus aureus, streptokokus grup A dan streptokokus piogenes.
b. Etiologi
Etiologinya berasal dari bakteri Streptococcus sp. Mikroorganisme
lainnya negatif anaerob seperti Prevotella, Porphyromona dan Fusobacterium
(Berini, et al, 1999). Infeksi odontogenik pada umumnya merupakan infeksi
campuran dari berbagai macam bakteri, baik bakteri aerob maupun anaerob
mempunyai fungsi yang sinergis (Peterson,2003).
Infeksi Primer selulitis dapat berupa perluasan infeksi/abses
periapikal, osteomyielitis dan perikoronitis yang dihubungkan dengan erupsi
gigi molar tiga rahang bawah, ekstraksi gigi yang mengalami infeksi
periapikal/perikoronal, penyuntikan dengan menggunakan jarum yang tidak
steril, infeksi kelenjar ludah (Sialodenitis), fraktur compound maksila /
mandibula, laserasi mukosa lunak mulut serta infeksi sekunder darioral
malignancy.
Penyebab dari selulitis menurut Isselbacher ( 1999;634 ) adalah
bakteri streptokokus grup A, streptokokus piogenes dan stapilokokus aureus.
c. Manifestasi Klinik
Menurut Mansjoer (2000:82) manifestasi klinis selulitis adalah
Kerusakan kronik pada kulit sistem vena dan limfatik pada kedua ekstrimitas,
kelainan kulit berupa infiltrat difus subkutan, eritema local, nyeri yang cepat
menyebar dan infitratif ke jaringan dibawahnya, Bengkak, merah dan hangat
nyeri tekan, Supurasi dan lekositosis.
d. Patofisiologi
Patofisiologi menurut Isselbacher (1999; 634) yaitu :
Bakteri patogen yang menembus lapisan luar menimbulkan
infeksi pada permukaan kulit atau menimbulkan peradangan, penyakit
infeksi sering berjangkit pada orang gemuk, rendah gizi, kejemuan atau
orang tua pikun dan pada orang kencing manis yang pengobatannya tidak
adekuat. Gambaran klinis eritema lokal pada kulit dan system vena dan
limfatik pada kedua ektrimitas atas dan bawah. Pada pemeriksaan
ditemukan kemerahan yang karakteristik hangat, nyeri tekan, demam dan

18

bakterimia. Selulitis yang tidak berkomplikasi paling sering disebabkan


oleh streptokokus grup A, sterptokokus lain atau staphilokokus aureus,
kecuali jika luka yang terkait berkembang bakterimia, etiologi microbial
yang pasti sulit ditentukan, untuk absses lokalisata yang mempunyai
gejala sebagai lesi kultur pus atau bahan yang diaspirasi diperlukan.
Meskipun etiologi abses ini biasanya adalah stapilokokus, abses ini
kadang disebabkan oleh campuran bakteri aerob dan anaerob yang lebih
kompleks. Bau busuk dan pewarnaan gram pus menunjukkan adanya
organisme campuran. Ulkus kulit yang tidak nyeri sering terjadi. Lesi ini
dangkal dan berindurasi dan dapat mengalami super infeksi. Etiologinya
tidak jelas, tetapi mungkin merupakan hasil perubahan peradangan benda
asing, nekrosis, dan infeksi derajat rendah.
e. WOC/Pathway

19

BAB III
PENUTUP

20

3.1 KESIMPULAN
Menurut World Health Organization (WHO), pengertian gangguan
pendengaran adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kehilangan
pendengaran di satu atau kedua telinga (WHO, 2010). Menurut Weber et al. (2009)
gangguan pendengaran didefinisikan sebagai pengurangan dalam kemampuan
seseorang untuk membedakan suara. Otitis Media Akut (OMA) adalah penyakit yang
disebabkan oleh serangan mendadak dari infeksi bakteri dalam telinga bagian
tengah. (Charlene J.Reevas.2001:16) Penyakit Maniere adalah suatu kelainan labirin
yang etiologinya belum diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu
gangguan pendengaran, tinnitus dan serangan vertigo (Mansjoer, 2009). Tuli
Konduktif atau Conductive Hearing Loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak
dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf
U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya. OMSK adalah stadium dari
penyakit telinga tengah dimana terjadi peradangan kronis dari telinga tengah dan
mastoid dan membran timpani tidak intak (perforasi) dan ditemukan sekret (otorea),
purulen yang hilang timbul. Celulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut
dari kulit dan jaringan subkutan biasanya disebabkan oleh invasi bakteri melalui
suatu area yang robek pada kulit, meskipun demikian hal ini dapat terjadi tanpa bukti
sisi entri dan ini biasanya terjadi pada ekstrimitas bawah (Tucker, 1998 : 633).

21