Anda di halaman 1dari 27

Pemberian Obat

Topikal

Antoni Hidayat, S.Farm, Apt

PENGERTIAN
Pemberian obat secara topical adalah
pemberian obat dengan cara mengoleskan
obat pada permukaan kulit atau membran
mukosa, dapat pula dilakukan melalui lubang
yang terdapat pada tubuh (cth : anus).
Obat yang biasa digunakan untuk pemberian
obat topical pada kulit adalah obat yang
berbentuk krim, lotion, atau salep
2

Tujuan Pemberian Obat


Secara Topikal di Kulit

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Memperoleh reaksi lokal


Mempertahankan hidrasi lapisan kulit
Melindungi permukaan kulit
Mengurangi iritasi kulit local
Menciptakan anastesi local
Mengatasi infeksi atau iritasi

Tujuan Pemberian Obat


secara topikal di mata

a. Untuk mengobati gangguan pada mata


b. Untuk mendilatasi pupil pada pemeriksaan
struktur internal mata
c. Untuk melemahkan otot lensa mata pada
pengukuran refraksi mata
d. Untuk mencegah kekeringan pada mata

Persiapan alat

a) Obat topical sesuai yang dipesankan


(krim, lotion, aerosol, bubuk, spray)
b) Buku obat
c) Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan)
d) Sarung tangan
e) Lidi kapas atau tongue spatel
f) Baskom dengan air hangat, waslap, handuk
dan sabun basah
g)Kassa balutan, penutup plastic dan plester
(sesuai kebutuhan)
5

Prosedur kerja

a) Cek instruksi dokter untuk memastikan nama


obat, daya kerja dan tempat pemberian.
b) Cuci tangan
c) Atur peralatan disamping tempat tidur klien
d) Tutup gorden atau pintu ruangan
e) Identifikasi klien secara tepat
f) Posisikan klien dengan tepat dan nyaman,
pastikan hanya membuka area yang akan
diberi obat
6

g) Inspeksi kondisi kulit. Cuci area yang sakit,


lepaskan semua debris dan kerak pada kulit
h) Keringkan atau biarkan area kering oleh
udara
i) Bila kulit terlalu kering dan mengeras,
gunakan agen topikal
j) Gunakan sarung tangan bila ada indikasi
k) Oleskan agen topical

AGEN TOPICAL
(1) Krim, salep dan losion yang mengandung minyak
(a) Letakkan satu sampai dengan dua sendok teh
obat di telapak tangan kemudian lunakkandengan
menggosok lembut diantara kedua tangan
(b) Usapkan merata diatas permukaan kulit,
lakukan gerakan memanjang searah
pertumbuhan bulu.
(c) Jelaskan pada klien bahwa kulit dapat terasa
berminyak setelah pemberian

(2) Lotion mengandung suspensi


(a) Kocok wadah dengan kuat
(b) Oleskan sejumlah kecil lotion pada kassa
balutan atau bantalan kecil
(c) Jelaskan pada klien bahwa area akan terasa
dingin dan kering.
(3) Bubuk
(a) Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara
menyeluruh
(b) Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit
seperti diantara ibu jari atau bagian bawahlengan
(c) Bubuhkan secara tipis pada area yang
bersangkutan
9

(4) Spray aerosol


(a) Kocok wadah dengan keras
(b) Baca label untuk jarak yang dianjurkan untuk
memegang spray menjauhi area (biasanya 15-30 cm)
(c) Bila leher atau bagian atas dada harus disemprot,
minta klien untuk memalingkan wajah dariarah spray.
(d) Semprotkan obat dengan cara merata pada
bagian yang sakit
(e) Rapikan kembali peralatan yang masih dipakai,
buang peralatan yang sudah tidak digunakan pada
tempat yang sesuai.
(f)Cuci tangan

10

Hal-hal yang harus diperhatikan

1. Kaji pengetahuan klien atau pemberian


perawatan tentang tindakan dan tujuan medikasi.
2. Perhatikan kemampuan klien dalam
menggunakan obat secara mandiri
3. Waspada terhadap penggunaan obat terlalu
banyak karena suatu lapisan pada kulit
mempengaruhi penyerapan obat.
4. Pastikan bahwa klien atau pemberi
perawatan mengetahui tanda reaksi lokal agens
topikal.
11

5. Tekankan perlunya mencuci tangan secara


menyeluruh setelah mengoleskan agens topikal.
6. Dengan medikasi serbuk, tekankan
pentingnya menghindari menghisap serbuk.

12

SALEP
Adalah sediaan semi-padat, tebal, berminyak dengan
viskositas tinggi, untuk aplikasi eksternal pada kulit
atau selaput lendir
13

Penggolongan salep menurut


konsistensinya

1 . Unguentum seperti mentega, tidak


mencair pada suhu biasa tetapi mudah
dioleskan tanpa tenaga unguentum 2-4
2. Cream banyak mengandung air, mudah
diserap kulit emulsi kental Vaselin
3. Pasta > 50% zat padat ??
4. Gelones Spumae suspensi partikel
anorganik kecil atau molekul organik besar,
suatu salep yang lebi halus Voltaren Gel,
Bioplacenton

Penggolongan salep menurut


sifat farmakologi/teraupetik &
1.
Salep epidermis/S.penutup
penetrasinya
:

Utk melindungi kulit & menghasilkan efek lokal, tdk diabsorbsi


Kadang di+ antiseptik, astringen, anastesi lokal
DS yg baik DS. Senyawa hidrokarbon

Salep endodermis

2.

Salep yg bhn obatnya menembus ke dlm kulit ttp tdk melalui


kulit, terabsorbsi sebagian
Digunakan utk melunakkan kulit/selaput lendir
Ds yg baik : minyak lemak (adeps lanae, lanolin, minyak
tumbuh2an)

Salep diadermis

3.

Salep yg bhn obatnya menembus ke dlm tubuh mll kulit &


mencapai efek yg diinginkan (merkuri iodida, beladona)
DS : larut dalam air, emulsi based
15

Penggolongan salep menurut


dasar salepnya :
Salep hidrofobik

1.

Salep yg tdk suka air atau salep dgn dasar salep


berlemak (campuran lemak-lemak, m.lemak,
malam)
Tidak dpt dicuci dgn air

Salep hidrofilik

2.

Salep yg suka air / kuat menarik air (tipe M/A)

16

17

Defenisi

Sediaan semi padat (masa lembek) yang


mengandung satu atau lebih bahan obat
yang ditujukan untuk pemakaian topikal
Konsistensinya : 50% bahan padat
Bahan Dasar Pasta :

Vaselin
Lanolin
Adeps lanae
Unguentum simplex
18

Penggolongan

Pasta kering

Suatu pasta bebas lemak


mengandung + 60% zat
padat (serbuk)
R/Bentonit
1
Sulfur praecip 2
Zinci Oxydi
10
Talci
10
Ichthamoli
0,5
Glycerin
Aqua aa
5
S.ad.us.ext

Pasta dari gel fase tunggal


mengandung air

Pasta Nakarboksimetilselulosa
(Na-CMC)

Pasta pendingin

Merupakan campuran
serbuk minyak lemak dan
cairan berair, dikenal Salep
Tiga Dara
R/Zinci oxydi
Olei olivae
Calcii Hidroxydi Sol aa 10

19

Penggolongan

Pasta berlemak

merupakan salep padat, kaku, tidak meleleh pada suhu


tubuh
berfungsi sebagai lapisan pelindung pd bagian yg diolesi
Pasta Zn-oksida

Pasta gigi (pasta dentifriciae)

Campuran kental terdiri dari serbuk dan glycering


digunakan utk pelekatan pd selaput lendir agar
memperoleh efek lokal sebagai pembersih gigi
Pasta gigi Triamsinolon asetonida

20

21

Defenisi

Bentuk sediaan setengah


padat berupa emulsi yang
mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut
atau terdispersi dalam
bahan dsar yang sesuai
Mengandung air tidak
kurang dari 60%

22

Penggolongan

Krim tipe minyak dalam air


M/A

ditujukan untuk penggunaan


koemetika & estetika

Krim tipe air dalam minyak


A/M

Krim yang dapat dicuci


dengan air

23

Stabilitas

Krim akan rusak jika :

Jika sistem campurannya


terganggu oleh :

Perubahan suhu
Perubahan komposisi
(penambahan salah satu fase
secara berlebihan)

Pengenceran krim dpt


dilakukan secara aseptis &
harus digunakan dlm waktu
satu bulan
24

25

Defenisi

Semi padat yg terdiri dari suspensi yg


dibuat dari partikel anorganik yg kecil
atau molekul organik yg besar,
terpenetrasi oleh suatu cairan
Umumnya cair dan mengandung sedikit
atau tanpa lilin
Digunakan terutama pada membran
mukosa
Dasar gel : campuran sederhana
minyak dan lemak dgn titik lebur rendah

26

Penggolongan

Sistem dua fase jika massa gel terdiri atas


jaringan partikel kecil yg terpisah

Magma :
jika ukuran partikel dari fase terdispersi
relatif besar
Massa bersifat tiksotropik : massa akan
mengental jika didiamkan dan akan mencair
jika dikocok
Jelly : jika massanya byk mengandung air

Washable jelly : mengandung mucilagines spt


gom, tragacanth, amylum, pektin dan alinat
Star jellies : 10% amylum dengan air mendidih

27