Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul Meningitis.
Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai pentingnya pemahaman mengenai
kasus Meningitis. Adapun tujuan kami menulis makalah ini yang utama untuk memenuhi tugas
dari dokter pendamping yang membimbing kami. Tujuan utama dari makalah ini sendiri lebih
difokuskan pada penjelasan rinci mengenai defenisi, etiologi, penanganan segera, komplikasi
dan prognosis pada kasus Meningitis.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
diharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan tugas kami untuk kedepannya.
Mudah-mudahan tugas ini bermanfaat bagi kita semua terutama bagi staf puskesmas dan
masyarakat argamakmur.

Argamakmur, Oktober 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

Meningitis adalah suatu peradangan yang mengenai satu atau semua lapisan selaput
yang membungkus jaringan otak dan sumsum tulang belakang, yang menimbulkan eksudasi
(keluarnya cairan) berupa pus (nanah) atau serosa.
Meningitis biasanya disebabkan oleh infeksi infeksi virus, infeksi bakteri, jamur, dan
parasit, juga bisa dari berbagai penyebab non-infeksius, seperti karena obat-obatan misalnya
atau bisa juga penyebaran ke meninges (malignant meningitis).
Virus yang dapat menyebabkan meningitis termasuk enterovirus, virus tipe 2 (dan
kurang umum tipe 1), varicella zoster virus (dikenal sebagai penyebab cacar air dan ruam
saraf), virus gondok, HIV, dan LCMV. Pemeriksaan yang sangat penting apabila penderita telah
diduga meningitis adalah pemeriksaan lumbal pungsi (pemeriksaan cairan selaput otak).
Jika berdasarkan pemeriksaan penderita didiagnosa sebagai meningitis, maka
pemberian antibiotik secara infus (intravenous) adalah langkah yang baik untuk kesembuhan
serta mengurangi atau menghindari resiko komplikasi. Antibiotik yang diberikan kepada
penderita tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan. Adapun beberapa antibiotik yang sering
diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain Cephalosporin (ceftriaxone atau
cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes akan
diberikan Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau
Ceftriaxone. Terapi lainnya adalah yang mengarah kepada gejala yang timbul, misalnya sakit
kepala dan demam (paracetamol), shock dan kejang (diazepam) dan lain sebagainya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. MENINGITIS

2.1.1. Definisi
Meningitis adalah infeksi atau inflamasi yang terjadi pada selaput otak (meningens)
yang terdiri dari piamater, arachnoid, dan duramater yang disebabkan oleh bakteri, virus,
riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis.

2.1.2. Anatomi dan Fisiologi


Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang
halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal.
Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:

a) Piameter
Yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang
dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk
struktur-struktur ini
b) Arachnoid
Selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter
c) Durameter
Merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal
dan kuat.
2.1.3. Etiologi
Meningitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasit.
1.
Meningitis bakterial :
a. Bakteri non spesifik : meningokokus, H. influenzae, S. pneumoniae,
Stafilokokus, Streptokokus, E. coli, S. typhosa.

Streptococcus pneumoniae, the species


that

causes

invasive

pneumococcal

disease like meningitis, bacteraemia, and


pneumonia

2.

b. Bakteri spesifik : M. tuberkulosa.


Meningitis virus : Enterovirus, Virus Herpes Simpleks tipe I (HSV-I), Virus

3.
4.

Varisela-zoster (VVZ).
Meningitis karena jamur.
Meningitis karena parasit, seperti toksoplasma, amoeba.
4

2.1.4. Faktor Risiko dan Epidemiologi

Faktor risiko yang menempatkan orang pada risiko tinggi untuk meningitis bakteri
meliputi:
o

Orang dewasa lebih tua dari 60 tahun

Anak-anak muda dari 5 tahun

Orang dengan alkoholisme

Orang dengan sickle cell anemia

Orang dengan kanker, terutama mereka yang menerima kemoterapi

Orang yang telah menerima transplantasi dan memakai obat yang menekan
sistem kekebalan tubuh

Orang dengan diabetes

Mereka baru-baru ini terkena meningitis di rumah

Masyarakat yang tinggal di jarak dekat (barak militer, asrama)

IV pengguna narkoba

Orang dengan pirau di tempat untuk hidrosefalus


2.1.5. Klasifikasi
Meningitis berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak sebagai berikut :
1.
Meningitis purulenta
Radang bernanah araknoid dan piameter yang meliputi otak dan medulla spinalis.
Penyebabnya adalah bakteri non spesifik, berjalan secara hematogen dari sumber
infeksi (tonsilitis, pneumonia, endokarditis, dll.)

2.
Meningitis serosa
Radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih.
Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lain seperti lues,
virus, Toxoplasma gondhii, Ricketsia.
2.1.6. Patogenesis
a. Meningitis bakteri
Meningitis bakteri merupakan salah satu infeksi serius pada anak-anak. Infeksi ini
berhubungan dengan komplikasi dan risiko kematian.
Etiologi dari meningitis bakterial pada neonatus yaitu pada periode 0 28 hari. Bakteri
menyebabkan meningitis pada neonatus apabila terpapar dengan flora pada gastrointestinal dan
genitourinarius ibu. Contohnya: streptococcus, E. coli, klebsiella. E.coli merupakan penyebab
kedua tersering pada meningitis neonatus.
Kebanyakan kasus meningitis akibat dari penyebaran hematogen yang masuk melalui
celah subarachnoid. Mikroorganisme masuk ke cerebral nervous system melalui 2 jalur
potensial. Bakteri masuk kedalam kavitas intrakranial melalui sirkulasi darah atau berasal dari
infeksi primer pada nasofaring, sinus, telinga tengah, sistem kardiopulmonal, trauma atau
kelainan kongenital daripada tulang tengkorak. Frekuensi terbanyak berasal dari sinusitis.
Organisme juga dapat menginvasi meningens dari telinga tengah. Meningitis yang diikuti
terjadinya otitis media merupakan proses bakteriemia, walaupun bukan kongenital atau adanya
posttraumatic fistula pada tulang temporal yang mensuplai akses ke CSS.
b. Meningitis Virus
Pada umumnya virus masuk melalui sistem limfatik, melalui saluran pencernaan
disebabkan oleh Enterovirus, pada membran mukosa disebabkan oleh campak, rubella, virus
6

varisela-zoster (VVZ), Virus herpes simpleks (VHS), atau dengan penyebaran hematogen
melalui gigitan serangga. Pada tempat tersebut, virus melakukan multiplikasi dalam aliran
darah yang disebut fase ekstraneural, pada keadaan ini febris sistemik sering terjadi. Propagasi
virus sekunder terjadi jika menyebar dan multiplikasi dalam organ-organ. VHS mencapai otak
dengan penyebaran langsung melalui akson-akson neuron.
Kerusakan neurologis disebabkan oleh ; (1) Invasi langsung dan perusakan jaringan
saraf oleh virus yang bermultiplikasi aktif. (2) Reaksi hospes terhadap antigen virus secara
langsung, sedangkan respons jaringan hospes mengakibatkan demielinasi dan penghancuran
vascular serta perivaskuler.
Pada pemotongan jaringan otak biasanya dapat ditemukan kongesti meningeal dan
infiltrasi mononukleus, manset limfosit dan sel-sel plasma perivaskuler, beberapa nekrosis
jaringan perivaskuler dengan penguraian myelin, gangguan saraf pada berbagai stadium
termasuk pada akhirnya neuronofagia dan proliferasi atau nekrosis jaringan. Tingkat
demielinisasi yang mencolok pada pemeliharaan neuron dan akson, terutama dianggap
menggambarkan ensefalitis pascainfeksi atau alergi.
2.1.7. Manifestasi Klinis
1.

Gejala-gejala yang terkait dengan tanda-tanda non spesifik disertai dengan

infeksi sistemik atau bakteremia meliputi, demam, anoreksia, ISPA, mialgia,


arthralgia, takikardia, hipotensi dan tanda-tanda kulit seperti; ptechie, purpura, atau
ruam macular eritematosa. Mulainya tanda-tanda tersebut diatas mempunyai dua pola
dominan yaitu :
- Akut / timbul mendadak berupa ; manifestasi syok progresif, DIC, penurunan
kesadaran cepat, sering menunjukkan sepsis akibat meningokokus dan pada akhirnya
menimbulkan kematian dalam 24 jam.
- Sub akut berupa ; timbul beberapa hari, didahului gejala ISPA atau gangguan GIT
yang disebabkan oleh H.influenza dan Streptokokus.

2.

Tanda-tanda peningkatan TIK dikesankan oleh adanya muntah, nyeri kepala

dapat menjalar ke tengkuk dan punggung, moaning cry, kejang umum, fokal,
twitching, UUB menonjol, paresis, paralisis saraf N.III (okulomotorius) dan N.VI
(abdusens), strabismus, hipertensi dengan bradikardia, apnea dan hiperventilasi, sikap
dekortikasi atau deserebrasi, stopor, koma. Selain tersebut diatas, hal lain yang juga
meningkatkkan TIK dikarenakan :

Peningkatan protein pada CSS :


Karena adanya peningkatan permeabilitas pada sawar otak (Blood Brain Barier)

dan masuknya cairan yang mengandung albumin ke subdural.


Penurunan kadar glukosa dalam LCS :
Karena adanya gangguan transpor glukosa yang disebabkan adanya peradangan

pada selaput otak dan pemakaian gula oleh jaringan otak


Peningkatan metabolisme yang menyebabkan terjadinya asidosis laktat.

3.

Tanda Rangsang Meningeal seperti :


Kaku kuduk
Brudzinsky 1 & 2
Kernig sign

2.1.8. Diagnosis
Diagnosis meningitis tergantung dari organisme penyebab yang terisolasi dari darah,
CSS, urin dan cairan tubuh lainnya. Namun terutama berdasar pada pemeriksaan kultur dari
cairan serebrospinal. Lumbal punksi dilakukan pada setiap anak dengan kecurigaan terjadinya
sepsis.
Hasil lumbal pungsi, ditemukan hitung leukosit > 1.000/mm3. Kekeruhan CSS terlihat
leukosit pada CSS melampaui 200 400/mm3. Normal pada neonatus hanya 30 leukosit/mm3.
Sedangkan pada anak-anak < 5 leukosit/mm.
9

Pada CSS dilakukan pemeriksaan terhadap adanya bakteri, jumlah sel, protein dan
glukosa level. Pada pemeriksaan bakteri dapat ditemukan cairan jernih dengan beberapa sel
mengandung banyak bakteri, yaitu sekitar 80% pada bayi dengan diagnosa meningitis. Jumlah
sel dalam CSS > 60/l dan yang terbanyak adalah sel neutrofil. Konsentrasi protein yang
meningkat dan penurunan glukosa juga dapat ditemukan. Kadar protein normal pada neonatus
dapat mencapai 150 mg/dl, terutama pada bayi prematur. Pada meningitis kadar proteinnya
dapat mencapai beberapa ratus sampai beberapa ribu mg/dl. Kadar glukosanya kurang dari 40
mg/dl dan 50% lebih rendah dari glukosa darah yang waktu pengambilan darahnya bersamaan
dengan pengambilan likuor.
Skema Meningitis
Warna
Sel
Protein
Glukosa

Bakteri
Keruh
PMN

Virus
Jernih
Limfosit
Ringan
Normal

TBC
Jernih
Limfosit
Tinggi

Pemeriksaan sediaan apus likuor dengan pewarnaan gram dapat menduga penyebab
meningitis serta diagnosis meningitis dapat segera ditegakkan. Biakan dari bagian tubuh
lainnya seperti aspirasi cairan selulitis atau abses, usapan dari kotoran mata yang purulen,
sekret di umbilikus, dan luka sebaiknya dilakukan pula, mengingat mikroorganisme pada bahan
tersebut mungkin sesuai dengan penyebab meningitis. Pada bayi usia 1 bulan jumlah leukosit
berkisar antara 0-5 sel/mL, banyak kasus pada neonatus ditemukan peningkatan jumlah leukosit
dengan polymorphonuclear (PMN) leukosit lebih dominan. Kultur darah pada meningitis
bakterial mempunyai nilai positif pada 85% kasus neonatus.
Pemeriksaan radiologis yaitu foto dada, foto kepala, bila mungkin CT scan.
2.1.9. Diagnosis Banding
Meningismus
Abses otak
Tumor otak
2.1.10. Komplikasi
a. Hidrosefalus.
10

b. Abses otak
c. Renjatan septic.
d. Pneumonia (karena aspirasi)
e. Koagulasi intravaskuler menyeluruh.
2.1.11. Penatalaksanaan
Meningitis bakterial :
a.
Meningitis pada bayi dan anak dengan sistem imun yang baik, untuk :

S.pneumonia, M.meningitidis dan H.influenza


Cephalosporin generasi III: Cefotaksim 200mg/kgBB/24jam dibagi 4 dosis atau
Ceftriakson 100mg/kgBB/24jam dosis tunggal atau
Ceftriakson 50mg/kgBB/12 jam
Kombinasi dengan Vankomycin 60mg/kgBB/hari dalam 4 dosis.

Lama terapi antibiotik


S.pneumonia sensitif penisilin: dengan cephalosporin generasi III atau penicillin

IV dosis 300.000 U/kg/24jam dalam 4-6 dosis selama 10-14 hari,


Jika resisten: Vankomycin
N.meningitidis: Penicillin IV u/ 5-7 hari
H.influenza type B tanpa komplikasi:7-10 hari

Meningitis tuberkulosa :

OAT PO atau parenteral

Multi drug treatment dengan OAT (INH, Rifampisin, Pirazinamid)


Bila berat dapat + Etambutol/ Streptomycin
Pengobatan minimal 9 bulan

OAT
INH
Bakteriosid & bakteriostatik
Dosis 10-20mg/kgBB/hari max. 300mg/hari PO
Komplikasi : Neuropati perifer, dpt dicegah dg Piridoksin 25-50mg/hari
INH + Rifampisin : Hepatotoksik

Rifampisin
Bakteriostatik
Dosis 10-20mg/kgBB/hari PO AC
Menyebabkan urin merah
Efek samping : Hepatitis, kelainan GIT, trombositopenia

Pirazinamid
Bakteriostatik
Dosis 20-40mg/kgBB/hari PO atau
50-70 mg/kgBB/minggu dibagi dalam 2-3 dosis PO selama 2 bulan

11

Etambutol
Bakteriostatik
Dosis 15-25mg/kgBB/hari PO atau
50mg/kgBB/minggu dibagi dalam 2 dosis PO
Efek samping : Neuritis optika, atrofi optik

o
o
o
o

Rehabilitasi: Fisioterapi & penanganan lanjut bila ada komplikasi


Diet : Tinggi Kalori Tinggi Protein
Konsultasi dokter spesialis saraf
Konsultasi bedah saraf (bila ada hidrosefalus)

Meningitis Virus
Istirahat dan pengobatan simptomatis. Likuor serebrospinalis yang dikeluarkan untuk
keperluan diagnosis dapat mengurangi gejala nyeri kepala.
Pengobatan simptomatis
Menghentikan kejang :
o Diazepam 0,2-0,5 mg/KgBB/dosis IV atau 0,4-0,6 mg/KgBB/dosis rektal
suppositoria, kemudian dilanjutkan dengan :
o Phenytoin 5 mg/KgBB/hari IV/PO dibagi dalam 3 dosis atau
o Phenobarbital 5-7 mg/Kg/hari IM/PO dibagi dalam 3 dosis
Menurunkan panas :
o Antipiretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO atau Ibuprofen 5-10
mg/KgBB/dosis PO diberikan 3-4 kali sehari
o Kompres air hangat/biasa
Pengobatan suportif
Cairan intravena
Oksigen. Usahakan agar konsentrasi O2 berkisar antara 30-50%.
12

2.1.12 Prognosis
Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik yang
menimbulkan penyakit, banyaknya organisme dalam selaput otak, jenis meningitis
dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia neonatus, anak-anak
dan dewasa tua mempunyai prognosis yang semakin jelek, yaitu dapat menimbulkan
cacat berat dan kematian.34
Pengobatan antibiotika yang adekuat dapat menurunkan mortalitas meningitis
purulenta, tetapi 50% dari penderita yang selamat akan mengalami sequelle (akibat
sisa). Lima puluh persen meningitis purulenta mengakibatkan kecacatan seperti
ketulian, keterlambatan berbicara dan gangguan perkembangan mental, dan 5 10%
penderita mengalami kematian.

BAB III
PERENCANAAN

13

Penderita dan keluarganya perlu dijelaskan mengenai perjalanan dan prognosis


penyakitnya. Jika berdasarkan pemeriksaan penderita didiagnosa sebagai meningitis, maka
pemberian antibiotik secara infus (intravenous) adalah langkah yang baik untuk kesembuhan
serta mengurangi atau menghindari resiko komplikasi. Antibiotik yang diberikan kepada
penderita tergantung dari jenis bakteri yang ditemukan. Adapun beberapa antibiotik yang sering
diresepkan oleh dokter pada kasus meningitis yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pneumoniae dan Neisseria meningitidis antara lain Cephalosporin (ceftriaxone atau
cefotaxime). Sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes akan
diberikan Ampicillin, Vancomycin dan Carbapenem (meropenem), Chloramphenicol atau
Ceftriaxone. Terapi lainnya adalah yang mengarah kepada gejala yang timbul, misalnya sakit
kepala dan demam (paracetamol), shock dan kejang (diazepam) dan lain sebagainya.

BAB IV
PELAKSANAAN

a. Pencegahan Primer
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko meningitis
bagi individu yang belum mempunyai faktor resiko dengan melaksanakan pola hidup
sehat.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi meningitis pada
bayi agar dapat membentuk kekebalan tubuh. Vaksin yang dapat diberikan seperti

14

Haemophilus influenzae type b (Hib), Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7),


Pneumococcal polysaccaharide vaccine (PPV), Meningococcal conjugate vaccine
(MCV4), dan MMR (Measles dan Rubella). Imunisasi Hib Conjugate vaccine (Hb- OC
atau PRP-OMP) dimulai sejak usia 2 bulan dan dapat digunakan bersamaan dengan
jadwal imunisasi lain seperti DPT, Polio dan MMR.\ Vaksinasi Hib dapat mlindungi
bayi dari kemungkinan terkena meningitis Hib hingga 97%. Pemberian imunisasi
vaksin Hib yang telah direkomendasikan oleh WHO, pada bayi 2-6 bulan sebanyak 3
dosis dengan interval satu bulan, bayi 7-12 bulan di berikan 2 dosis dengan interval
waktu satu bulan, anak 1-5 tahun cukup diberikan satu dosis. Jenis imunisasi ini tidak
dianjurkan diberikan pada bayi di bawah 2 bulan karena dinilai belum dapat
membentuk antibodi. Meningitis Meningococcus dapat dicegah dengan pemberian
kemoprofilaksis (antibiotik) kepada orang yang kontak dekat atau hidup serumah
dengan penderita. Vaksin yang dianjurkan adalah jenis vaksin tetravalen A, C, W135
dan Y.35 meningitis TBC dapat dicegah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh
dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian imunisasi BCG. Hunian
sebaiknya memenuhi syarat kesehatan, seperti tidak over crowded (luas lantai > 4,5
m2 /orang), ventilasi 10 20% dari luas lantai dan pencahayaan yang cukup.
Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kontak langsung dengan
penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan perumahan dan di
lingkungan seperti barak, sekolah, tenda dan kapal. Meningitis juga dapat dicegah
dengan cara meningkatkan personal hygiene seperti mencuci tangan yang bersih
sebelum makan dan setelah dari toilet.

b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menemukan penyakit sejak awal, saat
masih tanpa gejala (asimptomatik) dan saat pengobatan awal dapat menghentikan
15

perjalanan penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan
pengobatan

segera.

Deteksi

dini

juga

dapat

ditingkatan

dengan

mendidik

petugakesehatan serta keluarga untuk mengenali gejala awal meningitis. Dalam


mendiagnosa penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan cairan
otak, pemeriksaan laboratorium yang meliputi test darah dan pemeriksaan X-ray
(rontgen) paru .
Selain itu juga dapat dilakukan surveilans ketat terhadap anggota keluarga
penderita, rumah penitipan anak dan kontak dekat lainnya untuk menemukan penderita
secara dini.10 Penderita juga diberikan pengobatan dengan memberikan antibiotik yang
sesuai dengan jenis penyebab meningitis yaitu :
b.1. Meningitis Purulenta
b.1.1. Haemophilus influenzae b : ampisilin, kloramfenikol, setofaksim, seftriakson.
b.1.2. Streptococcus pneumonia : kloramfenikol , sefuroksim, penisilin, seftriakson.
b.1.3. Neisseria meningitidies : penisilin, kloramfenikol, serufoksim dan seftriakson.

b.2. Meningitis Tuberkulosa (Meningitis Serosa)


Kombinasi INH, rifampisin, dan pyrazinamide dan pada kasus yang berat
dapat ditambahkan etambutol atau streptomisin. Kortikosteroid berupa prednison
digunakan sebagai anti inflamasi yang dapat menurunkan tekanan intrakranial dan
mengobati edema otak.

c. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan lanjut
atau mengurangi komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat pencegahan ini
bertujuan untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan akibat meningitis, dan
membantu penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisikondisi yang tidak
16

diobati lagi, dan mengurangi kemungkinan untuk mengalami dampak neurologis jangka
panjang misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk belajar. Fisioterapi dan rehabilitasi
juga diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.

BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
5.1 Monitoring dan Evaluasi
Monitoring yang dililakukan adalah monitoring gejala awal dan efek terapi. Pada pasien
didapatkan keluhan demam yang berlangsung selama 5 hari, merupakan salah satu keluhan atau
gejala pada meningitis, selain demam juga didapatkan adanya keluhan mual tapi tidak sampai
muntah ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan intrakranial pada pasien: Agen penyebab
reaksi lokal pada meninges inflamasi meninges pe permiabilitas kapiler
kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial pe volume cairan interstisial edema
Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat pe TIK
5.2 Kesimpulan
Meningitis adalah radang umum pada arakhnoid dan piamater yang dapat terjadi secara
akut dan kronis.
Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar ke
jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks serebri pada bagian
premotor. Kaku kuduk pada meningitis bisa ditemukan dengan melakukan pemeriksaan fleksi
pada kepala klien yang akan menimbulkan nyeri, disebabkan oleh adanya iritasi meningeal

17

khususnya pada nervus cranial ke XI, yaitu Asesoris yang mempersarafi otot bagian belakang
leher, sehingga akan menjadi hipersensitif dan terjadi rigiditas. Sedangan pada pemeriksaan
Kernig sign (+) dan Brudzinsky sign (+) menandakan bahwa infeksi atau iritasi sudah mencapai
ke medulla spinalis bagian bawah.
Hasil pemeriksaan dan laboratorium yang menunjukkan adanya leukositosis menunjang
terjadinya demam pada pasien, hasil pemeriksaan fisik juga menunjukkan adanya infeksi pada
meningen yang belum mencapai medulla spinalis, oleh karena itu gejala yang didapat pada
pasien ditunjang dengan pemeriksaan fisik dan penunjang maka sesuai dengan diagnosis
meningitis. untuk mengetahui penyebab pastinya dibutuhkan adanya kultur.

18

PENUTUP

Demikianlah yang dapat penulis paparkan tentang Meningitis. Penulis menyadari bahwa
masih terdapat kekurangan dan kelemahan dalam karya tulis ilmiah ini. Hal tersebut
dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan referensi yang ada.
Akhir kata dengan segala kekurangan yang penulis miliki, maka saran dan kritik yang
bersifat membangun akan penulis terima untuk perbaikan selanjutnya. Semoga karya tulis
ilmiah ini bermanfaat, terutama bagi penulis dan bagi para pembaca.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Gilroy, John Basic Neurology, Mc Graw Hill. USA, 1997 Hauser,Stephen,L (ed).
Harrisons , Neurology in Clinical Medicine . Mc Graw Hill, Philadelphia, 2005
2. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta : Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran UI. 2000. Hal 11- 16
3. Mark Mumenthaler, Neurologi jilid 1, Bern, Swiss, 1989. hlm. 66 7
4. Taslim S. Soetamenggolo, Sofyan Ismael, Buku Ajar Neurologi Anak, Jakarta,
IDAI, 1999, hlm. 373 84
5. http://www.bergerlagnese.com/library/the-facts-about-meningitis.cfm
6. http://www.emedicine.com/EMERG/topic 163.htm
7. http://www.emedicine.com/EMERG/topic 247.htm
8. http://www.healthtalk.info/neurological-disorders/neurology-meningitis/399/
9. http://www.pediatricinfo.wordpress.com/2009/03/07/117/
10. http://www.scribd.com/doc/42285748/Patofisiologi-Infeksi-Sistem-Saraf-PusatMeningitis-Ensefalitis

20