Anda di halaman 1dari 19

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1

Fakultas Keperawatan UNAND

LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 1
SOL (SPACE OCCUPYING LESION)

A. KONSEP DASAR
1. PENGERTIAN
SOL (Space Occupying Lesion) merupakan generalisasi masalah mengenai
adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Terdapat beberapa
penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kontusio serebri, hematoma,
infark, abses otak dan tumor intracranial. (Suzanne dan Brenda G Bare. 1997: 2167).
Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak / ganas yang
tumbuh di otak, meningen dan tengkorak. Tumor otak merupakan salah satu tumor
susunan saraf pusat, baik ganas maupun tidak. Tumor ganas disusunan saraf pusat adalah
semua proses neoplastik yang terdapat dalam intracranial atau dalam kanalis spinalis,
yang mempunyai sebagian atau seluruh sifat-sifat proses ganas spesifik seperti yang
berasal dari sel-selsaraf di meaningen otak, termasuk juga tumor yang berasal dari sel
penunjang (Neuroglia), sel epitel pembuluh darah dan selaput otak. (Fransisca B
Batticaca. 2008: 84).
Kranium merupakan tempat yang kaku dengan volume yang terfiksasi maka lesilesi ini akan meningkatkan tekanan intracranial. Suatu lesi yang meluas pertama kali
dengan cara mengeluarkan cairan serebrospinal dari rongga cranium. Akhirnya vena
mengalami kompresi, dangan gangguan sirkulasi darah otak dan cairan serebrospinal
mulai timbul dan tekanan intracranial mulai naik. Kongesti venosa menimbulkan
peningkatan produksi dan penurunan absorpsi cairan serebrospinal dan meningkatkan
volume dan terjadi kembali hal-hal seperti diatas.
.
2. ETIOLOGI
Riwayat trauma kepala
Faktor genetik
Paparan zat kimia yang bersifat karsinogenik
Virus tertentu
Defisiensi imunologi
Congenital

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

3. TANDA DAN GEJALA


1. Tanda dan gejala peningkatan TIK :
Sakit kepala
Muntah
Papiledema
2. Gejala terlokalisasi ( spesifik sesuai dengan dareh otak yang terkena ) :
Tumor korteks motorik ; gerakan seperti kejang kejang yang terletak

pada satu sisi tubuh ( kejang jacksonian )


Tumor lobus oksipital ; hemianopsia homonimus kontralateral (hilang
penglihatan pada setengah lapang pandang, pada sisi yang berlawanan

dengan tumor) dan halusinasi penglihatan.


Tumor serebelum ; pusing, ataksia, gaya berjalan sempoyongan dengan
kecenderungan jatuh kesisi yang lesi, otot otot tidak terkoordinasi dan

nistagmus ( gerakan mata berirama dan tidak disengaja )


Tumor lobus frontal ; gangguan kepribadia, perubahan status emosional
dan tingkah laku, disintegrasi perilaku mental, pasien sering menjadi

ekstrim yang tidak teratur dan kurang merawat diri


Tumor sudut serebelopontin ; tinitus dan kelihatan vertigo, tuli (gangguan
saraf kedelapan), kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah (saraf
kelima), kelemahan atau paralisis (saraf kranial keketujuh), abnormalitas

fungsi motorik.
Tumor intrakranial bisa menimbulkan gangguan kepribadian, konfusi,
gangguan bicara dan gangguan gaya berjalan terutam pada lansia.
( Brunner & Sudarth, 2003 ; 2170 )

4. PATOFISIOLOGI
Kerusakan (atau mutasi) genetik mungkin didapat dari akibat pengaruh
lingkungan seperti trauma, zat kimia, radiasi atau virus, atau diwariskan dalam sel
germinativum. Hipotesis genetik pada kanker mengisyaratkan bahwa massa tumor
terjadi akibat ekspansi klonal satu sel progenitor yang telah mengalami kerusakan
genetik (yaitu umor bersifat monoklonal).
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan neurologik
tersebut mengakibatkan peningkatan TIK. Ruang intrakranial adalah suatu ruangan kaku
yang terisi penuh sesuai kapasitasnya dengan unsur yang tidak dapat ditekan: otak (1400
gr), cairan serebrospinal (kira-kira 75 ml), dan darah (kira-kira 75 ml). Peningkatan
volume salah satu di antara ketiganya mengakibatkan desakan pada ruangan yang
ditempati oleh unsu lainnya dan menaikkan tekanan intrakranial.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

Ada mekanisme kompensasi yang bekerja bila satu dari tiga elemen intrakranial
membesar melampaui proporsi normal. Proses ini sangat penting untuk mempertahankan
tekanan intrakranial yang juga berarti mepertahankan intergritas otak. Perubahan
kompensatoris meliputi pengalihan cairan serebrospinal ke rongga spinal, peningkatan
aliran vena dari otak, dan sedikit tekanan pada jaringan otak
Peningkatan TIK dapat diakibatkan oleh beberapa faktor :
a. Bertambahnya massa dalam tengkorak
b. Terbentuknya edema sekitar tumor
c. Perubahan sirkulasi cairan serebrospinal.
Mekanisme kompensasi menjadi tidak efektif bila menghadapi tekanan TIK yang
serius dan berlangsung lama. Edema otak barangkali merupakan sebab yang lazim dari
peningkatan TIK.
Tekanan intrakranial pada umumnya bertambah secara berangsur-angsur. Setelah
cedera kepala, timbulnya edema memerlukan waktu 36 sampai 48 jam untuk mencapai
maksimum. Peningkatan TIK sampai 33 mmHg (450 mmH 2O) mengurangi aliran darah
ke otak secara bermakna. Iskemia yang timbul menimbulkan rangsangan pada pusat
vasomotor dan tekanan darah sistemik menjadi meningkat. Rangsangan pada pusat
inhibisi jantung meningkatkan bradikardia dan napas menjadi lambat. Mekanisme
kompensasi ini , dikenal sebagai Reflek Cushing, membantu mempertahankan aliran
darah otak. (Akan tetapi, menurunnya pernapasan mengakibatkan retensi CO2 dan
mengakibatkan vasodilatasi otak yang membantu menaikkan tekanan intrakranial).
Tekanan darah sistemik akan meningkat sebanding dengan peningkatan TIK, walaupun
akhirnya dicapai suatu titik di mana tekanan intrakranial melebihi tekanan arteria dan
sirkulasi otak berhenti dengan akibat kematian otak. Pada umumnya kejadian ini
didahului oleh penurunan yang cepat dari tekanan darah arteria.

WOC (WEB OF CAUSTION)

Idiopatik
Tumor otak

Aspirasi
sekresi
Penekanan jaringan otak
Bertambahnya massa
Obs.
Jalan
nafas
Mual, muntah,
Invasi jaringan otak
Nekrosis jar. otak
Penyerapan cairan otak
Dispnea
papileodema, pandangan
Gang.Perfusi
Henti nafasGang.Neurologis
Bradikardi progresif,
Gang.kesadaran
kabur,
penurunan fungsi
Perubahan
pola
Gang.
Rasa
jaringan
Peningkatan
TIK Hidrosefalus
Gang.Pertukaran
Kerusakan
jar. Neuron
Defisit
Ancaman
Gang.Suplai
Disorientasi
Gang.Fungsi
Perubahan
Hipoksia
Bicara
Gang.Komunikasi
terganggu,
Obstruksi
vena
Oedema
Menisefalon
Hernialis
di otak ulkus
sitemik,
pendengaran,
nyeri
(Kejang
Suddart, Brunner.
2001)hipertensi
fokal
nyaman
nafas (gas
verbal
Resti.Cidera
Nyerineurologis
)
kematia
darah
otak proses pikir
jaringan kepala
afasia
tekanan
gang.pernafasan
Cemas

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

5. KLASIFIKASI
Tumor-tumor otak dapat dikalsifikasikan ke dalam beberapa kelompok besar:
a. Tumor yang muncul dari pembungkus otak, seperti meningioma.
Meningioma merupakan tumor asal meningen, sel-sel mesotel, serta sel-sel
jaringan peyambung arakhnoid dan duramater yang paling penting. Sebagian tumor
adalah jinak, berkapsul, dan tidak menginfiltrasi jaringan yang berdekatan namun
menekan struktur yang berada di bawahnya.
Lokasinya sering di sebelah kanan atau kiri sutura sagital, di krista sfenoidea, di
sekitar sela tursika dan di daerah nervus olfaktorius. Meningioma juga dijumpai dalam
kanal vertebra. Meningioma yang jinak menyebabkan takanan terhadap jaringan di
sekitarnya. Yang ganas menyabuk jaringan tulang maupun jaringan otak yang dinamakan
meningiosarkoma. Ada jenis lain meningioma yang ganas lokal dan hanya tumbuh
menyembuk ke dalam tulang, jenis ini dinamakan meningioma infiltrans. Tumor ini
dapat menembus tulang tengkorak dan terdapat di dalam otot-otot di bawah kulit kepala.
Gambaran histologis meningioma ialah sel-sel yang intinya bundar-bundar kecil yang
tersusun dalam lingkaran-lingkaran. Bagian pusar lingkaran atau pusaran ini dapat
mengapus hingga membentuk psamona. Tumor ini dapat mengandung banyak pembuluh
darah.
Oleh karena pertumbuhan tumor yang lambat, gejala-gejala mungkin tidak
diperhatikan dan diagnosis sama sekali salah. Gejala-gejala antara lain epilepsi idiopatik,
hemiparesis, dan afasia. Akan tetapi meningioma yang tumbuh pada regio intrakranial
tertentu akan menunjukkan manifestasi yang lebih spesifik:
1) Lekuk olfaktorius: anosmia unilateral kemudian bilateral, edema papil, disfungsi
lobus frontalis.
2) Regio parasagital: paraparesis spastik yang menyerupai lesi medula spinalis.
3) Sinus kavernosus: oftalmoplegia unilateral (palsi nervus III, IV, dan VI) dan
gangguan sensorik trigeminus (regio oftalmika dan kadang maksilaris).
4) Nervus optikus: beberapa meningioma pada os sfenoid dapat menekan nervus
optikus dan menyebabkan gangguan penglihatan unilateral dan atrofi optik. Ekspansi
tumor lebih lanjut menyebabkan edema papil kontralateral (sindrom Foster-kennedy).
5) Kadang-kadang meningioma tidak membentuk massa tetapi dapat menyebar dalam
lapisan tipis di atas permukaan dura (meningioma en plague)
b. Tumor yang berkembang di dalam atau di atas saraf kranial, yaitu neuroma akustik.
Tumor ini berasal dari sel-sel sarung schwann yang melingkupi saraf perifer. Di
dalam rongga tengkorak tumor ini biasanya tumbuh pada nervus VIII dari sudut yang

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

dibentuk olah medula oblongata, pons, dan serebelum. Karena itu tumor ini memberikan
gejala yang disebut sindrom anngiilus medulo pentoserebelum.
Neurinoma ialah tumor spinal yang paling sering dijumpai di dalam kanal
vertebra. Tumor yang ganas disebut neurinosa poma. Sel-sel ini berbentuk lonjonglonjong bila terpotong memanjang dan tersusun dalam aliran-aliran. Tidak jarang
nukleus sel-sel ini tersusun seperti pagar yang disebut formasi palisade.
Pertumbuhan tumor lebih lanjut menyebabkan araksia ipsilateral akibat kompresi batang
otak, serebelum, dan palsi nervus kranialis bagian bawah (bulbar). Akhirnya terjadi
gambaran peningkatan tekanan intrakranial, terutama jika terjadi hidrosefalus akibat
obstruksi pada tingkat ventrikel ke empat. Tumor lain yang dapat mengenai sudut
serebelopontin termassuk meningioma dan metastasis.
c. Tumor yang berasal dari dalam jaringan otak, seperti pada jenis glioma.
Glioma bertanggung jawab atas sekitar 40-50% tumor intrakranial. Glioma
diklasifikasikan atas dasar asal embriologis. Pada orang dewasa, sel neuroglia susunan
saraf pusat berfungsi untuk perbaikan, penyokong, dan pelindung sel-sel saraf yang
lunak. Glioma terdiri atas jaringan penyambung dan sel-sel penyokong yaitu neuroglia
yang mempunyai kemampuan untuk terus membelah selam hidup. Sel-sel glia
berkumpul membentuk parut sikatriks padat dibagian otak, tempat neuron menghilang
oleh karena cedera/penyakit. (price dan Wilson, 1995).
Terdapat 3 jenis sel glia, oligodendroglia, dan astrosit. Mikroglia secara
embriologis berasal dari lapisan mesodermal oleh karena itu pada umumnya tidak
diklasifikasikan sebagai sel glia sejati. Mikroglia masuk ke dalam susunan saraf melalui
sistem pembuluh darah dan berfungsi sebagai fagosit, membersihkan debris, serta
melawan infeksi. Oligodendroglia dan astrosit merupakan neuroglia sejati seperti neuron
dan berasal dari lapisan embrional ekstrodermal. Oligodendroglia berperan dalam
pembentuk

mielin.

Fungsi

astrosit

masih

dalam

penyelidikan.

Bukti-bukti

memperlihatkan bahwa sel-sel ini mungkin berperan dalam menghantarkan impuls dan
transmisi sinapsis dari neuron dan bertindak sebagai saluran penghubung antara
pembuluh darah dan neuron.
1) Astrositoma
Astrositoma ialah tumbuh ganda yang berasal dari astrosit. Neoplasma ini lebih
sering dijumpai pada usia dewasa muda dan dapat tumbuh di semua bagian otak. Secara
anatomi patologis ada 4 derajat keganasan : astrositoma derajat 1 terdiri atas sel-sel yang
menyerupai astrosit normal. Astrositoma derajat 2 sel-sel lebih padat, besarnya tidak
sama, pembuluh-pembuluh darah mulai berproliferase.
Astrositoma derajat 3 tampak tanda-tanda keganasan yang jelas yaitu pleiositosis,
mitosis yang sering kali tidak normal, terdapat sel-sel raksasa, proliferase pembuluh

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

darah disertai perdarahan-perdarahan.Astrositoma derajat 4 tanda-tanda keganasan lebih


hebat lagi. Astrositoma derajat 3 dan 4 juga disebut glioblastoma multiforme.
Astrositoma baik jinak maupun ganas tidak menunjukkan batas yang jelas dengan
jaringan yang sehat. Hal ini menimbulkan kesukaran bagi dokter yang mengoperasi
untuk menentukan sampai berapa banyak jaringan yang harus diangkat. Neoplasma ini
juga dijumpai di dalam medula spinalis tetapi lebih jarang. Klien sering tidak datang
berobat walaupun tumor sudah berjalan bertahun-tahun sampai timbul gejala, misalnya
serangan epilepsi atau nyeri kepala.
2) Oligodendroglioma
Oligodendroglioma mirip dengan astrositoma namun terdiri atas sel-sel
oligodendroglioma. Tumor relatif avaskuler dan cenderung mengalami klasifikasi.
3) Ependimoma
Tumor ganas yang berasal di bagian dalam dinding ventrikel. Pasa anak-anak
tempat yang palling sering adalah ventrikel keempat. Tumor ini menyerang jaringan
sekitarnya dan menyumbat ventrikel. Kematian biasanya terjadi dalam 3 tahun / kurang.
d. Adenome Hipofisis
Tumor ini sering dijumpai dalam klinik. Asal tumor ini ialah sel-sel kelenjar
hipofisis, karena pertumbuhan tumor ini kiasma optik yang terletal di atasnya akan
tertekan dengan akibat timbulnya gangguan dalam lapang pandang. Karena hipofisis
belahan depan ialah kelenjar endokrin, pada adenoma hipofisis akan timbul gejala-gejala
endokrin yang sifatnya ditentukan oleh jenis tumor. Ada 3 jenis adenoma hipofisis, yaitu
adenoma eosinofil, adenoma basofil, adenoma kromofob.
Adenoma eosinofil pada anak-anak akan mengakibatkan pertumbuhan raksasa. Jadi lebih
besar dan lebih tinggi daripada orang biasa. Pada orang dewasa akan timbuk keadaan
yang dinamakan akromegali yaitu pembesaran tangan, kaki, jari-jari, mandibula, kulit,
dan lidah menebal.
Pada adenoma basofil, bila timbul pada anak-anak akan terjadi distrofi
adiposogenital yaitu penimbunan lemak di daerah muka, leher, bahu, abdomen, disertai
hiportrofi genital eksterna. Mungkin dijumpai hipertensi dan osteoporosis.
Pada adenoma kromofob, berat badan bertambah, libido berkurang. Bila fungsi seluruh
kelenjar menjadi berkurang akan timbul keadaan hipopitultarismus atau sindroma
sbeehan yakni kakeksia nervosa, disebut juga penyakit simmonds.
e. Aneurisma, Hematoma, malformasi pembuluh darah
Pada aneurisma terjadi pelebaran setempat pada arteri hingga terbentuk tumor. Sebelum
aneurisma pecah, gejala-gejalanya menyerupai tumor sebebri. Hematoma intraserebi
dapat pula memberikan gejala-gejala seperti tumor. Begitu pula malformasi pembuluh
darah.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
CT Scan : Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan, jejas
tumor, dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi informasi tentang

sistem vaskuler.
MRI : Membantu dalam mendeteksijejas yang kecil dan tumor didalam batang
otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang

menggunakan CT Scan
Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk

memberi dasar pengobatan seta informasi prognosi.


Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor
Elektroensefalografi (EEG) : Mendeteksi gelombang otak abnormal

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pembedahan
Tumor jinak seringkali dapat ditangani dengan eksisi komplit dan
pembedahan merupakan tindakan yang berpotentif kuratif. Untuk tumor primer
maligna atau tumor sekunder, biasanya sulit ditemukan. Pembedahan tumor
primer seringkali diindikasikan untuk mencapai diagnosis histologis dan jika
mungkin, untuk meringankan gejala dengan mengurangi massa tumor.
Pemeriksaan histologis dari biopsi tumor dapat mengkonfirmasi apakah lesi
merupakan suatu glioma dan bukan neoplasma lainnya, misalnya limfoma, atau
bahkan kondisi nonneoplasia, misalnya abses.
Pemeriksaan ini juga memungkinkan dilakukannya penentuan tingkat
derajat diferensiasi tumor yang berhubungan dengan prognosis. Jadi, pasien
glioma derajat 1-2 memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Akan tetapi,
median angka harapan hidup untuk tumor yang terdiferensiasi paling buruk
(derajat 4) adalah 9 bulan.
Kadang-kadang pembedahan tidak disarankan, misalnya pada pasien
dengan kecurigaan glioma derajat rendah dengan gejala epilepsi. Pembedahan
juga tidak tepat dilakukan pada metastasis otak multipel, dimana diagnosisnya

jelas, walaupun beberapa metastasis soliter dapat ditangani dengan reaksi.


Radioterapi
Glioma dapat diterapi dengan raditerapi yang diarahkan pada tumor,
sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi juga

digunakan dalam tata laksana beberapa tumor jinak, misalnya adenoma hipofisis
Pendekatan stereotaktik
Pendekatan stereotaktik meliputi penggunaan kerangka 3 dimensi yang
mengikuti lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka stereotaktik dan studi

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

pencitraan multipel (Sinar X, CT-Scan) yang lengkap digunakan untuk


menentukan lokasi tumor dan memeriksa posisinya. Laser atau radiasi dapat
dilepaskan dengan pendekatan stereotaktik. Radioisotop dapat juga ditempatkan
langsung ke dalam tumor (brankhiterapi) sambil meminimalkan pengaruh pada
jaringan otak di sekitarnya.
Penggunaan pisau gamma dilakukan pada bedah-bedahradio sampai
dalam, untuk tumor yang tidak dapat dimasukkan obat, tindakan tersebut sering
dilakukan sendiri. Lokasi yang tepat dilakukan dengan menggunakan pendekatan
stereotaktik dan melalui laporan pengujian dan posisi pasien yang tepat. Dosis
yang sangat tinggi, radiasi akan dilepaskan pada luas bagian yang kecil.
Keuntungan metoda ini adalah tidak membutuhkan insisi pembedahan,
kerugiannya adalah waktu yang lambat diantara pengobatan dan hasil yang

diharapkan.
Transplantasi Sumsum Tulang Analog Intravena
Digunakan pada beberapa pasien yang akan menerima kemoterapi atau
terapi radiasi, karena keadaan ini penting sekali untuk menolong pasien
terhadap adanya keracunan pada sumsum tulang akibat dosis tinggi kemoterapi
atau radiasi. Sumsum tulang pasien diaspirasi edikit, biasanya dilakukan pada
kepala iliaka dan disimpan. Pasien yang menerima dosis kemoterapi dan terapi
radiasi yang banyak, akan menghancurkan sejumlah sel-sel keganasan

(malignan). Sumsum kemudian diinfus kembali setelah pengobatan lengkap.


Terapi Medikamentosa
1) Antikonvulsan untuk epilepsi
2) Kortikosteroid (dekamentosa) untuk peningkatan teknan intrakranial. Steroid
juga dapat memperbaiki defisit neurologis fokal sementara dengan mengobati
3)

edema otak.
Kemoterapi adalah tindakan/terapi pemberian senyawa kimia atau obat
sitostatika (suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker) untuk
mengurangi, menghilnagkan atau menghambat pertumbuhan parasit atau mikroba
di tubuh hospes (pasien). Kemoterapi dapat dipakai sebagai pengobatan tunggal
untuk kanker atau bersama-sama dengan radiasi dan pembedahan.

8. KOMPLIKASI
Gangguan fungsi neurologis.
Jika tumor otak menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan pada
serebelum maka akan menyebabkan pusing, ataksia ( kehilangan keseimbangan )
atau gaya berjalan yang sempoyongan dan kecenderunan jatuh ke sisi yang lesu,

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

otot-otot tidak terkoordinasi dan ristagmus ( gerakan mata berirama tidak

disengaja ) biasanya menunjukkan gerakan horizontal


Gangguan kognitif.
Pada tumor otak akan menyebabkan fungsi otak mengalami gangguan
sehingga dampaknya kemampuan berfikir, memberikan rasional, termasuk proses

mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memerhatikan juga akan menurun.


Gangguan tidur & mood
Tumor otak bisa menyebabkan gangguan pada kelenjar pireal, sehingga
hormone melatonin menurun akibatnya akan terjadi resiko sulit tidur, badan

malas, depresi, dan penyakit melemahkan system lain dalam tubuh.


Disfungsi seksual
a) Pada wanita mempunyai kelenjar hipofisis yang mensekresi kuantitas
prolaktin yang berlebihan dengan menimbulkan amenurrea atau
galaktorea (kelebihan atau aliran spontan susu )
b) Pada pria dengan prolaktinoma dapat muncul dengan impoteni dan
hipogonadisme.
Gejala pada seksualitas biasanya berdampak pada hubungan dan
perubahan tingkat kepuasan

9. PROGNOSIS
Prognosisnya tergantung jenis tumor spesifik. Berdasarkan data di Negara-negara
maju, dengan diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan
dilanjutkan dengan radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival)
berkisar 50-60% dan angka ketahanan hidup 10 tahun (10 years survival) berkisar 3040%. Terapi tumor otak di Indonesia secara umum prognosisnya masih buruk,
berdasarkan tindakan operatif yang dilakukan pada beberapa rumah sakit di Jakarta.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a. Data Umum
a. Identitas Klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register,
diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak
dapat berkomunikasi, dan penurunan kesadaran.
c. Riwayat Kesehatan
b)
Riwayat Kesehatan Sekarang
Sakit kepala hebat pada saat bangun pagi atau pada saat istirahat disertai mual
muntah, kesadaran menurun, otot terasa melemah atau kaku.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

c)
Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat
trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan,
aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.
d)
Riwayat Kesehatan Keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes
melitus.
2. Pengkajian
a. Pengkajian Fisik
1) Keadaan umum
Kesadaran: umumnya mengelami penurunan kesadaran
Suara bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang
tidak bisa bicara
Tanda-tanda vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi.
2) Pemeriksaan integumen
Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika
kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga
dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena
klien dengan SOL harus bed rest 2-3 minggu
Kuku: perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
Rambut: umumnya tidak ada kelainan.
3) Pemeriksaan kepala dan leher
Kepala: bentuk normocephalik
Muka: umumnya tidak simetris yaitu miring ke salah satu sisi
Leher: kaku kuduk jarang terjadi.
4) Pemeriksaan dada
Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing
ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks
batuk dan menelan.
5) Pemeriksaan abdomen
Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang
terdapat kembung.
6) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus
Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine.
7) Pemeriksaan ekstremitas
Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
8) Pemeriksaan neurologi: Pemeriksaan nervus cranialis
Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.
9) Pemeriksaan motorik
Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
10) Pemeriksaan sensorik
Dapat terjadi hemihipestesi.
11) Pemeriksaan refleks

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah
beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks
patologis.
b. Pengkajian 11 Fungsional Gordon
1. Pola persepsi dan Penanganan Kesehatan
Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat
kontrasepsi oral.
2. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Gejala : kehilangan nafsu makan, disfagia (pada periode akut)
Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering
3. Pola Eliminasi
Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi
konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
4. Pola Aktivitas dan Latihan
Gejala : malaise
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter
5. Pola Tidur dan Istirahat
Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri
otot
6. Pola Kognitif dan Persepsi
Pada pola sensori klien

mengalami

gangguan

penglihatan/kekaburan

pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit.


Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.
7. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.
8. Pola Hubungan dan Peran
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran
untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
9. Pola Reproduksi Seksual
Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan
stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.
10. Pola Koping dan Toleransi Stres
Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena
gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil,
kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

c. Pemeriksaan Fisik Neurologis


Tingkat Kesadaran dibagi menjadi dua yaitu kualitatif dan kuantitatif
a. Kualitatif

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

1) Komposmentis (kesadaran yang normal)


2) Somnolen: keadaan mengantuk.
Kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang. Biasa disebut juga letargi. Penderita
mudah dibangunkan, mampu memberi jawaban verbal dan menangkis rangsang nyeri
3) Sopor (stupor): kantuk yang dalam.
Masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat, namun kesadarannya segera
menurun kembali. Masih mengikuti suruhan singkat, terlihat gerakan spontan.
Dengan rangsang nyeri penderita tidak dapat dibangunkan sempurna. Tidak
diperoleh jawaban verbal dari penderita tetapi gerak motorik untuk menangkis
rangsang nyeri masih baik
4) Koma ringan
Tidak ada respon terhadap rangsang verbal. Reflek kornea, pupil masih baik.
Gerakan timbul sebagai respon dari rangsang nyeri tetapi tidak terorganisasi.
Penderita sama sekali tidak dapat dibangunkan
5) Koma dalam atau komplit
Tidak ada gerakan spontan. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri
yang bagaimanapun kuatnya.
b. Kuantitatif (Skala Koma Glasgow)
1) Membuka Mata
- Spontan
- Dengan perintah/ di goyang
- Dengan rangsang nyeri
- Tidak ada reaksi
2) Respon verbal (bicara)
- Baik, tidak ada disorientasi
- Bingung/ ragu (bisa membentuk kalimat tapi kacau)
- Bisa membentuk kata tapi tidak sesuai
- Bisa bicara tapi tidak berarti
- Tidak ada respon
3) Respon Motorik
- Menuruti perintah
- Dapat melokalisir adanya rangsangan nyeri
- Reaksi menghindar
- Tidak tau dimana rangsangan
- Reaksi abnormal
- Reaksi

4
3
2
1
5
4
3
2
1
6
5
4
3
2
1

c. Kekuatan Otot
(1) Paralisis total atau tidak ditemukan adanya kontraksi pada otot
(2) Kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus otot yang dapat
diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakkan sendi.
(3) Otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat
melawan pengaruh gravitasi.
(4) Selain dapat menggerakkan sendi, otot juga dapat melawan pengaruh gravitasi
tetapi tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh pemeriksa.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

(5) Kekuatan otot seperti pada tingkat 3 disertai dengan kemampuan otot terhadap
tahanan yang ringan
(6) Kekuatan otot normal
d. Rangsangan Meningeal
- Kaku kuduk
Untuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb:
Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring,
kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada. Selama
penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan
tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau
-

berat.
Kernig sign
Pada pemeriksaan ini, pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90. Setelah itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135 terhadap
paha. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135,

maka dikatakan Kernig sign positif.


Brudzinski I (Brudzinskis neck sign)
Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan yang ditempatkan dibawah
kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya
ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala
pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. Test ini adalah positif bila gerakan
fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul kedua tungkai

secara reflektorik.
Brudzinski II (Brudzinskis contralateral leg sign)
Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi
lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. Bila timbul gerakan
secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul ini

menandakan test ini postif.


Lasegue sign
Untuk pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang berbaring lalu kedua tungkai
diluruskan (diekstensikan), kemudian satu tungkai diangkat lurus, dibengkokkan
(fleksi) persendian panggulnya. Tungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam
keadaan ekstensi (lurus). Pada keadaan normal dapat dicapai sudut 70 sebelum
timbul rasa sakit dan tahanan. Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan sebelum
mencapai 70 maka disebut tanda Lasegue positif. Namun pada pasien yang sudah
lanjut usianya diambil patokan 60.

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

e. Pemeriksaan Refleks
2. Refleks Fisiologis
- Reflek Tendon Patella
Minta pasien duduk dan tungkai menggantung di tempat tidur, rilekskan pasien dan
alihkan perhatian untuk menarik kedua tangan di depan dada dan pukul tendon
-

patella.
Reflek bisep
Fleksikan lengan pasien pada bagian siku smpai 45 0 dengan posisi tangan pronasi,
letakkan ibu jari pemeriksa pada dasar tendon bisep dan jari-jari lain di atas tendon

bisep dan pukul ibu jari dengan reflek hammer


Reflek trisep
Pegang lengan bawah penderita yang disemifleksikan , kemudian ketuklah tendon
insersio m.triceps pada atas olecranon atau topang lengan yang berada dalam
keadaan abduksi dengan lengan bawah yang tergantung bebas kemudian lakukan

ketukan. Respon : terjadi gerakan ekstensi elbow.


3. Reflek patologis
- Babynski Test
Tes ini dilakukan dengan menggoreskan ujung palu reflex pada telapak kaki pasien
mulai dari tumit menuju ke atas bagian lateral telapak kaki setelah sampai di
kelingking goresan dibelokkan ke medial dan berakhir dipangkal jempol kaki.
Tanda positif responnya berupa dorso fleksi ibu jari kaki disertai pemekaran atau
abduksi jari-jari lain. Tanda ini spesifik untuk cedera traktus piramidalis atau upper
motor neuron lesi. Tanda ini tidak bias ditimbulkan pada orang sehat kecuali pada
-

bayi yang berusia di bawah satu tahun. Tanda ini merupakan reflex patologis.
Oppenheim Test
Tanda atau reflex patologis ini dapat dibangkitkan dengan mengurut tulang tibia
dari atas ke bawah menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. Tanda ini positif

responnya sama babinski tes yang mengindikasikan upper motor neuron lesi.
Chaddock Test
Memberikan rangsangan dengan jalan menggores pada bagian lateral malleolus
lateralis.
Gordon Test
Cara : memencet atau mencubit otot betis.
Refleks Schaefer
Cara: memencet/mencubit tendon achilles.
Semua pemeriksaan Reflex patologis diatas memiliki respon yang sama dengan
Babynski ketika ada kelainan pada upper motor neuron.

e. Pemeriksaan Saraf Kranial


1. Nervus I (olfaktorius) penciuman

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

Anjurkan pasien mengidentifikasi berbagai macam jenis bau-bauan dengan


memejamkan mata, gunakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi, tembakau,
parfum atau rempah-rempah
2. Nervus II (Opticus)penglihatan
Meminta pasien untuk membaca bahan bacaan dan mengenali benda-benda sekitar,
jelas atau tidak.
3. Nervus III (Okumularis) kontriksi dan dilatasi pupil
Kaji arah pandangan, ukur reaksi pupil terhadap pantulan cahaya dan akomodasinya
4. Nervus IV (Trokhlear) gerakan mata ke atas dan ke bawah
Kaji arah tatapan, minta pasien melihat ke atas dan ke bawah
5. Nervus V (Trigeminal) sensori kulit wajah, penggerak otot rahang
Sentuh ringan kornea dengan usapan kapan untuk menguji refleks kornea/reflek
negatif (diam)/ positif (ada gerakan)
Ukur sensasi dari sentuhan ringan sampai kuat pada wajah, kaji nyeri menyilang
pada wajah
6. Nervus VI (Abdusen) gerakan bola mata mnyamping
Kaji arah tatapan, minta pasien melihat kiri kanan
7. Nervus VII (Facial)ekspresi wajah dan pengecapan
Minta pasien tersenyum, mengencangkan wajah, menggembungkan pipi, menaikkan
dan menurunkan alis mata.
8. Nervus VIII (Auditorius) pendengaran
Kaji pasien terhadap kata-kata yang dibicarakan, suruh pasien mengulangi kata atau
kalimat
9. Nervus IX (Glasofaringeal) pengecapan, kemampuan menelan, gerakan lidah
Meminta pasien mengidentifikasi rasa asam, asin pada bagian pangkal lidah.
Gunakan penekan lidah untuk menimbulkan reflek gag.
10. Nervus X (Vagus) sensasi faring, gerakan pita suara
Suruh pasien mengucapkan ah kaji gerakan palatum dan faringeal. Periksa
kerasnya suara pasien
11. Nervus XI (Asesorius) gerakan kepala dan bahu
Meminta pasien mengangkat bahu dan memalingkan kepala ke arah yang ditahan
oleh pemeriksa, kaji dapatkah klien melawan tahanan yang ringan
12. Nervus XII (Hipoglasus) posisi lidah
Minta pasien untuk menjulurkan lidah kearah garis tengah dan menggerakan ke
berbagai sisi

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

C. Asuhan Keperawatan
1. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan abses otak, yaitu:
1) Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungn dengan kurangnya darah ke jaringan
otak
2) Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK
3) Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kurang nutrisi
4) Gangguan imobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kesadaran akibat tekanan
pada serebelum (otak kecil)
5) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan penglihatan.
No
1.

Diagnosa
Gangguan perfusi Setelah
jaringan

cerebral perawatan

berhubungn dengan jam

NOC
dilakukan
selama

diharapkan

3x24
perfusi

kurangnya darah ke jaringan kembali normal


jaringan otak

NIC
a) Memantau status

neurologis

dengan teratur dan bandingkan


dengan

keadaan

normalnya

seperti GCS

dengan kriteria hasil :


a) TTV normal
b) Kesadaran pasien
kembali seperti
sebelum sakit
c) Gelisah hilang
d) Ingatanya kembali
seperti sebelum sakit

b) Memantau frekuensi dan irama


jantung
c) Memantau suhu juga atur suhu
lingkungan

sesuai

kebutuhan.

Batasi penggunaan selimut dan


lakukan kompres hangat jika
terjadi demam
d) Memantau

masukan

dan

pengeluaran, catat karakteristik


urin, tugor kulit dan keadaan
membrane mukosa
e) Mengunakan selimut hipotermia
f) Kolaborasi pemberian obatse suai
indikasi

seperti

steroid,

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

klorpomasin, asetaminofen

Gangguan rasa

Setelah

dilakukan

nyeri berhubungan

perawatan

dengan

jam nyeri hilang dengan

peningkatan TIK

kriteria hasil :

selama

3x24

a) Memberikan

lingkungan

yang

tenang
b) Meningkatkan tirah baring, bantu
perawatan diri pasien

a) Nyeri hilang

c) Meletakkan

b) Pasien tenang

kantung

es

pada

kepala, pakaian dingin diatas


c) Tidak terjadi mual

mata

muntah
d) Mendukung
d) Pasien dapat

pasien

untuk

menemukan posisi yang nyaman

beristirahat dengan
e) Memrikan ROM aktif/pasif

tenang

f) Mengunakan pelembab yang agak


hangat pada nyeri leher/punggung
yang tidak ada demam
g) Kolaborasi

pemberian

obat analgetik
asetaminofen,

seperti
kodein

sesuai

indikasi

Gangguan

Setelah

dilakukan

kebutuhan nutrisi

perawatan selama 3 x 24

berhubungan

jam diharapkan kebutuhan

dengan kurang

pasien

nutrisi

dengan kriteria hasil :

menjadi

adekuat

a) Mual muntah hilang

a) Mengkaji kemampuan pasien


untuk mengunyah, menelan
b) Memberi makanan dalam jumlah
kecil dan sering
c) Menimbang berat badan

b) Napsu makan
meningkat
c) BB kembali seperti

d) Kolaborasi dengan ahli gizi

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

sebelum sakit
4

Gangguan
imobilitas

Setelah

dilakukan

a) Memeriksa kembali kemampuan

fisik perawatan selama 2 x 24

dan keadaan secara fungsional

berhubungan

jam diharapkan klien dapat

dengan penurunan menunjukkan


kesadaran

cara

akibat mobilisasi secara optimal.

tekanan

pada Kriteria hasil :

serebelum

(otak

kecil)

pada kerusakan yang terjadi.


b) Mengkaji
pasien

a) Klien

dapat

meningkatkan

derajat
dengan

imobilitas

menggunakan

skala ketergantungan (0 4)
c) Meletakkan pasien pada posisi

kekuatan dan fungsi


tubuh yang sakit,

tertentu, ubah posisi pasien secara


teratur dan buat sedikit perubahan
posisi antara waktu

b) Mempertahankan
integritas kulit dan
kandung kemih dan
fungsi usus.

Gangguan persepsi

Setelah

dilakukan

sensori

perawatan selama 3

persepsi

pasien

berhubungan

umpan

balik,

dengan gangguan

diharapkan

kembali pasien secara teratur

penglihatan.

penglihatan pasien

pada lingkungan, dan tindakan

kembali

normal

yang akan dilakukan terutama

dengan

kriteria

jika penglihatannya terganggu

24

jam

a) Memastikan

atau

validasi

dan

berikan

orientasikan

hasil : Pasien dapat


melihat
jelas

dengan

b) Membuat jadwal istirahat yang


adekuat/periode tidur tanpa ada
gangguan
c) Memberikan kesempatan yang
lebih

banyak

untuk

berkomunikasi dam melakikan


aktivitas

Praktek Profesi Keperawatan Medikal Bedah 1


Fakultas Keperawatan UNAND

d) Merujuk pada ahli fisioterapi

DAFTAR PUSTAKA
1. Brenda G. Bare, Suzanne C. Smeltzer. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8. Jakarta : EGC.
2. Batticaca, Fransisca.2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
3. Brunner & Sudarth. 2003. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Ed 8 Vol 3. EGC.
Jakarta
4. Doenges.EM. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
5. Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit. Edisi 6
Vol.2. Jakarta: EGC