Anda di halaman 1dari 9

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Pengembangan Gedung Bima

Hall menjadi 2 Lantai


Proyek pembangunan pengembangan gedung bina hall adalah pekerjaan rehabilitasi gedung yang
pada awalnya 1 lantai di tambah menjadi 2 lantai. Sehingga tingkat kerumitan pekerjaan ini
adalah pada bagian lantai 1, dimana saat ini lantai 1 sudah digunakan sebagai kantor. Sebagai
tindak antisipasi, barang barang yang ada dilantai 1 harus di pindahkan sementara di tempat
yang lain.
Dan melindungi interior interior bangunan yang bersifat permanen, seperti jendela. Agar
cipratan bekas campuran beton tidak menempel pada kaca kaca jendela, sehingga jendela perlu
dilindungi dengan plastic. Adapun metode pelaksanaan yang lain diterangkan dibawah ini.
A. Pekerjaan Pembongkaran
Sebelum melaksanakan pekerjaan rehabilitasi bangunan, hal pertama yang harus dilakukan
oleh pelaksana adalah melaksanakan pekerjaan bongkaran/membongkar bangunan lama
(existing) sesuai dengan volume dan arahan dari konsultan pengawas. Pembongkaran
bangunan meliputi membongkar pelat, kolom, dan pondasi.
B. Pekerjaan Galian Pondasi Setempat
Galian pondasi setempat berdasarkan titik titik yang ditentukan pada gambar bestek yang
sudah disetujui konsultan pengawas.
1. Pekerjaan galian tanah dengan menggunakan alat manual cangkul dan belincong,
2. Pemasang patok dan benang untuk acuan galian.
3. Gali tanah dengan acuan patok dan benang yang telah dipasang.
4. Buangan tanah sisa galian ditempatkan pada area yang telah ditentukan dan tidak
mengganggu pelaksanaan pekerjaan.
5. Galian tanah untuk pondasi dilakukan sampai kedalaman dan lebar sesuai rencana.
6. Pada setiap periode tertentu kedalaman galian tanah selalu diperiksa dengan
menggunakan alat ukur
7. Bila ada genangan air dalam galian maka disediakan pompa drainase secukupnya supaya
air dapat segera dipompa ke luar, sehingga tidak mengganggu proses pekerjaan.
C. Pekerjaan Pondasi Setempat

Perakitan besi pondasi setempat di lakukan di tempat fabrikasi besi. Sehingga pada saat
galian podasi selesai, dapat langsung dipasang dan di cor. Dan untuk konsultan pengawas
dapat dengan mudah memeriksa tulangan dan rangkaiannya di tempat fabrikasi. Tidak
menunggu saat terpasang di lapangan.
1. Perakitan tulangan
Tahapan perakitan tulangan :
a. Mengukur panjang untuk masing-masing tipe tulangan yang dapat diketahui dari
ukuran pondasi setempat.
b. Mendesign bentuk atau dimensi dari tulangan pondasi setempat, dengan
memperhitungkan bentuk-bentuk tipe tulangan yang ada pada pondasi setempat
tersebut.
c. Merakit satu per satu bentuk dari tipe tulangan pondasi dengan kawat pengikat agar
kokoh dan tulangan tidak terlepas.
2. Pemasangan Tulangan
Setelah merakit tulangan pondasi setempat maka untuk pemasangan tulangan dilakukan
dengan cara manual karena tulangan untuk pondasi setempat ini tidak terlalu berat dan
kedalaman pondasi ini juga tidak terlalu dalam.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan tulangan:
a. Hasil rakitan tulangan dimasukan kedalam tanah galian dan diletakkan tegak turus
permukaan tanah dengan bantuan waterpass.
b. Rakitan tulangan ditempatkan tidak langsung bersentuhan dengan dasar tanah, jarak
antara tulangan dengan dasar tanah 40 mm, yaitu dengan menggunakan pengganjal
yang di buat dari batu kali disetiap ujung sisi/tepi tulangan bawah agar ada jarak
antara tulangan dan permukaan dasar tanah untuk melindungi/melapisi tulangan
dengan beton (selimut beton) dan tulangan tidak menjadi karat.
c. Setelah dipastikan rakitan tulangan benar-benar stabil, maka dapat langsung
melakukan pengecoran.

3. Pemasangan Bekesting
Bekisting adalah suatu konstruksi bantu yang bersifat sementara yang digunakan untuk
mencetak beton yang akan di cor, di dalamnya atau diatasnya. Tahap-tahap pekerjaan
bekisting:

a. bekisting pada pondasi setempat adalah bagian tiangnya untuk penyambungan kolom
sedangkan untuk pondasinya hanya diratakan dengan cetok (sendok spesi).
b. Supaya balok beton yang dihasilkan tidak melengkung maka waktu membuat
bekisting, jarak sumbu tumpuan bekistingnya harus memenuhi persaratan tertentu.
c. Papan cetakan disusun secara rapih berdasarkan bentuk beton yang akan di cor.
d. Papan cetakan dibentuk dengan baik dan ditunjang dengan tiang agar tegak lurus
tidak miring dengan bantuan alat waterpass.
e. Papan cetakan tidak boleh bocor Papan-papan disambung dengan klem / penguat /
penjepit Paku diantara papan secara berselang-seling dan tidak segaris agar tidak
terjadi retak.
f. Setelah itu podasi dapat di cor.
g. Urugan tanah dilakukan setelah pekerjaan cor beton pondasi selesai dikerjakan dan
beton pondasi telah mencapai umurnya.
h. Urgan tanah kembali dengan memanfaatkan tanah bekas galian.
i. Urug tanah disekitar lubang bekas galian pondasi.
j. Urugan tanah diratakan dan dipadatkan.
D. Pekerjaan Kolom
1. Penentuan As kolom
Titik-titik dari as kolom diperoleh dari hasil pengukuran dan pematokan. Hal ini
disesuaikan dengan gambar yang telah direncanakan. Cara menentukan askolom
membutuhkan alat-alat seperti: theodolit, meteran, tinta, sipatan dll.
Proses pelaksanaan:
a. Penentuan as kolom
dengan
Theodolit
dan waterpass berdasarkan shop
drawing dengan menggunakan acuan yang telah ditentukan bersama dari titik BM.
b. Membuat as kolom dari garis pinjaman
c. Pemasangan patok as bangunan/kolom (tanda berupa garis dari sipatan).
2. Pembesian Kolom
Pembesian kolom ada yang dikerjakan ditempat fabrikasi ada pula yang dikerjakan di
tempat. Namun sebagaian besar dikerjakan ditempat. Hanya sengkang/begel saja yang
dikerjakan ditempat fabrikasi besi. Diameter besi yang digunakan sesuai gambar bestek
yang telah disetujui konsultan pengawas.
3. Bekesting Kolom
Pemasangan bekisting kolom dilaksanakan apabila pelaksanaan pembesian tulangan
telah selesai dilaksanakan.
Berikut ini adalah uraian singkat mengenai proses pembuatan bekisting kolom.
a. Bersihkan area kolom dan marking posisi bekisting kolom.

b. Membuat garis pinjaman dengan menggunakan sipatan dari as kolom sebelumnya


sampai dengan

kolom berikutnya

dengan

berjarak 100cm dari masing-

masing as kolom.
c. Setelah mendapat garis pinjaman, lalu buat tanda kolom pada lantai sesuai dengan
dimensi kolom yang akan dibuat, tanda ini berfungsi sebagai acuan dalam
penempatan bekisting kolom.
d. Marking sepatu kolom sebagai tempat bekisting
e. Pasang sepatu kolom pada tulangan utama atau tulangan sengkang.
f. Pasang sepatu kolom dengan marking yang ada.
g. Atur kelurusan bekisting kolom dengan memutar push pull.
h. Setelah tahapan diatas telah dikerjakan, maka kolom tersebut siap dicor.
4. Pengecoran Kolom
Setelah itu dapat dilanjutkan dengan pengecoran dengan mutu beton K-225 untuk
Kolom struktur dan K-175 untuk Kolom Praktis.
E. Pekerjaan Balok dan Pelat
Pekerjaan balok dilaksanakan setelah pekerjaan kolom telah selesai dikerjakan. Pada proyek
ini sistem balok yang dipakai adalah konvensional. Semua perkerjaan balok dan
pelat dilakukan langsung di lokasi yang direncanakan, mulai dari pembesian, pemasangan
bekisting, pengecoran sampai perawatan. Hanya pemotongan dan pembengkokan besi saja
yang dilakukan di tempat fabrikasi besi.
1. Tahap Persiapan
a. Pekerjaan Pengukuran
Pengukuran
ini
bertujuan

untuk

mengatur/ memastikan

kerataan

ketinggian balok dan pelat.


b. Pembuatan Bekisting
Pekerjaan bekisting balok dan pelat merupakan satu kesatuan pekerjaan, kerena
dilaksanakan secara bersamaan. Pembuatan panel bekisting balok harus sesuai
dengan gambar kerja. Dalam pemotongan papa bekesting harus cermat dan teliti
sehingga hasil akhirnya sesuai dengan luasan pelat atau balok yang akan dibuat.
Pekerjaan balok dilakukan langsung di lokasi.
c. Pabrikasi besi
Untuk balok, pemotongan dan pembengkokan besi dilakukan sesuai kebutuhan.
Pembesian balok ada dilakukan dengan sistem pabrikasi di los besi dan ada yang
dirakit diatas bekisting yang sudah jadi. Sedangkan pembesian plat dilakukan
dilakukan di atas bekisting yang sudah jadi.
2. Perancah Balok dan Pelat
Pengerjaan perancah balok dan pelat dilakukan secara bersamaan pada dasar.

a. Scaffolding dengan masing masing jarak 100 cm disusun berjajar sesuai dengan
kebutuhan di lapangan, baik untuk bekisting balok maupun pelat.
b. Memperhitungkan ketinggian scaffolding balok dengan mengatur base jack atau Uhead jack nya.
c. Pada U-head dipasang balok kayu ( girder ) 6/12 sejajar dengan arahcross brace dan
diatas girder dipasang balok suri tiap jarak 50 cm (kayu 5/7) dengan arah
melintangnya, kemudian dipasang pasanganplywood sebagai alas balok.
d. Setelah itu, dipasang dinding bekisting balok dan dikunci dengan siku yang dipasang
di atas suri-suri.
3. Pengecekan
Setelah pemasangan bekisting balok dan pelat dianggap selesai selanjutnya pengecekan
tinggi level pada bekisting balok dan pelat dengan waterpass, jika sudah selesai maka
bekisting untuk balok dan pelat sudah siap.
4. Pembesian balok
Tahap pembesian balok adalah sebagai berikut :
a. Untuk Pembesian balok pada awalnya dilakukan pabrikasi di los besi kemudian
dikirim ke lokasi yang akan dipasang.
b. Besi tulangan balok yang sudah diangkat lalu diletakkan diatas bekisting balok dan
ujung besi balok dimasukkan ke kolom.
c. Pasang beton decking umtuk jarak selimut beton pada alas dan samping balok lalu
diikat.
5. Pembesian pelat
Setelah tulangan balok terpasang. Selanjutnya adalah tahap pembesian pelat, antara lain :
a. Pembesian pelat dilakukan langsung di atas bekisting pelat yang sudah siap. Besi
tulangan diangkat menggunakan tower crane dan dipasang diatas bekisting pelat.
b. Rakit pembesian dengan tulangan bawah terlebih dahulu. Kemudian pasang
tulangannya.
c. selanjutnya secara menyilang dan diikat menggunakan kawat ikat.
d. Letakkan beton deking antara tulangan bawah pelat dan bekisting alas pelat. Pasang
juga tulangan kaki ayam antara untuk tulangan atas dan bawah pelat.
6. Pengecekan
Setelah pembesian balok dan pelat dianggap selesai, lalu diadakan checklist/
pemeriksaan untuk tulangan. Adapun yang diperiksa untuk pembesian balok adalah
diameter dan jumlah tulangan utama, diameter, jarak, dan jumlah sengkang, ikatan
kawat, dan beton decking. Untuk pembesian pelat lantai yang diperiksa adalah,
penyaluran pembesian pelat terhadap balok, jumlah dan jarak tulangan ekstra, perkuatan

(sparing) pada lubang-lubang di pelat lantai, beton decking, kaki ayam, dan
kebersihannya.
7. Pengecoran
Setelah itu dapat dilanjutkan dengan pengecoran dengan mutu beton K-225 untuk Balok
struktur dan Pelat dan K-175 untuk Balok latai dan Ring Balok.
F. Pekerjaan Atap
1. Persiapan Kerja
a. Menyiapkan gambar rencana atap dan perletakkan kudakuda, dan tidak
diperkenankan menggunakan gambar draft sebagai panduan.
b. Menyiapkan semua peralatan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja, dan
memperhatikan petunjuk tentang persyaratan melakukan pekerjaan di atas ketinggian
(lihat bagian keselamatan kerja).
c. Menyiapkan semua perlengkapan untuk pemasangan kuda-kuda, antara lain: bor dan
hexagonal socket, meteran, selang air (waterpass), alat penyiku, mesin pemotong,
gergaji besi, palu, dan sebagainya.
2. Leveling dan Marking
a. Memastikan seluruh permukaan atas ring balok dalam keadaan rata dan siku, dengan
menggunakan waterpass dan penyiku sebagai alat bantu.
b. Memastikan bahwa rangkaian ring balok telah mengikat semua bagian bangunan dan
tersambung secara benar (monolith) dengan kolom yang ada di bawahnya.
c. Memberi tanda posisi perletakan kuda-kuda (truss), sesuai dengan gambar rencana
atap.
d. Mengukur jarak antar kuda-kuda
3. Pengangkatan dan pemasangan kuda-kuda
a. Mengangkat kuda-kuda secara hati-hati, agar tidak meng akibatkan kerusakan pada
rangkaian kuda-kuda yang telah selesai dirakit .
b. Memasang kuda-kuda sesuai dengan nomornya di atas ring balok atau wall-plate,
berdasarkan gambar kerja
c. Memastikan posisi kiri dan kanan (L-R) kuda-kuda tidak terbalik. Sisi kanan dan kiri
kuda-kuda dapat ditentukan dengan acuan posisi saat pekerja melihat kuda-kuda,
dengan mulut web dapat dilihat oleh pekerja. Bagian di sebelah kiri pekerja disebut
sisi kiri, sedangkan yang berada di sebelah kanannya adalah sisi kanan.
d. Mengontrol posisi berdirinya kuda-kuda agar tegak lurus dengan ringbalok
menggunakan benang dan lot (unting-unting)
e. Mengencangkan kuda-kuda dengan plat L (L bracket), dengan menggunakan 4 buah
screw 12 14 x 20 HEX.

f. Mengencangkan plat L dengan ring

balok menggunakan dynabolt, dan

menambahkan balok penopang sementara, agar posisi kuda-kuda tidak berubah.


g. Mengulangi langkah ke-1 sampai ke-6 untuk mendirikan semua kuda-kuda, sesuai
dengan posisinya dalam gambar kerja.
h. Memeriksa ulang jarak antar kuda-kuda dari as ke as.
i. Memeriksa kedataran (leveling) semua puncak kuda-kuda (Apex), dan memastikan
garis nok memiliki ketinggian yang sama (datar).
j. Memasang balok nok.
k. Memasang bracing (pengikat) sebagai perkuatan, jika bekerja beban angin. Bracing
dipasang di atas top-chord dan di bawah reng.
l. Bila menggunakan aluminium foil, lapisan ini dipasang terlebih dahulu di atas truss,
jurai dan rafter
m. Memasang reng (roof battens) dengan jarak menyesuaikan jenis penutup atap yang
digunakan. Setiap pertemuan reng dengan kuda-kuda diikat memakai screw ukuran
10-16x16 sebanyak 2 (dua) buah
n. Memasang outrigger (gording tambahan setelah kuda-kuda terakhir yang menumpu
ringbalk). Pada atap jenis pelana, outrigger dapat dipasang sebagai overhang dengan
panjang maksimal 120 cm dari kudakuda terluar, dan jarak antar outrigger 120 cm.
outrigger harus diletakkan dan di-screw dengan dua buah kuda-kuda yang terdekat.
G. Pekerjaan Keramik
1. Menentukan elevasi Keramik dan membuat garis sipatan pada dinding & as sumbu
ruangan
2. Pasang Keramik dengan menggunakan mortar dengan perbandingan 1:5 untuk
ruangan biasa, 1:4 untuk Kamar Mandi dan 1:3 untuk pemasangan keramik dinding.
Kelebaran naat antara 0,8 mm sampai 1,2 mm
3. Cek kerataan Keramik dengan menggunakan waterpass
4. Meratakan Keramik dengan diketok dan harus menggunakan palu karet
5. Untuk pengelasan, potong keramik dengan menggunakan pisau gurinda
6. Isi naat dengan menggunakan material PC yang telah dicampur dengan air lalu
tuangkan ke naat hingga masuk kedalam pori-pori dan diratakan dengan dengan
karet agar naat terlihat lebih rapih.
H. Pekerjaan Sanitasi
1. Kloset duduk berikut segala kelengkapannya yang dipakai adalah semutu merk
Dalam negeri,

warna standar

akan ditentukan

kemudian.

Kloset

beserta

kelengkapannya yang dipasang adalah yang telah diseleksi dengan baik, tidak ada
bagian yang gompal, retak atau cacat lainnya dan disetujui oleh Direksi lapangan.
2. Kloset jongkok yang dipasang adalah semutu merk Dalam negeri, warna standar
akan ditentukan kemudian. Kloset jongkok yang dipasang adalah yang telah diseleksi
dengan baik, tidak ada bagian yang rusak atau cacat dan telah disetujui oleh Pemilik
Pekerjaan. Kloset jongkok dipasang pada lantai kamar mandi atau toilet yang
dinaikkan 10-20 cm atau sesuai dengan gambar kerja.
3. Semua keran yang dipakai adalah semutu merk Dalam negeri. Ukuran disesuaikan
dengan keperluan masing-masing sesuai gambar plumbing dan brosur alat-alat
sanitair. Keran-keran tembok dipakai yang berleher panjang dan mempunyai ring
dudukan yang harus dipasang menempel pada dinding. Keran-keran yang dipasang
dihalaman

harus

mempunyai

ulir

untuk

sambungan

selang. Stop keran yang dapat digunakan semutu merkKitazawa ex Jepang, bahan
kuningan dengan putiran berwarna hijau, diameter dan penempatan sesuai dengan
gambar untuk itu. Keran-keran harus dipasang pada pipa air bersih dengan kuat, siku,
penempatannya harus sesuai dengan gambar-gambar untuk itu.
4. Floor drain yang digunakan adalah semutu dengan merk Dalam negeri, metal
verchroom, lubang diameter 2 inchi dilengkapi dengan siphon dan penutup berengsel.
Floor drain dipasang ditempat-tempat sesuai dengan gambar untuk itu. Floor drain
yang dipasang telah diseleksi dengan baik, tanpa cacat dan telah disetujui oleh
Pemilik Pekerjaan. Pada tempat-tempat yang telah dipasang floor drain, penutup
lantai harus dilubangi dengan rapih, menggunakan pahat kecil dengan bentuk dan
ukuran sesuai dengan ukuran floor drain tersebut. Hubungan saringan metal dengan
beton/lantai menggunakan perekat beton kedap air. Setelah floor drain terpasang,
pasangan harus rapi waterpass, dibersihkan dari noda-noda semen dan tidak ada
kebocoran.
I. Pekerjaan Pemasangan Pintu dan Jendela
1. Material kayu yang digunakan untuk kusen pintu dan jendela dari kayu meranti
2. Pemasangannya berdasarkan shop drawing yang nantinya disetujui konsultan
pengawas.
3. Proses pembuatannya dikerjakan di tempat fabrikasi yang berbeda.
4. Daun Pintu / Jendela dan Bovenlight menggunakan Alumunium yang baik, tidak
cacat dengan isian panil kaca bening 5 mm pada pintu sedangkan pada jendela dan
Boevenlight menggunakan kaca bening tebal 5 mm,.

5. Untuk Daun Pintu dilengkapi Engsel dan Kunci merk Dekkson atau kualitasnya
setara. Daun Jedela dilengkapi Engsel castment
6. Untuk Kusen dan Daun Pintu KM / WC menggunakan Jenis pintu double triplek
finishing hpl bagian belakang di lapis alumunium lengkap dengan Engsel dan Kunci
J. Pekerjaan Plafon
Rangka plafond menggunakan bahan dari hollow galvanis dengan modul/jarak sesuai
dengan gambar bestek dengan diberi penguat penggantung. Pemasangan plafond
dilaksanakan dengan bentuk, pola. Sesuai pada gambar detail yang ada apa bila ada
perbedaan gambar Pihak Pelaksana memberi tahukan pada pihak Direksi / Konsultan
Pengawas. Penutup Plafon menggunakan Penutup Gypsumboard dan untuk area luar
menggunakan kalsiboard. Tahapan pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Tentukan elevasi plavond dan buat garis sipatan pada dinding & as sumbu ruangan
2. Pasang rangka tepi (steel hollow) dan wall angle profil L/ moulding profil W sebagai
list tepi tepat pada sipatan
3. Tentukan jarak penempatan kait penggantung
4. Pasang benang untuk pedoman penentuan titik paku penggantung untuk menjamin
kelurusan
5. Pasang paku kait dan rod/penggantung
6. Pasang rangka utama
7. Pasang rangka pembagi
8. Pasang dan kencangkan klip / rod.
9. Pasang panel gypsum
10. Cek kerapihan dan kerataan bidang plafond
11. Tutup sambungan antara panel gypsum dengan paper tape dan compound lalu

diampelas dan difinishing dengan cat